"Tetsuya," desis sebuah suara. "Tetsuya, bangun. Tetsu!"

Dengan satu sentakan, Kuroko membuka matanya, tubuhnya terangkat kaget pada posisi duduk. Wajahnya sedikit mengerut ketika dirasanya sakit menjalar bagai disengat listrik ke seluruh tubuh.

"Hati-hati," sepasang tangan mendorong pundaknya lembut. Kuroko menurut ketika tangan itu membimbingnya untuk kembali berbaring, sesekali diselingi desisan sakit. "Kau akan melukai tubuhmu lagi. Berbaringlah dulu."

Kuroko menolehkan kepalanya sedikit. Ia mengenali suara lembut yang telah membangunkannya itu, namun butuh beberapa saat untuknya memfokuskan kembali pandangannya yang mengabur.

"… Ayah?"

Kuroko mencoba untuk mengucapkannya, namun tak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa begitu kering. Hanya kedua belah bibirnya yang bergerak perlahan, mengisyaratkan tanpa suara bahwa ia tengah mencoba berbicara.

Pria yang duduk di samping tempat tidur Kuroko itu memulas senyum kecil. Rambutnya juga berwarna biru muda, namun yang membedakannya dari istri dan putranya adalah iris cokelat gelap yang sewarna dengan batang kayu basah. Ia juga berkulit pucat, namun postur tubuhnya tergolong tinggi, tak seperti Kuroko. Mimik mukanya lembut dengan sorot mata khawatir begitu ia memandangi putranya yang terluka. Pelan, setetes air mata mengalir menuruni pipinya.

"Terima kasih, Tuhan." Kuroko Haru, ayah dari Kuroko Tetsuya, berbisik lega. "Untunglah kau baik-baik saja."

Remaja itu hanya terdiam ketika ayahnya merendah dan memeluknya lembut, berhati-hati agar tidak menyentuh bagian tubuh putranya yang terluka. Kuroko, mencoba tak menghiraukan rasa sakit pada tubuhnya, mengangkat tangan dan balas memeluk ayahnya seerat yang ia bisa.

"Maafkan aku, Tetsu." Haru berbisik pada telinga putranya. Kuroko bisa merasakan rambutnya basah oleh tetes-tetes air bening yang berebut jatuh.

"Mengapa kau meminta maaf, Ayah?" dengan berat hati, Kuroko melepaskan pelukannya untuk menatap sang ayah. "Ini bukan salahmu…"

Haru menggelengkan kepala. "Ini salahku, Tetsuya. Aku telah menikahi monster itu, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku sungguh tak berguna. Apa yang bisa kulakukan? Ia akan mengklaim hak asuhmu bila aku menceraikannya, dan ayah takkan mungkin membiarkan hal itu terjadi." Sang ayah menarik napas gemetar seraya menyeka air matanya. Diiringi tawa kecil, ia melanjutkan. "Lihat aku, orang tua yang cengeng. Harusnya bukan aku yang menangis, karena kaulah yang paling menderita."

Haru menjulurkan tangan, mencoba meraih putranya. Gerakannya sempat terhenti ketika Kuroko secara otomatis memejamkan matanya, kebiasaan kecil yang muncul karena terpengaruh oleh perlakuan kejam dari sang ibu. Namun toh akhirnya Haru berhasil mendaratkan tangan di atas kepala Kuroko. Dengan lembut, ia mengusap kepala berambut biru muda tersebut.

"Maafkan aku, Tetsuya." Haru berbisik sekali lagi.

"Tolong hentikan, Ayah." Kuroko merah tangan ayahnya, menggenggamnya seerat yang ia bisa tanpa menyakiti tangannya. "Ini semua bukan salahmu. Tolong, jangan lagi mengatakan bahwa semua penderitaanku ini adalah kesalahanmu."

Haru terhenyak mendengar penuturan tersebut. Sesuatu yang berat seolah menimpa dadanya, membuatnya menundukkan kepala, menyembunyikan mata sembab yang kembali mengalirkan tetes air bening di balik poni biru.

Kuroko menggigit bibirnya, ragu ingin mengucapkan sesuatu.

"Apakah ibu… ada di rumah?"

