WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL, Typo, Mpreg
Previous
"Baek…,"
"Astaga Sehun!" pekik Baekhyun tidak peduli dengan perhatian semua pejalan kaki lain. "Jika kau mencintai Jongin buktikan padanya, apa kau harus terlebih dahulu mendengar pendapat dari mantan pacarmu?! Kau membuatku terlihat sangat menyedihkan sekarang. Kau memutuskan aku dan sekarang aku berdiri di hadapanmu untuk memberi nasehat mengenai jalinan asmaramu dengan kekasih barumu, apa ada yang lebih menyedihkan dari itu?"
"Ada."
"Apa?"
"Saat teman baikmu mengambil cokelat terakhir yang ingin kau nikmati."
"Brengsek!" umpat Baekhyun kemudian tertawa pelan. "Jangan membaung waktumu terlalu banyak Oh Sehun, atau kau akan menyesal." Ucap Baekhyun kali ini dengan raut wajah serius disertai tatapan tajamnya pada kedua bola mata Sehun.
BAB EMPAT BELAS
Jongin menghentikan langkah kakinya, berdiri di sisi trotoar yang aman. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum jam kerja di mulai. Ia menyukai datang lebih awal, memulai semuanya lebih cepat dari yang lain, sekaligus menikmati hari. Seharusnya ia langsung menyeberangi jalan menuju gedung tempatnya bekerja, namun langkahnya terhenti.
Ia mendongak mengamati butir-butir salju yang turun dari langit, salju pertama musim dingin tahun ini. Dan dia berada jauh dari rumah, jauh dari keluarga. Terbersit rasa rindu di dalam hatinya. "Ah!" Jongin berteriak ketakutan, ketika seseorang menggenggam tangan kirinya dan menariknya untuk berjalan. "Si…,"
Kalimat Jongin tak lengkap, ia menatap seseorang yang menggenggam tangannya dengan tidak percaya. "Aku ingin mengantarmu di hari pertama kerja."
"Apa yang kau lakukan?! lepaskan?! Lepas atau aku berteriak meminta tolong!" ancam Jongin.
"Teriak saja, aku tidak akan melepaskanmu."
Jongin menelan ludah kasar, tidak, dia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri di depan umum. Nanti saja jika sudah memasuki gedung atau sampai di tempat sepi dia akan menendang punggung Sehun dengan keras. Sementara Sehun hanya tersenyum mengejek, ia sudah tau jika Jongin tidak akan melakukan tindakan nekad.
"Apa yang kau lakukan di sini? Dan sekarang bukan hari pertamaku bekerja."
"Maaf aku salah."
Jongin mendesis pelan berusaha menarik bebas tangannya namun sia-sia. Pada akhirnya ia pasrah ditarik Sehun dan semua tatapan tertuju padanya. Sehun tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya, memutar tubuhnya menatap kedua mata Jongin lekat. Jongin mundur satu langkah merasa terancam. "Maafkan aku, apa kau bersedia?"
Menjilat cepat bibir bawahnya, Jongin lantas menjawab pertanyaan Sehun. "Aku harus bekerja, aku tidak punya waktu untuk urusan pribadi sekarang."
"Baiklah, sampai bertemu nanti." Ucap Sehun sebelum berlalu pergi meninggalkan Jongin dalam kebingungan.
Jongin menatap punggung Sehun lekat. "Apalagi yang dia inginkan dariku?" Jongin menggumam lirih tak terdengar oleh seorangpun.
"Pagi….,"
Jongin tersenyum mendengar sapaan ramah dari rekan-rekan kerjanya yang berjumlah empat orang termasuk dirinya. "Pagi." Balas Jongin sambil menggantung mantel musim dinginnya di dekat pintu, sebelum berjalan menuju meja kerjanya. "Ada apa?" Jongin bertanya setelah mengamati satu persatu wajah rekan kerjanya.
"Kemari." Taemin tersenyum sambil meminta Jongin untuk mengambil kursi.
Semua orang memang sedang berkumpul di meja Taemin, Jongin menarik kursi kerjanya tak ingin membuat semua orang menunggu iapun bergabung. "Sepertinya sesuatu yang baik sedang terjadi?"
"Ya, kerjasama yang dulu tidak jelas sekarang sudah selesai." Jawab Jackson lalu tersenyum lebar.
