Suara bantingan benda terdengar dari luar kamar Kuroko. Tumpul, kaca, bahkan benda-benda berharga dilemparkan hingga membentur pintu kamarnya dan membentuk sebuah tumpukan pecahan di lantai. Kuroko memejamkan matanya dan bergelung di bawah selimut, takut. Ibuki pulang beberapa jam lalu, dan sejak saat itulah wanita itu dengan brutal melempari pintu tak bersalah tersebut dengan berbagai benda yang dapat ia raih begitu mengetahui bahwa pintu kamar putranya terkunci.

"Tetsuya-kun~" suara manis Ibuki yang kentara sekali dibuat-buat menyusup masuk dari balik pintu. "Keluarlah dan sambut kepulangan ibumu, Tetsuya-kun~"

Bulu roma Kuroko seketika berdiri mendengar ucapan ibunya. Ia tetap terdiam membeku, berpura-pura seolah ia tak ada, persis seperti apa yang diucapkan ayahnya. Kuroko menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata sekuat mungkin, berusaha menahan tangisnya yang nyaris pecah. Tekanan dari ibunya begitu hebat biarpun wanita itu hanya mengucapkan beberapa kalimat.

"Aku tahu kau di dalam, Tetsu." ucap Ibuki manis. "Buka pintu ini, dan aku takkan menyakitimu."

Aku harus menelepon ayah, batin Kuroko berseru. Namun ponselnya berada di atas meja, dan Kuroko terlalu takut untuk meraihnya, khawatir ia akan menimbulkan suara saat mencoba meraih ponsel dari tempat tidur. Ditambah dengan suara manis ibunya dan benturan yang bertubi-tubi pada pintu kamar, membuat seluruh tubuh Kuroko kaku.

"Tet-su-ya," suara Ibuki berubah dingin. "Apa kau lupa tata krama? Tidak baik membuat ibumu menunggu. Atau mungkin, aku harus mengajarimu sopan santun lagi, Tet-su-ya?"

Pergilah, pemuda itu memohon tanpa suara. Air mata mulai menetes membasahi pipinya. Aku tidak ada di sini. Aku tak terlihat. Tolong, pergilah.

"Ini kesempatan terakhirmu, Tetsuya." Ibuki mendesis. "Aku tak peduli kalau kau membarikadeku dengan mengunci pintu ini. Akan kuambil obeng dan kulepas kenopnya sehingga aku bisa masuk. Kau mau aku melakukannya, hm, Tetsu?"

Kuroko tak menjawab. Tubuhnya seolah mati rasa saking takutnya. Memorinyabersama sang ibu di masa lalu berputar kembali di benaknya, bagai rekaman mimpi buruk yang dimainkan paksa.

Karena Kuroko Tetsuya tidaklah terlahir sebagai bayangan. Tetapi ia melatih dirinya untuk menjadi bayangan.

.:xxx:.

Disclaimer to its rightful owner:

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Original Story:

Betrayal In Its Simplest Form © Virelei

OCs © Virelei

(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section. )

Translation:

Betrayal In Its Simplest Forms by Rheyna Rosevelt

I own nothing but this translation

(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)

Thus, I don't make any commercial profit within this story

(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)

Translation is under permission of its original author.

(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)

Warning:

This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.

.

.

[Chapter 3]

.

.:xxx:.

Begitu terdengar suara langkah Ibuki menjauh, Kuroko perlahan membuka matanya. Ia menunggu cukup lama, berharap ibunya takkan kembali lagi. Harapan itu nampaknya terbukti karena selama beberapa menit kemudian suasana tetap senyap tanpa suara. Tak ada lagi suara benda dibanting. Tak ada gedoran pada pintu. Dan yang terpenting, tak ada suara manis ibunya yang meracun…

… hingga kemudian terdengar suara denting logam dan kenop pintu kamarnya berputar beberapa kali.

Jantung Kuroko berhenti berdetak.

Ibu… Ibu benar-benar akan melepas kenopnya?