Haru menggelengkan kepala. "Ia sudah berangkat kerja satu jam lalu. Karenanya aku menyempatkan diri untuk merawat luka-lukamu." Sang ayah menengadah, mengamati balutan perban yang menutupi sepertiga tubuh anaknya.

Kuroko hanya berkedip begitu dilihatnya sang ayah merendah dan ikut beraring di sebelahnya. Ia juga tak memprotes ketika tangan sang ayah melingkarinya, mendekatkan tubuh mereka berdua. Kuroko justru menyambut pelukan itu. Ia menyandarkan kepala pada dada ayahnya, menggenggam erat kemeja kantor pria itu dalam dua kepalan tangan kecil.

"Jangan ditahan, Tetsu." Haru menenggelamkan wajahnya pada hamparan biru muda rambut putranya. "Aku tahu kalau kau menderita. Keluarkan semua rasa sakitmu, semuanya. Ayah di sini."

Kuroko mengeratkan genggamannya, membenamkan kepala makin dalam pada dada sang ayah, menyembunyikan ekspresinya dari dunia dan membasahi artikel pakaian itu dengan beberapa tetes air mata.

Tak ada yang bergerak dari posisi itu. Keduanya terdiam, makin mengeratkan pelukan, sementara dalam hati berdoa agar waktu bersedia untuk berhenti berputar.

.:xxx:.

Disclaimer to its rightful owner:

Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki

Original Story:

Betrayal In Its Simplest Forms © Virelei

OCs © Virelei

(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)

Translation:

Betrayal In Its Simplest Forms by Rheyna Rosevelt

I own nothing but this translation

(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)

Thus, I don't make any commercial profit within this story

(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)

Translation is under permission of its original author.

(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)

Warning:

This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.

.

.

[Chapter 2]

.

.:xxx:.

"Jangan kemana-mana, Tetsu." Tangan pucat Haru menarik selimut menutupi tubuh putranya. "Aku akan pulang sesegera mungkin. Kamarmu akan kukunci dari luar. Bila ibumu pulang lebih dulu, tetap diam dan berpura-puralah seolah kau tak ada, tak peduli apapun yang ibumu katakan. Bila terjadi sesuatu, segera hubungi aku. Dan…" Haru tampak ragu sejenak, namun ia melanjutkan. "Aku tak peduli kalau kau sangat menghormati ibumu atau betapa lemah kondisimu saat ini. Bila dia berhasil menerobos masuk ke dalam kamar dan menyerangmu, lawanlah. Kau dengar aku, Tetsuya? Lawan."

"Ya, Ayah." Kuroko menjawab pelan.

Haru mengangguk puas, tahu putranya takkan membangkang. "Aku berangkat dulu. Jangan ragu menghubungiku bila kau butuh bantuan, Tetsu." Ia mencium lembut dahi Kuroko sebelum berjalan keluar, memastikan agar pintu kamar terkunci sempurna.

Kuroko menunggu suara pintu menutup terdengar sebelum menghela napas lega dan bergerak bangkit pada posisi duduk, menyandarkan tubuh pada kepala ranjangnya. Untuk pertama kalinya sejak ia siuman, Kuroko mengedarkan pandangan ke sekitarnya.

Ia kini berada di kamarnya sendiri. Ayahnya pasti telah membawanya kemari setelah berdebat dengan ibunya. Keempat dinding kamarnya ini bercat biru langit, senada dengan karpet yang menutupi nyaris separuh ruangan. Tempat tidurnya berada di salah satu sudut, sementara sepasang meja dan kursi kayu terletak di sebelahnya. Di bawah meja, berjejer rapi sepatu, tas dan sebuah bola basket. Sinar matahari menyorot masuk dari jendela kayu yang berada di seberang pintu.

Kuroko mendesah tanpa suara dan meraih ponselnya. Ia menekan beberapa tombol sehingga layar ponselnya menampilkan jadwal latihan basket tim Seirin. Setelah beberapa saat matanya bergerak menyusuri kalender digital tersebut, ia memicingkan matanya begitu dilihatnya jadwal latihan hari Minggu ini: siang hari.

