Rasanya sulit untuk memulai kembali. Memang beban terberatnya sudah hancur lebur. Tapi masih ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Iwaizumi. Meski ia sudah berkali-kali mengisi semua kolom di laman registrasi akun soundmist, ia bahkan tidak sanggup menekan tombol sign up.

Oikawa menerobos masuk ke apartemen, dengan semangat ia menyodorkan ponsel pintarnya. "Iwa-chan! Aku sudah membuat akun soundmist untuk Iwa-chan."

Iwaizumi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, Oikawa nyengir lebar. Ia memberi peace-sign andalannya. "Hehe, aku tidak sabar ingin tau musik seperti apa yang akan diposting oleh Iwa-chan."

Sebenarnya ia tidak pernah berpikir kalau Oikawa serius ingin bermusik bersamanya. Tapi begitu ia mengetahui Oikawa yang... Entahlah, mungkin itu hanya salah satu petunjuk dari intuisi si observan ulung. Ia samasekali tidak pernah mengutarakan kesulitannya untuk membuat akun soundmist lalu mulai bermusik lagi. Saat ini, keraguan Iwaizumi runtuh total.

"Tentu saja, following dan followers Iwa-chan yang pertama haruslah alienSWAG yang fenomenal ini."

Iwaizumi memukul pelan bahu Oikawa. Terdiam menatap layar ponsel. Terdiam melihat profil akun soundmist yang kini menjadi miliknya. Username yang dibuat Oikawa benar-benar tak pernah terpikir (lagi) di benaknya.

BusyBeetle.

.

Disclaimer: Haikyuu - Haruichi Furudate, Lagu yang dipakai disini always belongs to its respectful owner

I own nothing but this fic :"3

.

Warning: Musician!AU(atau Composer!AU), IwaOi, college days, contains Boys Love, alcoholism, possibly OOC, istilah yang tidak dikaji mendalam, imajinasi penulis yang tidak tersampaikan, etc. Definitely not a song fic. Please pay attention;w;

Note: Direkomendasikan mendengarkan dua lagu ini; Landscape by Low Pass dan juga 800nm by Another Infinity (Ryu* x Starving Trancer) sebelum membaca. Silahkan cari di yutub, pakai keyword 800nm jubeat prop dan Landscape cytus. Dalam imajinasi daku, kurang lebih seperti itulah musik yang dikomposisi oleh Iwa-chan.

.

limelight, a Haikyuu! fanfiction by yana

bagian dua

Don't like, don't read. You've been warned. Proceed with your own risk.

.

Iwaizumi mulai menulis lagu. Kali ini sudah tidak ada tuntutan atau pemaksaan ideologi yang selama ini membuatnya depresi.

Tidak sulit membiasakan diri dengan kegiatan yang memang sebenarnya sangat dia nikmati ini. Walaupun sudah lebih dari setahun ia tidak pernah lagi melakukannya, Iwaizumi berhasil kembali menemukan kesenangan (terkadang juga tekanan, antusias, stress) yang ditimbulkan dari aktivitas itu. Dirinya sedikit terkejut ketika mendapati kegiatan ini terasa lebih menyenangkan–jauh lebih menyenangkan–dari kali terakhir saat ia melakukannya.

Iwaizumi menulis di kelas, di kamar, di studio, di kafe, dimanapun. Ia terkadang melakukan sesuatu kebiasaan baru dalam menulis lagu; jika keadaan tidak memungkinkan untuk menulis, ia akan menggumamkan nada itu dan merekamnya dengan ponsel.

Semua kegiatan-menulis-lagu itu terlihat normal. Iwaizumi terlihat sama dengan teman-temannya yang lain; menulis, berkutat dengan kertas atau buku atau ponsel. Tapi perubahan aktivitas Iwaizumi tak luput dari pengamatan dua teman baiknya.

Matsukawa menatap dalam diam, memberi isyarat. Hanamaki balas melirik ke arahnya. Iwaizumi sedang menulis lagu?

Mereka berdua ingat betul bagaimana Iwaizumi menjauhi dunia musik dalam waktu setahun ini. Memang dia sesekali masih bermusik bebas, bersama teman-teman di klub musiknya. Tapi hanya sebatas itu. Keduanya juga masih sangat mengingat hari dimana Iwaizumi menjadi pucat pasi, berteriak dengan berbagai emosi yang berkecamuk, lalu menghilang beberapa hari dari perkuliahan.

Matsukawa dan Hanamaki memang tidak pernah benar-benar sharing tentang musik dengan Iwaizumi. Sayangnya kedua temannya itu selalu memperhatikannya. Iwaizumi sangat menggemari dunia musik, perasaannya pada voli tidak bisa disamakan dengan itu. Jika voli adalah udara, maka musik adalah apa yang dapat membuatnya bernafas.

Samar sekali, ada kilau di kedua iris hijau teduh Iwaizumi. Tipis sekali, tapi jika diperhatikan dengan baik, kilau itu merubah seluruh yang tampak di wajahnya. Antusiasme itu jarang sekali terlihat, begitu pula dengan ia yang tanpa sadar menjulurkan sedikit ujung lidahnya. Dahinya berkerut, guratan yang berbeda dengan saat ia kesal atau serius (dan kesulitan) mengerjakan soal ujian.

Hanamaki dan Matsukawa menyadari, mereka sudah terlalu banyak mengamati. Sekarang saatnya mereka tau apa yang sebenarnya sudah terjadi. Tanpa banyak berunding, keduanya berjalan mendekati Iwaizumi yang duduk di dekat tembok, baris kedua.

Matsukawa berdehem keras, Iwaizumi menoleh sambil mencoba menyembunyikan lembaran kertas bertuliskan not balok. Hanamaki terus menatap ke arah lembaran yang diselipkan paksa ke dalam binder. Matsukawa melakukan hal yang sama.

Iwaizumi mulanya tidak ingin membagi apapun pada Matsukawa dan Hanamaki. Tapi setelah ditatap selama bermenit-menit, Iwaizumi merasa risih–dan menertawakan dirinya sendiri karena terlalu transparan dan tidak bisa menyembunyikan sesuatu dan terlalu mudah dibaca.

