WHAT?!

AN EXO FANFICTION

Pairing: HUNKAI, Sehun X Kai

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin aka Kai, Baekhyun, and others

Rating: T-M

Warning: BL, Mpreg, Typo

Previous

"Berarti kedatangan kami merepotkan." Ucap Jongin memasang wajah menyedihkan.

"Kau yang merepotkan, Sehun dan Bibi mereka diterima dengan tangan terbuka di sini."

"Jahat sekali!" dengus Jongin. "Hei bagaimana dengan Zelo?"

"Bagaimana apanya?"

Jongin mengerutkan kening. "Noona, jangan berkelit lagi, aku ingin tahu semuanya."

Boram tersenyum tipis. "Zelo dia menarik, tampan, dan baik. Tapi kurasa kami akan cocok berteman, tidak lebih."

"Apapun keputusan Noona aku akan mendukung selama Noona merasa bahagia."

"Aku bahagia Jongin, jangan mencemaskan aku. Terimakasih sudah membantuku."

"Aku menginginkan yang terbaik."

"Ya." Balas Boram singkat disertai senyuman. "Bagaimana jika aku menunggu Jin Ho dewasa? Kurasa kami akan cocok." Canda Boram.

"Aku serahkan semua keputusannya pada Jin Ho." Balas Jongin kemudian tertawa pelan.

BAB DUA PULUH DUA

Sehun dan Jongin duduk di atas ranjang tempat tidur mengapit Jin Ho yang terlihat mulai memejamkan kedua matanya, mungkin terlalu lelah mendengarkan perdebatan kedua orangtuanya yang semakin lama semakin membosankan.

"Musim semi dengan bunga cherry bermekaran adalah waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan."

"Tepat kepalamu!" protes Jongin.

"Kita tidak bisa mundur lagi semua sudah dipersiapkan."

"Selama aku tidak bersedia kau mau menikah dengan siapa?" ejek Jongin sambil memainkan tangan Jin Ho, padahal Jin Ho memilih tidur tidak peduli dengan perdebatan Jongin dan Sehun.

"Jahat sekali bertanya aku menikah dengan siapa." Gerutu Sehun. "Ya sudah aku menikah dengan pohon cherry saja."

"Terserah." Balas Jongin malas.

"Pokoknya kita menikah dua minggu lagi."

"Jangan mengambil keputusan seenak jidatmu!"

"Tadi kau bilang terserah."

"Bukan terserah yang seperti itu Oh Sehun! Sudahlah, berbicara denganmu membuatku semakin kesal saja."

Sehun hanya tersenyum lebar menanggapi kekesalan Jongin. "Sebentar lagi Jin Ho berusia dua bulan."

"Hmmm."

"Jongin apa kau pernah berpikir kapan pastinya Jin Ho lahir?"

"Bogum tidak mengetahuinya?"

Sehun menggeleng pelan. "Ketika Bogum menemukan Jin Ho dia bilang usianya sekitar satu dua hari tapi jika kita mencantumkan tanggal lahir yang sama aku merasa tidak tega."

"Karena hanya akan mengingatkan hal yang buruk?" Sehun mengangguk mendengar pertanyaan Jongin. "

"Bagaimana jika tanggal lahirnya hari dimana kita membawa Jin Ho pulang? Jika itu diperbolehkan saat proses pembuatan dokumen adopsi."

"Ide bagus nanti aku bicarakan dengan orang-orang yang mengurus proses adopsi."

"Hmm." Jongin menarik jarinya dari genggaman Jin Ho. "Dia tidur." Ucapnya kemudian bersiap mengangkat tubuh Jin Ho namun Sehun menghentikannya.

"Biar aku, jangan mengangkat Jin Ho dulu atau jangan mengangkat apapun dulu."

"Jin Ho sangat ringan."

"Aku tidak mau mengambil resiko."

"Baiklah." Balas Jongin tak ingin berdebat lagi, Sehun tidak bisa dibantah jika dia sudah memutuskan sesuatu.

