BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Mpreg, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member

Previous

"Berarti Hoseok!" Yoongi bersikeras. "Aku benar-benar ingin membuat perhitungan dengannya." Desis Yoongi.

"Kita tidak punya bukti yang kuat untuk menuduh Hoseok."

"Sudah jelas dia, memang siapa lagi yang melakukannya."

"Bisa saja orang lain."

"Kenapa kau terus membela Hoseok?!" Yoongi tanpa sadar meneriaki Jimin.

Jimin menggenggam kedua tangan Yoongi, meremasnya lembut. "Aku tidak ingin Yoongi hyung terbawa emosi lalu melakukan tindakan tidak terpuji yang akan Yoongi hyung sesali nantinya, kita tunggu perkembangan selanjutnya. Aku juga akan mengawasi Hoseok, jika kecurigaan Yoongi hyung terbukti, aku janji akan mengambil tindakan."

"Kau janji?" Yoongi bertanya setelah berhasil meredakan emosinya. Jimin mengangguk pelan. Yoongi tersenyum kemudian memeluk Jimin erat. "Terimakasih, dan maaf aku membentakmu tadi."

"Hmm." Jimin hanya menggumam sambil mengusap lembut punggung Yoongi.

BAB DELAPAN BELAS

"Jin hyung!"

"Tae kenakan syalmu dengan benar!" nasehat Jungkook yang tentu saja diabaikan oleh Taehyung. "Taehyung!" kesal Jungkook namun Taehyung terus berlari menyongsong sang kakak.

"Jin hyung!" Taehyung berseru sembari melemparkan tubuhnya ke dalam dekapan Seokjin.

"Hei, apa kau sangat merindukan aku?"

"Sangat." Balas Taehyung menenggelamkan wajahnya pada dada Seokjin. Seokjin hanya tersenyum sambil membalas pelukan sang adik.

Jungkook berjalan tanpa tergesa menghampiri Seokjin dan Taehyung di luar bandara, sementara di belakang Jungkook salah seorang petugas bandara membawakan koper dan tasnya. "Hai Jungkook." Sapa Seokjin.

"Hai Hyung." Jungkook membalas kemudian tersenyum.

"Maladewa menyenangkan?"

Jungkook mengangguk. "Namjoon hyung dan Seokjin hyung harus mencoba pergi ke sana."

Seokjin menautkan kedua alisnya. "Ide bagus." Jawabnya, iapun melepaskan pelukan Taehyung kemudian menggiring Jungkook dan Taehyung memasuki mobil.

"Seharusnya kau mengenakan syalmu." Jungkook menasehati Taehyung bahkan sebelum mobil benar-benar berjalan. Seokjin tersenyum melihat interaksi keduanya dari kaca spion.

"Udaranya belum terlalu dingin." Balas Taehyung nyaris tak mempedulikan nasihat Jungkook, ia memilih melihat keluar jendela menikmati daun-daun pohon yang berubah warna. "Kenapa aku merasa pergi sangat lama, padahal hanya beberapa hari. Semua daun berubah warna saat aku kembali." Keluh Taehyung.

"Kita pergi ke rumah dulu, aku yakin di apartemen kalian tidak ada sesuatu yang bisa dimakan."

"Aku setuju Hyung!" Taehyung berseru girang. Seokjin hanya tersenyum.

"Jungkook, rumah yang dulu kau tempati bagaimana?"

"Terlalu besar, apartemen lebih nyaman."

"Hmm." Seokjin bergumam membalas kalimat Jungkook.

Taehyung menyandarkan punggungnya pada kursi, kemudian tak butuh waktu lama hingga Taehyung mulai sibuk dengan ponselnya, setelah lima hari berpisah ternyata cintanya kembali dengan cepat. "Wow." Gumam Taehyung.

"Membaca berita?" tanggap Seokjin, Taehyung mengangguk pelan. "Beritamu dengan Jungkook?" Taehyung kembali mengangguk.

"Berita apa?!" kali ini Jungkook menanggapi padahal dia sudah nyaris tertidur tadi.

"Hanya rasa penasaran semua orang tentang pernikahan kita."

"Ahhh…, hanya itu. Abaikan saja kita tidak bisa hidup menuruti kemauan setiap orang."

"Kau membuat banyak orang patah hati." Gumam Taehyung.

"Kau juga tidak berbeda." Balas Jungkook.

