BE MINE
BTS fanfiction
KookV
Rating: T-M
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Cast: All BTS member
Previous
Dadanya terasa sesak dan penuh oleh semua rasa cintanya untuk seorang Kim Taehyung.
Mungkin, sudah tak terhitung lagi berapa orang yang pernah menjadi pasangan seorang Jeon Jungkook. Namun mereka tidak pernah membuat Jungkook berpikir tentang rumah, tentang seseorang yang akan menemaninya seumur hidup, berpikir tentang masa depan, dan berpikir tentang anak-anak.
Jika Taehyung memikirkan hal yang sama, semua pasti sempurna. Sayangnya, Jungkook sadar ia harus sedikit bersabar untuk membuktikan kepada Taehyung jika dirinya adalah orang yang pantas untuk menemani Taehyung sepanjang sisa kehidupan ini
BAB TIGA BELAS
Jungkook menempelkan dahinya pada dahi Taehyung, menatap kedua mata bulat Taehyung yang bening. "Kau tahu Kim Taehyung."
"Apa?"
"Saat pertama melihatmu di pesta itu, ya meski aku kurang ajar, aku memiliki firasat jika kita akan memiliki hubungan istimewa."
Taehyung tersenyum. "Kau terdengar menakutkan sekarang."
"Aku tidak bohong. Bagaimana denganmu?"
Taehyung menatap ke bawah menghindari tatapan Jungkook. "Aku tidak memikirkan apa-apa saat itu, kecuali aku ingin kau segera pergi dari hadapanku."
Jungkook menarik tubuhnya kemudian tersenyum. "Sekarang bagaimana?"
"Apa?!" Taehyung terperanjat dengan pertanyaan Jungkook.
"Apa sekarang kau menginginkan aku pergi?"
"Hmmm…," Taehyung bergumam. "Kurasa tidak." Balasnya kemudian tersenyum lebar, senyuman berbentuk kotak yang unik dan memesona.
"Kim Taehyung kau sangat menggemaskan."
"Tidak, aku tidak menggemaskan." Protes Taehyung sambil menarik tubuhnya ke belakang. Jungkook hanya tertawa sambil mencubit pelan ujung hidung mancung Taehyung.
"Lepas!" Taehyung berteriak sambil menarik tangan Jungkook menjauh, semantara Taehyung merengut kesal Jungkook justru tertawa keras dan menyebalkan.
Taehyung menatap Jungkook, raut mukanya berubah serius. "Jika keadaan di meja makan sangat buruk, bagaimana?"
"Semua akan baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana kita." Balas Jungkook.
Taehyung membuka bibirnya namun ia urungkan niatnya untuk berbicara. Dia ingin berkata mungkin keluarga mereka memiliki solusi yag lebih baik, tanpa melibatkan pernikahan. Lagipula sekarang berita-berita buruk tentang Yoongi menghilang entah kemana. Taehyung masih ragu, namun jauh di dalam lubuk hatinya dia mulai menginginkan pernikahan ini, meski ia tak mengatakannya keras-keras.
"Kim Taehyung!" panggilan itu menarik perhatian keduanya, Taehyung menoleh ke belakang melihat kakak dan kakak iparnya. Namjoon terlihat santai tapi tidak dengan Seokjin. "Makan malam selesai, kita pulang sekarang."
Taehyung mengangguk gugup, ia lantas meluruskan pandangannya menatap kedua mata Jungkook untuk beberapa detik, sebelum memutar tubuhnya dan berjalan menghampiri Seokjin dan Namjoon. Seokjin memutar tubuhnya ia tak menatap Jungkook sama sekali. Namjoon juga menampakkan ekspresi datar, Jungkook menelan ludah kasar terlalu takut untuk membayangkan apa yang terjadi di dalam.
Jungkook menunggu hingga seluruh anggota keluarga Kim meninggalkan taman belakang kediaman keluarganya. Menarik napas dalam, menepis semua pikiran-pikiran buruk yang berputar liar di dalam kepalanya, Jungkookpun memutuskan untuk kembali ke dalam rumah. Langkah kaki Jungkook menggema ketika menjejak lantai lorong yang tak dilapisi karpet.
