MISTAKE & LOVE

Cast

Kim Heechul

Han Geng

Choi Siwon

Other cast

Lee Hyukjae

Lee Donghae

Leeteuk

Jungmo

(real story belong to LadyVampAsia)


Botol minuman keras yang diletakkan sembarangan diatas meja akrilik hitam ditemani gelas-gelas yang sudah kosong, bau alcohol sangat terasa di sana, alunan music yang keras tak mengganggu seorang pria bermata besar seperti kucing yang kini tengah kembali meneguk segelas minuman, tatapannya kosong dan tidak bernyawa.

Dia kembali menuangkan minuman kegelasnya, jari-jari rampingnya memegang gelas dan membawanya ke bibirnya lalu meneguknya kembali hingga tak tersisa. Setiap tegukan terasa sangat menyiksa tenggorokannya, tapi dia terus kembali meminumnya.

Rasa sakit dihatinya tak sebanding dengan rasa sakit fisiknya. Duduk di bar dan menghabiskan sepanjang malam dengan bermabuk-mabukan sudah menjadi ritual baginya. Awalnya dia pergi dari satu bar ke bar lain, mencoba minuman alcohol lain dan berganti-ganti teman pria setiap harinya. Tapi sekarang dia menemukan bar yang nyaman untuk dia kunjungi setiap malamnya.

MnD club adalah sebuah bar kumuh dari luar dan terihat mewah di dalam. Dekorasi ruangan yang gelap dan elegan, dindingnya dicat warna biru, kursi-kursi berwarna silver yang tertata rapi ditemani meja akrilik hitam. Lampu Kristal yang menggantung dengan indah di langit-langit bar. Pelanggan club ini biasanya adalah pengusaha yang putus asa, pasangan muda, dan jiwa yang hilang, seperti dirinya, Kim Heechul.

Heechul menjentikkan jarinya, mengisyaratkan agar bartender memberinya 1 botol soju lagi. Dia baru saja menghabiskan 2 botol soju dan dia ingin minum 1 botol lagi. Bartender menatapnya waspada sebelum berbalik mengambil minumannya. Heechul hanya tersenyum sambil mengetukkan jarinya di meja bar.

Malam ini Heechul mengenakan pakaian favoritnya jika dia ingin minum di bar, celana pendek kulit berwarna hitam dengan stocking hitam jaring-jaring yang menutupi kaki indahnya, tidak lupa dia juga memakai heels berwarna hitam. Croptee pink sebagai atasan dan dia menguncir rambut hitamnya kebelakang, menunjukkan tengkuknya yang jenjang. Memakai sedikit eyeliner dimatanya dan lipgloss pink yang berkilauan di bibirnya. Sebenarnya, Heechul tidak biasa berdandan seperti ini, tapi menjadi orang lain kadang hal terbaik baginya.

"Apakah kau seharusnya berhenti minum, Heenim?" ucap bartender sambil meletakkan sebotol soju didepan Heechul, tertulis Leeteuk di nametag nya. "Kau sudah melewati batas malam ini,"

"Aku tidak memiliki batas, kau tahu itu Teuki-ah," racau Heechul. "Jika aku berhenti minum, kau akan kehilangan keuntungan,"

"Jika kau tidak berhenti minum, kau akan kehilangan liver mu," balas Teuki, ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat Heechul minum langsung dari botolnya. "Jika aku tidak salah, kau terlihat seperti ingin membunuh dirimu sendiri perlahan-lahan,"

"Tidak, itu bukan tujuanku," ucap Heechul meyakinkan. "Aku hanya ingin menghilangkan rasa sakit hatiku dengan minuman.

"Tidak, aku takkan membiarkanmu pingsan di bar, itu berbahaya." Bantah Leeteuk

Heechul mendesis mendengar bantahan Leeteuk.

"Lalu Heechul, apa kau sudah menemukan pria baru yang akan kau kencani malam ini?"

Heechul mengerucutkan bibirnya dan memberikan tatapan sinis ke Leeteuk yang langsung meninggalkannya menghampiri pelanggan lain. Heechul turun dari bangkunya dan berjalan terhuyung sambil mencari korban pertamanya malam ini. Jika dia menemukan pria yang bias diajaknya minum, maka ia takkan diceramahi lagi oleh Leeteuk.