"Kerjasama apa? Aku benar-benar tidak mengerti." Gerutu Jongin.
"Baiklah aku jelaskan anak baru." Jackson melipat kedua tangannya di depan dada. "Perusahaan kita berencana untuk melebarkan sayap ke Korea Selatan, tapi sebelum itu terjadi kita harus mencari partner yang berpengaruh di sana. Kau tahu produk Jepang harus sedikit berjuang untuk menembus Korea Selatan."
"Kalian juga melakukan hal yang sama terhadap produk Korea Selatan." Balas Jongin.
"Aku bukan orang Jepang." Ucap Jackson membela diri. "Dan perusahaan keluarga Oh bersedia menjadi partner perusahaan kita."
"Haah…, baiklah. Kalau sudah selesai aku kembali ke meja mengerjakan tugasku."
"Jongin kau tidak tertarik dengan berita baik ini?!"
Jongin hanya mendengus dan mengabaikan Jackson, ia lantas duduk di belakang meja kerjanya. Menghidupkan komputer dan membuka buku sketsa di hadapannya. "Jongin."
"Hmm." Jongin mengacuhkan Taemin yang kini sudah menggeser kursinya sejajar dengan kursi Jongin.
"Perusahaan Sehun."
"Bisakah kau diam dan tidak menyebut nama Sehun lagi?"
"Jongin tenanglah, berpikirlah dengan jernih."
"Maafkan aku Taemin." Jongin memijit pelan tengkuknya sebelum berdiri dari kursi. "Kurasa aku harus jalan-jalan sebentar, aku tidak bisa berpikir."
"Tentu." Balas Taemin disertai senyuman.
Jongin melangkah meninggalkan ruang kerjanya tak lupa membawa mantel musim dingin serta syal merahnya. Perusahaan tempat Jongin bekerja mengedepankan kreativitas dan imajenasi, jadi di sini tidak ada tata ruang kaku, atau setiap karyawan harus duduk berjam-jam di depan layar komputer. Ada taman indah di atap gedung, kafe dengan interior indah dan unik.
Setiap karyawan diberi kebebasan untuk menuangkan kreativitas mereka, juga diberi kebebasan untuk menyelesaikan pekerjaan dimanapun yang mereka inginkan kecuali toilet. Jongin berjalan pelan melintasi lorong gedung, ia melewati karyawan yang sedang menggambar dengan duduk di atas lantai, atau bersandar pada kaca jendela.
Semua terlihat serius namun tak kehilangan kebahagiaan mereka, terlihat jelas dari wajah-wajah yang terkadang tersenyum sendiri. Jongin memijit pelan pelipisnya, tidak ada inspirasi yang menghampiri otaknya detik ini. Jadi hal pertama yang ada di dalam pikirannya adalah mengunjungi taman di atap gedung.
.
.
.
Setelah keluar dari lift Jonginpun melangkah menuju pintu kaca, ia melihat salju masih lebat turun namun itu tak mengurungkan niatnya untuk mengunjungi taman. Meski ia tahu pepohonan dan Mawar sedang meranggas sekarang, dan kolam kecil pasti membeku. Hawa dingin menusuk menyapanya, mengeratkan syal merah yang melingkari leher, Jongin melangkah mendekati pagar pembatas.
"Aku yakin dimusim lain pasti taman di sini sangat indah."
"Kenapa tertarik untuk bekerjasama dengan perusahaan ini? Dan kenapa kau ada di sini? Di Negara ini? Di atap gedung ini?"
"Takdir."
Jongin nyaris mengumpat mendengar jawaban Sehun. "Aku tidak percaya." Sinis Jongin.
Sehun menunduk selama beberapa detik sebelum menatap kedua mata Jongin. "Untuk mendapatkan maafmu. Tapi bekerjasama dengan perusahaan tempatmu bekerja murni urusan bisnis."
"Terserah." Jongin tidak tertarik dengan semua obrolan bersama Sehun.
Sehun tersenyum tipis diselingi ia bisa mengerti rasa marah dan kecewa Jongin padanya. Lalu perhatian Sehun teralihkan, ia menatap syal merah yang melingkari leher Jongin, dan dia tidak bisa untuk tak bertanya. "Syal itu indah. Sebuah hadiah?"
