BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Previous

"Aku mencintaimu." Kali ini suara Jungkook terdengar serius. "Aku mencintaimu jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dariku."

"Ya." Balas Taehyung namun dengan sedikit suara tawa tertahan.

"Aku serius."

"Maaf tapi nada bicaramu justru membuatku ingin tertawa."

"Kim Taehyung." Jungkook menyebut nama lengkap Taehyung dengan nada rendah.

"Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu, tidak dengan sengaja."

Jungkook tersenyum tentu saja ada banyak hal yang tidak bisa dia kendalikan di dunia ini. Tapi dia tidak ingin memikirkan banyak hal sekarang, selama Taehyung berada di pelukannya.

BAB ENAM BELAS

Taehyung ingin mengumpat. Benar, dia ingin mengumpat sekarang. Sepuluh jam lima puluh lima menit penerbangan dan mereka sampai di Maladewa saat hari gelap. "Sekarang kemana?"

"Penginapan." Balas Jungkook sambil menarik pergelangan tangan Taehyung. Satu koper besar dan satu ransel besar, semua dibawa Jungkook. Taehyung hanya membawa ransel ukuran sedang di punggungnya, meski begitu Taehyung masih nampak sangat lelah. "Ayo." Ucap Jungkook sambil menarik tangan Taehyung sekali lagi.

Kedua mata Taehyung yang tadi nyaris tertutup langsung terbuka setelah membaca papan besar, bertuliskan nama Jungkook yang dibawa seseorang. "Siapa dia? Bagaimana dia mengenalmu?"

"Petugas Resort. Ayo."

"Pelabuhan?" Taehyung bingung, ini pertama kali dia mengunjungi Taehyung.

"Iya pelabuhan, kita harus pergi ke ibukota Maladewa. Bandara dengan ibukota adalah pulau terpisah."

Taehyung tidak tahu harus bereaksi apa mendengar penjelasan Jungkook. Setelah penerbangan sepuluh jam lima puluh menit, sekarang ditambah naik kapal. Taehyung tidak tahu apa bisa kembali ke Korea dengan selamat. "Seharusnya aku memilih Jeju…," gerutu Taehyung.

"Kemarin bersemangat sekarang sudah ingin menyerah?" Jungkook bertanya dengan nada menggoda.

"Diam. Aku sudah lelah." Taehyung mendengus malas.

"Selamat datang di Maladewa." Seorang laki-laki berjas rapi hitam menyambut keduanya. Jungkook tersenyum ramah sedangkan Taehyung berharap mereka bisa cepat sampai, dan dia bisa tidur dengan nyenyak. "Saya Lee Joon."

"Korea?!" Taehyung langsung tertarik. Lee Joon tersenyum kemudian mengangguk pelan. Namun, ketertarikan Taehyung hanya berlangsung beberapa detik saja setelah itu dia kembali malas.

Keduanya berdiri di pelabuhan bersama kira-kira lima belas orang lainnya. Tak lama suara melengking kapal Ferry terdengar. Taehyung berniat melangkah mendekat, bergabung dengan kerumunan, namun Jungkook menahannya. "Kita tidak naik yang ini." Ucap Jungkook.

"Yang mana?!" Taehyung mulai kesal.

"Sebentar lagi, bersabarlah."

"Aku lelah." Keluh Taehyung sambil menarik tangannya lepas dari pegangan Jungkook. Ia langsung berjongkok di dekat kaki Jungkook.

"Taehyung sebentar lagi." Ucap Jungkook sambil mengusap pelan puncak kepala Taehyung.

Kerumunan memasuki kapal, Taehyung menatap takjub. Jika tidak sedang lelah dia pasti terpesona tapi sekarang tubuhnya benar-benar remuk. "Mereka yang naik Ferry itu harus berhenti di ibukota, lalu pindah kapal menuju pulau tujuan masing-masing. Kita tidak perlu berpindah kapal dan langsung menuju pulau tujuan."

"Terserah, bisakah dipercepat? Aku bisa tertidur kapan saja."