"Bisakah melakukan dua hal dalam waktu bersamaan?"

"Apa?" Jungkook tidak mengerti maksud pertanyaan Taehyung.

"Mencari kebahagiaan untuk diri sendiri tanpa melukai orang lain."

Jungkook tak langsung menjawab, ia terdiam untuk beberapa saat. "Entahlah—aku tidak tahu." Pada akhirnya iapun menjawab dengan keraguan.

.

.

.

"Tae! kau semakin hitam!" Namjoon menyambut kedatangan Taehyung dengan sangat menyebalkan. Namjoon tidak ikut menjemput karena ada urusan yang harus dia selesaikan, setelah semuanya beres dia langsung pulang untuk menyambut kedatangan dua adiknya.

"Namjoon hyung juga tidak bertambah tampan." Balas Taehyung sadis.

Seokjin dan Taehyung saling melempar pandang. "Mereka selalu seperti itu." gumam Seokjin membuat Jungkook tersenyum lebar.

"Aku ragu apa kau adik kandung Seokjin." Namjoon semakin menggoda.

"Itu karena saat Ibu sedang hamil aku, beliau senang berjemur." Dan Jungkook nyaris tertawa terbahak mendengar jawaban Taehyung.

"Namjoon hyung diam, wajah Namjoon hyung mirip telur."

Namjoon tertawa keras mendengar ejekan Taehyung kemudian memeluk Taehyung erat. "Aku senang kau kembali."

"Ya." Balas Taehyung setelah Namjoon melepaskan pelukannya, keduanya saling melempar senyum tulus.

"Maladewa menyenangkan?" Taehyung mengangguk pelan. "Aku ingin pergi ke sana bersama Seokjin."

"Ide bagus." Taehyung menunjukkan senyum kotaknya diakhir kalimat.

"Sudah, ayo ke meja makan kalian pasti lapar. Setelah itu kalian bisa mandi dan tidur."

"Aku tidur nyaris di sepanjang perjalanan." Taehyung menanggapi Seokjin.

"Kau tidak lapar?"

"Sedikit."

"Ayo makan." Ajak Seokjin sambil tersenyum, Taehyung bergegas menghampiri sang kakak memeluk lengan kiri Seokjin dan bergelayut di sana.

Perhatian Namjoon kini beralih pada Jungkook. Dia tersenyum ramah. "Aku yakin kau sudah mendengar sedikit beritamu dengan Taehyung." Jungkook mengangguk pelan. "Jangan merasa terganggu."

"Aku akan berusaha untuk tidak merasa terganggu."

"Aku dan Seokjin berencana memiliki anak tahun depan."

"Itu kabar baik." Jungkook tersenyum lebar. "Mungkin kita bisa memiliki anak yang usianya nyaris sama."

"Ide bagus." Balas Namjoon kemudian berbalik dan mengisyaratkan kepada Jungkook untuk mengikuti dirinya menuju meja makan.

Seusai makan siang Seokjin memaksa keduanya untuk tinggal dan baru boleh kembali besok, setelah ia yakin lemari pendingin apartemen Jungkook dan Taehyung penuh dengan makanan.

"Ini kamarmu?" Jungkook bertanya sambil mendudukan dirinya pada ujung ranjang tempat tidur Taehyung. Mengamati keadaan kamar Taehyung yang tak begitu luas namun nyaman.

"Ya."

"Kenapa tidak banyak barang-barang di sini?"

"Aku sering berpindah kamar."

"Kenapa?"

"Mungkin aku sering bosan." Taehyung tersenyum menatap Jungkook. Ia baru selesai mandi dan berganti pakaian. Taehyung memutar tubuhnya menghadap cermin. "Kulitku bertambah gelap, tinggal menunggu waktu hingga Yoongi hyung mengejek."

Jungkook hanya tertawa pelan mendengar kekesalan Taehyung. "Ayo tidur, aku sangat lelah."

"Aku tidak mengantuk." Tolak Taehyung.

"Kalau begitu berbaring saja, temani aku." Ajak Jungkook. Keduanya saling menatap lewat cermin. Taehyung mengangguk pelan, memutar tubuhnya dan berjalan mendekati ranjang.

Jungkook tersenyum ketika Taehyung berbaring di sampingnya. Tangan kanan Jungkook bergerak pelan mengusap poni Taehyung, menyingkirkan poni itu agar Taehyung bisa melihat lebih jelas. "Ponimu harus segera dipotong."

