WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL, Mpreg, Typo
Previous
"Sekarang bagaimana hubunganmu dengan keluargamu?"
"Menurutmu?" Taemin melempar balik pertanyaan tanpa menjawab.
"Rambut diwarna, tindikan, gaya berpakaian seperti itu. Dan pergi ke Jepang, bekerja di kantor ini, seingatku orangtuamu ingin kau jadi pengacara."
"Ya. Jadi menurutmu?"
"Hubunganmu dnegan keluargamu tidak begitu baik."
"Tidak baik." koreksi Taemin sembari mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke atas permukaan meja kerja Jongin. "Tapi aku memang menyebalkan, aku selalu pulang setiap liburan, melangkah memasuki rumah begitu saja, memeluk semua orang, dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Lama-lama mereka menyambutku, mereka bosan mengacuhkan aku."
"Kau—unik." Jongin bingung harus membalas seperti apa.
"Kurasa kau harus memakai caraku jika diusir dari keluarga besarmu."
Jongin menggeleng cepat sambil melempar tatapan ketakutan. "Aku tidak akan memeluk puluhan orang." Ucapnya.
"Aku hanya memberi contoh, kau pilih saja cara terbaik untuk berbaikan dengan keluargamu jika yang terburuk terjadi." Taemin tersenyum, mengedipkan mata kanannya sebelum beranjak dari meja Jongin menuju meja kerjanya sendiri.
"Benar-benar kreatif." Gumam Jongin tak terdengar oleh Taemin.
BAB DELAPAN BELAS
"Jadi…,"
"Jadi?"
"Masuklah."
"Kenapa harus aku?!"
"Dia ibumu."
"Aku hamil karena kau."
"Kau tidak menolak."
Jongin mendesis pelan, ia melepas sepatu sebelah kanannya dan bersiap melemparkannya kepada Sehun. "Masuk sana! Dan hadapi ibuku!"
"Iya! Jahat sekali! Jangan melempari kepalaku dengan sepatu!" protes Sehun.
"Begitu saja lama…," gerutu Jongin sambil memakai kembali sepatunya.
Keduanya berada di dalam mobil setelah menempuh perjalanan dari bandara. Sehun menggigit pelan bibir bawahnya, menoleh menatap Jongin ragu-ragu. "Jika aku tidak selamat, tenang saja, semua hartaku akan jatuh pada anak kita."
"Aku bagaimana?"
"Kau tidak butuh hartaku, kau sendiri yang mengatakannya."
"Teganya…,"
"Kau juga kejam padaku."
"Apa susahnya masuk dan bicara langsung pada ibuku. Toh keluarga besarku juga tidak ada." Jongin berucap santai.
"Ahhh…., jadi ini sangat mudah menurutmu." Sehun menatap Jongin dengan alis kanan terangkat. "Lalu siapa yang tidak bisa tidur selama dua hari sebelumnya?"
"Siapa? Bukan aku." Jongin membalas dengan sangat menyebalkan.
"Jika kau tidak sedang mengandung, aku benar-benar akan menjitak kepalamu..," Sehun mendesis kesal.
Sehun dengan berat hati melangkah keluar dari mobilnya yang aman, nyaman, dan hangat. Berjalan memasuki halaman flat dimana keluarga Jongin tinggal. Sehun sempat menoleh singkat ke belakang dan melihat betapa santainya langkah kaki Jongin, bahkan dia mengunyah permen karet di dalam mulutnya.
"Jongin." panggil Sehun.
"Apa?"
"Jika aku tidak selamat, kuburkan aku dengan layak jangan sampai aku menjadi arwah penasaran, dan kau harus menceritakan pada anak kita siapa ayahnya. Jangan mengarang cerita, mengatakan pada anak kita jika ayahnya Beckham."
"Kurasa otakmu membeku." Bukannya bersimpati Jongin menanggapi seenaknya sendiri. "Ayo masuk."
