WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL, Mpreg, Typo
Previous
Jongin memutar-mutar botol air mineral di tangannya. "Aku juga tidak yakin apa semuanya bisa berjalan dengan baik. Aku hanya ingin mencoba dan melihat semua kemungkinan yang akan terjadi di masa depan."
"Kenapa kau menerimaku lagi?"
"Kenapa kau memintaku kembali?"
Keduanya melempar pertanyaan dalam waktu yang sama. "Kau saja." Ucap Jongin. "Karena aku mencintaimu dan aku tidak bisa membayangkan bersama orang lain kecuali dirimu."
"Meski terlambat." Cibir Jongin.
"Ya, meski aku selalu terlambat." Balas Sehun tak mengingkari kenyataan. "Dan kau? Apa alasanmu?"
"Jika kau tidak memutuskan semua hubunganmu denganku, kau pasti tau alasannya." Sehun mengerutkan kening. "Aku hamil."
"Apa itu anakku?"
PLAKKK!
Tamparan keras Jongin daratkan pada pipi kiri Sehun. "Brengsek! Tentu saja anakmu! Aku tidak pernah tidur dengan pria lain!"
"Jongin maaf! Aku hanya terkejut!" Pekik Sehun sambil bergegas mengikuti langkah kaki Jongin.
BAB LIMA BELAS
"Jongin tunggu!" Sehun berlari menghampiri Jongin yang hampir menutup pintu kamarnya. "Maafkan aku," ucapnya tulus. "Aku benar-benar terkejut." Sehun menatap kedua bola mata Jongin penuh harap.
"Reaksimu seolah aku akan tidur dengan setiap laki-laki yang aku temui."
"Astaga Jongin…," erang Sehun. "Aku tidak bermaksud seperti itu, aku benar-benar terkejut."
"Aku tidak memintamu tinggal, kau bisa pergi, kita bisa melakukan tes DNA setelah bayinya lahir."
Menarik napas dalam Sehun mencoba menekan amarah dan egonya ia lantas memeluk Jongin, mengabaikan rekasi penolakan Jongin. Ia bisa merasakan bagaimana kakunya tubuh Jongin serta pelukannya yang tak dibalas. "Maaf." Bisik Sehun. "Tentu saja aku percaya pada ucapanmu."
Memejamkan kedua matanya, Jongin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sehun. Ia merasa sangat lelah sekarang, semua emosi yang ditahannya selama hampir dua bulan terakhir, semua pertanyaan di dalam benaknya, sekarang sudah terjawab.
Sadar jika Jongin tak lagi membenci pelukannya, Sehun melonggarkan kedua tangannya yang melingkari punggung Jongin. Tangan kanannya bergerak mengusap perlahan punggung Jongin. "Mungkin kita bisa memikirkan tentang pernikahan?"
"Itu terlalu cepat."
"Bagaimana jika tinggal bersama?"
"Aku tidak bisa kembali ke Korea."
"Kalau begitu aku yang akan tinggal di sini bersamamu."
"Bisakah kita bicarakan semua itu besok? Aku libur besok, aku lelah."
"Tentu."
Jongin lantas menarik tubuhnya keluar dari pelukan Sehun. Ia berjalan menuju ranjang tempat tidurnya ketika Sehun mengikuti langkah kakinya, Jongin tak berusaha untuk menjauhkan atau bahkan mengusir berbaring saling menghadap, Jongin mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya sebatas leher.
"Apa kau ingin mendengar ceritaku sebelum aku menyusulmu ke sini?" Sehun berucap pelan sambil menyingkirkan anak rambut dari dahi Jongin.
"Hmmm…," Jongin bergumam.
"Baekhyun datang dan menamparku."
"Benarkah?!" Jongin terdengar terkejut dan sesaat kedua kelopak matanya yang nyaris tertutup kini kembali terbuka.
"Maksudku bukan menampar dalam arti yang sebenarnya, dia hanya memberiku—hmm…, mungkin pencerahan."
"Oh, aku pikir Baekhyun hyung benar-benar menamparmu."
"Kau terdengar kecewa, apa kau ingin aku benar-benar terkena tamparan dari seseorang?"
