BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Previous

"Yoongi hyung selalu ada untukku, membantuku, dan melindungiku. Sekarang, biarkan aku melakukan hal yang sama."

"Taehyung…,"

"Aku akan baik-baik saja, jangan cemas Hyung. Jungkook sangat baik dia tidak akan menyakitiku."

"Aku tidak menyangka kau akan melakukan sejauh itu untuk menolongku."

"Karena Yoongi hyung berharga untukku."

Yoongi hanya bisa tersenyum tipis mendengar jawaban Taehyung, ia bingung dengan perasaannya sekarang, apa dia harus menangis karena Taehyung berkorban untuknya, atau sebaliknya merasa bahagia, karena Taehyung semua berita mengerikan tentang dirinya berhenti tiba-tiba.

"Aku…, hanya bisa berterimakasih padamu Kim Taehyung."

"Itu sudah cukup."

BAB DUA BELAS

"Jadi—Jimin pergi kemana?" Taehyung bertanya untuk mencairkan suasana, iapun duduk pada salah satu sofa di ruang kerja kakaknya tak lama Yoongipun duduk di samping Taehyung.

"Amerika."

"Berhubungan dengan agensi?" Taehyung melihat Yoongi mengangguk pelan. "Hmmm…, Yoongi hyung masih terlihat lelah, Hyung bisa istirahat di kamarku."

"Tapi aku belum makan apapun."

"Benarkah?" Taehyung menyipitkan kedua matanya, menatap Yoongi dengan ekspresi serius yang terlihat konyol bagi Yoongi.

"Tentu saja, aku tidak mungkin berbohong." Balas Yoongi memutuskan untuk terlibat dalam permainan Taehyung.

Taehyung tertawa keras sambil memeluk tubuh Yoongi. "Jangan sampai Yoongi hyung sakit lagi, ayo kita pergi ke meja makan!" pekik Taehyung bersemangat.

.

.

.

"Apa pancake buatanku enak?"

"Ya—ya Hyung."

"Sudahlah Seokjin kau bisa membuatnya terkena serangan jantung." Bisik Namjoon pada telinga kanan Seokjin.

"Diam." Peringat Seokjin sambil menyikut rusuk kiri Namjoon cukup keras. "Jeon Jungkook."

Menelan ludah kasar, Jungkook bisa merasakan keringat dingin mulai terbentuk cepat, mengalir menuruni punggung. Ketika Seokjin menyebut nama lengkapnya.

"Meski Taehyung tidak bercerita lengkap padaku. Aku sudah tahu semuanya. Dia bersedia menikah denganmu untuk menolong Yoongi, tapi kau, bagaimana kau bisa mempunyai pemikiran seperti itu? Aku yakin semua ini tak sepenuhnya untuk menolong Yoongi."

Seokjin menatap Jungkook serius. "Meski Yoongi kekasih Park Jimin, dan Park Jimin sahabatmu, kurasa kau tidak bisa langsung mengambil keputusan menyelesaikan masalah dengan cara ekstrim seperti ini."

"Aku mencintai Taehyung." Tegas Jungkook.

Seokjin bungkam, ia melihat keseriusan dalam kedua sorot mata seorang Jeon Jungkook. "Tapi kau tahu kan aku tidak bisa membuat Taehyung mecintaimu." Jungkook mengangguk pelan. "Apa kau tahu, kau bisa saja terluka jika Taehyung tidak pernah mencintaimu."

"Aku sudah memikirkannya."

"Hyung…., Yoongi hyung akan bergabung untuk sarapan!" kedatangan Taehyung yang tiba-tiba membuat Seokjin tak jadi mengatakan pemikirannya pada Jungkook.

Jungkook menoleh memandang Taehyung yang tersenyum lebar dengan menggandeng tangan Yoongi bersamanya. Mereka duduk bersama, Jungkook sedikit kecewa karena Taehyung tak memilih duduk di sampingnya.

Menarik napas dalam, menekan rasa kecewa, Jungkook menasehati dirinya sendiri di dalam hati, karena Taehyung bisa saja menyakitinya berulang kali. Dan dirinya tetap saja akan mengambil langkah berani ini.

Dan di sisa pagi bersama keluarga Kim, Jungkook memilih untuk diam dan sesekali tersenyum untuk menanggapi obrolan yang terjadi di meja makan. Obrolan yang lebih banyak membahas tentang Min Yoongi dan Kim Taehyung.

