WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai, HUNHAN (side)
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL, Typo selalu mengintai
Previous
"Tidak, itu tidak penting Sehun." Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, dia terlalu takut untuk menatap kedua mata Sehun secara langsung. "Jangan menghukum karyawan itu, aku baik-baik saja."
Sehun mengeraskan rahangnya, berusaha untuk tidak terbakar amarah. "Akan aku pastikan tidak akan ada yang mengerjaimu lagi. Semua orang akan memperlakukanmu dengan sangat baik di sini."
"Terima kasih." Bisik Jongin.
Tangan kanan Sehun terangkat mengusap pelan puncak kepala Jongin. "Sayangnya kau tidak bisa pulang sekarang, lakukan apa yang kau inginkan. Aku harus menyelesaikan beberapa dokumen. Kau akan pulang bersamaku nanti, tidak ada bantahan."
BAB TIGA
"Selamat pagi Jongin cepat sarapan dan berangkat kerja sana."
"Aku dipecat." Balas Jongin kemudian diiringi oleh senyuman lebar.
"Apa?!" Boram memekik keras, memekakan telinga, Jongin langsung mengerucutkan bibirnya.
"Aku heran kenapa Kakak tidak jadi penyanyi opera, aku rasa Kakak akan langsung terkenal." Jongin menggerutu sambil mengusap-usap kedua telinganya.
"Apa yang kau lakukan sampai dipecat?!"
"Aku terlambat di hari pertama, perusahaan Sehun kan sangat tegas." Jongin kembali membalas santai, iapun duduk di belakang meja makan dan mulai mengambil nasi.
"Semua karena kau bertengkar denganku kan?"
"Iya, tapi tidak usah dipikirkan."
Boram benar-benar menyesal sudah mengakhiri karir sang adik. "Maafkan aku Jongin."
"Sudah aku katakan tidak usah dipikirkan, aku juga salah meledek Kakak seperti itu jadi kita impas." Jongin tersenyum lebar sambil menatap wajah Boram yang tertekuk, kemudian perhatiannya kembali tersita pada sepiring nasi goreng di hadapannya.
"Lalu apa rencanamu?"
"Aku akan sarapan dan berangkat ke kantor karena aku mengerjaimu."
"Dasar!" pekik Boram kemudian memukul puncak kepala Jongin keras. Jongin hanya bisa mengeluh pelan. Tak lama wajah Boram berubah serius. "Sebenarnya sejak awal aku curiga dengan ucapanmu. Aku tidak percaya Sehun memecatmu meski kau membakar gedungnya." Boram melempar tatapan penuh kecurigaan.
"Itu terlalu berlebihan, jika aku membakar gedung kantor Sehun tidak akan memecatku, tapi dia akan langsung memasukkan aku ke penjara."
"Tidak mungkin!" pekik Boram. "Sehun bahkan rela kembali dari Jepang saat kau demam.
"Ya…," gumam Jongin malas mengingat betapa tidak masuk akalnya tindakan Sehun selama ini.
"Ibu akan ke toko dulu, Boram susul Ibu setelah selesai sarapan." Ucap nyonya Kim kepada putri pertamanya.
Jongin masih sibuk mengunyah sarapannya dan Boram entah sejak kapan mulai memerhatikan setiap tingkah laku Jongin. "Apa boneka-boneka itu pemberian Sehun?"
Jongin mengangguk cepat. "Aku yang memintanya."
PLAK!
Boram mendaratkan pukulan di kepala Jongin. "Kenapa memukulku?!" Protes Jongin.
"Kalau seperti itu terus tentu saja Baekhyun akan cemburu bodoh!"
Jongin mengusap-usap kepalanya yang malang.
"Sehun lebih mencintaimu dibanding Baekhyun."
"Kakak ini bicara apa? Tidak masuk akal." Cibir Jongin.
"Kau mau membuktikannya."
"Tidak." Jawab Jongin tegas, dia sudah malas menanggapi ledekan-ledekan dari orang-orang di sekitarnya yang salah paham mengenai hubungannya dengan Sehun.
"Memang ada hari dimana Sehun tidak menemuimu?"
"Tentu saja ada, saat dia sibuk, saat dia ada tugas di luar negeri dia tidak menemuiku."
"Tapi dia menghubungimu."
"Ya—itu memang benar."
"Lalu berapa kali dia mengajakmu ke luar negeri?"
"Baru tiga kali ke Inggirs, Amerika, dan Jepang."
"Apa Baekhyun diajak?"
"Tidak."
"Apa Sehun pernah melupakan ulang tahunmu?"