"Mungkin."
"Kejam."
"Kau mengacuhkan pesanku, lalu pergi ke pesta, saat itu kecewa saja sepertinya kurang untuk menggambarkan perasaanku. Lalu aku bertekad untuk membesarkan anakku sendiri tanpa bantuanmu."
"Aku benar-benar membuang ponselku, baiklah aku memang sangat pengecut, maaf. Saat aku muncul tiba-tiba apa yang kau pikirkan?"
"Masih sama, lalu aku berpikir ulang dan…," Jongin menggantung kalimatnya mengalihkan tatapannya dari Sehun. "Jika aku bersikap egois, dan memilih menolakmu meski kau sudah meminta maaf dan meminta kembali. Aku akan sangat jahat pada anakku sendiri, dia berhak mengetahui siapa ayahnya, hanya itu yang bisa aku pikirkan."
"Cinta?"
Jongin tersenyum tipis. "Terlalu cepat untuk itu, kau sudah gagal di kesempatan pertamamu dengan memintaku memilih…,"
"Aku tidak akan gagal di kesempatan kedua." Sehun berucap penuh keyakinan sebelum mendekatkan tubuhnya pada Jongin, memeluk lembut tubuh Jongin. "Empat bulan." Bisik Sehun, Jongin hanya mengangguk pelan sebelum memejamkan kedua matanya.
Tangan kanan Sehun bergerak perlahan ia takut membuat Jongin merasa tidak nyaman, ia bahkan menahan napas, memikirkan banyak hal, seperti penolakan Jongin. Namun, Jongin masih terlihat tenang meski tangan Sehun kini telah berada di atas perutnya.
Meski belum bisa merasakan gerakan apapun di dalam sana, Sehun menahan dirinya untuk tidak menangis, namun semua sia-sia karena air matanya tetap saja mengalir keluar. Selama ini pikiran tentang memiliki seorang anak belum pernah terlintas di benaknya, dan sekarang setelah dia mengetahui semuanya. Ia sudah memberikan seluruh cintanya pada seseorang yang bahkan belum ia temui.
.
.
.
Jongin membuka kedua matanya, ia tak lagi mendapati Sehun yang seharusnya berbaring bersamanya. Mendudukan tubuhnya lantas menoleh kea rah jendela. Sinar matahari tak nampak cerah pagi ini, lubang ventilasi terlihat muram. Jongin memutuskan untuk turun dari ranjang dan menghampiri jendela, menyingkap tirai. Mendapati pagi yang seharusnya cerah berubah menjadi badai.
"Beruntung hari ini libur," gumamnya sebelum beranjak meninggalkan kamar tidur tanpa peduli untuk merapikan ranjang tempat tidur terlebih dahulu.
Aroma masakan tercium, Jongin melangkah menuju dapur. Mengamati punggung Sehun yang terbalut kemeja putih. "Kau membuat sarapan?"
Sehun menoleh disela kegiatannya ia tersenyum. "Pagi, apa ada makanan tertentu yang tidak bisa kau makan selama hamil?"
Jongin menggelengkan kepalanya pelan. "Aku bisa memakan apapun." Ucapnya sebelum berjalan mendekati Sehun. Membuka lemari penyimpanan dan mengambil sebotol air mineral dari sana. "Di luar badai, kapan kau kembali ke Korea?"
"Aku tidak akan kembali."
"Apa?!" kedua alis Jongin nyaris bertaut mendengar jawaban Sehun.
"Aku tidak akan kembali ke Korea, tidak tanpamu. Kita akan mencari tempat tinggal baru di sini dan tinggal bersama. Atau membeli apartemen yang jaraknya masih cukup dekat dengan tempat kerjamu."
"Hmmm." Jongin hanya menggumam, ia lantas duduk di meja bar di belakang konter dan kembali memerhatikan Sehun dengan kesibukannya.
"Aku berbicara dengan ibumu dan keluargaku."
"Tentang?"
"Pernikahan kita."
"Pernikahan." Jongin belum sadar dengan kalimat Sehun. "Apa?!" pekiknya selang beberapa detik setelah dia paham. "Apa kau gila?!"
