Jadi sebelumnya mau bilang chapter 2 ada perubahan. Semoga kalian mau baca ulang... Selamat membaca~

Disclaimer: Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi


Di sebuah ruangan di rumah sakit, seorang gadis yang baru saja selesai menjalani operasi membuka penutup matanya. Dia mengedipkan matanya secara berulang-ulang, perlahan sekelilingnya mulai terlihat jelas. Berbagai macam objek, warna, dan orang-orang di sekelilingnya memenuhi penglihatannya. Gadis tersebut kemudian berlari ke jendela untuk melihat dunia yang sempat ditinggalkannya. Ibu menunggunya di sampingnya dengan sabar, untuk menyampaikan sebuah berita yang tidak terduga.

Surrounded by all the grief that fogged mind
With your being, the words, they intertwined

"Satsuki."

"Ah, Ibu! Aku sudah sembuh! Dimana Dai-chan?! Aku-"

"Satsuki, Ibu perlu bicara." Momoi langsung terdiam akan nada bicara ibunya, ketika ia melihat ekspresi ibunya ia tahu…ia tidak akan senang mendengarnya. "Tolong dengarkan ibu dengan tenang. Satsuki, ini….soal Daiki. Dia….mengalami kecelakaan. Saat ini kondisinya kritis…. dan tidak ada jaminan dia selamat." Momoi terdiam, tidak memercayai apa yang baru didengarnya. "Satsuki.. Daiki.. ia terlalu banyak mengeluarkan darah.." Tidak. Ia tidak mau mendengarnya. "Pertolongan datang terlambat. Bahkan sekarang, 3 jam sudah berlalu di ruang ICU. Truk dengan kecepatan tinggi seperti itu..Satsuki.. ia-" "CUKUP, HENTIKAN!" Momoi tidak mau mendengarnya lebih jauh "Satsuki!" Ia meninggalkan ibunya yang mulai berlinangan air mata, berlari ke arah ruang ICU dan mendapati orang tua Daiki yang sedang bercakap-cakap dengan seorang perawat.

And even if you were dirty i`d hold you near
Bracing all the pain, and shedding tears

"Suster!" Momoi segera menghampiri perawat tersebut "Bagaimana keadaan Dai-chan? Apa ia baik-baik saja? Ia akan sembuh kan?! Aku ingin menemuinya!" seru gadis itu bertubi-tubi. "Satsuki!" Ibu Momoi akhirnya berhasil menyusulnya, memegangi pundak anaknya itu dan mencoba untuk menenangkannya. "Maaf, untuk saat ini kami tidak dapat membiarkan banyak orang masuk," jawab suster itu "Tapi kami perlu kedua orang tua korban untuk masuk ke dalam.
"Momoi melirik kea rah kedua orang tua Aomine, menangkap raut wajah yang sedih dan..pasrah? Tidak. Sahabatnya pasti punya harapan! "Momoi-san," suster itu memanggil namanya, seraya mempersilahkan kedua orang tua Aomine masuk "keajaiban mungkin saja terjadi. Berdoalah untuknya, ya?"

Momoi duduk dalam diam di ruang tunggu. Sayup-sayup, keributan di dalam ruang ICU dapat ia dengar. Ia meraih kalung yang ia kenakkan, menatapnya nanar. 'Dai-chan.. ia pasti selamat.. ia sudah berjanji.. Momoi menundukkan kepalanya, matanya mulai kabur dengan air mata. Ia sudah berjanji..

See here? Before destroying yourself any further
Hearing my words again and again

Dan saat itulah ia menyadari sesuatu, sebuah tulisan terukir pada bandul kalung yang dihadiahkan Aomine padanya.

Always with you

"Denyut nadinya semakin menurun!" "Dokter, kita akan kehilangan dia!" "Pasang alat pacu jantungnya!"

Momoi tidak tahan lagi.

Before you know it it`s all over

Angin berhembus menerpa helai-helai peach rambut Momoi, dengan pemandangan kota yang terhampar di depannya. Momoi kini berada di atap rumah sakit tersebut, tempat ia dan Aomine berjanji akan segera bertemu seusai ia menjalani operasi.

By voicing all the feelings in my heart
I knew where where I would wind up from the start

Gadis itu berdiri di balik pembatas atap tersebut. "Dai-chan.." ia memandang ke arah langit "Kau berjanji akan segera menemuiku.. kau berjanji akan terus bersamaku.."

Kata-kata suster, keributan di balik ruang ICU terus bergema di kepalanya, raut wajah orang tua Aomine kembali muncul di ingatannya. Gadis itu mulai terisak.

Bidding you goodbye bidding you goodbye
Just tears me up inside

"Hiks- Aku.. ingin terus bersamamu.. hiks.. Dai-chan.." genggamannya pada pagar pembatas semakin erat. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya, menaiki undakkan pembatas tersebut. "Dai-chan.." Tubuh Momoi tiba-tiba tertahan. Rasa hangat yang nyaman menjulur di seluruh tubuhnya, seperti ada yang mendekapnya dari belakang, menghentikan aksi nekatnya. "…..Dai-chan?"

