WHAT?!

AN EXO FANFICTION

Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai, HUNHAN (side)

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others

Rating: T-M

Warning: BL

Maaf tidak sempat memberi ucapan terima kasih ini upload untuk mengetes apa FFN baik-baik saja, akun saya baru kena block empat hari dan satu cerita dihapus. Jika cerita ini dihapus para reader sekalian bisa membacanya di Wattpad dengan akun OnlyBoomiee92, semoga tidak dihapus terlanjur nyaman di FFN.

Previous

"Bobby."

"Iya Tuan Oh."

"Kau lihat siapa yang berbicara dengan Jongin tadi kan?"

"Iya Tuan, Changmin. Pelatih di klub sepak bola junior di kawasan elit Gangnam."

"Aku ingin tahu semua tentang Changmin, keluarganya, tempat lahirnya, pendidikannya, hobi, sesuatu yang dia benci dan sesuatu yang dia sukai, mantan-mantan kekasihnya, semuanya. Seluk-beluk tentang Changmin, waktumu dua hari."

"Baik Tuan Oh."

Sehun menoleh ketika mobilnya kembali melintasi toko keluarga Kim. Melihat Changmin berbincang akrab dengan ibu dan kakak perempuan Jongin. Sehun tersenyum miring, meremehkan Changmin.

BAB LIMA

"Kalian melakukannya dengan hebat hari ini anak-anak!" Changmin berteriak keras dengan intonasi ceria. Ia lantas berlari menghampiri setiap anak dan melakukan high five dengan mereka.

"Terima kasih Mr Changmin!" pekik setiap anak sebelum membungkuk hormat kemudian berlari pergi untuk melakukan semua hal menyenangkan di lapangan setelah latihan sepak bola selesai.

Sehun berjalan melintasi tengah lapangan sepak bola, mengisyaratkan kepada Bobby dan beberapa pengawalnya untuk menunggu dan tidak mengikutinya. Kedatangan Sehun menarik perhatian beberapa anak dan seluruh perhatian para orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka.

"Shim Changmin."

Kening Changmin berkerut, ia lantas berbalik dan langsung berhadapan dengan wajah nyaris tanpa ekspresi seorang Oh Sehun, pengusaha muda terkaya di Korea sekaligus sahabat kekasihnya. Kim Jongin. "Halo Sehun." Changmin menyapa ramah. Mengabaikan panggilan tak sopan Sehun mengingat jarak usia mereka.

"Aku harus bergegas terbang ke Jepang, jadi bisakah kita berbicara dengan singkat?"

"Tentu, apa yang ingin kau bicarakan. Ingin bergabung dengan klub sepak bola? Aku bisa mengirimkan persyaratannya lewat ponselmu jadi kau bisa pergi sekarang juga, aku tidak bermaksud mengusir, kau orang yang sangat sibuk aku ingin mempermudah urusanmu. Berapa nomormu?"

"Aku tak berminat bergabung tim sepak bola."

"Lalu ada hal lain yang bisa aku bantu?"

"Bisa kita berbicara di tempat lain?"

"Maaf sebentar lagi ada kelas lain aku tidak bisa meninggalkan lapangan."

Sehun nyaris mendengus dan memutar kedua bola matanya, namun hal itu tak dia lakukan. Sehun tetap memasang ekspresi datar nan dinginnya. "Tentang Jongin."

"Ah, dia." Changmin tersenyum dan Sehun sama sekali tak menyukai hal itu. "Jangan cemas hubungan kami baik-baik saja."

"Apa kau menjaga Jongin dengan baik?"

"Tentu saja aku menjaga Jongin dengan baik."

"Sejauh apa hubungan kalian?"

"Sekarang sudah berjalan empat bulan."

Sehun mengepalkan kedua tangannya. Empat bulan?! dan Jongin baru menyinggung Changmin kemarin.

"Hubungan kami baik-baik saja, semuanya berjalan dengan lancar."

"Apa kau sudah tidur dengan Jongin?" tanya Sehun langsung pada masalah utama.

Changmin terperanjat, ia tak siap mendengar pertanyaan yang terlalu terang-terangan seperti sekarang. Tersenyum karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa atas pertanyaan Sehun, Changmin menggeleng pelan. "Aku akan menjaga Jongin, aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku akan menikahinya sebelum bertindak terlalu jauh. Jangan cemas Tuan Oh."

