BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Previous

Bangunan di atas atap flat yang dia miliki tak besar, hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu ruangan yang cukup luas dengan berbagai fungsi, mulai dari dapur, ruang makan, ruang tamu, dan ruang keluarga. Perlahan Jungkook membaringkan tubuh Taehyung ke atas ranjang tempat tidur. Melepaskan kedua sepatu Taehyung, menaikkan selimut sebatas dada Taehyung.

Jungkook berdiri di sisi kanan ranjang tempat tidur cukup lama. Cukup lama untuk mengamati wajah Taehyung sebelum dia memberanikan diri untuk menyingkirkan anak rambut dari dahi Taehyung. Merasakan lembutnya helaian rambut Taehyung yang berwarna merah. "Selamat malam," Jungkook menggumam pelan sebelum beranjak pergi menuju ruangan serbaguna untuk tidur di atas sofa.

BAB SEBELAS

Taehyung menggeliat pelan sebelum kedua kelopak matanya terbuka, ia mengerjap-ngerjap beberapa kali sebelum mengamati langit-langit kamar. untuk kemudian disusul dengan mengamati kamar tempatnya berada sekarang. Ruangan kamar yang tidak terlalu besar dengan sedikit perabotan, hanya ranjang tempat tidur dan meja kecil di sisi kiri ranjang, di atas meja terletak frame foto cukup besar berisi lima potongan gambar.

Taehyung bangun lantas mendudukan dirinya mengamati foto di atas meja. Ia tersenyum melihat anak laki-laki kecil berkaos putih, dengan ban pelampung hitam melingkari tubuhnya, ia terlihat berendam di dalam air, entah air laut atau danau, tidak terlalu jelas. "Apa dia Jungkook?" gumam Taehyung seorang diri. "Berbeda sekali dengan sekarang."

Foto lain adalah Jungkook dewasa berdampingan dengan Jungkook kecil keduanya berpose sama yaitu mengerucutkan bibir, di bawah foto itu terdapat foto Jungkook kecil lainnya duduk dengan seorang anak laki-laki yang bertubuh lebih tinggi darinya wajah mereka terlihat mirip keduanya saling merangkul, di foto terakhir Jungkook kecil sedang berdiri membelakangi air mancur dikedua tangannya ada mainan plastik Dinosaurus.

"Kenapa tersenyum?"

Taehyung menoleh cepat dan mendapati Jungkook sudah berada di dalam kamar berdiri di dekat kaki ranjang. Taehyung bergegas turun dari ranjang kemudian merapikan selimut. "Fotomu lucu."

"Terimakasih, waktu berjalan sangat cepat."

"Ya."

"Sekarang benar-benar tampak berbeda kan?"

Taehyung tak langsung menjawab ia mengamati penampilan Jungkook lekat. "Tidak juga, kau masih memiliki gigi lucu itu, matamu juga sama, dan pipimu masih sedikit tembam. Tentu saja kau sudah berubah, kau versi dewasa dari anak kecil lucu di dalam foto." Taehyung tersenyum lebar diakhir kalimat.

Jungkook tertawa pelan. "Aku juga ingin melihat foto masa kecilmu."

"Tidak!" pekik Taehyung dengan tatapan ketakutan. "Foto masa kecilku memalukan tidak ada yang lucu, kau tidak perlu melihatnya."

"Memangnya foto memalukan seperti apa yang bisa dilakukan anak kecil? Kurasa apa yang dilakukan anak kecil semuanya lucu."

"Ahhh….," Taehyung bingung harus memberi jawaban seperti apa sementara di dalam kepalanya dia mengingat foto bayi telanjangnya. "Pokoknya memalukan." Putus Taehyung.

Jungkook tertawa melihat ekspresi wajah Taehyung. "Baiklah, baiklah, aku percaya padamu. Kau mau mandi atau sarapan dulu?"

"Kurasa mandi."

"Kamar mandinya di sebelah kanan pintu plastik hijau, peralatan mandi yang aku siapkan masih baru jangan cemas memakainya. Dan soal baju ganti kurasa kau bisa memakai jins, kaos, dan jaketku. Aku juga sudah menyiapkannya di dalam kamar mandi."

