WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai, HUNHAN (side)
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL
Previous
Mengepalkan kedua tangannya erat, Jongin tidak tahan lagi dengan sikap Baekhyun. "Baek hyung jangan melibatkan masalah pribadi di tempat kerja."
Baekhyun mendongak menatap Jongin tajam. "Apa kau mencoba menasehatiku?"
"Perlakukan aku dengan wajar Hyung, seperti anggota tim Baek hyung yang lain."
Baekhyun tersenyum miring. "Bagaimana aku bisa memperlakukanmu dengan wajar jika Sehun. Oh Sehun, si pemilik perusahaan sendiri sudah memberi ancaman untuk memecat siapapun yang berani membentakmu, menyakitimu, dan membuatmu merasa tidak nyaman. Kau tahu Jongin bahkan aku, kekasihnya, tidak memiliki hak istimewa di sini. Siapa kau bisa mendapatkan semua perhatian Sehun?"
"Baek hyung…,"
"Cukup." Potong Baekhyun. "Kau bisa belajar menjauhi Sehun setelah itu aku akan merasa lega. Itu sudah cukup."
Menarik napas dalam-dalam, Jongin membalas tatapan Baekhyun. "Baiklah, jika itu yang Baek hyung inginkan. Aku akan menjauhi Sehun mulai detik ini."
Cukup terkejut dengan kalimat Jongin pada akhirnya Baekhyun tersenyum. "Aku senang mendengarnya."
BAB EMPAT
Baekhyun berdiri di depan pintu ruang kerja Sehun. Di sela jam istirahat Baekhyun memutuskan untuk menemui kekasihnya. Mengetuk pelan, Baekhyun tersenyum ketika mendengar suara berat sang kekasih yang menyuruhnya masuk.
"Ah, Baekhyun."
"Kau sibuk?"
"Hanya memeriksa ulang beberapa dokumen, ada apa?"
"Kau sudah makan siang?"
Sehun mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang dia teliti. "Dengan siapa kau makan siang?"
"Sendirian."
"Hmm…., Sehun."
"Bagaimana kinerja divisimu?" pertanyaan tentang pekerjaan dari Sehun nyaris membuat Baekhyun mengumpat.
"Semuanya dalam keadaan baik."
"Tidak ada masalah antar karyawan di bawah pengawasan Hyung kan?" terkadang Sehun memanggil Baekhyun dengan sopan terkadang Sehun lupa jika Baekhyun lebih tua dua tahun darinya.
"Tidak ada." Balas Baekhyun sembari mendudukan dirinya di hadapan Sehun. "Kau tidak pernah mengatakan apapun tentang Jongin padaku Sehun, seharusnya Jongin juga bisa menjadi sahabatku kan?" Baekhyun bertanya dengan ramah dan jangan lupakan senyuman cantiknya itu.
"Jongin tidak mudah dekat dengan orang lain."
"Jongin tidak mudah dekat dengan orang lain atau kau yang tidak mengijinkannya?"
"Apa maksudmu Baek?" kali ini Sehun melupakan dokumennya dan menatap Baekhyun tajam.
"Tidak, tidak ada Sehun kau sangat sibuk." Balas Baekhyun senyum lebar masih menghias wajahnya untuk menutupi rasa perihnya.
"Baek." Sehun menatap wajah Baekhyun lekat-lekat.
"Aku hanya ingin meminta waktumu agar kita bisa berdua saja."
"Kemarin malam kan sudah. Aku masih sangat sibuk Baek, mungkin lusa, akan aku usahakan lusa."
"Tapi kau selalu menemui Jongin kan, Sehun?"
"Baek aku mohon jangan mulai lagi, hentikan kecemburuanmu pada Jongin, itu tak beralasan."
"Bagian mana yang tidak beralasan?" Baekhyun bersikeras.
"Ini di kantor jangan membicarakan urusan pribadi." Sehun berucap dingin kemudian kembali menekuni dokumennya.
Baekhyun menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan napasnya kasar. Rasa sesak di dalam dada Baekhyun terasa menekan, kemudian tanpa sadar iapun melangkah menuju toilet setelah meninggalkan ruang kerja Sehun.
Toilet sedang sepi, setelah menutup pintu, Baekhyun duduk di kloset kemudian mulai menangis. Tidak, dia tidak ingin menjadi pencemburu namun Jongin entah mengapa selalu berhasil membuatnya merasa terbakar kecemburuan. Tanpa terasa air mata mulai terbentuk dengan cepat di kedua mata Baekhyun.