"Hmm." Sehun hanya mampu menggumam, karena dia terlalu cemas dan terlalu panik.
.
.
.
"Oh Sehun!" teriakkan menggema itu membuktikan semua kecemasan Sehun yang menjadi kenyataan.
"I—Ibu beri saya kesempatan untuk menjelaskan…,"
"Kau membiarkan Jongin menaiki anak tangga?!"
Kedua mata sipit Sehun berkedip-kedip beberapa kali, terlalu bingung, serta terlalu lambat untuk memproses informasi. "A—Apa?" Sehun bertanya terbata.
"Kau membiarkan Jongin menaiki tangga?!"
"Iya, apa ada yang salah?"
PLAKK!
Ketika sebuah pukulan mendarat pada puncak kepala Sehun, Nyonya Kim melakukannya karena terlalu kesal. Sehun masih belum mengerti duduk permasalahannya, begitupun dengan Jongin. Ia juga tidak paham apa salahnya berjalan menaiki anak tangga, dia sudah melakukan hal itu lebih dari delapan tahun sejak mereka mulai tinggal di flat ini.
"Sudahlah…, sebaiknya kalian masuk, Jongin kau masuk dulu biar Ibu yang membantu Sehun membawa tas kalian ke dalam."
Jongin hanya mengangguk pelan kemudian melangkah masuk meninggalkan Sehun. "Jongin, langsung masuk kamar!" ketika ibunya berteriak, Jongin menoleh ke belakang dan melihat wajah Sehun yang memucat, Jongin ingin menertawai Sehun detik itu juga namun dia menahan diri.
Sehun mengikuti langkah kaki Nyonya Kim sambil menarik koper di belakang tubuhnya. Dia benar-benar cemas sekarang, semua ini lebih mengerikan dibanding negosiasi sebuah proyek besar.
"Letakkan saja kopernya di dekat kursi, duduklah, teh atau cokelat panas?"
"Mungkin teh—ya, teh." Sehun menjawab sambil menggosokan kedua telapak tangannya pada permukaan jins yang dia kenakan.
Nyonya Kim hanya tersenyum sebelum memutar tubuh, membelakangi Sehun. Berulang kali Sehun menggigit bibir bawahnya, ia tidak nyaman dengan suasana hening ini. Menelan ludah kasar, Sehun mengumpulkan keberaniannya untuk bersuara. "Maafkan saya."
"Untuk?" Nyonya Kim bertanya tanpa menoleh.
Sehun mengamati punggung ibu Jongin gugup, beliau terlihat sedang sibuk menyiapkan teh yang tadi beliau tawarkan. "Untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji."
Tak langsung mendapatkan jawaban membuat kegugupan Sehun semakin menjadi. Ia tersentak ketika Nyonya Kim menatapnya dan berjalan mendekat. Meletakkan secangkir teh panas ke hadapannya, di atas meja makan kayu.
"Hukuman apa yang kau inginkan?"
"Hu—hukuman?" Sehun terbata.
"Kau melakukan kesalahan, kalian melakukan kesalahan. Kau dan Jongin, kalian harus dihukum."
Telapak tangan Sehun menggenggam cangkir kuat. "Jika kami harus dihukum, tolong jangan menghukum Jongin, biar saya yang menanggung semua hukumannya."
Nyonya Kim tersenyum. "Kurasa memberi hukuman juga percuma, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa pada kalian. Keluarga besarku, tapi sebenarnya aku juga tidak terlalu peduli."
Dahi Sehun berkerut, dia benar-benar bingung dengan kalimat ibu Jongin. "Bukankah keluarga besar Anda adalah bagian yang sangat penting, maksud saya—Jongin benar-benar ketakutan tentang kesalahan kami."
