WHAT?!
AN EXO FANFICTION
Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others
Rating: T-M
Warning: BL, Mpreg, Typo
Previous
Jongin tersenyum di balik maskernya. "Aku pasti akan menyayanginya dengan mudah. Kita akan membawanya pulang dan memberinya nama yang terbaik."
Sehun menatap Jongin tak percaya. "Kau—yakin?"
"Aku tidak pernah seyakin ini, bahkan melebihi keyakinanku ketika memutuskan untuk pergi ke Jepang."
"Tapi, prosesnya akan cukup memakan waktu. Kita tidak akan bisa kembali ke Jepang dalam waktu dekat."
"Aku akan menunggu." Jongin menggumam pelan.
Sehun tidak bisa menahan diri lagi, dia memeluk Jongin. Menangis dan mengucapkan terimakasih berulang-ulang. Jongin mengusap pelan punggung Sehun, ia melirik inkubator. "Kita, akan memberinya keluarga."
BAB DUA PULUH
Mengunjungi rumah sakit adalah kegiatan wajib bagi Sehun dan Jongin. Hari ini mereka berkunjung terlambat Sehun harus menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu dan Jongin harus mendengarkan makian Taemin karena dia memutuskan untuk mundur dari tempat kerjanya.
Jongin memutuskan untuk mundur karena proses pengurusan dokumen adopsi memakan waktu, selain itu perjalanan lintas Negara Jongin anggap terlalu berisiko untuk bayi yang tidak bisa dikatakan sehat. Keduanya duduk menghadap inkubator, hari ini bayi mungil itu nampak sehat, dia bergerak cukup aktif.
"Aku memikirkan nama. Sebenarnya aku sudah cukup lama memikirkannya." Sehun tersenyum tanpa menoleh menatap Jongin.
"Katakan saja."
"Jika kau kurang setuju, beritahu aku." Jongin mengangguk pelan menanggapi ucapan Sehun. "Jin Ho."
Jongin tersenyum. "Kau melupakan marganya."
"Oh Jin Ho."
"Emas dan kebaikan, nama yang indah." Tangan kanan Jongin bergerak pelan menyentuh permukaan kaca inkubator. "Dia lebih berharga dari emas."
"Ya." Sehun menggumam pelan kemudian merangkul bahu Jongin. "Jongin."
"Hmm?"
"Setelah ini kita pergi ke rumah keluargaku, kita harus membicarakan rencana adopsi dengan seluruh keluarga."
"Aku tidak keberatan."
"Baguslah, kita pergi setelah Jin Ho tertidur."
Jongin mengangguk pelan, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Jin Ho seorang diri di rumah sakit. Dia ingin membawa pulang Jin Ho secepat mungkin, namun dia tahu harus bersabar menunggu hingga kondisi Jin Ho benar-benar sehat.
"Bobby biasa berjaga di sini dengan Zelo, tentu saja aku tidak akan pernah membiarkan Jin Ho seorang diri." Ucap Sehun membaca kecemasan Jongin.
"Kapan kita bisa membawanya pulang?"
"Aku harap secepatnya."
"Ya." Jongin menjawab lemah.
Mereka harus menunggu empat puluh lima menit ketika Jin Ho akhirnya terlelap. "Kita pergi sekarang." Ajak Sehun, Jongin menurut tapi dia berulang kali menoleh ke belakang mengamati inkubator Jin Ho.
"Bisakah kita tinggal lebih lama?"
"Kita harus memberitahu rencana adopsi ini, dan kau butuh istirahat. Aku janji besok pagi-pagi kita akan tiba di sini. Meski jam kunjung belum berlaku aku akan mencari cara untuk masuk, aku janji. Jongin." Jongin mengangguk pelan, pada akhirnya dia setuju meski dia sangat enggan untuk pergi meninggalkan Jin Ho.
"Jadi—apa yang Taemin hyung katakan ketika kau memutuskan untuk mundur bekerja?" tanya Sehun memecah keheningan ketika mereka berada di dalam mobil, menuju rumah kediaman keluarga Oh.
"Tentu saja aku dimaki-maki."
"Dan reaksimu?"
"Tentu saja aku mengatakan semuanya."
"Taemin hyung masih memakimu?"
"Dia meminta maaf setelah memakiku, kubayangkan wajahnya pasti benar-benar konyol saat itu. Sayang aku tidak melakukan video call."
Sehun tertawa mendengar penjelasan Jongin dia juga sudah membayangkan bagaimana wajah Taemin yang lucu. Sehun mengenal Taemin meski tak cukup baik. Mereka belum pernah bertemu, Sehun mengenal Taemin dari cerita-cerita Jongin dan melihat foto Jongin.
Tangan kanan Sehun bergerak pelan memeluk pinggang Jongin. Sementara tangan kirinya bergerak pelan mengusap perut Jongin yang tertutup jaket. "Sebenarnya ada banyak hal yang aku takutkan."