Air mata yang terbentuk itu mengalir keluar membasahi kedua pipi tirusnya. "Apa yang Jongin miliki tapi aku tidak memilikinya, Sehun kenapa kau menyakitiku seperti ini jika kau mencintai Jongin kenapa tidak memilikinya kenapa kau memilihku dan justru membuatku menderita seperti ini." Bisik Baekhyun pada dirinya sendiri, seorang diri menangis di dalam toilet benar-benar konyol.
"Baekhyun." Tangis Baekhyun seketika berhenti saat dirinya mendengar suara teman baiknya, Kim Jongdae. Baekhyun langsung berdiri dari kloset, menghapus sisa air matanya dan membuka pintu toilet. "Baekhyun?" Tentu saja Jongdae panik melihat Baekhyun yang berantakan seperti itu. Baekhyun tidak menjawab, dia melangkah melewati Jongdae untuk membasuh mukanya.
Perlahan Jongdae berjalan mendekati Baekhyun. "Apa ini karena Sehun dan Jongin lagi?" Tak perlu jawaban Baekhyun untuk mengetahui semuanya. "Katakan apa yang kau inginkan Baekhyun mungkin aku bisa membantumu."
"Apa kau bisa membantuku menjauhkan Sehun dari Jongin?" Baekhyun memutar tubuhnya dengan cepat, menatap Jongdae lekat-lekat. "Kita bersahabat, tapi kedekatan kita tidak seperti Sehun dan Jongin kan? Tidak ada hubungan persahabatan yang seperti itu Jongdae."
"Jika kau menjauhkan mereka, kurasa kau sangat egois Baekhyun." Jongdae mencoba untuk memberi nasihat, namun air mata Baekhyun membuatnya tidak tega. "Mungkin kau bisa mencoba untuk berbicara dengan Jongin."
"Berbicara tentang apa?"
"Semua hal yang membuatmu cemburu."
Baekhyun tertawa pelan.
"Itu tidak akan berhasil Jongdae."
"Tidak ada salahnya mencoba, cobalah dan jika itu tidak berhasil kurasa kau harus mengambil sikap tegas, suruh Sehun memilih beri dia waktu untuk memilih jangan membuat dirimu menderita terus. Hapus air matamu, kau masih berada di kantor, masih banyak yang harus kita selesaikan kau tidak mau kan para penggosip itu mulai membicarakan dirimu?" Jongdae tersenyum ramah, Baekhyun mengangguk pelan.
"Aku tunggu di luar." Ucap Jongdae diiringi tepukan pelan pada pundak kiri Baekhyun.
.
.
.
Pukul lima sore Jongin kembali dari kantor, mandi, mengisi perutnya dan bergegas menyusul sang ibu ke toko. Sesampainya di toko, di sana sudah cukup ramai dan Nyonya Kim melayani semua pembeli seorang diri. "Maaf Ibu aku terlambat."
"Dimana kakakmu?"
"Dia masih marah-marah di rumah karena kusuruh mencuci peralatan makan yang kotor."
"Kau ini!" Nyonya Kim benar-benar tidak habis pikir dengan kedua anaknya yang masih saja betah untuk saling menjahili di usia mereka yang sudah bukan kanak-kanak lagi.
"Sudah cepat bantu Ibu." Jongin mengangguk mantap, ia langsung mengambil celemek dan memakainya kemudian mulai menyambut para pembeli dan melayani semua permintaan mereka. "Setelah kakakmu datang, kau bisa pulang dan beristirahat."
"Aku senang membantu Ibu."
"Kau memiliki pekerjaanmu sendiri sekarang, Ibu tidak mau kau kelelahan lalu jatuh sakit."
"Aku tidak selemah itu." Balas Jongin penuh keyakinan.
Nyaris satu jam berlalu dan Boram belum juga menampakan batang hidungnya. Jongin curiga jika kakaknya tidak akan datang ke toko lagi hari ini. "Jongin duduklah, tidak ada pembeli sekarang kita minum dan istirahat dulu. Kakakmu mengirim pesan tidak bisa membantu toko hari ini, dia putuskan untuk membersihkan rumah, entah darimana dia mendapat motivasi untuk membersihkan rumah."
Jongin tersenyum, ia duduk di hadapan sang ibu dan mulai mencomot potongan buah apel yang tersaji. "Mungkin, Kakak sudah memikirkan tentang menjadi ibu rumah tangga yang baik." Nyonya Kim hanya tergelak mendengar kalimat dari putranya itu. "Ibu, aku serius jangan tertawa."
"Tapi wajahmu tidak terlihat serius."
