BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Mpreg, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Previous

Jungkook masih tertawa, Taehyung menekuk wajahnya dengan bibir sedikit mengerucut. "Ngambek?" Jungkook bertanya dengan nada meledek.

"Sudah diam." Dengus Taehyung.

"Kau manis dan menggemaskan jadi aku menarik hidungmu." Jungkook memberikan alasannya kepada Taehyung.

"Diam dan makan saja, atau kau mau aku memasukkan kepiting ke dalam mulutmu?!" ketus Taehyung.

Jungkook langsung bungkam dan memilih menikmati makan siang mereka, daripada Taehyung bertindak lebih kejam kepada dirinya. Kepiting utuh di dalam mulut?! Itu mengerikan.

BAB TUJUH BELAS

Jungkook menahan diri untuk tidak tersenyum, sementara Taehyung menahan diri untuk tidak meledakan tawanya. Sungguh, Jungkook sekarang terlihat sangat konyol. Menahan senyum, seringkali terlihat gugup, dan beberapa kali menghembuskan napas kasar.

"Kebetulan sekali kalian berbulan madu saat aku berlibur." Jiyoung tersenyum ramah menatap Taehyung dan Jungkook. "Semoga kalian bahagia." Imbuhnya.

"Terimakasih." Balas Jungkook dengan suara yang nyaris terbata.

Jiyoung tertawa pelan melihat kegugupan Jungkook. "Hei, jangan gugup seperti itu."

Jungkook menggaruk tengkuknya kikuk. "Aku benar-benar menyukai Jiyoung hyung."

"Astaga! Kau sudah menikah! Aku tidak bisa menerima cintamu!" canda Jiyoung.

"Bu—bukan seperti itu!" kali ini Jungkook benar-benar tergugup, ia melirik Taehyung takut-takut namun Taehyung justru menunjukkan cengiran kotaknya.

"Sejak kapan kau menjadi fansku? Astaga bagaimana aku tidak bisa mengetahuinya sejak awal, seorang Jeon Jungkook menjadi fansku. Rasanya aku tidak pantas untuk menjadi idolamu."

"Jiyoung hyung sangat pantas menjadi idolaku!" Jungkook meyakinkan dengan sepenuh hati. "Kurasa saat itu aku masih SMP, di tahu terakhir. Aku pergi dengan teman-temanku ke konser Jiyoung hyung. Aku benar-benar terpesona. Jiyoung hyung berdiri di sana, di panggung, begitu hebat, membuat semua orang ikut bernyanyi, menyalakan Lightstick mereka untuk Jiyoung hyung."

Jungkook menggerakkan kedua tangannya tanpa sadar ketika bercerita, menceritakan kenangan indahnya di masa lalu.

"Lalu detik itu aku berpikir tentang diriku sendiri, apa yang aku inginkan, apa aku benar-benar menginginkannya, apa aku sudah berusaha keras untuk mewujudkan keinginanku. Dan seolah semua lagu yang Jiyoung hyung nyanyikan, berbicara padaku."

Perhatian Taehyung kini tertuju sepenuhnya pada Jungkook, dia mengerti perasaan Jungkook. Dia juga pernah melalui tahap, ketika orang lain membuatmu bergerak untuk mencari impianmu sendiri.

"Aku—benar-benar tersanjung terimakasih Jungkook." Jungkook mengangguk pelan. "Ini yang aku inginkan, aku ingin membuat orang lain berpikir tentang impian mereka sendiri kemudian bergerak untuk mewujudkannya."

"Ya." Jungkook membalas singkat. Tangan kanannya ia turunkan di bawah meja, bergerak ke arah Taehyung meremas pelan lutut Taehyung yang tertekuk. Taehyung tersenyum tipis merasakan betapa dinginnya telapak tangan Jungkook.

"Terimakasih sarapannya, kalian masih tinggal di sini selama beberapa hari kan?" Jungkook mengangguk menjawab pertanyaan Jiyoung. "Sayang sekali aku harus pergi sekarang." Jiyoung kembali tersenyum.

