WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai, HUNHAN (side)
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Previous
"Kenapa mencemaskan hal itu, kau dan Baekhyun itu berbeda jadi jangan memikirkan lagi tentang Baekhyun." Sehun membelokkan mobilnya memasuki halaman gedung apartemen atau flat sederhana berlantai enam.
"Sampaikan salamku pada Baekhyun hyung, katakan jangan cemburu padaku karena aku tidak akan pernah mencintaimu. "Sehun menjulurkan lidahnya menanggapi kalimat Jongin, Jongin mendengus ia lepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil Sehun berlari menuju apartemen sederhana yang ia tempati bersama dengan ibu dan satu kakak perempuannya. Sehun langsung menjalankan mobilnya meninggalkan halaman gedung apartemen tempat tinggal Jongin.
"Jongin, hubunganmu dengan Sehun masih langgeng sampai hari ini."
"Paman, Sehun sahabatku dan dia sudah memiliki kekasih berapa kali aku harus menjelaskannya padamu Paman." Satpam apartemen yang bernama Joonghun itu selalu membuat Jongin kesal jika beliau mulai menggoda dirinya dengan Sehun.
"Paman lihat Sehun sangat mencintaimu."
"Sudahlah Paman. Cepat masuk sana udara mulai dingin sekarang." Jongin mengibas-ngibaskan tangan kanannya, memberi isyarat menyuruh paman Joonhun untuk memasuki posnya, iapun bergegas berlari memasuki gedung.
BAB DUA
Jongin memasukkan anak kunci ke dalam lubang kunci pintu, memutarnya perlahan kemudian mendorong pintu masuk yang terbuat dari kayu bercat putih. "Aku pulang." Ucap Jongin sambil melangkah masuk, melepaskan sepatu yang dia kenakan, meletakkannya ke atas rak sepatu.
"Selamat datang, kau sudah makan?"
"Ya."
"Kapan mulai bekerja?"
"Besok, Ibu belum pulang Kak?"
"Belum." Jongin tak menjawab dia langsung menghampiri kakaknya yang terlihat sibuk. "Jangan menyusul Ibu ke toko itu yang beliau pesankan, istirahatlah besok hari pertamamu bekerja." Jongin menjulurkan lehernya melihat kakak perempuannya yang sedang sibuk mencatat pengeluaran dan pemasukan toko.
Ayah Jongin meninggalkan rumah saat Jongin baru berusia enam bulan, tanpa kabar, meninggalkan ibu dan kakaknya seorang diri, kemudian Hyeerin, ibu Sehun menolong dengan memberikan tempat tinggal di flat ini, memberi modal untuk membuka toko kecil, mencukupi biaya sekolah Jongin dan kakak perempuannya.
"Aku ke kamar dulu." Boram tak menjawab karena dia sedang sibuk mencatat dan menghitung.
Jongin melepas jas dan kemeja yang dikenakannya kemudian memasukannya ke dalam keranjang baju kotor, ia mengenakan kaos lengan panjang yang cukup tebal untuk menghalau udara dingin karena pemanas di sini disetel dalam suhu yang tidak terlalu tinggi untuk menghemat biaya pengeluaran. Jongin kemudian keluar dari kamar dan memanaskan air di dapur.
"Mau kubuatkan teh panas?"
"Hmmm." Boram menggumam terlalu sibuk untuk sekedar menjawab.
Selesai menyeduh teh, Jongin bergabung dengan sang kakak di meja makan dan menyodorkan cangkir tehnya kepada Boram. "Minum tehnya agar kakak merasa lebih hangat."
"Terima kasih Jongin."
"Apa ada yang bisa aku bantu?"
"Memasak makan malam dan merapikan ruang serbaguna."
"Tentu." Jongin menjawab mantap. "Setelah aku menghabiskan teh ini dulu."
"Hmm." Boram kembali menggumam.
.
.
.
"Terima kasih kau sudah meluangkan waktu untuk makan malam denganku Sehun."
"Tentu, seharusnya kita lebih sering bertemu."
"Kau sibuk aku mengerti, jangan memaksakan diri." Baekhyun melirik Sehun, keduanya sedang berjalan bersama menyusuri trotoar setelah makan malam menikmati suasana malam pusat kota Seoul. "Jongin diterima di kantormu?"
