BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Mpreg, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member and others

Previous

Jungkook menatap Taehyung penuh harap. "Kau tahu—butuh waktu untuk membuktikan semua ucapanmu, dan selama waktu menunggu itu…," Taehyung menghentikan ucapannya. "Entahlah Jungkook, aku tidak tahu apa aku bisa bertahan denganmu."

"Tidak!" Jungkook tanpa sadar berteriak. "Aku mohon jangan pergi. Tae…, jangan mengatakan perpisahan, aku tidak ingin mendengarnya."

"Jika bayi Yugyeom milikmu, kau harus bertanggungjawab." Ucap Taehyung nyaris berbisik. "Kau haru bersikap dewasa."

"Aku akan bertanggungjawab, aku janji. Tapi aku tidak mau berpisah denganmu. Tae…," Jungkook mengucap nama panggilan Taehyung lemah, membiarkan air matanya kembali mengalir, membiarkan kelemahannya dilihat jelas oleh Taehyung.

Taehyung memalingkan wajahnya dari tatapan Jungkook. Ia mencoba menarik lepas genggaman tangan Jungkook, namun gagal. "Mungkin aku sudah salah mengira, jika hubungan ini benar, jika kau adalah orang yang tepat, aku terlalu naif dengan berpikir kau berbeda dari yang lain…,"

Tanpa menunggu Taehyung menyelesaikan seluruh kalimatnya, Jungkook mendekap tubuh Taehyung erat. "Jika bayi Yugyeom adalah milikku, maafkan aku Taehyung, sungguh, aku minta maaf. Aku bukan orang yang baik di masa lalu, tapi aku sangat mencintaimu dan aku ingin memulai awal yang benar denganmu."

Taehyung memejamkan kedua matanya membiarkan air matanya mengalir keluar. Mungkin, melepaskan Jungkook adalah tindakan yang dia rasa benar untuk sekarang. Tapi, Taehyung tidak yakin apa dirinya bisa benar-benar melepaskan Jungkook untuk esok dan seterusnya.

"Entahlah Jungkook..," Taehyung menggumam pelan dan Jungkook terisak. "Aku benar-benar tidak tahu, harus bagaimana. Tapi—tidak ada salahnya mencoba."

Jungkook tidak mampu mengungkapkan kelegaannya dan mengucapkan terimakasih, isakan tangisnya semakin beradu. Dan yang bisa dia lakukan hanya memeluk Taehyung lebih erat.

BAB DUA PULUH

Berita tak mengenakan itu sampai ke telinga Yoongi. Seorang Min Yoongi tentu saja tidak bisa bersikap sabar dan santai-santai saja mendengar berita buruk yang menimpa adik kesayangannya. Jadi, di sinilah seorang Min Yoongi berada, di lantai bawah, tempat parkir sebuah apartemen dengan penyamaran lengkap. "Yugyeom."

Langkah kaki Yugyeom terhenti mendengar seseorang menyebut namanya. Dia berbalik dan mendapati seseorang berjaket hitam, dengan masker dan beanie senada. Laki-laki itu menurunkan masker, Yugyeom tak menyangka seorang Rapper terkenal datang menemuinya. "Su—Suga?!" Yugyeom nyaris berteriak.

"Ya. Apa kita bisa berbicara? Kau punya waktu?"

"Tentu!" Yugyeom tanpa basa-basi menarik pergelangan tangan Yoongi. Namun Yoongi menolak untuk mengikuti.

"Aku bisa berjalan sendiri."

Yugyeom membawa Yoongi ke dalam apartemennya, seolah mereka adalah teman baik. Setelah melepas sepatu, Yoongi menyempatkan diri memerhatikan keadaan apartemen Yugyeom. Untuk seorang aktor pendatang baru, Yugyeom memiliki tempat tinggal yang sangat nyaman. Dan Yoongi yakin jika Yugyeom tak membeli dengan uang jerih payahnya sendiri. "Apa kau hamil?"

Yugyeom yang berniat menyajikan minuman untuk Yoongi seketika mematung. Memutar tubuh menatap Yoongi tajam. "Untuk apa aku bercanda soal hal itu? Karirku dipertaruhkan."