Dagu bertumpu pada punggung tangan, sengaja menyeringai tipis sebelum mulai buka suara, "Kalian sudah tau, kan? Aku tidak tau harus kesal atau senang."

Hanamaki gagal menahan diri agar tidak tertawa, Matsukawa memasang seringai puas. "Aku tidak menyangka, awalnya hanya ingin membagi kesengsaraan. Bagaimana rasanya mengenal Oikawa Tooru?"

"Dia bohong. Sebenarnya hanya bosan dan ingin cari hiburan. Reaksimu pasti luar biasa, secara kami sudah mengenal kalian. Benar-benar dua orang yang ditakdirkan bertemu." Matsukawa memegangi perutnya yang kena sikutan maut Hanamaki.

"Ya, ya, ya. Terima kasih kepada biro Mak Comblang Hanamaki Takahiro," dengan sengaja memutus kalimatnya, "dan Matsukawa Issei."

"Aku tidak sabar melihat Oikawa menarik paksa kau yang tak bisa berkutik, seperti medan magnet–"

"–atau malah gravitasi."

Ketiga orang itu tergelak setelah saling berkirim candaan sarkastis. Instan berhenti ketika ekspresi di wajah Iwaizumi tidak lagi seperti orang konstipasi.

"Yah, banyak hal yang terjadi..." kedua alisnya sengaja dinaikkan, "Tapi, ya, aku benar-benar sudah baik-baik saja."

Hanamaki melompat, memeluk Iwaizumi dengan erat. Matsukawa meninju bahunya sambil bergumam senang. Tidak ada yang tau, betapa bersyukurnya mereka. Mantan kapten tim voli mereka saat zaman SMA ternyata bisa berguna. Hanamaki diam-diam akan mengirimi paket berisi beberapa buah roti susu ke apartemen mantan kaptennya itu.

.

Oikawa berkata kepadanya. Jika ia ingin meniti jalur yang sama dengan Oikawa, maka ia harus rela mencari dan mencoba mengirim entry karyanya ke berbagai developer rhythm game. Literally, berbagai. Yang artinya ia harus mengesampingkan perbedaan bahasa, etnis, atau batas negara. Itu masih sebagian kecil dari masalah yang akan dihadapinya nanti. Yang terburuk adalah jika harus menghadiri live bersama komposer lain di negeri yang lain pula. Kau harus pergi ke negeri asing. Tapi setidaknya kita sekarang hidup di era yang serba praktis, sehingga karya itu tidak harus dikirim dalam bentuk fisik. Itu kutipan dari Oikawa yang paling diingatnya.

Iwaizumi tidak peduli. Ini kali ketiga Iwaizumi mengirim karyanya. Pun ini menjadi kali ketiga karyanya gagal masuk list lagu yang akan dipublikasikan melalui rhythm game mereka. Iwaizumi tau, tidak ada yang salah dengan ini.

Tidak semua orang bisa menerima sisi idealisnya. Ia masih bersikeras untuk tidak mengikuti sesuatu yang populer, atau sesuatu yang mainstream, atau sesuatu yang biasanya disukai audiens.

Iwaizumi bersikukuh mempertahankan basic musiknya, rock. Sulit untuk dideskripsikan karena tidak umum. Bukan alternative rock, bukan pula slow rock apalagi pop rock. Musik yang biasa ada di rhythm game, tidak pernah jauh dari EDM. Iwaizumi juga gemar musik elektronik, tapi belum tergerak untuk membuat karya yang full-EDM.

Wajar saja jika belum ada yang menerima karyanya–lebih tepatnya belum menerima kehadirannya di kancah permusikan game. Iwaizumi baru tiga minggu yang lalu memposting karya di akun soundmist. Fairly unnoticed, Oikawa berkali-kali mengulangi kalimat, "Diamond on the rock", sejujurnya itu terlalu berlebihan baginya.

Jemarinya mengelus permukaan keyboard. Melirik lelah ke arah peralatan tempurnya. Komputer hi-end dengan dual-monitor berukuran 21inch, sound recorder, dan yang terakhir software yang biasa digunakannya untuk composing dan arranging. Itu baru sebagian kecil. Peralatan lazim yang digunakan untuk DJ-ing, berbagai alat musik, segala yang berhubungan dengan EDM miliknya berada di studio. Iwaizumi dengan senang hati berkutat dengan itu semua.

Sayangnya, ia sedang melalui proses akhir setelah composing dan recording, yaitu arranging. Iwaizumi paling ogah berurusan dengan arrangement. Ribet, dan agak malas mengulang-ulang pekerjaan. Mungkin hal pertama yang harus dicantumkan dalam perjanjian kolaborasi antara Iwaizumi dan Oikawa adalah ketersediaan Oikawa untuk melakukan hampir semua arrangement.

Tidak harus terburu-buru. Dia tidak sedang desperate mencari pekerjaan. Iwaizumi lebih senang dirinya diterima apa adanya daripada ia harus mengikuti demand. Walaupun gitar bukan instrument yang umum dipadukan dengan EDM, Iwaizumi bersikukuh mempertahankan itu sebagai ciri khas.

Penat, Iwaizumi memilih berhenti melanjutkan aransemen. Menyimpan proyeknya, aplikasi itu lalu ditutup. Iwaizumi beralih membuka browser, mengetik url ke situs media sosial facebuk. Monitor ditatap bosan, jari telunjuknya terus men-scroll beranda facebuk tanpa menaruh minat.

Gerakan tangannya terhenti ketika melihat sebuah sponsored post.

Open submission! Jika ingin karya kalian dikenal di seluruh dunia, jangan ragu untuk mengirim karya kalian kepada C4neko. Kirimkan sampel, full-length, judul, beserta BPM ke submission sebelum tanggal 31 Desember. Karya yang terpilih akan dipublikasikan lewat rhythm game 'Dynamic' pada update berikutnya!

Senyum di wajah Iwaizumi merekah. Tanpa banyak berpikir lagi, ia membuka tab baru di browsernya. Tanpa ragu, ia memilih dua dari tiga karyanya yang sebelum ini gagal masuk game musik developer lain.