"Ya, dia masih magang selama tiga bulan setelah itu akan aku pikirkan dimana anak itu harusnya ditempatkan, mungkin di bagian periklanan mengingat dia mengambil jurusan sastra saat kuliah."
"Ah." Baekhyun menanggapi singkat, jika itu mengenai Jongin, Sehun selalu memikirkannya secara detail tapi mau bagaimana lagi Baekhyun tidak memiliki kekuatan untuk melawan Sehun. Rasa cintanya kepada Sehun terlalu besar, dia juga mencoba mengerti jika Jongin adalah sahabat dan orang yang sangat penting dalam hidup Sehun. "Bagian periklanan berarti dia bekerja bersamaku."
"Itu belum tentu Baekhyun."
"Baekhyun kau suka boneka kan?"
"Ya." Baekhyun menjawab antusias ketika keduanya berjalan melewati toko boneka.
"Ayo masuk, mungkin ada boneka yang kau inginkan."
"Tentu Sehun."
Keduanya melangkah memasuki toko boneka itu, Baekhyun langsung melepaskan pelukannya pada lengan kanan Sehun kedua matanya nampak berbinar, Sehun hanya tersenyum tipis melihat kelakuan sang kekasih. Ia sendiri mulai melihat-lihat boneka yang dipajang di dalam toko. Sehun memang menyukai boneka namun dia sudah berhenti mengoleksi boneka sekarang, kegemarannya beralih pada Action Figure.
Dua boneka beruang dengan pakaian pernikahan langsung menarik perhatian Sehun, tentu dia akan membeli boneka itu untuk Jongin. Sehun langsung mencari keberadaan Baekhyun, laki-laki mungil itu berdiri di depan boneka Rilakuma setinggi satu setengah meter. Sehun berjalan mendekati Baekhyun. "Kau suka?"
"Ya."
"Akan aku belikan untukmu."
"Terima kasih Sehun." Sehun hanya tersenyum dan mengangguk pelan kemudian dia menuntun Baekhyun menuju kasir.
"Saya ingin membeli dua Rilakuma dan dua boneka Beruang yang itu." Sehun menunjuk sepasang boneka Beruang yang dia maksud kemudian dia menarik dua lembar kertas untuk menuliskan alamat. "Dua boneka beruang dan satu Rilakuma tolong antarkan ke sini." Sehun menyodorkan alamat apartemen Jongin kepada si pelayan. "Dan satu Rilakuma ke sini." Sehun menyodorkan kertas berisi alamat rumah Baekhyun bersama dengan kartu kredit miliknya.
Baekhyun hanya diam memerhatikan, dia tidak tahu alamat siapa yang Sehun maksud namun dia yakin itu adalah alamat tempat tinggal Jongin. Baekhyun tidak terlalu akrab dengan Jongin, anak laki-laki manis itu hanya pernah menariknya ke kantin kampus dan mempertemukan dirinya dengan Sehun, satu setengah tahun yang lalu.
Keduanya meninggalkan toko boneka, Baekhyun kembali memeluk lengan kanan Sehun berjalan pelan menikmati suasana malam, menikmati kebersamaan yang sangat jarang untuk didapat. "Apa boneka-boneka itu untuk Jongin?"
"Ya."
Jawaban Sehun membuat dada Baekhyun terasa nyeri namun ia berusaha untuk bersikap tenang dan baik-baik saja. "Sehun, kau belum pernah bercerita padaku tentang Jongin selain fakta bahwa dia sahabatmu."
"Aku bercerita hal yang lain?"
"Apa? Aku tidak mengingatnya."
"Jongin sahabatku satu-satunya, dia orang yang sangat berharga untukku."
Baekhyun menelan ludah kasar, ia benar-benar tidak tahu sampai kapan dirinya bisa bertahan seperti ini. Dia sendiri bingung dengan perasaan Sehun, siapa yang dicintai Sehun sebenarnya, kenapa Baekhyun merasa hanya menjadi bayangan saja di antara hubungan Sehun dan Jongin.
"Kenapa diam? Apa kau kedinginan?"
