WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai, HUNHAN (side)
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL
Previous
Punggung Jongin melengkung ke atas, mendekatkan tubuhnya pada Sehun. Tak ada lagi jarak yang tersisa, Sehun melingkarkan kedua tangannya pada punggung basah Jongin. Erangan merdu terdengar, tubuh keduanya gemetar hebat beradu dalam sebuah kepuasan. Terengah, saling menatap tenggelam dalam tatapan masing-masing. Sebelum tawa Sehun mengakhiri kesunyian yang begitu nyaman membungkus keduanya.
"Kenapa?" alis kanan Jongin terangkat bersamaan dengan pertanyaan yang keluar dari bibirnya.
"Aku—hanya merasa ini semua sangat lucu. Kita melakukannya di depan foto Kakek buyutku."
Kepala Jongin menoleh cepat, di atas perapian lukisan senior keluarga Oh terpajang indah dalam bingkai berukuran besar. "Astaga…," erang Jongin tangan kanannya terangkat cepat menutupi wajahnya. Dan Sehun kembali tertawa.
BAB SEMBILAN
Jongin tidak tahu sudah berapa lama dirinya tertidur, dan bagaimana ia sudah berada di dalam kamar Sehun. Ketika dia terjaga, membuka kedua matanya. Seseorang yang paling ingin ia lihat berbaring di sisi kanan ranjang tempat tidurnya. Mereka berhadapan, Jongin menatap kedua mata tajam gelap nan jernih itu.
"Tidurmu nyenyak?" Sehun bertanya dengan nada lembut.
"Aku memikirkan banyak hal."
"Apa?" tangan kanan Sehun bergerak untuk menyingkirkan anak rambut dari dahi Jongin.
Jongin membasahi bibirnya sembari berpikir kalimat apa yang ingin dia sampaikan. "Aku menghubungi Changmin hyung, aku memikirkanmu, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Sehun. Dan mengatakan hubungan kami sebaiknya berakhir, karena itu yang aku rasa paling tepat."
"Hubunganku dengan Baekhyun juga berakhir. Dan aku juga merasa itu adalah yang paling tepat."
Kedua mata Jongin menampakkan rasa keterkejutan. "Changmin hyung tersakiti, Baekhyun hyung juga." Sehun mengangguk pelan. "Maaf." Bisik Jongin.
"Aku juga bersalah, maafkan aku. Kita benar-benar buta dan terlambat untuk menyadari semua perasaan yang muncul."
"Aku juga."
Sehun tersenyum tipis, tangan kanan Jongin bergerak pelan menyentuh tulang panggul Sehun. Menarik tubuh Sehun mendekat, tanpa berpikir dua kali Sehun merengkuh tubuh Jongin. Jongin menenggelamkan wajahnya pada dada Sehun.
Suara napas teratur Sehun serta detak jantungnya terdengar menenangkan. "Aku mencintaimu Kim Jongin." Bisik Sehun.
"Aku juga sama." Balas Jongin. "Selanjutnya apa?"
"Hubungan kita?" Sehun bisa merasakan anggukan kepala Jongin di dalam dekapannya. "Tidurlah, aku juga ingin tidur." Bisik Sehun.
"Aku harus mengucapkan perpisahan pada Changmin hyung secara langsung, aku mengakhiri hubungan kami dengan cara yang tidak sopan."
"Ssssttt…, tidurlah Jongin. Aku tahu kau sangat lelah."
"Aku menelponnya di tengah malam dan mengatakan semua hal yang pasti menyakitinya."
"Tidurlah," Sehun bergumam pelan, sembari menarik tubuh Jongin lebih dekat. Jongin tahu dia sudah menyakiti Changmin, Sehun tahu jika dirinya menyakiti Baekhyun. Namun, untuk saat ini keduanya merasa cukup dengan berada di dalam pelukan hangat masing-masing.
.
.
.
Baekhyun memutuskan untuk tidak masuk kerja pagi ini. Seharusnya dia menikmati waktu libur yang dia buat sendiri dengan bangun lebih siang. Tapi, dia tidak bisa melakukannya. Pikirannya penuh dan dadanya sangat sesak. Maka, disinilah dirinya berada. Duduk seorang diri di belakang meja makan menikmati kopi pahit panas.
