WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai, HUNHAN (side)
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL
Previous
Kedua bola mata Jongin membulat sempurna, sekarang dia merasa menyesal memiliki saudara. Karena ibunya lupa dengan topik tidak pulang semalam tapi Boram membuka topik menyebalkan itu.
"Ya, aku menginap di rumah Sehun semalam."
"Apa yang kalian lakukan?!"
Pertanyaan dengan nada histeris dari sang Ibu membuat Jongin ingin menenggelamkan dirinya ke laut. "I—itu kami tidak melakukan apa-apa."
"Jawabanmu ragu-ragu."
"Kurasa mereka bercinta."
"Boram jaga bicaramu."
"Maaf Ibu."
"Jongin?"
"Ahhh…. Aku lelah sekali, kurasa aku ingin pulang dan tidur."
"Kim Jongin jangan menghindari pembicaraan."
BAB SEPULUH
Setelah memberi alasan berbelit-belit, Jongin akhirnya diijinkan pulang. Ia cukup lega tidak perlu membeberkan semua kebenarannya pada sang Ibu. Ya, dia sangat mencintai Sehun tapi jika harus segera menikah, sepertinya itu terlalu tergesa-gesa. Jongin masih terlalu muda untuk berkomitmen, dia ingin bersenang-senang terlebih dahulu dan mungkin menemukan sesuatu yang ingin dia lakukan.
"Boram, awas aku akan membalasmu." Gerutu Jongin sambil membuka pintu lemari pendingin. Mengamati isi lemari pendingin lekat. Dia menginginkan soda, namun tidak ada soda di sana. "Apa kita akan memulai hidup sehat lagi? Aku yakin hanya bertahan paling lama sebulan." Gerutuan Jongin berlanjut sementara tangan kanannya meraih kotak jus anggur.
Jongin meminum jus anggur langsung dari karton, tidak masalah karena kakak dan ibunya sedang tidak ada. Jika mereka ada di rumah, sudah dapat dipastikan kepalanya akan menjadi korban geplakan Boram atau sang ibu.
Tok Tok Tok….
Kening Jongin berkerut, ia letakkan karton jus ke atas konter dapur lalu berjalan cepat menghampiri pintu. "Siapa yang datang?" sesampainya di depan pintu tangan kiri Jongin bergerak cepat, tanpa ragu menggenggam knob pintu. Kunci terbuka, Jongin menarik daun pintu ke dalam.
"Selamat malam Jongin."
"Ah!" Jongin tersentak. "Changmin hyung, apa yang Hyung lakukan di sini?"
"Aku…, ingin meminta maaf atas tindakan kasarku tadi. Maafkan aku."
Jongin tak langsung membalas, ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Aku sudah memaafkan Changmin hyung, aku juga bersalah. Aku tahu itu."
Changmin tersenyum. "Aku ingin mengembalikan ini padamu." Jongin melihat kardus cokelat bekas wadah buah peach di tangan Changmin. "Semua barang yang pernah kau berikan padaku."
"Ah itu hmmm…,"
"Apa ada barang-barang pemberianku yang ingin kau kembalikan? Aku tidak memaksa kau bisa menyimpannya jika ingin. Tapi, jika kau tidak menginginkannya lagi kau bisa mengembalikannya padaku, aku akan menyumbangkan barang-barang yang masih bagus."
Mempertimbangkan ucapan Changmin pada akhirnya Jongin mengangguk. "Aku akan mengambilnya, Changmin hyung tunggu di sini." Jongin mengulurkan tangannya berniat mengambil kardus di tangan Changmin.
"Ini lumayan berat, biar aku yang membawanya masuk."
"Baiklah." Balas Jongin sembari menggeser tubuhnya ke kanan dan membuka pintu lebih lebar mempersilakan Changmin memasuki flatnya.
Jongin membiarkan pintu sedikit terbuka sebelum menyusul Changmin ke ruang tamu. "Ibu dan kakakmu belum pulang?"
"Mereka pulang terlambat akhir-akhir ini."
"Mereka bekerja keras."
"Begitulah." Balas Jongin sambil mengendikan kedua bahunya. "Changmin hyung ingin minum apa? Ah, kurasa hanya jus yang aku miliki sekarang." Jongin tersenyum lebar diakhir kalimat.
"Tidak perlu."
"Hmm.., baiklah tunggu sebentar aku akan mengambil barang-barang." Changmin mengangguk pelan, Jongin memutar tubuhnya memunggungi Changmin.
Dua langkah, hanya dua langkah ketika Jongin merasakan pelukan Changmin kedua tangan Changmin melingkari tubuhnya erat. "Hyung." Panggil Jongin, ia tidak menyukai tindakan Changmin, sejujurnya dia takut namun dia tidak akan bersikap lemah di hadapan Changmin. "Lepaskan Hyung, hubungan kita sudah berakhir. Tidak baik memelukku seperti sekarang."
