WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL, Mpreg, Typo
Previous
"Hai." Sapa Sehun.
Jongin melangkah mendekat setelah menutup pintu kamar. "Boram tertarik pada Zelo." Jongin tidak bisa menahan diri lebih lama untuk menyampaikan antusiasmenya.
"Benarkah?!" Sehun tentu saja merasa bahagia dengan itu.
Jongin mengangguk cepat. "Apa kau bisa mengatur supaya mereka bisa bertemu?"
"Tentu saja, tapi sebaiknya kita pastikan dulu jika Boram ingin mengenal Zelo lebih jauh."
"Hmm." Gumam Jongin. "Tadi, kau berbicara dengan seseorang. Siapa?"
"Hanya seorang teman."
"Teman?"
"Ya, seorang teman yang membutuhkan bantuan."
"Bantuan?"
Sehun menguap, kali ini dia benar-benar menguap tidak seperti Boram tadi. Sehun mendudukan dirinya di tepi ranjang tempat tidur Jongin. "Besok saja aku jelaskan, aku benar-benar lelah. Dan kita sudah makan sebelum tiba di sini tadi. Kurasa aku bisa langsung tidur sampai besok."
"Sepertinya kau dan Boram sepakat untuk menunda-nunda penjelasan." Gerutu Jongin. Sehun tak membalas, Jongin ingin memarahi Sehun, namun Sehun sudah memejamkan kedua matanya dan terlihat begitu lelah. "Baiklah, besok aku harus mendapatkan penjelasan dari kau dan Boram."
BAB SEMBILAN BELAS
"Sehun! Bangun! Astaga kau ini malas sekali…," Jongin mengeluh sementara kedua tangannya sibuk memukuli punggung Sehun. "Hah! Aku menyerah!" dilemparkannya bantal yang tadi dia gunakan untuk memukuli punggung Sehun. Jongin lantas keluar dari kamar.
"Sudah bangun?!"
Mendapat sambutan menyebalkan itu dari ibu dan kakaknya, Jongin acuh dia memilih untuk pergi ke kamar mandi. "Kau juga mandi sepagi ini?!" imbuh Boram.
"Kalian ini seperti melihat hujan uang." Jongin membalas sekenanya sebelum menyelinap masuk ke kamar mandi, meninggalkan ibu dan kakak perempuannya dengan tatapan bingung mereka.
"Sejak kapan dia jadi rajin?" nyonya Kim menatap putrinya bingung.
"Karena kehamilannya, mungkin." Boram tidak tahu harus menjawab apa.
"Ya, Ibu rasa karena itu. Sudah selesai mengupas telurnya?" Boram mengangguk pelan. "Tolong potong menjadi empat bagian." Boram kembali mengangguk menurut.
Keduanya mendengar suara langkah kaki, Boram menjadi orang pertama yang menoleh ke belakang dan mendapati Sehun. Dengan rambut berantakan dan muka bantalnya. "Dimana Jongin?" Sehun bertanya sesaat sebelum dia menguap lebar.
"Mandi. Dia berubah rajin."
Sehun menggaruk tengkuknya malas. "Sejak kami mulai tinggal bersama, dia sudah seperti itu."
"Hmm." Boram hanya menggumam lantas meneruskan kesibukannya memotongi telur rebus.
"Sehun, cuci mukamu, berkumur, sebentar lagi sarapan siap."
"Ya, Ibu."
"Di kamar mandi ada Jongin! Di sini saja." Ucap Nyonya Kim sambil menggeser tubuh beliau untuk memberi ruang pada Sehun membasuh wajahnya di wastafel.
Jongin keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang berbeda, tampak segar, dan dia tersenyum lebar. Mendudukan dirinya di antara Boram dan Sehun. "Jongin, ada sesuatu yang tidak bisa kau makan? Membuatmu mual?"
"Dia bisa memakan apapun bahkan menu makanan teraneh yang bisa Anda bayangkan." Sehunlah yang menjawab pertanyaan Nyonya Kim.
"Aneh darimana?!" protes Jongin.
"Siapa yang memakan es krim dengan bubuk cabai?"
"Lidahmu saja yang tidak bisa menerima rasa eksotis." Sehun hanya memutar kedua bola matanya malas, mendengar jawaban Jongin.
Nyonya Kim tersenyum melihat interaksi ketiganya, beliau meletakkan tiga piring roti lapis pada Sehun, Jongin dan Boram, kemudian duduk di hadapan ketiganya.
"Terimakasih Ibu." Ucap Boram kemudian tersenyum.