Sambil menikmati kopi pahit, Baekhyun mulai menyusun rencana untuk melupakan Sehun. Pertama, dia akan menyingkirkan semua barang-barang yang berhubungan dengan Sehun. Kedua, dia akan menyerahkan surat permohonan pemindahan tempat. Baekhyun mencintai pekerjaannya jadi dia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya, namun dia tidak bisa bertemu dengan Sehun setiap hari tanpa merasa sakit. Tidak untuk saat ini.
Pilihan terbaik adalah mengajukan surat permohonan pemindahan kerja. Aroma wangi kopi dan menenangkan ketika dihirup, rasa pahitnya sedikit menyegarkan tubuh lelah Baekhyun. Tidak semua cairan hitam pekat itu Baekhyun minum, ia hanya menikmati setengah cangkir kopi pahit kemudian beranjak pergi dari ruang makan.
Hal pertama yang seseorang lakukan ketika patah hati mungkin menyingkirkan semua hal yang berhubungan dengan mantan kekasihnya. Meski sakit, tidak ada pilihan lain kecuali tetap berjalan dengan tenggak dan membuka lembaran baru. Tentu saja Baekhyun marah pada Sehun dan Jongin, merasa dikorbankan. Tapi di sisi lain ia sadar, ia tidak mampu memaksa Sehun untuk tetap berada di sisinya ketika dia mencintai orang lain.
Baekhyun berdiri di tengah ruangan kamar tidurnya. Menghadap ke dinding tempat semua foto-fotonya bersama Sehun tertempel manis membentuk hati besar. Foto kencan pertama di sebuah restoran kecil pinggiran Seoul, foto ketika upacara kelulusan, memasang love lock di Namsan Tower. Semua itu tidak berarti sekarang, kedua tangan Baekhyun bergerak pelan menurunkan setiap foto dari dinding. Memasukkan semuanya ke dalam kardus cokelat bekas makanan ringan.
Boneka Beruang pemberian Sehun dimasukkan ke dalam kantong plastik besar bersama dengan hadiah lain seperti jaket, baju hangat, syal, sepatu, parfum, jam tangan. Baekhyun menarik laci meja kerjanya, melihat seikat Mawar dan Tulip yang mengering. Buket bunga pemberian Sehun yang sengaja dia simpan. Mengambilnya kemudian melesakkan bunga kering itu pada kardus bersama bingkai-bingkai foto.
Setiap benda yang Baekhyun masukan, di saat itulah dia bisa mengingat semuanya seperti melihat film. Terakhir, Baekhyun melepas couple ring-nya memandangi cincin emas yang dia jepit di antara ibu jari dan telunjuknya. "Selamat tinggal," gumam Baekhyun sebelum menjatuhkan cincinnya ke dalam kantong plastik. Mengikat kantong plastik, menutup kardus, mengakhiri semua hubungan dan kenangannya bersama Oh Sehun.
Baekhyun berdiri ketika merasakan kedua matanya panas, menatap bayangannya yang terpantul pada cermin di hadapannya. "Jangan menangis Byun Baekhyun, kau tidak boleh menangis, karena Sehun tidak akan pernah menangis untukmu. Hubungan ini tak lebih dari ilusi baginya, jadi kau tidak perlu menangis. Air matamu terlalu berharga untuk seorang Oh Sehun."
Baekhyun berhasil mencegah dirinya untuk menangis, melirik jam dinding. Pukul sepuluh pagi, butuh lebih dari dua jam untuk membersihkan semua barang-barang. Baekhyun memutuskan untuk menghubungi Sehun untuk terakhir kalinya.
"Baekhyun." Dua kali nada sambung suara Sehun yang terdengar lelah menjawab.
"Kau pergi ke kantor hari ini?"
"Ya, kurasa aku akan datang sore hari. Pukul tiga."
"Aku ingin bertemu denganmu, apa kau punya waktu? Tenang saja, ini bukan masalah pribadi. Aku tidak akan memohon memintamu kembali, aku tidak akan berteriak dan menangis dramatis di hadapanmu, ini masalah pekerjaan. Kuharap kau tidak keberatan dengan permintaanku."
