WHAT?!

AN EXO FANFICTION

Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others

Rating: T-M

Warning: BL, Mpreg, Typo

Previous

"Mereka menjadi sepasang kekasih sejak tahun terakhir SMP dan berlanjut hingga SMA, kalau tidak salah tahun kedua di SMA. Sekolah Boram dan kekasihnya mengadakan acara wisata, salah satu bus mengalami kecelakaan. Enam siswa tewas di tempat termasuk kekasih Boram. Sejak saat itu Boram seolah menutup hatinya untuk siapapun."

"Dan kau terus mengejek kakakmu." Cibir Sehun.

"Aku ingin Boram membuka hatinya lagi, atau jika dia memutuskan untuk seorang diri seumur hidupnya dia tidak terus terkurung dalam kesedihannya. Boram mungkin bersikap menyebalkan, dan selalu ceria di hadapanku, tapi aku sering mendengar suara tangisnya dari luar kamar. Kuharap salah satu pengawalmu bisa membahagiakan kakakku."

"Ternyata kau baik."

"Kalimatmu terdengar mengejek." Ucap Jongin ditambah lirikan tajam pada Sehun.

"Aku benar-benar tulus." Sehun membela diri kemudian memeluk Jongin. "Terimakasih sudah menerimaku kembali." Bisik Sehun.

BAB ENAM BELAS

"Jongin."

"Hmm?" setengah hati Jongin menanggapi Taemin, kedua matanya masih tertuju pada sketsa yang sedang dia usahakan untuk selesai hari ini.

Taemin menarik kursi dari meja samping kiri Jongin untuk duduk di hadapan sang sahabat. "Kau dan Sehun tinggal bersama? Kalian berbaikan?"

Jongin menghentikan kesibukannya seketika, mengangkat kepalanya menatap Taemin lekat. Ia melirik seluruh isi ruangan, semua orang tengah sibuk bekerja tapi Jongin yakin mereka sebenarnya menyimak.

"Darimana kau tahu?"

"Berita menyebar dengan cepat, kau akan pindah dari apartemen fasilitas perusahaan ke tempat lain?"

"Kemungkinan besar aku akan pindah."

"Untuk tinggal bersama Sehun?"

Jongin mengangguk pelan, tidak ada gunanya menutup-nutupi. "Aku akan pindah dari apartemen fasilitas perusahaan, ke tempat lain bersama Sehun."

"Apa kerjasama yang terjalin ada hubungannya dengan semua ini?" Taemin melempar tatapan cemasnya.

"Tidak. Tidak ada hubungannya, semua murni urusan bisnis."

"Cukup lega mendengarnya, meski aku tak sepenuhnya yakin." Jongin hanya mengendikan kedua bahunya menanggapi kalimat Taemin. "Bagaimana kau bisa berbaikan dengan Sehun begitu cepat? Hal terakhir yang aku ingat ketika aku menyebut nama Sehun, kau langsung marah dan memintaku untuk tidak menyebut nama laki-laki itu lagi."

Taemin menyipitkan kedua matanya, menatap Jongin penuh selidik kemudian mencondongkan tubuhnya. Membuat Jongin sedikit memundurkan kursi yang ia duduki. Taemin terlihat mengancam sekarang. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

"Menyembunyikan apa?"

Taemin tersenyum. "Berat badanmu naik ya? Pipimu lebih berisi sekarang." Tak lama senyum Taemin menghilang berganti dengan tatapan serius. "Apa kau hamil?"

"Apa?!" Jongin memekik panik, ia melihat ke sekeliling dan kini tatapan semua orang tertuju padanya.

"Kim Jongin apa kau hamil?"

"Bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?" Jongin melempar pertanyaan kepada Taemin dengan gugup, diselingi suara tawa yang terdengar aneh.

"Aku sudah sering mendengar berita seperti ini, tidak perlu gugup." Jackson berucap santai.

"Berapa bulan?" perhatian Taemin tertuju kembali pada Jongin setelah Jackson sempat menginterupsi percakapan keduanya.

"Sekarang memasuki empat bulan, kami berpisah dua bulan, aku hamil sebelum perpisahan itu."

"Kau tidak memberitahu Sehun sebelumnya?"

"Aku belum tahu, aku mengetahuinya di sini."

"Kau tidak melakukan cek kesehatan sebelum terbang?" Jongin menggeleng pelan. "Bodoh!" Taemin berteriak kesal ia nyaris memukul kepala Jongin jika tidak mengasihani anak di dalam perut Jongin. "Bagaimana kau bisa ceroboh seperti itu? bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?!"

"Aku tidak tahu jika hamil, astaga Taemin pelankan suaramu. Telingaku berdenging!" protes Jongin.

