WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL
Previous
Jongin memeriksa ponselnya untuk yang terakhir kali, sebelum ia memasuki pesawat. Berharap Sehun mengiriminya pesan, berharap Sehun bersedia mempertahankan hubungan mereka. Namun, hingga detik-detik terakhir rupanya harapan Jongin hanya bertemu dengan kenyataan yang pahit. Jongin menarik napas dalam, kemudian memeluk ibu dan kakak perempuannya.
Ia melambaikan kedua tangannya setelah melesakkan ponselnya ke dalam saku ransel. Jika Sehun memutuskan untuk mengakhiri semuanya, Jongin tidak akan berharap lagi. Memutar tubuhnya memunggungi ibu dan kakak perempuannya. Iapun melangkah pasti. Jongin meyakinkan dirinya untuk meninggalkan semua kenangan tentang Sehun di belakang. Jepang dan kehidupan baru sudah menunggunya.
BAB TIGA BELAS
Kurang lebih, butuh waktu dua jam penerbangan dari Incheon menuju Narita. Jongin memandangi Narita dengan penuh takjub, dulu saat pergi dengan Sehun dia tidak mendarat di bandara ini. Jongin menghembuskan napas kasar, sekarang bukan saatnya memikirkan Sehun. Kedua mata Jongin mencari-cari keberadaan Taemin di antara para penjemput. "Awas saja jika dia lupa, sahabat menyebalkan." Gerutu Jongin.
Menarik kopernya lebih cepat, Jongin sudah merancang berbagai kalimat protes yang akan dia lancarkan kepada Taemin. "Aku tidak akan memanggil Hyung lagi, awas saja kau Lee Taemin."
"Jongin! Kim Jongin! Jongin Bear!"
Jongin celingukan mencari sumber suara. Ah, dia melihatnya Lee Taemin, sahabatnya, dengan rambut gondrong, belah tengah, diwarnai pirang pucat, kedua telinga dihiasi tindikan, bermantel cokelat muda, dipadu sweeter putih, celana jins hitam yang robek pada bagian lutut kanan dan paha kiri.
Tiba-tiba pening, dulu Taemin tidak semeriah itu. Dia lebih suka memakai pakaian rapi, kemeja yang terkancing hingga kancing teratas, rambut selalu berwarna hitam pendek. "Jongin Bear!"
Baiklah sebelum Lee Taemin membuat kehebohan yang lebih memalukan, Jongin memutuskan untuk berlari menyongsongnya. "Jongin Bear!" Taemin memekik ceria, lantas memeluk Jongin erat. Jongin hanya tertawa dan membalas pelukan sahabatnya. "Kau masih lebih tinggi dariku." Canda Taemin sambil memukul pundak kanan Jongin pelan.
"Tentu saja aku masih lebih tinggi darimu." Jongin tersenyum lebar. "Kau—tampak berbeda."
"Apanya? Rambutku?"
"Semuanya."
"Apa itu buruk?"
Jongin menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Aku hanya terkejut saja. Kau tidak pernah memakai foto asli di sosial mediamu."
Taemin hanya tersenyum. "Selamat datang di Tokyo, Jepang. Kim Jongin."
"Terimakasih."
"Kau siap untuk memulai petualangan barumu di sini?"
"Tentu saja."
"Ayo!" pekik Taemin sambil menekuk tangan kanannya memberi isyarat kepada Jongin untuk memeluk lengan kanannya. Jongin tertawa cukup keras namun pada akhirnya ia memeluk lengan kanan Taemin.
.
.
.
"Bisakah kau tidak menempelkan pipimu pada kaca bus Kim Jongin? Jangan membuatku malu." Jongin menoleh ke belakang menatap Taemin malas, kemudian ia dengan acuh melanjutkan kesibukannya. Membuat Taemin hanya bisa memijit pelipis jengah.
Tokyo, menurut Jongin tidak banyak yang berbeda dari Tokyo dan Seoul. Kecuali Gunung Fujiama dan banyaknya orang-orang yang berlalu-lalang mengenakan kostum unik, atau pakaian dari salah satu tokoh komik. Kedua mata Jongin menatap antusias setiap sudut jalan yang dia lalui. Mereka bus yang disediakan oleh bandara membuat Jongin merasa seperti seorang turis.