"Baiklah."
"Terimakasih." Balas Baekhyun sebelum memutuskan sambung teleponnya dengan Sehun, meski ia tidak mengerti mengapa pada kalimat terakhir suara Sehun terdengar bergetar.
Menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, Baekhyun meletakkan ponselnya ke atas nakas sebelum berjalan menuju kamar mandi. Dia tidak mungkin pergi ke kantor dengan seluruh tubuh yang dipenuhi keringat.
.
.
.
Jongin mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk, ia keluar dari kamar mandi dan melihat kamar tidur sudah rapi. Sehun tidak ada di dalam kamar, ada pakaian bersih di atas ranjang tempat tidur. Jongin mendekati ranjang, mengamati pakaian yang Sehun siapkan atau mungkin salah satu pelayan Sehun yang menyiapkannya.
Memakai jins biru dan sweeter putih, merasa penampilannya cukup pantas. Jongin memutuskan untuk keluar dari kamar dengan membawa jaket abu-abu dan garis hitam pada bagian dadanya, milik Sehun. Ketika melangkah keluar dari kamar, Jongin melihat Sehun duduk pada sofa merah tua terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya.
Sehun mendongak mendengar langkah kaki Jongin. "Hai."
"Hai." Balas Jongin, tersenyum tipis namun ia tidak mengambil langkah untuk mendekati Sehun.
"Makan siang sudah siap setelah itu aku akan pergi ke kantor, aku bisa mengantarmu pulang sekalian."
"Ya." Jongin membalas singkat, entah mengapa sekarang dia merasa canggung berhadapan dengan Sehun. Seharusnya kecanggungan itu tidak perlu terjadi bukan?
Sehun tersenyum kemudian melangkah mendekati Jongin. Menggenggam lembut pergelangan tangan kanan Jongin kemudian memeluk tubuh Jongin. Membuat Jongin tersentak. "Ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Hmm.., entahlah." Gumam Jongin, ia sendiri merasa bingung. "Aku hanya memikirkan sesuatu." Suara Jongin teredam oleh dada Sehun.
"Kau bisa mengatakan apapun yang sedang kau pikirkan sekarang." Gumam Sehun sambil mengusap-usap pelan punggung Jongin.
"Hmm.., kita dulu sahabat…,"
"Sekarang juga masih sahabat." Potong Sehun.
"Itu yang membuatku bingung, kita sahabat atau pasangan kekasih?"
Sehun tak langsung menjawab, ia melonggarkan pelukannya kemudian menarik tubuhnya sedikit menjauhi Jongin. Mengamati wajah Jongin lekat, menatap kedua bola mata hitam Jongin. "Aku tidak ingin ada yang berubah di antara kita. Kita sahabat tapi kau tahu, aku akan memperlakukanmu dengan lebih baik lagi, aku akan mencintaimu lebih banyak lagi."
Kalimat Sehun seharusnya membuat seseorang tersipu tapi tidak untuk Jongin, ia justru tertawa mendengar kalimat Sehun. "Hentikan Sehun, kalimatmu menggelikan."
"Aku bermaksud untuk romantis!" Sehun memekik kesal.
Jongin tersenyum. "Satu lagi, apa yang harus aku katakan pada Ibu? Aku tidak pulang semalam."
"Katakan saja jika kau menginap di rumahku, bukankah itu sudah biasa terjadi?"
"Tidak." Balas Jongin sambil memutar kedua bola matanya malas. "Aku biasa menginap di sini saat umur sembilan tahun sampai sebelas tahun."
"Yah kau benar. Dan kita tidak melakukan apapun kecuali tidur sedikit terlambat, dan menonton film dengan banyak camilan." Jongin mengangguk pelan. "Ibumu tidak akan curiga karena saat itu kita hanya anak kecil polos yang tidak tahu banyak hal kecuali mainan dan camilan." Jongin kembali mengangguk. "Hmm…," Sehun menggumam dengan tangan kanan menopang dagunya.
"Kau punya alasan yang cukup baik? Jadi aku tidak perlu terjebak dengan pertanyaan dari Ibu dan Boram?"