"Tidak ingin menikah denganku?"
"Tapi tidak secepat ini kan?" keluh Jongin.
"Mau menunggu apa? Orang lain yang lebih baik dariku?" Kini Sehun telah berbalik menatap Jongin serius.
"Baiklah, bukan itu maksudku." Jongin tidak ingin bertengkar. Musim dingin bukan favoritnya dan sekarang di luar sedang badai, pertengkaran hanya akan menambah buruk suasana hatinya. "Kapan rencananya?"
"Secepatnya kalau bisa, sebelum anak kita lahir." Dahi Jongin berkerut ia tidak terlalu yakin dengan kalimat Sehun. Ada banyak hal yang sedang dia pikirkan sekarang. "Kim Jongin..," panggil Sehun.
"Haah..," hembusan napas kasar terdengar dari bibir Jongin. "Aku tidak ingin menikah dengan perut buncit."
Menggigit bibir bawahnya, Sehun nyaris tertawa terpingkal mendengar kalimat Jongin. Dia sudah cemas dengan alasan penolakan Jongin, dan ternyata alasan penolakan itu begitu konyol. Tapi, mungkin saja itu sesuatu yang serius bagi Jongin.
"Jadi bagaimana?" lanjut Sehun setelah keinginannya untuk tertawa reda.
"Nanti saja, setelah perutku tidak buncit lagi."
"Keluargamu? Ibumu?"
Dahi Jongin kembali berkerut, ia membayangkan betapa terkejutnya sang ibu ketika mereka kembali ke Korea, melangsungkan pernikahan, dengan seorang bayi. "Kurasa…," menggantung ucapannya, Jongin lantas mendongak menatap Sehun. "Kurasa akan terjadi kehebohan, tapi aku tetap tidak ingin menikah dengan perut buncit."
"Kurasa itu tidak masalah." Balas Sehun sambil menghidangkan nasi, sayur, dan lauk, secara terpisah ke hadapan Jongin.
"Ibuku menyukai anak kecil terutama bayi, jadi ketika beliau memarahiku lalu melihat bayi kemarahannya akan langsung reda."
Baiklah sekarang giliran Sehun yang tidak paham. "Jadi kau menolak menikah dengan perut buncit, bukan karena masalah dengan penampilanmu? Bukan karena rasa kurang percaya diri?"
"Bukan."
"Karena takut dimarahi ibumu?"
"Ya, itu baru benar."
"Astaga….," Sehun mengerang pelan.
"Ibuku masih memegang teguh tradisi, kehamilan di luar nikah itu dilarang, dan aku melanggar tradisi, aku benar-benar anak durhaka. Dan semua ini salahmu!" Bentak Jongin sambil menunjuk Sehun dengan sumpit logamnya.
"Aku?! Tapi kau tidak menolak.., ah maaf." Sehun membekap mulutnya sendiri setelah melihat tatapan mematikan dari Jongin.
"Sudah diam jangan bicara lagi Sehun. Sebelum aku benar-benar jengkel."
"Maaf." Gumam Sehun sebelum mendudukan dirinya di hadapan Jongin, tentu saja setelah mematikan kompor terlebih dahulu. "Baiklah, terserah kau saja."
"Hmm." Jongin menanggapi dengan gumaman.
"Bagaimana jika kita pikirkan tentang tempat tinggal baru?"
"Aku serahkan semuanya padamu, aku tidak mau repot." Balas Jongin disertai senyum lebar diakhir kalimat.
"Kau ini selalu seperti itu, menyerahkan semuanya padaku, kemudian jika ada sesuatu yang tidak kau sukai langsung protes dan menyalahkan aku." Gerutu Sehun.
"Kapan aku pernah melakukan tindakan tidak terpuji seperti itu?" Jongin bertanya disertai tatapan polos tanpa dosa.
"Kau sering melakukannya, ketika SMA, kau ingin melihat konser BigBang kau bilang terserah aku saja, aku beli tiket VIP kau marah dengan mengatakan jika duduk bukan cara menyenangkan untuk menonton konser."