"Haah," desah Jongin. "Aku selalu dianggap bercanda." Jongin meraih botol air mineral dan meminumnya. "Ah!" Jongin benar-benar kaget saat botol air mineral yang sedang di pegangnya tiba-tiba tertarik ke atas.
Jongin mendongak dan dia melihat wajah Sehun dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. "Apa yang kau lakukan di sini?!"
Sehun tak langsung menjawab, dia menarik kursi plastik dan duduk di hadapan Jongin kemudian meminum air di dalam botol yang tadi direbutnya dari Jongin. "Apa yang kau lakukan di sini?!" Tuntut Jongin sambil menendang pelan tulang kering Sehun. Sehun hanya meringis kemudian tertawa pelan. "Orang aneh," gerutu Jongin.
"Ibu akan mengecek barang yang baru dikirim." Ucap nyonya Kim kemudian memilih untuk masuk ke toko, sebenarnya dia ingin mengawasi dari jauh, sedekat apa hubungan Jongin dan Sehun. Persahabatan mereka memang sudah terjalin sangat lama namun Nyonya Kim merasa hubungan keduanya lebih dari sekedar sahabat.
"Kembalikan minumanku." Jongin berusaha merebut botol airnya kembali namun Sehun menjauhkan botol itu dari jangkauan Jongin. "Dasar!" Dengus Jongin kesal.
"Jongin!" Sehun memekik terlalu dramatis bahkan membuat Jongin terkejut. "Kenapa tanganmu terluka?" Sehun menarik kedua tangan Jongin dan memeriksa jari-jarinya.
"Ini hanya goresan kecil." Jongin menarik kembali tangannya dari genggaman Sehun. "Aku memegang buah nanas tanpa sarung tangan, dan ada pembeli yang meminta untuk melihat isi semangka jadi aku membelahnya, tapi justru jariku yang tergores. Gara-gara Nanas dan Semangka."
"Kenapa tidak diobati."
"Hanya luka kecil."
"Bisa saja terkena infeksi."
Jongin melempar tatapan bingung. "Kau terlalu berlebihan. Kenapa kau muncul di sini? Apa tidak lelah?"
"Aku akan ke bandara, aku mau pergi ke Jepang selama tiga hari seandainya aku bisa mengajakmu pasti aku tidak akan bosan." Keluh Sehun, Jongin menoleh menatap sisi kiri wajah Sehun.
"Kau bisa mengajak Baekhyun."
"Mengajak Baekhyun itu merepotkan, dia akan mengajakku belanja dan jalan-jalan seharian."
"Apa kau pernah mengajak Baekhyun ke luar negeri sebelumnya?"
"Belum, tapi di sini saja saat kami menghabiskan waktu bersama Baekhyun mengajakku jalan-jalan, belanja, dan makan, itu membosankan."
"Kau tidak boleh seperti itu Sehun, seharusnya kau menghabiskan lebih banyak waktu dengan kekasihmu."
"Apa aku tidak boleh menghabiskan waktu bersamamu? Kita kan bersahabat."
"Aku tahu, tapi hubungan persahabatan dan percintaan itu berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
Jongin terdiam mengetuk-ngetukkan telunjuk kanannya pada bibir. "Kurasa—hubungan percintaan itu setingkat lebih tinggi dari persahabatan, jadi mulai sekarang kau harus menghabiskan lebih banyak waktu dengan Baekhyun." Jongin menoleh dan mendapati tatapan tidak suka dari Sehun.
"Jadi, kau bisa pergi dengan kekasihmu setiap saat?"
Jongin benar-benar malas jika sudah mulai berdebat dengan Sehun seperti ini, namun demi kebaikan semua orang Jongin akhirnya menjawab. "Ya, supaya aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan kekasihku dan kau juga melakukan hal yang sama dengan Baekhyun."
Sehun berdiri dari kursi yang didudukinya, ia meletakkan botol air mineral ke atas meja plastik dengan kasar. "Aku pergi dulu, aku akan menghubungimu kau harus menjawabnya." Ucap Sehun tanpa menoleh kepada Jongin, kemudian ia melangkah cepat menuju mobilnya yang terparkir tepat di depan toko. Sang sopir yang sudah menunggu langsung membukakan pintu penumpang belakang untuk Sehun.
Jongin memijit batang hidungnya, kemudian iapun memutuskan untuk kembali ke dalam toko dengan botol air mineral di tangan kanannya.
"Sepertinya Sehun sedang kesal padamu." Jongin menatap wajah ibunya yang sedang duduk di belakang konter kasir.
"Ya." Balas Jongin singkat.
"Kenapa?"