"Bagaimana aku juga tidak mengetahui perubahan tubuhmu, dan melewatkan begitu saja perkembangan keponakanku." Taemin meratap dengan cara yang menjijikan dan berlebihan menurut Jongin.

"Berarti kita berdua sama-sama bodoh." Jongin membalas enteng.

"Semua orang di ruangan ini juga bodoh!" Taemin berteriak menyalahkan semua orang, dia tidak mau mendapat predikat bodoh seorang diri. Semua harus ikut, bukankah mereka semua tim?

Jongin menahan tawa mendengar kalimat Taemin, serta melihat raut wajah serius Taemin yang justru lucu sekarang. "Sekarang kau sudah mengetahui semuanya kan? Jadi duduklah di tempatmu Lee Taemin, biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku dengan tenang."

"Hmmm." Taemin menggumam ia berdiri dan nyaris melangkah pergi sebelum kembali menatap Jongin penuh selidik. "Kapan kalian menikah? Kenapa aku tidak diberitahu?"

"Kami tidak menikah."

Taemin terdiam untuk beberapa detik sebelum kedua bola matanya membulat sempurna. "Kim Jongin kau hamil di luar nikah?! Apa yang akan dikatakan oleh Bibi?!"

"Tolong simpan rahasia ini Taemin, aku tidak mau dicincang hidup-hidup." Jongin mengucapkan kalimatnya dengan lemah disertai tatapan penuh permohonan.

Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, Taemin kembali mendudukan dirinya di hadapan Jongin. "Ini masalah serius di keluargamu Jongin."

"Aku tahu."

"Bagaimana kau bisa seceroboh ini?"

"Entahlah Taemin, saat itu—saat itu aku tidak bisa berpikir dengan jernih."

Taemin menjilat singkat bibir bawahnya yang terasa kering. "Kau tidak bisa menyembunyikan ini selamanya dari ibumu."

"Aku tahu karena itu aku akan menunggu hingga bayi ini lahir."

"Kau pikir itu jalan keluar terbaik?" Jongin mengangguk pelan. "Kau pikir dengan menunjukkan bayimu, ibumu dengan mudah akan memberi maaf? Bagaimana jika yang terjadi tidak sesuai dengan perkiraanmu?"

"Taemin jangan membuatku takut."

"Keluarga kita sudah saling mengenal sejak lama Jongin. Aku sedikit banyak tahu apa yang akan terjadi jika kau melanggar aturan keluarga yang sudah dipegang teguh sejak ratusan tahun."

Jongin bisa merasakan detak jantungnya berdebar tak karuan sekarang, kalimat Taemin membuatnya ketakutan. Sesuatu yang selama ini tak terlalu ia pikirkan. Ternyata bisa berubah menjadi sangat serius.

"Kakakku juga melakukan hal yang sama denganmu, dia nyaris diusir dan namanya dicoret dari silsilah keturunan."

Tubuh Jongin tersentak mendengar penuturan Taemin. "Tae—a—apa yang harus aku lakukan sekarang?" ketakutan dan kebingungan bercampur menjadi satu, Jongin merasa seolah sesak napas sekarang.

"Saranku, ambil liburan akhir tahun. Pergi temui ibumu dengan Sehun. Bayimu anak Sehun kan?" Jongin hanya bisa mengangguk. "Sehun harus bertanggungjawab bukan sekedar mengaku sebagai ayah, tapi juga bertanggungjawab untuk menjelaskannya pada ibumu, pada keluarga besarmu."

"Taemin aku—aku—apa aku boleh melompat dari gedung ini sekarang?"

"Apa yang kau katakan!" bentak Taemin sebelum tatapannya melembut pada Jongin. Tangan Taemin kini menggenggam telapak tangan kiri Jongin lembut. "Semua orang melakukan kesalahan, bersikaplah ksatria dengan mengakui kesalahanmu."

"Bagaimana jika yang terburuk terjadi padaku?"

"Kau harus menerima akibat perbuatanmu." Taemin melihat kedua mata Jongin yang tergenang air mata. "Kemungkinan terburuk kau diusir, tidak menggunakan marga Kim lagi, tapi seorang ibu tidak akan bisa memutus ikatannya dengan seorang anak yang pernah tumbuh di dalam tubuhnya, dan dia antarkan ke dunia. Percayalah." Taemin tersenyum menenangkan di akhir kalimat.

Jam bekerja telah usai, namun Jongin masih enggan untuk kembali ke apartemennya yang hangat. Ia berada di atap gedung, duduk pada bangku taman, tidak peduli dengan butir-butir salju yang semakin lebat turun.

Kedua pipinya terasa sangat dingin sekarang, bibirnya juga terasa mulai kaku. Namun ia masih belum menemukan keinginan untuk pergi dari tempatnya sekarang.