Pemuda itu menahan napasnya dan memejamkan mata, tangannya mencengkeram selimut makin erat. Inilah mengapa ia terkadang membenci dirinya sendiri –lemah, tak berdaya, selalu bergantung pada orang lain… Bahkan di arena basket, ia juga bergantung pada pemain lain. Tanpa rekan-rekannya, ia bukan apa-apa.

"Kuperingatkan kau, Tetsuya," ibunya bersenandung riang, yang mana bukanlah pertanda baik. "Sampai aku berhasil melepas kenop ini dan kau masih juga tak menyambutku, aku bersumpah akan mengajarimu tata krama lagi."

Kuroko mengerjap, sadar mau tak mau ia harus bergerak. Ia harus kabur. Pikiran untuk menyelamatkan diri berhasil menariknya dari kubangan mati rasa, memaksanya keluar dari kabut rasa takut. Tidak, hatinya berseru. Aku tak boleh bergantung lagi. Aku tak boleh menjadi lemah.

Udara dingin menyeruak masuk dalam paru-parunya begitu Kuroko menyibak selimut, berbeda dengan hawa pengap yang ia hirup selama bergelung di bawah selimut berjam-jam. Pelan, Kuroko mengangkat tubuhnya dan menurunkan satu kaki dari tempat tidur. Dengan bertopang pada kedua tangannya, Kuroko mencoba berdiri, tetapi sekejap kemudian ia menarik napas kaget saat rasa sakit menjalar tiba-tiba pada daerah dada dan kepalanya.

"Jangan coba-coba lari, Kuroko Tetsuya." Ibuki memperingatkan, seolah bisa melihat menembus pintu. "Lagipula kau takkan punya kesempatan untuk kabur. Mur pertama sudah lepas…"

Pernyataan itu sendiri membuat Kuroko makin teguh mengabaikan kondisi tubuhnya. Ia berjalan tertatih-tatih mendekati hanger dan meraih jaketnya. Ia lekas mengenakannya, menutupi tubuh atasnya yang hanya dibalut perban. Ia juga memungut sepatu basketnya di bawah meja, dan mengantongi ponselnya di saku jaket.

"Satu mur lagi, putraku tersayang."

Kuroko menelan ludah. Ia tak punya banyak waktu. Cepat atau lambat, ibunya pasti berhasil mendobrak masuk dan memergokinya. Secepat yang ia bisa, pemuda itu berlari mendekati jendela dan membukanya. Sebuah tangga dari jalinan tali secara otomatis meluncur turun begitu daun jendela terbuka, berayun dekat dinding dan menyentuh tanah halaman depan di bawahnya. Tangga tali itu adalah ide ayahnya, sebuah trik sederhana agar Kuroko dapat menyelamatkan diri dari kebrutalan ibunya.

Mengabaikan nyeri pada tulang rusuknya saat ia membungkuk, Kuroko memanjat jendela. Kakinya gemetar saat ia mendaratkannya pada anak tangga pertama, kedua tangan pucat berpegangan pada kusen kayu jendela. Tangga tali itu berayun pelan dibebani berat badan Kuroko, yang sebenarnya juga amat ringan. Dengan hati-hati, Kuroko mulai menuruni anak tangga satu persatu, sesekali menunduk mengawasi tanah di bawahnya.

"Tetsuya!"

Pekik marah terdengar dari arah kamar begitu Kuroko sampai pada pertengahan tangga. Pemuda itu mendongak, dan gerakannya terhenti begitu ia melihat Ibuki melongok dari jendela kamarnya yang terbuka.

"Berani sekali kau mencoba kabur dariku, bocah tak berguna!" senyum sadis terukir pada wajah wanita itu. Tangannya terjulur, mengacungkan sebuah pisau lipat yang berkilat mengancam.

"Kita lihat bagaimana caramu menyelamatkan diri setelah ini, Tet-su-ya-kun."

Mata Kuroko melebar ngeri saat sisi tajam pisau itu bertemu dengan salah satu tali yang terikat pada bingkai jendela. Ibuki perlahan menggesekkannya, memastikan putranya melihat serabut-serabut tali yang putus.