"Karena Sehun? Kau sudah menjadi kekasih Sehun?"
Suara Changmin sarat akan kemarahan. "Changmin hyung sebaiknya Hyung pulang, aku akan mengirim barangnya besok."
"Kim Jongin hanya kau yang menginginkan hubungan kita berakhir, tapi aku tidak. Aku tidak ingin mengakhirinya, aku mencintaimu dan kau harus menjadi milikku apapun yang terjadi."
Jongin dengan cepat melepaskan pelukan Changmin lantas melangkah mundur menjauh. "Pulanglah Changmin hyung." Bujuk Jongin dengan nada lembut, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ketakutan mencengkeram kuat.
"Kau-harus-menjadi-milikku-Kim Jongin." tegas Changmin dengan suara menggeram yang mengerikan bagi Jongin.
"Ah!" pekik Jongin ketika Changmin mencengkeram lengan kirinya kuat, kemudian menarik tubuhnya kasar.
"Kau harus menjadi milikku apapun yang terjadi! Jika aku tidak bisa memilikimu maka tak seorangpun yang boleh memilikimu!" Changmin berteriak keras.
Kedua lutut Jongin terasa lemas sekarang, ia yakin sesuatu yang buruk akan terjadi dan dia harus mencari cara untuk lari dari Changmin secepat mungkin. Jongin berusaha melepaskan cengkeraman Changmin, itu tak berhasil, Changmin terlalu kuat untuknya.
Mendekatkan tubuhnya dengan Jongin, Changmin menatap kedua mata bulat Jongin tajam. "Aku harus memilikimu," ucap Changmin dengan suara rendah mengintimidasi. "Hanya ada dua cara Kim Jongin, pertama menghamilimu, atau yang kedua membunuhmu."
"Hyu—Hyung." Jongin benar-benar ketakutan sekarang. Jika dia berteriak itu percuma, penghuni lain masih bekerja. Menghubungi Sehun juga tidak mungkin. Tidak mungkin Sehun tiba-tiba muncul dan menyelamatkannya. "Changmin hyung kita masih bisa berhubungan baik…,"
"Sebagai teman?!" teriak Changmin. "Aku tidak menginginkan hubungan seperti itu!" bersamaan dengan teriakkan keduanya, Changmin mendorong tubuh Jongin keras.
Jongin terjatuh dalam posisi duduk, Changmin berdiri di hadapannya. Jongin berdiri cepat kemudian berlari. "Changmin hyung!" teriaknya panik ketika Changmin menarik tangan kirinya kasar. Changmin memutar tubuh Jongin cepat kemudian untuk kedua kalinya kembali mendorong tubuh Jongin kasar.
Changmin berniat menindih tubuh Jongin namun Jongin menendang perut Changmin keras, ketika Changmin mengerang kesakitan Jongin memiliki kesempatan untuk kabur. Niat Jongin untuk menghampiri pintu terhenti karena Changmin menghadangnya.
"Changmin hyung aku mohon jangan lakukan ini padaku." Ucap Jongin mengiba, namun Changmin sudah kalap. Jongin berjalan mundur menjauhi tubuh Changmin. "Aku mohon."
BRAKK!
Changmin mendorong tubuh Jongin keras, punggung Jongin membentur dinding. "Hentikan!" Jongin berteriak ketika Changmin memeluk tubuhnya kuat dan memaksa untuk mencium bibirnya.
"Diamlah Jongin! Jangan melawanku lagi! Selama ini aku menahan diri untuk tidak menyentuhmu karena kau tidak ingin melakukannya, aku menghormatimu, tapi aku yakin kau tidak akan keberatan jika Sehun yang melakukkannya. Kau tidak keberatan kan?!" Changmin mencengkeram kedua bahu Jongin kuat.
"Hyung aku mohon hentikan, jangan memaksaku, jangan menyakitiku." Bisik Jongin dengan air mata yang mulai mengalir keluar dari kedua matanya.
"Aku tidak akan menyakitimu, jika kau tidak memilih pergi. Jangan melawanku kau akan baik-baik saja."
Jongin mendorong tubuh Changmin sekuat tenaga ketika laki-laki itu mencoba meraup bibirnya. "Jangan menyentuhku!" Jongin berteriak histeris sebelum berlari.
Changmin menarik bagian belakang pakaian yang Jongin kenakan, kehilangan keseimbangan Jongin terjatuh dengan keras. Pelipis kanannya terbentur pinggiran meja makan. Pening, dengan pandangan yang sedikit kabur. Jongin mencoba berdiri.
