BE MINE

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, Mpreg, Typo selalu mengintai

Cast: All BTS member and others

Previous

"Tae?"

Taehyung tersenyum melihat wajah Seokjin yang menyembul dari balik pintu kamar. "Masuklah Hyung."

Seokjin tersenyum sembari melangkah masuk dan duduk di pinggir ranjang bersama Taehyung. "Melihat apa?"

"Album BigBang, Seokjin hyung mau? Jungkook akan mendapatkannya."

"Ya aku menginginkannya. Makan malam siap, kau sudah mandi?" Taehyung menggeleng pelan. "Dasar pemalas!" gemas Seokjin sambil menarik ujung hidung Taehyung membuat sang adik tertawa. "Tae." Lalu tatapan Seokjin berubah sendu, ia lepaskan tarikannya pada hidung Taehyung.

"Ada apa Seokjin hyung? Wajah Hyung terlihat sedih?" Taehyung bertanya disertai tatapan kecemasan.

"Kau akan tinggal di Negara lain?"

Dengan semua tekanan dari para pencari berita, dan semua gosip-gosip murahan itu rasanya mudah untuk menjawab pertanyaan Seokjin. Tapi kedua mata Seokjin yang berkaca-kaca membuat Taehyung tidak tega. "Aku tidak akan meninggalkan Seokjin hyung."

"Aku tidak ingin menjadi alasan untuk menahanmu, jika kau benar-benar ingin pergi."

Taehyung langsung memeluk leher Seokjin. "Aku tidak akan tinggal jauh dari Seokjin hyung."

Seokjin tersenyum sambil mengusap punggung Taehyung pelan. "Itu melegakan Tae."

BAB DUA PULUH DUA

"Apa yang kau lakukan di sini?" Yugyeom bertanya tajam pada seorang laki-laki yang tak diharapkan kedatangannya.

"Berbicara denganmu, persilakan aku masuk kau tidak ingin orang lain mendengar pembicaraan kita."

Menahan geram Yugyeom mengijinkan laki-laki bernama Mark Tuan itu memasuki apartemennya. "Kau berbohong."

"Jangan menuduh sembarangan."

Mark menahan bahu kanan Yugyeom. "Kau tidak bisa memiliki Jungkook, buka matamu. Kau tidak perlu melakukan langkah picik untuk membuat Jungkook kembali padamu."

"Jangan menasehatiku Mark, pergilah."

"Aku menginginkan anakku dan kau tidak bisa mencegahnya." Yugyeom memilih bungkam, Mark berdiri di hadapan Yugyeom sekarang. Menatap kedua mata Yugyeom. "Jangan menghancurkan kehidupan orang lain Yugyeom aku mohon."

"Aku ingin Jungkook kembali padaku."

"Tidak Yugyeom, jika kau bersikeras semuanya tidak akan berakhir dengan baik."

"Aku menginginkan Jungkook!" teriak Yugyeom.

"Itu hanya keinginan sesaat, kau tidak benar-benar mencintai Jungkook. Dengar, kau memiliki impianmu sendiri jangan mengorbankannya demi sebuah keinginan yang bahkan kau sendiri tak yakin."

"Aku—tidak yakin?" Yugyeom menatap Mark bimbang.

"Kau mencintai Jungkook? Atau kau hanya ingin menjadi bagian dari keluarga terhormat Jeon?"

"Tidak! Aku tidak ingin menjadi bagian dari keluarga terhormat Jeon. Keluargaku sudah cukup terpandang!" kesal Yugyeom.

"Berarti tidak sulit untuk meninggalkan Jungkook kan? Mengatakan yang sebenarnya pada publik."

"Aku….,"

"Hentikan semuanya Yugyeom, aku akan bertanggungjawab." Mark memotong ucapan Yugyeom. "Kita akan menikah, jadi hentikan semuanya. Kau bisa menjadi apapun yang kau inginkan, kau bisa melanjutkan kuliahmu dan menjadi seorang arsitek. Aku ingat seseorang pernah mengatakan padaku jika dia tidak ingin menjadi seorang idol dan dibuntuti."

"Mark aku…,"

Mark langsung memeluk Yugyeom. "Hentikan semuanya jangan melempar dirimu dalam masalah besar."

"Tapi untuk mengatakannya keributan baru akan dimulai."

"Kenapa kau melakukan sesuatu sebelum berpikir?"

