BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Previous

Menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Malam ini, konferensi pers kita gelar malam ini. Jika banyak yang tidak setuju kita bisa melakukannya berdua, hanya kau dan aku. Aku tunggu di depan kantor I-Netz, di sana berita plagiasi ini dimulai, di sana juga semuanya akan kita akhiri."

"Pukul berapa?"

"Delapan malam."

"Baiklah, aku pasti datang. Sampai nanti."

"Sampai nanti, aku mencintaimu Kim Taehyung." Namun, sayang kalimat cinta itu Jungkook ucapkan tepat ketika Taehyung mengakhiri sambungan telepon. Jungkook berharap Taehyung bisa mencintainya, dan pernikahan yang diawali dengan alasan untuk menolong seseorang bisa bertahan cukup lama. Cukup lama hingga dirinya dan Taehyung sudah tidak diijinkan untuk tinggal di dunia ini lagi. Apakah itu harapan yang terlalu berlebihan?

BAB SEPULUH

Taehyung menarik napas dalam-dalam sebelum memantapkan hatinya untuk keluar dari mobil. Menggigit pelan bibir bawahnya, mencoba mencari keberadaan Jungkook dari dalam mobil. Ia nyaris berpikir jika Jungkook tak datang, namun ia melihat Jungkook setelah van hitam bergerak dari halaman gedung. Menggunakan stelan jas semi formal hitam, sesekali Jungkook memeriksa ponsel di tangan kanannya.

"Baiklah, kurasa kau tidak bisa mundur lagi Kim Taehyung." Taehyung berucap pada dirinya sendiri. Iapun memutuskan untuk melangkah keluar dari mobil dan berlari cepat menuju gedung.

Jungkook tersenyum kala menatap kedatangan Taehyung. Mengenakan pakaian tak resmi, celana training hitam bergaris putih pada bagin lutut kiri, jaket abu-abu, dipadu sneaker hitam. "Hai." Sapa Jungkook.

"Apa harus memakai pakaian formal?"

"Kurasa pakaianmu tidak masalah."

"Syukurlah, aku tidak sempat pulang setelah bekerja."

"Kau mandi kan?" ledek Jungkook.

Taehyung tertawa pelan. "Tentu saja aku mandi, ini pakaian bersih, aku punya stok pakaian bersih di kantor tapi semuanya pakaian santai. Seperti yang kau lihat saat ini. Jadi apa rencanamu?"

"Kita masuk, aku sudah mengatur semuanya."

"Jungkook." Panggil Taehyung dengan tatapan menuntut berpadu kebingungan.

"Kita akan melakukan siaran langsung untuk membersihkan nama Suga."

"A—apa?! Siaran langsung?" Taehyung terbata dan Jungkook bisa melihat kecemasan jelas terpancar dari sorot kedua mata Taehyung.

"Jangan cemas, jika kau tidak bisa menjawab biar aku yang menjawabnya kau cukup membenarkan. Bagaimana?"

"Yah, kurasa itu cukup mudah. Semoga." Taehyung menunduk untuk mengamati sneaker hitamnya, siaran langsung, bodoh, Taehyung merutuki dirinya. Seharusnya dia memakai pakaian yang lebih pantas.

"Jangan cemas, semua akan baik-baik saja. Jadilah dirimu sendiri." Hibur Jungkook sembari meraih telapak tangan kiri Taehyung, menggenggamnya, kemudian menarik tubuh Taehyung lembut, agar mereka berdiri berdekatan. "Kau siap?" Taehyung mengangguk pelan, Jungkook tersenyum. "Kita akhiri semua berita mengerikan tentang Suga malam ini." Ucap Jungkook setengah berbisik.

Tanpa sadar Taehyung mempererat genggaman tangannya pada Jungkook, ketika mereka melintasi lorong gedung. Para staf memperhatikan kehadiran keduanya. Tiga orang staf, dua perempuan dan satu laki-laki menghampiri Jungkook dan Taehyung.