"Ya."
"Kekasih?"
"Apa?" Jongin nyaris berteriak mendengar kalimat Sehun. Kemudian iapun menggeleng cepat. "Bukan, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan kekasih atau cinta."
Sehun mengernyit ia teringat kalimat Baekhyun, dan dia merasa sangat bersalah membuat dua orang sekaligus menjadi begitu tak percaya akan cinta. "Kita benar-benar tidak berkomunikasi selama hampir dua bulan."
Jongin menggeleng pelan. "Kau yang memutuskan untuk tidak berkomunikasi denganku, aku masih mencoba menghubungimu saat aku berangkat ke Jepang, setibanya aku di sini, dan di hari pertama aku masuk kerja, tapi kau mengabaikannya, lalu kau menghilang begitu saja."
"Maaf."
"Apa kekasihmu tau kau mengunjungiku? Jangan sampai kejadian dengan Baekhyun hyung terulang kembali."
"Kekasih?" sekarang giliran Sehun yang melempar tatapan bingung.
"Perempuan yang bersamamu di pesta, memeluk lenganmu…,"
"Dia bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang kurang sopan." Potong Sehun.
Jongin mendengus. "Tidak ada teman yang bergandengan mesra seperti itu. Haah…, aku merasa bodoh, kenapa aku tidak bisa melupakanmu semudah kau melupakanku? Dan mencari orang lain."
Telapak tangan kanan Sehun bergerak pelan, menggenggam telapak tangan kiri Jongin. "Jangan mencari orang lain." Bisiknya.
Kedua mata Jongin membola. "Apa maksudmu? Kenapa aku tidak boleh melakukannya? Kita tidak memiliki hubungan apapun sekarang."
"Aku tahu, aku tidak lupa. Aku terlalu bodoh saat itu. Maafkan aku. Aku mohon. Kembalilah padaku Kim Jongin."
Jongin menarik telapak tangan kirinya dari genggaman Sehun. "Aku tidak bisa kembali ke Korea, aku menemukan impianku di sini."
"Kau tidak perlu kembali ke Korea, kau bisa tetap tinggal di sini."
"Bisa saja aku sudah memiliki kekasih lain."
"Apa kau memilikinya sekarang?"
Jongin menggeleng pelan. "Kenapa kau selalu membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari sesuatu?"
"Maaf." Bisik Sehun.
"Ini seperti dejavu, kita selalu terjebak dalam situasi seperti ini. Terlambat menyadari. Aku hanya cemas jika kita hanya akan menyakiti satu sama lain, aku sudah terbiasa tanpamu selama dua bulan terakhir ini….,"
Sehun mencium singkat bibir penuh Jongin. "Aku mohon jangan mengatakan hal buruk lagi, maafkan aku. Kita mulai semuanya dari awal, aku tidak akan membuat kesalahan lagi. Aku janji padamu. Aku akan tinggal di Jepang, kita tinggal bersama."
"Tidak bisa semudah itu Sehun, kau memaksaku untuk memilih, meski aku mengatakan cinta saat itu, kau tetap keras kepala. Saat aku pergi, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan semuanya di Korea. Semua kenangan buruk dan kenangan baik."
Kedua mata Sehun menyipit tajam. "Aku juga menderita saat itu, apa kau tidak bisa mengerti? Aku tidak bisa membiarkanmu pergi karena aku terlalu mencintaimu, Aku berusaha melakukan apapun untuk melupakanmu karena itu yang kuanggap paling baik. Tapi apa Kim Jongin?!" Sehun berteriak frustasi di akhir kalimat.
Kedua mata Sehun mulai sembab tergenangi air mata. "Aku tidak bisa melupakanmu, aku tidak mampu melakukannya. Aku ingin menghubungimu, meminta maaf, tapi aku terlalu pengecut, aku takut kau sudah menemukan orang lain yang jauh lebih baik dari aku."
Tangan kanan Sehun mengusap lembut pipi kiri Jongin, Jongin tidak menarik tubuhnya untuk menghindari sentuhan itu karena dia sebenarnya sangat merindukan laki-laki yang berdiri di hadapannya sekarang.