"Kau tidak bisa kabur dariku Kim Jongin!" teriak Changmin sambil menahan kaki kiri Jongin. Bergerak cepat Jongin menendang rusuk kiri Changmin dengan kaki kanannya.
Jongin berdiri terhuyung, kepalanya berdenyut nyeri, sesuatu yang hangat mengaliri dari pelipis kanannya. Darah, Jongin tahu, itu adalah darah dari aroma logam yang tercium.
"Kau tidak bisa kabur dariku Kim Jongin!" Changmin sudah kehilangan kendali. Ia mengejar langkah kaki Jongin, kedua tangannya terjulur untuk menarik tubuh Jongin dari belakang.
Jongin tahu dia tidak akan pernah bisa menang melawan Changmin, dia tidak ingin berakhir seperti ini dengan cara yang memalukan. Maka ketika dia merasakan tangan Changmin yang kembali menarik pakaiannya, menyentak tubuhnya dengan kuat. Jongin tidak tahu apa tindakannya tepat atau salah, satu hal yang dia ketahui ia hanya ingin menyelamatkan dirinya dari kegilaan ini.
Tangan kiri Jongin menarik pisau dapur secara serampangan dari tempat penyimpanannya. Suara keras terdengar ketika rak penyimpan peralatan makan terjatuh ke atas lantai. "Jangan menyentuhku!"
Telapak tangan kiri Jongin memegang gagang pisau dengan mantap, waktu seolah berhenti ketika tangan kiri itu mendorong gagang pisau ke depan. Mata pisau menembus kain penutup tubuh Changmin, terus mendorong ke depan, menembus kulit Changmin.
Tidak ada teriakkan Changmin yang ada hanya ekspresi terkejut bercampur kesakitan, sesaat sebelum tubuhnya terjatuh ke atas lantai. Jongin berlari panik melompati tubuh Changmin di atas lantai ubin dapur. Melempar pisau di tangan kirinya, ia jatuh terduduk mengamati kedua tangannya yang berlumuran darah. Napasnya tersengal. "Apa yang aku lakukan? Tidak, apa yang aku lakukan?"
Tangan kanan Jongin gemetaran hebat ketika dia mencoba meraih ponsel di atas meja ruang keluarga. Menghubungi Sehun hanya itu yang bisa dia pikirkan, meminta bantuan Sehun.
"Jongin."
"Sehun datanglah ke flatku, sekarang aku mohon Sehun datanglah, aku—Sehun datanglah. Aku mohon." Suara Jongin terbata dan bergetar hebat.
"Jongin ada apa?!"
"Aku mohon datanglah Sehun," bisik Jongin sebelum menjatuhkan ponselnya ke atas lantai.
Air mata mengalir dengan cepat, Jongin duduk tak berdaya menatap tubuh Changmin yang sama sekali tak bergerak. Darah terlihat menodai pakaian Changmin dengan cepat.
.
.
.
Ketika Sehun tiba keadaan benar-benar kacau pintu flat tak terkunci, ruang keluarga Jongin berantakan, Jongin terduduk di atas lantai terlihat syok dan bingung. Darah kering menodai wajahnya, dengan pisau tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Dan terakhir Changmin terkapar di atas lantai dapur dengan darah menggenang pada perutnya.
"Jongin…,"
"Sehun!" panggilan Sehun menarik Jongin dari dunianya, ia bangkit, berdiri, berlari, dan memeluk Sehun erat.
"Jongin, tenanglah." Ucap Sehun sambil mengusap pelan punggung Jongin.
"Aku membunuh Changmin hyung aku pembunuh Sehun apa yang harus aku lakukan? aku tidak mau mendekam di penjara tolong aku Sehun aku mohon…," racau Jongin.
"Jongin tenanglah!" Sehun terpaksa membentak Jongin agar dia tenang. "Tenanglah aku akan memeriksa keadaan Changmin."
Sehun melepaskan pelukan Jongin lalu berlari menghampiri tubuh Changmin. Tangan kanannya terjulur menyentuh leher Changmin, ia masih merasakan denyut kehidupan di sana. "Kita ke rumah sakit sekarang." Perintah Sehun, sembari mengangkat tubuh Changmin tanpa kesulitan. Jongin bergegas mengekori Sehun.
Membiarkan pintu flat terbuka, meninggalkan ponsel, serta tanpa alas kaki, semua itu tidak penting sekarang. Jongin hanya ingin tahu apa Changmin masih hidup atau dia sudah tewas.
Sehun membaringkan tubuh Changmin pada kursi belakang mobilnya, Jongin mendampingi Changmin membiarkan kepala mantan kekasihnya terkulai pada kedua pahanya. Sehun menggunakan jaket hitamnya untuk mengikat perut Changmin menekan pendarahan. Ketika Mobil mulai bergerak saat itulah Jongin memikirkan banyak hal.