"Ah ya! Lumayan, ini sudah pertengahan musim gugur." Dusta Baekhyun, kemudian ia dengar tawa pelan Sehun dan dapat ia rasakan rengkuhan hangat lengan Sehun. Baekhyun selalu jatuh dalam pesona Sehun, berulang kali terjatuh, dan berulang kali merasa sakit. Baekhyun tak tahu apa ia harus merasa marah pada Jongin. Merasa marah pada Jongin terdengar tidak adil, Jongin hadir dalam kehidupan Sehun lebih dulu darinya, mereka menjalin persahabatan sangat lama, sementara dirinya baru satu setengah tahun bersama Sehun. Baekhyun berharap dia mendapat jawaban secepat mungkin.
"Pipimu dingin." Baekhyun tersentak ketika Sehun menyentuh pipi kirinya. "Sebaiknya kita pulang sekarang."
"Baiklah Sehun." Baekhyun tersenyum lebar sebagai balasan atas perhatian Sehun, baiklah, ia tak akan memikirkan Jongin sekarang, ia akan menikmati kebersamaannya dengan Sehun, tanpa Kim Jongin.
.
.
.
"Kak, ayolah ganti acaranya kenapa Kakak suka sekali dengan acara musik tidak bermutu seperti itu?"
"Tidak bermutu bagaimana?! Mereka sangat, sangat, sangat tampan, berbeda sekali denganmu! Bocah dekil!"
"Mulai lagi…," gerutu Jongin iapun menyandarkan punggungnya pada sofa, acara musik itu membosankan, wajah-wajah para idola memang mengesankan Jongin akui itu tapi masih ada banyak hal yang bisa dilihat selain wajah-wajah mereka. "Aku akan pergi menyusul Ibu ke toko."
"Pergilah." Balas Boram tak peduli.
"Kakak macam apa dia itu."
"Kau mengatakan sesuatu Kim Jongin?!"
"Tidak!" Jongin memekik kemudian menyambar mantel tebal dari gantungan baju di dekat pintu dan berlari keluar.
Jongin berlari-lari kecil melintasi halaman flat yang tak seberapa luasnya itu. "Jongin hati-hati!"
"Terima kasih paman Joonghun!" Balas Jongin sambil melambaikan tangan kanannya. "Ternyata dingin sekali." Gerutu Jongin sambil mengeratkan mantel yang ia kenakan. Jongin memutuskan untuk kembali berlari untuk menyingkat waktu sekaligus menghangatkan tubuhnya, sedikit berkeringat tidak akan membuat tubuhnya menggigil.
Kurang dari sepuluh menit untuk Jongin sampai di toko milik keluarganya, toko yang menjual sayur dan buah-buahan, terlihat ibunya sedang sibuk mengangkati peti-peti kayu tempat meletakkan buah dan sayur di luar toko, memidahkannya ke dalam. "Ibu."
"Jongin, sudah Ibu katakan untuk tidak menyusul Ibu, kenapa kau keras kepala?!" nyonya Kim benar-benar kesal beliau langsung menempeleng pelipis kanan putranya.
"Aku mencemaskan Ibu sekarang sudah pukul sebelas malam."
"Ibu sudah biasa dengan ini, Ibu juga sering pulang pukul dua belas malam kan? Kau ini."
"Biar aku bantu supaya kita bisa cepat pulang, di luar sangat dingin."
"Baiklah jika kau memaksa, angkat peti apel dan sawi itu."
"Siap Bos!" Jongin mengangkat peti sawi menumpuknya ke atas peti apel karena peti sawi sudah kosong, jadi dia bisa mengangkat dua peti sekaligus ke dalam toko. Jongin meletakkan dua peti itu ke atas meja kayu panjang bersama dengan peti-peti lain, ia berbalik cepat masih ada cukup banyak peti di luar yang harus diangkat.
Langkah Jongin terhenti, melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang berdiri di hadapan ibunya. Jongin memilih untuk tidak keluar dan menunggu di dalam. Tak berapa lama kemudian Sehun masuk dengan peti lemon di tangan. "Apa yang kau lakukan di sini Sehun?"
"Membantu kalian, kebetulan aku lewat."
"Kau darimana?"