"Aku hanya cemburu melihat Jungkook menikah."

"Cemburu karena Jungkook menikah karena apa?" Mark melepas pelukannya menatap kedua mata Yugyeom lembut. "Karena kau masih mencintai Jungkook? Menginginkannya kembali? Atau kau menginginkan hal yang sama terjadi padamu?"

Yugyeom tak langsung menjawab, ia membalas tatapan Mark dan mulai memikirkan semua ucapan laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya setelah Jungkook. Dan satu-satunya laki-laki yang pernah menyentuhnya.

"Kurasa aku menginginkan hal yang sama dengan Jungkook."

"Sekarang kau mendapatkannya."

"Tapi berita lain akan menyebar cepat dan membuat semuanya semakin runyam."

"Kau harus bertanggungjawab atas perbuatanmu."

"Aku tidak ingin tampil di media."

"Tulis permintaan maafmu lalu proting di media sosialmu, itu cukup. Setelah itu kau bisa hidup dengan normal."

"Semudah itu?"

"Kau menginginkan cara yang mudah atau sulit?"

"Tentu saja mudah." Balas Yugyeom.

"Lakukan saranku." Ucap Mark sambil mengacak rambut Yugyeom dengan gemas. "Sudah makan siang?"

"Belum. Kurasa aku juga melewatkan sarapan."

"Astaga Yugyeom!"

"Aku Idol, aku tidak bisa makan sembarangan."

"Kau bukan Idol lagi sekarang, dan kau sedang hamil."

"Ya, kau benar juga. Masak sesuatu yang lezat untukku."

"Tentu." Balas Mark.

.

.

.

"Tunggu di sini."

"Ikut."

"Tidak."

"Ikut, aku ingin bertemu dengan para member."

"Aku akan mengaturnya di tempat yang lebih sepi, dan lebih aman untukmu."

Taehyung menggeleng cepat. "Pokoknya aku ikut, titik."

"Duduk di sini atau aku injak DVD BigBang di tanganku!" ancam Jungkook.

"Jangan!" pekik Taehyung sambil berusaha menyelamatkan DVD BigBang di tangan Jungkook. "Jangan menyakitinya!"

"Sekarang duduk di mobil dan biarkan aku mendapatkan semua tanda tangan member BigBang."

"Terserah!" dengus Taehyung sambil mengalihkan pandangannya dari Jungkook, dia sedang kesal karena Jungkook melarangnya ikut melihat BigBang dari dekat.

"Taehyung…,"

"Pergilah."

"Tunggu di sini aku tidak akan lama." Ucap Jungkook sambil mengecup pelan pelipis kiri Taehyung.

Taehyung mengamati punggung Jungkook yang berjalan menjauhi mobil. Dia benar-benar ingin pergi, Jungkook menyebalkan tapi Taehyung tidak tega jika DVD kesayangannya dihancurkan. Setelah kepergian Jungkook, Taehyung menyibukkan diri dengan bermain ponsel.

Untuk ketiga kalinya Taehyung melihat ke arah pintu. Jungkook belum juga kembali. Dan Taehyung mulai bosan menunggu, setelah mencoba menimbang-nimbang Taehyung putuskan untuk keluar dari mobil. Dia merasa lapar dan haus.

Tidak sulit menemukan penjual makanan dan minuman di luar gedung tempat acara jumpa fans digelar. Taehyung juga melihat banyak penjual souvenir BigBang baik resmi maupun bukan. Taehyung tanpa sadar tersenyum, pemandangan di luar gedung bisa sedikit mengobati kekecewaannya akibat larangan Jungkook.

Taehyung mengamati stan penjual camilan. "Hmmm kurasa aku akan membeli itu." gumam Taehyung sebelum melangkahkan kakinya menuju salah satu stan penjual Gyeranppang roti gurih dengn telur di bagian tengahnya, disajikan panas atau hangat khas makanan musim dingin.

"Tae!"

Jungkook datang dengan wajah cemas dan bisa disebut berantakan. "Mau?" Taehyung menawarkan satu Gyeranppang kepada Jungkook.

"Tae kau tidak mendengarkan pesanku untuk menunggu di mobil."

"Aku bosan. Ayolah di sini tempat yang menyenangkan, hentikan tatapan tajammu itu mari bersenang-senang."

"Aku. Hei!" protes Jungkook ketika Taehyung menarik pergelangan tangan kanannya.