"Ah sayang sekali…," keluh Jungkook. Ia benar-benar mengeluh sekarang. Ia ingin mengobrol lama dengan Jiyoung, G-Dragon. "Jiyoung hyung akan kembali ke Korea sekarang?"

Ketika Jiyoung mengangguk, Taehyung melempar tatapan lelah membayangkan penerbangan nyaris sebelas jam dari tempat ini.

"Iya, aku harus kembali ke Korea hari ini juga."Jiyoung menampakkan ekspresi lelah yang nyaris sama dengan Taehyung.

Jiyoung memeluk Jungkook. "Berterimakasihlah pada Taehyung dia yang meyakinkan aku untuk datang ke sini, menemuimu." Bisik Jiyoung.

"Benarkah?" Jungkook balas berbisik.

"Ya." Jawab Jiyoung sembari menarik tubuhnya dari pelukan singkatnya dengan Jungkook. Kemudian dia beralih pada Taehyung, memeluknya. "Nikmati tempat indah ini sebelum kenyataan menyebalkan kembali." Canda Jiyoung.

Taehyung tertawa pelan mendengar candaan dari seorang G-Dragon yang ramah. Tangan kanan Jiyoung menepuk pelan perut datar Taehyung. "Semoga aku cepat mendapat keponakan." Taehyung menunduk dengan wajah merona, mendengar kalimat Jiyoung. "Selamat tinggal dan sampai jumpa."

Taehyung dan Jungkook bermaksud untuk mengantarkan Jiyoung sampai di ujung dermaga, namun Jiyoung menolak dia ingin Taehyung dan Jungkook menikmati pantai, dia bisa berjalan ke ujung dermaga seorang diri. Keduanya berdiri menatap punggung Jiyoung cukup lama hingga Jiyoung pergi dengan speed boat.

"Jadi—darimana kau tahu aku fanboy GD?"

"Jimin." Balas Taehyung sembari menoleh kepada Jungkook lalu tersenyum.

"Apa ini yang membuatmu setuju pergi ke Maladewa?"

"Ya."

Jungkook menautkan kedua alisnya. "Aku tidak mengerti?"

"Aku ingin memberimu kejutan kurasa seperti itu bahasa sederhananya. Siapa yang tidak ingin bertemu dengan idolanya."

"GD ke sini atas permintaanmu atau dia berlibur ke tempat ini?"

"Dia berlibur ke sini, lalu aku meminta stafku berbicara pada GD dan mengatur semua ini."

Tatapan Jungkook berubah tajam. "GD pergi ke sini dengan siapa?"

"Bukan urusan kita!" bentak Taehyung kemudian menyentil dahi Jungkook.

"Aku ingin tahu…," Jungkook merengek sambil mengusap-usap dahinya yang kini terasa panas.

"Hormati privasi orang lain." Taehyung bergaya menasehati. Jungkook mengerucutkan bibirnya. "Aku serius!"

"Iya, iya, maaf." Jungkook memutuskan untuk mengalah.

"Aku mau melihat ikan!" Taehyung berteriak antusias kemudian berlari meninggalkan Jungkook menuju pantai, melangkah memasuki air dan terus berjalan hingga sebatas lutut.

Jungkook menyusul Taehyung dengan langkah pelan, sambil mencomot potongan semangka dari piring saji. Taehyung menoleh ke belakang menatap Jungkook antusias dengan memegang sesuatu pada kedua tangannya. "Apa?" Jungkook melihat telapak tangan Taehyung.

Taehyung menampung air laut dengan seekor ikan kecil berwarna biru di dalamnya. "Bagus kan Kookie."

"Letakkan kembali kau bisa menyakitinya, dan jangan memanggilku Kookie!" perintah Jungkook.

"Tidak seru..," keluh Taehyung disela kegiatannya mengembalikan ikan kecil di tangannya kembali ke dalam air.

"Aku tidak ingin kau menyakiti ikannya." Taehyung hanya memutar kedua bola matanya malas mendengar penjelasan Jungkook. Jungkook lantas mencelupkan tangan kanannya ke dalam air, kemudian memasukkan telunjuknya ke dalam mulut.