"T-tidak. J-jangan potong talinya, I-Ibu-"

Permohonan Kuroko terpotong oleh suara teriakan pemuda itu sendiri. Satu tali telah terputus, dan tangga berayun tak seimbang, membuat remaja itu goyah. Melihat putranya terombang-ambing di bawah, Ibuki menyeringai dan menempatkan pisau di bawah tali satunya. Satu kibasan cepat, dan Kuroko bisa merasakan pegangannya terlepas. Namun sebelum remaja itu mampu menyadari apa yang terjadi, gravitasi bumi telah terlebih dahulu mempengaruhi tubuhnya.

"Ahk!"

Punggungnyalah yang pertama kali menghantam tanah, menimbulkan suara berdebam keras dan keretak mengerikan. Darah muncrat dari mulutnya tepat saat terjadi kontak antara tulang dan permukaan keras tanah. Sebuah teriakan lain gagal lolos dari tenggorokannya, sementara kepalanya berdenyut hebat akibat terbentur tanpa bantalan.

Sakit…

Kuroko tak bergeming selama beberapa saat, kepalanya terasa begitu sakit hingga ia merasa mual. Sesuatu yang basah dan berbau amis mengalir dari dahinya, makin lama makin deras. Telinganya berdenging, tak menangkap dengan jelas suara tawa histeris ibunya di lantai atas.

"Kelihatannya sakit sekali, Tetsu. Sakit, tidak?"Ibuki melongok dari jendela. Senyum lebar masih juga terpatri pada wajahnya. "Apakah terlalu sakit sehingga kau tak bisa bergerak? Oh, kasihan, putraku yang malang. Jangan bergerak, ya. Ibu akan segera turun."

Ibu akan segera turun. Ibu akan segera turun. Ibu akan segera turun. Bergeraklah! Lari! Kabur!

Impuls demi impuls peringatan bergejolak di otaknya. Aku harus bergerak, batin Kuroko berseru. Aku harus lari.

Punggung dan kakinya sudah sangat lemas, tetapi Kuroko masih mampu bergulung dan perlahan bangkit berdiri, walau gemetaran. Kemudian, kemungkinan kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan, Kuroko berlari.

Rasa sakit yang ia rasakan sama sekali tak bisa diungkapkan secara lisan. Begitu hebat, membuat Kuroko sendiri nyaris putus asa. Ia ingin menangis. Ia ingin berteriak. Ia ingin menyerah. Berkali-kali dalam larinya pemuda itu tersandung kakinya sendiri. Sayang bagi Kuroko, berlari dengan meninggalkan jejak darah di jalan bukanlah ide yang bagus.

Orang-orang di sepanjang jalan yang dulu mengacuhkannya sekarang memperhatikannya dengan tatapan kaget, nyaris takut. Ia, seorang bayangan, yang biasanya terabaikan dan lolos dari pengamatan, kini diperhatikan. Di tengah larinya, telinga Kuroko mampu menangkap beberapa ucapan mereka:

"Apa kita harus menelepon polisi?"

"Kasihan sekali anak itu! Apa yang terjadi padanya?"

"Tak adakah yang menolongnya?"

Tolong aku, kumohon, Kuroko ingin sekali mengucapkannya. Ia ingin sekali memberitahu orang-orang itu mengenai ibunya, kekerasan yang dilakukan wanita itu padanya, rasa sakitnya, penderitaannya. Satu hal yang menahannya untuk melakukan itu semua adalah rasa khawatir bila Ibuki berhasil menyusulnya.

Kemudian, sebuah bangunan kayu masuk dalam zona penglihatannya. Sebuah kafe, Kuroko berhenti tepat di depan bangunan yang familiar baginya itu. Di tempat ini harusnya ada –ah, itu dia. Keberuntungan pertamanya hari ini.

Saat Kuroko masih kecil, ia selalu bermain di sebuah tempat rahasia dekat kafe ini. Tempat itu berada di belakang bangunan kafe, tanah lapang yang subur ditumbuhi ilalang dan semak-semak, dihubungkan dengan jalan utama oleh sebuah gang sempit. Karena lebatnya tanaman liar yang tumbuh, nyaris tak ada yang melirik dua kali tempat ini. Untunglah, si pemilik kafe yang baik hati telah memberinya ijin untuk bermain di tempat ini.