"Apa?"
"Ketika anak kita lahir, ketika Jin Ho tumbuh dewasa dan dia mulai bertanya tentang siapa dirinya, atau jika kasih sayang kita dinilai tidak adil. Yah, hal-hal seperti itu."
"Kita pasti bisa melalui semuanya dengan baik." Jongin tersenyum lembut kemudian meletakkan telapak tangan kanannya di atas punggung tangan kiri Sehun. "Aku yakin, kita bisa melaluinya dengan baik."
"Ya." Sehun menjawab singkat lalu mengecup lembut pelipis kiri Jongin.
.
.
.
"Sehun..," protes Jongin ketika mendapati seluruh keluarga inti mereka berada di ruang keluarga.
"Ibuku selalu bergerak cepat." Balas Sehun kemudian tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Dasar." Jongin menggeram pelan sambil mencubit lengan kanan Sehun dan berjalan pergi mendahului Sehun.
"Jongin!" Ibu Sehun menyambut kedatangan Jongin dengan ramah, memeluk Jongin erat sambil tertawa bahagia. "Astaga! Aku akan menjadi seorang Nenek! Ternyata anak bodoh itu bergerak cepat!"
"Apa?!" Jongin terkejut dia menoleh menatap Sehun, sementara Sehun hanya bersiul-siul menyebalkan. Jongin beralih pada ayah Sehun dan beliau melakukan hal yang sama seperti putra bodohnya. "Apa semua ini sudah direncanakan?"
"Aku menginginkanmu sebagai menantuku! Aku sudah merencakan semua ini jauh hari saat kalian berdua masih bayi."
Jongin tiba-tiba pening mendengar penjelasan Nyonya Oh. Astaga, kenyataan apalagi ini. Terdengar konyol namun mengerikan dalam waktu bersamaan.
"Duduklah, kita akan membicarakan banyak hal, terutama tentang cucuku dan pernikahan kalian." Nyonya Oh memaksa Jongin untuk duduk di antara Nyonya Kim, ibu Jongin dan kakak perempuannya. Kemudian dengan senyum lebar, Nyonya Oh duduk di antara suami dan putranya. "Sehun, Jongin. Kapan kalian memutuskan untuk menikah?"
"Minggu depan."
"Ya!" Jongin langsung protes mendengar jawaban Sehun.
"Minggu depan." Tegas Sehun.
Jongin menatap ibu dan kakak perempuannya, mencari pembelaan namun kedua anggota keluarganya nampak setuju-setuju saja dengan usulan ngawur Sehun. Tentu saja Jongin akan menikahi Sehun, tapi tidak untuk sekarang tidak secepat ini.
"Jongin kau menunggu sampai kapan?" Nyonya Kim bertanya setelah melihat keengganan putranya.
"Baiklah, terserah." Jongin pasrah, ia tidak ingin berdebat karena dirinya tidak pandai berdebat, selalu kalah, dan itu hanya membuang energi. "Kami ingin membicarakan hal lain…,"
"Cucuku!" Nyonya Oh berteriak girang. "Sudah berapa bulan? Kalian sudah mengetahui jenis kelaminnya? Kalian sudah memilih nama? Kalian akan tinggal dimana? Kuharap kalian tinggal di sini, aku ingin dekat dengan cucu dari putra tunggalku."
"Sayang." Tuan Oh berbisik pelan sambil menggenggam pergelangan tangan kiri sang istri. "Tenanglah, biarkan Sehun dan Jongin memberi penjelasan."
"Usia kehamilan Jongin sudah empat bulan sekarang, mengenai jenis kelamin kami akan menunggu sampai bayinya lahir dan kami belum menyiapkan apa-apa." Jelas Sehun.
Jongin memutar kedua bola matanya malas, Sehun terlalu bertele-tele dia tidak sabar. "Kami akan mengadopsi seorang bayi." Sehun ternganga mendengar ucapan Jongin. "Kami akan mengadopsi seorang bayi, terimakasih jika kalian setuju tapi jika tidak, kami akan tetap mengadopsi Jin Ho."
Seluruh ruangan tiba-tiba berubah sunyi. Jongin semakin tidak sabar dia menatap Sehun mengisyaratkan kepada Sehun untuk mengatakan sesuatu, namun Sehun sepertinya tak mengerti isyarat yang dia berikan.
"Jin Ho, laki-laki." Nyonya Oh menoleh menatap sang putra. "Jelaskan semuanya pada Ibu."
"Ah itu—temanku menemukan seorang bayi laki-laki ditinggal di toilet kereta, dia lemah dan membutuhkan perawatan intensif dengan biaya sangat mahal. Bogum meminta bantuanku, aku tidak bisa menolak. Dan Ibu tahu aku menyayangi bayi itu, tentu saja aku ingin mengadopsinya tapi aku memikirkan reaksi Jongin. Ternyata dia tidak keberatan." Sehun tersenyum canggung di akhir penjelasan.