"Dan aku tidak bisa menerima penolakan. Sama seperti pemikiranmu, kupikir melepasmu adalah pilihan terbaik jika kita hanya bisa saling menyakiti satu sama lain, jika kita terus terjebak pada kesalahan yang sama, terlambat menyadari perasaan masing-masing."
Tatapan keduanya bertemu, Jongin membisu sementara Sehun berusaha untuk mengutarakan semua yang ingin ia katakan. "Dan setelah membuang waktu, aku muncul di sini, di hadapanmu. Kau pasti berpikir aku gila dan tidak waras. Ya kurasa aku sudah gila Kim Jongin, aku mencintaimu, dan selama ini aku berusaha keras untuk menghapus keberadaanmu dari ingatan dan hatiku, tapi aku gagal total."
Tangan kiri Jongin terangkat menyentuh punggung telapak tangan kanan Sehun. "Aku butuh waktu untuk berpikir."
Sehun menurunkan tangan kanannya, meski kecewa ia bisa mengerti jawaban Jongin. "Baiklah."
Menarik napas dalam-dalam Jongin menatap Sehun. "Salju di luar semakin lebat, Sebaiknya kita kembali ke dalam." Sehun tak menjawab, Jongin tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya semua terlalu membingungkan. "Aku tidak yakin jika kita kembali, apa itu keputusan yang benar." Sehun masih bungkam. "Kita coba saja." Bisik Jongin nyaris tak terdengar.
"Terimakasih."
Jongin hanya mengangguk menanggapi ucapan Sehun, ia lantas beranjak pergi, meninggalkan Sehun di atap gedung seorang diri.
.
.
.
Merapatkan syal merah yang melingkari lehernya, Jongin mempercepat langkah kakinya. "Aaahh…," Jongin menggerutu pelan sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya yang terlapis sarung tangan rajutan. Napasnya terlihat seperti gumpalan asap ketika berhembus dari mulut. "Dingin." Gerutuan kembali terdengar dari bibir Jongin, ia nyaris berlari untuk mempersingkat perjalanan yang cukup menyiksa ini.
Kedua langkah kaki Jongin terhenti, ia terpaku di tempat. Menatap seseorang yang berdiri di depan gedung apartemen tempat tinggalnya. Mantel musim dingin berwarna hitam membalut tubuh tinggi rampingnya, di bawah guyuran salju putih rambut tebal hitam Sehun terlihat mencolok. "Hai Jongin." Sehun menyapa dengan suara yang sedikit gemetar.
Jongin menelan ludah kasar, rasa dingin yang menderanya seolah menghilang sekarang. "H—hai." Balas Jongin terbata. "Hmmm…, apa yang kau lakukan di sini?" Meski mereka mungkin sudah berbaikan pagi tadi, tapi Jongin tak siap untuk membicarakan semuanya di hari yang sama.
"Aku boleh mengunjungi tempat tinggalmu kan?"
Jongin berusaha tersenyum namun ia tahu usahanya gagal, karena ia "Di luar sangat dingin…,"
"Mungkin kita bisa mengobrol di tempat yang lebih hangat, sekarang belum terlalu larut." Potong Sehun.
Jongin melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya setelah sedikit menyingkap lengan mantel musim dingin yang membalut tubuhnya. "Sepuluh malam, ya, kurasa belum terlalu larut. Kita bisa mengobrol di dalam."
"Kau mengundangku mengunjungi apartemenmu?" Sehun bertanya dengan nada bercanda.
"Kau sahabatku." Balas Jongin tersenyum, dan Sehun tak bisa menyembunyikan raut kecewanya.
Keduanya berjalan beriringan melintasi lobi dan lorong gedung. Dan memberi jarak beberapa senti dari satu sama lain. Beberapa senti yang terasa begitu jauh sekarang. Jongin melangkah lebih dulu memasuki lift, Sehun mengikuti di belakang.
"Hanya kita berdua di dalam lift." Gumam Sehun.
"Hmm." Gumam Jongin.
"Kau tinggal di lantai berapa?"
"Lima."
"Apartemen yang nyaman."
"Terimakasih."
Sehun terdiam untuk beberapa detik sebelum membasahi bibir bawahnya cepat. "Berapa lama kita berpisah?"
"Hmm…, kurasa hampir dua bulan, bukankah kau mengingatnya tadi pagi?"