Ketika sarapan bersama keluarga Kim berakhir, Jungkook bergegas pamit karena dia yakin banyak sekali pekerjaan yang sudah menunggunya. Jungkook melangkah pelan menuju halaman rumah kediaman keluarga Kim. Taehyung masih sibuk dengan Yoongi, terlalu sibuk hingga ia tak punya waktu untuk sekedar melirik keberadaan Jungkook. Setidaknya itu yang Jungkook pikirkan.

"Jungkook!" teriakan panggilan serta derap langkah kaki, memaksa Jungkook untuk berhenti dan menoleh. Taehyung berdiri di hadapan Jungkook dengan napas yang cukup terengah. "Kenapa pergi tiba-tiba?"

"Aku sudah berpamitan." Balas Jungkook tak bermaksud untuk terdengar dingin dan acuh.

"Ah benarkah? Aku tidak mendengarnya." Taehyung melempar tatapan polos tanpa dosanya pada Jungkook. Jungkook hanya mengendikan bahu terlalu malas untuk menjawab Taehyung.

Seolah tak mengerti kekesalan Jungkook, Taehyung terus saja tersenyum. "Ah!" Jungkook tersentak ketika Taehyung meraih tangan kanannya, dan meletakkan sesuatu ke dalam genggaman tangannya.

"Gantungan kunci Kelinci, aku mengingatmu, jadi aku berikan padamu."

"Untukku?" Jungkook mengamati gantungan kunci kecil di tangannya. Kelinci putih dengan kedua pipi merona merah memegang wortel di kedua tangan mungilnya.

"Iya, aku sudah lama memilikinya. Warna putihnya sedikit pudar. Aku ingin membeli yang baru untukmu, tapi sudah tidak dijual di toko yang sama lagi. Aku tidak tahu harus membelinya dimana."

"Tidak masalah." Balas Jungkook, iapun tersenyum melupakan kekesalannya diawal tentang Taehyung tadi. "Gantungannya bagus, terimakasih."

Taehyung menggigit pelan bibir bawahnya, wajahnya terasa hangat melihat senyum Jungkook. "Jungkook…, hmmm…., terimakasih sudah mengantarku pulang, mengajakku ke tempat persembunyianmu, dan…., terimakasih sudah memindahkan aku ke tempat tidur meski berat badanku tidak bisa dikatakan ringan."

Jungkook tertawa melihat wajah malu-malu Taehyung. "Diamlah Jungkook…," desis Taehyung sambil menundukkan wajahnya. "Baiklah, kau pulang saja aku mau main dengan Yoongi hyung."

Tawa Jungkook terhenti, ia menatap malas kepada Taehyung. "Aku pulang." Ucap Jungkook nyaris membentak, memutar tubuhnya melesakkan gantungan kunci pemberian Taehyung ke dalam saku kiri celana jinsnya.

"Jungkook." Panggilan dari Taehyung untuk kedua kalinya hampir membuat Jungkook mengumpat. Ia tidak ingin mendengar nama Yoongi atau nama orang lain dari bibir Taehyung. Tapi tentu saja Taehyung tidak akan mengerti dan tidak akan peduli dengan keinginannya itu.

"A..," kalimat Jungkook terhenti saat Taehyung mencium singkat pipi kanannya, kemudian berlari pergi tanpa menunggu reaksi Jungkook.

Jungkook terpaku sambil mengusap pelan pipi kanannya. Hanya sebuah ciuman singkat tidak lebih, dan tentu saja Jungkook pernah mendapat lebih dari itu, namun hanya kecupan singkat dari Taehyung membuat yang membuat jantungnya berdetak cepat seperti sekarang.

"Aahhhhh jantungku…," keluh Jungkook kemudian senyuman bodoh tidak bisa menghilang dari wajah Jeon Jungkook di sepanjang sisa hari itu.

.

.

.

Jungkook masih tidak percaya dia bisa keluar selamat dari kediaman keluarga Kim, dan sekarang dirinya berada di satu meja makan dengan keluarganya dan juga keluarga Taehyung. Setidaknya ada Taehyung di sampingnya. Wajah Taehyung benar-benar gugup dan tegang, mungkin wajah Jungkook tak jauh berbeda sekarang.

"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?" bisik Jungkook pada telinga kiri Taehyung.

"Aku tidak tahu apa-apa, aku langsung diseret ke sini. Kau harusnya lebih tahu, ini kan rumah keluargamu."