Nyonya Kim tersenyum untuk kedua kalinya. "Aku tidak mengatakannya pada anak-anakku. Keluarga besar kami, maksudku keluarga besarku tidak peduli kepada kami lagi. Tidak ada uluran tangan ketika aku dan anak-anakku menderita setelah suamiku pergi. Justru ibumu yang mengulurkan tangan. Setelah itu nyaris tidak ada kontak. Memakai marga pun terdengar hanya sebagai formalitas belaka. Sejujurnya aku tidak tahu lagi apa yang tersisa dari keluarga besarku."
"Mengapa Anda tidak mengatakannya?"
"Semua sudah sangat sulit saat itu, jika mereka tahu semuanya keadaan akan berubah menjadi semakin sulit. Lalu saat itu aku berpikir, aku harus mandiri demi anak-anakku dan bekerja keras untuk mereka."
Nyonya Kim mengetuk-ngetukkan jari-jemari beliau ke atas permukaan meja makan. "Ketika Boram mengalami kesulitan, keluarga besarku menawarkan perjodohan yang sulit untuknya, Boram menolak dan mereka marah besar, mengatakn hal-hal yang membuatku marah. Tentu saja aku tidak bisa meneriaki para orang tua. Tapi detik itu aku benar-benar yakin, tidak ada lagi yang tersisa."
Sehun tersenyum miring, mencoba menahan emosinya. "Mereka selalu muncul ketika keadaan seperti kehormatan dipertaruhkan."
"Kehormatan apalagi? Mereka sudah membuangku, apa yang terjadi pada anak-anakku bukan urusan mereka lagi. Jika mereka memunggungi kami, aku ingin mereka melakukannya dengan tuntas tidak perlu setengah-setengah."
Tangan kanan Sehun terulur menggenggam tangan kanan Nyonya Kim lembut. "Saya akan menjaga Jongin, saya juga akan menjaga Ibu dan Boram."
"Terimakasih, Sehun." Nyonya Kim mengucapkan terimakasih dengan bibir gemetar, menundukkan kepala kemudian mulai menangis pelan. Sehun hanya menatap tanpa mengatakan sesuatu, dia juga tidak ingin menghentikan tangisan itu karena ia yakin tangisan itu akan membuat Nyonya Kim jauh lebih lega.
"Maaf tadi aku menamparmu." Sehun mengangguk pelan. "Apa itu sakit?"
"Lumayan." Sehun tersenyum malu-malu di akhir kalimat. "Tamparan itu karena aku membuat Jongin hamil?"
"Kau membiarkan Jongin menaiki tangga tanpa bantuan, aku kesal padamu."
"Hmm…," Sehun bergumam sambil mengangguk-angguk pelan.
.
.
.
"Kim Jongin."
"Ya?"
"Aku punya pertanyaan penting untukmu, jadi kemarilah duduk di sampingku kita bicara serius!" bentak Boram.
"Aku hanya…," Jongin tidak begitu memperhatikan kalimat Boram, ia berdiri di dekat pintu kamar Boram.
"Ibu tidak akan membunuh Sehun!" Boram semakin kesal.
"Aku sepertinya mendengar suara tamparan tadi."
"Itu hanya imajinasimu, aku yakin itu. Atau mereka sedang menepuk nyamuk." Jongin menoleh ke belakang, menatap wajah kakak perempuannya sangsi. "Berpikirlah positif." Dengan kening berkerut Jongin melangkah mendekati Boram, kemudian duduk di sisi kanan sang kakak di ujung ranjang tempat tidur.
"Apa yang ingin Noona bicarakan denganku."
"Semua foto-foto laki-laki itu, dikirim ke ponselku." Jongin menelan ludah kasar. "Dari nomor tak dikenal, tapi aku yakin kau ada di balik semuanya."
"Laki-laki?" Jongin berpura-pura tak bersalah. "Bisa aku lihat fotonya, itu bukan foto seronok kan?"
"Bukan." Balas Boram ia lalu menyodorkan ponselnya kepada Jongin. "Kau mengenal salah satu dari mereka."
Membasahi bibi bawahnya cepat, Jongin menatap wajah Boram lamat-lamat. "Mereka orang baik, mereka bekerja untuk Sehun."
