WHAT?!

AN EXO FANFICTION

Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others

Rating: T-M

Warning: BL

Previous

Setelah Jongin cukup tenang, Sehun melepas pelukan mereka kemudian duduk di sisi kanan Jongin membiarkan kekasihnya menyandarkan kepalanya pada bahu kanannya. "Aku akan menghubungi ibumu dan menjelaskan semuanya, apa kau tidak keberatan?"

"Ya, hubungi saja."

"Hmm." Gumam sehun sambil mengangguk.

Jongin mengamati lorong rumah sakit, semua orang menatap ke arahnya dan Sehun. Mereka pasti mengamati penampilannya yang berantakan, tanpa alas kaki, dengan darah kering pada wajah dan kedua tangannya. Suara Sehun berdengung tidak jelas, dan Jongin merasa sangat lelah sekarang. Ia ingin tidur dan melupakan semua yang terjadi hari ini meski hanya sekejap saja. Diselingi satu tarikan napas dalam Jongin mulai memejamkan kedua matanya.

BAB SEBELAS

Perlahan Jongin membuka kedua matanya dan ia mendapati dirinya tak lagi berada di ruang tunggu rumah sakit. Ia berada di dalam mobil dan Sehun tertidur di sampingnya. Sehun terjaga dan langit di luar sudah nampak terang. Mendudukan tubuhnya lantas menoleh ke kiri Jongin mendapati Sehun yang sudah terjaga.

"Kau yang memindahkanku ke sini?"

"Tentu saja, memang siapa lagi?" balas Sehun dengan nada bercanda kemudian diiringi senyuman.

"Kau juga membersihkan darah di tanganku?"

"Ya."

"Aku benar-benar tidur seperti orang mati, aku tidak merasakan apapun."

"Aku lega melihatmu tertidur nyenyak."

Jongin membasahi bibir bawahnya terlalu gugup untuk mengutarakan pertanyaan lanjutan. "Changmin selamat?"

"Ah." Balas Jongin singkat, ia merasa sangat lega. Lega karena dia tidak perlu menghadapi tuntutan hukum.

"Orang suruhanku menemui ibu dan kakakmu, kurasa tempat itu tidak aman lagi. Kalian harus pindah."

"Ibu dan Boram setuju untuk pindah?"

"Entahlah aku akan mencoba membujuk mereka."

"Apa tidak ada hal lain yang ingin kau katakan Sehun? Maksudku apa Polisi tidak mencariku untuk meminta keterangan."

"Tidak." Balas Sehun. "Tidak ada Polisi yang terlibat di sini."

"Kau melakukan sesuatu?"

"Tentu saja. Aku harus melindungimu dan keluargamu." Raut wajah Jongin memperlihatkan keengganan dan itu membuat Sehun bingung. "Ada apa?"

Jongin tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sedikit menyedihkan. "Jika begini aku dan keluargaku semakin berhutang budi padamu, bagaimana kami bisa membalasnya."

"Kenapa harus memikirkan hal itu?!" Sehun membentak tidak suka. "Kau kekasihku, kalian keluargaku." Tegas Sehun.

"Aku hanya takut jika suatu saat aku bisa menyakitimu Sehun, mengingat apa yang bisa aku lakukan pada Changmin."

"Changmin pantas mendapatkannya!" Tegas Sehun.

Kedua mata Jongin mulai tergenang air mata. "Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku menusuk seseorang, aku hampir membunuh seseorang."

"Jadi kau lebih suka jika Changmin menyentuhmu?"

"Sehun tidak!" Jongin berteriak merasa tidak nyaman dengan kalimat Sehun. "Astaga bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?"

"Kau membela dirimu itu hal wajar, bahkan seekor semut menggigit ketika mereka disakiti. Tidak! Jangan mengatakan apapun lagi tentang hal ini, aku tidak ingin mendengar apapun."

Ketegasan Sehun membuat Jongin terperanjat. "Maaf," bisik Jongin.

"Sudahlah." Ucap Sehun dengan suara yang terdengar lelah, iapun memijit batang hidungnya sambil mengernyit.

"Kau baik-baik saja?"

"Hanya sedikit pusing, aku nyaris tidak tidur."

"Sebaiknya kita pergi dari sini."

"Kau tidak ingin menemui Changmin dan mengatakan sesuatu padanya? Dia ingin menemuimu."

"Untuk apa?" kalimat Jongin terdengar dingin. "Aku lega dia tidak mati, aku tidak perlu mendekam di penjara. Selain karena alasan itu aku tidak peduli lagi."

"Kupikir kau akan melunak dan bersedia menemuinya."