"Tidak."
"Apa Sehun melupakan ulang tahun Baekhyun?"
"Ya."
"Apa Sehun datang ke upacara kelulusanmu?"
"Ya."
"Apa Sehun datang ke upacara kelulusan Baekhyun?"
"Tidak."
"Apa Sehun tampak tidak senang jika kau menjalin hubungan dengan orang lain?"
"Dia biasa-biasa saja."
"Apa dia menyarankanmu untuk putus?" Jongin mengangguk pelan, Boram menghembuskan napas kasar. "Apa yang Sehun tidak sukai Jongin?"
"Yang Sehun tidak sukai…," Jongin menggumam pada dirinya sendiri, mencoba mengingat. "Dia tidak suka jika ada orang lain duduk di sampingnya saat mengemudi, dia tidak suka jika orang lain mengacak rambutnya, dia tidak suka jika orang lain terlalu sering menyentuhnya, dia benci dengan orang yang berisik."
"Saat kau melanggar semua hal yang tidak Sehun sukai, apa dia marah padamu?"
"Ti—dak. Dia tidak marah padaku."
"Sehun pernah bercerita padamu tentang hubungannya dengan Baekhyun." Jongin mengangguk pelan. "Apa?"
"Baekhyun cemburu padaku, saat itu Sehun mengatakannya dengan bercanda, Baekhyun terlalu sering menyentuhnya dan Baekhyun juga terkadang bercerita terlalu panjang, Sehun merasa terganggu."
"Tapi saat bersamamu Sehun melupakan semua hal yang tidak disukainya."
"Maksud Kakak apa?"
"Apa Sehun marah saat kau duduk di sampingnya?" Jongin menggeleng cepat. "Dia justru menyuruhmu untuk duduk di sampingnya saat dia mengemudi kan?" Jongin mengangguk. "Sehun benci jika orang lain menyentuh kepalanya atau mengacak rambutnya, tapi kau dengan seenak hidung minimalismu itu selalu menarik rambut Sehun saat kesal."
"Hidungku tidak minimalis," gerutu Jongin sedikit kesal.
"Sehun tidak terlalu suka dengan kontak fisik, tapi denganmu kulihat justru sebaliknya, Sehun yang tampak agresif menyentuhmu, apa kau pernah menyentuh Sehun?" Jongin menggeleng, Boram menyeringai sedikit menyeramkan. "Bagaimana jika mulai sekarang kau sering-sering menyentuhnya dan melihat bagaimana reaksi Sehun padamu?"
"Aku bisa ditembak mati oleh Baekhyun, selain itu apa-apaan saranmu itu?! Tidak berguna." Jongin mencibir.
"Kau kan ingin tahu perasaan Sehun terhadapmu jadi lakukan saja saran jeniusku!" Pekik Boram tidak mau kalah. "Sehun benci dengan orang berisik, tapi kau sangat berisik Jongin."
"Aku tidak berisik."
"Ya, kau tidak berisik di depan orang tak dikenal tapi percayalah di depanku dan di depan Sehun kau ini sangat berisik."
"Sudahlah, jangan mengejekku lagi dan jangan membicarakan tentang hubunganku dengan Sehun, kepalaku pening."
"Kurasa Sehun mencintaimu tapi dia belum sadar dengan perasaannya, atau dia sudah sadar tapi kau yang tidak peka!" Boram memekik kesal. "Hidung minimalis."
Jongin mendengus kemudian berlari menuju pintu. "Cucikan piring kotorku ya!" Pekiknya sebelum membuka pintu, berlari keluar dan membanting pintu. Jongin bisa mendengar teriakkan histeris Boram tapi siapa yang peduli.
"Dimana Kakek Tua itu," gumam Jongin sambil menoleh memeriksa pos si penjaga keamanan flat. Jongin berhenti di depan jendela pos menatap wajahnya lekat-lekat. "Hidungku tidak minimalis tapi jangan dibandingkan dengan milik Sehun, kalah jauh." Gumamnya pada dirinya sendiri kemudian kembali melangkah panjang-panjang menuju halte bus.
"Astaga!" pekik Jongin, tidak percaya dengan siapa yang berdiri di halte bus sekarang.
"Apa?" Sehun bertanya malas.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" telunjuk kanan Jongin tertuju pada wajah tampan tanpa ekspresi milik Sehun.
"Menunggu bus untuk ke kantor."
"Haah!" hembusan napas kasar Jongin keluarkan. "Kau punya lima sopir pribadi dan puluhan mobil mewah pribadi, bohong besar kau datang ke sini untuk naik bus. Jarak kediamanmu dengan halte bus di depan flat tempat tinggalku cukup jauh."