"Bagaimana menurutmu?"
"Tidak jauh berbeda dari Seoul."
Taemin tersenyum. "Kuharap kau betah di sini? Mungkin aku bisa mengajakmu berjalan-jalan ke beberapa tempat yang menarik di Tokyo."
"Ide bagus Taemin."
"Apa kau bilang?" Taemin menatap Jongin tajam.
"Hyung…," balas Jongin.
"Suaramu ragu-ragu, aku tahu kau tidak pernah tulus memanggilku Hyung!" dengus Taemin.
"Maaf." Balas Jongin sebelum perhatiannya kembali tertuju pada jalanan.
Taemin menoleh menatap antusiasme Jongin, ia tersenyum. Tadi, tentu saja ia hanya berpura-pura kesal, Jongin terlihat sangat lucu sekarang. Memandang jalanan dari dalam bus seperti anak kecil dalam perjalanan pertamanya.
"Kurasa ini bukan pertamakalinya kau pergi ke Jepang?"
"Ya, tapi aku belum pernah ke Tokyo, dan ini perjalanan pertamaku seorang diri."
"Hmmm.., lalu Sehun bagaimana?"
Jongin menegakkan tubuhnya, menatap Taemin. "Aku tidak ingin membicarakannya lagi, bisakah kau tidak membahas Sehun. Sekarang semuanya hanya tentang aku."
Taemin terperanjat baru pertama kali ia melihat Jongin tampak membenci seseorang dengan begitu dalam. "Ba—baiklah." Bahkan Taemin terbata ketika menjawab.
.
.
.
"Jongin aku harus segera kembali ke tempat kerjaku, kau bisa mulai bekerja besok." Ucap Taemin, sementara Jongin hanya menatap tak percaya. "Kim Jongin?!" teriak Taemin.
"Pembohong." Balas Jongin.
"Siapa yang pembohong?!" bentak Taemin.
"Tentu saja Taemin hyung, bukannya aku akan tinggal di flat sempit dan sesak, Kenapa kita ada di sini? Apartemen ini terlalu mewah, di lantai lima, aku tidak bisa membayar sewanya."
"Aku hanya menguji nyalimu. Semuanya gratis selama kau bekerja untuk perusahaan."
"Apa?" Kening Jongin berkerut tak mengerti.
Taemin melipat kedua tangannya di depan dada, tersenyum menatap wajah polos nyaris bodoh seorang Kim Jongin. "Kita bekerja di perusahaan penerbit komik besar Kim Jongin, belum lagi royalty dari anime, kau pikir pekerjanya tak mendapat fasilitas baik?"
"Itu yang Taemin hyung katakan."
"Kau saja yang terlalu bodoh!" Taemin berteriak gemas. "Sudah masuk saja, semua sudah disiapkan di dalam, siap huni, jika kau butuh sesuatu tunggu sampai aku pulang kerja pukul tujuh malam, jangan berkeliaran sendiri."
"Memangnya aku anak kecil yang butuh dijaga." Gerutu Jongin.
"Tunggu aku pulang!" peringat Taemin.
Jongin menggeleng pelan. "Aku akan bersenang-senang selama ada waktu."
"Astaga….," gerutu Taemin sambil mengusap kasar wajahnya. "Baiklah terserah kau saja, jangan membuatku cemas."
"Aku akan memberi kabar tenang saja." Janji Jongin.
Jongin melambaikan tangan dengan bersemangat kepada Taemin. Ia lantas memutas tubuhnya menatap pintu bercat abu-abu di hadapannya. Menekan kode pintu, Jongin menarik napas dalam-dalam. Menggenggam knob pintu menggunakan telapak tangan kiri. Perlahan ia mendorong daun pintu ke dalam. Melangkah masuk.
Daun pintu di belakang tubuhnya bergerak pelan, tertutup perlahan, menimbulkan suara klik. "Wahhhh!" Jongin berteriak bahagia, menarik tirai jendela dan tersenyum melihat pemandangan di luar. "Tokyo! Aku datang untukmu!" kemudian setelah teriakkan lantang itu Jongin tertawa terbahak-bahak.