Selang lima menit yang bagi Taehyung seolah berubah menjadi lima jam,speed boat yang akan membawa mereka tiba. Taehyung menghembuskan napas kasar penuh kelegaan. Taehyung melompat masuk ke dalam speed boat terlebih dulu. Kemudian disusul Jungkook, koper dan tas sudah diurus oleh petugas.

Jungkook duduk di sisi kanan tubuh Taehyung. Speed boat mulai bergerak, Jungkook melingkarkan tangan kirinya pada punggung Taehyung. Sementara Taehyung bersandar pada bahu kiri Jungkook kemudian memejamkan kedua kelopak matanya.

Lima belas menit perjalanan, speed boat berhenti di ujung dermaga. "Taehyung kita sampai." Jungkook menggoyang pelan tubuh Taehyung.

Taehyung menggeliat pelan kemudian membuka kedua matanya. Penerangan tak sebanyak Seoul, Taehyung awalnya belum bisa menyesuaikan penglihatannya. "Gelap." Gumamnya. Kemudian dia tersenyum ketika melihat langit. "Bintangnya terang sekali di sini."

"Tentu saja. Ayo naik." Ajak Jungkook yang terlebih dahulu menaiki undakan ujung dermaga. Mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Taehyung naik.

Lee Joon menunggu di ujung dermaga bersama dua orang laki-laki lain yang membawa koper dan ransel. "Selamat Datang di Great Escape." Lee Joon menyambut ramah. Jungkook tersenyum ramah, Taehyung mulai mengamati keadaan sekitar.

Dengan cepat Taehyung menghitung bangunan di sisi kanan tubuhnya dari ujung satu ke ujung yang lain. Hanya ada empat bangunan. "Kami memiliki total empat puluh bangunan, setiap kompleks terdiri dari empat sampai lima bangunan. Di sini kami menjaga privasi tamu dengan sangat ketat. Dari satu kompleks menuju kompleks lain hanya bisa diakses menggunakan speed boat." Lee Joon menerangkan sambil melangkah pelan.

"Kau suka?" bisik Jungkook sambil meremas pelan telapak tangan kanan Taehyung.

"Sepertinya indah, tapi sekarang sudah gelap." Balas Taehyung.

"Jalan dan dermaga yang kita lewati sekarang terbuat dari kayu Jati. Bangunan-bangunan terbuat dari jati dan atap jerami. Kompleks ini terdiri dari kamar utama, bar, spa, dan bangunan di paling ujung yang berada di atas pulau adalah kolam renang pribadi."

Lee Joon memutar tubuhnya menatap Jungkook dan Taehyung kemudian tersenyum, menyerahkan satu gelang kunci kepada Jungkook. "Saya akan datang di pagi hari tentu atas persetujuan Anda, nomor layanan tertulis di samping pesawat telefon. Tur kita lanjutkan besok pagi, Anda berdua terlihat sangat lelah. Silakan memasuki kamar utama."

"Terimakasih Lee Joon."

"Sebelum saya pamit, Tuan Jungkook sudah menyetujui hal ini tapi akan saya ingatkan. Di sini benar-benar menjaga privasi, tempat untuk berisitirahat. Tidak ada akses wifi, tidak ada televisi, dan bisakah Anda berdua menyerahkan ponsel atau munkin laptop Anda?"

"Apa?!" Taehyung terkejut. "Tanpa ponsel? Tidak ada wifi?" Lee Joon tersenyum sembari mengangguk. "Apa aku bisa hidup tanpa itu semua…," Taehyung mengeluh namun dia tidak melawan dan menyerahkan ponselnya.

Taehyung berdiri di belakang tubuh Jungkook ketika laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya itu membuka kunci pintu. Taehyung menoleh ke arah dermaga. Lee Joon pergi dengan speed boat. Kesenyuian menyeruak, ia memandang ke langit dengan bertabur bintang indah, lampu-lampu penerangan bersinar lembut. Tidak ada suara mesin kendaraan, papan iklan yang gemerlap. Kehidupan di sini benar-benar tenang.

"Kau masuk dulu." Perintah Jungkook. Taehyung mengangguk pelan kemudian melangkah masuk.

Taehyung tersenyum dari pintu hingga menuju ranjang tempat tidur berukuran besar dihiasi oleh tirai tipis berwarna merah dan ungu. Di atas ranjang tempat tidur ditaburi kelopak mawar, Taehyung melanjutkan untuk memeriksa isi bangunan utama.