"Kalian akan langsung menyayangi Jin Ho, dia sangat manis." Terang Jongin, dia tersenyum lebar, dan kedua matanya berbinar bahagia.
"Aku tidak keberatan." Boram menjadi orang pertama yang menjawab. "Kurasa memiliki banyak keponakan itu menyenangkan."
"Aku tidak akan pernah bisa merasa keberatan, itu tindakan mulia." Sambung Nyonya Kim.
"Itu pilihan kalian, Ayah menghormatinya." Ucap Tuan Oh.
Ibu Sehun tak mengatakan apapun, semua orang menahan napas. "Kalian menatapku seperti itu, seolah aku akan berteriak tak setuju lalu melanggang pergi." Nyonya Oh mengajukan protes.
"Ibu sering melakukannya ketika membenci sesuatu." Jawab Sehun.
"Kasus ini berbeda!" bentak Nyonya Oh. "Astaga, tentu saja aku akan setuju. Aku sangat setuju. Terimakasih, terimakasih kalian sudah membuka hati untuk memberikan sebuah keluarga dan sebuah rumah pada seorang anak tak beruntung. Itu benar-benar hebat." Nyonya Oh tersenyum tipis di akhir kalimat.
"Tapi untuk membawa Jin Ho ke rumah, kami harus sedikit menunggu. Jin Ho membutuhkan perawatan intensif."
"Mari buat pesta penyambutan yang meriah." Usul Nyonya Oh.
"Ibu, Jin Ho tak akan mengingat apapun." Keluh Sehun sementara sang ibu sudah mulai meracau tentang pesta penyambutan yang akan dia gelar, dan siapa saja tamu undangan.
Kedua mata Sehun dan Jongin bertemu, Sehun tersenyum dia menggumamkan kalimat yang bisa Jongin baca jelas dari gerakan lambat bibir Sehun. "Semua berakhir dengan baik." Bisik Sehun, Jongin tersenyum tipis.
.
.
.
Ketika Bogum berlari ke arah mereka, Jongin bisa merasakan jantungnya berdetak cepat. Dia juga merasakan kedua lututnya gemetar. Tidak, dia tidak ingin mendengar kabar buruk mengenai Jin Ho. Mereka sudah memberi nama, dan memberi keluarga. Jongin berharap itu semua cukup untuk membuat Jin Ho bertahan.
Jongin cukup lega ketika Bogum memperlihatkan senyum tipisnya. "Bayinya sudah stabil, dia bisa minum susu dari botol, beratnya bertambah, dan Sehun kau bisa menggendongnya."
"Jin Ho!" Jongin berteriak tanpa sadar. "Namanya Jin Ho bukan bayinya."
"Ah maaf." Bogum tersenyum tulus.
"Dia memiliki nama Jin Ho, bukan bayinya." Jongin masih menggerutu, Sehun meremas pelan telapak tangan kiri Jongin sambil menggumamkan permintaan maafnya pada Bogum.
"Aku bisa mengerti." Bogum membalas ramah. "Ayo kita ke ruang rawat—Jin—Ho?" Sehun mengangguk pelan menjawab pertanyaan Bogum.
Jin Ho terlihat sangat berbeda dari pertemuan pertama Jongin dengannya. Bayi itu terlihat ceria sekarang, menggerakkan kedua kaki dan tangannya. Dalam balutan pakaian berwarna cokelat muda. Kulitnya tak terlihat pucat, dia bahkan tersenyum ketika Sehun dan Jongin mendekat.
"Hai." Jongin menyapa dengan suara lembut, telunjuk kanannya menyentuh pelan ujung hidung lucu Jin Ho. Dan Jin Ho membalasnya dengan sebuah senyuman, Jongin nyaris meneteskan air mata.
"Kita akan segera pulang, Ayah janji." Jongin terkejut mendengar Sehun menyebut dirinya sendiri sebagai Ayah. "Kau keberatan?" Sehun menatap Jongin.
"Tentu saja tidak." Jongin tersenyum. "Aku hanya tidak menyangka kau akan menyebut dirimu sendiri sebagai Ayah."
"Aku sudah memiliki seorang putra, dan sebentar lagi akan bertambah. Tentu saja aku seorang Ayah."
Jongin tertawa pelan. "Waktu berjalan sangat cepat, rasanya baru kemarin kita menjadi seorang mahasiswa baru, berjalan gugup melewati gerbang universitas."
"Ya, kau benar." Sehun membalas dengan suara pelan.
Perhatian keduanya tertuju pada Jin Ho yang menatap wajah Sehun dan Jongin dengan rasa ingin tahu, kedua mata jernihnya mengawasi setiap gerakan kecil yang Sehun dan Jongin lakukan.