"Jungkook itu terlalu berlebihan aku bisa melakukannya sendiri."

"Kau tamuku."

Taehyung menggigit pelan bibir bawahnya merasa sungkan. "Terimakasih."

"Tak masalah."

"Kau sudah mandi?"

Jungkook mengangguk pelan. "Aku tunggu di meja makan."

"Ya." Balas Taehyung singkat.

Jungkook tersenyum tipis sebelum memutar tubuhnya berniat untuk melangkah keluar dari kamar tidur. "Jungkook." Panggil Taehyung.

"Ya?" langkah kaki Jungkook terhenti ia lantas menoleh ke belakang. "Apa?"

"Kau tidur dimana semalam?"

"Sofa."

"Apa badanmu pegal sekarang?"

"Tidak juga, yah meski tidur di sofa itu tidak senyaman tidur di atas ranjang tempat tidur."

"Maaf." Balas Taehyung sembari melempar senyum canggung. Jungkook hanya tersenyum tipis. "Dan kau yang memindahkanku ke sini?" Jungkook mengangguk. "Astaga maafkan aku, aku benar-benar merepotkan."

"Tidak masalah, kau tidak berat."

"Hmm… sebaiknya aku mandi sekarang." Taehyung benar-benar malu sekarang memikirkan Jungkook mengangkat tubuhnya. Ia lantas berjalan tergesa melewati tubuh Jungkook yang berdiri tak jauh dari pintu.

Jungkook hanya tersenyum melihat kegugupan Taehyung. Kemudian ia putuskan untuk menunggu Taehyung di meja makan. Tidak ada kursi di meja makan hanya meja berkaki rendah, menduduki bantal duduk sambil melipat kedua kaki, Jungkook mengamati semua hidangan yang tersaji di atas meja.

Kemampuan memasaknya benar-benar buruk jadi dia memutuskan untuk memasak sesuatu yang biasa dia makan ketika masa kuliah. Ketika harus tinggal jauh dari rumah, berbaur dengan mahasiswa lain, tanpa kemewahan. Tak lebih dari lima menit, Taehyung keluar dari kamar mandi. Kaos cokelat Jungkook terlihat kebesaran di tubuh Taehyung.

"Duduklah, kita sarapan sekarang." Ajak Jungkook.

Taehyung hanya mengangguk lantas mendudukan dirinya ke atas bantal duduk di hadapan Jungkook. "Apa yang terjadi hari ini? Berita tentang kita?"

"Aku belum memeriksa ponsel dan di sini tidak ada televisi."

"Aku akan memeriksa ponselku." Ucap Taehyung sambil bersiap untuk berdiri.

"Tidak." Ucap Jungkook menghentikan gerakan Taehyung. "Kita sarapan saja, dan menikmati kedamaian selagi bisa."

Taehyung tersenyum. "Kau benar." Kedua mata Taehyung lantas mengamati hidangan di atas meja, tangan kanannya bergerak mengambil sumpit kemudian mencomot nasi dari dalam mangkuk.

"Apa—nasinya baik-baik saja?" Jungkook bertanya ragu-ragu.

"Hmm… sedikit lembek."

"Maaf." Ucap Jungkook penuh sesal.

"Tidak masalah, bisa dimakan kok. Setidaknya kemampuan memasakmu lebih baik dari aku."

Jungkook menggaruk tengkuk canggung. "Dan aku hanya bisa menggoreng telur."

"Tidak masalah, ah semua bahan makanan ini apa kau keluar untuk membelinya?"

"Tidak, aku kesini setiap minggu jadi aku menyimpan bahan makanan."

"Hmmm." Taehyung mengernyit merasakan telur dadar Jungkook. "Asin."

"Ahhh… kau tidak perlu memakannya." Sesal Jungkook sambil menunduk menempelkan dahinya pada permukaan meja.

"Tidak masalah, jika dimakan bersama nasi asinnya sedikit berkurang."