"Pergi dengan Baekhyun." Jongin langsung menjulurkan lehernya dia melihat mobil sedan Sehun dengan kaca jendela belakang yang sedikit terbuka, ia melihat Baekhyun di sana.
"Sehun pergilah!" Panik Jongin, ia langsung mendorong punggung sehun. "Pergi, pergi, nanti Baekhyun cemburu."
"Kenapa Baekhyun harus cemburu, kau kan sahabat sekaligus keluargaku." Jongin hanya mendesis menanggapi keras kepala Sehun. "Mungkin besok pagi ketiga boneka yang kau inginkan itu tiba."
"Kau sudah membelinya?!" Jongin memekik bahagia, lupa dengan kekesalannya tadi.
"Ya, aku membelinya tadi."
"Tadi…," Jongin menggantung kalimatnya. "Saat bersama Baekhyun?" Jongin berharap Sehun menggeleng tapi pria berwajah vampire itu justru mengangguk. "Kau…," Jongin kembali mendesis ingin sekali menimpuk kepala Sehun dengan semangka supaya otaknya bisa cerdas sedikit, ah, Sehun sudah cerdas bagaimana jika menyebutnya dengan peka, agar Sehun lebih peka akan perasaan orang lain terutama kekasihnya sendiri, Byun Baekhyun.
"Kenapa?" Sehun melempar pertanyaan tanpa dosa.
"Sudahlah! Masih banyak peti yang harus dimasukkan." Putus Jongin, sudah lelah berdebat dengan Sehun.
Sisa peti, Jongin angkat dengan cepat, ia juga berusaha untuk tidak berbicara dengan Sehun, ia ingin menjaga perasaan Baekhyun persahabatan adalah hal yang penting Jongin mengerti akan hal itu, tapi ia juga tahu jika Sehun sudah bersama dengan orang lain sekarang, mereka tidak bisa melewati batas-batas yang secara tak kasat mata sudah ditentukan, batas antara persahabatan dan hubungan percintaan.
"Selesai Ibu!" Jongin memekik bahagia, nyonya Kim tersenyum lebar beliau langsung mematikan lampu toko dan menyuruh Sehun dan Jongin untuk keluar. "Ayo keluar sekarang, Ibu akan mengunci pintu toko."
"Hmm, aku pergi dulu jangan lupa bangun pagi dan jangan sampai terlambat di hari pertamamu, aku akan mengecek semua karyawan magang besok pagi."
"Ya." Jongin membalas malas. Ia menoleh menatap Sehun dengan heran. "Kenapa kau tidak segera pergi?"
"Baiklah, aku pergi dulu sampai besok Jongin." Ucap Sehun, dan dia baru melangkah keluar setelah mendaratkan ciuman singkat pada pipi kanan Jongin.
Jongin baru berani melangkah keluar setelah mobil Sehun benar-benar pergi. "Ibu kunci pintunya aku tunggu." Ucap Jongin, nyonya Kim tak mengatakan apapun dan memilih untuk mengunci pintu toko.
"Ayo pulang." Jongin tersenyum dan membiarkan ibunya memeluk lengan kirinya, keduanya berjalan pelan bersama. "Tak apa kan jika kita berjalan pelan?"
"Tidak apa-apa Ibu, aku bersedia berjalan sangat pelan untuk Ibu." Jongin menoleh menatap wajah ibunya dengan senyuman yang menghiasi wajah manisnya.
"Jongin, mungkin kau harus sering keluar dengan orang lain atau mungkin kau harus mencari kekasih agar—agar Sehun tak terlalu dekat denganmu."
"Aku sudah memiliki kekasih sebenarnya Ibu, tapi aku belum mengatakannya pada Sehun."
"Sebaiknya kau cepat mengatakan hal itu pada Sehun."
"Baiklah," desah Jongin.
.
.
.
"Kita sudah sampai." Ucap Sehun dengan nada ceria pada Baekhyun, mobilnya sudah terparkir di depan gedung apartemen mewah tempat tinggal Baekhyun.
"Sehun."
"Ya, ada apa Baekhyun?"
"Jika aku memintamu memilih antara aku dan Jongin, siapa yang akan kau pilih?"