.
.
.
Butuh waktu satu minggu hingga sehun dan Jongin bisa membawa Jin Ho pulang. "Tampan." Jongin memuji Jin Ho, bayi itu memakai pakaian berwarna biru muda, dengan beanie senada. Setelah menyelimuti tubuh Jin Ho Jongin mendekap tubuh Jin Ho lembut di dadanya. "Nah, sekarang kita bisa pulang ke rumah yang sebenarnya."
Sehun hanya tersenyum mendengar semua kalimat Jongin. Jin Ho mengeluarkan suara lucu yang membuat Jongin tertawa. "Di sana akan sangat ramai, kau memiliki seorang kakek, dua orang nenek, dan seorang Bibi. Tidurlah selama perjalanan. Mereka akan membuat pesta penyambutan meriah." Jongin menerangkan seolah Jin Ho mengerti semua ucapannya.
"Kurasa akan ada pesta yang berisik nanti." Sehun pura-pura terganggu.
"Kau akan menyukainya nanti." Goda Jongin pada Sehun.
Sehun tertawa kemudian telapak tangan kananya bergerak pelan mengusap puncak kepala Jin Ho. Selama perjalanan pulang, Jin Ho benar-benar tenang. Dia tidak menangis, sesekali tersenyum lalu kedua mata kecilnya akan mengamati bagian dalam mobil dengan penasaran.
Untuk sementara Sehun memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuanya, dia belum memiliki cukup waktu untuk mencari tempat tinggal sendiri. Selain itu mereka tidak berpengalaman mengurus bayi, jadi sedikit bantuan sangat diperlukan.
Ruang keluarga dihiasi oleh balon-balon berwarna biru dan putih, pada dinding tertempel tulisan Selamat Datang Jin Ho. Kue tar besar disajikan di atas meja panjang bersama dengan berbagai macam hidangan. Kotak-kotak hadiah dijejalkan di atas sofa besar krem.
"Pada detik terakhir Ibu putuskan ini adalah acara penyambutan pribadi, tidak perlu ada tamu." Terang Nyonya Oh.
Jongin dan Sehun tersenyum melihat semua acara penyambutan yang begitu hangat itu. Tak butuh waktu lama hingga semua orang berkerumun dan melihat Jin Ho dari dekat. "Dia sangat mungil, berapa berat badannya?"
Jongin menatap ibunya kemudian tersenyum. "2.8 Kilo, beratnya sudah naik cukup banyak."
"Baiklah proyek selanjutnya adalah membuat Jin Ho gemuk." Jongin tertawa mendengar pernyataan sang ibu.
"Ibu terimakasih sambutan hangat kalian, tapi kalian memakai pakaian aneh." Kalimat Sehun menyadarkan Jongin dan dia baru menyadari jika semua orang memakai masker, sarung tangan, dan penutup kepala.
"Kami menjaga kebersihan." Terang Boram.
"Kalian tidak perlu secemas itu, Jin Ho sudah sehat sekarang. Dia baik-baik saja, dia seperti bayi sehat yang lain." Ucap Sehun memberi penjelasan kepada semua orang.
"Kamar untuk Jin Ho sudah siap, tapi Ibu pikir sebaiknya Jin Ho tidur satu kamar dengan kalian. Ayah juga sudah membuat janji dengan dokter spesialis anak terbaik yang akan datang satu minggu dua kali untuk Jin Ho."
Sehun terkejut dengan kalimat sang ayah, ia bergegas memeluk laki-laki yang biasanya bersikap dingin itu. "Terimakasih sudah menerima Jin Ho dengan tangan terbuka." Bisik Sehun menahan tangis.
Tuan Oh hanya tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk pelan punggung putra tunggalnya.
TBC
Hai semua maaf telat update, saya dikejar kehidupan nyata hehehe. Ceritanya juga engga panjang dan untuk sementara Burn The Mighty Fall II di antri dulu setelah cerita ini selesai. Waktunya buat nulis semakin sedikit. Terimakasih semua pembaca dan terimakasih untuk semua review yang masuk kanghana, ohninibear, Kaisyaa, Siapa sayaa, NishiMala, Kyungxe, dytdyt, doubleuu, SheeHun, Rachelia Park, NishiMala, Hana, cute, hyejinpark, IstriKaiSoo, Sonyun, OhSehunKimJongIn, VampireDPS, micopark, Nikmah444, BabyWold Jonginnie Kim, wxyehet, jjong86, novisaputri09, Kiki2231, Leehan, kartika8894, vivikim406, Kim Jongin Kai, GaemGyu92, Park RinHyun Uchiha, hkhs9488, jeyjong88, ohkim9488, pawpiwpow, pawpiwpow, jongiebottom, Only12Boys, blackfire0611.