Ia berlari mengitari ruang keluarga yang menyatu dengan dapur dan ruang makan. "Astaga! Astaga! Astaga! Ini pertama kalinya aku tinggal seorang diri setelah dua puluh tiga tahun hidupku! Tanpa Ibu, tanpa Boram, tanpa Sehun!"
Koper dan tas sudah lama terlupakan di depan pintu, Jongin meneruskan petualangannya menuju kamar. Mendorong pintu kamar terlalu keras, hingga daun pintu membentur dinding menciptakan suara memekakan telinga. Jongin tak peduli, ia melangkah masuk. Mengamati kamar barunya. Semuanya sudah rapid an siap untuk ditempati.
Dinding kamar dilapaisi wallpaper berwarna cokelat muda. Jongin duduk di kaki ranjang kemudian merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tempat tidur. Memejamkan kedua matanya, menarik napas dalam-dalam. Semuanya benar-benar sulit untuk dipercaya, ia berada di sini, di Negara lain, seorang diri, keputusan besar yang dia buat. Keputusan besar pertama kali di hidupnya yang berani dia ambil.
"Aku lelah…," gumam Jongin. "Terserah dengan semua pakaianku, nanti saja aku bereskan, dan nanti saja aku menghubungi Boram dan Ibu." Gumam Jongin kemudian memejamkan kedua matanya.
.
.
.
Sepertinya menolak keinginan Taeyong adalah hal yang mustahil ketika tawaran Taeyong terlihat sangat menarik. Taeyong menyeret kakak tirinya pergi ke apartemennya di kawasan Gangnam. "Di sana ada banyak teman-temanku, dan mungkin kau mengenal beberapa di antara mereka."
Sehun hanya mengendikan bahu tak tertarik. Ketika Taeyong membuka pintu apartemennya. Keadaan di dalam sangat ramai, TV layar datar berukuran besar milik Taeyong sedang menayangkan sebuah MV. Dua orang bernyanyi di depan TV. Musik menggema, aroma asap rokok tercium di udara. Sehun melihat dua krat bir di dekat sofa.
"Hai semua!" Taeyong berteriak lantang menarik perhatian semua orang.
Teman-teman Taeyong nampak terkejut dengan kehadiran Sehun. "Sehun?! Kau bergabung dengan kami?!"
"Ah Donghae hyung, Hyung ada di sini?"
Donghae tersenyum kemudian berjalan menghampiri Sehun, memberi Sehun sebuah pelukan singkat. "Kau nyaris tak pernah muncul di pesta, sekarang kau datang di pesta adik tirimu. Mengejutkan."
"Aku hanya mencoba akrab dengannya." Jawab Sehun sambil melirik Taeyong yang kini sudah berbincang akrab dengan seorang wanita.
"Hmm…, baiklah, nikmati acara kumpul sederhana kami."
"Sejak kapan Donghae hyung mengenal Taeyong?"
"Kami bekerjasama."
Sehun hanya mengangguk singkat sebelum berjalan mendekati sofa, membungkuk mengambil sebotol bir kemudian berlalu. Sehun memilih balkon apartemen Taeyong yang sepi dibanding seluruh ruangan di dalam apartemen yang nyaris menyerupai medan perang.
Tangan kiri Sehun mengambil ponsel di dalam saku jaket hijau tentara yang dia kenakan. Dia mendongak, mengamati langit. Udara semakin dingin, sebentar lagi musim gugur akan berlalu. Ia memandangi layar ponselnya yang masih memakai wajah Jongin sebagai latar belakang, Sehun tersenyum perih.
Ia merindukan Jongin tapi terlalu takut untuk mengakui. Sehun berniat untuk mencicipi birnya sebelum dia mendengus kesal menyadari jika tutup botol birnya masih terpasang kuat.
"Butuh bantuan untuk membuka birmu?"
Sehun menoleh ke kanan, ke arah sumber suara. Seorang wanita bertubuh mungil tersenyum kepadanya. "Kau membawa pembuka botol?"
"Tidak, tapi aku membawa dua botol bir yang sudah terbuka." Tawar si wanita sambil menyodorkan salah satu botol birnya pada Sehun.
"Terimakasih." Balas Sehun.
