WHAT?!

AN EXO FANFICTION

Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others

Rating: T-M

Warning: BL, Mpreg, Typo

Previous

"Kita akan menemukan jalan keluarnya. Aku janji, kita kembali ke Korea libur musim dingin ini, bagaimana?"

"Ya, Taemin juga menyarankan hal yang sama denganmu."

"Aku akan mengurus semuanya setelah dokter mengatakan jika kau akan baik-baik saja melakukan perjalanan." Jongin hanya bisa mengangguk menurut menanggapi ucapan Sehun.

Sehun merengkuh tubuh Jongin, memeluk Jongin erat namun tetap lembut. "Pipi benar-benar dingin, apa aku harus menaikkan suhu ruangan?"

"Tidak perlu."

"Lalu?"

"Peluk saja aku." Jongin menggumam sembari menenggelamkan wajahnya pada bahu kanan Sehun. Membiarkan air matanya mengalir keluar kemudian menghilang teresap kain sweter hijau tua yang Sehun kenakan.

"Semuanya akan baik-baik saja." Sehun berbisik sambil mengusap pelan punggung Jongin. "Aku akan berusaha membuat semuanya baik-baik saja, aku berjanji padamu."

BAB TUJUH BELAS

Sehun sedang keluar untuk mengurus sesuatu. Jongin tidak bisa menunggu lagi hingga dia benar-benar berhadapan dengan ibu dan keluarga besarnya. Jongin duduk di atas karpet, dengan punggung bersandar pada sofa, di hadapannya televisi menyala namun dia sama sekali tak memerhatikan tayangan apa saja yang tersaji.

Kedua tangannya lembab dan licin, ponsel di dalam genggamannya nyaris tergelincir. Jantungnya berdetak cepat, sangat cepat, mengingatkannya pada hari pengumuman kelulusan. Menunggu seseorang di seberang sana menjawab panggilannya.

"Hai, Sayang. Kau jarang menghubungi Ibu."

"Maaf Ibu—aku benar-benar sibuk di sini. Apa Ibu baik-baik saja? Apa Ibu makan banyak? Ibu memakai pakaian tebal kan? Ibu harus tetap hangat. Apa Boram baik-baik saja? Dia sudah jarang menangis bukan?" Jongin tidak bisa berhenti meracau, dia hanya takut jika detik ini adalah komunikasi terakhirnya dengan sang ibu dengan keluarganya.

"Sayang bertanyalah dengan pelan, sebentar Ibu duduk dulu dan akan menjawab semua pertanyaanmu."

"Tentu." Jongin membalas singkat, menarik napas dalam mencoba menekan emosinya yang nyaris meluap sekarang.

"Semuanya baik-baik saja, bagaimana kabarmu?"

"Aku baik-baik saja."

"Ada apa dengan suaramu? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."

"Ibu aku…," Jongin tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

"Jongin katakan ada apa?"

Menarik napas dalam-dalam, Jongin menguatkan dirinya sendiri. "Ibu maafkan aku, mengecewakan Ibu, tidak bisa menjadi anak yang membuat Ibu merasa bangga. Maaf, maaf, maafkan aku Ibu…,"

"Jongin ada apa? Kau membuat Ibu cemas? Katakan perlahan Kim Jongin."

"Ibu aku hamil."

"Hamil?"

"Iya." Jongin tidak sanggup mengucapkan kalimat yang lebih panjang lagi.

Jeda cukup lama tercipta. "Siapa yang menghamilimu? Sehun?" Jongin tidak menjawab. "Firasat Ibu mengatakan Sehun. Tentu saja Ibu tidak senang mendengar kabar ini, kalian belum menikah. Tapi semuanya sudah terjadi, Ibu tidak akan meninggalkanmu, Ibu juga tidak akan mengatakan pada siapa-siapa selama kalian belum siap untuk mengatakannya. Jangan memikirkan banyak hal, di sana pasti juga sudah malam. Tidurlah."

"Aku akan segera pulang dan menemui keluarga besar kita."