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Apa Noona tidak ingin berkenalan dengan laki-laki, maksudku untuk sekedar berteman?" Boram diam. "Aku tidak memaksa, jadi kau tidak perlu merasa terbebani. Tidak apa-apa, semua fotonya bisa dihapus dan abaikan saja."
"Kau—mencemaskan aku?" Boram menatap Jongin tak percaya.
"Tentu saja. Aku hanya ingin Noona bahagia, dan melupakan masa lalu."
"Terimakasih, meskipun aku tidak yakin jika kau tulus aku tetap berterimakasih padamu."
"Aku tulus melakukan semua ini." Jongin membalas dengan sedikit nada kesal. Boram tertawa pelan. "Memang aku pernah meminta imbalan ketika menolongmu?"
Bibir Boram mengerucut. "Sering."
"Kapan?"
"Dulu—dulu sekali, saat kita berangkat ke sekolah dasar bersama. Bergandengan tangan. Kau sering meminta jumlah permen melebihi permen yang seharusnya boleh kau makan." Tangan kanan Boram melingkari pinggang sang adik, Jongin tersenyum tipis. "Kau memberikannya pada Sehun, aku tahu itu."
Senyum Jongin berubah menjadi tawa kecil, mengingat masa lalu. Masa lalu yang begitu sederhana. "Noona tidak marah pada Sehun kan?"
"Hanya kesal."
"Noona tidak akan memukul Sehun?"
"Mungkin aku akan memukulnya nanti." Jongin melempar tatapan cemas. "Aku hanya bercanda, kau ini." Gerutu Boram. "Aku punya intuisi yang kuat."
"Aku tidak mengerti."
"Bagaimana mengatakannya ya, begini—hmm—saat kita bertemu dengan keluarga Oh, dan kita pertama kali bertemu dengan Sehun. Aku memiliki perasaan seperti ini—Hmm..., kurasa keluarga kita akan menjadi sangat dekat. Dan aku melihat bagaimana Sehun menatapmu."
"Bagaimana Sehun menatapku? Astaga saat itu kami terlalu muda untuk memiliki perasaan yang rumit."
Boram menggeleng pelan. "Mungkin kalian belum mengerti, tapi tatapan Sehun seolah mengatakan jika dia menemukan sesuatu yang berharga untuknya. Dan aku benar, kalian tidak bisa dipisahkan. Meski di awal hubungan, kalian benar-benar bodoh pada perasaan masing-masing."
"Ya." Balas Jongin singkat.
"Jadi—kalian sudah merencanakan pernikahan? Aku tidak memaksa, lakukan jika kau benar-benar siap." Jongin hanya tersenyum mendengar kalimat Boram. Jongin lantas menyandarkan kepalanya pada bahu Boram. "Jangan membebani pikiranmu dengan berbagai hal tidak penting."
"Aku membuat kesalahan."
"Semua orang melakukan kesalahan."
"Kesalahanku sangat besar dan tidak termaafkan."
"Besar kecil kesalahan, termaafkan atau tidak, kurasa semua itu bergantung pada sudut pandang dan cara menyikapinya."
"Menurut Noona dengan apa yang sudah aku lakukan?"
"Aku tidak bisa memberi jawaban tegas, aku masih dibayangi ajaran masa lalu yang diberikan saat kita kecil dulu."
"Hmmm." Jongin bergumam.
"Tapi aku ingin kau melihat masa depan, tidak perlu menoleh ke belakang dan meratapi sesuatu yang tidak bisa kau ubah."
"Terimkasih."
"Kembalilah ke kamarmu, kau tidur di sana bersama Sehun kan?"
"Jika Ibu mengijinkan."
"Ibu tidak akan melarang, mau dilarang juga percuma. Dia sudah ada." Tangan kanan Boram menepuk pelan perut Jongin membua sang adik tertawa.