"Kau tak memiliki karir yang cemerlang, belum." Maafkan Yoongi dan mulut pedasnya.

"Min Yoongi!" bentak Yugyeom.

"Kau bisa saja menghancurkan kehidupan rumah tangga orang lain."

"Seseorang menghancurkan hidupku."

"Jeon Jungkook?"

"Kau pikir aku bercanda soal itu?"

Menahan geram, Yoongi merogoh saku kanan jaket musim dingin yang sengaja tidak dia lepaskan. Yoongi berjalan menuju Yugyeom. "Lakukan tes lagi, aku ingin melihatnya secara langsung apa hasilnya."

Tanpa mengatakan apa-apa, Yugyeom menyambar kotak tes kehamilan di tangan Yoongi lalu pergi meninggalkan Yoongi di ruang tamu. Memijit pelan pelipis kanannya, Yoongi mulai memikirkan hal terburuk. "Astaga—apalagi sekarang." Keluh Yoongi. Ponsel dalam genggaman Yoongi bergetar, panggilan dari Jimin. Yoongi sengaja mengabaikan panggilan Jimin dan melesakkan ponselnya ke dalam saku jaket musim dingin.

Cukup lama Yoongi menunggu biasanya dia akan merasa bosan dan lelah, namun sekarang semua itu seolah menghilang. Yugyeom kembali ke ruang tamu, melempar hasil tesnya ke arah kaki Yoongi. Kening Yoongi berkerut. "Kau yakin ini anak Jungkook?"

"Aku yakin."

"Sialan." Yoongi mengumpat pelan. "Lalu apa rencanamu? Datang pada Jungkook meminta pertanggungjawaban?" Yugyeom tak menjawab. "Tapi aku masih ragu, kurasa Jungkook tak sebrengsek itu." Yugyeom menyeringai.

"Kau berbohong Kim Yugyeom."

"Berita sudah tersebar."

"Brengsek apa yang kau inginkan?!"

"Yang aku inginkan...," Yugyeom menjawab dengan nada mengejek dia berjalan mendekati Yoongi. "Jungkook milikku, hanya milikku. Tak seorangpun bisa mengambil dia dariku."

"Kau gila." Desis Yoongi.

Yugyeom tersenyum, tangan kanannya bergerak cepat mengangkat dagu Yoongi. "Kita lihat seberapa kuat Jungkook dan Taehyung bertahan."

"Aku akan menghabisimu Kim Yugyeom."

"Oh tidak Sayang, wajahmu terlalu cantik untuk mengancamku. Kau tidak kuat, aku tahu apa yang menimpamu setelah isu plagiasi. Jadi bagaimana bisa kau menyelamatkan mereka?"

Yoongi membisu, Yugyeom tersenyum. Mendekatkan wajahnya pada Yoongi cepat, Yugyeom mendaratkan ciuman singkat pada permukaan bibir tipis Yoongi. "Brengsek!" Yoongi mengumpat, mendorong Yugyeom kasar, mengusap bibirnya menggunakan punggung tangan. Lalu bergegas pergi.

Yugyeom menoleh mengamati pintu apartemen yang ditutup kasar oleh Yoongi. "Kita lihat saja siapa yang menang."

.

.

.

Jimin menunggui Yoongi di depan apartemen. Ia tidak peduli dengan lebatnya salju, maupun teriakan fans Yoongi yang terkadang mengganggu. Beberapa fans bahkan memakinya dan mengatakan jika mereka tidak pantas bersama. Jimin hanya peduli dengan Yoongi. Kekasihnya demam tinggi semalam, lalu hari ini dia tiba-tiba menghilang. Dan lebih parah Yoongi tidak menjawab panggilannya. "Hyung berhentilah membuatku cemas." Keluh Jimin.

Ketika sebuah taksi berhenti di depan gedung apartemen dan Yoongi melangkah keluar kemudian berlari cepat sambil melambaikan tangan pada fans. Jimin hanya bisa terpaku. "Ikut aku." Ucap Yoongi pada Jimin yang terus memandanginya.

