BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Ada yang tanya teaser kemarin itu apa kelanjutan BE MINE atau cerita lain? Teaser kemarin yang In Beetwen cerita baru pengganti setelah BE MINE selesai.

Previous

Taehyung menatap kedua bola mata Jungkook. "Saya bersedia."

Jungkook tersenyum puas setelah cincin selesai disematkan, ia mencondongkan tubuhnya membawa Taehyung dalam sebuah ciuman panjang, dan baru berakhir ketika Jimin memukul belakang kepalanya cukup keras. "Jim…," rengek Jungkook.

"Masih ada tamu!" dengus Jimin.

Jungkook tersenyum canggung menatap Taehyung, ia lantas meraih tangan kanan Taehyung menggenggamnya erat, menatap cincin indah yang melingkari jari manis Taehyung. Semua orang bertepuk tangan dengan keras disertai siulan, kelopak-kelopak mawar putih dan merah dilempar ke atas kemudian menghujani keduanya. "Kita sudah menikah," Jungkook menggumam pelan.

"Ya." Taehyung membalas singkat kemudian tertawa melihat wajah lucu Jungkook sekarang.

BAB LIMA BELAS

Jungkook membasahi bibirnya cepat, menatap wajah Taehyung canggung. Mereka berada di apartemen Jungkook, sesaat setelah pemberkatan, tidak ada pesta tambahan. Dan semua orang terlalu sibuk untuk berlama-lama di pesta pernikahan keduanya. Jungkook dan Taehyung duduk berhadapan di meja makan dengan segelas jus jeruk di hadapan masing-masing.

Masih mengenakan jas dengan rapi, keduanya nampak canggung. "Kuharap kau tidak kecewa." Jungkook membuka suara pertama kali.

"Kecewa?" Taehyung menautkan alisnya.

"Tanpa pesta, semua orang terlalu sibuk untuk perayaan tambahan."

"Semuanya benar-benar mendadak, kau memutuskan agar kita tinggal bersama aku tidak sempat memindahkan barang-barangku." Keluh Taehyung.

"Apapun yang kau butuhkan kita bisa menggantinya nanti. Kita sudah menikah tidak mungkin tinggal terpisah."

"Ya." Taehyung membalas singkat.

"Kakakmu memberi kita tiket untuk bulan madu."

"Apa?! Kemana?! Kapan?!"

"Maladewa. Besok siang kita berangkat."

"Baiklah."

"Kau terlihat tidak senang?"

"Terlalu cepat, aku lelah. Apa kau tidak lelah?"

"Tidak, tapi jika kau ingin menundanya tak masalah. Kita bisa berangkat kapanpun yang kau inginkan."

Taehyung tak langsung menjawab ia terlihat berpikir. "Bulan depan aku akan sangat sibuk. Kurasa hanya bulan ini kesempatannya."

"Tidak perlu dipaksakan. Tapi…, apa kita tidak terlalu canggung sekarang?" Jungkook melirik Taehyung takut-takut.

"Mungkin…," balas Taehyung tak yakin. Tatapan keduanya bertemu kemudian keduanya tertawa bersamaan. "Astaga ini mulai menggelikan." Keluh Taehyung. Jungkook masih tertawa namun dia sempat menganggukkan kepalanya.

"Jadi…, sekarang apa?"

"Apa?" Taehyung tidak mengerti maksud pembicaraan Jungkook.

"Maksudku kita sudah resmi menikah sekarang, jadi—sekarang apa? Apa yang biasa dilakukan oleh pasangan yang sudah resmi menikah?"

"Me—memangnya apa?" Taehyung terbata nyaris tersedak membalas pertanyaan Jungkook dengan pertanyaan lain.

"Ehem." Jungkook berdeham untuk menjernihkan suara. Ia merasa gugup entah mengapa. "Maksudku pembagian tugas, kita sama-sama bekerja, mungkin aturan, atau kau—mungkin tidak menyukai aturan, hmm…, atau entahlah aku bingung harus memulai darimana." Jungkook berkata jujur, ia bingung harus mulai darimana. Di akhir kalimat Jungkook tersenyum polos menampakkan dua gigi kelinci depannya.