"Apa yang kau lakukan?!" Taehyung berseru sembari mengernyitkan dahinya.

"Aku hanya ingin memastikan jika air laut itu asin." Jungkook membalas polos."

"Konyol..," Taehyung menggerutu kemudian tertawa keras melihat tindakan antik Jungkook.

"Aku hanya penasaran." Ucap Jungkook membela diri.

"Kau tidak pernah pergi ke pantai?"

"Tentu saja pernah tapi aku belum pernah membuat pembuktian."

Taehyung menggelengkan kepalanya geli. "Sudahlah." Putus Taehyung sebelum berlari menuju pantai untuk kedua kalinya meninggalkan Jungkook. Jungkook berniat mengikuti Taehyung namun Taehyung menghilang dengan cepat. "Taehyung!" Jungkook berteriak panik.

"Jungkook!" panggilan Jungkook dibalas oleh teriakkan Taehyung.

"Taehyung!" teriakkan itu membuat kepanikan Jungkook berlipat, ia berlari cepat menuju sumber suara. Langkah kaki Jungkook terhenti ketika ia mendengar suara seperti sesuatu yang ditarik.

Tak lama Taehyung muncul dengan menarik sesuatu yang terlihat seperti pelepah daun tumbuhan sejenis Palem, bukan daun pohon Kelapa. Jungkook yakin bukan. "Jungkook!" Taehyung kembali berteriak untuk menarik perhatian Jungkook.

"Tae apa yang kau bawa?"

"Daun Palem." Taehyung membalas santai tak sadar dengan kecemasan Jungkook. "Ayo main dengan ini." Ucap Taehyung sembari menjatuhkan ujung daun yang ia pegang di dekat kaki Jungkook.

"Main dengan itu?"

Taehyung mengangguk antusias. "Kau tidak tahu caranya?" Jungkook menggeleng pelan. "Biar aku tunjukkan. Duduk di sana, di ujung pelepahnya." Jungkook terlihat ragu. "Sudah duduk sana!" perintah Taehyung.

"Baik, baik." Jungkook memilih mengalah dengan keinginan Taehyung. Ia duduk pada ujung pelepah daun, bagian yang menghubungkan daun dengan batang pohon, bagian yang cukup lebar untuk diduduki, tanpa celah, juga aman.

Setelah mendudukan tubuhnya sesuai keinginan Taehyung, Jungkook menekuk kedua lututnya. "Sudah, selanjutnya apa?"

"Pegangan." Balas Taehyung.

"Hmm…," Jungkook menggumam sambil berpikir, ia belum pernah melakukan permainan ini sebelumnya. Kedua telapak tangan Jungkook lantas meraih tulang daun, memegangnya erat. "Sudah Tae."

"Kita mulai sekarang!" Taehyung memekik antusias. Kedua tangannya meraih tulang daun ia tersenyum lebar kepada Jungkook kemudian mulai menarik pelapah daun Palem itu.

"Taehyung kau yakin bisa?" Jungkook tak begitu yakin dengan tenaga Taehyung.

"Diam.., aku sedang berusaha…," Taehyung membalas dengan susah payah. Ia berusaha menarik pelepah Palem. Pelepah itu memang bergerak namun tak sesuai dengan pemikirannya. Seharusnya dia bisa menarik Jungkook sambil berlari. Tapi…, "Astaga Jungkook! Berapa berat badanmu?!" Taehyung mulai mengeluh.

Jungkook menahan tawa. "Ayo tarik aku! Kau pasti bisa Hyung!" Jungkook memberi semangat, sengaja memanggil Taehyung dengan Hyung untuk mengejeknya.

Sebenarnya Jungkook ingin menggoda Taehyung lebih lama lagi, tapi dia tidak tega melihat Taehyung berusaha keras untuk menariknya. "Sudah hentikan."

Taehyung berhenti seketika, menoleh ke belakang. "Apa?"