Jungkook sudah menyusun berbagai macam kata untuk membuat Taehyung menyesal meninggalkan mobil, namun wajah bahagia dan senyuman dari Taehyung membuat semua rencana rapi yang telah ia susun hancur.

.

.

.

"Aaaa!" Yoongi berteriak dengan sangat tidak elit, ketika seseorang menarik lengan kanannya. "Aku diculik!" panik Yoongi.

BRAKK!

Pintu kayu tertutup keras. "Aku diculik!" Yoongi berteriak untuk kedua kalinya.

"Hentikan aktingmu. Kau sama sekali tak berbakat."

Yoongi memutar tubuh menatap seseorang di hadapannya dengan tajam. "Kau harusnya memujiku. Siapa tahu aku bisa menjadi aktor terkenal suatu hari nanti."

"Terkenal pemalas."

Yoongi tersenyum lebar, dia terlihat imut meski selalu ingkar. "Kenapa menarikku ke sini Seokjin hyung? Kau berniat selingkuh denganku?!"

"Diamlah Yoongi atau aku akan mengikatmu, dan memasukkanmu ke dalam lemari kaca bersama koleksi Marioku."

"Kejam sekali." Yoongi membalas datar.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku? Melakukan apa?"

"Apa kau berada di balik penarikan pengakuan Yugyeom?"

"Hmm…, itu." Yoongi tersenyum tipis. "Itu ucapan terimakasihku."

"Kau seharusnya bisa bergabung dengan agensi kakakmu, bukan bergabung dengan kami."

Yoongi tersenyum mendengar pernyataan Seokjin. "Aku menginginkan kesempatan yang lebih besar. Agensi besar berarti kesempatan besar, aku serakah. Aku tahu itu."

"Kurasa itu bukan keserakahan."

"Seokjin hyung menyebutnya apa?"

"Strategi."

Yoongi hanya tertawa pelan. "Tapi kurasa Jungkook dan Taehyung tidak akan lama bisa bernapas lega."

"Maksudmu?!" bentak Seokjin.

"Lihat berita terbaru tentang mereka, kuharap Taehyung tak terlalu sensitif dan menanggapi semua berita murahan dengan serius."

"Berita tentang apa?"

"Lihat sendiri Seokjin hyung!" geram Yoongi sebelum memutar tubuhnya menghadap pintu. "Aku pergi, ada urusan yang harus aku selesaikan."

"Jimin?"

"Laguku Hyung! Aku tidak selalu berurusan dengan Jimin!"

"Siapa yang uring-uringan karena Jimin tak membalas pesan selama lima menit?!"

"Itu Yoongi."

"Kau."

"Aku Suga."

"Kau tahu aku ingin sekali mencekikmu sekarang, keluar!"

"Siapa yang menarikku ke tempat ini." Gerutu Yoongi sambil melangkah keluar.

"Dia selalu membuatku emosi." Kesal Seokjin sambil memeriksa berita pada ponselnya, penasaran dengan berita mengenai Jungkook dan Taehyung.

Dalam balutan mantel musim dingin Kim Taehyung terlihat berada di depan gedung Seoul Olympic Gymnastics Arena, terlihat Kim Taehyung tidak memasuki gedung melainkan membeli makanan ringan di depan gedung. Padahal dipastikan jika acara jumpa fans sebelum konser telah digelar.

Namun, yang menjadi perhatian utama adalah bagian perut Kim Taehyung yang tertutup sweter rajutan mahal berwarna hijau tua. Bukan perut datar yang terlihat di sana, apakah ini akibat makanan enak dan hangat selama musim dingin atau hal lain?

Apa kita akan mendengar kabar baik dari keduanya. Kabar tentang calon pewaris keluarga Jeon dan Kim. Sejauh ini belum ada konfirmasi dari kedua belah pihak keluarga. Setelah penarikan pengakuan dari Yugyeom mengenai ayah dari bayi yang dikandungnya. Tampaknya kita akan terus disuguhi berita menarik dari Jeon Jungkook dan Kim Taehyung.

Dahi Seokjin berkerut dalam, dia benar-benar geram dengan semua berita yang baru selesai dibacanya. Mengapa semua pencari berita itu tidak bisa menjauhi kehidupan adik satu-satunya. Dan Seokjin tak bisa berhenti merasa cemas. "Kuharap Taehyung tak berpikir untuk pergi." gumamnya.

.

.