"Ah iya!" Jongin menarik kepalanya dari bahu Boram. "Noona yang memberitahu Ibu lebih dulu jika aku sedang mengandung, padahal aku sendiri tidak tahu. Bagaimana Noona bisa mengetahuinya?"
"Hanya menebak."
"Aku—tidak percaya." Jongin mendekatkan wajahnya, melempar tatapan curiga. "Katakan yang sebenarnya."
"Aahhhh….," Boram pura-pura menguap. "Kita lanjutkan besok, aku yakin kau pasti sudah lelah."
"Noona!" bentak Jongin.
"Kembali ke kamarmu sekarang! Aku tidak mungkin mendorongmu! Tapi aku masih bisa memukul kepalamu!"
Jongin berdiri tidak ingin mendapat pukulan dari Boram. "Kau berhutang penjelasan padaku."
"Hmmm." Boram membalas malas.
"Satu lagi, semua foto laki-laki yang dikirim ke ponselmu. Apa ada satu saja yang menarik perhatianmu? Satu saja, aku mohon, kau pasti tertarik kan?"
"Kurasa ada."
"Siapa?"
Boram menyipitkan mata melipat tangan ke atas dada. "Salah satu foto dengan tulisan Zelo."
"Yes!" Jongin memekik girang sebelum keluar dari kamar Boram.
"Jangan lari Kim Jongin!" peringat Boram, berharap sang adik mendengarkan larangannya.
.
.
.
"Sehun?" Jongin melihat Sehun sudah berada di dalam kamarnya, dia terlihat baru saja menutup sambungan teleponnya dengan seseorang. Sehun memutar tubuhnya, menatap Jongin kemudian tersenyum.
"Hai." Sapa Sehun.
Jongin melangkah mendekat setelah menutup pintu kamar. "Boram tertarik pada Zelo." Jongin tidak bisa menahan diri lebih lama untuk menyampaikan antusiasmenya.
"Benarkah?!" Sehun tentu saja merasa bahagia dengan itu.
Jongin mengangguk cepat. "Apa kau bisa mengatur supaya mereka bisa bertemu?"
"Tentu saja, tapi sebaiknya kita pastikan dulu jika Boram ingin mengenal Zelo lebih jauh."
"Hmm." Gumam Jongin. "Tadi, kau berbicara dengan seseorang. Siapa?"
"Hanya seorang teman."
"Teman?"
"Ya, seorang teman yang membutuhkan bantuan."
"Bantuan?"
Sehun menguap, kali ini dia benar-benar menguap tidak seperti Boram tadi. Sehun mendudukan dirinya di tepi ranjang tempat tidur Jongin. "Besok saja aku jelaskan, aku benar-benar lelah. Dan kita sudah makan sebelum tiba di sini tadi. Kurasa aku bisa langsung tidur sampai besok."
"Sepertinya kau dan Boram sepakat untuk menunda-nunda penjelasan." Gerutu Jongin. Sehun tak membalas, Jongin ingin memarahi Sehun, namun Sehun sudah memejamkan kedua matanya dan terlihat begitu lelah. "Baiklah, besok aku harus mendapatkan penjelasan dari kau dan Boram."
TBC
Terimakasih masih mengikuti cerita ini, terimakasih review kalian laxynvrds, kyungie45, jongbae, wxyehet, Wiwitdyas1, blackfire0611, dydyt, Jeyjong, doubleuu, KyungXe, novisaputri09, cute, Rachelia Park, Hana, Sonyun, Kim Jongin Kai, Kaisyaa, Xingmandoo, k1mut, hkhs9488, Xinger XXI, Kukirinzuki Chikominonoki, Vampire DPS, lela wyfhzt, Nikmah444, Kiki2231, ohkim9488, vivikim406, Byunki, GaemGyu92, awrerei, Sheehun, kartika8894, Park Rinhyun Uchiha, jjong86, jongiebottom, saiueo, Fao Baozi, SeKai Candyland, tobanga garry, tobanga garry.