"Aku tahu!" Pekik Sehun percaya diri, Jongin menatapnya penuh antusias. "Katakan saja aku menginap di rumah Sehun dan aku bercinta dengannya."
Tatapan penuh antusias Jongin berubah sengit, kedua telapak tangannya mengepal erat. "Bodoh!" Jongin berteriak marah.
"Itu solusi yang menurutku masuk akal." Balas Sehun polos.
"Aku akan tewas mengenaskan jika mengatakan itu semua, kau tahu sendiri apa aturan di keluargaku?"
"Kalau tidak salah Bibi selalu bilang, Jongin kau harus menikah dulu sebelum melakukan hubungan yah hubungan itu, jika kau terlanjur melakukannya sebelum menikah maka Ibu harap kau menikahi orang itu."
"Wah kau masih mengingatnya dengan sangat jelas."
"Tentu saja, Bibi mengatakannya di depanku karena Bibi juga mengharapkan hal yang sama terjadi padaku."
"Tapi kau ingkar."
"Tidak!" Sehun berteriak cukup keras.
"Secara teknik kita sudah mengingkarinya."
"Ya kau benar." Sehun tersenyum lebar diakhir kalimat. "Tapi sebelumnya aku tidak ingkar!"
"Oh Ya?" Jongin melipat kedua tangannya di depan dada.
"Itu benar, sekedar informasi Tuan Kim Jongin aku tidak pernah berhubungan badan dengan siapapun kecuali kau."
"Ah." Balas Jongin dengan wajah yang mungkin sekarang bersemu. "Dan semua kekasihmu itu? Baekhyun hyung?"
"Tidak aku tidak melakukannya dengan siapapun kecuali denganmu."
"Kenapa aku tidak bisa percaya seratus persen ya?"
"Sudahlah, ayo makan siang. Aku lapar dan aku harus ke kantor karena Baekhyun menghubungiku."
"Baekhyun hyung?"
Sehun menatap wajah Jongin cemas. Satu hal yang tidak dia inginkan adalah Jongin merasa cemburu. "Ini hanya tetang pekerjaan." Jelas Sehun.
"Apa Baekhyun hyung berniat untuk pergi?" Sehun mengangguk pelan. "Kau mengijinkan Baekhyun hyung pergi?"
"Kurasa hanya itu pilihan yang tersisa." Sehun melihat Jongin menggigit pelan bibir bawahnya. "Hei, kau tidak perlu merasa bersalah. Di sini akulah yang bersalah, jangan merasa bersalah."
"Tentu saja aku merasa bersalah, aku tidak bisa mencegah perasaan ini. Karena aku sudah mencuri sesuatu dari Baekhyun hyung."
"Kau tidak memaksaku untuk mencintaimu, pencuri mengambil paksa kau tidak mengambilku, aku yang menginginkannya. Aku ingin bersamamu."
"Tapi dari sudut pandang Baekhyun hyung aku adalah pencuri. Seorang pencuri yang kejam."
"Haah..," Sehun menghembuskan napas kasar. "Aku menyakiti Baekhyun, aku merasa terbebani akan itu. Tapi aku tidak menyesali hubungan kita, aku tidak menyesal memilihmu."
"Terimakasih." Ucap Jongin dengan suara pelan.
"Makan siang?" Sehun mengulurkan tangan kanannya.
"Tentu." Jongin tersenyum menyambut tangan kanan Sehun, menggenggamnya erat.
.
.
.
"Kau mengajukan surat permohonan pemindahan tempat kerja?"
"Ya."
"Kenapa?"
Baekhyun menggigit pelan bibir bawahnya, seharusnya Sehun sudah tahu dengan jelas alasannya tanpa perlu bertanya lagi. "Jongin bilang dia ingin mengundurkan diri aku tidak ingin itu terjadi, hubungan kita sudah cukup buruk aku tidak mau memperkeruh keadaan." Baekhyun mengungkapkan setengah kebenarannya kepada Sehun.
Di belakang meja kerjanya Sehun melempar tatapan menuntut pada Baekhyun. "Aku yakin sebagian besar karena aku."