"Tidak Jongin, sekarang bukan waktu yang tepat. Reaksi mereka tidak akan baik. Yang terpenting adalah Ibu dan kakakmu bukan? Kami berdua akan baik-baik saja. Boram sudah tahu sejak awal, jadi sebenarnya Ibu sudah tahu tentang ini, tapi Ibu menunggumu hingga mengatakannya langsung."

"Terimakasih Ibu."

"Jangan memaksakan diri untuk pulang, Sehun sudah ada di sana bersamamu."

"Ibu juga sudah mengetahui hal itu."

"Tentu saja, Ibu Sehun yang mengatakannya. Mereka juga menunggu kabar langsung dari Sehun."

"Apa Ibu sudah memberitahu soal ini?"

"Boram yang mengatakan."

"Reaksi mereka?"

"Mereka terlihat senang."

"Astaga…," Jongin mengeluh namun dia tersenyum.

"Ibu harus menutup toko, tidurlah cepat."

"Ya, selamat malam."

"Selamat malam."

Jongin meletakkan ponselnya di atas lantai, tepat di hadapannya. Mengamati layar ponselnya sembari memikirkan tentang semua yang baru saja terjadi. Belum sepenuhnya terselesaikan namun dia bisa sedikit bernapas lega karena setidaknya Ibu dan kakaknya terdengar baik-baik saja.

Bergegas mengeringkan air matanya ketika mendengar suara derit pintu, Jongin tidak ingin membuat Sehun cemas dan yang terpenting adalah, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Sehun. Jongin tidak tahu sejak kapan egonya begitu tinggi ketika berhadapan dengan Sehun.

"Jongin."

"Hai." Balas Jongin tanpa menoleh ke belakang untuk melihat kedatangan Sehun.

"Kau sudah makan malam?"

"Sudah. Kau?"

"Sudah, tapi aku membawa makanan."

"Masukan saja ke dalam lemari pendingin, aku sudah kenyang."

"Kau yakin?"

"Hmm." Jongin hanya menggumam sekali lagi tanpa menatap Sehun.

Sehun merasa ada sesuatu yang salah, namun dia menahan diri untuk tidak bertanya dan memilih pergi ke dapur untuk memasukkan makanan yang dia bawa ke dalam lemari pendingin. Tak lama Sehun kembali kemudian mendudukan dirinya di sisi kanan Jongin. "Apa yang kau lakukan selama aku pergi?" Sehun bertanya sembari melingkarkan tangan kanannya pada tubuh Jongin.

"Tidak banyak hanya mengerjakan pekerjaan dari kantor."

"Kau tidak lelah kan?" Jongin menggeleng pelan. "Kapan kita bisa pindah? Aku sudah menemukan tempat tinggal yang sesuai."

"Terserah, selama aku tidak ikut memindahkan barang-barang." Balas Jongin dengan suara ceria yang Sehun yakini adalah dusta.

"Kau menyimpan sesuatu dariku, ada yang ingin kau katakan?"

"Ya." Balas Jongin singkat.

"Aku akan menjadi pendengar yang baik, katakan kapan saja setelah kau siap."

Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, ini cukup berat dan dia sebenarnya tidak tahu harus memulainya darimana. "Aku—menghubungi ibuku." Keengganan terdengar jelas pada setiap kata yang Jongin ucapkan. "Aku—mengatakan—semuanya."

Sehun diam, tak menyela. Dia benar-benar menjadi pendengar yang baik. "Tentu saja berita ini mengejutkan tapi Ibu terdengar baik-baik saja, bahka Boram sudah mengetahui hal ini bahkan sebelum aku sendiri tahu."

"Bukankah itu kabar yang baik?"

"Masalah belum selesai, aku tidak tahu reaksi keluarga besar ibuku."

"Tapi keluarga intimu baik-baik saja, bukankah itu yang terpenting?"

"Tetap saja aku merasa terbebani…," Jongin pada akhirnya mengeluh.

"Semua sudah terjadi, kita sudah dewasa. Kita tidak bisa melarikan diri dari masalah."