"Semua berita itu bagaimana?"

"Abaikan saja."

"Kau tahan dengan semua berita itu?" Jungkook hanya mengendikan bahu kemudian memejamkan kedua matanya. "Jawab dulu!" tuntut Taehyung.

"Aku tidak nyaman, tapi apa ada cara untuk menghentikannya? Seharusnya kau sudah menduga hal seperti ini akan terjadi."

Dahi Taehyung berkerut. "Seharusnya kau memberi solusi."

"Sudahlah." Putus Jungkook sambil menarik tangan Taehyung, memeluknya.

"Jungkook….," Taehyung merengek namun Jungkook tak peduli dan memeluk lebih erat.

.

.

.

"Jungkook!" Jimin berseru dengan heboh dan langsung melompat memeluk erat.

"Jimin!" protes Jugkook tentu saja diabaikan Jimin.

"Kapan kembali? Kenapa tidak memberi kabar? Bagaimana liburan kalian? Menyenangkan? ceritakan semuanya padaku." Jimin berdiri di hadapan Jungkook melempar tatapan antusias.

Jungkook nyaris menyentil dahi Jimin untuk menghentikan racauan sang sahabat, namun ia tak tega. "Kemarin pagi aku kembali, aku tidak memberi kabar karena kau pasti masih tidur. Di sana menyenangkan, ceritanya tentu saja rahasia. Cepat menikah dan pergi sendiri ke sana, kau tidak akan menyesal. Aku jamin."

Jimin tersenyum lebar mendengar jawaban panjang Jungkook. "Kulitmu lebih gelap."

"Aku tidak peduli." Balas Jungkook sambil mendudukan dirinya pada meja kerja. "Sebenarnya aku malas kembali."

"Dilarang melupakan tanggung jawab." Balas Jimin dengan nada suara menyebalkan. "Ada berita, kau mau lihat?"

"Tentang aku dan Taehyung?"

"Memang ada yang lain? Kalian berdua menjadi isu panas." Jimin berucap sambil menunjuk wajah Jungkook.

"Wah, aku tidak menyangka kami seterkenal itu."

"Kau tidak tahu berapa banyak orang yang menangis di luar sana saat kau memutuskan menikah." Cibir Jimin.

"Kau iri?"

"Cepat sana menikah, aku dengan suka rela akan mengadakan sensus berapa banyak orang di luar sana yang menangis saat kau menikah. Park Jimin."

"Tidak, aku tidak seberani kau." Jimin tersenyum canggung. "Baca sendiri." Jimin lantas menyerahkan ponselnya pada Jungkook.

Jimin mendudukan dirinya di depan meja kerja Jungkook, membuka kaleng soda yang tadi dia bawa. "Taehyung langsung bekerja?"

"Hmm…, Seokjin hyung ingin dia melakukan hal lain."

"Pindah bagian?"

"Kurasa."

"Bagaimana Taehyung sepulang liburan?"

"Bagaimana apanya?" Jungkook membalas pertanyaan Jimin sambil lalu, kedua matanya lekat menatap layar ponsel.

"Apa ada yang berubah dari Taehyung setelah kalian menikah?"

"Dia—kurasa—tidak sedingin yang aku kira."

"Kau bahagia?"

"Tentu saja. Wah! Mereka bahkan tahu jika aku bertemu G-Dragon di Maladewa."

"Mereka punya banyak mata dan telinga. Mengerikan…," Jimin menanggapi dengan nada suara ketakutan yang dibuat-buat. "Apa?" Jimin menatap Jungkook yang menyodorkan ponselnya kembali. "Kau sudah membacanya?"

Jungkook menggeleng. "Aku malas, bisa kau bacakan untukku?"

"Aku heran bagaimana kita bisa berakhir menjadi sahabat." Gerutu Jimin, namun dia tetap membacakan berita yang Jungkook minta. "Liburan menyenangkan di Maladewa, Jeon Jungkook dan Kim Taehyung atau mungkin Jeon Taehyung terlihat bahagia, tapi apakah Taehyung bersedia mengubah namanya? Ada yang bersedia memberi informasi akurat? Mari kita tunggu kabar baik yang lain dari pasangan muda ini."

"Kabar baik apalagi? Apa pernikahan kami belum cukup?"

"Tentu saja belum cukup." Balas Jimin yang kali ini sudah sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi sang kekasih.

"Apalagi yang mereka inginkan?"

