WHAT?!

AN EXO FANFICTION

Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai, HUNHAN (side)

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others

Rating: T-M

Warning: BL

Previous

"Hai Jongin, ada apa? Kenapa menghubungiku larut malam? Apa kau belum tidur?"

Suara Changmin terasa hangat dan penuh perhatian. Dada Jongin terasa semakin sesak. Dia merasa sangat bersalah kepada Changmin. Bersalah karena membiarkan Sehun menyentuhnya.

"A—Aku mencintaimu Changmin hyung." Ucap Jongin terbata.

"Jongin ada apa? Suaramu terdengar tak begitu baik? Apa kau sakit?"

"Tidak. Aku hanya mengantuk, sampai jumpa Hyung." Dusta Jongin.

"Ya, selamat malam. Cepat tidur jangan sampai sakit. Aku mencintaimu."

Sambungan berakhir, Jongin menjatuhkan ponselnya ke atas tempat tidur, sebelum merebahkan tubuhnya. Terlentang mengamati langit-langit kamar. "Oh Sehun, apa yang kau lakukan padaku?" Jongin berucap pelan nyaris berbisik.

BAB TUJUH

Sehun menepikan mobilnya meski ia seharusnya masih membutuhkan sepuluh menit lagi untuk sampai ke tempat yang dia sebut rumah. Dua lampu sen mobil berkedip-kedip memberi isyarat pada kendaraan di belakang agar tak menabrak mobilnya. Dia mengingat Changmin dan semua amarahnya seolah meledak.

Dia bisa menghancurkan Changmin, dan itu sangat mudah. Menghancurkan impian Changmin, menghancurkan karir Changmin. Tapi jika dirinya melakukan semua itu ia yakin Jongin akan sedih. Sehun bisa melihat semua cinta memuakkan pada kedua bola mata Jongin. Dan sesungguhnya ia tak mengerti dengan semua perasaannya terhadap Jongin. Ia terombang-ambing, putus asa, frustasi, namun tak ada seorangpun yang membantunya.

Bercerita pada Jonginpun tak akan menyelesaikan apapun, semua perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya, semua suara mengganggu di dalam kepalanya. Sebab Sehun yakin Jonginpun sama tidak tahunya. Cinta, kalimat itu begitu asing jika dihubungkan dengan Jongin. Dia mencintai Jongin itu sudah pasti tak diragukan lagi.

Tapi melihat Jongin pada posisi Baekhyun terlalu sulit untuk seorang Oh Sehun. Melihat Jongin bersama Changmin, membayangkan mereka berdua menikah tak bisa Sehun terima. Sehun tidak pernah merasa bimbang seperti ini sebelumnya. Memijit batang hidungnya, Sehun menyalakan mesin mobil kemudian melaju. Ke arah lain, bukan ke arah bangunan yang dia sebut sebagai rumah.

.

.

.

Jongin tak bisa memejamkan kedua matanya, ada begitu banyak beban yang seolah bertengger pada kedua pundaknya. Jongin akhirnya bangun, duduk di pinggiran tempat tidur. Kepalanya serasa meledak, tangan kirinya meraih ponsel dan sekali lagi menghubungi Changmin. Butuh lebih banyak jumlah nada sambung yang terdengar, sebelum Changmin menjawab panggilannya.

"Hai Jongin."

Ketika Changmin menjawab, suaranya serak dan berat, Jongin bahkan nyaris merasakan semua rasa lelah yang Changmin rasakan sekarang dan dia merasa sangat bersalah sudah mengganggu Changmin. Namun, semua suara di dalam kepalanya menolak untuk diam dan Jongin yakin bisa gila jika tak mengatakannya sekarang pada Changmin.

"Hyung, maaf sudah mengganggu istirahatmu. Aku ingin berbicara."

"Tentu."

Jawaban Changmin penuh dengan pengertian, dan Jongin semakin tenggelam dalam rasa bersalah. "Sehun menciumku." Changmin tak langsung menjawab, Jongin mendengar suara tarikan napas berat. "Maafkan aku Hyung."