"Kenapa kau sibuk memikirkan alasanku? Presiden saja tidak peduli aku berangkat ke kantor naik apa." Balas Sehun dengan jawaban paling menyebalkan menurut Jongin.
"Terserah!" dengus Jongin, melipat kedua tangannya di depan dada. Malas berdebat dan malas melihat wajah Sehun.
"Jika aku menjemputmu dengan mobil kau tidak akan bersedia untuk berangkat bersamaku."
"Apa?!" menoleh cepat kepada Sehun, Jongin tak begitu jelas mendengar kalimat Sehun karena suara klakson bus yang cukup nyaring. "Kau mengatakan apa?"
"Tidak ada, busnya datang. Ayo naik." Ucap Sehun kemudian tersenyum tipis, sebelum melangkah mendahului Jongin memasuki bus.
Bus saat jam berangkat kerja seperti sekarang benar-benar penuh. Sehun dan Jongin tidak mendapat tempat duduk. "Apa selalu seperti ini?" tanya Sehun.
Menelan ludah kasar, Jongin merasakan hembusan napas hangat Sehun pada tengkuknya. Sehun berdiri tepat di belakang tubuhnya. "Ya." Balas Jongin singkat.
"Hmm." Sehun menggumam malas. Jika tidak demi Jongin, Sehun tidak akan sudi berdiri di bus padat seperti sekarang. Kedua mata Sehun menyipit tajam menatap seorang pria paruh baya yang duduk di sisi kanan Jongin. Memperhatikan Jongin dengan cara yang tak biasa. Menahan geram Sehun tangan kiri Sehun bergerak cepat, memeluk pinggang Jongin.
Nyaris menyeringai kala melihat ekspresi si pria paruh baya yang berubah muram. Sehun memilih untuk mengacuhkan si pria paruh baya itu dan melihat keadaan sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang menginginkan Jongin.
"Sehun…," protes Jongin dengan suara pelan. "Turunkan tanganmu." Bisik Jongin.
"Tidak." Keras kepala Sehun. "Aku hanya ingin memastikan semuanya aman untukmu." Tegas Sehun.
"Terserah." Jongin benar-benar kehabisan cara untuk mencegah Sehun melakukan apapun yang dia inginkan.
Tidak lebih dari lima menit bus berhenti. Keduanya turun bersama dan melangkah bersama. Jongin sempat keberatan dengan rencana Sehun, dia ingin mereka berpisah dan tak bersamaan memasuki gedung. Sehun menolak mentah-mentah dan bahkan Sehun menggenggam telapak tangan kanan Jongin.
"Sehun…," gerutu Jongin sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sehun.
"Jongin, tenanglah. Dengan begini tidak akan ada lagi yang berniat untuk menindasmu."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri." Balas Jongin.
Sehun tak menjawab, dia terus melangkah. Jongin bisa melihat gedung tempatnya bekerja semakin dekat. Dan Jongin benar-benar ingin menghilang sekarang. Saat semua mata tertuju padanya.
"Selamat pagi Tuan Oh!" sapa seluruh karyawan magang.
Sehun kembali memasang ekspresi datarnya, ia lepaskan genggaman tangannya dari Jongin. Mendorong pelan punggung Jongin, agar Jongin bergabung dalam barisan para karyawan magang. "Kim Jongin, dia sahabatku. Jangan memberinya masalah, atau kalian akan berhadapan denganku." Ucap Sehun, sebelum melenggang pergi dari hadapan semua orang.
Jongin menelan ludah kasar. Dengan canggung dia menatap kesekeliling. Dan sikap semua orang benar-benar berubah sekarang, mereka tersenyum ramah padanya. Bahkan beberapa membungkuk hormat padanya.
"Bukankah kemarin Tuan Oh memecatmu?" tanya seseorang.
"Itu—terjadi kesalahan." Balas Jongin.
Si perempuan muda dihadapannya mengangguk pelan, meski wajahnya menggambarkan bahwa dia ingin bertanya lebih banyak lagi. Namun, ancaman Sehun benar-benar dipatuhi oleh semua orang.
"Baiklah sekarang saatnya bekerja!" pekik salah seorang karyawan yang ditugaskan untuk mengawasi para karyawan magang.
Jongin melangkahkan kedua kakinya mengikuti teman-temannya sesama karyawan magang. Ia mendongak ke lantai atas, melihat Sehun berdiri di dekat dinding kaca, menatap ke bawah. Mengawasinya. Jongin mengangkat tangan kanannya, melambai singkat ke arah Sehun sebelum pergi. Dan sekilas dia bisa melihat senyum tipis Sehun.
