WHAT?!

AN EXO FANFICTION

Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai, HUNHAN (side)

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others

Rating: T-M

Warning: BL

Previous

"ApaHyung?"

"Kau masih ingat janjimu padaku kan?"

"Tentang—tentang menjaga jarak dari Sehun?" Tanya Jongin ragu. Baekhyun mengangguk pelan.

"Aku akan melakukannya."

"Terima kasih."

"Tidak masalah Baekhyun hyung, aku ingin Sehun lebih memperhatikanmu dibanding aku. Aku sudah berulang kali mengatakannya tapi selalu berakhir dengan kekesalan Sehun."

"Sehun memang keras kepala. Lanjutkan pekerjaanmu." Baekhyun menepuk pelan punggung Jongin kemudian berjalan pergi menghampiri meja kerjanya.

BAB ENAM

Sudah hampir tengah malam dan Sehun belum juga menghubungi. Baekhyun berulang kali memeriksa ponselnya, berharap Sehun menghubungi atau mengirim pesan, atau apa saja untuk membuatnya merasa lega. Baekhyun mencoba peruntungan dengan menghubungi Sehun melalui Line. Dua hari Sehun tak menghubunginya. Dua hari, apa Sehun sama sekali tak merasa rindu.

Baekhyun sangat bahagai ketika pada akhirnya Sehun menjawab.

"Baekhyun, aku baru sampai di hotel ada apa?"

"Aku ingin mengobrol denganmu."

"Besok aku akan menghubungimu."

"Kau janji?"

"Aku akan mencari waktu untuk menghubungimu."

Baekhyun belum sempat menjawab saat Sehun memutus sambungan mereka. Dan kebahagiaan itu dalam sekejap mata menghilang.

"Bagaimana jika Jongin yang menghubungimu? Apa kau juga mengacuhkannya seperti aku?" Baekhyun bertanya pada layar ponselnya yang menampakkan wajah Sehun, karena Baekhyun memakai foto Sehun sebagai latar belakang. Baekhyun berbaring di atas ranjang tempat tidurnya kemudian Baekhyun berpikir untuk menghubungi Jongin dan bertanya sesuatu yang mengganjal hatinya.

Baekhyun memiliki nomor Jongin sejak satu setengah tahun yang lalu, saat laki-laki manis itu tengah mendekatkannya pada Sehun sejak saat itu Baekhyun tak pernah menghapus nomor Jongin hanya untuk berjaga-jaga. Berjaga-jaga jika Sehun lebih memilih Jongin dibanding dirinya. Baekhyun tahu ia menjadi egois, namun ia sangat mencintai Sehun dan tidak ingin kehilangan laki-laki itu.

Tanpa sadar Baekhyun tersenyum kala mendengar suara Jongin yang jelas sekali kebingungan. "Ini siapa?"

"Baekhyun."

"Ah Hyung, ada apa?"

"Apa aku membangunkanmu?"

"Ya, tapi tidak apa-apa. Ada apa?"

"Apa Sehun menghubungimu?"

"Ya."

"Kau menjawabnya?"

"Tidak, kau sendiri yang memintaku untuk menjauhi Sehun."

"Berapa kali Sehun menghubungimu."

"Dia masih berusaha menghubungiku sebelum Hyung menelpon, aku berniat menon-aktifkan ponselku."

Baekhyun merasa sangat sesak sekarang. "Baiklah kalau begitu, terimakasih sudah membantuku Jongin."

"Ya."

Baekhyun mengakhiri panggilannya ia pandangi layar ponselnya dengan tatapan sendu."Sehun aku mohon hentikan semua ini, siapa yang kau pilih Sehun, siapa?" Bisik Baekhyun pilu.

.

.

.

Jongin memandangi ponselnya, yang berkedip-kedip karena Sehun menghubunginya hanya beberapa detik setelah Baekhyun mengakhiri percakapan. Jongin langsung menon-aktifkan ponselnya dia ingin tidur dan panggilan Sehun hanya mengganggu saja, selain itu dia ingin membantu Baekhyun.

"Sehun kau membuat Baekhyun menderita." Ucap Jongin sebelum meletakkan ponselnya ke atas meja nakas dan menyelimuti tubuhnya, bersiap menyambut mimpi.

.

.

.

