BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Mpreg, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member and others

Previous

Setelah satu menit yang terasa begitu panjang, Taehyung tahu seharusnya dia tidak berada di tempat ini. Di kamar mandi bersama sang kakak yang sangat dia sayangi, dan melihat kesedihan serta kekecewaan terpancar jelas dari wajah Seokjin. Tangan kanan Taehyung terulur menepuk pelan pundak kanan Seokjin.

"Hyung, lain kali pasti berhasil." Taehyung mengumpat di dalam hati, seharusnya dia bisa mengatakan hal yang lebih baik lagi. Bukan kata-kata tak bermakna seperti yang baru saja dia ucapkan.

"Ya, lain kali." Seokjin berusaha tersenyum namun Taehyung bisa melihat kekecewaan yang teramat dalam terpancar pada wajah kakaknya. Seokjin lantas menarik pelan lengan kiri Taehyung memeluk Taehyung erat. "Lain kali untukku, tapi selamat untukmu Taehyung. Apa kau sudah memikirkan cara memberitahu Jungkook?"

"Aku akan memikirkannya nanti." Taehyung berbisik, mengusap punggung Seokjin pelan. Rasanya sangat egois jika sekarang dia menampakan kebahagiaannya.

"Taehyung, Seokjin! Kalian di dalam?! Kurasa kalian harus melihat ini!" teriak Namjoon dari luar kamar.

BAB SEMBILAN BELAS

"Jungkook apa yang kau lakukan?!"

Jungkook sedang sibuk dengan kertas-kertas di hadapannya ketika Jimin merangsek masuk dan berteriak keras. "Apa kau bisa menjelaskan ini?!"

Kedua mata Jungkook menyipit mencoba melihat layar ponsel Jimin yang disodorkan padanya. "Apa ini?" Jungkook benar-benar tidak mengerti.

"Baca baik-baik..," suara Jimin terdengar serius ia bahkan nyaris menggeram.

"Yu—Yugyeum." Jungkook menyebut nama Yugyeom dengan terbata.

"Ya, apa kau ingin aku membacakan seluruh isi beritanya?" Jungkook tak menjawab, dia terlalu terkejut dengan isi berita yang baru saja dibacanya. "Aktor pendatang baru Kim Yugyeom mengungkapkan kepada publik tentang hubungan asmaranya dengan Jeon Jungkook yang kandas dua bulan lalu, dia tidak mengira setelah jalinan asmara mereka kandas Jungkook menikahi seorang pewaris, Kim Taehyung. Alasan Yugyeom mengungkapkan hubungan ini bukan demi simpati tapi untuk memberitahukan kepada Jungkook jika dirinya tengah mengandung bayi Jeon Jungkook."

"Itu tidak mungkin Jimin, aku tidak pernah tidur dengan Yugyeom."

Jimin menghembuskan napas lelah, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi berlapis kulit di hadapan Jungkook. "Kau yakin?"

"Aku yakin."

"Mungkin—mungkin kau melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Maksudku kau sedang mabuk."

"Tidak, aku tidak pernah meniduri Yugyeom!" Jungkook tanpa sadar berteriak.

"Mungkin kau melakukannya dalam keadaan mabuk! Aku tahu hal seperti ini akan terjadi Jeon Jungkook, berulang kali aku katakan berhentilah bermain-main! Kau akan terjatuh!"

"Berhentilah memojokkan aku!"

Keduanya berdiri saling melempar tatapan penuh amarah. "Lalu apa? Membutikan jika bayi Yugyeom bukan milikmu? Itu butuh waktu, semua tekanan di luar sana, kau yakin Taehyung mampu bertahan? Taehyung membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mempercayai seseorang setelah apa yang terjadi dengannya dan Hoseok."

"Kita pikirkan nanti!" Jungkook berlari melewati Jimin, dia ingin menemui Taehyung sekarang dan menjelaskan semuanya. Meski ia tidak tahu harus memulai penjelasan dari mana.