"Apa maksudmu Baek?"
"Apa posisiku? Kenapa aku merasa Jongin lebih berarti bagimu dibandingkan aku." Baekhyun menoleh, keduanya bertatapan dan Baekhyun sekali lagi kehilangan kekuatannya untuk melawan Sehun kala memandang tatapan dingin Sehun.
"Masuklah sudah malam, tidur yang nyenyak Baekhyun." Menahan sesak dan menahan tangis Baekhyun keluar dari mobil Sehun, seharusnya malam ini sempurna seandainya Sehun tak melewati toko milik keluarga Jongin.
"Sebenarnya apa posisiku Sehun," bisik Baekhyun dengan nada perih sementara mobil Sehun sudah pergi dari halaman gedung apartemen tempat tinggalnya.
.
.
.
"Aku telat!" Jongin berteriak di dalam hati, sementara kedua kaki panjangnya berlari secepat mungkin menyusuri trotoar. Pagi ini ia harus berdebat dengan kakak perempuannya tentang boneka beruang berpasangan yang memakai pakaian pernikahan. Dan bibirnya benar-benar bodoh dengan mengatakan jika boneka itu memang dia beli untuk mengejek sang kakak. Perdebatan menjadi panjang dan di sinilah akhirnya, terlambat di hari pertama kerja.
Jongin melangkah memasuki gedung perusahaan, dia melihat banyak sekali karyawan magang mungkin sekitar seratus orang dan dirinya menjadi orang terakhir yang datang. Seseorang menarik lengan kanan Jongin menyeretnya ke depan. "Berani sekali kau terlambat di hari pertamamu." Geram orang asing itu pada telinga kanan Jongin.
"Kalian jangan mencontoh dia." Sehun menunjuk Jongin yang kini berdiri di sampingnya dengan suara tegas. Jongin menelan ludah kasar, merasa dipermalukan di depan umum, tapi dia mawas diri sudah terlambat di hari pertama. "Kalian silakan bekerja dan…," Sehun menjeda kalimatnya menoleh pada Jongin kemudian menarik tanda pengenal Jongin. "Tuan Kim silakan ikut ke ruanganku." Jongin hanya mengangguk pelan.
Jongin menoleh ke belakang melihat semua karyawan magang dan karyawan tetap di kantor ini melempar tatapan takut sekaligus iba kepada dirinya.
Sehun menutup pintu kantornya. Memutar tubuhnya menantap Jongin dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Maaf aku terlambat." Ucap Jongin takut-takut.
"Kenapa kau terlambat?"
"Aku bertengkar dengan Boram karena boneka beruang."
"Ah bonekanya sudah datang?"
Jongin mengangguk kemudian menatap wajah Sehun. "Kau tidak menghukumku karena aku terlambat?"
"Aku tidak mungkin melakukannya."
"Tadi kau membentakku."
"Tidak mungkin aku bersikap manis di depan seluruh karyawan magang, kau mengerti alasanku kan?" Jongin hanya mengangguk. "Duduklah." Ucap Sehun sambil mendorong punggung Jongin pelan. Jongin duduk di sofa hitam sementara Sehun menghampiri lemari pendingin untuk mengambil minuman. Sehun lantas menghampiri Jongin dan menyodorkan satu botol minuman jus jeruk. "Jusnya baru dimasukan beberapa menit ke dalam lemari pendingin, kau kan tidak terlalu tahan dengan udara dingin."
"Hmmm," Jongin hanya menggumam.
"Kau baru boleh kembali satu jam lagi, nanti aku antar kau ke ruang kerja karyawan magang, agar semua orang berpikir jika kau benar-benar dihukum."
"Kau tidak mengerjakan sesuatu? Atau mungkin ada karyawanmu, sekretarismu yang masuk ke ruangan ini?"
"Aku akan ikut rapat setengah jam lagi, saat aku pergi tidak ada seorangpun yang boleh masuk ke ruanganku." Jongin mengangguk mengerti, ia meraih botol berisi jus jeruk di hadapannya, membuka tutup botol dan meminum sedikit isinya.
"Jongin, mungkin kau harus sering keluar dengan orang lain atau mungkin kau harus mencari kekasih agar—agar Sehun tak terlalu dekat denganmu."