"Tuan Jeon." Sapa si staf perempuan.

"Kakekku sudah menghubungi I-Netz dan menjelaskan semuanya, hal itu disetujui bukan?"

"Ya Tuan Jeon, semuanya sudah siap. Mari ikut dengan kami."

Jungkook mengangguk pelan, Taehyung melangkah mengikuti. "Kakekmu mengatur semuanya?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Untuk membantu Suga."

"Tidak Jungkook, jangan berbohong. Awalnya kakekmu tidak setuju untuk membantu Suga hyung, kenapa sekarang tiba-tiba berubah?"

"Karena kita akan menikah." Bisik Jungkook.

Taehyung terperanjat, menelan ludah kasar. Ia tidak tahu kenapa kalimat Jungkook membuatnya berdebar. Ia juga tidak tahu apakah debaran yang sekarang ia rasakan akibat gugup, malu, atau antusias. Keduanya digiring untuk memasuki lift. Taehyung melirik telapak tangannya yang masih berada di dalam genggaman Jungkook.

Lima belas detik mereka sampai di lantai teratas, lantai empat. Lift terbuka Jungkook dan Taehyung berjalan bersama di belakang tiga staf yang menggiring mereka tadi. Kali ini mereka berjalan menuju ruangan, pintu di hadapan mereka didorong ke belakang.

Ruangan terlihat sunyi, hanya ada delapan orang di dalam. Dua kursi, empat kamera, lampur sorot yang aman terang. Pada dinding ruangan dibentangkan kain hijau lebar. "Siaran langsung dilakukan di sini?"

"Iya, Tuan Jeon."

"Baiklah, kita lakukan semua ini dengan cepat."

"Anda harus dirias terlebih dahulu."

"Tidak, itu tidak perlu. Aku tidak peduli dengan penampilanku yang terpenting adalah apa yang akan aku katakan." Tolak Jungkook.

Si staf perempuan terlihat bingung untuk beberapa detik, sebelum akhirnya dengan sigap dia memberitahukan kepada semua orang tentang keinginan Jungkook. "Kau gugup?" bisik Jungkook, namun Taehyung tak menjawab. "Telapak tanganmu berkeringat."

"Ah!" Taehyung tersentak sebelum menarik lepas tangannya dari genggaman Jungkook.

"Aku juga gugup." Ucap Jungkook.

"Tapi kau terlihat tenang." Jungkook hanya tersenyum mendengar kalimat Taehyung. "Jungkook, jika kita melakukan siaran langsung sekarang, bukankah akan mengganggu siaran lain yang sedang berlangsung."

"Mereka tidak akan keberatan, topik Suga sedang hangat sekarang. Mereka akan mendapat keuntungan yang sepadan dibanding berita gosip tak bermutu yang sekarang sedang berlangsung."

Salah seorang staf mengisyaratkan kepada Jungkook dan Taehyung untuk memasuki set. "Jungkook." Panggil Taehyung.

"Jangan cemas, hanya katakan yang perlu saja. Langsung pada intinya. Tidak ada tanya jawab, siarannya hanya berlangsung selama sepuluh menit." Taehyung mengangguk ragu, namun kedua kakinya tetap bergerak untuk mengikuti langkah Jungkook.

Ada dua single sofa berwarna putih yang dipisahkan oleh meja kopi kaca. Taehyung merasa sangat gugup sekarang, ia ingin berada di dekat Jungkook untuk meredam detak jantung serta kegugupannya. Menarik napas dalam-dalam, Taehyung memejamkan kedua matanya selama beberapa detik. Ketika dia membuka kedua matanya, Taehyung merasa siap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.

"Kamera akan siap dalam lima detik. Lima, empat, tiga, dua, satu!"

"Selamat malam." Ucap Jungkook sambil membungkukkan badannya selama dua detik, Taehyung melakukan hal yang sama. "Saya Jeon Jungkook perwakilan dari Jeon-ent." Jungkook lantas melirik Taehyung.