"Siapa yang mudah kurayu disini?" Heechul melihat sekeliling bar dan berjalan sambil sesekali terjatuh dan menyenggol meja-meja pelanggan lain.

Heechul melewati lantai dansa dan berpapasan dengan pasangan-pasangan yang kini tengah berciuman mesra sambil menari. Heechul fokus melihat meja yang berada di pojok bar. Heechul tersenyum sendiri sambil berjalan terhuyung, sasarannya adalah seorang pria yang memakai kaos putih dilapisi rompi hitam dan celana jeans berwaran biru tua. Dia memiliki rambut hitam stylish dan memakai kacamata hitam, dia menatap dalam ke minumannya seolah sedang berpikir. Satu-satunya yang memesan minuman berwarna pink dengan paying kecil diatasnya entah dia perempuan atau mungkin dia gay. Setidaknya itulah yang diharapkan Heechul saat ini.

Heechul lalu langsung duduk disamping pria itu dan tersenyum manis. Pria itu menatapnya bingung, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Heechul menemukan keraguan yang membuatnya semakin penasaran dengan pria ini.

"Bagaimana kabarmu malam ini, sayang?" Heechul bertanya dengan suara manis.

"Apakah kau sendirian, sayang?"

"Apa?" Tanya pria itu dengan aksen yang sangat kental

"Apakah kau disini sendirian?" Heechul berbicara lebih keras. "Apa kau bias berbahasa Korea?"

"Ya,"

"Ya apa? Ya kau disini sendirian atau Ya kau bisa berbahasa Korea,?"

"Keduanya."

"Aku pikir kau terlihat kesepian, sayang. Namaku Heenim, jika kau ingin aku melayanimu, aku akan mengenakan biaya," goda Heechul. "Bagaimana sayang?"

"Baik," balas pria itu dengan keyakinan. Dia lalu merapatkan duduknya disamping Heechul. "Dan namaku, HanGeng,"

"Hangeng," ulang Heechul dengan smirk diwajahnya. "Dilihat dari aksenmu, sepertinya kau bukan berasal dari Korea,"

"Aku dari Beijing. Aku sedang dipindahkan ke cabang di Seoul, dan aku tidak tahu banyak orang-orang disini, ini pertama kalinya aku keluar dari apartemenku," jelas Hangeng

"Uughh pria china yang malang," Heechul mengusap pipi pria itu dengan tangan putihnya. "Belikan aku minuman, dan aku akan menunjukkanmu hal yang baik,"

"Baiklah, apa yang kau ingin minum?"

"Apapun. Apa yang kau minum? Itu terlihat enak,"

"Aku tidak tahu," jawab Hangeng sambil mengangkat bahu. "Aku kesulitan membaca menu dan hanya menunjuk asal menu. Aku akan Tanya bartender apa yang baiknya kita minum."

Saat Hangeng berjalan memesan minuman, Heechul menarik napas panjang. Dia tak tahu apakah pria china itu orang baik atau bukan, dia hanya ingin mendapatkan minuman gratis dan sedikit menggoda. Dia memperhatikan Hangeng yang berdiri di meja bartender. "Dia punya pantat yang indah," gumam Heechul sambil menjilat bibirnya.

"Ini, minuman merah muda, sepertinya sesuai dengan penampilanmu," ucap Hangeng yang kembali duduk disampingnya sambil memberikannya segelas minuman.