Ruangan dimana dirinya berada sekarang lebih bagus dibanding ruangan kemarin, dinding berwarna putih, jendela dengan tirai putih, ada pot-pot tanaman, proyektor presentasi, komputer-komputer diletakkan di atas beberapa meja kerja yang disatukan menjadi satu, tanpa penyekat. Beberapa lukisan juga terlihat menggantung di dinding. Jongin menoleh ke belakang, melihat karyawan magang yang lain berjalan pergi.
"Yang aku panggil namanya, tetap tinggal." Ucap si pengawas.
Jongin menunggu, dan namanya tidak dipanggil. Maka ia putuskan untuk berjalan mendekati si pengawas. "Permisi, apa saya ditempatkan di sini?"
"Di sini bagian iklan. Apa Anda merasa cocok? Silakan tinggal jika Anda merasa cocok, jika tidak, Anda bisa mengikuti yang lain pergi ke ruangan selanjutnya."
"Ti—tidak perlu seformal itu kepada saya, Tuan." Balas Jongin canggung.
Si pengawas tersenyum. "Nama saya Kim Minseok. Salam kenal."
"Ya—ya." Balas Jongin terbata, tangan kanannya terulur untuk berjabat tangan dengan Minseok.
Minseok tersenyum lebar menampilkan dua gigi depannya yang mirip gigi kelinci. "Ah ya, di bagian ini di awasi oleh Tuan Byun Baekhyun. Beliau dipindah dari kantor cabang Daegu ke kantor pusat."
"Ah." Jongin membalas singkat, dia mulai berpikir ulang apa sebaiknya memilih bagian lain? "Saya rasa saya akan melihat bagian lain Tuan Minseok."
"Tentu Tuan Kim Jongin."
"Tidak perlu." Jawaban seseorang menarik perhatian keduanya.
"Selamat pagi Tuan Byun." Minseok bergegas membungkuk hormat.
Baekhyun tersenyum ramah, kemudian berjalan mendekati Jongin. "Kau kuliah sastra pasti sangat menguntungkan memilikimu di bagian iklan."
Jongin menggigit pipi bagian dalamnya, ia merasa ini bukan sesuatu yang baik berada di ruangan yang sama dengan Baekhyun. Baekhyun pencemburu dan Sehun bisa saja datang sesuka hati ke sini. Entah untuk mengunjungi Baekhyun atau mengunjungi dirinya. Bukan masalah jika Sehun datang untuk mengunjungi Baekhyun, namun akan menjadi masalah besar jika Sehun berkunjung untuk dirinya.
"Bagaimana Tuan Kim Jongin, Apa Anda bersedia untuk bergabung dengan divisiku?"
Menelan ludah kasar, Jongin tak melihat ada pilihan. Dia berpikir ada bagusnya bekerja dengan Baekhyun dengan begitu dia bisa mengenal Baekhyun lebih baik dan mengakhiri perang dingin di antara mereka yang tak Sehun ketahui. "Saya bersedia."
"Bagus." Tersenyum lebar, Baekhyun lantas menyuruh Minseok untuk mengawasi karyawan magang yang lain.
Baekhyun melangkah ke tengah ruangan. "Karyawan lain sedang rapat dengan Sehun, mereka akan kembali satu jam lagi."
Jongin memilih untuk menjadi pendengar, tidak mengatakan apapun. "Bagaimana ruangan ini menurutmu? Apa kau suka?"
"Ya, saya menyukainya."
"Tak masalah jika kau ingin memberikan sedikit perubahan. Mungkin—warna cat dindingnya terlalu membosankan, atau kau bisa mengganti tirainya dengan warna kesukaanmu. Tak masalah, Sehun tidak akan keberatan."
Jongin tersentak ia bisa mendengar nada cemburu dalam setiap kata yang Baekhyun ucapkan. "Hyung aku dan Sehun hanya sahabat, jangan terlalu memikirkan hubungan kami."
"Aku tidak cemburu Kim Jongin, kau tenang saja." Balas Baekhyun kemudian tersenyum lebar. "Aku rasa akan sedikit melegakan jika kau memberi sedikit jarak pada hubunganmu dan Sehun."
Jongin menjulurkan lidahnya singkat untuk membasahi bibir bawahnya, tatapan Baekhyun sangat tidak nyaman sekarang. "Akan lebih baik jika kau berkencan."