Si wanita tertawa pelan. "Kau berterimakasih tapi tidak menerima tawaranku."
"Aku tidak berniat untuk minum hari ini."
Si wanita meletakkan dua botol bir di tangannya ke atas meja kopi besi bercat hitam di sisi kanan tubuhnya. "Kau datang ke pesta tapi tidak ingin minum dan bersenang-senang, sebaliknya justru berada di tempat sepi. Kau unik."
Sehun memilih tak menanggapi ia menunduk sebentar untuk meletakkan botol bir di dekat kakinya. "Oh Sehun." Menoleh cepat, Sehun menunjukkan rasa ketidaknyamanannya ketika seorang asing menyebut nama lengkapnya. "Aku Hyuna, salam kenal."
Tidak ingin bersikap brengsek, Sehun menyambut uluran tangan Hyuna. Keduanya berjabat tangan singkat. Sehun memperhatikan penampilan Hyuna selama beberapa detik, wanita di hadapannya memiliki tubuh yang indah. Tubuh indah yang ingin dia tampakkan pada semua orang, dengan berpakaian seminim mungkin.
Sehun tersenyum tipis, ia terlalu sering menjumpai wanita seperti Hyuna. Mereka, sama sekali tidak menarik baginya. Ketika Hyuna mendekatkan tubuhnya mungkin wanita itu salah mengartikan senyum Sehun.
"Kau sendirian, mungkin kau tidak keberatan untuk aku temani?" tawar Hyuna dengan suara menggoda, dan dengan sengaja membuat dadanya menyentuh siku kanan Sehun yang bersandar pada pagar besi pembatas balkon.
"Udara semakin dingin, musim gugur tinggal menunggu waktu berakhir dan salju pertama turun."
"Hmmm?" Hyuna menggumam manja kali ini dengan berani ia memeluk lengan kanan Sehun.
Sehun menoleh ke kanan tersenyum menatap kedua bola mata Hyuna. "Sebaiknya kau memakai pakaian yang lebih hangat dan lebih tertutup. Jika aku memiliki seorang putri, aku akan menghukumnya jika dia menampakkan terlalu banyak kulitnya pada laki-laki yang bukan keluarga atau suaminya."
Kedua mata Sehun menyipit tajam, ia menarik tangannya dari pelukan Hyuna, kemudian berlalu meninggalkan Hyuna di balkon seorang diri. Tanpa menoleh.
"Sehun hyung, sepertinya Hyung sudah bertemu dan berbincang akrab dengan Hyuna."
"Siapa Hyuna?" Sehun bertanya dengan malas.
"Dia pengagummu."
"Aku pulang dulu."
"Sehun hyung tidak seru!" protes Taeyong.
"Jangan terlalu sering berpesta." Ucap Sehun menepuk pelan bahu kanan Taeyong kemudian berjalan pergi.
Sehun nyaris memasuki mobil ketika seseorang memanggil namanya. Ia menoleh untuk mendapati Baekhyun berlari ke arahnya. "Baek apa yang…,"
"Aku mencarimu." Potong Baekhyun. "Ada tawaran kerjasama menarik dari salah satu perusahaan yang bergerak di bidang animasi, di Selandia Baru. Aku butuh pendapat dan mungkin persetujuanmu segera. Aku pergi ke kantor pusat, menghubungi Bobby untuk mencaritahu keberadaanmu, hargai usahaku Tuan." Baekhyun berucap panjang lebar dengan nada kesal.
"Kau terbang jauh ke sini untuk menyerahkan dokumen padaku? Apa tidak bisa lewat email?"
Baekhyun melempar tatapan malas. "Jika kau membaca email yang sudah aku kirim hampir satu minggu lalu, aku tidak akan berada di sini Tuan Oh."
"Maaf, aku sangat sibuk. Kau membawa dokumennya?"
Baekhyun mengangguk cepat, ia menarik tas selempangnya ke depan. Membuka resleting tas kemudian mengeluarkan satu bendel dokumen yang dijepit rapi pada map plastik hitam. "Belum terlalu larut, kita bisa mencari kafe atau kau mau membaca dokumennya di dalam mobil."
"Tidak bisa besok?"