Sehun hanya mengangguk menanggapi. Suara denting nyaring menggema ketika lift berhenti di lantai lima. Pintu lift terbuka, Jongin melangkah keluar terlebih dahulu. Sehun menyusul kemudian, ia tak berani melangkah mendekati Jongin. Sehun tetap melangkah di belakang Jongin.
Sehun memperhatikan Jongin menekan kode pengaman pintu. Apartemen tempat tinggal Jongin didominasi dengan warna cokelat muda, hangat, dan nyaman. "Kau bisa melepas mantelmu setelah suhu ruangan cukup hangat." Ucap Jongin sambil melepas sepatu botnya dan menggantinya dengan sandal rumah.
"Ya." Balas Sehun singkat sambil mengikuti apa yang Jongin lakukan.
Jongin menggiring Sehun menuju ruang makan, membuka lemari penyimpanan dan mengeluarkan sebotol air mineral dalam suhu ruangan. "Aku bisa memesan makanan, kau ingin makan apa?" tawar Jongin.
"Aku sudah makan di hotel tadi." Balas Sehun sambil mendudukan tubuhnya pada salah satu kursi tinggi di depan konter dapur, Jongin duduk di seberangnya tak lama kemudian. Sehun mengamati Jongin dalam balutan sweter putih. "Kau senang selama tinggal di sini?"
"Tentu saja."
"Kau bertemu dengan orang-orang baru, apa mereka memperlakukanmu dengan baik?"
"Ya." Jongin menjawab singkat.
"Aku tahu akan butuh waktu yang cukup panjang, untuk memulai semuanya, mendapatkan kepercayaanmu lagi, aku tahu aku benar-benar bodoh. Maafkan aku dan terimakasih sudah memberiku kesempatan kedua."
Jongin memutar-mutar botol air mineral di tangannya. "Aku juga tidak yakin apa semuanya bisa berjalan dengan baik. Aku hanya ingin mencoba dan melihat semua kemungkinan yang akan terjadi di masa depan."
"Kenapa kau menerimaku lagi?"
"Kenapa kau memintaku kembali?"
Keduanya melempar pertanyaan dalam waktu yang sama. "Kau saja." Ucap Jongin. "Karena aku mencintaimu dan aku tidak bisa membayangkan bersama orang lain kecuali dirimu."
"Meski terlambat." Cibir Jongin.
"Ya, meski aku selalu terlambat." Balas Sehun tak mengingkari kenyataan. "Dan kau? Apa alasanmu?"
"Jika kau tidak memutuskan semua hubunganmu denganku, kau pasti tau alasannya." Sehun mengerutkan kening. "Aku hamil."
"Apa itu anakku?"
PLAKKK!
Tamparan keras Jongin daratkan pada pipi kiri Sehun. "Brengsek! Tentu saja anakmu! Aku tidak pernah tidur dengan pria lain!"
"Jongin maaf! Aku hanya terkejut!" Pekik Sehun sambil bergegas mengikuti langkah kaki Jongin.
TBC
Hai semua terimakasih masih mengikuti cerita ini,maaf jika updatenya lambat macem siput ya…, sanggupnya hanya satu minggu sekali, dulu sempat ingin dua kali update satu minggu biar cepet selesai ceritanya. Terimakasih untuk reviewnya Natsu Kajitani, ahrarzriantix, doubleuu, laxyovrds, opikkim, NishiMala, Seira, ariska, Jeyjong, dytdyt, Ongin, okta saputri, tytyd, sekaicakim, KyungXe, Oh Titan, OhSehunKimJongin, cute, Guest, jongbae, luckyOne94, Wendybiblu, Athiyyah417, jongiebottom, lela wyfhzt, Nikmah444, ismi ryesomnia, troalle, ulfah cuittybeams, Kim Jongin Kai, bksekaii, arvipark794, novisaputri09, elidamia98, k1mut, GaemGyu92, vivikim406, XingerXXI, jjong86, awrerei, pawpiwpow, Kiki2231, ohkim9488, Park RinHyun Uchiha, adi chandra, micopark, Kim762, juliakie. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Teaser
BURN
The Migthy Fall Part II
Karena keserakahan akan kekuasaan tidak akan pernah berakhir.
Coming soon….