Jungkook membiarkan air matanya mengalir keluar, tidak peduli dengan semua tatapan para pekerja. Membayangkan semua kekecewaan Taehyung terhadapnya dan membayangkan yang terburuk terjadi di antara mereka. Tidak, tidak, Jungkook tidak sanggup jika mereka harus berpisah.

.

.

.

"Apa?!" Taehyung dan Seokjin saling menatap, Taehyung keluar terlebih dahulu disusul Seokjin setelah mengamankan alat tes yang baru mereka gunakan dengan melemparkannya ke dalam tempat sampah.

"Hyung ada apa?!" Taehyung langsung menyerang Namjoon setelah membuka pintu kamar.

"Hmm sebaiknya kita masuk atau—kita harusnya menduduki sesuatu."

"Sudah katakan ada apa?!"

"Kau tidak akan menyukainya."

Taehyung tidak peduli dia langsung merebut ponsel Namjoon dan mulai memeriksa apapun yang ada di dalam sana. Namjoon menunggu sedangkan Taehyung, dia tidak mengatakan apa-apa. "Tae?" Seokjin berdiri di belakang Taehyung.

Taehyung langsung menyerahkan ponsel Namjoon kepada Seokjin. "Aku—aku..," Taehyung mencoba mencari kalimat yang tepat. "Aku butuh waktu sendiri, aku—akan baik-baik saja." Ucapnya sebelum bergegas pergi menuju kamar.

"Jin…," perhatian Namjoon beralih pada Seokjin.

"Brengsek!"

"Seokjin dengar, semua ini belum tentu benar jangan terbawa emosi."

Seokjin menatap Namjoon sengit. "Jangan mencoba menghentikan aku, Kim Namjoon." Ucap Seokjin penuh peringatan sebelum melempar ponsel Namjoon ke sembarang arah.

"Astaga! Aku salah sudah menunjukkan berita ini pada kalian!" keluh Namjoon sambil berlari mengejar langkah kaki Seokjin.

Seokjin melangkah cepat tak peduli dengan panggilan Namjoon, di dalam kepalanya hanya ada satu hal. Menemui Jeon Jungkook secepatnya. "Seokjin hyung!" Namjoon memanggil sekali lagi, untuk memancing akal sehat Seokjin kembali. Seokjin terus acuh. "Seokjin hyung aku mohon!" Namjoon berteriak di hadapan Seokjin, setelah memaksa Seokjin untuk menghentikan langkahnya.

"Namjoon kau jangan menghalangiku." Geram Seokjin.

"Aku tahu masalah ini sangat pelik, tapi kita harus membicarakan hal ini dengan kepala dingin. Seokjin hyung, aku mohon." Namjoon menatap kedua mata Seokjin penuh harap. "Aku yakin Jungkook tidak sebrengsek itu."

Rahang Seokjin mengeras, ia mencoba meredam amarahnya. "Bagaimana jika Jungkook benar-benar brengsek? Bagaimana dengan Taehyung?!" Seokjin tanpa sadar berteriak.

"Kita akan menemukan jalan keluarnya, aku yakin itu. Jangan terbakar amarah Hyung. Taehyung pasti membutuhkanmu, kau tetaplah tinggal biar aku yang menemui Jungkook dan berbicara dengannya." Seokjin terlihat ragu.

"Kau percaya padaku kan?" Namjoon bertanya dengan penuh perhatian. Pada akhirnya Seokjin mengangguk pelan. Namjoon tersenyum ia menarik tubuh Seokjin, memeluknya singkat, kemudian mengecup dahi Seokjin. "Tinggalah di sini, temani Taehyung." Seokjin mengangguk pelan.

Belum sempat Namjoon memasuki mobilnya, ia melihat mobil Jungkook memasuki halaman rumah. Tak lama Jungkook melompat turun dari mobil dan berlari dengan panik menuju Namjoon. Melihat kedatangan Jungkook membuat amarah Seokjin yang tadi mereda, kembali meledak.

"Jeon Jungkook!"

"Seokjin!"