"Terimakasih Ibu." Sambung Sehun.
"Noona, aku masih penasaran bagaimana Noona tahu aku hamil bahkan sebelum aku mengetahuinya?"
"Asal tebak." Jawab Boram kemudian tersenyum lebar.
"Apa?!" pekik Jongin.
"Jongin jangan berteriak di meja makan." Nasihat Nyonya Kim.
"Maaf Ibu, bagaimana bisa asal tebak kau benar-benar berbahaya." Jongin menatap Boram tajam. "Dan kau Sehun! Berhenti mengambil telur dari roti lapisku! Dasar!" Jongin memukul tangan kanan Sehun, menjauhkan tangan itu dari roti lapis sarapannya.
"Kupikir kau tidak tahu…," gerutu Sehun dengan bibir sengaja dia majukan.
"Mataku tajam menyangkut makanan." Dengus Jongin. "Boram noona aku butuh penjelasanmu sekarang juga, cepat katakan." Ancam Jongin yang menurut Boram justru terlihat lucu. Dengan kedua pipi Jongin yang mulai tampak berisi, Jongin terlihat seperti anak beruang.
"Pertama kau makan makanan yang aneh, Sehun saja setuju mengenai hal itu. Tidur lebih awal, bangun lebih awal, selalu terlihat lelah padahal kau tidak banyak mengerjakan sesuatu, dan yang terpenting kau sempat mengeluh pusing padaku di pagi hari, beberapa kali."
"Benarkah?" Jongin menatap Boram sangsi.
"Aku sudah mengatakan semuanya padamu."
"Lalu Noona langsung mengambil kesimpulan aku hamil, dan mengatakannya pada Ibu?" Boram mengangguk pelan. "Jika ternyata aku tidak hamil, bagaimana?"
"Aku tinggal mengatakan pada Ibu, aku salah dan minta maaf disertai senyuman lebar."
"Mudah sekali mengatakannya." Gerutu Jongin kemudian perhatiannya kembali pada roti lapis sarapannya, yang sudah kehilangan telur rebus dan bertambah tumpukan selada. "Kau yang melakukannya?" Jongin melirik Sehun tajam, Sehun pura-pura tak memperhatikan. "Kau ini..," Jongin kembali menggerutu namun tetap memakan sarapannya.
Jongin meletakkan roti lapis ke atas piring kemudian melirik Boram sekali lagi, teringat akan sesuatu. "Zelo."
"Apa?" Boram menoleh menatap adiknya bingung.
"Zelo, apa Boram noona melupakan nama itu begitu mudah. Zelo, Zelo, bagaimana dengan Zelo. Noona mau menemuinya kan?"
Boram terlihat ragu dan Jongin ingin berteriak sekarang, dia berharap Boram mau membuka hatinya. Sedikit saja, tidak masalah bagaimana nanti akhirnya yang terpenting Boram bersedia menemui seseorang lagi. "Kurasa—tidak ada salahnya mencoba."
Jongin menahan senyum lebarnya setelah mendengar jawaban kakak perempuannya. Sebagai gantinya Jongin mulai menyikuti rusuk kanan Sehun. "Apa?!"
"Kirimi Zelo pesan, katakan jika Boram ingin bertemu, sertakan ancaman pastikan Zelo menemui kakak perempuanku."
"Iya, setelah makananku habis."
"Sekarang…," geram Jongin sambil mencubit paha kanan Sehun.
"Aww..," sakit tentu saja, tapi Sehun menahan diri untuk tidak berteriak. Memalukan jika dia sampai berteriak. "Iya, sekarang aku kirimi Zelo pesan. Lepaskan cubitanmu." Jongin tersenyum lebar sambil melepas cubitannya dari paha Sehun.
Sarapan kembali berlangsung dengan tenang, sesekali Jongin akan melirik Boram kemudian tersenyum tipis. Tidak bisa menutupi kebahagiannya atas keputusan sang kakak. Namun, sarapan tenang itu berakhir ketika Sehun menerima sebuah panggilan kemudian dia berlari cepat kembali ke kamar. Jongin dengan cepat menyusul Sehun, dia cemas.
Sehun bahkan tak sempat menutup pintu kamar dengan rapat. Ia memakai pakaian musim dinginnya dengan cepat. "Ada apa? Apa yang terjadi? Ada masalah?"
"Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang." Sehun menjawab tanpa menoleh kepada Jongin.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Ibumu? Ayahmu?"
"Jongin aku harus pergi."