"Jungkook."
"Ibu."
Nyonya Jeon tersenyum lembut. "Wajahmu tegang sekali, ayahmu sedang berbincang dengan kakekmu di ruang keluarga."
"Hmm." Jungkook hanya menggumam.
Nyonya Jeon mendekati sang putra menepuk pelan pundak kanan Jungkook kemudian tersenyum lembut. "Jangan cemas, Ayah dan Ibu tidak masalah kau menikah dengan siapapun asal kau bahagia."
"Tapi Ibu terlihat keberatan tadi?"
"Karena keputusanmu terlalu mengejutkan, Ibu pikir kau akan menikah setidaknya sepuluh tahun lagi atau mungkin lebih."
Jungkook tertawa pelan mendengar penuturan sang ibu. Nyonya Jeon menarik napas dalam, kemudian kedua matanya nampak menerawang. "Apa kata-kataku di meja makan terdengar menyinggung? Seokjin terlihat tidak suka dengan apa yang aku katakan."
"Entahlah," balas Jungkook. "Aku tidak pandai menilai. Tapi itu wajar dilakukan seorang kakak pada adiknya, Seokjin yang membesarkan Taehyung, maksudku secara teknis mereka tumbuh bersama. Nyonya Kim meninggal dan ayah mereka menemukan orang lain untuk memulai kehidupan baru."
"Ibu bisa memahami bagian itu, itu wajar jika Seokjin melindungi Taehyung. Tapi semuanya baik-baik saja jangan cemas, semua sudah diselesaikan di meja makan."
"Tapi—aku melihat raut wajah Seokjin tak begitu baik tadi." Jungkook menatap sang ibu dengan cemas.
"Seseorang butuh waktu untuk meredam amarah dan menurunkan emosi, Ibu ingatkan jangan lupa menyematkan panggilan Hyung di belakang nama Seokjin dan Namjoon. Kurangi sikap tak sopanmu." Goda nyonya Jeon membuat putranya tertawa pelan.
.
.
.
Taehyung duduk dengan tenang di kursi penumpang belakang, merapatkan kedua kakinya, dengan kedua tangan berada di atas pangkuan. Duduk tegap, seperti seorang bangsawan. Sesekali ia melirik spion mencoba melihat ekspresi wajah Seokjin, ia ingin mengatakan sesuatu, mungkin sekedar lelucon murahan.
Namun, ekspresi wajah kakaknya terlalu menakutkan. Taehyung yakin jika pelawak paling terkenal di Negara ini akan diusir Seokjin jika dia beraksi di depannya sekarang. "Kau akan tetap menikah dengan Jungkook?"
Suara Seokjin tajam, menyayat kesunyian dengan cara menyakitkan. Taehyung terperanjat, untuk beberapa detik seolah otaknya lumpuh. "Kau akan menikahi Jungkook?" tuntut Seokjin.
"Ya—ya." Balas Taehyung terbata.
"Jika pernikahan kalian hanya untuk menolong Yoongi, kalian sudah berhasil sekarang. Isu teralihkan kau tidak usah menikah dengan Jungkook."
"Tidak perlu menikahi Jungkook?" Taehyung bertanya dengan suara lirih, yang membuat dirinya sendiri tak yakin sudah menjawab.
"Ya, kau tidak perlu menikahi Jungkook." Tegas Seokjin.
Taehyung menoleh ke kiri, mengamati trotoar yang mereka lewati, deretan pertokoan, lalu-lintas, para pejalan kaki, pepohonan, dan semua yang tertangkap oleh penglihatannya. Lalu, dia mulai memikirkan Jungkook. Memikirkan tatapan Jungkook, senyum Jungkook, mengingat suara Jungkook, dan ciuman Jungkook.
"Kurasa—kurasa aku jatuh cinta pada Jeon Jungkook."