"Apa dia memaksamu?"

"Ya." Balas Jongin nyaris berbisik. Kedua matanya terasa panas, pandangannya mulai kabur. Air mata terbentuk cepat.

"Aku akan bicara pada Sehun, besok. Tidurlah Jongin jangan terlalu memikirkan semua itu."

Menelan ludah kasar, mengumpulkan semua keberaniannya. "Seandainya aku bisa melakukan semua itu Hyung."

"Kau hanya terkejut, itu wajar Jongin."

"Kami bersahabat."

"Ya, kalian bersahabat. Sahabat yang sangat dekat."

"Sahabat seharusnya tak saling berciuman kan? Jawab aku Hyung?"

"Kalian seperti saudara, kalian tak terpisahkan. Aku bisa mengerti."

"Tidak Hyung, bukan seperti ini. Sahabat tak seharusnya…," Jongin menggantung kalimatnya. "Aku merasa nyaman dan aman ketika Sehun memelukku, mendengar suaranya begitu menyenangkan, saat dia tersenyum jantungku berdetak cepat, aku sedikit kecewa ketika Sehun dekat dengan orang lain. Apa itu perasaan seorang sahabat yang wajar? Katakan Changmin hyung?"

"Jongin tidurlah kurasa kau sudah lelah…,"

"Tidak." Potong Jongin. "Changmin hyung bahkan tidak bisa menjawabnya, semua terlalu jelas dan aku buta. Aku mencintai Sehun."

"Tidak Jongin!" teriak Changmin. "Kau tidak mencintai Sehun, itu hal wajar yang dirasakan sahabat yang sudah sangat dekat, lebih dekat dari seorang saudara kandung. Jongin itu wajar…..,"

Jongin bungkam tak menanggapi racauan Changmin di seberang sana. Muak dengan semuanya, termasuk dirinya sendiri. Jongin melempar ponselnya menjauh.

.

.

.

Sehun berdiri di depan pintu apartemen Baekhyun. Ragu-ragu untuk menekan bel pintu. Malam terlalu larut, namun ia yakin bukan itu yang menghalanginya. Keraguan masih menggelayuti punggung Sehun dengan berat, mengumpulkan semua niatnya Sehun berhasil menekan tombol merah bel pintu.

Ia tak berharap banyak Baekhyun masih terjaga sekarang apalagi ia datang tanpa pemberitahuan. Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana hitam yang dia kenakan. Bayangan dirinya terpantul pada pintu apartemen Baekhyun. Mengenakan stelan jas rapi di tengah malam. Entah mengapa Sehun merasa sangat menyedihkan.

Ia lupa kapan terakhir kalinya memakai kaos dan jins. Di usianya sekarang seharusnya ia bisa melakukan hal wajar yang biasa para pemuda di luar sana lakukan. Berpakaian sedikit memberontak, mewarnai rambut, pergi ke klub, kafe, berpesta. Sehun sadar sejak kecil ia tak pernah memiliki kehidupan yang normal, dan Jongin—Jongin adalah teman pertama sekaligus teman terakhirnya yang menganggap dirinya normal.

Jongin berani menghampirinya, menyapanya, mengajaknya bermain, memberinya permen, hanya Jongin yang berani melakukannya. Jongin bahkan berkelahi untuk membelanya. Semua pemikiran tentang Jongin lenyap ketika pintu di hadapannya tertarik ke dalam.

"Sehun?!" Baekhyun terlihat sangat lelah dan mengantuk, namun keceriaan terpancar di wajahnya ketika melihat Sehun.

Sehun seolah tercekik rasa bersalah. Ia mencoba tersenyum dan berharap senyumannya cukup meyakinkan Baekhyun. Kedua tangan Baekhyun terbuka, Sehun mendekatkan tubuhnya dan Baekhyun tanpa menunggu memeluknya dengan erat.

"Aku merindukanmu, terimakasih sudah menyempatkan diri untuk datang." Bisik Baekhyun.

"Maaf mengganggu tidurmu."