Sehun berusaha keras untuk tidak merobek serta membakar kertas di tangannya. Kekasih Jongin, Shim Changmin. Dua tahun di atas Jongin, lulusan universitas Yonsei. Ayahnya seorang perawat dan ibunya seorang pengacara, latar belakang yang cukup baik. Dan, mungkin calon menantu idaman untuk Nyonya Kim. Sehun nyaris mengumpat membayangkan semua itu, Jongin menikahi Changmin.

"Bobby!"

"Iya Tuan Oh?"

"Batalkan semua pertemuan hari ini. Aku akan pergi ke suatu tempat. Seorang diri tanpa pengawalan."

"Jika Tuan Byun Baekhyun datang apa yang harus saya lakukan?"

"Pikirkan sendiri alasanmu, kau dibayar mahal di sini jadi gunakan otakmu!"

"Baik Tuan." Ucap Bobby sambil menundukkan kepalanya.

"Apa kau mengatakan jika aku kembali lebih cepat pada Baekhyun?"

"Tidak Tuan, tapi beritanya pasti sudah menyebar ke semua divisi."

"Sial!" umpat Sehun. "Aku pergi dan jangan bertanya lagi." Putus Sehun.

Melempar jas luarnya ke sembarang arah, melepas dasi yang melingkari leher, melepaskan tiga kancing teratas kemejanya, mengeluarkan kemeja dari celananya. Sehun berjalan cepat keluar ruangan, membanting pintu. Tidak ada satupun karyawan yang berani menatapnya saat Sehun melangkah keluar menyusuri lorong menuju lift.

Mengacak rambut tebal hitamnya yang tadi tertata rapi. Kedua mata Sehun tajam menatap tombol-tombol angka yang menyala di dalam lift. Jika dia bisa mempercepat laju lift detik ini juga dia akan melakukannya tanpa berpikir dua kali. Sehun nyaris berlari sesampainya di tempat parkir, menghampiri mobilnya kemudian pergi dalam kecepatan di luar batas ketentuan.

Sehun menahan diri untuk tidak keluar dari mobil dan memukul Changmin. Kedua tangannya menggenggam erat stir mobil. Apa yang Changmin lakukan?! mencium Jongin di depan toko keluarga Kim. Di depan kedua mata Ibu Jongin, dan Nyonya Kim terlihat tidak keberatan. "Kau pasti bercanda denganku Kim Jongin." Geram Sehun.

Tidak tahan lagi, Sehun memutuskan untuk pergi dan menunggu di tempat yang biasa Jongin lewati sekembalinya dari toko milik keluarganya.

.

.

.

Jongin mengeratkan mantel merah tua yang membungkus tubuhnya, ia mengayuh sepedanya dengan cepat menuju apartemennya udara di tengah malam seperti ini benar-benar menggila. Lalu sesosok bayangan muncul.

"Astaga!" Pekik Jongin sambil mengerem sepedanya. "Sehun? Sehun?!" Jongin kembali memekik.

Siapa yang tidak kaget saat bersepeda dengan cukup kencang lalu dari tikungan yang akan kau lewati tiba-tiba muncul sesosok makhluk. "Apa kau mau aku tabrak?!" Jongin tidak bisa menutupi kemarahannya. Beruntung jalanan kecil yang dia lalui adalah jalanan sepi sehingga dia tak perlu mendengar omelan para pemakai jalan lain karena berhenti mendadak.

"Aku tidak akan mati hanya karena ditabrak sepeda."

Jongin mengerutkan keningnya kemudian turun dari sepeda dan membawa sepedanya menepi. "Bukannya kau sedang ada di Jepang?"

"Aku baru saja mendarat."

"Kenapa tidak langsung pulang dan istirahat?"

"Aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja."

"Aku baik-baik saja, kau bisa melihatnya sendiri. Jadi kau bisa pulang sekarang, hubungi Baekhyun hyung dia mencemaskanmu."

"Kenapa kau mematikan ponselmu, kau juga tidak membalas emailku?"

"Aku sibuk di toko." Jongin kembali menaiki sepedanya, ia mengayuh sepedanya dengan cepat untuk menghindari Sehun. Jongin menoleh, dia mengumpat dalam hati mendapati sedan Sehun membuntutinya. "Kenapa dia tidak bisa meninggalkanku sendiri?!" gerutu Jongin di tengah kesibukannya mengayuh pedal sepeda.