"Hmmm…," Taehyung bergumam jari-jari tangan kanannya mengetuk-ngetuk pelan meja makan. "Seokjin hyung selalu memasak untuk Namjoon hyung, Namjoon hyung selalu makan malam di rumah, dan mereka saling memberi kabar keberadaan masing-masing. Itu yang aku ketahui." Taehyung melempar tatapan putus asa kepada Jungkook.

"Kurasa kita bisa melakukan hal yang sama dengan mereka, tentu sebagai awal, setelah kita bisa beradaptasi kita bisa mengubahnya."

"Jadi kau akan memasak makanan untukku, kita akan selalu makan malam bersama dan memberi kabar keberadaan masing-masing."

"Ya." Jungkook mengangguk pelan. "Kecuali memasak, aku tidak bisa memasak."

"Aku juga."

"Mungkin kita bisa mengambil kelas memasak bersama?" tawar Jungkook.

"Kelas memasak…," ulang Taehyung ragu-ragu. "Aku tidak tertarik tapi tidak ada pilihan lain kan?"

"Kurasa tidak ada, kita tidak bisa terus mengandalkan makanan di luar atau layanan pesan antar."

"Kau benar, baiklah, kau urus semuanya. Aku ikut saja."

Jungkook menyungging senyum. "Kau ini jika tidak tertarik pada suatu hal kau benar-benar tidak mau tahu." Taehyung hanya mengangguk membenarkan pernyataan Jungkook. "Baiklah, aku akan mencari informasi."

Taehyung mulai mengamati keadaan apartemen Jungkook sedangkan Jungkook memilih untuk menunggu. "Kau tinggal sendiri?" perhatian Taehyung kembali tertuju kepada Jungkook.

"Dulu, sekarang ada kau."

"Oh." Taehyung membalas singkat, ia tidak ingin terlihat tersanjung di depan Jungkook. Mereka sudah menikah, seharusnya mereka bisa lebih dekat tapi Taehyung salah, sekarang semuanya terasa sangat canggung. "Sekarang terasa canggung." Taehyung memutuskan untuk menyuarakan isi hatinya.

"Kurasa karena sekarang status kita berubah, bukan sesuatu yang salah."

"Apa kita akan tetap seperti ini?"

"Tentu saja tidak."

Taehyung tersenyum simpul. "Tentu saja." Ulang Taehyung sebelum menghabiskan jus di dalam gelasnya.

Jungkook berdiri dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Taehyung. Mengulurkan tangan kanannya pada Taehyung. "Tur apartemen gratis." Ucapnya sembari tersenyum.

Taehyung tertawa kemudian menepuk pelan telapak tangan Jungkook. "Jangan sok romantis." Cibir Taehyung.

Jungkook memutar kedua bola matanya malas, ia berbalik kemudian mulai melangkah meninggalkan Taehyung. Taehyung menahan napas, ia takut jika Jungkook kesal. Rasanya sangat buruk bertengkar di hari pernikahan.

"Ayo, aku tidak menunggu peserta tur yang lambat." Peringat Jungkook.

Dan rasanya sungguh melegakan ketika Jungkook ternyata baik-baik saja, tidak merasa kesal atau kecewa. Taehyung mengikuti langkah kaki Jungkook.

"Ah!" Jungkook terkejut ketika Taehyung melompat naik ke punggungnya. Kedua tangan Jungkook bergerak cepat menahan lutut belakang Taehyung.

"Jadi bisa kita mulai turnya Tuan Jeon Jungkook?" kedua tangan Taehyung melingkari leher Jungkook sementara dagunya bertumpu pada bahu kiri Jungkook.

"Tentu." jawab Jungkook dengan nada ceria.

.

.

.