Teriakkan Seokjin dibarengi oleh teriakkan Namjoon. Namjoon berdiri di antara Seokjin dan Jungkook. Mencegah Seokjin melayangkan pukulan pada wajah Jungkook. "Aku mohon, kita bicarakan semua ini dengan kepala dingin."

Seokjin masih mengepalkan telapak tangan kanannya, namun, ia terlihat lebih tenang dan Namjoon yakin Seokjin tidak akan melayangkan pukulan. "Sekarang, kita masuk ke dalam." Ajak Namjoon, Seokjin mengangguk pelan, memutar tubuh dan berjalan mendahului Namjoon serta Jungkook.

Jungkook mengikuti Namjoon dan Seokjin ke ruang keluarga. Ia duduk seorang diri di bawah tatapan tajam Seokjin dan Namjoon. "Dimana Taehyung?"

"Kamar, dia butuh waktu sendiri." Balas Seokjin. "Kau bisa menemuinya setelah menjelaskan pada kami."

"Bukan aku yang melakukannya, kami memang sempat berkencan tapi kami tidak pernah tidur bersama."

"Kau yakin?" Seokjin menatap Jungkook curiga.

"Aku yakin Seokjin hyung."

"Mungkin kau sedang mabuk."

"Aku tidak pernah minum sampai mabuk, kemampuan minumku hebat." Jungkook mencoba bercanda di akhir kalimat tapi semua itu gagal. "Bukan aku yang menghamili Yugyeom, aku yakin itu."

"Meski kau yakin, tapi semua foto ketika kalian masih berkecan sudah beredar ditambah semua ulasan berita tidak benar ini, dan akan butuh waktu untuk mengetahui bayi Yugyeom anakmu atau bukan." Namjoon menerangkan secara jelas dan Jungkook merasa benar-benar pening sekarang.

"Entahlah Hyung." Ucap Jungkook sambil memijit pelan kedua pelipisnya. "Yang terpenting sekarang, aku ingin bertemu dengan Taehyung dan mendapat kepercayaannya."

"Jungkook." Seokjin memanggil nama Jungkook pelan.

"Ya, Seokjin hyung?"

Seokjin menjilat cepat bibir bawahnya. "Tae—Jungkook, Taehyung hamil."

"Apa?!" Jungkook dan Namjoon terkejut. Tanpa berkata apa-apa lagi, Jungkook langsung melesat menuju kamar Taehyung.

.

.

.

Setiap langkah kaki Jungkook terasa begitu berat, semua skenario terburuk sedang berputar di dalam kepalanya. Taehyung berada di kamar lantai dua, Seokjin sempat meneriakinya ketika dia berlari pergi.

Tadi dia ingin sekali bertemu dengan Taehyung, sekarang masih sama, hanya saja sekarang dia tidak yakin apa masih mampu mengatakan maksudnya dengan jelas kepada Taehyung. Apa mungkin Taehyung tidak akan menangis atau kecewa karena dirinya?

Jungkook yakin dia tidak pernah meniduri Yugyeom, namun, ada suara lain di dalam kepalanya yang berteriak lantang jika dirinya mungkin melakukan sebuah tindakan tanpa sadar. Di bawah pengaruh alkohol atau apapun itu, sesuatu yang membuatnya tak mampu mengingat apa-apa. Dan Jungkook mulai gemetar ketakutan akan semua kemungkinan-kemungkinan itu.

Tangan kananya mendorong daun pintu kamar, pelan. ia melangkah dan tak mendapati Taehyung di dalam kamar. pintu balkon terbuka, tak begitu lebar, Jungkook bisa mendengar sayup suara musik dari balkon. Menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. Iapun melangkah menuju balkon.

.

.

.

Taehyung bersandar pada dinding dingin di belakang tubuhnya, ia duduk di atas lantai balkon. Udara di luar mulai menusuk, musim gugur berlangsung singkat. Tinggal menghitung waktu sampai salju turun.

Menjilat pelan permukaan bibirnya yang terasa mulai kering. Taehyung mendengarkan lagu di dalam ponselnya tanpa memakai earphone. Sesekali dia mengikuti lirik dari penyanyi kesukaannya dan Jungkook.