"Ya, kau benar. Sebaiknya kita kembali ke Korea dan menjelaskan semuanya."

"Aku akan mengatur semuanya, tenang saja. Sambil menunggu libur akhir tahun kita bisa pindah tempat tinggal."

"Hmm." Jongin bergumam pelan.

Sehun melepaskan tangannya dari tubuh Jongin ia melirik Jongin dari ekor matanya. Dan Sehun tidak bisa terus diam menahan semua pertanyaan yang terasa menekan. "Jongin." Sehun memanggil nama Jongin dengan lembut.

"Ya?" kali ini Jongin menoleh dan menatap langsung wajah Sehun.

"Maaf jika pertanyaanku menyinggungmu."

Dahi Jongin berkerut. "Kau ingin bertanya apa?"

"Apa kau menyesali semua yang sudah terjadi di antara kita? Dan jika kau bisa mengulang waktu, kau tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu berada di keadaan ini?"

Sehun menatap kedua mata bulat Jongin lekat-lekat, berharap dia akan mendengar jawaban yang tak akan membuatnya merasa kecewa. Tapi semua yang terjadi sekarang tak sesederhana pemikirannya, dia membuat Jongin berada dalam masalah besar. Sehun sadar akan kesalahan mereka.

"Aku melakukan kesalahan. Tapi aku tidak menyesal, baiklah aku benar-benar buruk menurut keluarga besarku, aku yakin itu. Tapi aku tidak menyesal." Tangan kanan Jongin bergerak perlahan, meraih, kemudian menggenggam telapak tangan kiri Sehun. "Aku mencintaimu, dan saat itu aku berpikir jika menyerahkan diriku adalah hal yang benar."

"Kau—tidak menyesal?" Sehun nyaris tak menemukan suaranya. Jongin mengangguk pelan. "Bahkan ketika aku bersikap pengecut dengan membiarkanmu pergi, dan secara sepihak memutuskan komunikasi kita, kau tidak menyesal?"

"Tidak."

"Jika aku tetap bersikap pengecut hingga akhir, dan tidak mengetahui keberadaan anakku apa kau tetap tidak akan menyesal?"

"Aku tidak menyesal di awal aku juga tidak akan menyesal di akhir. Aku hanya mencemaskan apa yang akan dilakukan keluarga besarku terhadap ibu dan kakakku." Jongin mengerutkan dahi. "Kau pasti akan mengetahui keberadaan anakmu, jika kau bersikap pengecut aku pasti akan tetap mendatangimu dan mengatakan yang sebenarnya. Membesarkan anak itu tidak mudah, kau harus bertanggungjawab atas masa depannya."

"Kau bilang akan membesarkan anak itu sendirian jika aku tidak bisa dihubungi?" Sehun menatap Jongin bingung.

"Itu hanya pemikiran sesaat. Tentu saja kau harus menjamin masa depan anakmu. Kau itu pewaris perusahaan besar tidak akan baik jika hidup darah dagingmu tidak terjamin."

"Kau berpikir apa sebenarnya?" Sehun nyaris menggaruk tengkuknya.

"Kau tambang uang." Jongin membalas polos, Sehun mendesis dan nyaris memukul Jongin atau lebih buruk mereka berakhir dengan saling adu pukul, seperti masa-masa SMP dan SMA dulu.

"Ku pikir kau berbeda dari yang lain." Ucap Sehun berpura-pura kecewa disertai tatapan dramatisnya.

"Jika berdekatan denganmu sulit untuk tidak berpikir seperti itu. Oh Sehun, pewaris, ATM berjalan, tambang uang. Itu sangat sulit untuk diabaikan, jadi sebaik apapun orang itu ketika mereka berdekatan denganmu, semuanya berubah."

"Jongin kau…," Sehun merebahkan tubuhnya ke atas lantai, kedua telapak tangannya menekan dada, terlihat seolah kesakitan.