"Apa?!" teriak Seokjin, mengagetkan Namjoon namun tidak untuk Taehyung yang masih bergulat dengan pemikiran tentang Jungkook. "Sudah aku duga! Baiklah tidak ada pilihan lain, aku akan mulai memikirkan persiapan pernikahan kalian, dan membuat daftar tamu, pekerjaanku akan bertambah." Gerutu Seokjin.
Namjoon menghembuskan napas lega, ia tidak tahu jika dirinya sudah menahan napas. Ia tersenyum, semuanya berjalan dengan baik malam ini meski diselingi sedikit perang mulut antara Nyonya Jeon dan Seokjin, terimakasih untuk Kakek Jungkook.
.
.
.
"Yoongi hyung….," rengek Taehyung.
"Diam!" bentak Yoongi masih menarik tangan kanan Taehyung untuk mengikuti langkah kakinya.
"Aku tidak mau menjadi penunggumu, sementara kau berbicara panjang lebar dengan Park jelek itu!" dengus Taehyung.
"Dia tidak jelek," bela Yoongi. "Ya meski ku akui kau lebih tinggi darinya, tapi dia tidak jelek."
"Ya, ya, ya." Malas Taehyung. "Tentu saja dia tidak jelek, jika dia jelek dalam arti sesungguhnya kau tidak akan mau."
"Tentu saja aku harus mencari kekasih yang jauh lebih tampan dari Kuda itu."
"Kuda?" Taehyung menoleh menatap Yoongi bingung. "Siapa yang kau maksud dengan Kuda?"
"Lupakan!" dengus Yoongi, tak peduli dengan kebingungan Taehyung.
"Hyung kita menarik seluruh perhatian karyawan di agensi keluarga Jeon." Bisik Taehyung sambil memeriksa keadaan sekitar, melempar senyum canggung kepada semua orang.
"Aku tidak peduli." Balas Yoongi malas.
Tubuh Taehyung menegang kala mereka berpapasan dengan Hoseok, Taehyung sudah memikirkan banyak hal. Namun, tak terjadi apapun karena Yoongi berjalan tanpa beban meski Hoseok terang-terangan memperhatikan.
"Yoongi hyung!" Hoseok memanggil.
Taehyung melirik Yoongi cemas, ia bisa melihat rahang Yoongi mengeras. Yoongi menoleh ke belakang, tangan kanan terangkat, dia mengacungkan jari tengah kemudian kembali berjalan, menyeret Taehyung bersamanya. Menoleh ke belakang, Taehyung melihat wajah terkejut Hoseok juga beberapa orang yang melihat kejadian tadi.
Yoongi menyeret Taehyung pergi ke ruangan Jungkook. Yoongi mendorong pintu ruang kerja Jungkook tidak sopan. Di dalam ada Jungkook tentu saja, dan Jimin. Mereka duduk berhadapan dan terlihat sedang membicarakan sesuatu.
"Hai." Taehyung menyapa Jungkook canggung. "Ah!" pekik Taehyung ketika Yoongi mendorong punggungnya lumayan keras, membuat tubuhnya terhuyung ke depan meski tak sampai terjatuh.
"Ikut aku Jimin." Yoongi berucap datar, Jimin berdiri dari kursi dan mengikuti langkah kaki Yoongi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Brakk!
Daun pintu ruangan Jungkook terbanting, Taehyung mengernyit mendengar suara keras yang tercipta. "Ehmm…, maaf untuk itu." Taehyung melempar senyum di akhir kalimat. Jungkook hanya mengangguk pelan, nampaknya dia juga terkejut dengan sikap Yoongi. "Yoongi hyung menyeretku ke sini karena dia bilang merindukan Jimin, lalu kami berpapasan dengan Hoseok hyung dan suasana hati Yoongi hyung berubah buruk."
Jungkook menjilat cepat bibir bawahnya, ia lantas berdiri dan melangkah mendekati Taehyung. "Kuharap kalian tidak membenciku karena Hoseok masih berada di agensi keluargaku."
Taehyung menggeleng cepat. "Masalah pribadi tidak boleh dicampur dengan urusan pekerjaan. Hoseok penting untuk agensimu."