"Tidak." Kedua tangan Jongin menahan dada Sehun. "Tidak tanpa aku." Sehun terlihat ragu ketika menatap Jongin, ia jelas sekali sedang mempertimbangkan sesuatu. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Baiklah, pakai mantel musim dinginmu kita pergi bersama." Ucap Sehun, tidak ingin membuang lebih banyak waktu berdebat dengan Jongin.
Meski tergesa, Sehun masih memperhatikan Jongin dengan menawarkan punggungnya ketika menuruni anak tangga. Jongin tidak menolak dan tidak berusaha menampakan diri jika dia mampu melakukan semuanya sendiri. Menaiki tangga melelahkan, Jongin akui itu. Lagipula sekarang wajah Sehun terlihat sangat serius untuk mendengar bantahan dari siapapun, termasuk Jongin.
Mereka pergi dengan taksi karena Sehun sepertinya tidak sempat menghubungi sopir untuk menjemputnya, dan dia tidak sabar menunggu. Jongin mendengar Sehun mengumpat meski pelan ketika taksi yang mereka tunggu terlambat tak sampai satu menit. Di dalam taksi sebenarnya Jongin ingin bertanya banyak hal, namun dia urung melakukannya.
"Semua akan baik-baik saja." Ucap Jongin sambil meletakkan tangan kanannya ke atas punggung tangan kiri Sehun yang mengepal tegang.
Sehun tak menjawab dan Jongin berusaha melenyapkan semua pemikiran buruk tentang sesuatu yang mengganggu Sehun. Siapa yang berada di rumah sakit sekarang dan membuat Sehun cemas.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, cukup sulit mengimbangi langkah cepat Sehun. Dan sepertinya Sehun lupa jika Jongin membawa nyawa lain di dalam perutnya. "Mantan pacar Sehun?" Jongin berbisik pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa mencegah pikiran buruk. Jika tuan atau nyonya Oh yang jatuh sakit, ibunya pasti sudah memberi kabar.
Tapi ibu dan Boram terlihat sama terkejutnya dengan dirinya ketika Sehun berlari panik memasuki kamar, setelah menerima sebuah panggilan. Langkah kaki Jongin terhenti, melihat seorang dokter muda menghampiri Sehun. Memeluk Sehun erat, keduanya berbincang selama beberapa saat kemudian sang dokter menepuk pelan lengan kanan Sehun sebelum dia pergi.
Jongin merasakan sengatan di dalam dadanya, tidak. Tidak mungkin Sehun menjalin hubungan lain. "Berhentilah berpikir buruk…,"
Sehun menoleh ke ara Jongin kemudian berjalan cepat menghampiri Jongin. "Apa aku berjalan terlalu cepat?"
"Sedikit terlalu cepat."
"Maaf, aku hanya panik." Kening Jongin berkerut mendengar kalimat Sehun. "Apa kau lelah? Kau ingin duduk?"
Jongin menggeleng cepat. "Sehun, sebenarnya ada apa?" Jongin mendengar hembusan kasar napas Sehun.
"Aku bingung harus menjelaskannya darimana, ayo." Sehun menggenggam pergelangan tangan kiri Jongin, menariknya lembut. Jongin mengikuti langkah kaki Sehun dengan perasaan was-was.
Mereka berhenti di depan sebuah ruangan yang tertutup, seorang dokter yang tadi menemui Sehun muncul kembali. Dia tersenyum. "Hai, aku teman Sehun saat SMA. Park Bogum dan kau pasti Kim Jongin."
Jongin tersenyum canggung sambil menerima uluran tangan Bogum. Bogum tersenyum singkat sebelum perhatiannya beralih pada Sehun. "Dia sudah stabil kau bisa menemuinya, ganti pakaian dan sepatumu, cuci tanganmu dan gunakan penutup rambut dan masker."
"Kapan aku bisa menyentuhnya?"
"Aku dan timku mengusahakan yang terbaik."
"Dua orang bisa masuk ke dalam kan?" Bogum mengangguk pelan. "Jongin sedang hamil, tidak masalah?"
"Tidak, dia bisa masuk. Ikuti aturannya."
"Tentu." Sehun menjawab singkat kemudian kembali menggenggam pergelangan tangan Jongin dan mengajaknya memasuki ruangan tertutup itu.
Ketika pintu dibuka, Jongin tidak langsung bisa melihat siapa yang berada di dalam ruangan. Mereka terlebih dahulu berada di ruang ganti dan untuk menuju ruang rawat ada satu pintu lagi yang harus mereka lewati. Jongin mengikuti semua yang Sehun lakukan dalam diam. melepas sepatunya, menggantinya dengan sepatu kain berwarna putih.