"Berhenti, nanti kau lelah. Biar aku yang menarikmu."

Taehyung melepaskan genggaman tangannya pada pelepah kemudian berlari menghampiri Jungkook sambil tersenyum. Jungkook berdiri mengamati wajah Taehyung. "Kau menginginkannya kan?" Jungkook bertanya dengan nada menggoda, Taehyung mengangguk antusias. "Siapa yang mengajarimu permainan seperti ini?"

"Jin hyung." Jawab Taehyung sambil mendudukan dirinya di atas pelapah.

"Dimana kalian melakukan permainan seperti ini?"

"Hawaii. Liburan terakhir sebelum—sebelum Ayah memutuskan untuk pergi."

Jungkook mendengar nada sedih pada kalimat Taehyung. Dan dia tidak menyukainya. "Pegangan Kim Taehyung!" Jungkook berteriak memberi peringatan.

"Jungkook!" teriak Taehyung ia terkejut karena Jungkook langsung menarik pelepah yang dia duduki dengan kuat. Beruntung, dia dengan cepat berpegangan erat.

Suara tawa Taehyung terdengar merdu di telinga Jungkook, dan dengan sedikit jahil Jungkook mengarahkan pelepah yang dia tarik mendekati air.

"Airnya mengenai wajahku!" protes Taehyung. Jungkook tidak peduli dan terus menarik Taehyung menyusuri garis pantai pulau yang hanya sepanjang dua ratus meter. "Berhenti!" perintah Taehyung.

Jungkook memperlambat langkah kakinya sebelum benar-benar berhenti. Melepaskan pelepah di dalam genggamannya, ia menoleh ke belakang. Taehyung berdiri kemudian menghampirinya, ia tersenyum. Wajahnya terlihat basah, begitupun ujung poninya. "Kenapa berhenti? Bukankah menyenangkan?"

"Aku lelah." Keluh Taehyung.

"Benarkah?"

"Istana pasir!" Taehyung memberi jawaban di luar pertanyaan Jungkook. Pelepah Palem dengan cepat terlupakan dan kini Taehyung sudah mendudukan dirinya di atas pasir, kedua tangannya sibuk mengumpulkan butiran-butiran pasir putih nan lembut di sekitarnya.

Jungkook ikut mendudukan dirinya di sisi kiri tubuh Taehyung kemudian mulai mengumpulkan pasir dengan kedua tangannya. "Kita tidak memiliki alat untuk membuat istana pasir."

"Gunakan imajinasimu." Balas Taehyung tersenyum kepada Jungkook selama beberapa detik sebelum perhatiannya kembali teralih pada pasir-pasir di sekitarnya.

Tanpa peralatan, yang mereka lakukan adalah menumpuk pasir, menimbun pasir, kemudian memadatkan pasir. Beberapa kali Taehyung berlari pergi untuk mengambil air laut guna memudahkan pembuatan istana pasir. Istana pasir yang terbentuk tak begitu memuaskan namun Taehyung tetap memaksa Jungkook untuk mengambil istana pasir mereka, dan tentu saja Jungkook akan dengan mudah menuruti permintaan Taehyung.

"Aku mau mencari penghuninya dulu!" Taehyung berteriak antusias sambil berlari menuju pantai. Jungkook tidak mengerti dengan maksud Taehyung.

Tak lama Taehyung kembali dengan sesuatu di tangannya. Seekor keong bercangkang putih, Taehyung meletakkan keong di tangannya ke puncak menara istana pasir. "Sudah." Ucapnya penuh kepuasan dan Jungkook hanya bisa tersenyum.

"Tae kemari."

Taehyung menoleh kemudian menggeser tubuhnya mendekati Jungkook. "Ada apa?"

"Aku mencintaimu." Taehyung semakin bingung, namun Jungkook kembali tersenyum kemudian mencium singkat bibir penuh Taehyung. "Matahari semakin terik, kita kembali ke kamar lalu bermain saat matahari tak begitu menyengat lagi, bagaimana?"