Jongin mengangguk pelan. "Baekhyun hyung tenang saja, jangan mencemaskan hubungan kami." Jongin tersenyum lebar, Baekhyun hanya melempar tatapan lurus tak pedulinya.
Dan sekarang Jongin benar-benar canggung, tidak tahu harus melakukan apa lagi sementara Baekhyun masih setia dengan tatapan penuh intimidasinya. Pintu ruangan terbuka membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara, delapan orang berjas rapi masuk. Tiga perempuan dan lima laki-laki. Tak berapa lama Sehun melangkah masuk.
"Baek ide iklanmu menarik, kalian bisa melanjutkan dan menyelesaikannya secepat mungkin." Ucap Sehun dengan nada penuh wibawa.
"Tentu Tuan Oh." Balas Baekhyun membungkukkan badannya, dia bersikap formal pada kekasihnya sendiri ketika di tempat kerja.
"Ah!" Sehun tersentak kemudian tersenyum menatap Jongin, semua sikap dinginnya seketika berubah. "Kau bergabung di divisi ini?" Sehun melangkah mendekati Jongin, dan berdiri di hadapan sang sahabat.
Jongin mengangguk takut-takut, dia mencuri pandang kepada Baekhyun. Dan Baekhyun terlihat jelas sangat tidak nyaman.
"Baek aku titip Jongin ya, bimbing dia dengan baik. Kalian harus bisa bekerjasama dengan baik."
"Tentu Tuan." Baekhyun berucap sopan dan sekali lagi membungkukkan badan tanda hormat.
"Semoga kau menikmati hari ini jika ada pertanyaan langsung minta bantuan pada Baekhyun dan anggota timmu yang lain."
"Ya Sehun." Bisik Jongin, ia semakin tidak nyaman dengan semua perhatian Sehun.
Sehun tersenyum tangan kanannya terangkat cepat, mengacak rambut Jongin kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan divisi iklan.
"Kembali bekerja." Perintah Baekhyun pada setiap orang.
"Hyung, aku duduk dimana?" tanya Jongin karena Baekhyun mengacuhkannya.
"Kau bisa duduk dimanapun yang aku inginkan, kau juga bisa mengambil kursi yang lain jika kau menginginkannya."
Mengepalkan kedua tangannya erat, Jongin tidak tahan lagi dengan sikap Baekhyun. "Baek hyung jangan melibatkan masalah pribadi di tempat kerja."
Baekhyun mendongak menatap Jongin tajam. "Apa kau mencoba menasehatiku?"
"Perlakukan aku dengan wajar Hyung, seperti anggota tim Baek hyung yang lain."
Baekhyun tersenyum miring. "Bagaimana aku bisa memperlakukanmu dengan wajar jika Sehun. Oh Sehun, si pemilik perusahaan sendiri sudah memberi ancaman untuk memecat siapapun yang berani membentakmu, menyakitimu, dan membuatmu merasa tidak nyaman. Kau tahu Jongin, bahkan aku, kekasihnya, tidak memiliki hak istimewa di sini. Siapa kau bisa mendapatkan semua perhatian Sehun?"
"Baek hyung…,"
"Cukup." Potong Baekhyun. "Kau bisa belajar menjauhi Sehun setelah itu aku akan merasa lega. Itu sudah cukup."
Menarik napas dalam-dalam, Jongin membalas tatapan Baekhyun. "Baiklah, jika itu yang Baek hyung inginkan. Aku akan menjauhi Sehun mulai detik ini."
Cukup terkejut dengan kalimat Jongin pada akhirnya Baekhyun tersenyum. "Aku senang mendengarnya."
TBC
Halo terima kasih untuk semua yang berminat dengan cerita ini, terima kasih review kalian vira c chlalu, alv, cute, azel, doubleuu, jongbae, Mommyjongie, use, Guest, yuviika, Kanzu jk, NishiMala, hunkailovers, Sejin Kimkai, miga, luckyOne94, Kim Jongin Kai, vegadmp00, GaemGyu92, Wiwitdyas1, elidamia98, micopark, thedolphinduck, ismi ryesomnia, bksekaii, bksekaii, Oranyellow chan, ParkJitta, NisrinaHunkai99, yoongchan, k1mut, eve91, YooKey1314, diannurmayasari15, novisaputri09, RinHyunpark1992, KaiNieris, KyungXe, Kim762, Athiyyah417, vivikim406, tobanga garry, jongiebottom, OhSehunKimJongin, Saiueo, wijayanti628, ClaraYu, YooKihyun94, Asmaul, jjong86, SeKai Candyland, ohkim9488.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya See Ya….