"Paman aku titip sepedaku!" Jongin berteriak pada si satpam. "I…," Joonghun belum sempat membalas saat Jongin mendorong sepeda ke arahnya kemudian berlari cepat menuju bangunan flat.

"Apa yang terjadi dengan anak itu?" Joonghun hanya bertanya bingung. "Eh dia meninggalkan ini." Joonghun mengambil kantong plastik hitam yang digantungkan Jongin pada stang sepeda. "Dia membeli camilan, apa aku harus mengantarnya? Kurasa aku harus mengantarkannya."

Joonghun menurunkan standar samping sepeda Jongin. Saat seseorang berlari kencang melewatinya. "Siapa dia? Ah Sehun? Kurasa mereka sedang bertengkar, dasar anak muda."

Jongin berlari cepat menaiki anak tangga menuju lantai tiga, dia merasa seperti seorang penjahat yang kabur dari kejaran Polisi. Jongin mengabaikan kedua kakinya yang terasa panas dan kebas serta paru-parunya yang mulai sesak.

Jongin berlari cepat menuju pintu depan tempat tinggalnya, tangan kanannya melesak masuk ke dalam kantung kiri mantel musim gugurnya. Ia masukkan anak kunci itu ke dalam lubang kunci, memutarnya dengan cepat dan mendorong pintu namun saat ia mencoba menutupnya Sehun sudah berada di hadapannya menahan knob pintu.

"Sehun," bisik Jongin.

"Kau tidak mungkin berteriak dan mengusirku sementara ada kakakmu di dalam kan?"

"Pergilah, aku sangat lelah sekarang." Balas Jongin, Sehun hanya melempar tatapan tajam. "Suasana hatimu pasti tidak baik. Aku tidak ingin kita berakhir dengan pertengkaran karena masalah sepele."

"Aku akan membuat keributan jika kau tidak mengijinkan aku masuk."

"Apa yang kau inginkan Sehun?"

Tanpa menjawab Sehun mendorong paksa pintu flat membuat Jongin tersentak ke belakang nyaris terjungkal jika tangan kanan Sehun tidak cepat melingkari pinggangnya dan menahan tubuhnya. "Ada banyak hal yang harus kita bicarakan." Tegas Sehun dengan tatapan tajamnya.

Menelan ludah kasar, Jongin merasa seperti seseorang yang telah berkhianat padahal dia sama sekali tidak melakukan pengkhianatan. Sehun melepaskan tangannya dari pinggang Jongin saat mendengar suara langkah kaki mendekat.

"Sehun!" Boram memekik senang kemudian memeluk Sehun dengan erat, Sehun membalas pelukan Boram dengan senyuman menghiasi wajahnya.

"Ini, oleh-oleh untuk Noona dan Bibi." Sehun menyodorkan tas kertas berwarna putih kepada Boram.

"Terima kasih banyak Sehun." Boram mendaratkan ciuman pada pipi kanan Sehun.

"Bibi dimana?"

"Ibu sepertinya akan tidur di toko malam ini, Jongin mana Odeng-nya?"

"Ah aku lupa! Pasti ada di bawah di pos satpam tempat aku menitipkan sepeda, biar aku ambil." Jongin berniat pergi namun Boram mencegahnya.

"Biar aku yang mengambilnya."

Terima kasih Kak kau sudah mengumpankan aku pada Singa lapar, batin Jongin sambil memandangi punggung Boram yang menjauh. Sehun langsung melewati Jongin dan melenggang menuju kamar sang sahabat. "Apa yang dia inginkan?" Bisik Jongin pada dirinya sendiri.

Jongin melangkah memasuki kamar tidurnya, mengikuti Sehun ia menutup pintu kamar karena tidak ingin ibu atau kakaknya melihat pertengkaran yang mungkin akan terjadi sebentar lagi.

Sehun langsung menghampiri meja nakas, menyambar ponsel Jongin dan menghidupkannya kembali, baterai ponsel Jongin baru terpakai sepuluh persen. "Kau benar-benar tidak memakai ponselmu selama tiga hari terakhir kan?"

"Aku hanya ingin menjaga perasaan Baekhyun hyung, kau tidak menghubunginya selama tiga hari terakhir jadi…,"

"Jadi kau memutuskan untuk mengabaikanku selama tiga hari?" Sehun menatap Jongin dengan kesal kemudian melemparkan ponsel Jongin ke atas tempat tidur.