.

Rumah dalam keadaan sepi Namjoon dan Jungkook belum kembali dari kantor masing-masing. Seokjin berjalan gontai menuju kamar Taehyung. Dan dia melihat sang adik duduk di depan perapian dengan sesuatu di tangannya.

Seokjin melangkah mendekat dan dia bisa melihat benda apa yang ada di tangan Taehyung. Benda yang menarik seluruh perhatian Taehyung bahkan tak menyadari kehadirannya.

"Sampai kapan kau memandangi DVD BigBang itu?"

"Hyung!"

"Jangan berlari!" Cegah Seokjin melihat Taehyung yang bersiap untuk menubruknya. Sementara itu Taehyung hanya tertawa menanggapi kecemasan sang kakak. "Apa kau sudah melihat semua berita?"

"Sudah."

"Semuanya?"

Taehyung mengangguk cepat. "Tentang Yugyeom lalu aku dan Jungkook yang berkeliaran di sekitar area konser BigBang."

"Kau tidak terganggu?"

"Kurasa sekarang aku sudah mulai terbiasa. Kupikir hanya Idol yang akan mendapat semua perhatian ternyata juga tidak luput." Taehyung tersenyum tipis di akhir kalimat.

"Jika tinggal di Negara ini membuatmu tertekan, kau bisa pergi. Aku tidak akan menahanmu."

Taehyung meletakkan DVD di tangannya ke atas meja kemudian bergegas menghampiri Seokjin. "Aku tidak akan pergi, Hyung jangan cemas aku tidak akan pergi. Aku akan baik-baik saja, jangan mencemaskan aku. Aku sudah dewasa, percayalah."

"Baiklah aku percaya padamu."

Tentu saja Taehyung bisa mendengar keraguan dalam jawaban Seokjin, namun dia tidak ingin menanyakannya lebih jauh karena Seokjin terlihat lelah sekarang. "Apa pekerjaan di kantor berat? Seokjin hyung butuh bantuan?"

"Tidak. Kau tidak perlu datang ke kantor, kau istirahat di rumah saja."

"Seokjin hyung aku baik-baik saja."

"Aku tidak ingin melihatmu pingsan lagi."

"Baiklah." Balas Taehyung tak ingin berdebat.

"Kau sudah makan siang?"

"Sudah."

"Aku pergi ke kamar dulu, aku ingin beristirahat sebentar sebelum menyelesaikan beberapa pekerjaan."

"Seokjin hyung jangan ragu meminta bantuanku."

"Tentu Taehyung."

Setelah Seokjin pergi Taehyung tiba-tiba merasa bosan dan memutuskan untuk mencari udara segar di halaman belakang. Taehyung pergi ke lapangan basket setelah mengenakan mantel musim dinginnya. Tentu saja dia tidak akan pernah bermain basket, Taehyung bukan orang bodoh.

Ponsel di dalam genggaman tangan kiri Taehyung bergetar. "Jungkook." Gumam Taehyung sebelum memutuskan untuk menjawab.

"Tae kau dimana?!"

"Aku di lapangan basket di belakang rumah."

"Tunggu di sana aku akan menyusul!"

Taehyung memandangi layar ponselnya dengan malas. "Bisakah dia berhenti paranoid satu detik saja." Taehyung menggerutu. Dan ia kembali mengamati langit cerah sampai sebuah panggilan mengganggunya.

"Taehyung!"

Taehyung mengabaikan panggilan Jungkook atau yang lebih tepat bisa disebut sebagai teriakkan. "Apa yang kau lakukan di sini?!" panik Jungkook, terengah, berdiri di hadapan Taehyung.

"Tidur."

"Aku tidak sedang bercanda Taehyung." Peringat Jungkook.

"Mencari udara segar, aku tidak bermain basket tenanglah."

Jungkook melepas lapisan terluar pakaian musim dinginnya kemudian menyelimutkan mantel musim dingin itu ke tubuh Taehyung. "Aku sudah cukup hangat jangan mencemaskan aku Jungkook."

Jungkook tak bergeming dia mengancingkan mantel musim dinginnya yang kini telah berada di tubuh Taehyung. "Kita kembali ke dalam sekarang."

"Seokjin hyung benar-benar cemas jika aku tinggal jauh darinya."

"Aku tahu."

"Mulai sekarang jangan membahas apapun soal racauanku di mobil itu. Aku tidak ingin membuat Seokjin hyung cemas."