"Saya Kim Taehyung dari Kim-entertainment." Setelah memperkenalkan diri Taehyung memberi isyarat kepada Jungkook untuk membereskan sisanya.

"Beberapa hari ini, berita tentang plagiasi yang dilakukan Suga benar-benar mengganggu. Saya akan memberi keterangan secara singkat, mengapa keterangan ini diberikan sedikit terlambat karena ada banyak hal yang harus diselesaikan. Berita ini benar-benar mengganggu, Suga tidak melakukan plagiasi terhadap karya J-Hope. Agensi kami bekerjasama tapi kami tidak memberi keterangan resmi pada masyarakat mengingat beberapa kali kerjasama agensi kami gagal. Kami pikir sedikit kejutan itu menarik, ternyata kami sangat ceroboh dan mengorbankan Suga pada akhirnya. Itu kecerobohan yang telah kami lakukan. Saya Jeon Jungkook mewakili Jeon-ent mengucapkan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat.

"Saya Kim Taehyung mewakili Kim-entertaiment mengucapkan permintaan maaf pada seluruh masyarakat. Saya berharap Suga mendapat dukungan dan cinta yang tidak akan berubah dari kalian semua, plagiasi ini hanya salah paham."

"Siarakan akan berakhir dalam lima detik! Lima, empat…,"

"Saya dan Kim Taehyung kami akan menikah." Ucap Jungkook pada tiga detik terakhir.

Seluruh staf membelalakan mata mereka, Jungkook hanya menanggapi santai dengan tersenyum miring. Taehyung tidak bisa memberi reaksi apa-apa. Ia pikir Jungkook tidak akan membahas pernikahan mereka pada siaran langsung.

"Tuan Jeon Jungkook apa kalimat yang terakhir sekedar gurauan?"

"Itu bukan gurauan." Ucap Jungkook tegas, ia berdiri mengulurkan tangan kanannya pada Taehyung.

Tangan kiri Taehyung bergerak perlahan menyambut uluran tangan Jungkook. Tubuhnya ditarik pelan, membuatnya berdiri kemudian tangan Jungkook melingkari pinggangnya. "Itu bukan gurauan, kami akan menikah."

Taehyung bisa mendengar keributan para staf ketika dirinya dan Jungkook melangkah pergi. Taehyung menoleh ke kiri mengamati sisi kanan wajah Jungkook. Tidak ada jalan mundur sekarang, pernikahan itu benar-benar dilaksanakan.

"Kau membawa mobil?"

"Ya."

"Sendiri atau dengan sopir?"

"Dengan sopir."

"Suruh sopirmu pergi, aku akan mengantarmu pulang."

"A—apa?!" Taehyung nyaris berteriak.

"Tidak ada bantahan, kita harus berbicara serius."

Taehyung menelan ludah kasar, ia gugup memikirkan pembicaraan apa yang Jungkook maksudkan. "Jungkook…,"

"Suruh sopirmu pergi." Potong Jungkook.

"Baiklah…," balas Taehyung dengan nada malas sambil mengetik pada layar ponselnya.

"Kau tahu aku sangat gugup tadi."

"Benarkah?" Taehyung menoleh menatap Jungkook tidak percaya sambil melesakkan ponselnya ke dalam saku jaket abu-abu yang dia kenakan.

"Kau lapar?" Taehyung menggeleng. "Aku ingin melepas penat, kau mau menemaniku?"

"Kemana? Restoran, bioskop, atau tempat ramai lainnya?"

"Kau mau pergi kesana?"

"Tidak. Kurasa bukan ide bagus pergi ke tempat-tempat ramai seperti itu."

"Aku juga berpikiran sama."

"Lalu?"

"Kau mau ikut kemanapun aku pergi?" tatapan Taehyung terlihat ragu. "Kau akan aman bersamaku, aku janji. Aku tidak akan melakukan apa-apa yang akan membuatmu marah."

