BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Previous

Karena ibunya selalu mencium luka Jungkook sewaktu kecil dan itu meringankan rasa sakit bahkan menyembuhkannya. Jungkook tersenyum lembut, dia memperhatikan wajah Taehyung selama beberapa detik. Berniat beranjak ketika ponsel Taehyung bergetar di atas meja.

Taehyung tak mengunci ponselnya dan Jungkook bisa membaca pesan Line yang masuk, karena Taehyung belum keluar dari aplikasi itu.

KimJin: Tae, kau pergi dengan Suga?

KimJin: Maaf baru membalas pesanmu sekarang

KimJin: Setelah kau kembali, kita bicarakan persiapan pernikahanmu

KimJin: Aku pergi untuk mempersiapkan semuanya

KimJin: Aku meminta Namjoon untuk tutup mulut

KimJin: Jangan cemas semua beres ditanganku

KimJin: Sampai nanti adikku tersayang….

Jungkook tidak bisa menahan senyumannya, suasana hatinya benar-benar sangat baik sekarang. Pada akhirnya dia memutuskan kembali ke belakang meja kerja, dan mulai meneliti semua dokumen membosankan yang tersisa. Setidaknya, semua dokumen laknat itu tak terlalu menyebalkan sekarang.

BAB EMPAT BELAS

Taehyung membuka kedua matanya cepat, ia menyingkap jas Jungkook yang menutupi tubuhya, melihat kesekeliling, dan mendapati dirinya berada seorang diri di dalam ruang kerja Jungkook. "Kemana Jungkook? Apa Yoongi hyung belum selesai bicara dengan Jimin?" gumam Taehyung pelan.

Tangan kanannya bergerak mengambil ponsel di atas meja, memeriksanya dan langsung membaca semua pesan yang Jin kirimkan padanya. Tidak ingin membuat Seokjin cemas atau mungkin sudah panik sekarang, Taehyung memutuskan untuk menghubungi sang kakak.

"Taehyung!"

Taehyung hanya tersenyum menanggapi teriakan nyaring Seokjin. "Hai Hyung, apa kau cemas? Maaf aku baru bangun tidur."

"Dimana kau sekarang?!"

"Ruang kerja Jeon Jungkook, aku sendirian di sini. Entah dimana semua orang. Yoongi hyung menyeretku ke sini dan sekarang aku tidak tahu keberadaannya dimana." Taehyung menerangkan dengan nada menyedihkan.

"Apa yang kau lakukan bersama Jungkook, apa yang Jungkook lakukan padamu?!"

"Kami tidak melakukan apa-apa, aku tertidur di sofa dan ingatan terakhirku adalah—Jungkook masih sibuk di belakang meja kerjanya, saat aku bangun dia sudah menghilang."

"Jangan berbohong padaku Kim Taehyung." Peringat Seokjin.

"Apa aku pernah berbohong pada Seokjin hyung?"

Taehyung tak langsung mendapat jawaban, ia samar mendengar gumaman Seokjin di seberang sana. "Kurasa tidak. Kau sudah membaca pesanku?"

"Hmm."

"Pernikahan akan dilaksanakan setelah semua persiapan selesai, keluarga Jeon ingin melakukannya secepat mungkin."

"Terserahlah."

"Sampai jumpa nanti, usahakan pulang sebelum makan malam."

"Ya, Hyung."

Sambungan diakhiri Taehyung berniat untuk keluar dari ruangan Jungkook ketika ia mengamati sesuatu yang janggal. Ada plester luka tertempel pada punggung tangan kirinya. Plester luka dengan warna favorit sang kakak. Dahi Taehyung mengerut mencoba menerka siapa yang menempel plester luka di sana, atau mencoba mengingat mungkin dirinya sang pelaku.

"Tidak, aku tidak ingat menempel plester luka." Gumam Taehyung. "Bukan aku yang melakukannya."

"Kau sudah bangun?"

Taehyung mengangkat kepalanya cepat, menatap Jungkook yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. "Ya. Dimana Yoongi hyung?"

"Pergi dengan Jimin kurasa."

"Kenapa aku tidak diberitahu….," gerutu Taehyung. "Kurasa aku harus pergi sekarang."

"Yoongi memintamu menunggu, dia akan segera kembali."

"Yoongi hyung lebih tua darimu."

"Maaf, aku belum terbiasa." Taehyung tak membalas dia malas mengingatkan Jungkook. "Lapar?"