"Jika kau berjanji akan menyelesaikannya besok, penerbanganku pukul tujuh malam."
"Aku janji, semuanya selesai besok siang."
"Kuharap."
Sehun memperhatikan Baekhyun dengan seksama, tubuh Baekhyun lebih berisi, dan dia terlihat jauh lebih bahagia dibanding ketika dia berada di Korea, berada di sisinya. "Apa Selandia Baru menyenangkan?"
"Ya, di sana pemandangannya indah. Setiap akhir pekan aku menyempatkan diri untuk berjalan-jalan, di sana sedang musim panas, berbeda dengan Korea."
"Kau lebih gemuk."
"Ah benarkah?!" Baekhyun memekik pelan dengan kedua telapak tangan memegangi kedua pipinya. Sehun tersenyum melihat tingkah polos Baekhyun.
"Apa kau menemukan kekasih baru?"
Baekhyun menurunkan kedua tangannya, menatap Sehun serius kemudian menggeleng pelan. "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk cinta, sekarang waktunya mencari uang."
"Ah." Balas Sehun tak terlalu mempercayai kalimat Baekhyun.
"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Jongin?"
"Jongin?"
"Ya. Seseorang yang kau cintai melebihi aku, seseorang yang membuatmu meninggalkan aku." Sehun menatap Baekhyun datar. Baekhyun tertawa pelan. "Aku hanya bercanda, wajahmu benar-benar serius!" ucap Baekhyun kemudian melanjutkan tawanya.
"Baekhyun, apa kau masih merasa sakit karena aku?"
"Tidak, karena itu sangat tidak berguna. Ada sesuatu yang mengganjal hatimu?" Baekhyun menyipitkan kedua matanya mengawasi Sehun seksama.
"Hanya masalah pribadi."
"Mau berbagi? Maksudku sebagai teman—kita pernah saling mengenal, tentu jika kau bersedia menganggapku sebagai teman."
"Ya, kurasa tidak masalah." Balas Sehun, ia melihat pilihan untuk berbicara dengan Baekhyun dan mengeluarkan keluh kesahnya, setidaknya akan membuatnya merasa sedikit lega.
"Kita bisa pergi ke kafe atau restoran terdekat, atau sekedar berjalan-jalan. Menurutmu?"
Sehun hanya mengangguk pelan, ia memasukkan dokumen di tangannya ke dalam mobil kemudian memberitahu sopirnya untuk menunggunya atau pergi namun cepat kembali ketika dia meminta. Keduanya berjalan perlahan menyusuri trotoar, seperti dua orang sahabat baik yang sudah lama tak berjumpa.
"Jadi—apa yang aku lewatkan selama aku pergi?" tanya Baekhyun mengawali perbincangan.
"Cukup banyak, aku tidak tahu harus mulai darimana."
"Kau dan Jongin."
"Kenapa kau tertarik mendengar ceritaku dan Jongin?"
"Aku penasaran saja."
"Kami putus."
"Kau bercanda, jangan konyol." Baekhyun tersenyum miring diakhir kalimat.
"Aku tidak bercanda kami putus."
"Masalahnya apa? Dan dimana Jongin sekarang?"
"Jepang."
"Dia keluar dari perusahaan?"
"Ya."
"Kenapa? Semoga bukan karena aku."
"Dia mendapat tawaran menarik di Jepang, sesuatu yang dia inginkan. Dia menyebut tentang impiannya."
"Lalu kalian putus? Atau kau yang memilih untuk mengakhiri semuanya? Kau bersikap egois?"
"Baek…," rengek Sehun tanpa sadar dia tidak suka ketika Baekhyun membawa pikirannya begitu mudah seperti sekarang.
"Apa tebakanku tepat? Kau sangat mudah dibaca Sehun, karena ini bukan pertama kalinya kau bersikap egois."
"Jepang terlalu berbahaya untuk Jongin, dia tidak seharusnya pergi ke sana seharusnya dia tetap bersamaku."
Menarik napas dalam-dalam, Baekhyun berusaha untuk tidak terbawa emosi sekarang. "Jongin kekasihmu, kau sangat mencintainya aku tidak meragukan bagian itu. Tapi dia juga manusia, dia ingin mencari jati diri, dia ingin melangkah maju, membuktikan kepada dirinya sendiri jika dia mampu. Kau tidak bisa menahannya, itu tidak benar."