"Tidak masalah, ayo masuk." Melepaskan pelukannya, Baekhyun tersenyum lebar tangan kirinya menggenggam telapak tangan kanan Sehun. Menarik Sehun masuk.

Bersamaan dengan suara halus pintu apartemen yang tertutup. Sehun menghentikan langkah kakinya. Baekhyun menoleh, Sehun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Baekhyun. Melangkah mendekat Sehun menempelkan dahinya pada dahi Baekhyun, kedua matanya menatap mata sipit Baekhyun. Kekasihnya tampak sangat mempesona malam ini, tersenyum padanya dengan lembut. Namun, Sehun merasa kosong dan hampa.

"Baek…," bisik Sehun sambil menarik dirinya keluar dari dekapan Baekhyun.

"Ya?" tanya Baekhyun dengan suara lembut.

"Maafkan aku."

"Untuk apa?"

"Semuanya, jika aku membuatmu sedih, jika aku tidak romantis, tidak memperhatikan, tidak memberikan waktu yang banyak untukmu."

"Sehun itu tidak masalah." Baekhyun tersenyum tangan kanannya terangkat untuk membelai pipi kiri Sehun.

Tangan kiri Sehun terangkat, menggenggam tangan kanan Baekhyun. Menurunkan tangan itu. Menatap kedua mata Baekhyun lekat. "Kau berhak untuk bahagia. Kau berhak mendapat yang lebih baik dariku, karena kau sempurna Byun Baekhyun."

Baekhyun terpaku dadanya terasa nyeri, ia takut dengan kalimat selanjutnya yang akan Sehun ucapkan. Baekhyun memejamkan kedua matanya, berharap semua ini mimpi.

"Aku sudah memikirkan hubungan kita dan…,"

"Tidak Sehun…," Baekhyun berucap dengan putus asa.

"Aku tidak bisa meneruskannya." Ucap Sehun mengabaikan tatapan penuh penderitaan Baekhyun. "Aku tidak ingin menyakitimu."

"Kau tidak menyakitiku Sehun."

"Terimakasih untuk semuanya Baekhyun, untuk semua waktu yang sudah kita lewati bersama."

"Sehun jangan pergi!" pekik Baekhyun memeluk tubuh Sehun erat, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sehun.

Sehun nyaris mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Baekhyun. Namun, ia tahu jika dirinya melakukan hal itu. Dia akan meninggalkan luka yang lebih dalam dan lebih parah pada Baekhyun. "Maaf Baekhyun hyung," bisik Sehun. Perlahan ia lepas pelukan Baekhyun kemudian berjalan mundur.

Baekhyun mengangkat kepalanya. Menatap Sehun. "Apa ada orang lain?"

"Aku hanya tidak bisa melihat masa depanku bersamamu lagi Baekhyun hyung."

"Kenapa? Kenapa kau menyakitiku Sehun?"

"Maafkan aku Baekhyun hyung, tapi percayalah jika aku meneruskan hubungan ini kau akan lebih tersakiti lagi."

"Kau tidak mencintaiku lagi?"

Sehun mengutuk dirinya di dalam hati karena membuat Baekhyun menangis. Ia sangat mencintai Baekhyun, namun ia bisa menyebutkan siapa yang mendapatkan cintanya melebihi Baekhyun. Pada akhirnya Sehun hanya bisa berbalik memunggungi Baekhyun. Melangkah panjang-panjang meninggalkan apartemen Baekhyun.

.

.

.

"Jongin keluarlah dari kamar! apa kau tahu jika bolos pada masa magang kau bisa dipecat! Kim Jongin!"

Mengabaikan teriakkan sang kakak, Jongin memilih bergelung di dalam selimutnya, hari ini dia tidak ingin melakukan apapun, termasuk pergi bekerja. Dipecat, tidak masalah jika dirinya harus dipecat. Mungkin itu lebih baik karena dirinya tidak perlu lagi bertemu dengan Sehun.