Sehun berjalan menuju ranjang bayi Jin Ho sementara Jongin berjalan menuju pintu geser. "Zelo ditolak Boram."

Jongin menoleh ke arah Sehun. "Bukan ditolak, Boram menganggap mereka lebih cocok berteman."

"Itu tetap ditolak."

"Bukan!" balas Jongin. "Bukan ditolak menurutku, Zelo tidak mengatakan apa-apa soal menjadi kekasih Boram jadi dia tidak ditolak."

"Zelo memang tidak mengatakan apa-apa, berarti intinya dia sudah ditolak sejak awal."

Jongin menggaruk pelipis kanannya. "Sudahlah, kau selalu membingungkan."

"Otakmu harus bergerak cepat saat berbicara denganku."

"Dengan kata lain kau menyebutku bodoh?"

Sehun menaikkan alis kanannya. "Aku lulus lebih dulu darimu."

Jongin mendengus kemudian memilih membuka pintu geser dan mengabaikan teriakkan Sehun. "Udara mulai hangat, bukan masalah besar."

Sehun mulai mengamati keadaan di luar, tumpukan salju menipis, pucuk-pucuk daun terlihat bersemi. Udara lebih hangat. "Musim dingin tahun ini berlangsung lebih singkat."

Jongin menggeser pintu lebih lebar kemudian menyelinap keluar, Sehun bergegas menyusul tentu saja dia menutup pintu geser kembali. "Jongin di luar dingin!" pekik Sehun. Jongin tak peduli dia terus melangkah mendekati pagar balkon.

Tangan kanan Jongin bergerak pelan mengusap kayu pembatas balkon. Salju cair membasahi ujung jari-jemarinya. "Ada banyak hal yang berputar di dalam kepalaku sekarang." Ucap Jongin ketika Sehun melingkarkan syal pada lehernya.

"Apa?"

"Tentang pernikahan, kenapa kau menginginkannya?"

"Karena aku mencintaimu."

"Itu jawaban yang terlalu sederhana."

"Kau menginginkan jawaban seperti apa?"

Jongin menoleh menatap Sehun kemudian tersenyum tipis. "Kau harusnya tahu jawaban yang pasti."

"Kau ragu?"

"Aku belum siap untuk terikat ada banyak hal yang ingin aku lakukan, ingin aku capai. Aku egois, aku tahu. Tapi aku merasakan semuanya sekarang."

"Katakan semuanya."

"Sejak awal sebenarnya aku sudah tahu apa yang aku rasakan tentangmu. Perasaan itu, melebihi perasaan seorang sahabat, tapi aku tidak mengakuinya dan aku bersyukur kaupun terlalu bodoh untuk menyadarinya dengan cepat."

Sehun menatap kedua mata Jongin tajam. Ia tak mengatakan apapun dan menunggu Jongin menyelesaikan semua kalimatnya. "Aku mencintaimu tapi di sisi lain aku melihatmu seperti sebuah tembok kokoh, aku ingin melewatimu. Aku ingin menjadi sepertimu."

"Lakukanlah, jika kau ingin melewatiku aku tidak akan melarangmu."

"Tapi berada di sampingmu akan membuatku lemah dan…, sudahlah Sehun aku hanya meracau."

"Katakan apa yang ingin kau katakan jangan memendamnya, lebih baik kita selesaikan semua masalah sekarang juga."

"Aku mencintaimu tapi aku juga ingin mengalahkanmu. Bagaimana kau bisa menjawab dua pertanyaan itu secara bersamaan."

Sehun tersenyum. "Itu mudah, berarti kau tidak bisa jauh dariku. Kau membutuhkan aku bagaimanapun bentuknya, sebagai orang yang ingin kau cintai atau sebagai orang yang ingin kau benci. Dan aku tidak keberatan menjadi keduanya, asal kau tidak pergi, asalkan kau tetap disampingku."

"Sehun…,"

"Sudah cukup. Tetaplah di sisiku apapun yang kau inginkan tentangku, aku akan memberikannya, aku akan menjadi apapun yang kau inginkan. Bencilah aku sebanyak yang kau inginkan, aku tidak akan mengeluh."