"Bukankah kau yang tidak ingin membicarakan persoalan ini lagi Oh Sehun?" Jongin menatap wajah Sehun sengit.

"Ya, tidak perlu membahas ini lagi, kita pergi sekarang." Jawab Sehun dengan suara yang lebih dingin dan lebih datar dari Jongin.

Suara deru mesin terdengar halus, Jongin menoleh ke kanan kepalanya bersandar pada kursi mengamati keadaan di luar jendela. Pemikiran-pemikiran mulai bermunculan di dalam kepalanya. Ia selalu menjadi pihak yang lemah dan seolah tak berdaya, kemudian keluarganya selalu menjadi pihak yang bergantung pada keluarga Oh.

Selama ini dia merasa baik-baik saja, selain itu mengetahui jika keluarga Oh menganggap dirinya dan keluarganya sebagai bagian dari keluarga mereka, mengulurkan tangan dengan tulus, membuatnya merasa cukup. Namun, apa yang menimpanya semalam membuatnya tersadar dia harus berubah. Menjadi lemah bukanlah pilihan yang baik, dia tidak ingin bergantung pada siapapun.

.

.

.

"Jongin!" mengabaikan kalimat panik sang Ibu, Jongin memutuskan untuk pergi ke kamar dengan alasan lelah. Tiga hari kedepan adalah hari-hari terakhirnya menghuni flat, karena Sehun memutuskan agar dia dan keluarganya pindah ke tempat baru yang tidak diketahui Changmin. Tempat baru yang bisa Sehun awasi dua puluh empat jam.

"Biar aku antar." Ucap Sehun.

"Tidak." Jongin berucap lembut sembari menggeleng pelan. "Aku bisa sendiri, kurasa kau bisa menggantikan aku untuk berbicara pada Ibu dan Boram."

"Baiklah…, tidurlah yang nyenyak." Sehun tersenyum kemudian mengecup lembut kening Jongin.

Jongin melangkah pelan memasuki kamar, menutup pintu lantas menguncinya. Dadanya mulai sesak dan dia ingin menangis sekarang, namun ada suara di dalam kepalanya yang meneriakinya untuk berhenti bersikap lemah. Menyingkap tirai jendela menatap bangunan lain di seberang flat tempatnya tinggal.

Bangunan yang lebih tinggi, lebih indah. Menggigit pelan bibir bawahnya. Jongin menoleh ke belakang menatap pintu kamarnya, seolah ia bisa melihat Sehun di seberang sana. Bersama Sehun dia bisa mendapatkan semua yang dia inginkan, tapi apa itu akan membuatnya bahagia? Apa itu yang benar-benar dia inginkan?

"Tidak, aku tidak menginginkannya." Jongin berucap pada dirinya sendiri. Kemudian ia bergegas keluar kamar, Sehun masih berada di flat, Jongin hanya melempar senyum sebelum mendekati sang ibu. "Ibu menyimpan ponselku?"

"Kupikir kau akan langsung tidur, untuk apa ponselmu?"

Jongin nyaris mendesis mendengar kalimat Sehun. "Aku butuh itu untuk alarm." Ketika Sehun mengangguk dan memilih untuk mengobrol dengan Boram, Jongin benar-benar merasa lega.

"Ini, Ibu menyimpan ponselmu di kamar Ibu." Nyonya Kim menghampiri putranya setelah pergi ke kamar untuk mengambil ponsel milik Jongin.

"Terimakasih, sekarang aku akan benar-benar tidur." Jongin tersenyum singkat sebelum berlari-lari kecil menuju kamarnya.

Untuk kedua kalinya hari ini, Jongin mengunci pintu kamarnya. Batrei ponselnya hanya tersisa sepuluh persen namun itu sudah lebih dari cukup untuk mencoba menghubungi seseorang. Duduk di sisi kanan tempat tidur, Jongin mulai mengetik layar ponsel pada kedua tangannya.

To: Lee Taemin

Hyung, jika tawaran untuk bergabung dengan perusahaan tempatmu bekerja masih berlaku, aku ingin mengambilnya.

Selang tiga detik Taemin langsung menghubungi Jongin lewat Line. "Halo, Taemin hyung."

"Tentu saja kau akan selalu diterima di sini, naskahmu memuaskan, tapi apa kau yakin akan terbang ke Jepang? Keluargamu memberi izin?"

"Ya. Mereka pasti memberikan izin, aku akan tiba secepat mungkin. Sebenarnya aku sudah menyiapkan semua keperluan hanya saja aku masih ragu-ragu saat itu. Sekarang aku yakin, aku akan pergi menyusulmu Hyung."