Tidak luas namun diatur sedemikian rupa sehingga menyuguhkan kenyaman dan kemewahan. Tanpa televisi, di dekat kaki ranjang tersedia lemari penyimpanan dan lemari pendingin berukuran setengah meter. Di sisi kanan terdapat sebuah pintu, pintu menuju kamar mandi. Jacuzi berukuran cukup lebar tersedia di sana.

Taehyung melangkah mundur, menutup pintu kamar mandi kemudian beralih ke pintu yang lain. Ketika pintu ia buka, angin lembut menerpa wajahnya, balkon dengan dua sofa nyaman dan tempat tidur gantung.

"Besok, kita bisa melihat laguna dari sini."

"Benarkah?"

"Ya."

Taehyung merasakan kedua lengan Jungkook melingkari perutnya. Taehyung lantas menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Jungkook. "Kita tidur sekarang, kau terus mengeluh lelah tadi." Taehyung tertawa pelan, Jungkook mengecup lembut pelipis kanan Taehyung.

"Ayo tidur sekarang." Ajak Taehyung sambil melepaskan lengan Jungkook dari perutnya.

Pintu menuju balkon ditutup, keduanya berbaring di atas ranjang tempat tidur yang terasa sejuk dan nyaman. Tanpa mandi, tanpa berganti pakaian, terlalu lelah setelah menempuh perjalanan panjang. "Aku pikir kita akan kesulitan tidur karena perbedaan waktu," Taehyung menggumam sambil memejamkan kedua matanya.

"Syukurlah itu tidak terjadi." Balas Jungkook sambil menarik selimut, menaikkan selimut itu sebatas pinggangnya dan Taehyung. Lampu sudah diatur dengan intensitas cahaya yang nyaman, jadi Jungkook tidak merasa perlu untuk mematikannya. "Tae?" Jungkook memanggil.

Taehyung dengan cepat terlelap, Jungkook tersenyum lantas memeluk tubuh Taehyung lembut sebelum diapun memejamkan kedua matanya. Dan tidak butuh banyak waktu untuk terlelap.

.

.

.

Ketika Taehyung membuka kedua matanya, ia tak lagi melihat Jungkook berbaring di tempat seharusnya dia berada. Panik, karena dia tentu saja tidak bisa menghubugi Jungkook mengingat ponsel mereka disita sementara oleh pihak pengelola.

Taehyung mendudukan dirinya dengan cepat berbagai skenario terburuk sudah berputar di dalam kepalanya. Baiklah, itu berlebihan tapi ini pertama kalinya Taehyung pergi jauh tanpa sang kakak, jadi wajar jika dia panik tanpa seseorang yang dikenal berada di sekitarnya.

Melompat turun dari ranjang dengan tergesa, Taehyung berlari menghampiri pintu menuju balkon dengan terburu-buru. Nyaris terjatuh karena kakinya terbelit selimut, beruntung hal itu tak sampai terjadi.

"Jung…," kepanikan Taehyung lenyap seketika karena dua alasan. Alasan pertama karena Jungkook rupayanya berada di balkon dan alasan kedua karena pemandangan yang tersaji di hadapannya benar-benar menakjubkan.

"Setiap kamar menghadap langsung ke Laguna." Terang Jungkook, Taehyung tak membalas ia terlalu takjub dengan semua yang tersaji. "Blue azzure sky, green torquise water, and white sandy beach."

Langit cerah dipadu air laut dan pulau di seberang yang tampak jelas berpasir putih. Taehyung hanya mendengar kalimat Jungkook sambil lalu, entah apa yang semua orang-orang itu namakan mengenai warna, semuanya terlalu menakjubkan di sini.

"Kau lapar? Kita melewatkan sarapan."

"Benarkah?!" Taehyung terkejut dan ucapan Jungkook menariknya pada kenyataan.

"Ya, sekarang mungkin sudah jam sebelas siang."

"Melewatkan matahari terbit." Taehyung berucap kecewa.

"Besok kita bisa melihatnya."

"Berapa lama kita di sini?"