Bolehlah ia disebut egosentris. Secara subjektif, dari tiga lagu, dua lagu itu memang yang paling disukainya. Judulnya, Landscape dan 800nm.

Tombol shutdown diklik ketika email sudah terkirim.

.

Iwaizumi sedang bengong di balkon apartemennya, memandangi Tokyo yang mulai diselimuti salju. Ia nyaris menumpahkan kaleng bir yang sedang digenggamnya ketika ponselnya berdering berkali-kali. Merutuk sebelum mengambil ponselnya dari saku celana.

Oikawa mengirimi banyak pesan melalui L1N3. Sesaat layar ponselnya nge-freeze, lagi-lagi merutuk. Simpang tiga muncul di pelipisnya,Oikawa mengirim puluhan stiker, benar-benar kurang kerjaan. Lebih kurang kerjaan lagi, Iwaizumi men-scroll seluruh pesan Oikawa. Iwaizumi masih belum ngeh, seluruh stikernya bertema sama; memberi ucapan selamat dan gembira dan sebagainya.

Pesan Oikawa yang terakhir adalah sebuah video. Hasil screen-record dari ponsel milik Oikawa. Menampilkan user-interface dan gameplay futuristik yang didominasi warna hitam dan hijau toska. Iwaizumi menyimpulkan, itu berasal dari sebuah rhythm game. Yang tidak diyakininya, Iwaizumi mendengar dua lagu karyanya saat memutar video itu.

Hajime Iwaizumi:
JANGAN KIRIM SPAM STIKER
Dan
Apa itu, Kusoikawa?

Tooru*Oikawa:
Ah, Iwa-chan ini tidak seru
Tentu saja harus pakai banyak stiker
AKHIRNYA, IWA-CHAN!
INI LUAR BIASA

Hajime Iwaizumi:
Hah

Tooru*Oikawa:
Otak Iwa-chan yang pas-pasan itu nggak bisa mencerna informasi dengan baik ya

Hajime Iwaizumi:
Berikan aku alamat tempat tinggalmu, kuhajar kau sekarang juga

Tooru*Oikawa:
Iwa-chan nggak usah pakai modus deh. Pengen ketemu ya bilang aja =P

Hajime Iwaizumi:
KUBUNUH KAU

Tooru*Oikawa:
How brute
, Iwa-chan
Tidak boleh pakai kekerasan, nanti kuadukan sebagai KDRT lho

Hajime Iwaizumi:
Ah sudahlah
Simply block Tooru*Oikawa's L1N3 account

Tooru*Oikawa:
JANGAN
OKE KUBERITAU

Iwaizumi tidak membalas, hanya menunggu Oikawa yang sedang mengetik penjelasan.

Tooru*Oikawa:
Dua lagu Iwa-chan, Landscape dan 800nm, diterima oleh c4neko!
BERHASIL, IWA-CHAN!
Kalau nggak percaya, silahkan download versi terbaru game Dynamic
aku berani bertaruh, Iwa-chan bahkan nggak tau gamenya

Hajime Iwaizumi:
Oi, kuberitau ya
Tidak usah sampai berbohong demi menghiburku

Tooru*Oikawa:
IWA-CHAN
AKU
SERIUS
Iwa-chan nggak nge-cek email ya?

Hajime Iwaizumi:
Jadi, ini sungguhan?
Bukannya deadlinenya 31 Desember?

Tooru*Oikawa:
Harus kubilang berapa ratus kali, Iwa-chan
AH LUAR BIASAaaaa
Dimajukan jadi 1 Desember karena entry sudah terlalu banyak.

Iwaizumi terdiam. Ia menahan diri agar tidak berteriak. Sudah lama sekali sejak dirinya merasa sesenang ini. Berkali-kali menggigit bibirnya demi meredam senyum lebar.

Tooru*Oikawa:
Iwa-chan harus cek forum rhythm gamers.
Tooru*Oikawa sent a photo

Seketika Iwaizumi mengingat segalanya. Ketika kali pertama ia meniti anak tangga sebagai musisi lepas, Dunia tidak selalu berada di pihaknya. Tetapi saat itu, ia memiliki teman-teman satu bandnya. Mereka yang dilarang keras oleh orang tua, hingga salah satu penolakan datang dari orang tua Iwaizumi sendiri; tidak memberi uang sepeserpun kepada putra semata wayang mereka. Hanya dengan harapan anak mereka akan menyerah karena tidak bisa membayar biaya sewa studio musik. Iwaizumi tersenyum saat mengingat semuanya. Separuhnya heran bagaimana dirinya dulu bisa mempertahankan pendiriannya. Orang tua yang melarang, pada akhirnya menyerah. Mereka bahkan mendukung dan memfasilitasi hobi yang dahulu mereka bilang-tidak-ada-gunanya. Studio musik miliknya kini, adalah bukti kekeras kepalaan seorang Iwaizumi Hajime.

Tooru*Oikawa:
Iwa-chan?
Kok cuma diread?

Senyum ketir, Iwaizumi hanya membaca pesan Oikawa. Dulu, meskipun Dunia berada di sisi yang berlawanan dengannya, setidaknya Iwaizumi memiliki rekan yang berdiri di jalur yang sama. Namun, rekan itu juga tidak sepaham dengannya. Mereka pergi, berbalik arah dan memunggungi Iwaizumi.

Dunia selalu berseberangan dengannya. Selalu seperti itu.

Tooru*Oikawa:
IWA-CHAN!
Sudah kubilang, cek forum rhythm gamers, di facebuk atau manapun lah
Tooru*Oikawa sent a photo
Jangan seenaknya berspekulasi lalu menyimpulkan sendiri!

Tooru*Oikawa:
SETIDAKNYA BUKA GAMBAR YANG KUKIRIMI!
Tooru*Oikawa sent a photo

Mau tidak mau, Iwaizumi memang harus menghadapi Dunia. Harusnya ia sudah menyiapkan diri untuk berada di sisi yang berseberangan, sudah terbiasa menjadi minoritas. Tapi ia tidak pernah menduga akan mendapat respon yang seperti sekarang.

Hajime Iwaizumi:
Ini sungguhan?