"Aku akan menunggumu adikku tersayang, di sini kau akan mendapat fasilitas tempat tinggal, tenang saja. Kau bisa berhemat banyak."

Jongin tersenyum mendengar tawa keras Taemin di sebarang sana.

"Tapi bukan tempat tinggal yang luas, hanya terdiri dari satu kamar tidur, dan satu ruangan cukup besar yang digunakan bersamaan untuk memasak, makan, menonton televisi, ah dan satu kamar mandi sempit."

"Tidak masalah, tempat tinggalku disinipun tak lebih baik."

"Dan kau ingin mengubahnya?"

"Ya."

"Kau punya Sehun."

"Hyung." Peringat Jongin.

"Aku hanya bercanda, baiklah aku menunggumu di sini, ah satu kabar baik, kau akan tinggal sendiri di tempat tinggal sempit itu. Jadi kau masih bisa bernapas cukup leluasa di sana."

"Itu kabar baik yang aku tunggu." Canda Jongin.

"Sampai bertemu di Jepang Kim Jongin."

"Ya Taemin hyung." Gumam Jongin sebelum pembicaraan mereka berakhir.

Menarik napas dalam-dalam, Jongin kembali menatap gedung apartemen di seberang bangunan flat tempat tinggalnya. Membasahi bibir bawahnya sekilas, ia merasa aman dan nyaman berada di tempat ini. Namun, satu atau dua kali seseorang harus mengambil resiko untuk mengetahui sejauh mana mereka bisa melangkah.

"I deserve better." Gumam Jongin.

.

.

.

Tengah malam ketika Jongin terjaga dari tidurnya, ia mendengar suara televisi dari ruang keluarga. Dia berharap ibunyalah yang terjaga dan mereka bisa mengobrol, Jongin akan mengatakan semuanya rencananya.

Perlahan ia membuka pintu kamarnya, melangkah keluar ia tersenyum ketika melihat wajah sang ibu yang balas tersenyum padanya. "Apa suara televisinya terlalu besar?"

"Tidak." Balas Jongin iapun melangkah mendekat dan duduk di sisi kanan sang ibu. Kedua tangan Jongin menggenggam telapak tangan kanan perempuan paruh baya yang sangat dia sayangi melebihi apapun di dunia ini. "Ibu memikirkan sesuatu? Ada yang mengganggu pikiran Ibu?"

"Hanya memikirkan kejadian yang menimpamu, Ibu lega kejadian yang lebih buruk tidak terjadi."

"Ya." Gumam Jongin. "Aku juga merasa lega. Ibu."

"Apa Sayang?"

"Seandainya aku pergi jauh dari Ibu, apa aku diijinkan?"

"Kemana?"

"Ibu tahu jika aku ingin menjadi seorang komikus dan aku mendapatkan kesempatan itu. Jepang, aku akan pergi ke Jepang."

"Selain karena kau menginginkannya apa ada alasan lain?"

"Aku ingin membahagiakan Ibu dan Boram. Kita sudah membeli flat ini juga toko buah, meski dengan berhutang pada Bank. Ibu suka tinggal di sini dan Ibu menyukai toko kita. Ibu tidak perlu pindah meski Sehun dan keluarganya yang meminta."

"Apa kau bertengkar dengan Sehun?"

"Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya ingin mencari tahu sejauh mana kemampuanku, aku tidak ingin bergantung pada Sehun, aku tidak ingin keluarga kita terus bergantung pada keluarga Oh."

"Jika kau yakin akan hal itu, meski berat, Ibu akan mengijinkanmu pergi."

"Terimakasih Ibu, aku sayang Ibu. Ibu yang terbaik." Jongin memeluk sisi kanan tubuh sang ibu erat, membuat nyonya Kim terkekeh pelan kemudian mengecup puncak kepala Jongin penuh kasih sayang.

.

.

.

Jongin menelan ludah kasar sebelum mendorong pintu di hadapannya. Sehun duduk di belakang meja kerja, ia tersenyum menyambut kedatangan Jongin. Menutup kembali pintu di belakangnya perlahan, Jongin melangkah pelan mendekati Sehun.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?"

"Baik." Jongin membalas singkat, ia menarik tangan kanannya dari balik punggung, meletakkan selembar amplop putih ke atas meja kerja Sehun.

"Jelaskan apa ini Kim Jongin?"

"Surat pengunduran diri."

"Apa?!" Sehun terkejut dengan kalimat Jongin. Ia bangkit dari kursi kemudian berdiri di hadapan Jongin. "Untuk apa?!"

Tatapan Sehun mengintimidasi dan jujur Jongin merasa sedikit takut sekarang, namun dia memberanikan diri untuk mengatakan semuanya. "Aku tidak bisa bekerja di sini lagi, bukan karena Baekhyun hyung, jika itu yang kau pikirkan sekarang."