"Baekhyun kekasihmu, dia cemburu padaku, seharusnya kau peka akan hal itu Sehun, dia mencintaimu sangat mencintaimu, jika kau hanya mempermainkan Baekhyun…,"

"Siapa yang mempermainkan Baekhyun?!" Sehun berteriak keras, Jongin benar-benar terperanjat baru kali ini Sehun berteriak padanya.

"Jadi apa yang kau inginkan Sehun?"

"Aku mencintai Baekhyun dan kau sahabatku, aku tidak suka diabaikan kau tahu sendiri hal itu."

"Kurasa kita harus menjaga jarak." Ucap Jongin mengabaikan tatapan dingin Sehun. "Sejujurnya aku juga bingung dengan sikapmu. Semua perlakuanmu padaku seolah lebih dari sekedar sahabat, kita harus membuat batas yang jelas antara hubungan persahabatan dan percintaan. Kau memiliki kekasih, aku juga memiliki kekasih. Kau dengan Baekhyun, aku dengan Changmin hyung. Mungkin selama ini aku juga bersikap egois tentangmu, bersikap seolah aku adalah satu-satunya prioritasmu tapi sekarang aku ingin mengubahnya."

"Kau terlalu banyak bicara Kim Jongin."

"Sehun kau membuatku frustasi, sekarang pilihlah siapa yang lebih penting aku atau Baekhyun hyung?!" tegas Jongin.

"Kau." Tegas Sehun. "Aku mengenalmu lebih dulu dari Baekhyun, kau selalu ada untukku, tentu saja aku akan memilihmu apapun yang terjadi."

"Jika di antara aku dan Baekhyun hyung berada dalam situasi berbahaya dan kau hanya bisa memilih salah satu, siapa yang akan kau pilih?"

"Kau. Hubungan percintaan bisa berakhir tapi persahabatan tidak."

Menelan ludah kasar, Jongin terdiam untuk beberapa detik mencoba merangkai kata yang terbaik untuk diucapkan pada Sehun. "Mungkin kau mencintaiku tapi kau takut untuk mengakuinya."

Sehun terperanjat untuk beberapa detik. "Aku tidak pernah melihatmu lebih dari sekedar sahabat." Balas Sehun keras kepala.

"Itu—melegakan, jadi kau datang hanya karena merasa kesal aku tidak membalas pesanmu atau menjawab panggilanmu saat kau di Jepang?"

"Ya." Balas Sehun singkat.

"Sekarang biar aku balas semua pesanmu." Entah mengapa Jongin benar-benar kesal sekarang.

"Aku tidak butuh itu!" Sehun menendang ponsel Jongin yang tergeletak di atas ranjang tempat tidur dengan kaki kanannya. Membuat ponsel Jongin terlempar dan terbentur dinding.

Jongin mengangkat kepalanya menatap langsung kedua mata Sehun. "Sebaiknya kita memiliki hubungan pertemanan yang wajar, kau terlalu posesif untuk ukuran teman."

"Jongin! Sehun! Ayo makan Odeng!" Boram berteriak dari meja makan, Jongin bermaksud untuk pergi namun Sehun menahan lengan kanannya. "Apa yang…," kalimat Jongin terhenti saat Sehun mendorongnya ke tempat tidur. Jongin berniat untuk bangun namun Sehun dengan cepat menindih tubuhnya.

Keduanya bertatapan, Jongin menelan ludahnya kasar dia berniat mendorong tubuh Sehun menjauh namun Sehun terlalu kuat dibandingkan dirinya. Jongin tersentak saat Sehun mulai mendekatkan wajahnya pada leher kanannya. "Sehun apa yang kau lakukan?" Jongin hanya bisa berbisik, saat ia merasakan ciuman-ciuman lembut Sehun pada leher kanannya.

Jongin menelan ludahnya kasar kemudian mencoba mendorong dada Sehun sekali lagi kali ini dengan sekuat tenaga. Berhasil, Sehun langsung berdiri menatap Jongin dengan raut wajah bingung. Jonginpun langsung bangun dan berdiri di hadapan Sehun. "Mungkin—kau mau makan Odeng." Ucap Jongin dengan canggung.

"Aku akan pulang, selamat malam Jongin." Sehun berucap cepat kemudian berbalik dan membuka pintu kamar Jongin. Jongin melangkah keluar dari kamar dan melihat bagaimana Sehun tergesa-gesa untuk pergi. Kakak perempuannya yang membukakan pintu untuk Sehun.