Tooru*Oikawa:
Iwa-chan, itu faktanya. Haruskah aku mengirim puluhan screenshot ini padamu?
Mereka mendukungmu
Mereka menyukai musikmu.

Hajime Iwaizumi:
Bisa saja kau membuat banyak akun lalu berkomentar baik tentang musikku

Tooru*Oikawa:
Iwa-chan, aku ini orang sibuk

Hajime Iwaizumi:
Iya, saking sibuknya, kau marathon nonton film sci-fi yang berisi alien-alien menjijikkan itu setiap malam minggu.
Belum lagi yang film dokumenter.

Tooru*Oikawa:
I-I-ITU HANYA KARENA AKU SEDANG MALAS KELUAR
Iwa-chan tau kan, sekarang sudah mulai hujan salju.
Tooru*Oikawa sent a sticker

Iwaizumi tak akan pernah tau. Oikawa tidak pernah masuk forum rhythm gamers. Tidak pernah peduli tentang Dunia yang selalu membicarakannya, ataupun apa yang dibicarakan oleh Dunia tentangnya. Hari itu adalah kali pertama Oikawa blusukan ke forum. Iwaizumi tidak pernah sadar, ada segelintir orang yang rela melakukan apapun demi melindunginya; Matsukawa, Hanamaki, dan Oikawa.

Seharusnya Iwaizumi tidak sebangga ini, tidak sebersyukur ini. Dirinya hanya seorang musisi kecil yang tidak dikenal. Mungkin bagi musisi lain, pencapaiannya ini bukanlah apa-apa. Tapi bagi dirinya sendiri, diterima khalayak itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak pernah ingin menjadi terkenal, atau menjadi profesional.

Oikawa Tooru selalu berhasil membesarkan hatinya. Mungkin Oikawa dikirim oleh orang tuanya, menggantikan posisi mereka untuk menjaga Hajime.

.

Iwaizumi masih tidak percaya, saat tahun baru, ia menerima email dari c4neko. Isinya tentang Iwaizumi yang diundang sebagai pengisi acara di live tahunan mereka. Banyak orang yang ingin Iwaizumi mengisi live itu, sehingga Iwaizumi yang terhitung newbie bisa diundang mengisi live. Dan, ya, mana mungkin Iwaizumi menolak.

Terakhir kali ia berada di live house, ia bukan pengisi acara. Tapi sekarang dirinya adalah salah satu dari mereka. Apalagi ini adalah kali pertama Iwaizumi berdiri sendirian di atas panggung. Tidak ada rekan, murni bertarung sendirian.

Mengingat ia baru memasuki dunia komposer game musik, Iwaizumi tidak terlalu mengenal rekan sejawatnya. Ia ragu, hendak menyapa lalu ikut nimbrung dengan komposer lain, atau bagaimana. Akhirnya Iwaizumi memilih berkutat dengan ponselnya selagi menunggu. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan groginya. Live pertama setelah sekian lama hiatus. Oke. Live pertama. Sendirian.

"Dasar Hinata-boge!"

Atensi Iwaizumi terpaksa terdistraksi karena suara teriakan dan hantaman keras. Seorang lelaki tinggi dan berambut hitam klimis baru saja menyambit dan mendorong seorang... Anak SMP? Tingginya 160-an cm, dengan surai oranye yang berantakan dan mencuat kemana-mana–memang tak mencuat setinggi rambut Oikawa DAN KENAPA MALAH JADI TERINGAT MAKHLUK YANG SATU ITU. Si-rambut-berantakan jatuh terduduk di lantai sambil mengusap belakang kepalanya. "Aduh, kenapa sih!? Aku 'kan cuma bilang kalau seharusnya Raja itu pakai mahkota, bukannya yang kau pakai sekarang!"

Iwaizumi melihat sebuah topeng–atau apapun itu–yang dibanting ke lantai oleh Si Jangkung-yang-berpakaian-serba-hitam. Ia menarik paksa kerah pakaian Si Kerdil. Berteriak, "Berani bilang soal Raja dan Mahkota lagi, kubunuh kau saat itu juga."

Tanpa sempat berpikir mengenai resikonya, Iwaizumi yang tadinya mengalami socially-awkward dan agak demam panggung malah menghampiri dua orang yang potensial saling bunuh itu. Ia berusaha melerai mereka berdua yang mulai saling memukul.

Jadi pahlawan memang tidak pernah mudah. Berkali-kali pukulan kedua orang itu malah nyasar ke bahu dan lengan Iwaizumi. Rupanya dua orang ini benar-benar keras kepala.

Tidak ada pilihan lain, Iwaizumi menghantamkan kepalanya ke kepala dua orang itu. Dahinya memerah, kepalanya pusing. Tapi setidaknya ia berhasil menghentikan aksi dua orang tadi.

Si Jangkung memegangi puncak kepalanya, sedangkan Si Kecil mengelus dahinya berulang kali. Iwaizumi diam memerhatikan mereka, "Maafkan aku, kalian tidak mau dilerai."

Mendengar Iwaizumi yang meminta maaf karena kesalahan mereka, Si Jangkung bangkit, menunduk hingga membentuk sudut sembilan-puluh derajat, "Maafkan aku!" Ia menoleh ke Si Kecil yang masih terlihat kaget, "Kau juga, bodoh!"

Seketika Iwaizumi dibuat kikuk karena berhadapan dengan dua orang yang melakukan ojigi di depannya. Ia berusaha membuat mereka berdua menghentikan hal itu.

"Kalian berdua, hentikan. Lagipula aku sendiri yang melibatkan diri untuk melerai kalian."

"Maafkan kami."

"Aku Iwaizumi, well, nama panggungku BusyBeetle. Kurasa kalian tidak kenal aku," Iwaizumi mengelus tengkuknya. "Kalian?"

"A-Aku Hinata Shoyo!" sahutnya cepat, memotong perkataan si Jangkung yang berniat menjawab Iwaizumi lebih dulu. Mulut Hinata dibekap.

"Tolong abaikan si Bodoh ini. Aku Kageyama Tobio." Si Jangkung mengulurkan tangannya, yang disambut baik oleh Iwaizumi.