"Hmm seperti itu."
"Aku pernah pergi ke Inggris lalu kau ingin kaos seragam sepak bola. Aku tanya mau tim apa? Kau bilang terserah, saat kita bertemu kau marah karena aku membeli kaos tim Manchester United, karena kau menyukai Chelsea, aku tidak tahu masalah itu, kau tidak pernah memberitahuku tim kesukaanmu."
"Itukan karena aku pikir kita sudah lama saling kenal, jadi kau pasti sudah mengerti semua hal yang aku suka dan tidak aku suka."
"Aku memikirkan hal lain."
"Kekasih-kekasihmu." Balas Jongin.
"Sudah jangan dimulai lagi."
Jongin tersenyum miring. "Kenapa? Tidak suka? Kekasihmu kan sangat banyak, aku bahkan tidak tahu berapa jumlah pastinya."
"Sudah jangan dibahas lagi…," erang Sehun.
"Baiklah." Tanggap Jongin kemudian kembali memakan sarapannya. "Tapi bagaimana rasanya memiliki banyak kekasih?"
Sehun mengerucutkan bibirnya tanpa sadar mendengar Jongin yang terus mengungkit masa lalunya. "Jongin aku tidak ingin membicarakannya."
"Kenapa?" Jongin bersikeras.
"Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, sekarang aku justru menyesal."
"Untuk apa menyesal? Tenang saja, aku tidak akan cemburu."
"Aku tidak memikirkanmu." Balasan Sehun membuat Jongin nyaris melempar sumpit pada dahi kekasihnya itu. "Aku memikirkan anak-anakku nanti, ketika mereka mengetahui kisahku dari orang lain….," Sehun bahkan tak mampu melanjutkan kalimatnya ketika membayangkannya.
"Mungkin saja mereka bangga karena ayahnya Playboy."
"Hentikan…," Sehun kembali mengerang kali ini dengan wajah yang bersemu merah.
"Aku juga memikirkan diriku sendiri, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku, itu membuatku takut memikirkan masa depan."
"Kita tidak akan pernah sempurna sebagai manusia, kurasa itu berlaku juga ketika menjadi orangtua."
"Ya, kurasa kau benar." Balas Jongin kemudian tersenyum. Sarapan berlangsung dengan tenang setelah percakapan, sesekali keduanya menoleh ke arah jendela memeriksa apakah badai sudah sedikit reda.
"Jongin." panggil Sehun.
"Ya?" Jongin menatap Sehun kemudian tersenyum.
"Kau tidak keberatan kan jika kita mulai tinggal bersama?"
"Asalkan semua baik-baik saja, tidak ada pekerjaanmu yang terbengkalai aku tidak masalah."
"Aku akan mengurus semuanya, mungkin membuka cabang baru di Jepang."
"Membuka cabang semudah membeli permen." Gerutu Jongin.
"Atau mungkin aku memboyong keluargamu ke sini?"
"Apa?!" Pekik Jongin. "Kau mau melihatku dicincang hidup-hidup oleh ibukku?!" Sehun tertawa dengan cara menyebalkan, Jongin hanya mendengus mengurungkan niatnya untuk memukul kepala Sehun.
"Aku akan membelamu, aku janji."
"Diam." Desis Jongin. "Ibuku tidak akan mau pindah, jangan memaksa ibuku untuk pindah. Ada banyak kenangan di sana, tokonya juga berharga, jangan meminta ibuku untuk pindah kemanapun kecuali nanti ketika ibuku sudah terlalu tua dan membutuhkan bantuan untuk berjalan, aku akan merawatnya."
"Baiklah." Balas Sehun.
"Dibandingkan itu apa kau punya kenalan laki-laki baik yang mapan?"
"Untuk apa?" Sehun menatap Jongin tajam.
"Untuk kakakku."
"Ahhh…," Sehun bernapas lega.
"Kau pikir untuk siapa selain kakakku?" Jongin bertanya dengan malas.
"Kau."
"Bodoh, memang siapa yang mau menikahiku selain kau?"
"Ah kau benar juga."