"Ini terdengar menyedihkan sekarang." Gumam Jongin menatap kedua mata Sehun, dengan kedua mata yang terlihat sembab. "Aku pasti terlihat menyedihkan sekarang."

"Aku tidak pernah melihatmu dengan cara yang menyedihkan."

"Lalu kau melihatku seperti apa?"

"Seseorang yang penting untukku. Aku melihatmu seperti itu sejak pertama kita bertemu hingga detik ini. Berhentilah memandang rendah dirimu sendiri, karena kau penting untukku."

"Se…,"

Sehun membungkam Jongin dengan sebuah pelukan lembut. "Jangan mengatakan apapun lagi. Dan jangan memikirkan hal-hal yang akan menguras energimu."

"Aku tidak memikirkan apapun sekarang."

"Kau memikirkannya."

"Aku tidak memikirkan apapun."

"Kau memikirkannya."

"Tidak! Dan diam! Jangan membuatku kesal!"

"Kau sudah kesal."

Jongin melempar tatapan datar. "Kau jelek."

Disebut jelek adalah hinaan bagi seorang Oh Sehun yang hampir di seluruh hidupnya menganggap dirinya sempurna. "Aku ini tampan."

"Kau jelek, semoga Jin Ho tidak mewarisi wajah atau sifatmu dan aku tidak melahirkan anak yang mirip dengan wajahmu." Dengus Jongin memutar tubuh kemudian berjalan pergi.

Dia pikir Sehun akan berjalan mengikutinya dan merengek memintanya untuk menarik semua ucapan disertai ancaman kekanakan tak berkualitas. Ternyata, Sehun hanya diam di tempat dan itu membuat Jongin cemas.

"Sehun." Panggil Jongin sambil melangkah kembali ke hadapan Sehun. "Maaf aku tidak bermaksud menyinggungmu, aku hanya bercanda."

"Apa aku benar-benar jelek? Baik wajah dan sifatku? Baiklah tak penting soal wajah, tapi apa sifatku benar-benar buruk dna membuatmu frustasi?"

"Tidak!" pekik Jongin. "Aku hanya bercanda."

"Kau bisa katakan semua sifat jelekku dan aku akan berusaha memperbaikinya."

"Aku hanya bercanda Oh Sehun." Jongin mulai kehilangan kesabaran. "Ayo kita masuk aku mulai kedinginan." Sambung Jongin sambil memijat pelan pangkal hidungnya.

"Aku akan menghangatkanmu."

"Hei!" protes Jongin ketika Sehun menarik tuguhnya ke dalam dekapan.

"Aku benar-benar memikirkan semua sifat jelekku."

"Aku hanya bercanda."

"Jangan ragu untuk menyebutkan semua kejelekanku." Ucapan Sehun membuat Jongin tertwa pelan. "Kuharap kau tidak merasa lelah denganku lalu memutuskan untuk pergi."

"Aku juga dipenuhi dengan semua kejelekan, kuharap kau mau memaafkan aku."

"Hmmm." Sehun bergumam pelan sambil terus mendekap tubuh Jongin. "Jongin!" Pekik Sehun sementara Jongin hanya tertawa pelan. "Bayinya bergerak, apa kau merasakannya?"

"Ya. Sekarang sudah memasuki lima bulan, wajar jika bayinya mulai bergerak."

"Mungkin dia kedinginan, sebaiknya kita masuk!"

"Itu tidak logis." Ejek Jongin namun dia tetap berjalan pergi menuruti kemauan Sehun untuk kembali ke dalam kamar mereka yang lebih hangat.

.

.

.

"Bersemangatlah!" pekik Sehun sambil menyikut lengan kanan Jongin.

Jongin menghela napas menyalurkan semua rasa frustasi dan lelah karena ibu Sehun memaksanya untuk bangun lebih awal hanya untuk pergi ke tanah lapang. Jin Ho tentu saja diasuh oleh Tuan dan Nyonya Oh. Tanah lapang. Dia dan Sehun dipaksa pergi ke tempat ini untuk sesuatu yang disebut waktu berkualitas.