"Kurasa janjimu cukup meyakinkan."

Jungkook tersenyum singkat. "Ayo." Ajaknya sambil melangkah lebih cepat menuju mobil yang diparkir tepat di depan gedung I-Netz. Setengah berlari Taehyung mengejar langkah kaki Jungkook.

"Tunggu aku!" gerutu Taehyung dan bukannya memperlambat langkah kaki, Jungkook justru sengaja berlari. "Kau pasti sengaja!" pekik Taehyung kesal.

Jungkook membukakan pintu penumpang mobil untuk Taehyung, dengan tatapan kesal Taehyung mendorong tubuhnya memasuki mobil Jungkook. Kali ini Jungkook tidak membawa mobil mewah, dia memakai minibus yang bisa dibeli kalangan menengah. Mesin dinyalakan, tidak sehalus suara mesin mobil mewah, begitupun ketika mobil mulai bergerak, guncangan yang cukup keras terasa.

"Kenapa membawa Minibus biasa?" pertanyaan Taehyung memecah kesunyian.

"Kau tidak suka? Seharusnya aku membawa mobil mewahku."

Taehyung tertawa pelan mendengar kalimat Jungkook. "Itu bukan hal penting untukku, bahkan jika kau mengajakku berjalan kaki aku tidak masalah. Aku hanya terkejut ternyata kau tidak keberatan membawa Minibus biasa."

"Terkadang aku merasa muak dengan semua yang aku miliki."

"Hmm." Taehyung hanya menggumam kemudian mulai memperhatikan jalanan yang mereka lewati, Jungkook membelokkan mobil mereka ke arah pinggiran kota. "Besok akan terjadi kehebohan."

"Itu sudah bisa dipastikan."

Taehyung menoleh ke kiri menatap Jungkook. "Kau siap?"

"Tidak ada jalan lain." Balas Jungkook kemudian diakhiri dengan senyuman.

Tangan kanan Taehyung bergerak pelan, menurunkan kaca jendela mobil. Angin malam menerpa wajah dan menggoyangkan helaian rambutnya. Jalanan mulai sepi Taehyung menjulurkan sedikit tangan kanannya. Jungkook hanya melirik sekilas kemudian tersenyum dan melanjutkan kesibukannya memperhatikan jalanan di hadapannya.

.

.

.

"Kita sampai." Ucap Jungkook sambil mematikan mesin mobil.

Taehyung membuka pintu mobil, melangkah keluar, kemudian mengamati bangunan di hadapannya. Sebuah flat dengan tiga lantai yang terlihat tanpa penghuni. "Jungkook?"

"Kau pernah menunjukkan tempat rahasiamu padaku, sekarang aku ingin menunjukkan tempat rahasiaku padamu. Saat semua diluar kendali aku selalu ke sini. Ayo."

Taehyung memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku jaket, ia melangkah cepat agar tak tertinggal Jungkook. Penerangan terbatas, halaman flat terlihat tak terurus. Sesuatu yang dulu mungkin adalah taman kecil kini dipenuhi ilalang setengah kering, kolam ikan tergenangi air keruh dan tertutupi dedaunan.

Pada beberapa bagian dinding tampak coretan-coretan aneka warna. Hembusan angina menggerakkan pagar besi menimbulkan derit memekakan telinga yang membuat Taehyung berjengit nyaris mengumpat.

"Jungkook kau tidak sedang bercanda kan? Tempat apa ini?" Taehyung tak mendapat jawaban dan Jungkook terus melangkah.

Mereka berjalan ke sisi kanan bangunan flat. Menaiki tangga luar bangunan flat. Melewatkan lantai pertama dan lantai kedua flat yang sunyi, gelap, dan menakutkan. Ketika sampai di lantai teratas, Taehyung pikir Jungkook akan berhenti, namun dia salah. Jungkook terus melangkah membawanya menuju atap flat. Ada bangunan lain di atap flat yang tak terlihat dari bawah. "Rooftop?" gumam Taehyung.