Baekhyun tertawa pelan kemudian mengangguk. "Seharusnya kau tidak perlu bertanya."
"Maaf."
"Kata maaf saja tidak cukup, aku mencintai pekerjaanku tapi aku juga tidak bisa bertemu denganmu dan Jongin setiap hari, tanpa merasa sakit dan benci. Kurasa menjaga jarak dari kalian dan tidak bertemu dengan kalian lagi adalah pilihan terbaik."
Sehun menelan ludah kasar. "Aku harap rasa sakitmu tidak akan lama, dan kau menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari aku."
"Terimakasih atas harapan indahmu. Setujui saja surat permohonanku, Tuan Oh Sehun."
"Tentu, kau ingin ditempatkan dimana?"
"Selandia Baru, kudengar pemandangan di sana sangat indah."
"Sejauh itu?" Sehun tak percaya dengan jawaban Baekhyun.
"Semakin jauh semakin baik. Aku sudah mengemasi semua barang-barang pemberianmu, apa aku perlu mengembalikannya padamu?"
"Tidak perlu, kau simpan saja."
"Aku tidak ingin menyimpannya."
Sehun tak langsung menjawab ia menatap lekat wajah Baekhyun, ia tidak menginginkan semua ini. Tapi semua ini adalah pilihannya, dan ketika Baekhyun berdiri di hadapannya berbicara seperti orang asing yang tak pernah saling kenal, semua adalah resiko yang harus Sehun rasakan. "Kau bisa membuangnya, apapun yang ingin kau lakukan. Aku tidak ingin kita berakhir seperti ini."
"Kau ingin bersama Jongin tapi tetap berhubungan baik denganku?" Sehun mengangguk pelan. "Kau tidak bisa egois."
"Aku tahu, aku mencintaimu." Gumam Sehun dengan suara bergetar, Baekhyun tahu Sehun tidak berbohong tentang perasaannya.
"Tapi kau mencintai Jongin lebih besar dariku." Balas Baekhyun sambil menatap lekat kedua mata cokelat Sehun. Sehun tak membalas. "Dalam hidup kau harus memilih, kau tidak bisa egois, kau tidak bisa memiliki semuanya. Terkadang pilihan yang kau buat akan menyakitkan untuk sebagian orang. Dan kali ini aku yang merasakan sakit. Tidak!" pekik Baekhyun melihat Sehun membuka bibirnya nyaris mengucapkan permintaan maaf. "Kau tidak perlu meminta maaf, aku mengerti. Kau mencintai Jongin, aku tidak bisa memaksamu untuk tetap bersamaku. Aku mengerti itu."
"Hari itu, saat aku melihatmu pertama kali. Aku benar-benar jatuh cinta padamu, aku tidak sedang bermain-main. Aku tidak pernah mempermainkanmu."
Baekhyun tersenyum tipis. "Sedikit melegakan mendengarnya. Kau boleh membakar barang-barang pemberianku, terimakasih waktunya Tuan Oh Sehun." Baekhyun membungkuk dalam, sebelum berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan Sehun.
Sehun menatap pintu ruangannya yang tertutup, dia memilih Jongin. dia bahagia bersama Jongin. Tapi, tentu saja dia merasakan patah hati saat Baekhyun pergi.
.
.
.
"Jongin, Changmin datang berkunjung." Kalimat sang ibu menghentikan kegiatan Jongin yang sedang sibuk menaikkan kardus apel ke atas rak pajang. "Temui dia." Jongin mengangguk pelan, ia belum memberitahu ibu dan kakak perempuannya jika hubungannya dengan Changmin berakhir.
"Ah!" Jongin tersentak ketika merasakan kedua lengan Changmin melingkari perutnya, Changmin memeluknya dari belakang.
"Apa kabarmu hari ini? Kenapa semalam tidak pulang? Kau tahu ibu dan kakak perempuanmu sangat cemas." Ucap Changmin, hembusan napas hangatnya menyapu leher kanan Jongin.
"Aku pergi ke rumah teman." Jongin melonggarkan pelukan Changmin kemudian melangkah maju, membebaskan dirinya dari pelukan Changmin, ia berbalik dan melihat tatapan tidak suka dari Changmin.