"Jungkook." Gumam Taehyung kemudian tersenyum perih.

"Taehyung."

Terkejut, Taehyung menoleh cepat ke arah sumber suara ia melihat Jungkook dengan tatapan bersalahnya. Berdiri hanya beberapa senti dari tempatnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Jungkook tidak menyangka akan mendapat sambutan yang begitu dingin dari Taehyung. "Tae di sini dingin, sebaiknya kita bicara di dalam."

"Di sini menyenangkan." Jawab Taehyung kali ini tak lagi menatap Jungkook.

Yakin jika Taehyung akan terus mengabaikannya, Jungkook memilih duduk di hadapan Taehyung. Kedua tangan Jungkook bergerak cepat menggenggam telapak tangan Taehyung yang terasa begitu dingin. "Dengar Tae, dengarkan aku. Aku tidak pernah meniduri Yugyeom. Kami memang sempat berkencan, itupun tidak lama."

Jungkook menatap Taehyung penuh harap. "Kau tahu—butuh waktu untuk membuktikan semua ucapanmu, dan selama waktu menunggu itu…," Taehyung menghentikan ucapannya. "Entahlah Jungkook, aku tidak tahu apa aku bisa bertahan denganmu."

"Tidak!" Jungkook tanpa sadar berteriak. "Aku mohon jangan pergi. Tae…, jangan mengatakan perpisahan, aku tidak ingin mendengarnya."

"Jika bayi Yugyeom milikmu, kau harus bertanggungjawab." Ucap Taehyung nyaris berbisik. "Kau haru bersikap dewasa."

"Aku akan bertanggungjawab, aku janji. Tapi aku tidak mau berpisah denganmu. Tae…," Jungkook mengucap nama panggilan Taehyung lemah, membiarkan air matanya kembali mengalir, membiarkan kelemahannya dilihat jelas oleh Taehyung.

Taehyung memalingkan wajahnya dari tatapan Jungkook. Ia mencoba menarik lepas genggaman tangan Jungkook, namun gagal. "Mungkin aku sudah salah mengira, jika hubungan ini benar, jika kau adalah orang yang tepat, aku terlalu naif dengan berpikir kau berbeda dari yang lain…,"

Tanpa menunggu Taehyung menyelesaikan seluruh kalimatnya, Jungkook mendekap tubuh Taehyung erat. "Jika bayi Yugyeom adalah milikku, maafkan aku Taehyung, sungguh, aku minta maaf. Aku bukan orang yang baik di masa lalu, tapi aku sangat mencintaimu dan aku ingin memulai awal yang benar denganmu."

Taehyung memejamkan kedua matanya membiarkan air matanya mengalir keluar. Mungkin, melepaskan Jungkook adalah tindakan yang dia rasa benar untuk sekarang. Tapi, Taehyung tidak yakin apa dirinya bisa benar-benar melepaskan Jungkook untuk esok dan seterusnya.

"Entahlah Jungkook..," Taehyung menggumam pelan dan Jungkook terisak. "Aku benar-benar tidak tahu, harus bagaimana. Tapi—tidak ada salahnya mencoba."

Jungkook tidak mampu mengungkapkan kelegaannya dan mengucapkan terimakasih, isakan tangisnya semakin beradu. Dan yang bisa dia lakukan hanya memeluk Taehyung lebih erat.

TBC

Terimakasih masih mengikuti cerita ini, terimakasih review kalian tsukitsukiii, Glennmoore WW, Aya, ryeolhyun, adhakey2309, ranran, pxxjam0809, lvdhani, taennie, Hastin99, Sity JoyRise, ParkceyePark, Park RinHyun Uchiha, jeontaehyung7, broke lukas, bangtaninmylove, HelloLSn, J Jongkok, juney532, GaemGyu92, MelvyE, anindya13, vivikim406, restiana, Xingmandoo, athensvt, Strawbaekberry, vayasyun, Kyunie, Albus Convallaria, majalis, wenjun. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.