"Apa yang kau lakukan di sini?!" suara teriakkan seseorang menyadarkan Jongin, menoleh ke belakang cepat. Ia melihat Taemin berjalan ke arahnya dengan langkah panjang. "Kau bisa sakit!" bentak Taemin, dengan cepat Taemin melepas syal hitam di lehernya kemudian melingkarkan syal itu pada leher Jongin. "Ayo." Ajak Taemin.

Jongin berniat mengabaikan tangan kanan Taemin yang terulur padanya. Namun, Taemin memaksa menggenggam tangan kirinya. Membuat Jongin tak memiliki pilihan lain kecuali beranjak berdiri dari bangku yang dia duduki. "Jika kau tidak peduli dengan dirimu sendiri, pikirkan nyawa lain di dalam dirimu."

"Taemin—aku tidak tahu harus melakukan apa." Taemin menyuarakan isi hatinya dalam kalimat lirih nyaris berbisik.

"Kau akan menemukan jalan keluar." Balas Taemin menuntun Jongin memasuki lift. "Aku yakin itu, jangan cemas. Jangan tenggelam dalam kesedihan. Semuanya akan baik-baik saja."

"Adakalanya, semuanya tidak berjalan dengan baik."

"Jangan pesimis." Taemin menggumam, Jongin merasakan remasan Taemin pada telapak tangan kirinya.

Ketika pintu lift terbuka keduanya berpisah, Taemin beralasan dia ingin menyelesaikan sisa pekerjaannya hari ini juga. Supaya besok dia bisa mengerjakan yang lain, Jongin mengembalikan syal Taemin dengan paksa meski si pemilik bersikeras meminjamkannya.

Jongin hanya tidak ingin menjawab pertanyaan bertubi dari Sehun, hal yang sudah pasti akan Sehun pertanyakan nanti jika syal itu masih melingkari lehernya.

Jongin sengaja melambatkan langkah kakinya ketika melihat Sehun berdiri di dekat pintu kaca. Terlambat, Sehun memutar tubuh dan melihat kedatangannya. Laki-laki itu tersenyum menyambut kedatangan Jongin.

"Aku menjemputmu." Ucap Sehun ketika mereka berdiri berhadapan.

"Ya." Jongin membalas singkat disertai anggukan namun tanpa senyuman.

Sehun menautkan kedua alisnya. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Aku—hanya lelah." Dusta Jongin. "Kita kembali ke apartemen, di luar benar-benar dingin."

"Tentu!" Sehun membalas antusias, tangan kanannya bergerak cepat menggenggam telapak tangan kiri Jongin. keduanya berjalan bersama menyeberangi jalanan. "Kau tahu, kurasa aku sudah menemukan tempat tinggal yang cocok untuk keluarga kecil kita nanti."

"Hmm." Jongin bergumam setengah hati.

"Apa kau tidak senang mendengarnya? Tenang saja, kita bisa mencari tempat tinggal lain jika tidak cocok." Sehun melirik Jongin yang terlihat tidak memerhatikan pembicaraan mereka sama sekali. "Ada apa Jongin? Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu dariku."

"Kita bicarakan nanti setelah sampai." Putus Jongin membuat Sehun semakin cemas. Dia tidak ingin Jongin berubah pikiran, sungguh. Dia tidak menginginkan perpisahan sekarang, dia bisa mati jika Jongin memutuskan untuk pergi darinya.

.

.

.

"Ada apa?" tuntut Sehun selang beberapa detik setelah pintu apartemen tertutup. Ia bahkan tak menunggu hingga Jongin selesai melepas sepatunya.

Jongin memijit pelan batang hidungnya, ia berjalan mendekati Sehun setelah melepas sepatu beserta mantel musim dinginnya. "Ini tentang keluargaku."

"Apa terjadi sesuatu yang buruk?!" kedua mata Sehun terlihat cemas.

"Kurasa aku akan mendapat masalah besar jika ibuku tahu yang sebenarnya."

"Kehamilanmu?" Jongin mengangguk pelan. "Masalah seperti apa?"

"Awalnya aku berpikir jika semua akan berjalan dengan baik-baik saja sesuai rencanaku, ibuku akan tahu semuanya setelah bayinya lahir. Tapi ternyata tidak sesederhana itu."

"Apa maksudmu?"

"Tadi aku berbicara dengan Taemin, sahabat kecilku. Kau mengenalnya juga kan?"

"Iya, tapi tidak sedekat denganmu."

"Kami bertetangga cukup lama, maksudku sampai sekarangpun keluarga Taemin dan beberapa anggota keluargaku masih tinggal berdekatan."

"Lalu?"

"Keluarga Taemin memiliki prinsip yang nyaris sama dengan keluarga besar ibuku."