"Aku sudah memiliki kekasih sebenarnya Ibu, tapi aku belum mengatakannya pada Sehun."
"Sebaiknya kau cepat mengatakan hal itu pada Sehun."
Jongin teringat ucapan ibunya semalam, mungkin ini akan mengakhiri kecemburuan Baekhyun dan membuat Sehun sedikit menjauhinya.
"Jongin, kenapa kau jadi pendiam?"
"Ah aku—aku tidak pendiam hanya memikirkan sesuatu."
"Memikirkan apa?"
Jongin benar-benar ragu mengatakannya, Sehun tidak pernah suka jika dirinya memiliki hubungan dengan orang lain sejujurnya Jongin tidak mengerti dengan jalan pikiran Sehun. "Mungkin aku harus mencoba berkencan."
"Kencan?"
"Ya."
"Apa kau sudah berkencan?" Jongin mengangguk pelan. "Dengan siapa?"
"Apa aku harus mengatakannya padamu, lalu kejadiannya akan sama seperti Kris dan Chanyeol, kau tidak suka lalu menyuruhku memutuskan mereka berdua."
"Itu karena Kris mencium perempuan lain dan Chanyeol mabuk di bar, mereka bukan pria baik untukmu."
"Yang sekarang pria baik-baik, kau bisa tenang."
"Jongin." Ucap Sehun dengan nada menuntut dan memberi peringatan.
"Changmin." Jongin menatap wajah Sehun yang masih tampak tidak puas. "Changmin dia kakak tingkatku saat di universitas dulu, sekarang dia menjadi pelatih sepak bola untuk anak-anak di sebuah sekolah sepak bola elit, di Gangnam."
Sehun hanya menatap Jongin lurus tanpa ekspresi. Tatapan tajam itu nyaris membuat Jongin menyembunyikan diri di balik sofa. Sehun terlihat sangat dingin sekarang. "Aku pergi rapat dulu, tetap di sini." Perintah Sehun, Jongin tak menjawab dia hanya melempar tatapan bingung pada Sehun.
"Mungkinkah Sehun jatuh cinta padaku? Tidak, dia mencintai Baekhyun, dan aku juga tidak mencintai Sehun dengan cara seperti itu." Jongin berucap pada dirinya sendiri, setelah pintu tertutup dan Sehun pergi.
Jongin berdiri dari sofa yang ia duduki dan berjalan mendekati jendela, ia membuka tirai putih penutup jendela memandang jalanan yang terletak di bawah. Cukup ramai karena sekarang masih jam kerja dan jam sekolah. "Di sini membosankan," keluh Jongin kemudian ia putuskan untuk mulai mengamati ruangan Sehun. Terlalu mewah, terlalu rapi, sekaligus terlalu membosankan. Jongin kembali duduk dan kini bermain dengan ponselnya.
"Sudah satu jam kan." Ucap Jongin sambil memeriksa ponselnya masih empat puluh lima menit berlalu, Jongin sudah benar-benar bosan maka ia putuskan untuk keluar dari ruangan Sehun. Jongin menjumpai lorong yang sepi dan pintu-pintu kayu yang tertutup.
"Apa kau karyawan magang?" Jongin berbalik menatap seorang staf perempuan dengan rambut cokelat sebahu. "Ruanganmu bukan di sini, ayo aku antar." Jongin mengangguk pelan kemudian melangkahkan kedua kakinya mengikuti si karyawan.
Mereka turun ke lantai tiga. "Ayo." Jongin kembali menurut dan mengikuti. Setelah pintu kembar itu di dorong Jongin melihat ruangan luas namun padat dan disekat oleh papan-papan triplek, bilik-bilik sempit dengan cat biru kusam membosankan. "Kau bekerja di sini, lakukan apapun perintah yang diberikan padamu jangan membuat kesalahan mungkin kau akan cukup beruntung menjadi karyawan tetap di sini." Jongin mengangguk pelan. "Itu bilikmu." Jongin mengikuti arah telunjuk sang karyawan yang bahkan belum ia ketahui namanya.