"Lalu karena apa?"

"Aku menemukan hal lain yang ingin aku lakukan."

"Apa?"

"Tempat dimana seharusnya aku berada."

"Jelaskan!"

Jongin menggeleng pelan. "Kau pasti akan mencegah apapun yang ingin aku lakukan."

"Aku hanya ingin melindungimu karena aku mencintaimu."

Jongin menjilat cepat bibir bawahnya sebelum menatap kedua mata Sehun dalam. "Jika kau benar-benar mencintaiku maka percayalah padaku, biarkan aku memilih jalanku sendiri."

"Apa yang kau inginkan? Aku bisa memberikan semuanya. Jalan-jalan keliling dunia, mobil mewah, uang, perhiasan, pakaian mahal, sepatu mahal, parfum mahal…,"

"Sehun hentikan." Potong Jongin berbicara dengan si keras kepala Sehun membuat kepala Jongin mulai pening. "Mengertilah, jangan bersikap seperti Changmin."

"Aku tidak ingin kau pergi jauh Jongin."

Menelan ludah kasar, Jongin mencoba menguatkan tekadnya sekarang atau tidak selamanya. "Setelah kejadian dengan Changmin hyung aku menyadari sesuatu, aku tidak ingin menjadi pihak yang terlihat lemah dan tidak berdaya."

"Apa maksudmu?"

"Jika aku hanya bergantung padamu, lalu jika suatu saat kau memutuskan untuk pergi, atau kau bersikap tidak menyenangkan padaku, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa."

"Aku tidak mungkin melakukan itu!" Sehun berteriak marah.

"Seandainya, aku hanya berkata seandainya."

Kening Sehun berkerut kedua alisnya nyaris bertaut. "Lalu kau memiliki alasan yang lain?"

"Aku ingin membahagiakan keluargaku dengan tanganku sendiri, aku ingin mewujudkan impianku. Kau berhasil mewujudkan impianmu, aku juga ingin melakukan yang sama."

"Dan pergi ke Jepang adalah jawabannya?"

"Darimana kau tau aku akan pergi ke Jepang?"

"Boram, dia tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Ibu semalam. Lalu pagi tadi dia mengirimiku pesan, bertanya apa kau sudah memberitahuku mengenai rencanamu." Sehun menatap tajam kedua mata Jongin.

"Karena disana kesempatan untukku terbuka lebar."

Sehun tersenyum miring. "Baru kali ini kau bersikap keras kepala."

"Ya." Balas Jongin singkat.

Sehun melangkah mendekat membuat keduanya saling menatap. "Jika aku memintamu untuk memilih, tinggal di sini bersamaku atau pergi dan hubungan kita berakhir, apa yang kau pilih?"

"Jangan membuat ini sulit Oh Sehun, aku tidak pergi selamanya. Kau bisa pergi ke Jepang mengunjungiku, aku tau itu mudah bagimu. Aku juga bisa pulang saat libur."

"Aku memintamu memilih?!" bentak Sehun.

Jongin tersentak. "Aku pikir kau akan mengerti Oh Sehun."

"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja tanpa perlindungan, seseorang bisa menyakitimu, mengertilah Kim Jongin!" Sehun berteriak frustasi.

"Aku bisa menjaga diriku sendiri, percayalah." Tangan kanan Jongin terangkat untuk menyentuh lengan kiri Sehun pelan.

"Jika kau keluar dari ruangan ini—maka hubungan kita berakhir."

Jongin tersenyum lembut. "Terimakasih untuk semua kebaikanmu padaku dan keluargaku, aku mencintaimu Oh Sehun." Kemudian iapun berbalik dan melangkah keluar meninggalkan ruang kerja Oh Sehun.

TBC

Halo semua terimakasih sudah mengikuti cerita ini, terimakasih untuk review kalian doubleuu, yoo jay hyeon, ly94, wiwitdyas1, ariska, ohkim9488, Guest, OhSehunKimJongin, dytdyt, JonginOh, nunumato99, cute, shjilove, KyungXe, ulfah cuittybeams, Natsu Kajitani, Athiyyah417, Kim Jongin Kai, ismi ryesomnia, Park RinHyun Uchiha, typos hickeys, lela wyfhzt, jjong86, novisaputri09, vivikim406, micopark, Kiki2231, alita94, Wendybiblu, Saiueo, pawpiwpow, pawpiwpow, GaemGyu92, HappyVirus61, ahrarzriantix, jongiebottom, SeKai Candyland, troalle, bksekaii. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.