"Aku mungkin berpakaian seperti wanita, tapi aku ini pria, kau harus sadar itu pria china," goda Heechul dengan senyumannya

"Aku tahu," jawab Hangeng. "Minuman ini gratis, jadi jangan banyak mengeluh, cantik~"

"Walaupun minuman ini tidak gratis, aku akan tetap memintanya, karena kau aku layani maka kau harus membayar semuanya,"

"Aku mengerti itu," kedip Hangeng dan itu membuat Heechul merasa sedikit tidak nyaman

"Jadi, ceritakan tentang pekerjaanmu pria china," Tanya Heechul

"Aku bekerja dengan computer sepanjang hari," jawab Hangeng sambil mengangkat bahu bosan. "Tidak ada yang menarik untuk saya jelaskan, pekerjaan kau jauh lebih menarik,"

Heechul menyeruput minumannya sedikit dan dia menggeram pelan setelah meminumnya. "Terlalu manis," gumamnya

"Rekan kerjaku mengatakan bahwa aku akan menemukan orang sepertimu jika aku mencari club yang tepat, sebenarnya aku tidak terlalu mengharapkan hal itu di malam pertama aku keluar," jelas Hangeng

"Seseorang sepertiku?" Heechul mengerucutkan keningnya. "Apa maksudnya itu?"

"Bukan apa-apa," Hangeng menggeleng pelan

"Aku tahu aku terkadang menakutkan," Heechul tertawa. "Tapi, anak kucing ini bisa jinak. Tenang saja~ jangan gugup. Mari kita berbicara lebih banyak lagi,"

"Baiklah," Hangeng mengiyakan. "Berapa lama kau bekerja disini?"

"Hmm, sekitar 3 tahunan~ ini bukan pekerjaan berkelas, tapi pekerjaan ini sanggup membiayai hidupku dan Heebum,"

"Heebum?"

"Kucingku." Heechul mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar foto. "Aku punya potret dirinya di dompetku. Apa kau suka kucing, pria china?"

"Aku lebih suka anjing," Hangeng mengamati foto kucing abu-abu dengan mata yang besar, "Tapi dia terlihat lucu,"

"Heebum cantik, sama seperti pemiliknya,"

"Kau sangat cantik Heechul," puji Hangeng. "Jadi kemana kau ingin kita pergi hmm?" Hangeng berbisik di telinga Heechul dan itu membuat Heechul bergidik.

"P..Pergi?"

"Apakah aku akan mendapatkan kamar atau kau sudah memesan satu?" tanya Hangeng sambil tangannya mengelus paha Heechul

"Kamar?" Heechul memejamkan matanya saat dia merasakan ada bibir yang menempel di lehernya dan menghisapnya pelan.

Ini adalah pengalaman baru baginya. Biasanya dia hanya bermain mata, senyum nakal dan menari sedikit di lantai dansa. Heechul sangat berhati-hati agar orang yang dia rayu tidak menyentuhnya lebih jauh.

Heechul membuka matanya perlahan, cahaya lampu Kristal yang tergantung di langit-langit terpantul lembut, bibir Hangeng yang terasa hangat di kulit lehernya, tangan Hangeng yang terus membuatnya terlena. Heechul belum pernah melakukan hubungan seks untuk waktu yang lama. Baginya, itu hanya akan kembali mengingatkannya akan kenangan yang menyakitkan.

Tangan di paha Heechul kini menuju ke selangkangannya dan bibirnya semakin berani membuat tanda kemerahan di leher putihnya. Tubuh Heechul terlalu berat untuk digerakkan, pikirannya kabur efek dari terlalu banyak minum. Sentuhan Hangeng terasa hangat dan nyaman, suara lembutnya juga terdengar indah ditelinga Heechul.

Sebelum dia memahami apa yang sedang terjadi, dirinya kini dibimbing keluar melewati lantai dansa dan meja bartender. Heechul melihat sekilas Leeteuk menyiratkan ekspresi setuju. Ini adalah pertama kalinya Heechul meninggalkan bar dengan seseorang.

Heechul mengangkat tangannya yang bebas dan melambai ke Leeteuk dengan senyum mabuk. Heechul tertawa dan memeluk Hangeng, lalu dia terjatuh di depan bar dan duduk di trotoar. Hangeng mengangkat tangannya untuk menghentikan taksi. Hangeng membuka pintu taxi dan membimbing Heechul untuk masuk kedalam taxi.

"Kemana tuan?" sopir taxi bertanya dan Hangeng tergagap saat ia mencoba untuk menjawab, kurangnya pengetahuan tentang Korea membuat hal ini menjadi sulit.