"Aku tidak tahu apa-apa." Balas Jungkook keduanya masih berbisik-bisik.

"Sebenarnya aku dan suamiku cukup terkejut dengan berita ini." Suara ibu Jungkook menarik paksa perhatian Jungkook dan Taehyung secara bersamaan.

"Apa yang membuat Nyonya terkejut?" tanya Seokjin dengan sangat sopan.

Nyonya Jeon meletakkan garpu dan pisau di kedua tangan beliau untuk menjawab pertanyaan Seokjin. "Banyak hal Seokjin." Nyonya Jeon menangkupkan kedua telapak tangan ke atas meja makan, menopang dagu dengan cara yang anggun.

"Pertama, putraku dia terlihat seperti ya…, kau tahu sendiri…, sedikit berandal jadi kami tidak menduga dia akan memutuskan untuk menikah cepat."

"Kedua tentu saja kami tidak menyangka akan berbesan dengan keluarga Kim. Mengingat Jungkook tidak pernah bercerita apa-apa jika dia dekat dengan Kim Taehyung."

Seokjin terdiam memandangi jari-jemari lentik Nyonya Kim, dengan kuku bercat merah yang mempesona namun entah mengapa itu membangkitkan amarahnya. "Apa itu hal yang buruk?" Seokjin bertanya tanpa bisa mengendalikan kalimat yang keluar dari bibirnya.

Namjoon melirik sang istri cemas namun Seokjin sepertinya tak peduli dengan seluruh wajah tegang di belakang meja makan. Jika Nyonya Jeon tidak bisa menerima adiknya, lebih baik detik ini semua diakhiri. Dia tidak akan mengirim Taehyung ke Neraka.

"Tentu saja itu bukan hal yang buruk, kami hanya terkejut." Balas Nyonya Jeon kemudian diakhiri oleh senyuma anggun.

Kedua mata Seokjin menyipit, dahinya berkerut, ia mendengar sedikit nada gugup pada suara Nyonya Jeon. Kegugupan yang menandakan sebuah dusta. "Sejak awal, persoalan tentang menikah adalah keputusan putra Anda, Nyonya Jeon. Jika Anda tidak bisa menerima adik saya, saya tidak akan memaksa atau mengemis."

Taehyung menggigit pelan bibir bawahnya, ia tidak ingi Seokjin meledak sekarang dan membuat semuanya menjadi kacau. Dan yang terpenting dia tidak ingin Seokjin mengatakan semuanya, cerita dibalik pernikahan.

Jungkook menahan napas mendengar pertanyaan Seokjin, ia berharap ibunya tidak menjawab salah dan menghancurkan semua rencananya yang sudah berjalan sejauh ini.

"Jungkook, Taehyung, sepertinya kalian sedikit bosan dengan obrolan di sini. Bagaimana jika kalian berjalan-jalan ke taman."

Jungkook melempar tatapan berterimakasih kepada sang Kakek. "Biar aku tangani ayah dan ibumu, kalian pasti menikah." Bisik kakek kesayangan Jungkook pada sang cucu.

"Taehyung ayo." Ucap Jungkook langsung menggenggam dan menarik pergelangan tangan kiri Taehyung.

Taehyung menoleh ke belakang menatap semua orang yang berada di meja makan namun tarikan Jungkook benar-benar kuat, dan dia tidak memiliki pilihan lain kecuali menurut.

"Jungkook." Panggil Taehyung ketika tarikan Jungkook tak juga berhenti meski mereka sudah berada di taman belakang kediaman keluarga Jeon sekarang.

Sadar akan perbuatannya Jungkook melepas genggamannya dan menarik tangannya menjauh. "Maaf." Balas Jungkook.

"Sepertinya kau kesal, ada apa?"

"Aku tidak kesal hanya saja—obrolannya terlalu membosankan."

"Hmmm." Taehyung hanya menggumam membalas, berikutnya ia memperhatikan keadaan taman tempatnya berada sekarang.

Tidak ada pohon di taman yang cukup luas ini, tidak ada bunga, hanya hamparan rumput hijau dipangkas rapi. Di tengah taman terdapat air mancur berukuran sedang dengan patung Dewi air, gazebo dengan atap setengah lingkaran berada di sisi taman yang lain.

Satu-satunya bunga yang ada di sana hanya mawar rambat yang tumbuh menutupi dinding pembatas lingkungan rumah dengan lingkungan luar.