Jungkook mengangkat kepalanya menatap Taehyung dengan kedua mata menyipit dan bibir sedikit mengerucut. "Aku merasa sangat buruk sekarang, seharusnya aku bisa memasak lebih baik untukmu."

Taehyung tersenyum. "Aku juga tidak bisa memasak."

Dan sarapan keduanya diselingi dengan tawa ceria setelah Jungkook mengejek kemampuan memasaknya sendiri. Selesai mengunyah dan menelan sesumpit nasi dan telur, Taehyung dan Jungkook meneguk air putih untuk menetralisir rasa asin.

"Benar-benar sarapan dengan menu makanan hancur." Keluh Jungkook.

"Tapi ini menyenangkan." balas Taehyung.

"Apa?" Jungkook tidak percaya dengan kalimat Taehyung.

"Ah…, aku tidak mengatakan apa-apa." Taehyung tersenyum canggung.

Jungkook memilih diam namun dia tersenyum melihat kulit wajah Taehyung yang bersemu merah sekarang. Tangan kanan Jungkook terulur untuk menyentuh pipi kiri Taehyung. "Kulitmu dingin, penghangatnya tidak bekerja dengan baik."

"Benarkah?" Taehyung menatap kedua mata Jungkook sementara tangan kirinya bergerak untuk menyentuh pipinya. Dan Taehyung langsung mengerutkan dahi. "Tidak dingin, dasar pembohong!" kesal Taehyung.

Jungkook tertawa sambil melepaskan tangannya dari pipi kiri Taehyung. "Jeon Jungkook aku lebih tua darimu!" pekik Taehyung kedua tangannya bergerak cepat untuk mencubit kedua pipi Jungkook.

"Huung thakit…," protes Jungkook dengan suara tidak jelas karena Taehyung menarik kedua pipinya.

"Rasakan kau dasar Kelinci menyebalkan!"

.

.

.

Minibus Jungkook berhenti di depan tempat tinggal kakak laki-laki Taehyung, Kim SeokJin. Tentu saja ia berada di sana atas arahan Taehyung. "Para pencari berita berkumpul di depan rumah kakakmu." Jungkook melirik Taehyung yang memilih diam namun jelas nampak kesal. "Kita masuk bersama."

Taehyung menoleh ke kiri menatap Jungkook. "Masuk bersama?" ulang Taehyung seolah kalimat Jungkook tak cukup keras didengar.

"Ya, kita masuk bersama. Aku yakin keluargamu butuh penjelasan dariku. Dan aku…," Jungkook menjeda kalimat menatap kedua mata Taehyung. "Dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."

"Memangnya apa yang bisa terjadi di depan rumahku sendiri."

"Apa kau tidak pernah mendengar jika para pencari berita itu bisa bersikap kejam."

Taehyung bungkam, ia sudah mendengar banyak berita mengerikan seperti itu. Tentang para pencari berita, bahkan beberapa idol dari agensi keluarganya juga pernah mengalami kejadian buruk berhubungan dengan para pencari berita.

"Taehyung." Panggil Jungkook dengan suara lembut.

"Kakakku ada di dalam kau pasti akan ditanya macam-macam, apa kau tidak keberatan?"

"Tidak sama sekali."

"Baiklah ayo."

"Seharusnya kami memiliki penjaga rumah," gerutu Taehyung sebelum melangkah turun dari mobil Jungkook.

Jungkook tersenyum tipis mendengar gerutuan Taehyung, ia melompat turun menutup pintu mobil. Menguncinya kemudian berlari menyusul Taehyung. Kepala Taehyung langsung menunduk menghalau lampu blitz kamera yang terarah ke wajahnya, tangan kanannya terangkat untuk menutupi wajahnya, dia benci perhatian.

Tangan kiri Jungkook melingkari pinggang Taehyung sementara tangan yang lainnya membantu Taehyung menghalau sorot kamera. Keduanya melangkah cepat mengabaikan berbagai pertanyaan yang ditujukan untuk keduanya. Namun, beberapa pertanyaan tetap berhasil tertangkap telinga keduanya.