"Entahlah, aku hanya menyuruhnya untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan Baekhyun."
"Hmmm, Jongin ada pelanggan." Mendengar pemberitahuan dari ibunya itu, Jongin memutar tubuhnya cepat melihat siapa pelanggan yang datang.
"Baekhyun hyung?!" terperanjat, Jongin yakin Baekhyun melihat semua interaksinya dengan Sehun tadi. Atau mungkin Baekhyun mengikuti Sehun.
"Halo Jongin, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja. Hyung mau membeli apa?"
"Apa buah yang paling mahal di sini?"
"Nanas."
"Aku beli empat." Jongin mengangguk cepat, ia mengenakan sarung tangan dan berjalan mendekati peti nanas. "Pilihkan yang paling baik."
"Hmm." Jongin hanya menggumam sementara kedua tangannya sibuk memilih buah nanas.
"Semua harus seimbang dan sepadan Jongin."
"Membicarakan Nanas atau hal lainnya?"
"Hal lain." Jawab Baekhyun meski sempat terperanjat dengan pertanyaan Jongin yang tiba-tiba.
"Tentang Sehun." Baekhyun tidak menjawab. "Apa yang Hyung inginkan?"
"Bisakah kau menjauhi Sehun."
"Aku akan mencobanya, aku sudah mengatakannya tadi di kantor. Silakan ke kasir aku antarkan buahnya ke kasir." Baekhyun tak memiliki waktu untuk bereaksi, ia tak menyangka akan semudah ini berbicara dengan Jongin.
"Terima kasih banyak." Ucap nyonya Kim, kepada Baekhyun.
"Apa dia kekasih Sehun?" Nyonya Kim bertanya setelah Baekhyun meninggalkan toko.
"Ya." Balas Jongin sambil melepas sarung tangannya dan berdiri bersama sang ibu di belakang konter kasir.
"Mungil dan tampan. Selera Sehun seperti itu, mulai dari Luhan kemudian dia, siapa namanya? Baek?"
Jongin mengangguk pelan. "Baekhyun, terkadang Sehun memanggilnya dengan Baek."
"Kalian membicarakan hal lain di luar Nanas?"
Jongin tertawa pelan mendengar pertanyaan dari ibunya. "Ibu tahu?"
"Itu terlihat jelas Jongin, apa dia memintamu untuk sedikit menjauhi Sehun?"
"Bisa dibilang seperti itu."
"Lalu kau setuju?"
"Aku setuju, selain itu aku juga ingin tahu sebenarnya siapa yang Sehun cintai, seharusnya ada perbedaan kan antara persahabatan dan cinta?"
"Semoga usahamu berhasil." Ucap nyonya Kim kemudian tersenyum simpul sambil menepuk pelan punggung putranya.
.
.
.
"Jongin, tugasmu sudah selesai, kau bisa pulang sekarang atau melakukan hal yang lain!" Boram masuk dengan cara menghebohkan.
"Kakak tidak bisa lebih tenang masuknya," gerutu Jongin.
"Sudah pergi sana." Balas Boram sambil menarik tangan kanan Jongin.
"Kakak dan Ibu berencana menginap di toko?"
"Ya. Tenang saja pagi-pagi Ibu akan pulang dan membuatkan sarapan untukmu."
"Baiklah, kalian hati-hati ya." Ucap Jongin tak tega.
"Sebentar lagi toko akan kami tutup, tenang saja Jongin. Di sini daerah yang cukup ramai."
"Ya." Jongin melepas celemek dan mengambil mantel dari gantungan kemudian bergegas keluar sambil mengenakan mantelnya. Langkah Jongin terhenti saat dilihatnya seseorang yang sangat ia kenal berdiri tidak jauh dari toko. "Changmin hyung."
"Halo Jongin, mau jalan-jalan?" Changmin bertanya dengan senyuman dan tangan kanan yang terulur untuk Jongin.
"Aku sangat lelah, maaf Changmin hyung." Jongin membalas senyum Changmin menerima uluran tangan yang memang ditujukan untuknya.
"Tak masalah kita bisa pergi kapan-kapan. Hmmm. Bagaimana jika aku menemanimu berjalan sampai flatmu dan mungkin kita bisa membeli camilan, kau setuju?"
"Aku sudah cukup kenyang Changmin hyung, tak masalah kan jika hanya berjalan-jalan saja?"
"Tentu." Balas Changmin kemudian tersenyum, keduanyapun berjalan bersama sementara Changmin sengaja meninggalkan mobilnya di depan toko keluarga Kim.