"Ada apa? Kau dari mana? Aku yakin menejer tidak tahu jika kau meninggalkan apartemen."

"Ada urusan yang harus aku selesaikan." Yoongi membalas dengan nada malas. Jimin menahan diri untuk tidak meledak, menunggu hingga mereka masuk ke dalam apartemen Yoongi.

"Yoongi!" Jimin tarik lengan kanan Yoongi memaksa keduanya untuk saling berhadapan.

"Jimin aku tahu tubuhmu lebih kuat dariku tidak perlu pembuktian." Keluh Yoongi sambil berusaha melepaskan tangan Jimin dari lengannya.

"Katakan kau pergi kemana?"

"Sejak kapan kau berubah posesif." Canda Yoongi.

"Yoongi." Jimin membalas dengan nada rendah nyaris menggeram, Yoongi cukup cerdas untuk tahu jika Jimin sedang serius sekarang.

"Aku menemui Yugyeom."

"Apa?!" Jimin terkejut, melepas tangannya dari lengan Yoongi.

"Dia hamil tapi itu bukan anak Jungkook, aku yakin. Dia berbohong."

"Brengsek." Umpat Jimin.

"Ya, dia memang brengsek. Seandainya kita menemukan cara yang tepat untuk membuktikan kebohongannya."

Keduanya saling menatap kemudian tersenyum. "Apa kau memikirkan hal yang sama?" suara Jimin terdengar jelas, Yoongi mengangguk pelan. "Kita temukan pria yang menjadi partner Yugyeom."

"Kau benar kita...,"

"Aku bisa melakukannya sendiri." Potong Jimin kemudian menarik pinggang Yoongi. "Sekarang kita urus demammu terlebih dahulu." Jimin tersenyum manis di hadapan Yoongi yang ditanggapi desisan oleh kekasih dinginnya.

.

.

.

Jungkook memerhatikan Taehyung yang sedang sibuk memasukkan beberapa barang ke dalam kardus. Seokjin memaksa Taehyung untuk bekerja di rumah dan cuti dari kegiatan kantor sampai setidaknya, bayi di dalam perutnya lahir.

"Tae."

"Hmm?"

"Kau membutuhkan sesuatu?"

"Tidak."

"Aku bisa membantumu." Jungkook berjalan mendekati Taehyung berniat untuk mulai membantu Taehyung memasukkan barangnya ke dalam kardus.

"Jungkook aku bisa melakukannya sendiri. Kau duduk saja, atau mungkin pergi ke kantin membeli makanan."

"Kau lapar?"

Kening Taehyung berkerut, mendengar pertanyaan Jungkook. "Aku menawarkan sesuatu yang mungkin menyenangkan untukmu. Bukan untukku." Balas Taehyung sebelum memasukkan dua novel ke dalam kardus cokelat.

"Taehyung maafkan aku." Jungkook menyentuh lembut lengan kanan Taehyung namun dia tak mendapat tanggapan. "Taehyung tolong jangan bersikap dingin padaku, aku tahu kau kecewa Tae...,"

"Jungkook kau membuat pekerjaanku semakin lama." Taehyung membalas dingin.

"Taehyung." Jungkook meremas pelan lengan kanan Taehyung tanpa dia sadari. "Maafkan aku. Itu tidak akan cukup, aku tahu. Maafkan aku."

Kedua tangan Taehyung meremas kuat pinggiran kardus. "Bagaimana jika itu bayimu? Bagaimana jika Yugyeom memintamu menikahinya? Meski kau bersikeras menolak, kau harus bertanggungjawab Jungkook."

"Kita tidak akan pernah berpisah, aku janji."

"Janji?" Taehyung menoleh menatap Jungkook kemudian menyeringai. "Jangan pernah berjanji. Itu tidak berguna."

"Taehyung...," Jungkook terdengar putus asa.

Kedua mata sembab Jungkook terlihat jelas oleh Taehyung. "Hidupku seharusnya sederhana Jeon Jungkook. Lalu kau datang dan semuanya berubah."