Hinata berhasil lepas dari cengkeraman Kageyama, "Iwaizumi-san adalah BusyBeetle?"

"Dua lagu di update Desember kemarin ya? Landscape dan 800nm. Aku suka lagunya, terutama 800nm. Jarang ada EDM yang klop dengan gitar, terlebih dengan efektor gitar yang dipakai oleh Iwaizumi-san." Kageyama meraih (lagi) tangan Iwaizumi, matanya berkilat kagum, "itu keren sekali!"

Hinata memukul tangan Kageyama yang berjabatan dengan Iwaizumi, "Pergi sana, lagipula aku duluan yang tau lagu Iwaizumi-san, kau kan taunya karena aku!"

Dan dimulailah acara pukul-memukul antara Kageyama melawan Hinata. Memangnya kalau memang akrab, mereka masih harus bertengkar seperti ini? Lalu Iwaizumi menghela nafas, membiarkan dua orang itu lagi-lagi melakukan adu mulut dan sedikit baku hantam.

Kegugupan Iwaizumi menghilang, seiring dengan pening di kepalanya yang juga perlahan berkurang. Setengah jam lagi sebelum live dimulai.

.

"Apa!? Live nya sudah selesai!? Arghhh! Aku ingin lihat livenya Iwa-chan, padahal. Dasar praktikum sialan."

Tanpa sadar senyum tipis terulas di bibir Iwaizumi, "bodoh. Kan ada rekaman livestream. Kau boleh nonton di tempatku. Praktikumnya sudah selesai kan?"

Oikawa berbinar di seberang telepon, "Benarkah!? Oke, setelah beres-beres aku langsung ke apartemen Iwa-chan." Ia menggerutu lagi, "SYUKURLAH sudah selesai, tapi kesal sekali. Memangnya gampang, ya, nyari otak sapi beserta batang otaknya yang masih utuh."

Setelah telinganya kebas dan lelah mendengar Oikawa mengoceh dan mengeluh tentang segala-hal-yang-terjadi, sambungan telepon diputus sepihak oleh Iwaizumi. Lagipula dirinya sudah terlalu menarik perhatian, berjalan sambil menelpon dan berteriak dan marah-marah–semua karena Oikawa, percayalah. Tanpa pikir panjang, ia berbelok ke swalayan. Setelah membeli beberapa cemilan dan bir, Iwaizumi segera melanjutkan perjalanan pulang.

"Tadaima."

Kantung plastik berisi makanan ringan diletakkan di meja makan. Jaket disampirkan asal ke sandaran kursi. Waktunya pergi mandi.

Rambutnya separuh basah saat ia keluar dari kamar mandi. Berharap Oikawa belum sampai apartemennya–ia keluar hanya berbalut selembar handuk yang melingkari pinggangnya.

Setelah berganti pakaian, Iwaizumi mengambil laptopnya dari tas. Ditenteng menuju ruang tengah, diletakkan di atas sofa. Televisi 32inch dinyalakan bersamaan dengan proses booting laptopnya.

Iwaizumi mengunduh video livestream tadi siang. Sekalian untuk kenang-kenangan. Selagi menunggu rampungnya pengunduhan, Iwaizumi mencari kabel HDMI. Berniat menonton melalui televisinya–lebih nyaman, lagipula hendak ditonton berdua. Memang lebih merepotkan, tapi setidaknya ia juga merasa bersalah karena Oikawa tidak bisa melihat livenya secara langsung. Anggaplah dia berusaha membalas jasa orang yang secara tidak langsung telah ikut andil dalam kembalinya Iwaizumi ke panggung.

Iwaizumi sudah menyamankan duduk di ruang tengah. Sebungkus torilla chips hampir tandas seluruh isinya. Oikawa menerobos masuk sambil bersenandung riang. Iwaizumi memang sengaja tidak mengunci pintu apartemennya. "Ojamashimaaaasu~"

Oikawa sudah tau Iwaizumi berada di ruang mana. Mempercepat langkah kakinya, setengah berlari, dengan sengaja menubruk Iwaizumi yang sedang duduk menonton televisi. "Iwa-chan!"

Iwaizumi hampir tersedak keripik yang sedang ia kunyah. Ia men-deathglare Oikawa yang hanya merespon dengan, "te-he~"

Meski sudah diberi isyarat bahwa dirinya terganggu, Oikawa masih saja duduk berdekatan dengan Iwaizumi. Mulanya ia biasa saja, sebelum Oikawa berkomentar, "Iwa-chan wangi, habis mandi ya?"

Iwaizumi hampir terlonjak karena komentar itu. Sesegera mungkin ia bangkit dari kursi, membiarkan Oikawa yang memprotes.

"Aku juga mau mandi, ah. Mumpung belum terlalu malam."

"Yang benar saja. Ini bukan rumahmu. Cepatlah selesaikan nonton livenya." Sambil melemparkan bantal ke wajah Oikawa.

Begitu tombol play ditekan, Oikawa tidak lagi banyak bergerak. Ia mengunyah makanan ringan yang tadi dibeli Iwaizumi tanpa komentar. Iwaizumi tersenyum simpul.

Live yang diadakan tadi siang, sebetulnya melibatkan banyak musisi newbie dalam segi pengalaman game music. Belum genap lima tahun sejak game pertama c4neko dirilis ke pasaran. Game itu pun tidak terlalu populer jika dibandingkan dengan beberapa mobile rhythm game lain. Mungkin Oikawa diam karena dia tidak banyak tau tentang performers' hari ini.

Mostly, musisi yang diundang ke live semacam ini, hanya melakukan DJ performance. Baik itu lagu mereka sendiri maupun mash-up lagu dari musisi lain. Sangat jarang ada kesempatan melakukan real-performance–seperti yang dilakukan oleh Oikawa di live Imagine You Can Fly! Beberapa minggu yang lalu.

Iwaizumi gugup saat wajahnya muncul di layar televisi. Membatin, Semoga aku tidak tampak konyol, tapi itu sudah sangat terlambat.