"Bagaimana caranya menjelaskan hal ini?" remaja itu berbisik pada dirinya sendiri. Latih tanding dengan SMA Kaijou kurang beberapa minggu lagi, dan timnya pastilah khawatir bila ia tak muncul tanpa alasan yang jelas. Kuroko menghela napas. Ia tahu timnya kini tengah terbakar semangat mengalahkan SMA Kaijou. Tak baik menyurutkan semangat mereka dengan tak memberi kabar.

Atas pertimbangannya barusan, Kuroko beralih menuju daftar kontaknya dan menghubungi Kagami.

"Halo?" suara berat Kagami terdengar setelah dering ketiga. "Itu kau, Kuroko?"

"Ya." jawab Kuroko sopan. Tetapi sebelum ia sempat berkata-kata, Kagami menyela kasar.

"Di mana kau sekarang? Kau terlambat, dan aku yang kena marah! Jangan bilang kau bolos! Latihan ini untuk melawan Kaijou nanti- hei, Kuroko? Kuroko! Cepat kemari!"

"Maafkan aku, Kagami-kun, tetapi aku tak bisa latihan hari ini."

"Apa? Kenapa?"

"Aku… sakit, Kagami-kun. Dan kemungkinan besar aku juga takkan bisa berlatih untuk beberapa hari ke depan."

"Tapi kemarin kau baik-baik saja, Kuroko! Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin, saat kami minta ijin untuk bertandang ke rumahmu itu? Kami cuma bercanda, tahu-"

"Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan hal itu. Aku hanya… demam. Maaf telah mengecewakan." seperti biasa, Kuroko membungkuk sedikit, biarpun ia tahu bahwa ia tengah berbuat konyol karena Kagami tak mungkin bisa melihatnya membungkuk. Namun ketika Kagami tak juga menimpali, Kuroko terpaksa angkat bicara kembali. "… Kagami-kun? Maukah kau memberitahu Riko-san keadaanku saat ini?"

Helaan napas Kagami terdengar. "Ya, baiklah. Cepat sembuh, oke?"

"Ya." remaja itu berucap, kemudian mengakhiri panggilan tanpa menunggu lawan bicaranya membalas.

.:xxx:.

"Kuroko takkan bisa latihan hari ini," Kagami berkata lantang. "Ia sakit."

Suara dribble bola basket yang beradu dengan lantai gym berhenti. Beberapa kepala menoleh pada si rambut merah. Ekspresi mereka sama: tak percaya.

"Kuroko… sakit?" Hyuuga mengulang.

Kagami mengangkat ponselnya dan menggoyangnya pelan. "Katanya begitu."

"Tapi kemarin ia baik-baik saja, kok!" Koganei protes.

"Kau yakin itu bukan alasannya semata?" Teppei berucap.

"Kalau itu cuma alasannya saja, kuhajar dia." aura hitam menguar dari balik tubuh Riko.

Kagami mengangkat bahu. "Ia hanya berpesan agar aku memberitahu kalian mengenai kondisinya. Cuma itu." Remaja itu membungkuk dan meraih sebuah bola basket yang menggelinding ke arahnya. Ia men-dribble-nya seraya berjalan pada salah satu dinding gym, lantas dengan kekuatan penuh melempar bola itu hingga membentur dinding dengan suara keras.

Tak ada yang berkomentar atas tindakan Kagami barusan.

"Sial, Kuroko," Kagami bergumam, napasnya menderu. "Apa yang kau sembunyikan?"

.

.

[To be continued]

.:xxx:.

A/N: Terima kasih sudah membaca chapter 2 ^^ Yah, kecepatan saya untuk update per-chapter berbeda tergantung dengan word count per chapter fic aslinya. Karena ini masih intro, jadi saya bisa berusaha ngebut sedikit… (sambil sesekali melirik buku untuk persiapan try out UN *kenapa jadi curcol*)

Saya dibuat menganga oleh kemampuan Virelei-san untuk menulis cerita dengan begitu runtut… Dan, ya, penerjemahan fic ini sudah dapat ijin darinya, kok ^^ Soal peletakan disclaimer… sengaja saya posisikan di tengah (karena kalau di awal cerita biasanya malah terlewatkan) dan dengan format yang agak berbeda (supaya bisa menarik mata ^^)

Terima kasih untuk para reviewer~

Baiklah, sekian dulu! Keep reading, guys ^^

~Rheyna Rosevelt