"Teman atau Sehun?" Jongin memilih bungkam. "Aku ingin berbicara denganmu, juga ibu dan kakak perempuanmu."
"Tentu."
"Nyonya Kim, saya ingin menikahi Jongin secepat mungkin apa Anda tidak keberatan?"
Kedua mata Jongin membulat sempurna. "Me—menikah." Bisik Jongin terbata.
"Kurasa tidak masalah, asal Jongin setuju." Dan jawaban dari sang ibu membuat Jongin merasa bersalah. "Jongin?" Nyonya Kim menatap sang anak bungsu dengan penuh harap.
"Jongin selamat!" Boram memekik bahagia kemudian memeluk lengan kanan Jongin erat. Changmin tersenyum lebar sambil menatap Jongin.
"Tidak." Jawaban Jongin membuat semua orang terperanjat. "Tidak, kami tidak akan menikah. Itu keputusan sepihak Changmin hyung, bahkan sebenarnya hubungan kami sudah berakhir."
"Jongin apa yang kau bicarakan?!" pekik Changmin sambil berusaha menarik pergelangan tangan kanan Jongin. Jongin menghindari tangan Changmin.
"Hubungan kami sudah berakhir." Tegas Jongin. "Tolong jangan memaksaku Hyung."
Changmin tersenyum miring. "Ya hubungan kami berakhir, karena putera Anda berselingkuh." Changmin menatap penuh amarah kepada Nyonya Kim.
"Aku tidak berselingkuh, aku sudah mengatakan jika hubungan kita berakhir…,"
"Karena Sehun." Potong Changmin. "Karena Sehun kau mengakhiri hubungan kita, benar kan Kim Jongin?"
"Itu benar, mafkan aku Changmin hyung."
"Kau tidak bisa mengakhiri hubungan ini begitu saja, Kim Jongin."
"Changmin hyung jangan membuat semua ini semakin sulit." Ucap Jongin dengan nada memohon.
"Bagaimana aku bisa mengakhiri semua ini? Jika aku masih mencintaimu? Kita tidak bisa berakhir seperti ini."
"Aku tidak bisa terus bersama Changmin hyung, maafkan aku. Jika kita terus bersama aku akan semakin menyakiti Changmin hyung."
"Tidak masalah bagiku, asalkan kau tetap bersamaku." Kedua mata Changmin nampak sembab ia berusaha memeluk Jongin, namun Jongin kembali menghindar. Dan penolakan Jongin membuat amarah di dalam diri Changmin yang selama ini ia pendam meledak. "Kim Jongin kau brengsek!"
Changmin berteriak penuh amarah dan…
PLAKKK!
Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi kiri Jongin. Mengejutkan semua orang termasuk Changmin sendiri. Jongin tidak mengatakan apapun, meski pipi kirinya berdenyut nyeri dan panas. "Jo—Jongin maafkan aku," menyadari kesalahannya, Changmin gelagapan meminta maaf kepada Jongin.
"Berhenti." Nyonya Kim berucap tegas. "Jangan menyentuh puteraku lagi, jangan menemuinya lagi, pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi."
"Nyonya Kim..," tatapan Changmin dipenuhi oleh keputus asaan.
"Pergi dari hadapanku sebelum aku menyerangmu, kau tidak tahu betapa mengerikannya kemarahan seorang Ibu ketika anak mereka tersakiti."
"Nyonya Kim….," Changmin berusaha membujuk.
PLAKK!
Tamparan keras Changmin terima di pipi kirinya dari wanita yang selama ini ia kenal sangat lembut. "Pergilah jangan kembali lagi. Pergi sekarang juga Shim Changmin." Changmin pergi dengan tergesa dengan amarah yang tampak jelas dia tahan.
Keheningan menyayat tajam. "Boram tutup tokonya, Jongin, Ibu ingin berbicara denganmu." Jongin hanya bisa mengangguk pelan.
Jongin dan sang ibu duduk berhadapan, Boram sudah selesai menutup toko, cahaya matahari dari luar memasuki ruangan dari celah-celah tirai jendela. "Kau dan Changmin putus?"