Layar itu menampilkan Iwaizumi yang berkutat dengan laptop, turntable dan sebuah CDJ. Orang awam biasanya berpikir, 'Sebenarnya orang itu sedang apa?' ketika melihat seorang DJ yang seperti tidak melakukan apa-apa. Intinya, DJ mengkombinasikan tracks atau clips, menambahkan efek, mengatur BPM, hingga lagu itu berubah total dari lagu aslinya. Pada dasarnya, semua hal bisa dijadikan sample untuk DJ-ing.

Dan, ya, yang paling penting dari DJ-ing adalah drop dan transisinya, hingga pendengar tidak sadar jika lagu sudah berganti. Oikawa berkilat antusias.

"I-Iwa-chan terlihat keren sekali!" Oikawa melompat girang. Kedua tangannya melayangkan tinju ke udara. Ia berhenti saat Iwaizumi menyambitnya dengan bantal. "Tapi alienSWAG tetap yang terkeren."

Iwaizumi pamit undur diri dari atas panggung. Layar LED itu menampilkan sosok lain. Lelaki tinggi–terlihat jelas dari posturnya yang jauh lebih tinggi dari seorang pembawa acara yang muncul setelah Iwaizumi turun dari panggung. Lelaki itu mengenakan topeng berbentuk kepala gagak. Topeng itu dilepas saat ia sampai di bagian tengah panggung, berada tepat di belakang peralatan DJ yang akan digunakan. Lho, Kageyama? Iwaizumi spontan mengelus bahunya yang tadi kena pukulan nyasar dari sosok yang sekarang muncul di televisinya.

"O-Ossu. Aku Kageyama, ini pertama kalinya aku tampil tanpa pakai topeng ini," respon audiens sayup-sayup mulai terdengar. Iwaizumi tak tau jika ada kejadian seperti ini–tadi dirinya sudah di backstage. "Kurasa kalian lebih mengetahuiku sebagai King of EDM."

Iwaizumi terkejut. Jadi yang tadi siang membuatnya repot adalah King of EDM? Yang fenomenal itu? Oke, sebenarnya dirinya sendiri yang mencelupkan jari ke permasalahan dua orang tadi. Iwaizumi menoleh saat ia mendengar Oikawa yang nafasnya tidak beraturan. Itu terjadi tiba-tiba sekali. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia melompat-lompat antusias.

Syok–itu terlihat jelas sekali di wajah Oikawa. Tatapannya kosong, masih melihat ke arah televisi. Ia mundur beberapa kali.

"Oikawa?"

Tidak ada respon. Iwaizumi beberapa kali menjentikkan jari, tapi Oikawa masih tidak bergeming. "Oi, Oikawa!"

"Yang benar saja!? Ini tidak mungkin." Oikawa menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Dia? Bocah sialan itu? King of EDM?"

Iwaizumi merasa ada yang tidak beres. Ia menepuk pundak Oikawa. Spontan ia menepis tangan Iwaizumi. Ekspresinya semakin buruk; takut, kaget, marah. Tangan yang baru saja menepisnya, kini terlihat gemetar dan mengepal kuat-kuat. Oikawa membuang muka ke arah lain.

Jelas sekali ada yang tidak beres dengan makluk yang biasanya berisik ini. Iwaizumi terlalu bodoh untuk tidak peduli.

"M-Maaf, Iwa-chan, aku nggak bisa menceritakannya sekarang. Aku pulang, ya."

Oikawa berdiri, memasang jaket tebal dan menenteng tasnya. Tidak berkata apapun, tetap menutup pintu apartemen Iwaizumi dalam kesunyian.

.

Terlepas dari profesi sampingannya sebagai komposer, Oikawa hanya mahasiswa seperti pada umumnya. Dijejali tugas, tugas, dan tugas. Mungkin ia memang punya banyak fans, tapi Oikawa bukan seorang entertainer apalagi selebriti. Hanya mahasiswa yang menggemari dunia musik.

Setumpuk tugas paper, presentasi, review jurnal, laporan praktikum, dan tugas lainnya. Belum lagi berbagai laporan pertanggungjawaban untuk organisasi yang diikutinya. Punggungnya sudah kebas karena terlalu lama membungkuk di depan laptop. Matanya perih, kacamata baca tidak lagi membantu menghalau lelahnya berjam-jam memelototi laptop. Sungguh, ia hanya butuh tidur.

Keduanya duduk bersebelahan, terus berbincang seperti tidak pernah ada kejadian setelah live pertama Iwaizumi. Tentu saja, ia sangat ingin tau apa yang terjadi antara Oikawa dan Kageyama. Tapi Iwaizumi tidak akan bertanya apapun tentang Kageyama. Ia cukup peduli, memberikan ruang bagi Oikawa. Cukup percaya jika Oikawa akan bercerita dengan sendirinya, seperti dirinya yang tiba-tiba bercerita banyak hal pada Oikawa.

Ini sudah kali kesekian Oikawa merusuh ke apartemen Iwaizumi, terhitung dari kejadian yang menyangkutpautkan Kageyama. Sesekali Oikawa datang untuk berlatih–ia sudah diperbolehkan memasuki teritori studio mini, pun tempat itu menjadi tempat favorit Oikawa. Sesekali untuk menumpang istirahat jika ada jadwal kuliah yang rentang waktunya cukup jauh. Sesekali murni hanya untuk mencari Iwaizumi.

Masih ada dua tugas paper yang bahkan belum terjamah. Terpikir judul saja belum, sedangkan deadlinenya lusa. Oikawa berteriak frustasi, sehingga pelipisnya jadi korban lemparan penggaris siku berbahan metalik milik Iwaizumi.

Lembaran jurnal dengan topik sekitaran Psikologi Politik hanya ia bolak-balik. Ia terlalu suntuk, berkali-kali dibaca pun, Oikawa tetap gagal mendapat informasi penting dari jurnal itu. Terkutuklah jurnal Bahasa Inggris yang ada di seluruh dunia. Seandainya tugas-tugas ini sudah lenyap, dirinya bisa bergelung di bawah kotatsu, kalau bisa dengan semangkuk sup miso dan segelas teh hijau. Ini sudah awal Pebruari, tapi musim dingin belum menampakkan belas kasihnya.