Jungkook mengernyit, merasa jengkel dengan kenyataan yang Taehyung ucapkan. "Karena kau sudah ada di sini? Apa yang ingin kau lakukan bersamaku?" tanya Jungkook tidak ingin membuat keadaan semakin canggung karena topik tentang Hoseok.
"Hal yang ingin aku lakukan bersamamu?" Taehyung menelengkan kepalanya ke kiri, bingung dengan pertanyaan Jungkook.
"Ya—ya." Jungkook terbata tangan kanannya menggaruk tengkuknya ragu-ragu, sekali lagi dia bersikap bodoh di depan Taehyung.
Taehyung mengendikan kedua bahunya. "Entahlah, semalam kita sudah bertemu."
Menurunkan tangannya, Jungkook melempar tatapan kecewa. "Jadi kau tidak ingin bertemu denganku? Kau datang hanya karena Yoongi menyeretmu?"
"Hyung." Koreksi Taehyung pada kalimat panggilan Yoongi yang Jungkook ucapkan. "Secara teknis ya, aku datang karena Yoongi hyung menyeretku. Aku sedang di studio lalu Yoongi hyung masuk dan memaksaku pergi."
"Kau bisa pergi jika masih banyak pekerjaan yang harus kau bereskan, aku janji akan memberikan alasan yang masuk akal pada Yoongi—hyung." Ucap Jungkook menyematkan panggilan Hyung di belakang nama Yoongi dengan ragu.
"Tidak, aku tidak akan selamat dengan alasan apapun. Yoongi hyung akan membuat perhitungan denganku jika aku pergi tanpa sepengetahuannya."
"Berarti kau tidak memiliki pilihan lain kecuali tetap tingggal." Ucap Jungkook dengan sikap angkuh, kedua tangan terlipat di depan dada, dan dagu terangkat.
"Tidak ada pilihan," gumam Taehyung dengan tatapan malas. "Dan pasti akan sangat lama."
Jungkook memutar tubuhnya berpura-pura tak peduli, ia berjalan menuju kursi kerjanya di belakang meja kayu Mahogani. Menekuni dokumen. Taehyung masih berdiri di tempat semula, memperhatikan kesibukan Jungkook, mengerutkan dahi merasa seperti orang bodoh sekarang.
Taehyung mulai memperhatikan ruang kerja Jungkook, tidak ada yang menarik baginya. Kecuali sofa panjang berwarna hitam di sisi kanan meja kerja Jungkook. Maka, ia putuskan untuk pergi menghampiri sofa hitam itu dan duduk di sana. Mengeluarkan ponsel, Taehyung mulai memikirkan sesuatu yang bisa mengusir kebosanan dan mengisi waktunya.
Mencoba peruntungan, Taehyung mengirim pesan lewat Line kepada Seokjin, namun hingga nyaris dua menit berlalu Seokjin tak juga membaca pesannya. Seokjin tidak ada di ruang kerjanya sejak pagi, dan Taehyung tidak tahu dimana kakaknya berada. Bahkan Namjoon juga bungkam soal keberadaan Seokjin.
Taehyung menghembuskan napas bosan, ia mencampakan ponselnya ke atas meja kaca di depannya, kemudian melepas kedua sepatunya, dan memutuskan untuk berbaring. Ia tak sadar dengan rasa lelahnya hingga punggungnya menyentuh bantalan sofa yang empuk dan nyaman. Berbaring miring menghadap Jungkook, Taehyung tak sadar jika dirinya mulai memperhatikan sisi kanan wajah Jungkook.
Raut wajah serius Jungkook dan hidung mancung Jungkook, adalah dua hal utama yang menjadi perhatian Taehyung membuatnya tanpa sadar tersenyum.
.
.
.
Jungkook menghentikan kesibukan, curiga dengan ketenangan yang tercipta di dalam ruangannya. Menoleh ke kanan dan dia mengetahui alasannya, Taehyung tertidur di atas sofa. Setelah beberapa detik diam memperhatikan, Jungkook tidak bisa menahan diri lagi untuk mendekati Taehyung.