Udara cukup dingin, Jongin mengeratkan mantel merah yang melindungi tubuhnya. Changmin melirik Jongin dan tak tahan untuk tidak tersenyum, melihat Jongin yang tidak akrab dengan suhu dingin.
"Bagaimana hari pertamamu bekerja?" tanya Changmin dengan tangan kanan merangkul pundak Jongin.
"Ah!" pekik Jongin pelan, terkejut dengan tindakan Changmin. "Itu…," gumam Jongin dengan kepala sedikit tertunduk menahan rasa gugup. "Menyenangkan."
"Teman-teman barumu memperlakukanmu dengan baik?"
"Ya. Mereka semua sangat baik."
"Syukurlah, semuanya berjalan dengan baik."
Pandangan Jongin dan Changmin berserobok, keduanya tersenyum kemudian disusul dengan tawa pelan. Setelah itu tidak ada lagi obrolan yang tercipta. Jongin hanya merasa sangat senang karena rangkulan lengan Changmin membuatnya hangat dan nyaman.
"Jongin!"
Jongin terperanjat untuk beberapa detik. Bukankah seharusnya Sehun sudah pergi? Bagaimana dia bisa berada di depan flat tempat tinggalnya. "Se—Sehun." Gumam Jongin terbata.
"Siapa dia?" tanya Sehun dan Changmin dengan kalimat yang sama dan waktu bersamaan.
"Ah Sehun, kenalkan dia kekasihku Changmin hyung. Aku tak sempat bercerita banyak tentang Changmin hyung padamu. Dan Changmin hyung, dia Oh Sehun sahabatku."
Changmin tersenyum lebar menghampiri Sehun mengulurkan tangan kanannya dengan ramah. "Changmin, Jongin banyak bercerita tentangmu. Terima kasih sudah menjadi sahabat Jongin yang sangat setia."
"Ya." Balas Sehun mencoba untuk tersenyum.
Jongin menelan ludah kasar, ia tidak nyaman dengan lirikan tajam Sehun yang kini ditujukan padanya. "Senang bertemu denganmu Oh Sehun, kau ternyata lebih tampan dari fotomu di sampul majalah." Sehun hanya tersenyum tanpa mengatakan sepatah kata apapun. "Selamat malam Jongin, Sehun." Pamit Changmin. Iapun berjalan pergi setelah mengecup kening Jongin singkat.
"Bu—bukankah kau seharusnya sudah bersiap ke bandara?" tanya Jongin takut-takut. Setelah Changmin berada cukup jauh.
"Hmm." Gumam Sehun kemudian memutar tubuhnya memunggungi Jongin, melangkah menuju mobil. Dan pergi begitu saja.
"Apa yang dia inginkan?" gumam Jongin, bingung dengan sikap Sehun.
.
.
.
"Bobby."
"Iya Tuan Oh."
"Kau lihat siapa yang berbicara dengan Jongin tadi kan?"
"Iya Tuan Oh, Changmin. Pelatih di klub sepak bola junior di kawasan elit Gangnam."
"Aku ingin tahu semua tentang Changmin, keluarganya, tempat lahirnya, pendidikannya, hobi, sesuatu yang dia benci dan sesuatu yang dia sukai, mantan-mantan kekasihnya, semuanya. Seluk-beluk tentang Changmin, waktumu dua hari."
"Baik Tuan Oh."
Sehun menoleh ketika mobilnya kembali melintasi toko keluarga Kim. Melihat Changmin berbincang akrab dengan ibu dan kakak perempuan Jongin. Sehun tersenyum miring, meremehkan Changmin.
TBC
Hai semuanya terima kasih sudah membaca cerita ini. Terima kasih review kalian liaoktaviani joaseo, kaila, miga, Jonginnoona, sejin kimkai, ariska, Mommyjongie, ly94, cute, Guest, HunKaiAlways, Oh69, Karen Ackerman, vivihunie, Kanzu kj, use, Oranyellow chan, ParkJitta, KyungXe, NishiMala, vira c chlalu, shjilove, Park Rinhyun Uchiha, ismi ryesomnia, Bearhun, Wiwitdyas1, Kim Jongin Kai, elidamia98, SeKai Candyland, narti c, arvipark794, luckyOne94, novisaputri09, Kim762, Jonginaa88, Athiyyah417, vivikim406, Isakura216, juliakie, thedolphinduck, troalle, yongchan, ohkim9488, k1mut, jjong86, ClaraYu, GaemGyu92, OhSehunKimJongin, bksekaii, tobanga garry, YooKihyun, jongiebottom, Wendybiblu, auraaaalia, micopark. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