"Kenapa dia tergesa-gesa?" Boram langsung bertanya sekembalinya dari membukakan pintu untuk Sehun.

"Baekhyun menelpon." Dusta Jongin.

"Ah," Boram mengangguk percaya. "Ayo makan."

"Aku rasa—aku langsung tidur saja. Selamat malam Kak."

"Kalian berdua aneh sekali hari ini," gerutu Boram sambil memandangi pintu kamar Jongin yang tertutup.

.

.

.

Jongin bersandar pada pintu kamarnya, dadanya terasa sesak, jantungnya berdetak tak beraturan. Berulang kali Jongin mencoba menghirup napas dalam-dalam namun itu tak berhasil. Tak berhasil untuk membuat dirinya merasa tenang. Tangan kanan Jongin terangkat pelan, menyentuh tulang dadanya. Merasakan detak jantung yang semakin menjadi.

Kedua telapak tangan Jongin mulai lembab oleh keringat. Perlahan tubuhnya merosot ke bawah dan pada akhirnya iapun terduduk di atas lantai. Setiap tarikan napas benar-benar menyiksa. Semua bayangan tentang Sehun berkelabat cepat di dalam kepalanya, begitu cepat hingga tulang tengkoraknya terasa nyeri.

Mengapa Sehun mendorongnya ke atas tempat tidur? Mengapa Sehun menindih tubuhnya? Mengapa Sehun menciumi lehernya? Apa itu bukanlah tindakan yang berlebihan?

Ada berbagai macam suara yang menggema di dalam kepala seorang Kim Jongin. Jongin ingin mencabuti rambutnya atau bahkan membenturkan kepalanya pada dinding, supaya semua suara itu berhenti. Dengan langkah kaki gontai, Jongin berjalan pelan mendekati ranjang tempat tidurnya. Tangan kirinya terulur untuk mengambil ponsel di atas lantai.

Nomor Changmin, hanya Changmin yang ada di dalam kepalanya sekarang. Jari-jari tangan Jongin bergetar hebat, ia nyaris menjatuhkan ponselnya ketika mencoba menghubungi nomor Changmin. Cukup lama Jongin menunggu jawaban dari Changmin. Kedua lututnya terasa lemas maka ia putuskan untuk duduk di pinggiran ranjang tempat tidur.

"Hai Jongin, ada apa? Kenapa menghubungiku larut malam? Apa kau belum tidur?"

Suara Changmin terasa hangat dan penuh perhatian. Dada Jongin terasa semakin sesak. Dia merasa sangat bersalah kepada Changmin. Bersalah karena membiarkan Sehun menyentuhnya.

"A—Aku mencintaimu Changmin hyung." Ucap Jongin terbata.

"Jongin ada apa? Suaramu terdengar tak begitu baik? Apa kau sakit?"

"Tidak. Aku hanya mengantuk, sampai jumpa Hyung." Dusta Jongin.

"Ya, selamat malam. Cepat tidur jangan sampai sakit. Aku mencintaimu."

Sambungan berakhir, Jongin menjatuhkan ponselnya ke atas tempat tidur, sebelum merebahkan tubuhnya. Terlentang mengamati langit-langit kamar. "Oh Sehun, apa yang kau lakukan padaku?" Jongin berucap pelan nyaris berbisik.

TBC

Terimakasih untuk semua pembaca, leganya ga diapa-apain ama ffn ni cerita. Terimakasih review kalian adi chandra, ahyu, Athiyyah417, Miran HUNKAI, Oh Titan, micopark, ariska, opikkim, opikkim, cute, Guest, vvv, Guest, alv, Lusiana, nunumatao99, NisrinaHunkai99, novisaputri09, jongbae, arvipark794, JL Lightning25, Oranyellow chan, sriwardhani91, Isakura216, Kim762, juliakie, bbyun40, YooKihyun94, Wiwitdyas1, ohkim9488, jjong86, K1mut, tobanga garry, tobanga garry, OhSehunKimJongin, thedolphinduck, Kim Jongin Kai, Park RinHyun Uchiha, KyungXe, Natsu Kajitani, falconidct, GaemGyu92, luckyOne94, Kiki2231, ParkJitta, jongiebottom, bksekaii, ClaraYu. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.