"Ya." Jongin mengangguk pelan. "Kami putus."
"Karena akhirnya kau sadar selama ini mencintai Sehun."
"Darimana Ibu tahu?"
Nyonya Kim tersenyum. "Semua sudah terlihat sangat jelas Sayang. Ketika kau dan Sehun beranjak dewasa, Ibu tahu itu cinta tapi entah bagaimana kalian berdua tak menyadarinya sama sekali."
Jongin tertawa pelan. "Aku benar-benar bodoh."
Nyonya Kim menggeleng pelan. "Kau tidak bodoh, saat kita tidak begitu mengenal seseorang perasaan-perasaan yang muncul akan dengan mudah dibedakan, tapi ketika kita mengenal seseorang sangat dekat semua perasaan yang muncul akan bercampur menjadi satu dan butuh waktu untuk mengerti semuanya."
"Jadi—Ibu tidak marah hubunganku dengan Changmin hyung berakhir?"
"Tentu saja tidak."
"Sepertinya Ibu sangat menyukai Changmin hyung, aku takut mengecewakan Ibu."
Nyonya Kim tertawa pelan. "Aku tidak akan berpura-pura, Changmin terlihat sempurna menjadi menantu tapi jika kau tidak bahagia, itu semua tidak ada artinya untukku. Dan satu lagi." Tatapan Nyonya Kim berubah serius. "Changmin sudah menamparmu, dia sudah Ibu coret dari daftar menantu idaman." Jongin tertawa mendengar kalimat sang ibu. "Pipimu sampai lebam, pasti sakit. Ibu saja tidak pernah menamparmu, kurang ajar sekali dia."
"Ini tidak sakit, Ibu tenang saja. Aku pernah mendapat luka yang lebih serius."
"Berkelahi dengan seniormu karena mereka mengejek Sehun."
"Ya." Jongin membalas pelan.
"Aku tertinggal banyak?!" Boram memekik tidak senang sambil memeluk Jongin dari belakang.
"Tidak banyak yang kami bicarakan hanya hubunganku dengan Changmin hyung yang berakhir, dan sekarang aku bersama Sehun."
"Akhirnya….," ucap Boram penuh kelegaan. "Pada akhirnya kalian mendapat pencerahan. Satu lagi, semalam kau menginap di rumah Sehun kan?"
Kedua bola mata Jongin membulat sempurna, sekarang dia merasa menyesal memiliki saudara. Karena ibunya lupa dengan topik tidak pulang semalam tapi Boram membuka topik menyebalkan itu.
"Ya, aku menginap di rumah Sehun semalam."
"Apa yang kalian lakukan?!"
Pertanyaan dengan nada histeris dari sang Ibu membuat Jongin ingin menenggelamkan dirinya ke laut. "I—itu kami tidak melakukan apa-apa."
"Jawabanmu ragu-ragu."
"Kurasa mereka bercinta."
"Boram jaga bicaramu."
"Maaf Ibu."
"Jongin?"
"Ahhh…. Aku lelah sekali, kurasa aku ingin pulang dan tidur."
"Kim Jongin jangan menghindari pembicaraan."
TBC
Halo semua terimakasih sudah membaca cerita ini, meski semakin aneh hehehe. Terimakasih review kalian maiolibel, Miran hunkai, ariska, opikikim, lela wyfhzt, vegagomie, nunumato99, vegagom, Guest, vegagom, KyungXe, cute, NishiMala, Guest, Ggg, poongi, Sam, Guest, Sonyun, mad vii chan, sarlisa, awrerei, novisaputri09, Wiwitdyas1, jongbae, Athiyyah417, adi chandra, laxyovrds, ohkim9488, vegadmp00, Kamong Jjong, Kim Jongin Kai, Natsu Kajitani, vivikim406, troalle, Kiki2231, Babygom, GaemGyu92, jongiebottom, YooKihyun94, luckyOne94, alita94, OhSehunKimJongin, HamsterXiumin, Kitten Taco, Sekai Candyland, micopark, bksekaii, pawpiwpow, Rhanie404, xolovxy, k1mut, falconidct, jjong86, maryaulfa, Saiueo, juliakie. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