Taehyung melompat turun dari punggung Jungkook ketika mereka tiba di tujuan terakhir. "Kita akan tidur bersama?"

Jungkook terperanjat untuk beberapa detik. "Kita tidak harus tidur bersama jika kau tidak menginginkannya, ada kamar lain di apartemen ini."

Taehyung tersenyum tipis. "Aku yakin kau tidak akan bersikap seperti ini, pada mereka yang pernah kau kencani." Jungkook memilih bungkam, ia tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka selanjutnya. "Kenapa kau memperlakukan aku berbeda?"

"Karena kau berharga."

"Dan mereka semua? Teman-teman kencanmu di masa lalu?"

"Hanya hiburan." Taehyung mengerutkan kening. "Aku mencintaimu, aku memberimu pilihan untuk mundur sebelum pernikahan dilaksanakan. Tapi kau meyakinkan aku jika kau menginginkan pernikahan ini juga, sekarang kau mengatakan sesuatu yang membuatku bingung."

"Aku hanya ingin tahu."

"Tentang perasaanku?"

"Semuanya, termasuk masa lalumu."

"Aku tidak memiliki masa lalu yang baik, kau sudah tahu itu. Semua orang sudah tahu, memang apalagi yang ingin kau ketahui dariku?"

Taehyung mengendikan bahu. "Apapun yang ingin kau katakan padaku."

"Apapun?" Jungkook bertanya dengan dahi berkerut.

Taehyung mengangguk pelan ia mengambil dua langkah mendekati Jungkook. "Apapun yang ingin kau katakan padaku, karena aku juga sedang memikirkan sesuatu untuk aku katakan padamu."

"Tidak ada rahasia?"

Taehyung mengangguk pelan menjawab pertanyaan Jungkook. Taehyung mencondongkan tubuhnya kepada Jungkook, melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Jungkook. Memeluk Jungkook erat. Terkejut, namun Jungkook tak bisa menahan senyuman yang muncul menghiasi wajahnya, iapun membalas pelukan Taehyung lebih erat.

Mencium pelipis kanan Taehyung. "Jangan mewarnai rambutmu lagi." Bisik Jungkook.

"Kau tidak suka?"

"Warna rambut alamimu lebih indah." Jawab Jungkook. Taehyung tersenyum kemudian mengangguk pelan. "Aku mencintaimu Kim Taehyung, ah Jeon Taehyung."

"Kim." Tolak Taehyung.

Jungkook tertawa pelan, ia sudah menduga jika Taehyung akan menolak. "Baiklah Kim Taehyung. Tapi jika kita punya anak nanti bagaimana?"

"Itu terlalu cepat." Keluh Taehyung.

"Tidak ada salahnya merencanakan marga dari awal."

"Jeon dan Kim, tidak bisa semuanya Jeon tidak bisa semuanya Kim."

"Berarti kita harus punya lebih dari satu anak." Goda Jungkook.

"Aku serius!" pekik Taehyung masih berada di dalam pelukan Jungkook. "Mereka akan menjadi pewaris yang akan meneruskan perusahaan keluarga."

"Ya, kau benar juga." Gumam Jungkook. "Tidak mungkin perusahaan kita disatukan."

"Tidak akan seru tanpa persaingan."

"Tapi kita menikah." Keluh Jungkook.

"Itu tidak berubah."

Jungkook tertawa mendengar jawaban Taehyung, menarik tubuhnya dari Taehyung tanpa melepaskan pelukan mereka. Jungkook menatap kedua mata bulat Taehyung, menundukkan wajahnya kemudian mendaratkan ciuman pada bibir penuh Taehyung.

Begitu lembut, Jungkook terperangkap pada napsu dengan cepat. Memperdalam ciumannya, menahan tengkuk Taehyung dengan tangan kanan, mengunci pinggang Taehyung dengan tangan kiri. Melesakkan lidahnya lincah, menyusuri setiap inci kehangatan Taehyung. Ketika Taehyung mengerang pelan, Jungkook tidak tahu apa itu sebuah penolakan atau kepuasan.