"Kau menjijikan." Gerutu Jongin. "Berapa kali aku menolongmu keluar dari kesulitan?! Jika aku hanya berpikir tentang uangmu, aku pasti sudah hidup mapan sekarang, tidak perlu bekerja, kakak dan ibuku sudah tinggal di rumah yang layak. Berapa kali kau menawarkan semua itu pada keluargaku dan aku? Tapi aku tidak menerimanya, sudah hentikan Sehun! Aktingmu menjijikan!"

Sehun masih bertingkah menyebalkan untuk menggoda Jongin. "Jadi kau menyesal sudah mengenalku?!"

"Tidak!" pekik Sehun. "Tentu saja aku tidak menyesal." Sehun tersenyum di akhir kalimat. "Apa aku tidak berbakat jadi aktor?"

"Tidak."

"Kau juga tidak berbakat." Ejek Sehun menjulurkan lidahnya kemudian menarik tangan Jongin, bermaksud mengajaknya bercanda.

Jongin menahan tubuhnya agar tak terjatuh akibat tarikan Sehun. "Sehun aku hamil! Kau tidak bisa mengajakku bercanda seperti ini!" protes Jongin.

"Astaga!" Sehun tersentak, ia langsung mendudukan dirinya dan memeluk Jongin. "Maaf aku lupa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" Sehun bertanya nyaris tanpa jeda.

"Aku baik-baik saja." Jawab Jongin sambil menarik tubuhnya keluar dari pelukan Sehun. "Kau harus mengingatnya kalau begitu, jangan sampai lupa."

"Aku akan membuat catatan."

Jongin memutar kedua bola matanya malas. "Tidak masalah kan jika sekarang aku memukul kepalamu?"

"Jangan, nanti ingatanku semakin buruk."

.

.

.

"Jadi…," Taemin menaik turunkan kedua alisnya secara bergantian ditambah dengan nada menggoda yang membuat Jongin nyaris mendengus.

"Kau sama buruknya dengan Sehun, kalian tidak cocok jadi aktor." Gerutu Jongin.

"Apa yang kau katakan?!" bentak Taemin.

"Kembali ke meja kerjamu, urusi pekerjaanmu kau ini punya banyak waktu luang sepertinya. Terus menggangguku."

"Pekerjaanku sudah selesai." Taemin membalas sombong.

"Semuanya?!" Jongin berseru tak percaya.

"Semuanya." Taemin membalas sekali lagi dengan nada yang lebih menyebalkan.

"Baiklah kau memang jenius aku akui itu." Jongin membalas malas, dia malas bukan karena iri tapi mulai lelah dengan rasa penasaran Taemin. Sahabatnya itu benar-benar aktif jika menyangkut masalahnya.

"Terimakasih pujiannya, aku memang jenius. Aku dengar kau sudah membuat permintaan cuti akhir tahun, padahal liburannya sudah cukup panjang, kau masih meminta cuti. Benar-benar tidak produktif."

Melipat kedua tangan di depan dada, tatapan tajam dan nada suara mengejek. Jika Taemin melakukan semua itu di depan orang yang tidak benar-benar mengerti dirinya, Jongin yakin Taemin akan mendapat masalah besar.

"Itu benar, ada banyak hal yang harus aku selesaikan di Korea."

"Kau dan Sehun." Koreksi Taemin. "Sehun sama bertanggungjawabnya denganmu dalam masalah ini."

"Hmm." Jongin menggumam di tengah kesibukan menggoreskan ujung pensil ke atas permukaan kertas sketsa.

Taemin mencondongkan tubuhnya dia tidak ingin terlalu banyak menarik perhatian penghuni ruangan yang lain. "Kau benar-benar dalam masalah?" suara Taemin berubah lembut.

"Entahlah, aku sudah menghubungi ibuku."

"Sudah?!" pekik Taemin namun tak sampai berteriak. "Reaksi ibumu?"

"Tentu saja kecewa."

"Ahh…," balas Taemin dengan tatapan simpati yang jelas terlihat.

"Tapi tak seburuk yang aku bayangkan. Sekarang tentu saja masalah utama adalah keluarga besar ibuku."