"Ya." Balas Jungkook singkat sambil melangkah mendekati pintu bangunan. Menarik keluar sesuatu dari saku depan celana bahan yang dia kenakan, suara gemerincing memberitahu Taehyung benda apa yang kini tengah digenggam oleh Jungkook.

Taehyung mengamati kegelapan di hadapannya, minimnya cahaya membuat bayangan pepohonan terlihat mengerikan. Ia memutar tubuhnya untuk melihat Jungkook namun seseorang yang dia cari tak berada di tempat seharusnya dia berada. "Jungkook?!" Taehyung mulai panik, ia tidak terlalu suka tempat gelap dan seorang diri. "Jung…," kalimat Taehyung terhenti ketika seluruh atap gedung tiba-tiba terang.

Memutar tubuhnya kembali, Taehyung melihat ratusan bohlam hias beraneka warna menyala terang pada pinggiran atap flat. Bangku taman berwarna putih, empat single sofa berwarna cokelat, hitam, putih, dan biru muda tertata rapi. Rak berisi pot-pot bunga. Atap flat yang sunyi berubah menyerupai tempat perkemahan yang nyaman dengan hiasan unik.

"Bagaimana menurutmu?" Taehyung menoleh ke arah sumber suara. Jungkook berjalan ke arahnya dengan dua kaleng soda di kedua tangannya.

"Tempat yang nyaman. Terimakasih." Ucap Taehyung ketika Jungkook menyodorkan kaleng soda berwarna hijau.

"Apa kau takut saat aku membawamu ke sini?"

"Aku cukup cemas." Balas Taehyung jujur sebelum mencicipi sodanya yang ternyata telah Jungkook buka penyegelnya.

"Apa kau berpikir tempat ini berhantu?" Taehyung tertawa gugup, sementara tatapan Jungkook terlihat menuntut.

"Ya. Aku sempat berpikir seperti itu."

"Bagaimana jika tempat ini berhantu?"

"Jungkook hentikan!" tegas Taehyung. Dan kali ini giliran Jungkook yang tertawa lepas. Taehyung baru menyadari jika Jungkook melepas jas luarnya, menyisakan kemeja putih, dengan kedua lengan kemeja tergulung, ujung kemeja dikeluarkan dari celana bahan, dan tiga kancing teratas dilepas.

"Maaf." Ucap Jungkook tulus.

Taehyung mengendikkan kedua bahu singkat, ia lantas mendudukan dirinya ke atas bangku taman. Lingkungan yang sunyi dengan pencahayaan minim membuatnya bisa melihat bintang di langit malam, meski tak begitu banyak. Taehyung menaikkan kedua kakinya ke atas bangku taman, melipat kedua kakinya. "Kurasa aku bisa memahami kenapa kau menyukai tempat ini."

"Benarkah?"

"Hmm." Taehyung menggumam.

"Apa?"

"Di sini sunyi, menyenangkan. Tempat yang cocok untuk sejenak melarikan diri dari hiruk pikuk kota."

"Besok, entah keributan apa yang akan kita hadapi."

Taehyung menoleh ke kanan, Jungkook duduk di sisi kanan tubuhnya. Tanpa sadar Taehyung memperhatikan otot lengan Jungkook yang terbentuk nyaris sempurna. Dan dia merasa sedikit iri melihat tubuh Jungkook. Taehyung meletakkan kaleng sodanya ke atas lantai beton sebelum menegakkan tubuhnya kembali. "Bintangnya indah."

"Aku tahu tempat lain dengan bintang yang lebih indah."

"Dimana? Jeju?"

"Mungkin." Jawab Jungkook dengan nada bercanda, berhasil, ia mendengar suara tawa Taehyung. "Kau tidak ingin pergi ke Jeju?"

"Entahlah, kurasa tidak ada tempat lain yang lebih menyenangkan selain rumah."