Ia sudah melangkah terlalu jauh, tidak bisa dihentikan sekarang. Kedua kakinya bergerak melangkah, mendorong tubuh Taehyung mendekati kaki ranjang. Lalu mendorong tubuh itu hingga rebah ke atas ranjang tempat tidur. Bertumpu pada kedua lutunya, Jungkook memperhatikan wajah Taehyung lamat-lamat.

Jari-jemari kanan Jungkook menyusuri wajah nyaris sempurna Taehyung. Alis tebal Taehyung, tulang pipi, hidung mancungnya, bibir penuh, garis wajah tegas, dagu lancip. Leher jenjang, tulang selangka menonjol yang indah. Sesuatu yang ia bayangkan selama ini, kini begitu dekat dengannya, begitu nyata, dan menjadi miliknya.

Jungkook kembali menundukkan kepalanya, mendaratkan ciuman-ciuman lembut pada leher jenjang Taehyung. Merasakan pembuluh darah Taehyung berdenyut cepat di bawah kulit indahnya. Taehyung tidak memiliki kulit putih nyaris pucat seperti Yoongi, namun Jungkook menyukai warna kulit Taehyung. Baginya, semua yang ada pada Taehyung sempurna.

Mengigit pelan tulang selangka menonjol Taehyung, meninggalkan warna merah di sana. Ia bisa mendengar deru napas Taehyung yang berubah cepat. Kedua tangan Jungkook bergerak cepat melepaskan satu persatu kancing jas Taehyung, sementara Taehyung hanya diam menunggu, tak menolak perlakuan Jungkook.

Jungkook bisa merasakan suhu tubuhnya naik dengan cepat, semua tentang Taehyung begitu memabukan. Ketika semua kain telah terbebas dari tubuh Taehyung, Jungkook bisa melihat semuanya. Keindahan yang selama ini hanya berani ia bayangkan, menghiasi mimpi kotornya di malam hari, meninggalkannya dengan rasa haus tak tertahankan ketika matahari tiba. Semua berada di ujung jari-jemarinya.

Kedua kaki jenjang Taehyung membelit pinggang Jungkook, kesepuluh jari lentiknya menekan keras kedua lengan terbentuk Jungkook. Melumat bibir Taehyung beringas namun tetap lembut, keduanya menyerah pada insting liar, namun Jungkook masih menyisakan sedikit akal sehatnya untuk memperlakukan Taehyung dengan hormat.

Tubuh Taehyung menolaknya, Jungkook tersenyum. Ia tahu jika dirinyalah yang pertama. Memasuki dengan lembut, Jungkook merasakan cengkraman Taehyung pada kedua pundaknya menguat.

Dia bercinta dengan Taehyung. Kedua tangan Jungkook menekan lembut tulang panggul Taehyung. Semua miliknya, Taehyung miliknya sekarang, untuk disentuh dan dimasuki. Kedua alis Taehyung bertaut dan erangan tertahan cukup jelas terdengar kedua telinga Jungkook meski sedikit tercekat di tenggorakan. Bergerak perlahan, telunjuk kiri Jungkook bergerak menyentuh bibir bawah Taehyung yang terasa lembab.

"Enggghh….,Jungkook…," Taehyung memanggil nama Jungkook dengan nada putus asa.

Menundukkan wajahnya kembali Jungkook menjawab panggilan putus asa Taehyung dengan lumatan lembut pada bibirnya. Kedua tangan Jungkook menelusuri sisi kanan dan sisi kiri tulang rusuk Taehyung. Punggung Taehyung melengkung ke atas ketika Jungkook bergerak lebih cepat.

Kedua tangan Taehyung beralih dari pundak Jungkook menuju punggung tegap Jungkook, mengusap punggung itu putus asa. Sesekali membenamkan kuku-kuku pendeknya pada permukaan kulit punggung yang lembab. Kedua tangan Jungkook melingkari punggung Taehyung, membawa kedua tubuh mereka semakin dekat tak berjarak.