"Anak."

"Anak?!" Jungkook terkejut dengan pernyataan Jimin.

Jimin melempar tatapan malas. "Jangan berpura-pura polos Jeon Jungkook. Kau pasti sudah paham maksudku, dan kalian pasti sudah melakukannya?" Jimin menaik turunkan alisnya menggoda Jungkook.

"Tentu saja, kami sudah menikah." Jawaban Jungkook membuat wajah Jimin merona. "Jangan berpikiran kotor!" peringat Jungkook sambil menunjuk wajah Jimin.

"A—aku tidak berpikir kotor!" Jawaban terbata Jimin justru membuktikan kebenaran, Jungkook melirik tajam membuat Jimin gugup. "Sudahlah!" putus Jimin. "Jadi bagaimana dengan anak? Apa kalian sudah merencanakan sesuatu?"

"Tidak ada rencana sama sekali."

"Kalian menundanya?"

"Tentu saja tidak!" Jungkook meneriaki Jimin.

Jimin melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Jungkook malas. "Katakan dengan jelas kau ini membuatku bingung." Gerutu Jimin.

"Aku tidak menunda anak, tapi aku juga tidak tergesa-gesa. Hmm.., bagaimana caranya menjelaskan padamu ya."

"Aku sudah paham."

"Baguslah aku tidak perlu menjelaskan lebih banyak lagi padamu."

"Hari ini menginap lagi di rumah kakak Taehyung?"

"Sepertinya iya, mungkin baru besok kami bisa kembali ke apartemen."

"Hmm…, baiklah."

"Bagaimana hubunganmu dengan Yoongi?"

"Baik."

"Baguslah."

Jimin menatap Jungkook kemudian tersenyum tanpa mengatakan hal yang lain.

.

.

.

"Di sini membosankan…," Taehyung mengeluh sembari merebahkan kepalanya di atas lengan yang dia lipat di atas meja. Bekerja di dalam ruangan bukan favoritnya. "Kenapa aku dipindahkan ke sini? Kenapa aku harus melakukan pekerjaan Seokjin hyung." Gerutuan Taehyung sama sekali tak berhenti.

"Kim Taehyung!"

"Astaga!" Taehyung mengangkat kepalanya terlalu cepat, dan langsung berhadapan dengan wajah Namjoon, kakak iparnya. "Kau hampir membuatku menjatuhkan monitor komputer." Taehyung kembali menggerutu.

Namjoon tersenyum lebar, ia lalu mendudukan dirinya di hadapan Taehyung. "Aku senang kau kembali." Namjoon berucap dramatis.

"Aku memang sulit untuk dilenyapkan." Balas Taehyung sekenanya.

"Aku serius Kim." Tatapan Namjoon berubah tajam.

"Kau juga seorang Kim." Namun Taehyung tak akan pernah merasa terbebani dengan tatapan Namjoon.

"Apa kau sudah tahu kabar baik?"

"Seokjin hyung hamil!"

"Belum, tapi kami merencanakannya."

"Apa kalian sudah berusaha?" Namjoon tertawa mendengar pertanyaan Taehyung. "Aku serius."

"Kami berusaha setiap hari."

Sekarang giliran Taehyung melempar tatapan malas. "Maksudku kalian sudah mengunjungi dokter untuk meminta saran atau kalian sudah memeriksakan diri, kalian berdua baik-baik saja kan? Tidak ada masalah?"

"Ya, kami berdua baik-baik saja."

"Kenapa bukan Namjoon hyung yang berada di posisi ini? Aku tidak ingin menjadi asisten Seokjin hyung, aku menyukai posisiku sebelumnya."

Namjoon menarik kursi di hadapan Taehyung, menatap Taehyung. "Aku bukan siapa-siapa."

Kening Taehyung berkerut. "Apa maksudnya?"

"Hanya kau dan Seokjin pewarisnya, aku tidak memiliki apa-apa di sini kecuali karyawan biasa yang digaji." Taehyung mengangguk pelan. "Media sudah ribut tentang anakmu, apa kau tahu itu?" Namjoon mengalihkan topik pembicaraan.

"Aku bahkan belum hamil."

"Kau tau apa yang mereka katakan?"

"Apa?"

"Kelak anakmu dan Jungkook tak ubahnya seperti pangeran, melihat kedua orangtuanya yang sama-sama pewaris."

"Itu pernyataan yang konyol."