Menikah. Sehun nyaris tertawa mendengar kata itu keluar dari bibir seorang Shim Changmin. "Jangan bercanda denganku." Geram Sehun di dalam hati. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas. Sehun menatap Changmin lekat. "Menikah bukan perkara sederhana."

"Aku tahu, tapi aku sudah sangat siap. Kami sudah membicarakannya."

"Hmm." Ucap Sehun, menutupi keterkejutannya. "Kau dan Jongin sudah membicarakan pernikahan?"

"Iya."

"Sepertinya aku tertinggal jauh."

"Kudengar kau dan Baekhyun sudah cukup lama menjalin hubungan, lamar saja. Aku yakin Jongin tidak keberatan mengulur beberapa bulan pernikahan agar kau bisa menikah lebih dulu." Ucap Changmin kemudian tersenyum lebar.

Sehun bersyukur tidak ada benda berbahaya di dekat tubuhnya sekarang, atau dia akan berakhir melukai Changmin. "Kalian terdengar sangat matang dan sangat yakin. Pernikahan bukan hal mudah."

"Kurasa itu tergantung dari setiap sudut pandang masing-masing individu."

"Ada banyak hal yang harus dipikirkan setelah pernikahan, ditambah jika ada anak yang hadir."

"Aku tahu itu Sehun, tapi jangan cemas aku sudah memikirkan semuanya sejak jauh hari. Sejak SMP aku sudah mandiri, bekerja paruh waktu dan mengumpulkan uang untuk masa depanku."

"Kau sangat dewasa." Puji Sehun menahan amarah. "Berapa yang kau kumpulkan? Berapa banyak yang kau dapat dari bekerja di sini?"

Kening Changmin berkerut, dia mulai tersinggung dengan kalimat Sehun. "Tidak sebanyak semua yang kau miliki, tapi cukup untuk Jongin dan dua anak kami nanti."

"Hmmm, senang mendengar kau serius dengan Jongin. Maaf jika kalimatku menyinggung. Aku harus pergi sekarang."

"Tentu Sehun, senang bertemu denganmu, terima kasih sudah menyempatkan diri mengunjungiku."

"Kau kekasih sahabat terbaikku, tentu saja aku harus mencoba akrab denganmu."

Changmin tersenyum, Sehun membungkuk hormat sebelum memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan lapangan. Bobby menelan ludah kasar, mengisyaratkan tiga orang bawahannya untuk diam dan menyingkir dari jalan yang hendak Sehun lewati.

"Bobby apa pesawatku sudah siap?"

"Ya Tuan Oh."

"Serangga pengganggu."

Bobby bergegas berjalan di sisi kanan tubuh Sehun, ia menoleh ke belakang menatap Changmin yang kini telah sibuk dengan anak didiknya. Bobby tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Changmin, simpati? Mungkin. Atau rasa iba? Itu juga mungkin. Dia hanya menyesalkan pria sebaik Changmin, sebab laki-laki yang Jongin pilih selalu laki-laki baik. harus berurusan dengan Oh Sehun.

"Bobby, apa aku bisa kembali ke kantor sebentar sebelum terbang?"

"Tentu Tuan Oh, saya bisa mengulur waktu selama satu jam."

"Itu sudah cukup. Kita ke kantor sekarang, dan tolong hubungi Minseok minta Jongin menunggu di ruanganku."

"Tentu Tuan Oh."

.

.

.

"Proyek ini harus kita kerjakan dengan baik jangan sampai perusahaan kecewa, kalian mengerti?"

"Iya Tuan Byun."

"Bagus." Ucap Baekhyun kini perhatiannya teralih pada Jongin yang tengah sibuk menulis sesuatu pada buku catatannya. "Apa kau mengerti Kim Jongin."

Jongin mendongak menatap Baekhyun. "Tentu." Jawab Jongin lantas tersenyum manis.

Pintu ruangan diketuk pelan. "Silakan masuk." Ucap Baekhyun ramah.

Kepala Minseok menyembul dari balik pintu. Tersenyum menatap Baekhyun, Baekyun membungkuk hormat. "Ada apa Hyung?"

"Kim Jongin diminta Tuan Oh untuk ke ruangannya."

Baekhyun nyaris berteriak mendengar kalimat Minseok. "Pergilah." Ucap Baekhyun dengan nada dingin.

Dengan enggan Jongin berdiri dari kursinya, membungkuk hormat pada Baekhyun sebelum melangkah keluar ruangan mengikuti Minseok. Sementara Baekhyun menatap kepergian keduanya dengan tatapan penuh kecurigaan serta kecemburuan.