Sehun, mengingat nama itu membuat jantung Jongin berdetak cepat dan dia tak menyukai hal itu. Rasanya ia terbebani oleh sesuatu jika mengingat Sehun, meski di sisi lain dirinya ia tak bisa memungkiri betapa nyamannya bersama Sehun.

"Kim Jongin ini yang terakhir setelah ini aku akan pergi ke toko dan aku tidak peduli lagi! Jongin?! Jangan keras kepala! Bodoh kau Kim Jongin!"

Jongin memerintahkan pada dirinya untuk berhenti memikirkan Sehun, berhenti memikirkan Changmin, berhenti memikirkan apapun detik ini juga. Memejamkan kedua mata lelahnya, semalaman setelah pembicaraannya dengan Changmin, Jongin tidak tidur.

.

.

.

Jongin membuka kedua matanya, dan dia tak dapat menghitung berapa lama dirinya sudah tertidur. Menatap langit-langit kamar sempitnya, mencoba mendengar suara apapun yang ada di dalam tempat tinggalnya. Nihil, tidak ada suara apapun. Ibunya dan kakak perempuannya pasti sudah berada di toko.

Memaksa tubuhnya yang terasa berat untuk bangun, Jongin lantas melangkah menuju pintu. Membuka kunci dan membuka pintu. Rumah benar-benar sepi, Jongin pada akhirnya memutuskan untuk mandi air mungkin bisa sedikit menjernihkan otaknya yang berkabut sekarang.

Berdiri di bawah pancuran air dingin ketika musim gugur tingggal menghitung hari, pasti adalah keputusan paling buruk. Air terasa menusuk tulang dan tubuh Jongin menggigil sekarang, namun, dia tidak peduli. Tidak peduli dengan apapun. Dia merasa benar-benar tersesat sekarang. Setelah semua yang Sehun lakukan.

Jongin selalu yakin jika Sehun hanya sekedar sahabat, Jongin selalu yakin jika perasaannya terhadap Sehun tidak lebih dari sekedar rasa sayang pada seorang keluarga, Jongin selalu yakin jika dia mencintai Changmin. Dan kejadian tadi malam, semuanya hancur. Semua terbalik.

Nyatanya, rasa sayang itu bukan hanya sekedar rasa sayang terhadap anggota keluarga, Sehun bukan sekedar sahabat, dan ternyata dia tidak benar-benar mencintai Changmin sebesar cintanya terhadap Sehun. Namun, bisa saja Sehun tidak memiliki perasaan itu terhadapnya. Memikirkan jika Sehun tak memiliki perasaan yang sama, membuat lutut Jongin lemas.

Ia mendudukan dirinya di bawah pancuran air dingin menusuk, memeluk kedua lututnya. Tubuhnya menggigil hebat. Dia merasa sangat takut sekarang. Setelah ia tahu semuanya, bahwa selama ini dia mencintai Sehun namun ada kemungkinan Sehun menolaknya dan memilih Baekhyun.

Rasa sesak yang menekan membuat Jongin mengambil oksigen dengan serampangan menggunakan mulutnya. Tersedak air dingin hingga matanya berair. Oh Sehun dan Oh Sehun, hanya nama itu yang menggema di dalam pikirannya. Dan Jongin sungguh menderita sekarang.

.

.

.

Sengaja melewatkan sarapan, Jongin tahu seharusnya dia tidak keluar rumah ketika membolos kerja. Tapi kepalanya bisa meledak jika dia terus terkurung di dalam ruangan seorang diri sekarang. Menarik pintu ke dalam, Jongin terkejut mendapati Changmin sudah berdiri di depan pintu flatnya.

"Hyung." Panggil Jongin dengan lemah.

Changmin tidak tersenyum, kedua matanya merah, kulitnya pucat. "Kau tidak mengeringkan rambutmu dengan benar. Kau bisa masuk angin, di luar mulai dingin."

Tanpa menjawab Jongin melangkah keluar, menutup pintu flat kemudian melangkah keluar. Hari ini dia tidak ingin bertemu dengan Changmin atau bahkan Sehun. Ia butuh ruang untuk bernapas, ia ingin seorang diri.