Tawaran Jungkook dibalas anggukan oleh Taehyung. Mengulurkan tangan kanannya pada Taehyung, keduanya kembali sambil bergandengan tangan.

.

.

.

"Jungkook tidak akan suka dengan ini."

"Apa?" perhatian Yoongi yang tadi tertuju pada layar televisi, teralihkan seketika ketika kekasihnya yang baru kembali dari kamar mandi tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang tak dia mengerti.

Jimin mendudukan dirinya di sisi kanan Yoongi kemudian menyodorkan ponselnya pada Yoongi. "Bagaimana bisa?!" pertanyaan itu adalah reaksi pertama Yoongi. "Bukankah di sana benar-benar tertutup?"

"Tertutup ketika memasuki wilayah resort, tapi di bandara semua bisa mengambil gambar." Terang Jimin. Yoongi membaca dengan seksama berita lewat layar ponsel Jimin.

Belum puas dengan membuat ratusan orang patah hati, Jeon Jungkook pergi ke Maladewa bersama Kim Taehyung, pasangan baru yang menikah dengan terburu-buru. Publik masih bertanya-tanya mengenai alasan dibalik pernikahan keduanya yang terkesan seperti sebuah pengalih isu. Mungkinkah ini hanya pernikahan dengan latar belakang bisnis?

Menurut sumber terpercaya yang dekat dengan keduanya, Jeon Jungkook dan Kim Taehyung, belum pernah terlibat hubungan sebelumnya, bahkan sebagai teman tidak pernah, pantas saja jika publik semakin penasarandengan pernikahan keduanya.

"Sumber terpercaya?" Yoongi menggumam pelan disertai seringai tipis menghiasi wajah berkulit pucatnya. "Hoseok."

"Hyung jangan berprasangka buruk." Nasehat Jimin.

"Sumber yang dekat dengan keduanya, tidak mungkin aku, Namjoon, atau Seokjin hyung." Yoongi melirik Jimin tajam. "Apa itu kau?"

"Hyung aku terus berada di Negara ini, setiap hari kita nyaris bertemu. Tidak mungkin aku mengambil foto mereka."

"Bisa saja kau menyuruh orang." Sinis Yoongi.

"Aku menyayangi Jungkook seperti adik kandungku sendiri, aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu."

"Berarti Hoseok!" Yoongi bersikeras. "Aku benar-benar ingin membuat perhitungan dengannya." Desis Yoongi.

"Kita tidak punya bukti yang kuat untuk menuduh Hoseok."

"Sudah jelas dia, memang siapa lagi yang melakukannya."

"Bisa saja orang lain."

"Kenapa kau terus membela Hoseok?!" Yoongi tanpa sadar meneriaki Jimin.

Jimin menggenggam kedua tangan Yoongi, meremasnya lembut. "Aku tidak ingin Yoongi hyung terbawa emosi lalu melakukan tindakan tidak terpuji yang akan Yoongi hyung sesali nantinya, kita tunggu perkembangan selanjutnya. Aku juga akan mengawasi Hoseok, jika kecurigaan Yoongi hyung terbukti, aku janji akan mengambil tindakan."

"Kau janji?" Yoongi bertanya setelah berhasil meredakan emosinya. Jimin mengangguk pelan. Yoongi tersenyum kemudian memeluk Jimin erat. "Terimakasih, dan maaf aku membentakmu tadi."

"Hmm." Jimin hanya menggumam sambil mengusap lembut punggung Yoongi.

TBC

Terimakasih masih mengikuti cerita ini. Terimakasih reviewnya tsukitsukii, juney532, Han Kim Taehyung, fangurlsxx, GaemGyu92, RahmawatiYun25, VKookKookV, pxxjm0809, taennie, ranran, CuteTaetae, yoongiena, J Jongkok, broke lukas, wenjun, adhakey2309, bangtaninmylove, Xingmandoo, Albus Convallaria majalis, athensvt, ParkceyePark, Kyunie, Park RinHyun Uchiha, vivikim406, Sity JoyRise, Tikha Semuel RyeoLhyun, yoongiesugar.