"Kami membutuhkan hotel," Hangeng berhasil menjawab. "Tempat yang bagus tapi tidak terlalu mahal,"

"Aku tahu tempat yang baik tuan," jawab sopir dengan tersenyum. "Ini tidak jauh,"

Hangeng memeluk pinggang Heechul. Itu sulit bagi Heechul untuk memahami apa yang terjadi. Hangeng membawanya ke sebuah hotel, dimana dia akan melakukan hubungan seks. Dan untuk beberapa alasan, Heechul tidak perduli. Mungkin ini sedikit menyenangkan dan mungkin itu yang dia butuhkan saat ini.

Sopir taxi menurunkan mereka tepat di depan hotel dengan lampu merah neon yang berkedip-kedip diluarnya. Heechul menahan tawa saat dia dituntun masuk ke dalam lobby oleh Hangeng. Hangeng terlihat bingung dengan system check in di hotel ini yang menggunakan layar sentuh untuk memilih kamar mana yang diinginkan. Heechul mendorong Hangeng pelan, dan dia yang memilih kamar mana yang akan ditempati mereka.

"50.000 won." Suara mesin berceloteh

"Uang!" titah Heechul. Dia memegang tangan Hangeng dan menuntunnya ke mesin. "Taruh uangnya disini,"

"Baiklah…." Hangeng mengambil uang di dalam dompetnya dan menaruhnya di dalam mesin. Dan keluar kunci kamar dari mesin tersebut.

Kini giliran Heechul yang menarik Hangeng menyusuri lorong hotel untuk mencari kamar mereka. Setelah menemukannya, Heechul menggunakan kunci untuk membukanya.

"Apa jenis hotel ini?" tanya Hangeng saat mereka sudah masuk kedalam kamar dan menyalakan lampu.

Kamar itu dihiasi dengan lampu kristal kecil berwarna merah yang menggantung dilangit-langit. Ada kamar mandi kecil disebelah kanan pintu masuk dan jendela kecil. Ranjang yang terbungkus sutra merah dan gundukan bantal yang berwarna serupa. Heechul melemparkan kunci kamar di meja kecil samping ranjang dan melompat ke ranjang dengan senyum cerah.

"Ini hotel cinta," racau Heechul. Heechul melengkungkan tubuhnya ke belakang, meluruskan otot-ototnya yang dirasa tegang.

"Apa itu hotel cinta?" tanya Hangeng, suaranya terdengar seperti desahan yang samar saat dia melihat tubuh indah Heechul.

"Ini tempat dimana orang akan berhubungan seks," jelas Heechul dengan smirknya. "Jadi, kau akan berdiri disana dan menatapku sepanjang malam, atau kita akan menggunakan kamar ini dengan benar?"

Heechul tertawa sambil mencoba duduk di ranjang. Dia mencopot heelsnya dan membuka croptee pinknya. Kini dia setengah telanjang. Hangeng tak berkedip melihat kulit Heechul.

"Jadi, kau tidak ingin?"

"Tidak, aku akan melakukannya," Hangeng mencopot sepatu dan kaos kakinya. Dia juga melepas rompi dan kaos putihnya.

"Pelan-pelan pria china~ aku akan membantumu melepaskannya," ucap Heechul ketika Hangeng ingin membuka celana panjangnya.

Hechul beranjak dari tempat tidur dan mulai membuka celana Hangeng, menurunkan celananya pelan-pelan dan melemparkannya ke sembarang arah. Heechul mulai menurunkan boxer biru dan menempelkan bibirnya di milik Hangeng. Hangeng terkesiap dan mendesah tertahan.

Hangeng memegang bahu Heechul dan mendorongnya jatuh ke ranjang. Bibir Hangeng kini menciumi leher Heechul dan tangannya menjelajahi seluruh tubuhnya. Heechul hanya terbaring diam, dia lelah, tubuhnya terasa berat dan dia bisa merasakan dirinya kehilangan control.

Heechul memeluk Hangeng dan mengusap punggung kecoklatan milik pria china itu, tangannya gemetar saat dia merasa celana pendek dan celana dalamnya dipelorotkan dan jatuh tepat dilantai. Sebuah erangan keluar dari mulut Heechul saat tangan hangat menekan miliknya dan mengirimkan sejuta kenikmatan pada tubuhnya.