"Hadiah bulan madunya hanya tiga hari tapi aku menambahnya." Jungkook tersenyum lebar di akhir kalimat.

"Tanpa pemberitahuan?" Taehyung menatap Jungkook curiga. "Berapa lama?"

"Satu minggu."

"Apa?! Kau gila?! Bagaimana pekerjaanku?!" Taehyung berteriak kesal kemudian maju dan mulai memukuli dada Jungkook. Sementara Jungkook hanya tertawa menerima semua pukulan Taehyung tanpa niat untuk menghentikan. "Kau ini..," keluh Taehyung sambil terengah menatap Jungkook kesal. Ia sudah menghentikan pukulannya.

"Bagaimana jika seminggu ini kita melupakan semua yang ada di Seoul."

"Apa bisa seperti itu?"

"Kita belum mencobanya, tapi jika kau benar-benar tidak enak hati kita bisa kembali sesuai keinginanmu."

"Baiklah, dicoba saja." Balas Taehyung menyerah.

Jungkook tersenyum kemudian melangkah mendekati Taehyung, menyentil pelan dahi Taehyung. "Sekarang lupakan semua tentang pekerjaan." Taehyung mengangguk pelan.

"Sebaiknya kita mandi dan berganti pakaian, kita memakai pakaian yang sama sejak tiba di sini." Taehyung tertawa pelan menyadari kebenaran ucapan Jungkook.

"Setelah mandi apa yang akan kita lakukan?"

"Pergi ke pulau, makan siang, berenang di laut, melihat ikan."

"Sepertinya menyenangkan." Balas Taehyung tak terlalu percaya, kalimat Jungkook terlalu sederhana membuatnya tidak bisa membayangkan apa yang semua Jungkook katakan itu menyenangkan.

"Aku jamin menyenangkan!" seru Jungkook.

"Kau bisa membaca pikiran?!" Taehyung terkejut. Dahi Jungkook berkerut bingung. "Lupakan." Dengus Taehyung.

"Ayo mandi, dan mungkin kita bisa mandi bersama?" alis kanan Jungkook terangkat menggoda Taehyung.

"Tentu."

"Apa?!" Jungkook terkejut tak menyangka Taehyung akan setuju dengan idenya, ide yang sebenarnya hanya bertujuan untuk menggoda.

"Memang apa salahnya? Kita sudah menikah."

"Ya— kau benar juga." Jawab Jungkook dengan wajah sedikit tertunduk menghalau Taehyung untuk melihat wajah bersemu merahnya.

Taehyung kembali ke kamar terlebih dahulu kemudian mengambil dua jubah mandi di dalam kamar mandi yang terlipat rapi, dan beraroma lavender. Ia sempat melirik bak berendam sekilas sebelum keluar.

"Mereka juga menaruh kelopak bunga di dalam bak berendam." Ucap Taehyung sambil menyodorkan salah satu jubah mandi kepada Jungkook.

"Benarkah?"

"Kau yakin tidak tahu tentang semua ini?" Jungkook tersenyum lebar menjawab kecurigaan Taehyung. "Apa mereka diberitahu jika kita datang untuk berbulan madu?"

"Kurasa…," Jungkook mengguma dengan suara tidak jelas.

Taehyung memutar kedua bola matanya malas, kemudian meletakkan jubah mandinya di atas ranjang tempat tidur. Memunggungi Jungkook, kemudian mulai membuka pakaian yang melekat di tubuhnya.

Jungkook melirik Taehyung, meneguk ludah susah payah. Taehyung memang sempurna, warna kulit, lekuk tubuh, semuanya. Jungkook menggelengkan kepalanya pelan sebelum ia memutuskan untuk melepas pakaiannya sendiri kemudian menggantinya dengan jubah mandi.

"Ayo." Ajak Taehyung ketika Jungkook mengikat tali jubah mandinya.

"Ya." Balas Jungkook singkat, keduanya melangkah bersama memasuki kamar mandi.

Sementara Jungkook mengisi bak berendam dengan air, Taehyung menunggu sambil memainkan sekuntum Bunga Sepatu berwarna merah dengan kedua tangannya. Aroma lavender menyeruak, Taehyung meletakkan bunga sepatu di tangannya ke tempat semula. Ia menoleh ke arah Jungkook.