"Maaf, Hyung. Bukankah Sehun—ah maksudku Tuan Oh Sehun harusnya berada di Jepang?"

"Beliau akan berangkat hari ini. Ini hanya kunjungan singkat, apa kau mengajukan ide hebat untuk Tuan Oh, sampai-sampai beliau menyempatkan diri untuk kembali ke kantor di tengah jadwal padatnya?"

Menelan ludah kasar, alih-alih menjawab Jongin hanya tersenyum tipis. Minseok menepuk punggung Jongin. "Teruslah bekerja dengan baik, Tuan Oh menghargai prestasi. Mungkin kau bisa dapat promosi dalam waktu singkat."

"Ya." Balas Jongin canggung.

Jongin merasakan setiap langkah kaki yang membawanya semakin dekat dengan ruangan Oh Sehun begitu berat. Dia ingin kabur dari tempat ini jika itu mungkin. Firasatnya buruk, Sehun pasti memiliki sesuatu yang mengganjal hatinya, Sehun pasti sedang kesal sekarang, dan dia butuh pelampiasan.

"Tuan Oh sudah menunggu di dalam."

"Ah!" Jongin tersentak nyaris berteriak, kalimat Minseok terdengar seperti vonis mati.

"Te—terimakasih." Ucap Jongin menanggapi Minseok.

Minseok tersenyum sebelum bergegas pergi, meninggalkan Jongin seorang diri di depan kandang Singa. Tangan kanan Jongin perlahan terangkat, ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya. Changmin mengirim pesan jika Sehun menemuinya membuat Jongin berpikir apa semua ini tentang hubungannya dengan Changmin.

Apa Sehun menginginkan dirinya untuk menjauhi Changmin, memutuskan hubungan mereka? Tidak, itu tidak mungkin. Jongin tidak ingin meninggalkan Changmin. Dia berbeda dari semua kekasihnya selama ini, mungkin dengan Changmin, Jongin benar-benar jatuh cinta. Dan Sehun, apapun yang Sehun katakan dia tidak akan meninggalkan Changmin.

Dua kali ketukan, terdengar suara Sehun mempersilakan dirinya untuk masuk. Jongin bisa merasakan telapak tangannya mulai basah oleh keringat. Semua ini lebih mengerikan dibanding ujian kelulusan. Pintu ruangan terdorong ke depan, Sehun berdiri menghadapnya, menduduki meja kerjanya. Jas putih melekat pas pada tubuh bak seorang model milik seorang Oh Sehun.

"Sehun, kau memanggilku?" Jongin langsung bertanya, mengabaikan semua ketakutan yang sedang dia rasakan sekarang.

"Ya. Bisa kau tutup pintunya?"

Mengangguk pelan Jongin memutar tubuhnya, menghadap pintu kemudian menutupnya perlahan. Saat perhatiannya kembali pada Sehun, laki-laki itu masih berada pada posisi yang sama. "Aku menemui Changmin hari ini."

"Ah." Balas Jongin berusaha agar tetap terdengar tenang.

Sehun tersenyum. "Kenapa kau tampak gugup Jongin? Changmin pria yang baik, kurasa dia serasi denganmu."

Kedua bola mata Jongin melebar, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Sehun—kau tidak menyuruhku untuk meninggalkan Changmin kan?"

"Tentu saja tidak, untuk apa aku melakukannya? Hanya saja kenapa kau tidak memberitahu tentang rencana pernikahan kalian?"

"Ah itu—itu baru rencana, belum benar-benar matang jadi aku belum memberitahumu."

"Hmm." Sehun menggumam pelan.

"Aku janji akan memberitahumu jika semua sudah matang, kau orang pertama yang akan tahu. Dan kau akan menjadi pendamping pria kami, bagaimana?"

"Tentu, aku orang pertama yang harus tahu. Bagaimana pekerjaanmu?"

"Baik, tapi aku harus banyak belajar lagi."

"Hubunganmu dengan rekan-rekan kerjamu, dan hubunganmu dengan Baekhyun?"

"Kurasa semuanya baik."

"Jangan sungkan untuk mengatakan apapun padaku, termasuk masalah dan hambatan di sini."

"Tentu Sehun."

Sehun berbalik, menghadap meja mengambil kertas kecil kemudian menuliskan sesuatu di atasnya. "Serahkan ini pada Baekhyun jika dia bertanya kenapa kau terlambat?" Jongin menerima kertas kecil berisi tulisan tangan Sehun kemudian membacanya. "Itu akan menyelamatkanmu dari ceramahnya." Sehun tersenyum di akhir kalimat.