Hangeng mencengkram pinggul Heechul, dan hanya butuh beberapa saat Heechul terkesiap dan mengerang tertahan. Dia merasa Hangeng memasuki dirinya dengan tiba-tiba. Hangeng membalik tubuhnya dan menciumi punggung putih Heechul. Heechul menutup matanya menahan sakit dan membungkam mulutnya sendiri dengan bantal. Pada titik ini dia merasa milik Hangeng memenuhi dirinya, dan itu membuatnya ingin berteriak kesakitan, tapi disatu sisi otaknya berkata lain, tubuhnya merasa nyaman, otaknya ingin Heechul meminta lebih dan lebih.

"Kau baik-baik saja Heechul?" tanya Hangeng, napasnya kini terdengar berat dan panas di leher Heechul

"Aku baik-baik saja pria cina, teruskan~ tunjukkan apa yang kau bisa lakukan untukku,"

Hangeng semakin kuat mencengkram pinggul Heechul. Heechul mengerang keras dan melengkungkan tubuhnya. Hangeng mencium tengkuknya dan menarik diri keluar dari tubuh Heechul lalu membalikkan Heechul menjadi terlentang.

Hangeng menggeser kaki jenjang Heechul dan dia merasa Hangeng perlahan kembali memasuki dirinya. Pelan-pelan Hangeng melakukannya, dia tak ingin menyakiti Heechul, dia mencium lembut bibir Heechul dan membuat jantung Heechul bergetar oleh sentuhan Hangeng yang penuh kasih sayang. Hangeng adalah orang yang lembut, itulah sebabnya Heechul merasa nyaman dengan apa yang mereka lakukan sekarang.

Hangeng merasakan tangan Heechul membelai pipinya. Hanya dengan berbaring dibawah Heechul merasakan sebuah perasaan yang tak menentu. Meskipun sulit bagi Heechul untuk mengakui bahwa dia kesepian.

Heechul menjerit saat Hangeng tepat mengenai sudut sempurna dalam dirinya. Dia mencengkram seprai sutra untuk pelampiasan kenikmatannya. Heechul menutup matanya dan mengerang kembali saat ia merasa Hangeng klimaks di dalam tubuhnya, dan disusul oleh lengkungan tubuh Heechul menandakan dia juga sampai di klimaks.

Heechul membiarkan dirinya mengalah dan memejamkan mata untuk tertidur. Hangeng mengecup bibirnya lembut dan mengucapkan kata-kata manis sebagai pengantar tidur.


Beberapa jam kemudian Heechul terbangun. Kepalanya sangat pusing dan perutnya mual. Seseorang mengetuk keras pintu kamar dan berteriak kepadanya untuk segera meninggalkan kamarnya.

"IYA AKU AKAN PERGI!" teriak Heechul membuat orang itu berhenti mengetuk pintu.

Kamarnya penuh dengan bau seks, punggungnya sakit dan Heechul tak melihat Hangeng dikamar. Saat hendak ingin berpakaian mata Hechul melihat uang yang berada di meja. Setelah berpakaian Heechul mengambil uang yang ada di meja dan menghitungnya. Sekitar lebih dari 500.000 won, dan dia menemukan catatan kecil di antara lembaran uang.

"Maaf aku tidak tahu berapa biaya kau semalam, jadi aku meninggalkan semua uangku disana. Aku harap kau pulang kerumah dengan selamat. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu, atau jika tarifmu kurang nomorku ada dibawah,"

Heechul terus membacanya sampai bawah.

"Maaf sekali lagi, aku tidak pernah menyewa 'pria' sebelumnya. Ini adalah pertama kalinya bagiku."

Hati Heechul merasa sakit saat membacanya. Ia tak berkedip menatap uang yang ada ditangannya.

"Dia pikir aku 'pria' semacam itu…" Heechul merasa kakinya lemas dan dia tak sanggup untuk berdiri, dia memilih menyandarkan tubuhnya di dinding. "Sial, dia pikir aku 'pria' seperti itu,"

^_^ to be continued...