Karyawan itu pergi, Jongin melangkah mendekati biliknya ada namanya tertempel pada kertas berwarna hijau cerah. Jonginpun duduk dan mulai melihat semua pekerjaan yang harus diselesaikan. "Foto kopi rak tiga, seratus kali." Jongin mengerutkan dahi, kemudian menoleh ke arah rak kayu berukuran besar, di sana tertempel nomor-nomor. "Mungkin itu." Jongin kembali membaca isi pesan yang masih tersisa. "Mengirimkannya ke ruangan Tuan Huang di lantai lima." Jongin menyimpan pesan itu kemudian berdiri dari kursinya dan melangkah menuju rak.
Jongin mengambil map berwarna biru tua dari rak nomor tiga, cukup berat dan saat Jongin membuka map dia melihat kertas-kertas yang dibendel menjadi satu, cukup tebal. "Lima puluh halaman dikali seratus, apa aku sanggup melakukannya dalam setengah jam?" Jongin mendesah kemudian berjalan menuju mesin foto kopi.
"Aku duluan, pinjam sebentar ya." Jongin hanya bisa diam ketika mesin foto kopi diserobot, ia juga bisa mendengar suara cekikikan sepertinya dia memang sedang dikerjai.
Lima belas menit kemudian dan mesin foto kopi masih digunakan. "Apa masih lama?" Jongin bertanya kepada seorang laki-laki yang terlihat seusia dengannya.
"Apa matamu tidak bisa melihat bahwa aku sedang sibuk?!" Teriak sang laki-laki asing itu.
"Aku hanya bertanya jangan marah, tidak perlu berteriak." Ucap Jongin namun si laki-laki itu justru berbalik dan menatapnya dengan tatapan menantang.
"Kau pikir kau siapa? Kau ingin aku menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat jadi kau bisa memakai mesin foto kopi!" Jongin memilih bungkam tak ingin menjawab dan mengundang perkara.
"Siapa yang bertanggungjawab mengirim dokumen ke ruanganku?!" Jongin langsung berbalik dan melihat seorang laki-laki berwajah tampan namun cukup menyeramkan.
"Kim Jongin." Jongin menoleh ke arah pria yang tadi hendak mengajaknya bertengkar.
"Kenapa kau tidak mengantarkannya ke ruanganku?!"
"Maaf, saya belum menggandakannya satupun."
"Siapa yang menyuruhmu menggandakan?! Kau hanya disuruh untuk mengantarkannya ke ruanganku!"
"Tapi di pesan…,"
"Aku tidak peduli dengan alasanmu." Laki-laki itu mendekat dan merebut map di tangan Jongin. "Dasar tidak becus!"
Setelah kepergian pria yang Jongin yakini adalah tuan Huang itu ia hanya bisa menghembuskan napas kasar dan menerima ejekan semua orang berupa tertawaan. "Apa kau ingin menangis Kim Jongin? Kau ingin mengadukan kami pada siapa? Di sini tidak ada kamera pengawas. Satu kesalahan maka kau akan ditendang keluar." Laki-laki yang menyerobot mesin foto kopi itu kembali mengintimidasi Jongin.
Jongin hanya diam dan mengeraskan rahangnya, ia memilih menghindar dan kembali ke biliknya, ia tidak ingin menerima pertolongan Sehun terus menerus. "Kau pikir kau bisa pergi kemana Kim Jongin?" Tangan kanan Jongin disentak dengan kasar membuat Jongin terpaksa berhadapan dengan si laki-laki sok berkuasa. "Kenapa kau tidak membuka mulutmu Kim Jongin?" Jongin masih memilih bungkam, sementara ruangan sudah dipenuhi dengan tawa. "Apa kau bisu?" Si laki-laki itu mengangkat dagu Jongin.
"Kalian di sini untuk bekerja, aku benci perploncoan." Suara dengan nada dingin itu membungkam seisi ruangan. "Lepaskan tanganmu. Kau kumaafkan kali ini sekali lagi kau melakukan tindakan tak terpuji silakan keluar dari sini, maaf aku tidak menyebut namamu, aku tidak tahu siapa namamu." Sehun berjalan mendekat ke arah Jongin dan si laki-laki menyebalkan itu. "Jongin ikut aku hukumanmu belum selesai, ruang kerjamu bukan di sini lagi." Sehun melirik bilik dengan nama Jongin yang tertempel, dia tarik kertas itu dan menyobeknya. "Kau melanggar perintahku Kim Jongin, kau dipecat sekarang juga."