Taehyung benar-benar tak terganggu dengan kedatangannya. Memperhatikan wajah Taehyung seksama, Jungkook melihat warna merah pada rambut Taehyung mulai kusam. "Jangan mewarnai rambutmu," Jungkook bergumam pelan kemudian berdiri dan mengambil jasnya pada gantungan.
Perlahan ia menyelimuti tubuh bagian atas Taehyung dengan jas abu-abunya. Jungkook juga menaikkan suhu penghangat ruangan, memastikan Taehyung nyaman. Jungkook menyingkirkan helain rambut Taehyung yang menutup sebagian dahi. Dia juga melihat punggung tangan kiri Taehyung yang tergores. "Ceroboh," gumam Jungkook.
Jungkook tidak pernah peduli pada luka-luka kecil di tubuhnya ketika dia menunggang kuda, atau berlatih Taekwondo, dan kotak obat kecil putih yang tertempel di dinding ruang kerjanya terlihat sangat menjengkelkan. Tapi detik ini, dia berterimakasih pada sang kakek yang sudah memasang kotak obat itu di tempatnya lengkap dengan isinya.
Membuka tutup kotak obat perlahan, Jungkook takut pintu mungil itu akan mengeluarkan derit yang mengganggu tidur Taehyung. Mengambil satu plester luka dari dalam kotak, Jungkook tertawa pelan melihat gambar plester luka di tangannya. Bermotif hati berwarna merah dengan latar belakang merah muda, ia bersyukur tak pernah memerlukan plester luka itu untuk dirinya sendiri.
Jungkook kembali mendekati Taehyung, berjongkok kemudian menempelkan plester luka di tangannya perlahan pada luka Taehyung. Ia perhatikan wajah Taehyung dengan seksama, lega ketika mendapati Taehyung masih terlelap. Jungkook menunduk untuk mengecup punggung tangan kiri Taehyung, tangan yang tertempel plester luka.
Karena ibunya selalu mencium luka Jungkook sewaktu kecil dan itu meringankan rasa sakit bahkan menyembuhkannya. Jungkook tersenyum lembut, dia memperhatikan wajah Taehyung selama beberapa detik. Berniat beranjak ketika ponsel Taehyung bergetar di atas meja.
Taehyung tak mengunci ponselnya dan Jungkook bisa membaca pesan Line yang masuk, karena Taehyung belum keluar dari aplikasi itu.
KimJin: Tae, kau pergi dengan Suga?
KimJin: Maaf baru membalas pesanmu sekarang
KimJin: Setelah kau kembali, kita bicarakan persiapan pernikahanmu
KimJin: Aku pergi untuk mempersiapkan semuanya
KimJin: Aku meminta Namjoon untuk tutup mulut
KimJin: Jangan cemas semua beres ditanganku
KimJin: Sampai nanti adikku tersayang….
Jungkook tidak bisa menahan senyumannya, suasana hatinya benar-benar sangat baik sekarang. Pada akhirnya dia memutuskan kembali ke belakang meja kerja, dan mulai meneliti semua dokumen membosankan yang tersisa. Setidaknya, semua dokumen laknat itu tak terlalu menyebalkan sekarang.
TBC
Halo semua terimakasih masih setia dengan cerita ini, kabar mengejutkan lagi Nam Taehyun WINNER out dan 2ne1 bubar suka K-pop kayanya makan ati mulu ahhhh, maaf malah curhat. Terimakasih review kalian VampireDPS, Vnda, ranran, adhakey2309, pxxjm0809, ORUL2, justcallmeBii, Rnye, yoongiena, Guest98, Kyunie, broke lukas, athenssvt, MinReri Kujyou, GaemGyu92, Anonym96, vivikim406, bangtaninmylove, Hastin99, ParkRinhyun Uchiha, sugarmin. Dan saya berusaha untuk menulis novel original mohon dukungannya ya kunjungi wattpad saya di YeniVita (jika bersedia) terimakasih sampai jumpa di chapter selanjutnya.