"Menjalankan tradisi lama seperti dilarang menikah dengan mereka yang memiliki marga sama? Dan hamil sebelum pernikahan? Melakukan hubungan badan sebelum pernikahan juga dilarang."

Jongin mengangguk pelan. "Karena itu aku akan mendapat masalah besar."

"Aku akan bertanggungjawab."

"Tidak sesederhana itu Sehun!" Jongin berteriak frustasi. "Tidak sesederhana itu, kurasa jika kita hanya menghadapi ibuku masih ada kemungkinan beliau melunak tapi keluarga besarku…," Jongin menggantung kalimatnya, tak sanggup melanjutkan. Memikirkan bagaimana reaksi kakek dan neneknya serta paman dan bibinya nanti.

"Kita akan melalui semuanya bersama." Sehun menggenggam kedua telapak tangan Jongin lembut. "Percayalah padaku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

"Aku tidak masalah." Gumam Jongin. "Tidak masalah jika hanya aku yang mendapatkan masalah. Tapi bagaimana jika mereka—keluarga besarku juga memberi hukuman kepada ibuku dan juga Boram?"

Jongin berusaha keras menahan tangis untuk melanjutkan kalimat. "Ibuku sudah cukup mendapat masalah ketika Boram menolak tawaran perjodohan, jika keluarga besarku mengetahui apa yang terjadi padaku semuanya pasti lebih buruk lagi."

"Aku akan menikahimu." Tegas Sehun.

"Sehun..," Jongin nyaris mengiba. "Tidak semudah itu, semua orang akan tahu jika aku hamil sebelum pernikahan terjadi."

"Aku tidak peduli. Aku akan menikahimu, aku akan melindungi ibumu dan Boram. Persetan dengan keluarga besarmu."

"Se..,"

Sehun menghentikan ucapan Jongin dengan mencium lembut permukaan bibir penuh Jongin. Tak lama Sehun menarik tubuhnya, mengakhiri ciuman lembutnya. Menatap kedua mata bulat Jongin dalam. "Jangan dengarkan apa yang orang lain katakan, jika semua yang mereka katakan hanya akan melukaimu."

"Aku tidak bisa mengabaikan semuanya begitu saja, aku tidak bisa bersikap egois."

"Apa yang menahanmu bersikap tidak peduli?"

"Keluargaku."

"Kau tidak ingin meninggalkan keluargamu meski mereka menyakitimu?"

"Aku tidak ingin, dan aku tidak mungkin meninggalkan Ibu dan Boram."

"Bukan Ibu dan Boram, tapi keluarga besarmu."

"Tentu saja aku tidak sanggup melakukannya, mereka dekat denganku, tidak semuanya buruk tentang mereka. Memang ada beberapa hal yang berbeda dari pemikiranku."

"Kita akan menemukan jalan keluarnya. Aku janji, kita kembali ke Korea libur musim dingin ini, bagaimana?"

"Ya, Taemin juga menyarankan hal yang sama denganmu."

"Aku akan mengurus semuanya setelah dokter mengatakan jika kau akan baik-baik saja melakukan perjalanan." Jongin hanya bisa mengangguk menurut menanggapi ucapan Sehun.

Sehun merengkuh tubuh Jongin, memeluk Jongin erat namun tetap lembut. "Pipi benar-benar dingin, apa aku harus menaikkan suhu ruangan?"

"Tidak perlu."

"Lalu?"

"Peluk saja aku." Jongin menggumam sembari menenggelamkan wajahnya pada bahu kanan Sehun. Membiarkan air matanya mengalir keluar kemudian menghilang teresap kain sweter hijau tua yang Sehun kenakan.

"Semuanya akan baik-baik saja." Sehun berbisik sambil mengusap pelan punggung Jongin. "Aku akan berusaha membuat semuanya baik-baik saja, aku berjanji padamu."

TBC

Terimakasih masih mengikuti cerita ini, maaf jika tidak bisa memuaskan selera semua pembaca. Terimakasih review kalian Rachelia Park, Guest, Sheehun, dytdyt, opikkim, NishiMala, ariska, Rachelia Park, Hana, Jeyjong, cute, KyungXe, Baby Wolf Jonginnie Kim, micopark, dhantieee, Xinger XXI, Kiki2231, GaemGyu92, Nikmah444, haneul byunbaozi, OhSehunKimJongin, Wiwitdyas1, ohkim9488, kakaikaidohun1, k1mut, lela wyfhzt, Kim Jongin Kai, HunHanKai, Natsu Kajitani, Saiueo, KJISM, Byunki, dyla28, pawpiwpow, juliakie, Athiyyah417, bksekaii, troalle, Park RinHyun Uchiha, jongiebottom, novisaputri09, jjong86, vivikim406. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.