Kulit Taehyung beraroma seperti minyak mawar, mungkin kelopak mawar yang mengguyur mereka di pesta pernikahan, jawabannya. Membenamkan wajahnya pada perpotongan leher kanan Taehyung. Meredam teriakkan kenikmatan yang keluar, Jungkook mengeluarkan semuanya di dalam Taehyung tanpa sisa.

Keduanya saling pandang, terengah dengan butir-butir keringat yang muncul dengan cepat. Tangan kanan Taehyung terangkat, mengusap bulir keringat pada dahi Jungkook.

Jungkook mengajak Taehyung berbaring miring, memeluk perut rata Taehyung tanpa melepaskan penyatuan mereka. Mengecup lembut tengkuk Taehyung. "Kau lelah?" Jungkook bergumam, menarik selimut kusut untuk menutupi tubuh keduanya.

Taehyung mengangguk pelan. "Tidurlah." Sambung Jungkook sambil menautkan kedua tangannya pada pada jari jemari Taehyung.

"Tidak." Bisik Taehyung sembari meletakkan tangan kanannya ke atas punggung tangan Jungkook, yang berada di atas perut ratanya.

"Besok kita berangkat?"

"Hmmm…," Taehyung hanya menggumam kemudian dia teringat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya setuju untuk pergi ke Maladewa meski dia enggan. "Besok kita berangkat."

"Suaramu berubah antusias, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

"Menyembunyikan apa? Kita kan sudah berjanji tidak menyimpan rahasia satu sama lain."

Kedua alis Jungkook nyaris tertaut namun Taehyung tentu tidak bisa melihatnya. Punggung Taehyung bersandar pada dada bidang Jungkook. "Entahlah, aku hanya merasa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku."

"Jangan asal tebak." Gerutu Taehyung, namun, sebuah seringai tipis terbentuk di wajah Taehyung tanpa sepengetahuan Jungkook.

"Semoga kau tidak berbohong." Ucap Jungkook sembari menarik tubuh Taehyung lebih dekat, mengeratkan pelukan tangannya pada perut Taehyung.

"Aku tidak pernah berbohong."

"Benarkah?" Jungkook bertanya dengan nada menggoda.

"Aku tidak pernah berbohong!" kesal Taehyung. "Mungkin…,"

Kalimat terakhir Taehyung membuat Jungkook gemas. Jungkook menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Taehyung, membuat Taehyung tertawa pelan karena geli.

"Hentikan..," keluh Taehyung.

"Aku mencintaimu." Kali ini suara Jungkook terdengar serius. "Aku mencintaimu jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dariku."

"Ya." Balas Taehyung namun dengan sedikit suara tawa tertahan.

"Aku serius."

"Maaf tapi nada bicaramu justru membuatku ingin tertawa."

"Kim Taehyung." Jungkook menyebut nama lengkap Taehyung dengan nada rendah.

"Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu, tidak dengan sengaja."

Jungkook tersenyum tentu saja ada banyak hal yang tidak bisa dia kendalikan di dunia ini. Tapi dia tidak ingin memikirkan banyak hal sekarang, selama Taehyung berada di pelukannya.

TBC

Halo semua terimakasih masih setia dengan cerita ini. Terimakasih review kalian bangtaninmylove, MinReri Kujyou, kookvbabes, ranran, taennie, pxxjm0809, sanaa11, Linkz account, justcallmeBii, dwi kumalasari1412, CuteTaetae, yoongiena, ParkceyePark, adhakey2309, Anonym96, broke lukas, GaemGyu92, tiannunna, nadyawicahya4, wenjun, VampireDPS, Xingmandoo, Park RinHyun Uchiha, Tikha Semuel RyeoLhyun, Kyunie, athensvt, vivikim406, Rinchan MeanieVkook SvtBts, fujo keren. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.