"Sudah siap." Ucap Jungkook.

Bak berendam sudah terisi dengan air yang cukup, permukaan air tertutup oleh busa dan kelopak-kelopak bunga. Taehyung melangkah mendekati Jungkook da bak berendam mereka. Melepas jubah mandinya, menjatuhkan jubah itu ke atas lantai kamar mandi kemudian melangkah masuk.

"Apa kau bermaksud menggodaku?" tanya Jungkook.

Taehyung mendudukan tubuhnya, bersandar pada tepian bak mandi. "Menggoda bagaimana?" Taehyung menatap Jungkook polos. "Bukankah setiap mandi harus melepas seluruh pakaian."

Jungkook menyeringai tipis, ia menarik lepas tali pinggang jubah mandinya. Sama seperti Taehyung iapun menjatuhkan jubah mandinya ke atas lantai begitu saja, kemudian melangkah memasuki bak berendam. "Kuharap suhu airnya sesuai dengan yang kau sukai."

"Ini sudah cukup sesuai, di sini panas tidak perlu memakai air hangat sebenarnya, tapi tak masalah."

"Ya." Jungkook membalas singkat kemudian mendekati Taehyung.

"Masih tersisa banyak tempat Jungkook, menjauh." Gerutu Taehyung.

"Kau menggodaku."

"Siapa yang menggodamu? Pikiranmu saja yang terlalu kotor."

"Apa salahnya berpikir kotor, kita sudah menikah." Jungkook tersenyum di akhir kalimat yang menurut Taehyung cukup mengerikan.

Tangan kanan Jungkook memeluk tubuh Taehyung cepat, menarik tubuh Taehyung ke depan. Membuat Taehyung mau tidak mau harus duduk di pangkuan Jungkook. Jungkook meraih bibir penuh Taehyung tanpa peringatan. Taehyung tanpa perlawanan membuka bibirnya, memberi celah kepada Jungkook untuk menyelinap masuk.

Tangan kiri Jungkook menelusuri tulang ekor Taehyung, beranjak naik sesuai bentuk tulang punggung Taehyung dan berakhir pada tengkuk Taehyung, menekan lembut tengkuk itu. Menuntut Taehyung untuk memuaskannya. Kedua tangan Taehyung memeluk leher Jungkook.

Kepala Taehyung mendongak memperlihatkan leher jenjangnya, ketika Jungkook memasukinya dengan lembut. Bibir Jungkook tertunduk menelusuri permukaan leher halus Taehyung, bergerak ke atas hingga sampai pada ujung dagu lancip Taehyung.

Taehyung menundukkan kepalanya, meraih bibir Jungkook. Melumatnya, menggigit perlahan bibir bawah Jungkook. Bergerak mundur membawa tubuhnya sendiri untuk bersandar pada tepian bak berendam. Taehyung mengangkat kedua kakinya, membelit pinggang Jungkook.

"Lebih cepat." Taehyung berbisik dengan nada parau.

Dan tentu saja Jungkook menuruti permintaan Taehyung, insingnya juga menuntunnya untuk melakukan apa yang Taehyung katakan. Bergerak cepat, menuntut penyerahan tanpa syarat dari Taehyung. Memiliki Taehyung tanpa tersisa.

"Engggghhh…," mendongak sembari menggeram pelan kedua telapak tangan Taehyung menekan kedua bahu kekar Jungkook.

Menyelinap lebih dalam, menunduk melumat bibir Taehyung, kedua tangan meremas pinggang Taehyung. Kedua mata Jungkook terpejam erat begitupun Taehyung. Kedua mata saling bertemu, tersenyum penuh kepuasan, ditengah deru napas yang saling mengejar.

"Terimakasih." Jungkook berbisik pada telinga kanan Taehyung sebelum memeluk erat tubuh yang lebih kecil darinya itu.

Taehyung mengecup singkat pipi kiri Jungkook. "Aku juga berterimakasih." Bisiknya.

"Aku sangat lapar sekarang." Jungkook menggumam pelan masih memeluk tubuh Taehyung pelan.