Jongin tersentak mendengar kalimat Sehun. "Jika kalian melanggar peraturanku kalian akan langsung dikeluarkan, aku butuh orang-orang yang berkompeten dan bisa bekerja sama dengan baik untuk membangun perusahaan bukan saling menjatuhkan, Jongin ayo." Jongin mengangguk dan berjalan mengikuti Sehun.
"Kenapa kau melanggar perintahku?" Sehun langsung menuntut penjelasan setelah keduanya berada di ruang kerja Sehun. Jongin duduk di atas sofa sementara Sehun berlutut di hadapannya.
"Aku bosan, lalu keluar dan ada seorang staf yang mengantarku ke ruangan itu." Jongin mencoba menjelaskan. "Aku benar-benar dipecat?"
"Kau dipecat jadi karyawan magang dan langsung diterima bekerja di sini."
"Sehun itu tidak adil."
"Ini perusahaanku."
"Sehun jangan egois."
"Aku percaya dengan kemampuanmu dan aku tidak suka melihatmu ditindas seperti tadi, jadi jangan membantah lagi Kim Jongin."
"Itu akan menimbulkan kecemburuan. Sehun aku tidak ingin memicu keributan sebaiknya, tidak masalah menjadi karyawan magang di sini."
"Baiklah jika itu yang kau inginkan."
"Bagaimana kau bisa menemukanku?"
"Zitao atau tuan Huang melaporkan padaku jika ada salah satu karyawan magang yang tidak mengerjakan pekerjaannya dengan baik, aku berniat memeriksa dan menegur karyawan itu langsung dan ternyata itu kau." Jongin tersenyum mendengar penjelasan Sehun.
"Aku dikerjai, di pesan tertulis jika aku harus menggandakan dokumen untuk tuan Huang sebanyak seratus kali."
"Kau tahu siapa yang mengerjaimu?"
"Tidak, itu tidak penting Sehun." Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, dia terlalu takut untuk menatap kedua mata Sehun secara langsung. "Jangan menghukum karyawan itu, aku baik-baik saja."
Sehun mengeraskan rahangnya, berusaha untuk tidak terbakar amarah. "Akan aku pastikan tidak akan ada yang mengerjaimu lagi. Semua orang akan memperlakukanmu dengan sangat baik di sini."
"Terima kasih." Bisik Jongin.
Tangan kanan Sehun terangkat mengusap pelan puncak kepala Jongin. "Sayangnya kau tidak bisa pulang sekarang, lakukan apa yang kau inginkan. Aku harus menyelesaikan beberapa dokumen. Kau akan pulang bersamaku nanti, tidak ada bantahan."
TBC
Halo semua terima kasih sudah membaca cerita ini, padahal saya tidak berharap banyak untuk cerita ini, saya merasa ini bukan cerita terbaik yang seharusnya saya bagi dengan kalian para pembaca sekalian. Terima kasih reviewnya Guest, Ahyun17, kanzu jk, cute, Wendybiblu, miga, doubleuu, Mommyjongie, sejin kimkai, Guest, riskafebry9294, OhJongin, Kim69, shakyu, sunsein, hunkailovers, Miranty, monggukai88, Jojong, use, penggemarkakboomie, arvipark7, sofhiasekarkharisa, valeriee9488, yoo jay hyeon, Bocah Lanang, Jimingotyesjam, jjong86, elidamia98, KyungXe, NishiMala, nadoxoxo, alita94, Jongina88, Lizz Danesta, Huang Mingzhu, Athiyyah417, xolovxy, vivikim406, OhSehunKimJongin, ismi ryesomnia, Oranyellow chan, OhSehunKimJongin, k1mut, ohkim9488, ClaraYu, tobanga garry, Asamaul,micopak, dhantiee, Sekai Candyland, jongiebottom, Fairyf, YooKey1314, novisaputri09, troalle, Kim762, Kim Jongin Kai, bitchkai, YooKihyun94, ly94, GaemGyu92, wijayanti628. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