Memandangi wajah Changmin dengan kedua mata terpejam dan kulit yang nampak pucat. Mungkin ketakutan Jongin bukan tentang tewasnya Changmin tapi konsekuensi dari tindakannya, ia bisa dikirim masuk ke penjara dengan tuntutan tidak main-main.
Lima menit untuk sampai ke rumah sakit, Sehun menggendong tubuh tak berdaya Changmin, dokter dan perawat langsung menghampiri Sehun dan membawa Changmin ke unit gawat darurat. Kedua langkah kaki Jongin melambat dan kini dia tidak lagi mengikuti Sehun. Memikirkan tindakan Changmin yang gagal dia lakukan tadi, Jongin ingin sekali membiarkan dia mati begitu saja.
Pada akhirnya Jongin mendudukan dirinya di ruang tunggu, pikirannya penuh dan perasaannya campur aduk sekarang. Sehun menyusulnya tak berapa lama, berlutut di hadapannya sambil menggenggam kedua telapak tangannya. "Apa yang terjadi? Kenapa kau berdarah?"
Menelan ludah susah payah, Jongin tidak ingin bercerita sekarang namun tatapan Sehun meluluhkan semua usahanya. "Changmin hyung…," ucap Jongin nyaris berbisik. "Dia datang ke flat untuk mengembalikan barang-barang yang pernah aku berikan padanya, dia memintaku melakukan hal yang sama, lalu aku mengundangnya masuk…,"
Genggaman Sehun menguat pada kedua telapak tangan Jongin. "Lanjutkan Jongin, percayalah padaku."
"Dia bilang hubungan kami tidak boleh berakhir, dia tidak menginginkan semuanya berakhir. Jika aku mengandung bayinya aku tidak akan bisa pergi dari sisinya, atau jika aku tidak kembali padanya akan lebih baik jika aku mati. Dia menyerangku dan aku hanya berpikir bagaimana bisa lolos dari Changmin hyung…," Jongin menatap Sehun dengan air mata mengalir. "Lalu semua itu terjadi—aku berlari ke dapur mengambil pisau dan menusuknya." Jongin berusaha keras untuk menahan isakan.
Sementara Sehun berusaha keras untuk tidak masuk ke dalam ruang gawat darurat dan membunuh Changmin dengan kedua tangannya. "Jongin." Panggil Sehun lembut sambil menggenggam kedua tangan Jongin yang masih ternoda darah.
"Se—Sehun." Jongin mengangkat wajahnya, memanggil nama Sehun lemah dan terbata. "Bagaimana jika Changmin hyung tidak selamat? Apa aku akan dipenjara?"
Sehun melihat ketakutan terpancar jelas pada raut wajah kekasihnya. "Tidak, kau tidak akan dipenjara, aku janji padamu. Tidak akan terjadi apa-apa padamu. Kau melakukannya untuk membela diri." Jongin terlihat jelas menahan tangis dan hal terakhir yang Sehun bisa lakukan adalah memeluk Jonginnya dengan erat. "Jangan merasa bersalah, aku mohon."
Setelah Jongin cukup tenang, Sehun melepas pelukan mereka kemudian duduk di sisi kanan Jongin membiarkan kekasihnya menyandarkan kepalanya pada bahu kanannya. "Aku akan menghubungi ibumu dan menjelaskan semuanya, apa kau tidak keberatan?"
"Ya, hubungi saja."
"Hmm." Gumam sehun sambil mengangguk.
Jongin mengamati lorong rumah sakit, semua orang menatap ke arahnya dan Sehun. Mereka pasti mengamati penampilannya yang berantakan, tanpa alas kaki, dengan darah kering pada wajah dan kedua tangannya. Suara Sehun berdengung tidak jelas, dan Jongin merasa sangat lelah sekarang. Ia ingin tidur dan melupakan semua yang terjadi hari ini meski hanya sekejap saja. Diselingi satu tarikan napas dalam Jongin mulai memejamkan kedua matanya.
TBC
Halo semua terimakasih masih mengikuti cerita aneh ini. Terimakasih review kalian UNF, cute, KyungXe, jongiebottom, JonginOh, laxyovrds, Kim Jongin Kai, yoo jay hyeon, troalle, GaemGyu92, jongbae, Athiyyah417, ly94, Wiwitdyas1, Asmaul, ismi ryesomnia, HidekoAyana, sarlisa, micopark, awrerei, Pak Rinhyun Uchiha, novisaputri09, SeKai Candyland, Natsu Kajitani, k1mut, Saiueo, vivikim406, lela wyfhzt, pawpiwpow, jjong86, Kiki2231, alita94, ohkim9488, Xingmandoo. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