"Sebenarnya apa yang diinginkan ibumu? Dan apa yang kita lakukan di sini? Piknik? Kita sudah sarapan di rumah tidak membawa bekal, tanah lapang juga lembab karena lelehan salju, rumput-rumputnya terlihat jelek. Pepohonan di sekitar sini masih meranggas dengan sedikit dedaunan yang mulai bersemi."

"Bagaimana jika kita berfoto? Aku pernah menjadi model untuk beberapa waktu sebelum mengambil alih perusahaan."

Jongin melempar tatapan sangsi. "Foto?"

"Ya."

"Kau?"

"Hmm."

"Aku mengambil fotomu?" Sehun tersenyum lebar. "Aku tidak keberatan Sehun, tapi kau mau berfoto dengan tema horror?"

"Foto dengan tema ceria!" Saran Sehun dan Jongin hanya melempar tatapan malas.

"Mendung." Balas Jongin datar.

"Ah." Tanggap Sehun sambil memeriksa langit di atas mereka. "Kurasa foto dengan tema horror tak masalah."

"Kenapa suasananya mendadak seperti akhir drama yang menyedihkan." Keluh Jongin.

"Ya." Balas Sehun tak bersemangat.

"Hei!" Jongin sedikit berteriak untuk menarik perhatian Sehun. "Apa perutmu sudah penuh?"

"Lumayan."

"Apa kau bisa makan sedikit lagi?"

"Kau mau apa?"

"Ikut aku." Ucap Jongin sambil berjalan mendahului Sehun.

Sehun mengejar Jongin dan merangkul pundak Jongin. Butuh beberapa saat bagi Sehun untuk mengenali jalanan yang mereka lalui. Sampai akhirnya dia tersenyum. "Kita sering melewati jalan ini saat SD dan SMP."

"Kau baru sadar?"

"Karena sudah sangat lama. Apa kau ingin makan Tteok mandu guk?"

"Hmm."

"Apa masih ada? Bukankah sudah sangat lama."

"Masih ada tapi sekarang diambil alih oleh anaknya." Sehun mengangguk pelan mendengar penjelasan Jongin.

Tteok mandu guk. Makanan khas musim dingin tapi Jongin sangat menyukainya dan dia bisa memakan makanan itu di musim apapun. Tepung beras berisi daging cincang dan dimasak dalam kuah kaldu, Jongin bisa memakan dua mangkuk untuk dirinya sendiri.

Sehun tersenyum ketika dia melihat kedai yang seriung dia kunjungi bersama Jongin semasa kecil kini telah berubah menjadi sebuah restoran sederhana bukan lapak pedagang kaki lima lagi. "Waktu berjalan dengan sangat cepat." Gumam Sehun.

"Ya." Balas Jongin.

"Suatu hari nanti kita akan membawa anak-anak kita ke tempat ini."

Jongin tertawa pelan mendengar ucapan Sehun tapi Jongon bisa mendengar keseriusan dalam suara Sehun. "Ya, kita akan membawa mereka ke tempat ini suatu hari nanti."

"Jadi kita akan menikah secepatnya?"

"Menunda juga percuma, kita akan tetap berakhir bersama."

"Pilihan bijak." Balas Sehun kemudian tersenyum lebar.

TBC

Halo semua terimakasih masih membaca cerita ini, berarti tinggal satu chap lagi ya hehehe. Terimkasih review kalian yoonvi123, dytdyt, Racheliia park, Kimkaaaaaa, Ongin, cute, yousee, Guest, Kyungxe, Sheehun, BabyWolf Jonginnie Kim, Nikmah444, Kaisyaa, Wendybiblu, oohninibear, Kim Jongin Kai, TrapOne 111, Park RinHyun Uchiha, VampireDPS, jongiebottom, jeyjong, ohkim9488, novisaputri09, Kiki2231, micopark, blackfire0611, GaemGyu92. Sampai jumpa di chapter terakhir.