"Apa benar kalian akan menikah?!"

"Alasannya apa? Kenapa tergesa-gesa?!"

"Apa ini hanya permainan saja?"

"Untuk memperluas kekuasaan kedua agensi?"

"Atau menutupi aib?"

"Mereka menyebalkan." Gerutu Taehyung.

"Sudah jangan ditanggapi." Bisik Jungkook.

Pagar kayu bercat cokelat tua di hadapan keduanya terbuka, SeokJin menunggu di belakang pagar. Taehyung dan Jungkook menyelinap masuk. Pagar ditutup keras memberi isyarat kepada semua orang di depan pagar, semua tamu tak diundang untuk pergi. Namun, para pencari berita itu selalu keras kepala.

"Kalian baik-baik saja?" Seokjin bertanya setelah mengunci pagar. Rahangnya mengeras terlihat jelas jika dia sedang menahan emosi. Taehyung mengangguk pelan sementara Jungkook hanya terpaku. "Masuk ke rumah." Perintah mutlak Seokjin.

"Ayo." Kalimat Taehyung menyentak Jungkook yang beberapa detik hanya mampu terpaku.

Kim Seokjin, ia lebih tampan jika dilihat dari dekat. Di kesempatan pertama Jungkook tak begitu memperhatikan. Kesempurnaan, mungkin sudah melekat pada keluarga mereka. Kim Seokjin dan Kim Taehyung buktinya. Jungkook menelan ludah cepat, meski terlihat sempurna ia bisa merasakan aura tak menyenangkan dari seorang Kim Seokjin.

"Kau bersama Jungkook semalaman?" Seokjin bertanya tanpa basa-basi beberapa detik setelah kedua kaki Taehyung dan Jungkook menginjak lantai rumah.

"Ya, Seokjin hyung." Balas Taehyung.

"Kau tidak memberi kabar dan tidak mengangkat panggilanku."

"Maaf Hyung, aku tidak bermaksud membuat Seokjin hyung cemas."

Kedua mata Seokjin menyipit, kedua tangannya terlipat di depan dada. Menatap Taehyung dan Jungkook tajam. "Apa yang kalian lakukan semalam? Jawab dengan jujur jangan berkelit."

"Kami tidak melakukan apa-apa!" pekik Taehyung dan Jungkook bersamaan.

"Aaahh…., kalian pikir aku akan percaya begitu saja? Mustahil kalian tidak melakukan apa-apa. Kau!" telunjuk kanan Seokjin menunjuk wajah Jungkook.

Jungkook mundur selangkah, Seokjin terlihat mengerikan sekarang. "Kami tidak melakukan apa-apa Hyung, Taehyung tidur di kamar aku tidur di luar. Aku tidak berbohong Seokjin hyung."

Seokjin menurukan telunjuknya. "Baiklah untuk saat ini aku percaya. Kalian sudah sarapan?" Jungkook dan Taehyung mengangguk bersamaan. "Aku memasak cukup banyak hari ini, Taehyung antarkan Jungkook kemeja makan lalu temui aku di ruang kerjaku."

"Seokjin hyung…," kalimat Taehyung nyaris terdengar memohon.

"Lakukan sekarang." Perintah mutlak Seokjin.

"Baiklah." Wajah Taehyung terlihat putus asa, ia melirik Jungkook dengan wajah tegangnya. "Ayo." Ajaknya sambil menarik lengan kanan kaos Jungkook. Dan Jungkook hanya bisa menurut.

"Hai Jungkook senang melihatmu." Namjoon menyapa kedatangan Jungkook dan Taehyung ramah. "Duduklah, kita bisa sarapan bersama. Kuharap Seokjin tidak menyambutmu dengan dingin."

"Hmmm…," Jungkook menggumam canggung.

"Ah, kurasa dia sudah melakukannya." Ucap Namjoon kemudian tersenyum tidak tulus pada Jungkook.

"Namjoon hyung temani Jungkook dan jangan mengintimidasinya."