Taehyung belum sempat membalas ketika Jungkook mendudukan dirinya di sisi kanan tubuh Taehyung dan meletakkan satu buket ayam goreng di atas meja. Beserta dua kaleng kola.

"Yoongi benar-benar memintaku menunggu?" menoleh ke kanan menatap Jungkook.

"Tentu saja, untuk apa aku berbohong." Balas Jungkook meyakinkan Taehyung.

"Hmm." Gumam Taehyung sambil menganggukkan kepalanya pelan.

Jungkook melirik Taehyung memperhatikan rambut bagian depan Taehyung yang cukup panjang, Taehyung jelas terlihat tak nyaman namun sepertinya Taehyung juga termasuk orang yang acuh. "Ponimu panjang, apa itu tidak mengganggu?"

"Ah!" Taehyung tersentak pelan, Jungkook seolah mengingatkannya. Tangan kanan Taehyung bergerak pelan, ibu jari dan telunjuknya, menarik ujung rambut poninya. "Kau benar, padahal aku sudah berniat untuk memotongnya sejak dua hari kemarin tapi belum terlaksana hingga detik ini."

"Kemari."

"Apa?" heran Taehyung ketika Jungkook menarik lengan kanannya, membuat mereka berhadapan. Sambil tersenyum Jungkook mengikat poni Taehyung ke atas. "Apa yang kau lakukan?"

"Membuatmu lebih nyaman."

"Jangan ditarik!" protes Taehyung.

"Maaf….," balas Taehyung dengan suara pelan kemudian tersenyum lebar. Melihat hasil kerjanya.

Kedua tangan Taehyung terangkat menutupi dahinya. "Kau membuat dahi lebarku terlihat." Gerutunya.

"Tidak, dahimu tidak lebar."

"Benarkah? Kau pasti bohong, Seokjin hyung, Namjoon hyung, dan Yoongi hyung, mereka selalu mengatakan jika dahiku bisa jadi landasan pesawat terbang. Ah Yoongi hyung lebih parah, Yoongi hyung bilang kedua telingaku bisa jadi kipas di musim panas." Taehyung mengerucutkan bibirnya.

"Menurutku semuanya baik-baik saja, dahimu dan telingamu. Semuanya baik-baik saja."

"Ahhh…, terimakasih." Balas Taehyung terbata, biasanya semua orang menanggapi candaannya dengan kalimat konyol. Bukan tanggapan serius seperti yang Jungkook lakukan sekarang.

"Aku tidak sengaja membaca pesan dari Seokjin hyung untukmu. Tentang persiapan pernikahan."

"Hmm itu—Seokjin hyung bilang lebih cepat lebih baik, keluargamu yang memintanya."

"Kau tidak suka?"

"Tidak! Ah maaf—maksudku bukan seperti itu—aku hanya terkejut semuanya benar-benar diluar dugaan."

"Aku bisa berbicara pada semua orang dan meminta mereka memundurkan pernikahan, atau mungkin membatalkannya."

Taehyung menatap Jungkook tidak percaya, kedua bola matanya membulat sempurna. "Membatalkan?"

"Ya, membatalkan. Semua berita buruk tentang Yoongi hyung sudah hilang tertelan bumi, kau tidak perlu melakukan pernikahan yang tidak kau inginkan."

Taehyung tidak tahu harus mengatakan apa, sementara tatapan Jungkook terlihat tidak sedang bercanda. Menggigiti pipi bagian dalamnya, Taehyung mencoba mengumpulkan keberanian. Sekarang atau dia akan kehilangan semuanya.

Perlahan tangan tangan kanan Taehyung bergerak, meraih telapak tangan kanan Jungkook. Menggenggamnya lembut. "Aku—aku menginginkannya. Aku mencintaimu." Bisik Taehyung.

Jungkook terperanjat ia tak percaya dengan kalimat yang ia dengar sekarang. Kalimat yang selama ini hanya hadir di dalam mimpinya. "A—apa?" terbata Jungkook bertanya.

Menarik napas dalam, Taehyung benci mengulang. Ia berpikir jika Jungkook tak jelas mendengar suaranya yang mungkin terlalu lemah. "Aku menginginkan pernikahan itu karena aku mencintaimu." Ucap Taehyung tanpa jeda, ia terengah di akhir kalimat.