Memakai atasan dan celana berwarna hijau, memakai masker, memakai penutup kepala, mencuci tangan, dan terakhir memakai sarung tangan. Menelan ludah kasar, Jongin mulai berpikir jika seseorang yang berada di dalam ruang rawat pasti dalam pengawasan khusus dengan penyakit tak bisa diremehkan.
"Jangan takut." Ucap Sehun seolah bisa mendengar kecemasan Jongin dengan jelas. "Tidak ada sesuatu yang mengerikan." Suara Sehun terdengar pelan teredam masker. Jongin hanya bisa mengangguk lemah kemudian mengikuti langkah kaki Sehun.
Napas Jongin seolah tercekat. Melihat siapa yang berada di dalam ruang rawat. Seorang bayi, ya seoarang bayi. Bayi yang terlihat kecil dan rapuh seorang diri di dalam inkubator. Dengan selang infus menancap pada kepalanya, dan selang oksigen mungil berada di hidungnya. Suara mesin pendeteksi detak jantung terdengar nyaring namun lemah secara bersamaan.
Sehun mengajak Jongin duduk di depan inkubator. Kedua mata Jongin menatap lekat bayi mungil di hadapannya nyaris tanpa berkedip. "Ibunya pergi begitu saja." Sehun mulai menjelaskan dengan suara pelan.
"Dia ditinggal di toilet stasiun kereta. Lahir prematur, kedinginan, dan kurang Gizi. Bogum menemukannya, tapi perawatan di sini sangat mahal. Bogum tidak mampu menanggung semua biayanya, dia seorang dokter muda dengan keluarga sederhana. Bogum datang padaku, dia menangis dan mengatakan bayi ini tidak akan bisa bertahan tanpa perawatan intensif."
"Dan kau menolongnya?"
"Aku tidak bisa mengatakan tidak."
"Sehun…," Jongin berbisik pelan tangan kanannya bergerak menyentuh permukaan kaca inkubator. Melihat bayi laki-laki yang mungil nan lemah.
"Beberapa kali kondisinya memburuk, tapi—dia bertahan."
"Siapa namanya?"
"Dia belum memiliki nama. Setelah dia sehat dan usianya cukup, dia akan dikirim ke panti asuhan."
Jongin mendengar suara Sehun tercekat ketika menyebut panti asuhan. "Panti asuhan?" Jongin menoleh menatap Sehun, dilihatnya Sehun mengangguk pelan. "Kenapa?"
"Menunggu seseorang mengadopisnya?"
Menggigit pelan bibir bawahnya dari balik masker, Jongin menatap Sehun dengan bimbang. "Kau—tidak menginginkannya?" Sehun tak menjawab. "Kau tidak menyayanginya? Aku yakin kau menyayanginya, kau sangat panik tadi."
"Aku menyayanginya tapi kau bagaimana, dan kita akan segera memiliki anak."
Jongin tersenyum di balik maskernya. "Aku pasti akan menyayanginya dengan mudah. Kita akan membawanya pulang dan memberinya nama yang terbaik."
Sehun menatap Jongin tak percaya. "Kau—yakin?"
"Aku tidak pernah seyakin ini, bahkan melebihi keyakinanku ketika memutuskan untuk pergi ke Jepang."
"Tapi, prosesnya akan cukup memakan waktu. Kita tidak akan bisa kembali ke Jepang dalam waktu dekat."
"Aku akan menunggu." Jongin menggumam pelan.
Sehun tidak bisa menahan diri lagi, dia memeluk Jongin. Menangis dan mengucapkan terimakasih berulang-ulang. Jongin mengusap pelan punggung Sehun, ia melirik inkubator. "Kita, akan memberinya keluarga."
TBC
Halo semua terimakasih masih mengikuti cerita ini, terimakasih review kalian wxyehet, NishiMala, Natsu Kajitani, sekaicakim, Athiyyah417, kanghana, doubleuu, Siapa sayaaa, dytdyt, micopark, kyungie45, Hana, KyungXe, rubby, Rachelia Park, Rachelia Park, Wiwitdyas1, cute, blackfire0611, Park Rinhyun Uchiha, Nikmah444, jeyjong88, Kaisyaa, Kiki2231, Sheehun, GaemGyu92, jongiebottom, jjong86, jongbae, vivikim406, hkhs9488, Saiueo, Xingmandoo, k1mut, Byunki, Kim Jongin Kai, novisaputri09, Kim Jongin Kai, tobanga garry, ohkim9488. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