"Taehyung aku...,"

"Jangan menyentuhku!" Taehyung mendorong tubuh Jungkook keras ketika Jungkook mencoba memeluknya.

BRAKK!

Punggung Jungkook beradu dengan rak buku dengan keras. Dia jatuh terduduk dan sebuah pajangan keramik jatuh menimpa kepala Jungkook. Kedua mata Taehyung membelalak, dia tidak menyangka tenaganya cukup kuat untuk menjatuhkan Jungkook. "Jungkook!" Taehyung panik ketika melihat darah mulai mengalir dari luka Jungkook. Taehyung berlutut di hadapan Jungkook. "Kau berdarah! Maafkan aku! Aku akan mencari pertolongan!"

Jungkook menahan pergelangan tangan kanan Taehyung, menghentikan apapun maksud Taehyung. "Kau masih cemas jika hal buruk terjadi padaku?"

"Tentu saja aku peduli."

"Tapi kau bersikap dingin padaku?"

"Apa aku harus tertawa dan memberimu selamat? Sekarang kita berada di situasi sulit dan kau terus merengek pada keadaan, berjanji jika semuanya baik-baik saja. Buka matamu Jeon Jungkook! Terlepas Yugyeom mengandung anakmu atau bukan, nama baikmu dipertaruhkan sekarang, nama baik keluargamu...,"

"Aku tidak peduli!" teriak Jungkook. "Aku hanya menginginkanmu, aku mohon jangan pergi, dan aku mohon jangan bersikap dingin padaku."

"Aku butuh waktu...,"

"Jika dengan terluka membuatmu kembali peduli padaku. Aku tidak keberatan jika harus terus melukai diriku, atau kau memberiku maaf jika aku mati. Aku akan mengakhiri hidupku untukmu."

"Jungkook jangan meracau!" Taehyung berteriak emosi. "Jika posisi kita berbeda, jika seseorang datang padamu dan mengaku telah menghamiliku apa yang akan kau lakukan? Apa kau bisa percaya padaku begitu saja? Apa kau bisa bersikap semuanya baik-baik saja dan mengabaikan semua pemberitaan?" Taehyung menatap Jungkook lekat. "Ini bukan situasi yang mudah Jungkook. Mengertilah, aku butuh waktu untuk bersikap seperti semula."

"Jika kau tidak mengandung anakku, aku akan tetap mencintaimu. Aku akan menerimamu."

"Sudahlah." Taehyung membalas pelan. "Kita obati dulu lukamu."

"Jangan pergi." Jungkook memeluk Taehyung erat. "Aku mohon jangan pergi, aku tahu aku egois. Maaf, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu. Jika kau pergi aku akan mati." Taehyung tak membalas, menggigit pelan bibir bawahnya. Taehyung kehabisan kata-kata.

"Apa yang terjadi?! Astaga?! Kenapa Jungkook berdarah?!"

Seokjin dan Namjoon pergi ke ruangan Taehyung untuk melihat apakah Taehyung baik-baik saja dan mungkin membutuhkan tambahan bantuan. Namun yang mereka dapati adalah keramik pecah dan kepala Jungkook yang berdarah. Seokjin bergegas memisahkan Jungkook dan Taehyung. "Rumah sakit." Tegas Seokjin.

"Hanya luka kecil." Bantah Jungkook.

"Tidak ada bantahan, kau sudah cukup membuatku naik darah Jeon Jungkook. Jadi tutup mulutmu dan jadilah penurut." Mendengar penegasan Seokjin, Jungkook hanya bisa menghembuskan napas pasrah. "Tae lepas jaketku yang ternoda darah."

Taehyung mengangguk pelan menuruti perintah sang kakak. Dia menunduk untuk melepaskan kaitan resleting jaket musim dinginnya. Namun, pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang. "Namjoon hyung." Taehyung sempat memanggil nama Namjoon sebelum dia jatuh pingsan.

"Taehyung!" panik Namjoon sambil menahan tubuh Taehyung dari benturan dengan lantai yang keras.

Teriakkan Namjoon menarik perhatian Seokjin dan Jungkook. Melihat Taehyung pingsan membuat Jungkook panik, dia berlari cepat menghampiri Namjoon dan mengangkat tubuh Taehyung tidak peduli dengan lukanya yang masih mengalirkan darah segar.