Jungkook membisu karena dia masih mencerna setiap kata yang Taehyung ucapkan. Namun, Taehyung salah mengartikan, ia mengira Jungkook menolaknya. "Maaf." Taehyung melepaskan tangan Jungkook dari genggamannya. "Aku pergi sekarang."

Ketika Taehyung mulai beranjak ia dikejutkan dengan tarikan lembut Jungkook pada lengan kanannya. Keduanya saling menatap. "Terimakasih." Bisik Jungkook. Taehyung hanya mengangguk pelan, ia sebetulnya tidak terlalu paham untuk apa Jungkook berterimakasih padanya.

"Terimakasih sudah membalas perasaanku, terimakasih sudah menerima kehadiranku dalam hidupmu." Terang Jungkook seolah ia bisa mendengar semua suara di dalam kepala Taehyung.

"Ya." Taehyung menggumam lembut.

Jungkook menatap kedua mata bulat Taehyung dalam dan lembut. Tangan kanannya terangkat, menarik ujung dagu lancip Taehyung. Mendekatkan wajah mereka, Taehyung memejamkan kedua matanya ketika permukaan lembut bibir Jungkook menyapanya menghapus jarak.

Tangan kanan Jungkook bergerak lembut menyentuh garis wajah Taehyung, memperdalam ciuman mereka. Kedua tangan Taehyung melingkari punggung tegap Jungkook.

.

.

.

"Sudah lega?" Jimin bertanya sambil menatap kedua mata sipit Yoongi. Mereka berada di atap gedung, Yoongi menumpahkan semua kekesalannya terhadap Hoseok kepada Jimin.

Mengatakan jika dia ingin menghajar Hoseok, menenggelamkannya, mencincangnya, juga rencananya untuk meminta bagian royaltinya dari lagu baru Hoseok. Secara teknis mereka menulis lagu itu bersama. Dan Jimin seperti biasa, dia akan diam, mendengarkan semua keluh kesah Yoongi, mendengar semua amarah Yoongi, tanpa niatan untuk menyela.

"Ya." Yoongi membalas singkat.

Jimin tersenyum tulus, kedua matanya tertarik ke samping membentuk lengkungan yang indah bagi siapapun yang menatapnya. Jimin menarik lembut lengan kiri Yoongi, mendekatkan tubuh mereka. Merengkuh tubuh kurus Yoongi, memeluk Yoongi erat.

Yoongi menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher kanan Jimin, menghirup aroma parfum Jimin yang tercium manis. Memejamkan kedua matanya, Yoongi merasakan kedua lengan Jimin melingkari punggungnya.

"Aku mencintaimu Yoongi." Jimin berbisik lembut pada telinga kiri Yoongi. Dan Jimin bisa merasakan senyuman menggelitik Yoongi pada ceruk lehernya.

Yoongi menarik tubuhnya, Jimin melonggarkan pelukannya. "Aku juga mencintaimu Jim." Balas Yoongi tulus.

Jimin mengangkat kedua tangannya, membingkai lembut wajah Yoongi. "Apapun yang kau rasakan, semua yang ingin kau katakan, berbagilah denganku. Apapun, semuanya Yoongi."

"Terimakasih Jim." Yoongi mengangkat kedua tangannya untuk menurunkan kedua tangan Jimin dari wajahnya. "Kurasa aku harus mengembalikan Taehyung pada Seokjin hyung, sebelum aku mendapat masalah." Ucap Yoongi dengan nada bercanda.

Jimin tertawa pelan, menggenggam erat telapak tangan kiri Yoongi kedua mata mereka saling bertemu. "Kita pergi ke ruangan Jungkook sekarang, tadi Jungkook berjanji membeli ayam goreng. Kuharap dia tidak ingkar."

.

.

.

Jungkook dan Taehyung berciuman, Jimin melongo sedangkan Yoongi….

"Kim Taehyung aku adukan kau pada Seokjin hyung. Kau ciuman sebelum pernikahan dilangsungkan!" Yoongi berteriak kencang.

Taehyung menarik tubuhnya menjauhi Jungkook. "Jangan Yoongi hyung!" teriaknya sambil berlari mengejar Yoongi.

"Tae…," Jungkook menggumam pelan, dia diabaikan begitu saja.

"Hubungan kalian ada kemajuan." Ucap Jimin kemudian nyengir lebar.

"Aku diacuhkan." Gerutu Jungkook.

"Kalian kan sudah berciuman!" Jimin memekik ceria kemudian melemparkan tubuhnya di sisi kiri tubuh Jungkook merangkul sang sahabat. "Taehyung sudah membalas perasaanmu."