"Aku janji. Sekarang kita kembali ke dalam."

Taehyung mengangguk pelan dan membiarkan Jungkook menariknya berdiri, menggenggam telapak tangan kirinya. "Kemampuan basketku lumayan, Yoongi hyung hebat dalam basket."

"Benarkah?!" Tentu saja sulit untuk percaya jika si mungil Min Yoongi ahli dalam basket.

"Yoongi hyung benar-benar hebat dalam basket, jika tidak percaya kapan-kapan kita bertanding bersama."

"Tentu saja tapi tidak dalam waktu yang dekat."

Taehyung menghembuskan napas kasar mendengar kalimat Jungkook. "Ya, tidak dalam waktu dekat, entah mengapa membayangkannya terasa begitu lama." Ucap Taehyung dengan telapak tangan kanan mengusap pelan perutnya.

Jungkook hanya tertawa mendengar gerutuan Taehyung. "Kita bisa mengajarinya bermain basket." Balas Jungkook tangan kirinya bergerak dan mengusap perut Taehyung.

"Jungkook."

"Hmm?" Panggilan Taehyung menarik seluruh perhatian Jungkook.

"Apa kau tidak memerhatikan Seokjin hyung akhir-akhir ini? Dia terlihat lebih pucat dan lebih sensitif. Seokjin hyung tidak suka jika kami tinggal berjauhan tapi tidak separah sekarang. Aku pernah tinggal jauh dalam waktu yang cukup lama demi pendidikan. Seokjin hyung berkunjung setiap bulan tapi…,"

"Tapi apa Taehyung?"

"Sudahlah kurasa hanya aku yang berpikiran seperti ini."

"Kau bisa bertanya langsung."

"Ya, kurasa aku akan bertanya langsung." Taehyung menarik lepas tangannya dari genggaman Jungkook. Dia tersenyum kemudian memeluk leher Jungkook dari belakang.

Jungkook tertawa pelan namun dia tak menolak untuk menggendong Taehyung. "Apa aku berat?"

"Tidak."

"Kau yakin?"

"Aku menjawab dengan jujur Taehyung."

"Kupikir kau akan mengeluh."

"Aku tidak akan pernah mengeluh."

"Kau mencoba merayuku?"

"Bagaimana jika aku merayumu?"

"Kedengarannya bodoh."

"Sebaiknya aku diam."

Taehyung tertawa mendengar kalimat Jungkook. "Aku tahu kau hanya berpura-pura kesal." Ucap Taehyung sambil meletakkan dagunya pada pundak kiri Jungkook. "Aku merasa lebih hangat."

"Karena tambahan mantelku?"

"Karena aku berada di punggungmu."

"Sekarang kau mencoba untuk merayuku?"

"Aku juga ingin belajar merayu, kurasa aku akan mencoba merayu Jimin. Dia selalu mudah ditebak karena wajahnya akan merah padam setiap mendengar rayuan meski dia tak kenal siapa yang sedang merayunya."

"Jangan mencoba merayu Jimin."

"Kenapa? Kau cemburu?"

"Tentu saja aku cemburu!" balas Jungkook yakin.

"Begitu saja kesal, aku kan hanya bercanda."

"Jika kau merayu Jimin aku akan merayu Yoongi."

"Jangan!" pekik Taehyung sambil mengeratkan pelukannya pada leger Jungkook. "Kau hanya milikku." Jungkook hanya tersenyum mendengar kalimat Taehyung yang entah dia sadari atau tidak. Karena Kim Taehyung sangat jarang mengungkapkan cinta secara terang-terangan.

TBC

Hai semua terimakasih masih membaca cerita ini terimakasih review kalian taennie, yoonvi123, armykpoplover, vayasyun, Akatsuki, Strawbaekberry, Tamu, Lvdhani, pxxjm0809, ichalisr, Hastin99, Linkz account, bangtaninmylove, MelvyE, J Jongkok, teukiangle, wenjun, ryeshilee, Park RinHyun Uchiha, VampireDPS, Nam0SuPD, Albus Convallaria majalis, Sity JoyRise, ParkceyePark, kyungiee97, broke lukas, Kyunie, jeontahyung7, vivikim406, TaeJeon, GaemGyu92, rahma12desti, athensvt, yoongiesugar. Sampai jumpa di chapter selanjutnya mungkin chapter yang terakhir see ya….