"Tetua itu memang menyebalkan, aku mengerti posisimu."

Jongin tertawa pelan mengingat masa lalu. "Kau tidak seburuk aku."

"Aku dilarang keluar rumah kecuali kegiatan sekolah dan les, setelah mereka tahu aku mencium Key hyung. Padahal kami tidak memiliki perasaan apa-apa, itu hanya rasa penasaran antar dua remaja tanggung."

"Aku tahu..," balas Jongin menahan tawa. "Aku ada di sana saat kau mencium Key hyung. Kau benar-benar berani mencium Key hyung di depan rumahmu sendiri."

Taemin berusaha menahan tawa hingga wajahnya bersemu merah. Mengingat bagaimana dia benar-benar buruk dalam mencium seseorang saat itu, mengingat bagaimana dia menggigit bibir bawah Key cukup keras, dan membuat hubungan pertemanan mereka menjadi begitu canggung hingga semester kedua kehidupan perkuliahan.

"Saat itu—saat aku mencium Key hyung apa yang kau pikirkan?"

"Taemin kau mati hari ini." Balas Jongin menahan geli.

"Kau benar, aku mati. Walau bukan dalam arti yang sebenarnya, tapi berada di rumah lebih dari sebulan dengan aturan menyebalkan dan semua pekerjaan rumah monoton, membuatku nyaris gila."

"Taemin."

"Ya?"

"Sekarang bagaimana hubunganmu dengan keluargamu?"

"Menurutmu?" Taemin melempar balik pertanyaan tanpa menjawab.

"Rambut diwarna, tindikan, gaya berpakaian seperti itu. Dan pergi ke Jepang, bekerja di kantor ini, seingatku orangtuamu ingin kau jadi pengacara."

"Ya. Jadi menurutmu?"

"Hubunganmu dnegan keluargamu tidak begitu baik."

"Tidak baik." koreksi Taemin sembari mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke atas permukaan meja kerja Jongin. "Tapi aku memang menyebalkan, aku selalu pulang setiap liburan, melangkah memasuki rumah begitu saja, memeluk semua orang, dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Lama-lama mereka menyambutku, mereka bosan mengacuhkan aku."

"Kau—unik." Jongin bingung harus membalas seperti apa.

"Kurasa kau harus memakai caraku jika diusir dari keluarga besarmu."

Jongin menggeleng cepat sambil melempar tatapan ketakutan. "Aku tidak akan memeluk puluhan orang." Ucapnya.

"Aku hanya memberi contoh, kau pilih saja cara terbaik untuk berbaikan dengan keluargamu jika yang terburuk terjadi." Taemin tersenyum, mengedipkan mata kanannya sebelum beranjak dari meja Jongin menuju meja kerjanya sendiri.

"Benar-benar kreatif." Gumam Jongin tak terdengar oleh Taemin.

TBC

Halo semua terimakasih masih membaca cerita ini, rencana mau update setelah tahun baru tapi ntar engga kelar-kelar nih cerita error. Terimakasih review kalian awrerei, doubleuu, micopark, wxyehet, dytdyt, KyungXe, Natsu Kajitani, Jeyjong, cute, Rachelia Park, okta, ninikai, Ongin, Guest, KyungXe, Hana, pawpiwpow, Xinger XXI, TrapOne 111, VampireDPS, GaemGyu92, Kiki2231, Kim762, Nikmah444, OhSehunKimJongin, novisaputri09, dyla28, Sheehun, jjong86, Xingmandoo, Kim Jongin Kai, hkhs9488, ohkim9488, dhantiee, SeKai Candyland, BabyWolf Jongginnie Kim, tobanga garry, Kukirinzuki Chikominonoki, Kamong Jjong, Rhanie404, Park RinHyun Uchiha, vivikim406, dejong, Athiyyah417, jongiebottom, k1mut, CatBear9488, Saiueo, YooKihyun94, kukirinzuki Chikominonoki, RichardWillis Kim. Maaf kemarin salah update.