"Itu yang dikatakan hampir semua media massa tentang kalian."

Taehyung terdiam, ia mulai membayangkan masa depannya dengan Jungkook. Masa depan anak-anaknya yang pasti tidak akan pernah sepi dari pemberitaan. "Aku hanya ingin keluarga kecil yang tenang." Taehyung menggumamkan harapannya.

"Aku juga Tae…," keluh Namjoon.

.

.

.

"Berhentilah membuatku bingung Seokjin hyung…," Taehyung mengeluh ketika Seokjin menyeretnya pulang sebelum jam kerja usai, dan sekarang mereka berada di dalam kamar Seokjin dan Namjoon.

"Kau sudah tahu semuanya kan?"

"Apa?"

"Rencanaku dan Namjoon?"

"Tentang rencana memiliki anak?" Seokjin mengangguk pelan. "Lalu apa hubungannya rencana itu dengan Hyung yang menyeretku pulang?"

"Aku membutuhkan dukunganmu."

"Dukungan apa? Hyung ingin mencalonkan diri menjadi Presiden?"

Seokjin nyaris menyentil jidat adik kesayangannya. "Tentu saja tidak!" pekik Seokjin kesal.

"Makanya katakan dengan jelas."

Seokjin memunggungi Taeyung mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya. "Aku ingin kau memelukku jika hasilnya buruk." Ucap Seokjin sambil menunjukkan kotak penyimpanan tes kehamilan.

"Hyung…," Taehyung nyaris merengek, ia benar-benar buruk dalam mendukung seseorang.

"Bagaimana jika kau juga mencobanya?!" Seokjin berucap girang.

"Apa?!" Taehyung memekik. "Aku juga mencobanya?!" Seokjin mengangguk cepat. "Untuk apa?!"

"Apa kau tidak penasaran bagaimana hasilnya setelah berbulan madu." Taehyung mengalihkan tatapannya dari Seokjin, sementara Seokjin hanya menahan senyum melihat wajah memerah Taehyung. "Kau mau melakukannya bersamaku?"

"Bersama-sama masuk ke dalam kamar mandi?" Taehyung menatap Seokjin dengan kedua mata membulat.

"Seperti kita tidak pernah mandi bersama." Seokjin melempar tatapan malas kemudian menyeret Taehyung memasuki kamar mandi.

"Seokjin hyung berhentilah menyeret-nyeretku..," rengek Taehyung dan diabaikan oleh Seokjin tentu saja.

Setelah satu menit yang terasa begitu panjang, Taehyung tahu seharusnya dia tidak berada di tempat ini. Di kamar mandi bersama sang kakak yang sangat dia sayangi, dan melihat kesedihan serta kekecewaan terpancar jelas dari wajah Seokjin. Tangan kanan Taehyung terulur menepuk pelan pundak kanan Seokjin.

"Hyung, lain kali pasti berhasil." Taehyung mengumpat di dalam hati, seharusnya dia bisa mengatakan hal yang lebih baik lagi. Bukan kata-kata tak bermakna seperti yang baru saja dia ucapkan.

"Ya, lain kali." Seokjin berusaha tersenyum namun Taehyung bisa melihat kekecewaan yang teramat dalam terpancar pada wajah kakaknya. Seokjin lantas menarik pelan lengan kiri Taehyung memeluk Taehyung erat. "Lain kali untukku, tapi selamat untukmu Taehyung. Apa kau sudah memikirkan cara memberitahu Jungkook?"

"Aku akan memikirkannya nanti." Taehyung berbisik, mengusap punggung Seokjin pelan. Rasanya sangat egois jika sekarang dia menampakan kebahagiaannya.

"Taehyung, Seokjin! Kalian di dalam?! Kurasa kalian harus melihat ini!" teriak Namjoon dari luar kamar.

TBC

Halo semua terimakasih masih mengikuti cerita ini. Terimakasih review kalian kiyo, juney532, Aya, tsukitsukii, VKookKookV, pxxjm0809, ainindya13, Elldenk, adhakey2309, Hastin99, Sity JoyRise, Xingmandoo, wenjun, Linkz account, VampireDPS, athensvt, vivikim406, GaemGyu92, Fao Baozi, bangtaninmylove, Nadya797, Park RinHyun Uchiha, Albus Convallaria majalis, MelvyE, Kyunie, broke lukas. Sampai jumpa di chap selanjutnya.