Mawar rambat dengan kelopak-kelopak bunga berwarna merah menarik perhatian Taehyung. Ia berjalan mendekati dinding, tangan kanannya terjulur untuk menyentuh salah satu kuntum mawar.

"Hati-hati dengan durinya!" peringat Jungkook.

"Aku tahu." Balas Taehyung acuh.

Taehyung mendekatkan ujung hidung mancungnya pada kuntum mawar, aroma manis dan harum dari mawar rambat tercium lebih kuat, dibanding mawar hias yang biasa ditanam di taman.

Jungkook melangkah mendekati Taehyung, lantas berdiri di belakang tubuh Taehyung. "Kakek bilang mawar itu masih mawar dengan garis keturunan murni, mahkotanya tidak sebanyak mawar hasil silang, warnanya juga tidak begitu menarik, tapi aromanya kuat."

"Hmm." Taehyung hanya menggumam kemudian dengan hati-hati dia memetik salah satu kuntum mawar dan membawanya mendekati Jungkook.

"Jika Kakek tahu kau pasti akan mendapat nasihat gratis darinya." Ancam Jungkook dengan memasang wajah menyeramkan yang menurut Taehyung justru terlihat lucu.

"Cocok." Ucap Taehyung kemudian tersenyum puas. Jungkook tercengang karena Taehyung tiba-tiba menyelipkan kuntum mawar pada telinga kanannya. "Kau terlihat cocok dengan bunga itu Jungkook." Tegas Taehyung.

Jungkook menggeleng cepat, ia menarik lepas kuntum bunga dari telinga kanannya membuat Taehyung menampilkan ekspresi kesal dengan bibir mengerucut. Tangan kanan Jungkook bergerak menyelipkan kuntum bunga di tangannya pada telinga kiri Taehyung. "Sekarang baru cocok." Ucap Jungkook kemudian tersenyum lebar.

"Jungkook…," keluh Taehyung dengan tangan kiri yang bergerak pelan bermaksud melepas kuntum bunga dari telinganya. Namun, Jungkook menahan pergerakan tangan Taehyung membuat Taehyung menatap kedua mata Jungkook langsung karena tak mengerti dengan maksud Jungkook.

Jungkook sedikit menundukkan wajahnya, mendekati wajah Taehyung. Dan waktu seolah berhenti ketika Jungkook mengecup lembut permukaan bibir Taehyung. Taehyung memejamkan kedua matanya, ia tidak tahu, mengapa Jungkook membuatnya seolah lumpuh. Jungkook membuat perasaannya meletup-letup aneh seperti seseorang yang baru saja menemukan cinta pertamanya.

Tidak ada lumatan-lumatan, hanya kecupan singkat nan lembut pada permukaan bibir Taehyung untuk kemudian Jungkook menarik tubuhnya menjauh, menatap kedua mata bulat Taehyung dalam.

"Aku mencintaimu." Bisik Jungkook. "Kau tidak perlu menjawabnya sekarang," bisik Jungkook. Taehyung mengangguk pelan, Jungkook tersenyum lantas mendekap tubuh Taehyung memeluk Taehyung erat dan lembut secara bersamaan.

Jungkook mengecup puncak kepala Taehyung yang bersandar pada dada bidangnya, kedua tangannya mengusap pelan punggung Taehyung. Dadanya terasa sesak dan penuh oleh semua rasa cintanya untuk seorang Kim Taehyung.

Mungkin, sudah tak terhitung lagi berapa orang yang pernah menjadi pasangan seorang Jeon Jungkook. Namun mereka tidak pernah membuat Jungkook berpikir tentang rumah, tentang seseorang yang akan menemaninya seumur hidup, berpikir tentang masa depan, dan berpikir tentang anak-anak.

Jika Taehyung memikirkan hal yang sama, semua pasti sempurna. Sayangnya, Jungkook sadar ia harus sedikit bersabar untuk membuktikan kepada Taehyung jika dirinya adalah orang yang pantas untuk menemani Taehyung sepanjang sisa kehidupan ini

TBC

Halo semua terimakasih sudah membaca cerita ini dan masih mengikuti cerita ini sampai chapter dua belas seperti sekarang. Terimakasih review kalian yoongiena, ranran, pxxjm0809, taennie, funf, VampireDPS, Park Rinhyun Uchiha, Linkz account, GaemGyu92, vivikim406, bangtaninmylove, broke lukas, dhantieee, Kyunie, Hastin99, Viyomi, Kim Jongin Kai, AprilKimVTae, athensvt, wenjun. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.