"Taehyung aku bukan Seokjin." Ucap Namjoon meyakinkan.

"Hmm… Jungkook." Taehyung menatap wajah Jungkook yang masih nampak gugup. "Aku pergi sebentar, Namjoon hyung lebih baik dari Seokjin hyung."

"Apa aku harus merasa lega sekarang?" bisik Jungkook.

"Kau yang memutuskan untuk masuk bersamaku tadi."

"Baiklah, semoga aku masih keluar dalam keadaan selamat."

"Berlebihan!" pekik Taehyung sambil memukul lengan kanan Jungkook pelan membuat Jungkook tertawa lepas untuk beberapa saat. Namjoon tanpa sadar tersenyum melihat interaksi keduanya.

Ketika Taehyung melangkah pergi Jungkook menoleh ke belakang untuk mengamati punggung Taehyung. "Jungkook duduklah, apa kau suka pancake?"

"Ya." Jungkook membalas singkat membuat Namjoon nyaris mengernyit, Jungkook rupanya tak ramah dengan sembarang orang.

.

.

.

"Seokjin hyung." Taehyung memanggil nama sang kakak perlahan, Seokjin berdiri di depan pintu ruang kerjanya, dalam posisi memunggungi Taehyung.

"Masuklah, ada seseorang yang menunggumu di dalam."

"Seseorang?"

Seokjin memutar tubuhnya menatap Taehyung. "Ya, seseorang." Ucapnya sebelum berlalu pergi.

"Seokjin hyung!" panggil Taehyung. Seokjin menoleh. "Jangan menyakiti Jungkook."

"Astaga Taehyung, aku tidak akan mengulitinya."

"Hyung terkadang sedikit kejam." Taehyung berbisik pada dirinya sendiri sebelum memutuskan untuk masuk menghindari tatapan sebal Seokjin.

"Kau akan menikah dengan Jungkook?" suara Suga masih terdengar lemah namun Taehyung bisa mendengar setiap kata yang Suga ucapkan dengan jelas.

"Siapa yang mengantar Yoongi hyung ke sini?

"Namjoon dan SeokJin hyung memintaku untuk tinggal di sini sementara, Jimin sedang keluar negeri. Mereka tidak ingin aku sendirian di apartemen.

"Oh."

"Jawab pertanyaanku Kim Taehyung, apa kau akan menikah dengan Jeon Jungkook?"

"Ya."

"Kau mencintainya?"

"Aku akan berusaha mencintainya."

"Taehyung, apa ini karena aku?" Suga menatap wajah Taehyung lekat.

"Ya, aku melakukannya untuk Yoongi hyung."

"Taehyung jangan mengorbankan dirimu."

"Yoongi hyung selalu ada untukku, membantuku, dan melindungiku. Sekarang, biarkan aku melakukan hal yang sama."

"Taehyung…,"

"Aku akan baik-baik saja, jangan cemas Hyung. Jungkook sangat baik dia tidak akan menyakitiku."

"Aku tidak menyangka kau akan melakukan sejauh itu untuk menolongku."

"Karena Yoongi hyung berharga untukku."

Yoongi hanya bisa tersenyum tipis mendengar jawaban Taehyung, ia bingung dengan perasaannya sekarang, apa dia harus menangis karena Taehyung berkorban untuknya, atau sebaliknya merasa bahagia, karena Taehyung semua berita mengerikan tentang dirinya berhenti tiba-tiba.

"Aku…, hanya bisa berterimakasih padamu Kim Taehyung."

"Itu sudah cukup."

TBC

Hai Semua terimakasih sudah bersedia membaca cerita ini, terimakasih review kalian dhantiee, taennie, ranran, Guest, pxxjm0809, yoongiena, juney532, wafflekid, PremithaEvi Kujyo, adhakey2309, broke lukas, ParkceyePark, vivikim406, bangtaninmylove, justcallmeBii, VampireDPS, Hastin99, AprilKimVTae, Kyunie, Park RinHyun Uchiha, GaemGyu92, tiannunna, athensvt, amandayupi. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.