"Darimana kau tahu?!" Jungkook memekik tak percaya.

"Itu sangat mudah dibaca, dan kita sudah bersahabat sangat lama." Balas Jimin penuh percaya diri.

Jungkook menatap Jimin kemudian tersenyum, Jimin menyipitkan kedua matanya. Menajamkan penglihatan. "Apa kau merona Jeon Jungkook?!" Pekik Jimin heboh.

"Kau!" dengus Jungkook sambil mendorong tubuh Jimin menjauh. "Sekarang pikirkan siapa yang akan menghabiskan semua ayam goreng ini?!" elak Jungkook sambil menunjuk buket ayam goreng di atas meja. Sementara Jimin masih belum bisa menghentikan tawanya yang meledak karena wajah Jungkook yang merona.

"Apapun yang terjadi aku harus duduk di deret paling depan di pernikahanmu." Kali ini ucapan Jimin terdengar serius.

"Tentu Jim." Balas Jungkook tanpa keraguan.

.

.

.

Hanya membutuhkan tiga hari persiapan pernikahan. Jungkook dan Taehyung tidak menginginkan pernikahan mewah, dengan banyak tamu undangan, dan semua wartawan. Mereka sepakat menggelar pernikahan sederhana di halaman belakang kediaman keluarga Jeon, itu salah alasan mengapa persiapan pernikahan begitu singkat.

"Jeon sialan Jungkook! Aku tidak menyangka kau akan menikah! Kau mendahului aku!" Jimin berteriak dramatis, Yoongi hanya memutar kedua bola matanya malas. Keduanya memasuki kamar Jungkook dengan berisik. Atau berisik untuk Jimin sedangkan Yoongi memilih bungkam dengan melempar tatapan malasnya pada sang kekasih.

"Cepat lamar Yoongi hyung, Chimchim bantet!" teriakkan Jungkook nyaris membuat Yoongi gelagapan, beruntung dia masih bisa menampakan wajah dingin tak pedulinya.

"Hei! Berat badanku ideal, dan ototku sudah sebanding denganmu, hentikan panggilan menjijikan itu. Aku tidak suka!" peringat Jimin.

Jungkook tersenyum miring, alis kirinya terangkat. Gesture menolak yang angkuh. "Tidak akan."

"Kau!" Jimin mendesis ia nyaris memukul dan mencekik Jungkook jika Yoongi tidak menghentikannya.

"Hentikan Jimin, Jungkook akan menikah jangan membuat jasnya kusut." Yoongi berucap datar, ya, cukup dengan kata-kata saja, Yoongi bisa menghentikan tindakan barbar Jimin.

"Ah maaf Yoongi hyung aku lupa."

"Seharusnya kau minta maaf padaku, pendek."

"Jeon sialan Jungkook, jika aku tidak ingat kau akan menikah hari ini. Aku akan mencekikmu." Desis Jimin.

Jungkook tersenyum menyebalkan. "Yoongi hyung Jimin hyung ingin mencekikku!"

"Jimin!" teriak Yoongi.

"Tidak, Yoongi hyung! Astaga! Kau jangan percaya pada bocah sial ini, percayalah padaku!"

"Rasakan kau Jimin pendek." Jungkook masih terus menggoda Jimin. Mencari jalan aman Jimin memilih untuk berdekatan dengan Yoongi dan mengabaikan semua ejekan menyebalkan dari Jungkook.

"Jungkook meski menyebalkan aku tetap berterimakasih padamu." Ucap Jimin kemudian tersenyum.

"Aku menikahi Taehyung bukan sepenuhnya untuk menolongmu saja." Balas Jungkook kemudian menjulurkan lidahnya.

"Astaga Jeon Jungkook!" geram Jimin, Yoongi hanya bisa diam sambil menahan tawa melihat tingkah kekanakan Jungkook dan Jimin.

.

.

.

Taehyung menyingkap tirai putih yang menutupi jendela, melihat ke arah taman belakang rumah kediaman keluarga Jeon. Pemberkatan dilakukan sederhana di taman belakang rumah keluarga Jeon, hanya kerabat dan sahabat yang diundang. Sederhana, dan hanya empat orang wartawan dari agensi Jeon dan agensi Kim yang ditunjuk untuk meliput.