"Jongin tunggu." Tangan kiri Changmin menahan lengan kanan Jongin. "Bisakah kita bicara?"

"Tentang apa?"

"Semua ucapanmu semalam." Tatapan Changmin terlihat begitu menyedihkan, Jongin ingin menghapus kesedihan pada wajah Changmin. Namun, ia sendiri sedang bimbang, dan jika dia menjawab sekarang. Pasti akan ada yang tersakiti. Dirinya atau Changmin.

"Aku tidak ingin menyakiti Changmin hyung sebaiknya hubungan kita berakhir saja."

"Tidak Jongin, tidak bisa semudah itu. Kita tidak bisa berakhir hanya karena ciuman Oh Sehun. Kau mungkin hanya bimbang karena Sehun melakukan tindakan tidak terduga."

Mengepalkan kedua tangannya, Jongin mengenang kembali kejadian dengan Sehun. Ketika Sehun menciumnya dan dia yakin sekarang sangat yakin. Perasaan itu, perasaan di dalam dirinya bukan sekedar perasaan seorang sahabat.

"Aku—aku mencintai Sehun," bisik Jongin mengabaikan semua rasa bersalahnya. "Aku mencintai Sehun. Selama ini aku buta, maaf." Ucapan maaf Jongin untuk semua orang yang tersakiti karena kebodohannya. Untuk Baekhyun untuk Changmin dan untuk dirinya sendiri. "Maafkan aku Changmin hyung, aku mencintai Sehun."

Changmin menghalangi langkah kaki Jongin, menarik tubuh Jongin ke dalam pelukannya. "Tolong, aku mohon. Jangan mengatakan hal itu, jangan mengatakannya. Aku mencintaimu Kim Jongin, sangat mencintaimu. Jangan pergi."

Jongin ingin sekali membalas pelukan Changmin karena itu terasa sangat aman dan nyaman. Aman dan nyaman tidak cukup, karena Jongin merasa ada yang salah. Tidak seharusnya dia berada di dalam pelukan Jongin. "Maaf," bisik Jongin.

"Bagaimana jika Sehun tidak membalas perasaanmu? Bagaimana jika Sehun menyakitimu?"

"Aku akan menanggung semua rasa sakitnya, aku tidak ingin membohongi Changmin hyung. Jika Sehun menyakitiku, aku akan menerimanya."

"Kim Jongin…,"

"Maaf." Potong Jongin sambil melepaskan dirinya dari pelukan Changmin kemudian berjalan pergi.

"Aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir Kim Jongin! Aku akan mempercepat pernikahan kita!"

Jongin terus melangkah pergi, mengabaikan teriakkan putus asa Changmin. Dadanya sesak oleh semua rasa bersalah. Apapun langkah Changmin mereka tidak akan pernah bersama. Meski Sehun mungkin tak memiliki perasaan yang sama terhadapnya, Jongin sudah mengetahui siapa yang memiliki cintanya. Dan bersama orang lain kecuali Sehun berarti dia sudah berdusta dan dengan terang-terangan menyakiti seseorang yang pura-pura dia cintai. Tidak, Jongin tidak bisa melakukan itu.

TBC

Terimakasih semua yang sudah membaca cerita ini, terimakasih review kalian ahrarzriantix, Oji27, Guest, NishiMala, Guest,vvv, Pop, cute, alv, ly94, Wiwitdyas1, micopark, Kim Jongin Kai, Isakura216, GaemGyu92, troalle, NdiwhY, Natsu Kajitani, vivikim406, Park RinHyun Uchiha, Wendybiblu, Saiueo, k1mut, YooKihyun94, luckyOne94, KyungXe, YooKey1314, nunumato99, novisaputri09, OhSehunKimJongin, auraaaalia, peanutts, jjong86, Kiki2231, Kim762, NisrinaHunkai99, falconidct, Oranyellow chan, bksekalii, narti c, arvipark794, jongiebottom, SeKai Candyland, thedolphinduck, ohkim9488, Xingmandoo, Xingmandoo, ClaraYu, juliakie. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.