"Aku tidak suka hubungan jarak jauh."
"Astaga Sehun! Jepang sudah seperti halaman rumahmu, hanya butuh dua jam penerbangan. Aku tahu bukan hanya itu alasanmu mengakhiri hubungan kalian."
"Lalu?" tantang Sehun.
"Karena kau egois."
"Aku tidak egois." Balas Sehun keras kepala.
"Baiklah, terserah kau. Mungkin sekarang kau baik-baik saja, atau kau berpura-pura semuanya baik-baik saja tanpa Jongin, mungkin kau berpikir itu yang terbaik untuk kalian berdua." Baekhyun menghentikan langkahnya, menghadang Sehun. "Tapi coba bayangkan, jika di Jepang sana Jongin menemukan laki-laki yang jauh lebih baik darimu. Apa kau sudah siap menerimanya? Jika Jongin memilih menikahi laki-laki lain apa kau akan baik-baik saja?"
Baekhyun melihat kening Sehun berkerut, bibirnya terbuka, kedua bola matanya bergerak gelisah, mencoba mencari jawaban pembenaran. "Aku yakin kau tidak akan bisa menerima hal itu. Jadi berhentilah menjadi egois, dan jangan jadi pengecut, jika kau mencintai Jongin tidak cukup hanya dengan ucapan. Kau harus membuktikannya. Seharusnya kau mendukung dan membantu Jongin meraih impiannya, bukan sebaliknya. Kau memutuskanku bukan untuk melakukan tindakan menyedihkan seperti ini kan Oh Sehun?"
"Baek…,"
"Astaga Sehun!" pekik Baekhyun tidak peduli dengan perhatian semua pejalan kaki lain. "Jika kau mencintai Jongin buktikan padanya, apa kau harus terlebih dahulu mendengar pendapat dari mantan pacarmu?! Kau membuatku terlihat sangat menyedihkan sekarang. Kau memutuskan aku dan sekarang aku berdiri di hadapanmu untuk memberi nasehat mengenai jalinan asmaramu dengan kekasih barumu, apa ada yang lebih menyedihkan dari itu?"
"Ada."
"Apa?"
"Saat teman baikmu mengambil cokelat terakhir yang ingin kau nikmati."
"Brengsek!" umpat Baekhyun kemudian tertawa pelan. "Jangan membuang waktumu terlalu banyak Oh Sehun, atau kau akan menyesal." Ucap Baekhyun kali ini dengan raut wajah serius disertai tatapan tajamnya pada kedua bola mata Sehun.
TBC
Halo semua terimakasih masih setia dengan cerita ini, kabar mengejutkan lagi Nam Taehyun WINNER out dan 2ne1 bubar suka K-pop kayanya makan ati mulu ahhhh, maaf malah curhat. Tapi bener-bener sedih, 2ne1 girlband favorit, dan WINNER lagunya asyik, tapi masalah royalti gimana ya kan beberapa lagu WINNER ditulis sama Taehyung, berarti WINNER ga boleh bawain lagu yang ditulis Taehyun dong?! YG! Entah kenapa gemes banget sama tu agensi, astga emosi!
Terimakasih review kalian dan saya berusaha untuk menulis novel original mohon dukungannya ya kunjungi wattpad saya di YeniVita (jika bersedia) sampai jumpa di chapter selanjutnya. Natsu Kajitani, ariska, adi chandra, opikkim, dytdyt, JonginOh, kaila, cute, Guest, nayoon kim, Oh Titan, KyungXe, kyungie45, Hana, okta saputri, jongbae, Nikmah444, Wiwitdyas1, ly94, OhSehunKimJongin, ulfah cuittybeams, micopark, Saiueo, awrerei, ismi ryesomnia, bksekaii, Kiki2231, jongiebotto, novisaputri09, Kim762, arvipark794, lela wyfhzt, GaemGyu92, vivikim406, Athiyyah417, jjong86, k1mut, ohkim9488, pawpiwpow, Kim Jongin Kai, Park RinHyun Uchiha, tobanga garry, SeKai Candyland. Terimakasih review kalian.