Oikawa memaksa dirinya melakukan multi-tasking, satu tangan memegang lembaran jurnal, sedangkan tangan yang lain mengetik laporan. Iwaizumi di sebelahnya, sedang menebali gambarnya menggunakan pena khusus. Ia juga multi-tasking, saat sudah lelah menulis laporan praktikum, ia akan melanjutkan tugas gambar teknik yang lain. Ia sudah muak melihat tinta biru, terlebih di atas lembaran polos hvs. Sejak mereka memasuki akhir semester empat, tugas semakin membantai brutal.

Oikawa bersin. Kepalanya pening, jarang sekali. Suhu tubuhnya memang sedikit meninggi belakangan ini. Walaupun ia sudah memakai sweater, tampaknya belum mampu menghalau dinginnya udara. Oikawa yang biasanya bersenandung saat sedang memutar musik dari laptopnya, hari ini diam. Berkali-kali ia menggosokkan kedua telapak tangannya.

Jika bukan karena badai salju, ia tidak akan diperbolehkan menginap di apartemen Iwaizumi. Ia membayangkan dirinya berjalan kaki di tengah kota yang diselimuti salju tebal. Jarak dari kampus ke stasiun sekitar satu setengah kilometer. Sedangkan jarak dari stasiun ke apartemennya hampir dua kilometer. Lebih baik ia tidak banyak mengeluh, sudah beruntung ia bisa bermalam di apartemen Iwaizumi. Seharusnya ia bisa menyelesaikan tugas-tugas sialan ini.

Iwaizumi bangkit. Oikawa tidak memperhatikan ke mana ia pergi. Ia sudah terlampau fokus mengerjakan review jurnal. Beberapa menit kemudian, ia mendengar suara denting gelas dan apapun-itu yang berbahan aluminium. Barulah ia berasumsi Iwaizumi sedang merasa lapar.

Oikawa menoleh saat pipinya disentuh. Ia mendapati Iwaizumi berdiri di belakangnya, membawa satu mug yang masih mengepul. Mug itu disodorkan ke arah Oikawa. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. "Makasih, Iwa-chan."

Ia berspekulasi. Apakah Iwaizumi memang mengetahui dirinya sedang kedinginan (meskipun seharusnya sudah cukup baik karena ia berada di kotatsu) dan butuh sesuatu yang hangat? Oikawa tau Iwaizumi memang orang yang memiliki kepedulian tinggi. Tapi, ya, apa salahnya berharap?

Iwaizumi tak lagi duduk di sebelahnya, sekarang mereka berhadap-hadapan. Oikawa baru menyadari jika Iwaizumi hanya memakai kaus panjang berwarna mahogany yang lengannya digulung asal. Lagi-lagi ia menenggak minuman beralkohol.

"Iwa-chan, aku tidak tau harus senang atau yang lain. Kau sengaja membuatkanku coklat panas agar aku tetap hangat. Tapi kau sendiri malah minum alkohol lagi?"

Oikawa memicingkan mata ke arah botol kaca, ia melotot ketika mendapati tulisan kadar alkohol yang jauh lebih tinggi dari yang terakhir kali–setidaknya yang Oikawa tau–dikonsumsi oleh Iwaizumi. "Berhentilah, Iwa-chan! Kau menghancurkan dirimu sendiri!"

Oikawa merangkak ke arah Iwaizumi, lalu merebut botol kaca itu dan menyembunyikannya di balik punggung. Botol itu jauh lebih dingin dari yang ia duga. "Oikawa. Kembalikan."

Iwaizumi berdiri, berusaha merebut kembali botol itu. Oikawa berlari ke ruangan manapun yang ia bisa. Selagi Iwaizumi tidak dapat menjangkaunya. Oikawa naik ke sofa. Persetan dengan pencahayaan yang minim, yang penting ia tidak berada pada jangkauan si pemilik apartemen. Oikawa mengayunkan botol itu di atas kepala Iwaizumi. "Tidak akan kuberikan, kecuali Iwa-chan berjanji akan berhenti minum alkohol saat sedang stress berat."

Alis Iwaizumi naik sebelah, mulai kesal dengan permainan bocah ini, "memang apa urusannya denganmu. Jangan ikut campur."

Oikawa merasakan firasat buruk. Iwaizumi tampak seperti akan melompat ke arahnya–dan jika itu terjadi, maka ia pasti kalah dalam pergelutan merebut botol minuman keras ini. "Kalau Iwa-chan mendekat lagi, botol ini akan kupecahkan." Oikawa memasang mimik mengejek ala anak SD dan ia berkali-kali menjulurkan lidah.

Tampaknya ancaman itu ampuh. Iwaizumi tidak lagi memasang kuda-kuda atau pertanda bahwa ia akan melompat. Iwaizumi berdiri, tetap mendongak, menyilangkan kedua tangan di depan dada. Ia tidak terprovokasi dengan ejekan Oikawa. "Apa maumu."

Merasa sudah aman, Oikawa turun dari sofa. Ia menatap Iwaizumi sambil memeluk botol kaca yang dingin. Tetap waspada barangkali Iwaizumi tiba-tiba menyerang.

Iwaizumi menghela nafas berat. Ia mendudukkan dirinya di sofa, merilekskan diri. "Duduklah. Mari bernegosiasi. Kepalaku sudah sakit sekali, biarkan aku minum dua atau tiga gelas lagi."

Beberapa menit ia terdiam, memikirkan sesuatu yang cukup pantas untuk ditawarkan dalam negosiasi. Well, mungkin ini tidak pantas, tapi ia sangat penasaran.

"Kalau Iwa-chan mengizinkan aku minum ini," botol kaca diangkat sejajar dengan wajahnya, "maka aku akan mengembalikan botol ini kepada Iwa-chan."

Iwaizumi berlalu. Tindakannya sudah sangat lantang menjawab permintaan Oikawa.

"Aku sungguh tidak percaya, orang seperti kau belum pernah menenggak setetespun minuman beralkohol." Iwaizumi mengambil dua gelas tinggi dari kabinet dapur. Bunyi gelas beradu dengan meja kaca membunuh keheningan diantara mereka.