"Astaga Sehun sudah berapa kali dalam beberapa jam terakhir ini aku menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan padamu, kau sangat menyebalkan."
Sehun hanya tersenyum lebar mendengar kalimat Jongin. "Siapa ya…, laki-laki baik yang sudah mapan…,"
"Dan belum memiliki kekasih apalagi istri." Timpal Jongin.
"Astaga…, aku tidak akan mengenalkan calon kakak iparku pada laki-laki murahan."
"Siapa tahu, wajahmu mengesalkan."
"Mulai lagi, salah lagi." Gerutu Sehun kemudian wajah Sehun berubah serius. "Bobby?"
"Kau punya fotonya?"
Sehun mengangguk pelan, ia berdiri kemudian berpindah tempat duduk. Keduanya duduk bersebelahan, Sehun menunjukkan foto Bobby di ponselnya. "Bagaimana menurutmu?"
"Lumayan, kau punya yang lain."
"Ada banyak. Mereka semua pengawalku, apa tidak masalah? Tipe Boram seperti apa?"
"Entahlah yang penting usaha dulu." Gumam Jongin kemudian meminta Sehun untuk menyebutkan semua nama pengawalnya.
"Daehyun, Himchan, Yugyeom, Zelo."
"Kurasa selera Boram itu Zelo, tapi kita kenalkan semua bagaimana?"
"Tentu." Sehun meletakkan ponselnya ke atas meja makan. "Jongin, apa benar kekasih Boram tewas karena kecelakaan?"
Jongin mengangguk pelan. "Darimana kau tahu?"
"Boram pernah sekali tidak sengaja bercerita, tidak sampai selesai dia langsung pergi."
"Mereka menjadi sepasang kekasih sejak tahun terakhir SMP dan berlanjut hingga SMA, kalau tidak salah tahun kedua di SMA. Sekolah Boram dan kekasihnya mengadakan acara wisata, salah satu bus mengalami kecelakaan. Enam siswa tewas di tempat termasuk kekasih Boram. Sejak saat itu Boram seolah menutup hatinya untuk siapapun."
"Dan kau terus mengejek kakakmu." Cibir Sehun.
"Aku ingin Boram membuka hatinya lagi, atau jika dia memutuskan untuk seorang diri seumur hidupnya dia tidak terus terkurung dalam kesedihannya. Boram mungkin bersikap menyebalkan, dan selalu ceria di hadapanku, tapi aku sering mendengar suara tangisnya dari luar kamar. Kuharap salah satu pengawalmu bisa membahagiakan kakakku."
"Ternyata kau baik."
"Kalimatmu terdengar mengejek." Ucap Jongin ditambah lirikan tajam pada Sehun.
"Aku benar-benar tulus." Sehun membela diri kemudian memeluk Jongin. "Terimakasih sudah menerimaku kembali." Bisik Sehun.
TBC
Halooo semua terimakasih masih membaca cerita ini, meski semakin panjang dan semakin tidak jelas. Terimakasih review kalian ly94, Natsu Kajitani, Jongin Oh, ariska, TrapOne, okta, Kie, NishiMala, arvipark794, Guest, KyungXe, sekaicakim, dytdyt, Rachelia Park, Guest, Ongin, kyungie45, Guest, Siapa saya, Jeyjong, tytyd, Jeyjong, Guest, cute, lela wyfhzt, Nikmah444, micopark, wiwitdyas1, awrerei, k1mut, ismi ryesomnia, dyla28, pawpiwpow, Kim762, Xinger XXI, dhantieee, novisaputri09, KJISM, Kim Jongin Kai, si anida42, tobanga garry, Kiki2231, GaemGyu92, elidamia98, jjong86, SeKai Candyland, jongbae, OhSehunKimJongin, Only12Boys, Park RinHyun Uchiha, Athyiyyah417, juliakie, Saiueo, Xingmandoo, ulfah cuittybeams, bksekaii, vivikim406, jongiebottom, ohkim9488, bksekaii, Leehan. Sampai jumpa di chapter selanjutnya, dan tunggu The Mighty Fall II Burn ya, meski fic ini masih mayan panjang jadi harus sabar dikit hehehe…