.

.

.

Taehyung terkejut dengan keadaan disekelilingnya, bagaimana dia bisa berada di ruangan asing. Berbaring di atas ranjang yang terkesan membosankan. Di ruangan membosankan. Dan diapun tersentak ketika mengetahui dimana dirinya berada. "Rumah sakit?" dengan kebingungan Taehyung mencoba turun dari ranjang tempat tidur, ketika seseorang memanggil namanya dengan panik.

"Tae!"

Taehyung menoleh dan mendapati Jungkook berlari ke arahnya dari pintu masuk. "Berbaringlah! Jangan mencoba turun dari ranjang tanpa bantuan orang lain!" perintah mutlak Jungkook.

"Kau mendapat berapa jahitan?" Taehyung tak peduli dengan perintah Jungkook dia memerhatikan hal lain. Perban di kepala Jungkook.

"Tidak penting, berbaringlah!" kedua tangan Jungkook berada pada kedua bahu Taehyung mencoba mendorong pelan tubuh Taehyung untuk berbaring.

"Jawab pertanyaanku."

Taehyung keras kepala, bagaimana Jungkook melupakan hal itu. "Hanya satu."

Taehyung menatap Jungkook penuh penyesalan. "Maaf, seharusnya aku tidak mendorongmu dengan keras. Apa lukanya akan menimbulkan bekas?"

"Membekaspun tidak masalah, aku memiliki banyak bekas luka. Aku sudah menjawab pertanyaanmu sekarang berbaringlah." Pada akhirnya Taehyung menurut, Jungkook merasa lega tak perlu berdebat lagi.

"Seokjin hyung dimana?"

"Kembali ke kantor bersama Namjoon hyung. Mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan."

"Hmmm." Taehyung menggumam. "Kau tidak pergi ke kantor?"

"Aku bisa bekerja dari rumah, aku akan jarang pergi ke kantor kecuali ada sesuatu yang benar-benar penting dan tidak ada seorangpun yang bisa menggantikan aku."

"Apa yang terjadi?"

"Kau pingsan."

"Pingsan?" Taehyung melempar tatapan bingung.

Jungkook menaiki ranjang rawat yang cukup besar untuk ditempati oleh dua orang dewasa. "Kau kelelahan itu yang dokter katakan." Tangan kiri Jungkook bergerak pelan, membelai pipi kanan Taehyung. Kulit Taehyung tampak lebih pucat dari biasanya. Kini tangan kiri Jungkook beralih menggenggam telapak tangan Taehyung. "Kau tidak boleh melakukan pekerjaan berat dan menambah waktu istirahat."

"Pekerjaan berat apa? Aku hanya mengemasi barang."

"Itu yang dokter katakan Tae, aku mohon jangan membuatku cemas lagi. Biarkan aku menjagamu dan merawatmu."

Taehyung menatap wajah Jungkook, dia ingin membantah namun Jungkook terlihat begitu tulus dan Taehyung merasa sangat egois jika dia terus menyakiti Jungkook. Pada akhirnya Taehyung hanya mengangguk lemah. Jungkook memeluk tubuh Taehyung erat. "Aku akan mendapatkan kepercayaanmu lagi Taehyung, kau jangan meragukan ucapanku."

TBC

Terimakasih untuk semua pembaca, cerita KookV yang In Beetwen nunggu dulu ya habis cerita ini kelar. Maaf para pembaca sekalian, saya sedang sangat sibuk (curhat). HwasaKook499, Tsukitsukii, AprilKimVTae, taennie, Lvdhani, Han Kim Taehyung, pxxjm0809, anindya13, VampireDPS, Linkz account, bangtaninmylove, Xingmandoo, Nam0SuPD, Sity JoyRise, IchaSua, Leonpie, vivikim406, GaemGyu92, broke lukas, Park RinHyun Uchiha, vayasyun, jeontaehyung7, Albus Convallaria majalis, ParkceyePark, Kyunie, wenjun, rahma12desti, athensvt.