"Akhirnya hari ini tiba juga Taehyung. Kau tidak bisa mundur lagi. Jika kau tidak tahan, setidaknya kau harus bertahan satu tahun."

Taehyung menoleh ke belakang melihat Seokjin dan Namjoon. "Setahun?"

"Ya, bertahan setahun. Jika kalian berpisah kau bisa menuntut nafkah dari Jungkook."

"Astaga Sayang!" gerutu Namjoon sambil mengusap wajahnya kasar. "Jangan dengarkan kakakmu, Taehyung. Kau dan Jungkook harus menikah selamanya."

Taehyung mengernyit mendengar kalimat Namjoon. "Ya—aku akan berusaha. Lagipula aku sudah menyatakan cintaku."

Seokjin tersenyum mendengar jawaban sang adik. "Kuharap pilihanmu tepat."

"Aku tidak percaya kami akan menikah, pertemuan kami benar-benar tidak romantis, dan pernikahan ini awalnya untuk menolong seseorang."

"Siapa yang menyangka?" balas Seokjin, tersenyum kemudian melangkah mendekati sang adik merapikan kerah kemeja Taehyung. "Semoga kau bahagia." Bisik Seokjin sebelum memeluk erat Taehyung.

"Apa kami akan tinggal bersama?"

"Tentu saja."

"Hmmm, lalu apa kami harus tidur bersama?" Taehyung menatap wajah Seokjin bimbang. Seokjin dan Namjoon hanya bisa tertawa canggung mendengar pertanyaan polos Taehyung.

.

.

.

"Berdirilah dengan tegak…," bisik Jimin pada telinga sang sahabat. Jungkook terus saja bergerak gelisah, dan Jimin mulai jengkel melihatnya.

"Jim apa aku tampan?"

"Tidak."

"Jim katakan dengan jujur."

"Menurutku kau tidak tampan, tapi menurut pandangan orang-orang kau tampan. Aku mendengar bisik-bisik pujian untukmu tadi."

"Itu melegakan…," gumam Jungkook.

Ada banyak suara berisik di dalam kepala Jungkook, suara yang menyatakan tentang semua kecemasan dan ketakutannya. Namun, suara itu lenyap seketika, ketika dia melihat Taehyung, berjalan mendekat, ke arahnya sambil memeluk lengan kanan kakaknya Kim Seokjin. Semuanya tidak penting lagi, Jungkook tersihir oleh pesona Kim Taehyung.

Ketika mereka pada akhirnya berhadapan, Jungkook nyaris menangis tidak percaya dengan semua hal baik yang terjadi detik ini. Jungkook hanya menatap kedua mata bulat Taehyung, dan dia mengucapkan sumpah ketika seseorang menepuk punggungnya. Park Jimin mengembalikan kewarasannya. "Taehyung aku menerima semua yang ada di dalam dirimu, kekurangan dan kelebihanmu, bersamamu dalam suka duka, sehat dan sakit, dalam kelimpahan dan kekurangan."

Taehyung menatap kedua bola mata Jungkook. "Saya bersedia."

Jungkook tersenyum puas setelah cincin selesai disematkan, ia mencondongkan tubuhnya membawa Taehyung dalam sebuah ciuman panjang, dan baru berakhir ketika Jimin memukul belakang kepalanya cukup keras. "Jim…," rengek Jungkook.

"Masih ada tamu!" dengus Jimin.

Jungkook tersenyum canggung menatap Taehyung, ia lantas meraih tangan kanan Taehyung menggenggamnya erat, menatap cincin indah yang melingkari jari manis Taehyung. Semua orang bertepuk tangan dengan keras disertai siulan, kelopak-kelopak mawar putih dan merah dilempar ke atas kemudian menghujani keduanya. "Kita sudah menikah," Jungkook menggumam pelan.

"Ya." Taehyung membalas singkat kemudian tertawa melihat wajah lucu Jungkook sekarang.

TBC

Terimakasih masih mengikuti cerita ini, terimakasih review kalian maiolibel, Guest, MyraKookV, pxxjm0809, MinRei Kujyou, Yoongiena, Hastin99, ParkceyePark, GaemGyu92, bangtaninmylove, Linkz account, adhakey2309, vivikim406, broke lukas, Kyunie, Tikha Semuel RyeoLhyun, athensvt, Park Rinhyun Uchiha, wenjun, AprilKimVTae. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Teaser

IN BETWEEN

Apakah kematian adalah akhir? Atau sebuah awal yang baru?