"Kau serius? Harusnya kalau kau ingin mencoba, jangan minum yang ini. Kadarnya tinggi, Shittykawa." Iwaizumi memastikan kembali, sedikit berharap Oikawa hanya bercanda. Semakin cemas ketika Oikawa tanpa ragu menuang isi botol ke dalam gelas.

Setiap detail gerakan diikuti oleh Iwaizumi. Matanya tak bisa lepas memandang Oikawa. Burnt sienna itu balas menatapnya. Sama tajamnya dengan saat ia serius bergelut dengan alat musik. Iwaizumi terseret arus, salah satu gelas itu diambilnya.

"Cheers."

Suara tegukan, berasal dari Iwaizumi sendiri. Oikawa belum menenggak isi gelasnya–hanya dipandangi, bibir gelas sudah sangat dekat dengan bibirnya sendiri. Dalam keheningan itu, suara nafas keduanya bersahutan.

"Baik, aku siap."

Oikawa memejamkan mata. Gelas kembali didekatkan ke bibirnya. Perlahan, ia menenggak likuid berwarna keemasan.

"Uhuk!"

Ia hampir tersedak–hampir saja menyemburkan minuman itu ke wajah Iwaizumi. Sebagian likuid itu mengalir keluar. Oikawa mengelap ujung bibirnya dengan punggung tangan. Tisu yang diberikan Iwaizumi ditolak mentah-mentah.

Bagaimana bisa Iwa-chan bertahan meminum sesuatu yang seperti ini!?

Luar biasa pahit. Detik saat minuman itu menyentuh tenggorokannya, rasanya panas. Seperti terbakar. Pantas saja ia langsung terbatuk ketika hendak menelannya.

Ia tidak akan kalah dari minuman seperti ini. Oikawa berusaha menenggak sisa isi gelas tanpa tersedak. "Urgh, pahit." Tapi tangannya terulur meminta tambah lagi.

Iwaizumi terkekeh. "Tentu saja, bodoh. Pemula 'kok minum kadar tinggi."

"Iwa-chan, tambah segelas lagi."

Oikawa merasa sedikit linglung. Kepalanya terasa berat. Gelas kosong terus disodorkan ke Iwaizumi.

"Oi, berhenti. Kau sudah minum empat gelas. Yang benar saja."

Oikawa mencoba meraih botol minuman keras yang dijauhkan darinya. Tubuhnya condong ke arah Iwaizumi yang hampir tertimpa Oikawa. Ia menghindar tepat sebelum Oikawa mendarat di sofa. "Minggir!"

Buru-buru ia berjalan ke dapur, meletakkan kursi di atas meja, dan berdiri di atas keduasnya. Botol itu diletakkan di atas lemari kabinet dapur. Setidaknya Oikawa butuh usaha berlebih. Iwaizumi hendak turun dari kursi, sayangnya Oikawa sudah ada di belakangnya. Kursi kayu digoyangkan berkali-kali oleh Oikawa. "Berikan botol itu, Iwa-chan!"

"WOY JANGAN BERCANDA! KUBUNUH KAU KALAU AKU JA–"

Kursi kayu menghantam ubin lantai. Iwaizumi jatuh menindih Oikawa. Saling bertatapan, burnt sienna yang sama dalamnya. Sayu, dengan semburat merah mewarnai pipi kenyal Oikawa. Iwaizumi gagal memproses apa yang terjadi selanjutnya.

Lengan Oikawa terkalung kuat di lehernya. Terkejut dengan sensasi gesekan bibirnya yang kasar–tentu saja, ia bukan perempuan–dengan bibir Oikawa yang setengah basah. Iwaizumi sepenuhnya sadar, tapi tidak berniat melepaskan pelukan Oikawa.

Tak tau siapa yang lebih dahulu memagut, kecupan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih jauh. Iwaizumi menyelipkan tangannya ke belakang kepala Oikawa. Tengkuknya diremat samar, Oikawa melenguh. Mereka tidak lagi saling memandang.

Malam itu, Iwaizumi menemukan sesuatu yang lebih adiktif dan memabukkan daripada seluruh hal yang pernah ia cicipi.

.

C4neko itu plesetan dari developer game bernama C4Cat. Dynamic itu plesetan dari judul rhythm game mereka, Dynamix.

Soal submission di c4cat, itu beneran ada dan masih berlangsung.

.

TENTU SAJA DAKU PENGEN NULIS IWAIZUMI PAS LIVE. Tapi ya, entah jadi berapa ribu kata nantinya. Simpen dulu ya C":

Ciao! Disini yana. Waktu menunjukkan pukul 3:21 saat daku mengetik ini, my back hurts. ((Niatnya tidur jam delapan malam, but wtf I've never done it, no sleeptime less than 1AM.))

WOHO MASIF. TANPA CELOTEHAN DAKU, BAHKAN SUDAH MENGINJAK 5.1K HAHA. INI APA. Melebar jauuuuuuuuuuuh dari rencana awal. Iya, telat banget apdetnya. Hampir dua bulan dari rencana awal *duesh* Daku berniat apdet setelah Hari Raya, karena aplod samting berbau alcoholism di Bulan Puasa kok kayaknya gimana gitu.

Sayang sekali, fiksi ini gagal twoshot. Kayaknya jadi empat atau lima chapter. Menangis karena imajinasi jadi meluas kemana-mana. Luas banget cakupannya, begitu oneshot dijadiin twoshot, berasa bgt plothole dimana-mana. Dan ini yang terjadi, daku bahkan merencanakan 40% saja dari isi chapter ini. Sisanya udah berbagai tambahan HAHAHAH. Maafkan daku C""":

Terima kasih sudah membaca (juga yang nge-review, nge-fav, nge-follow)! Oh, well, mau jujur. Daku lupa caranya bales review lewat PM, cara yang dulu daku pake kok gabisa *iya cupu*. Feedback, if u don't mind? Jangan ragu buat ungkapin kesan-pesan kalian. Selalu daku tunggu~

Sampai jumpa di chapter berikutnya. Ciao!

.

.

.

05.08.2016 | white poppies, yana.