"Kau benar, tapi aku belum menemukan rumahku." Dahi Taehyung berkerut mendengar kalimat Jungkook. "Lupakan, aku hanya bercanda." Jungkook tersenyum lebar diakhir kalimat.

"Lain kali jika ingin membawaku ke sini kita bawa kembang api." Usul Taehyung. "Bagaimana?"

"Ide bagus."

Taehyung tersenyum kemudian menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Lalu kedua matanya kembali terpaku pada langit malam, tidak banyak bintang yang bisa dilihat. Namun, baginya langit malam tetap terlihat menakjubkan.

"Baiklah, kurasa sebaiknya kita pergi sekarang. Aku harus pulang atau Seokjin hyung akan cemas."

Taehyung berdiri namun Jungkook menahan pergelangan tangan kanannya. Taehyung menoleh ke belakang. "Bisakah kita tinggal di sini malam ini? Aku tidak akan melakukan sesuatu di luar batas, aku hanya ingin di sini malam ini, mungkin aku terdengar seperti sedang melarikan diri."

Seharusnya Taehyung menolak, alih-alih dia justru mengangguk pelan, mengabulkan keinginan Jungkook. Taehyung mendudukkan dirinya kembali, menatap kedua mata Jungkook cukup lama, membiarkan Jungkook merapatkan tubuh mereka, dan merangkul pundaknya. Tangan kanan Taehyung melingkari punggung tegap Jungkook kepalanya ia sandarkan pada bahu kiri Jungkook.

Jungkook menurunkan tangan kirinya dari pundak Taehyung beralih pada lengan Taehyung, memeluk tubuh Taehyung dengan tangan kirinya. Ia menoleh ke kiri mengecup singkat puncak kepala Taehyung. Ada banyak kecemasan yang sebenarnya mengganggu Taehyung saat ini, namun, berada begitu dekat dengan Jungkook membuatnya merasa aman. Dan dia tidak ragu untuk memejamkan kedua matanya.

Tidak ada obrolan yang tercipta membuat hembusan angin malam terdengar cukup nyaring. Ketika napas teratur Taehyung terdengar, Jungkook sengaja menunggu lebih lama. Hingga ia merasa angin malam mulai terlalu dingin untuk mereka berdua. Perlahan Jungkook menegakkan tubuhnya, perlahan agar tak mengganggu tidur Taehyung.

Bergerak perlahan, tangan kanannya berada di bawah kedua lutut Taehyung sementara tangan kirinya melingkari punggung Taehyung. Ia mulai berdiri dengan tubuh Taehyung berada aman di dalam dekapannya, kepala Taehyung bersandar pada dadanya dan Jungkook berharap Taehyung tidak akan terbangun karena suara detak jantungnya yang terlalu keras.

Bangunan di atas atap flat yang dia miliki tak besar, hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu ruangan yang cukup luas dengan berbagai fungsi, mulai dari dapur, ruang makan, ruang tamu, dan ruang keluarga. Perlahan Jungkook membaringkan tubuh Taehyung ke atas ranjang tempat tidur. Melepaskan kedua sepatu Taehyung, menaikkan selimut sebatas dada Taehyung.

Jungkook berdiri di sisi kanan ranjang tempat tidur cukup lama. Cukup lama untuk mengamati wajah Taehyung sebelum dia memberanikan diri untuk menyingkirkan anak rambut dari dahi Taehyung. Merasakan lembutnya helaian rambut Taehyung yang berwarna merah. "Selamat malam," Jungkook menggumam pelan sebelum beranjak pergi menuju ruangan serbaguna untuk tidur di atas sofa.

TBC

Halo semua terimakasih sudah mengikuti cerita ini, terimakasih review kalian Kang hana, funf, Kyunie, broke lukas, GaemGyu92, VampireDPS, adhakey2309, Tikha Semuel RyeoLhyun, Park RinHyun Uchiha, justcallmeeBii, yoongiena, vivikim406, bangtaninmylove, AprilKimVTae, Hastin99. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.