Urusan bisnis, kelonggaran 30 menit

"Terima kasih," ucap Jongin ragu, dia hanya berpikir jika note itu bukannya menyelamatkan justru akan membuat dirinya terjebak berbagai macam pertanyaan dari Byun Baekhyun dan jangan lupakan tatapan penuh kecurigaan darinya.

Sehun melirik arlojinya sekilas. "Kau punya banyak waktu untuk membeli minuman, santai saja. Aku pergi sekarang."

"Berangkat ke Jepang?"

"Ya."

"Hati-hati Sehun."

"Kau mencemaskan aku?"

"Tentu saja, kau sahabat terbaikku."

"Bukankah kau memiliki orang lain yang lebih penting?"

"Kau sahabatku, kau penting untukku, sampai kapanpun."

"Ya, aku cukup lega mendengarnya. Setidaknya posisiku tidak tergusur." Ucap Sehun dengan nada bercanda kemudian diiringi tawa pelan.

Butuh beberapa detik bagi Jongin untuk menyusul tawa Sehun, sebab dia seolah bisa mendengar nada keseriusan dalam nada bicara Sehun. Dan jujur itu menakutkan bagi Jongin.

"Kau tidak ingin memelukku dan mengucapkan selamat tinggal?"

"Sehun jangan membuatku takut, kau akan kembali dan kita pasti bertemu."

"Tidak ada yang bisa menebak takdir…,"

"Hentikan itu!" bentak Jongin tak menyukai kalimat Sehun.

"Baiklah, baiklah, aku tidak akan bercanda lagi. Peluk aku dan aku akan bergegas pergi."

"Oh Sehun bodoh." Maki Jongin sambil melangkah pasti mendekati Sehun. Memeluk Sehun erat. "Aku akan merindukanmu." Gumam Jongin.

"Hmm. Aku juga akan merindukanmu, aku menyayangimu Kim Jongin."

"Aku tahu." Balas Jongin kemudian tertawa pelan.

Keduanya saling melepas pelukan, Sehun tersenyum menatap Jongin, tak lupa tangan kanannya terangkat cepat mengacak rambut Jongin gemas. "Sampai bertemu lagi."

"Hmm." Gumam Jongin disertai anggukan.

"Kita bisa keluar ruangan bersama." Ajak Sehun.

"Tentu saja." Jongin tersenyum lebar, Sehun tertawa pelan. Dan Jongin tiba-tiba merasa bodoh sudah mencemaskan banyak hal tentang pembicarannya dengan Sehun, serta anggapan Sehun terhadap Changmin.

.

.

.

"Apa pertemuanmu dengan Sehun berjalan lancar?" todong Baekhyun ketika Jongin menyerahkan note titipan Sehun.

"Iya, berjalan dengan lancar."

"Bisnis apa yang kalian bicarakan? Aku ketua divisi ini, jika ada sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan dan pekerjaan aku haru tahu bukan?" Baekhyun tersenyum membuat kedua matanya tertarik ke samping dengan cara yang mempesona.

Jongin bisa mengerti bagaimana Sehun bisa jatuh dalam pesona Baekhyun. "Tidak perlu cemas Hyung, bukan bisnis. Tapi urusan pribadi." Balas Jongin dengan nada rendah.

Kilatan amarah terlihat jelas dari kedua mata sipit Baekhyun. Jongin justru tersenyum lebar, mengabaikan tatapan tidak suka Baekhyun. "Sehun bertanya banyak hal tentang kekasihku." Bisik Jongin.

"Benarkah?" kali ini kelegaan terpancar jelas pada wajah Baekhyun.

"Iya, kami membicarakan itu, tidak ada yang lain."

Baekhyun tersenyum tulus untuk beberapa detik sebelum pandangannya berubah serius kembali. "Jongin."

"ApaHyung?"

"Kau masih ingat janjimu padaku kan?"

"Tentang—tentang menjaga jarak dari Sehun?" Tanya Jongin ragu. Baekhyun mengangguk pelan.

"Aku akan melakukannya."

"Terima kasih."

"Tidak masalah Baekhyun hyung, aku ingin Sehun lebih memperhatikanmu dibanding aku. Aku sudah berulang kali mengatakannya tapi selalu berakhir dengan kekesalan Sehun."

"Sehun memang keras kepala. Lanjutkan pekerjaanmu." Baekhyun menepuk pelan punggung Jongin kemudian berjalan pergi menghampiri meja kerjanya.

TBC