If the world continues spinning nonetheless
You should go and find another that`ll give you the best

Perlahan Momoi menoleh ke belakang, takut bahwa ia mulai menggila, takut ini hanya mimpi akan rasa hangat yang dirasakannya yang berasal dari Aomine yang harusnya berada di ruang ICU.

"Dai-chan?"

Dan kemudian dijawab oleh Aomine dengan sebuah… pukulan (?) di kepala Momoi. Sebersit rasa penat pun muncul di kepala Momoi, "Dai-chan?!" Momoi tampak terkejut dengan perlakuan Aomine tersebut.

"Dai-chann!" Momoi berusaha memeluk Aomine, tetapi tubuhnya menembus tubuh Aomine yang tembus pandang, menyadarkan Momoi bahwa itu tidak lain hanyalah bayangan Aomine. "Dai-chan bodoh! Padahal kau sudah berjanji akan menungguku setelah operasi! Teganya kau pergi begitu saja dimana seharusnya aku dapat melihatmu lagi!" seru Momoi bertubi-tubi. Mata Momoi semakin kabur dengan air mata, tetapi ia masih dapat melihat sosok Aomine itu..tersenyum ke arahnya, memandangnya dengan tatapan lembut.

Momoi pun tersadar.

"Dai-chan..kau.." Momoi mengusap matanya, "Hiks.. Kau benar-benar jahat.. Dai-chan..menepati janjimu dengan cara seperti ini..aku..hiks."

Sebuah belaian halus hinggap di puncak kepala Momoi. Ia mendongak, mendapati Aomine sedang mengusap kepalanya.

"Dai-chan, ada banyak sekali yang ingin kukatakan padamu, kau tahu? Ada banyak sekali tempat yang ingin kukunjungi bersamamu.. Ada banyak sekali hal yang ingin kutunjukkan padamu.." Momoi menunduk, tidak dapat mengendalikan air matanya, "..ada banyak sekali hal yang ingin kulakukan bersamamu, Dai-chan!"

"Wajahmu luar biasa jelek saat menangis, Satsuki."

Momoi tersentak mendengar suara itu di kepalanya. Itu memang suara Aomine.

"Hiks..kau kira.. hiks.. gara-gara siapa ini, hah?!" sahut Momoi, kembali memandang ke arah Aomine..

..yang kini mulai menghilang.

"Dai-chan?"

Bagian tubuh bawah Aomine kini sudah hilang dari pandangan..

"Dai-chan.. tunggu, masih banyak yang ingin kukatakan padamu.."

..dan kini diikuti tubuh atasnya..

"…tunggu.. Dai-chan.. jangan pergi, kumohon.." Momoi ingin sekali berlari menghampiri Aomine, menangkapnya, memeluknya, meski ia tahu ia tidak dapat menyentuhnya. Tapi kakinya terasa lemas sekarang.

Aomine membuka mulutnya, menggerakkan mulutnya mengucapkan sebuah kata. Mata Momoi membulat, menangkap yang Aomine berusaha sampaikan padanya. "Dai-chan.. tunggu.. DAI-CHANN!" Momoi berlari kearah Aomine yang kini hampir hilang sepenuhnya.

Aomine pun memberikan cengiran khasnya yang terakhir, sebelum akhirnya ia menghilang sepenuhnya.

"Hiduplah untukku, Satsuki"

I don`t wanna say goodbye to you now

Momoi duduk dengan gelisah di depan ruang ICU. Waktu seakan berjalan lama sekali. "Dai-chan, kumohon jangan pergi..." Momoi mengucapkan kata-kata tersebut berulang-ulang sambil memegang erat kalung bandul pemberian Aomine.

I know, you will try to hold on even as you crumble
Please let go of me

Namun harapan Momoi hancur berkeping-keping ketika ibu Aomine yang menangis dan ayahnya yang berusaha menghibur ibunya keluar dari ruang ICU.

"Dai-chan?"

Please don`t cry. Please smile
Tell me you`ll be alright


Momoi tampak duduk di taman dekat rumahnya. Ia hanya ingin menjauh dari kenyataan bahwa Aomine Daiki sudah tidak ada lagi. Bahwa Aomine Daiki sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Aomine Daiki, teman masa kecilnya yang…dicintainya, kini sudah pergi. Momoi yang masih termenung teralihkan perhatiannya ketika handphonenya bergetar, menunjukan bahwa dia mendapat pesan dari seseorang. Momoi dengan malas membukanya, mendadak membelalakan matanya ketika ia lihat dari siapa pesan tersebut.

The voice that somehow was a part of me
The eyes that blinked "I love you" perfectly

Semua memori yang dilalui bersama Aomine seolah meledak memenuhi pikirannya. Ketika ia selalu menemaninya bermain basket di dekat rumah, ketika mereka pulang pergi dari sekolah, ketika mereka menjalani kegiatan klub basket, ketika ia menyeret Aomine menemaninya belanja atau sebaliknya saat Aomine mencari sepatu basket, ketika mereka belajar bersama, dan semua memori tak tergantikan lainnya.

With a little fib, I let all of it slowly fade away
If we were granted the wish we wished the most
Someone else will lose something that they hold close

"Dai-chan curang. Hiks….." Hari itu Momoi hanya duduk diam menangis mengenang Aomine sambil memeluk handphonenya.

I don`t wanna die
Please don`t let me die

tbc