Taehyung tertawa pelan. "Kita mengulur waktu mandi." Canda Taehyung. Jungkook hanya mengangguk pelan sembari menenggelamkan wajahnya pada ceruk kanan leher Taehyung. "Ayo, aku juga sangat lapar sekarang.

"Hmm." Balas Jungkook.

.

.

.

Keduanya memakai kaos berlengan pendek berwarna putih dipadu dengan celana selutut merah untuk Jungkook dan biru untuk Taehyung, memakai tabir surya secukupnya. Keduanya tidak mencemaskan jika nanti sepulang dari Negara indah ini, kulit mereka akan nampak gelap dan berubah menjadi sorotan media masa.

Lee Joon sudah mengabari lewat telefon tempat sarapan, makan siang, dan makan malam, berada di pantai di ujung dermaga yang berjarak hanya seratus meter. Jungkook dan Taehyung berjalan menuju pantai sambil bergandengan tangan, sesekali saling melirik kemudian tersenyum bahagia.

Makan siang di pantai berair jernih, berombak tenang, dan berpasir putih yang terasa lembut, sempurna. Taehyung mengamati semua hidangan di hadapannya dengan takjub, penuh warna, nampak menggoda. Pantai tenang dan sunyi seolah semuanya hanya miliknya dan Jungkook.

Tangan kanan Taehyung meraih gelas dengan cairan berwarna merah tua di dalamnya, mencicipi, kemudian tak lama dahinya nampak berkerut. "Tidak ada alkohol?"

"Tidak. Tidak ada alkohol, tidak ada alkohol tidak ada rokok."

"Aku tidak merokok."

"Kalau begitu mulai saat ini tidak ada alkohol."

"Ada masalah dengan alkohol?"

"Alkohol tidak baik untuk janin."

Taehyung hanya melempar tatapan malas pada Jungkook kemudian memilih mengabaikan suaminya dan menjumput udang dengan jari tangannya. "Aku serius alkohol tidak baik untuk ja…," kalimat Jungkook terhenti karena Taehyung melesakkan udang goreng ke dalam mulutnya.

"Kita makan saja sekarang." Ucap Taehyung kemudian tersenyum manis di akhir kalimat.

"Taehyung! Aku hampir tersedak!" protes Jungkook setelah berhasil mengunyah dan menelan udang di dalam mulutnya.

"Masih hampir, belum terjadi." Balas Taehyung santai.

"Kau…," Jungkook mendesis pelan menahan kesal sekaligus gemas. Tangan kanan Jungkook bergerak cepat, menarik ujung hidung mancung Taehyung cukup keras.

"Awww!" teriak Taehyung ia memukul tangan kanan Jungkook, tangan itu memang terlepas dari hidungnya namun Jungkook tertawa keras dan terlihat puas sudah mengerjainya. "Sakit!" dengan kesal Taehyung mengusap ujung hidungnya yang sekarang pasti sudah memerah.

Jungkook masih tertawa, Taehyung menekuk wajahnya dengan bibir sedikit mengerucut. "Ngambek?" Jungkook bertanya dengan nada meledek.

"Sudah diam." Dengus Taehyung.

"Kau manis dan menggemaskan jadi aku menarik hidungmu." Jungkook memberikan alasannya kepada Taehyung.

"Diam dan makan saja, atau kau mau aku memasukkan kepiting ke dalam mulutmu?!" ketus Taehyung.

Jungkook langsung bungkam dan memilih menikmati makan siang mereka, daripada Taehyung bertindak lebih kejam kepada dirinya. Kepiting utuh di dalam mulut?! Itu mengerikan.

TBC

Halo halo semua, terimakasih masih membaca cerita ini. Terimakasih review kalian sanaa11, J Jongkok, ranran, yoongiena, KooktaeWY, taennie, pxxjam0809, taennie, haneul byunbaozi, VampireDPS, athensvt, GaemGyu92, CuteTaetae, ParkceyePark, Tikha Semuel RyeoLhyun, ORUL2, adhakey2309, Rinchan MeanieVkook SvtBts, bangtaninmylove, wenjun, broke lukas, Park RinHyun Uchiha, Kyunie, Linkz account, hotaru136, vivikim406. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.