Orang-orang yang berkerumun di depan kafe tampak terkejut melihatnya. Tanpa suara, mereka perlahan bergerak mundur, memberi jalan pada Kuroko yang berjalan terpincang-pincang memasuki gang sempit menuju tempat itu.

Suasana hijau yang sama masih mendominasi tanah kosong tersebut. Pemuda itu sempat tersandung sekali begitu kakinya menginjak tanah tempat bermainnya dulu ini. Tetapi sebelum ia sempat mencapai daerah yang tak ditumbuhi rumput, daerah tempat ia dulu biasa berbaring melepas lelah, kakinya menyerah. Pemuda itu jatuh lunglai di atas tanah.

Kuroko hanya mampu mengaduh pelan. Darah merembes dari bibir bawahnya yang ia gigit terus menerus selama berlari. Kepalanya juga mulai berdenyut nyeri lagi, dan seluruh tubuhnya terasa lemas. Dengan memanfaatkan sisa tenaga yang ia miliki, Kuroko berhasil mengeluarkan ponselnya dari saku jaket dan mengetikkan beberapa nomor yang telah ia hapalkan luar kepala. Di saat seperti ini, hanya nama orang itulah yang terpikirkan olehnya.

Orang itu menerima panggilannya tepat setelah dering pertama. "Ya?"

"A-Akashi-kun," Kuroko berusaha berbicara.

"Tetsuya. Ada apa?" Mantan kaptennya di tim basket SMP Teikou itu segera menyahut.

Butuh beberapa saat bagi Kuroko untuk mengatur napasnya sebelum ia bisa menjawab. "Tolong aku. S-sakit…"

"Di mana kau sekarang?"

"Dekat –kafe," suara Kuroko tak lebih dari desahan. "Tempat kita biasa bermain…"

Akashi berdecak. "Kau beruntung sekarang aku berada di dekat tempat itu. Tetaplah di sana, dan jangan bergerak. Aku akan segera menyusul."

Kuroko tak menjawab, panggilan telah diputus.

.:xxx:.

Akashi Seijuro berlari menyusuri jalanan Tokyo, tujuannya telah terpatri jelas pada benaknya. Kecepatannya melampaui para anggota Generation of Miracles, membuat orang-orang membelalakkan mata pada sosoknya. Sebuah gunting merah berujung tajam yang menyembul dari saku jaketnya pun tak luput dari perhatian.

Ia sudah lama mengetahui kondisi Kuroko. Oh, ya, dia amat sangat tahu siapa yang menyebabkan semua ini. Dan bila wanita itu sekali lagi melukai Tetsuya-nya, Akashi akan membuatnya menyesal. Tetapi sebuah pembunuhan keji bukan prioritasnya sekarang. Yang terpenting sekarang adalah menemukan Kuroko.

Kafe yang ia maksud berarti… Ah, itu dia.

Akashi berjalan menghampiri bangunan kafe dan melenggang masuk gang sempit di sebelahnya, tak menghiraukan tatapan heran orang-orang sekitar. Kapten tim basket SMA Rakuzan itu juga sudah lama mengetahui tempat terpencil ini, tempat yang selalu dikunjungi Tetsuya bila pemuda itu ingin menyendiri. Tempat ini telah menjadi rahasia mereka sejak kecil.

"Tetsuya." panggil Akashi seraya menyibak ilalang di bawahnya.

"Aka… shi-kun?" sebuah desahan menyebut namanya. Pemuda dengan iris mata berbeda warna itu mempercepat langkahnya mendekati sumber suara.

Tak berapa lama, Akashi berhasil menemukan mantan anggota timnya itu, berbaring di antara rimbunnya ilalang, bergumul dengan dirinya sendiri agar tak hilang kesadaran. Luka pada pemuda itu jauh lebih buruk dari yang Akashi bayangkan. Darah mengalir dari sekujur tubuhnya, memberi warna merah pada perban yang membalut kepala dan dadanya, merembes pada pakaian yang ia kenakan.

Tubuh Akashi menegang emosi. Beraninya –berani-beraninya wanita itu menyentuh Tetsuya-nya?Tangan kanan Akashi yang terkepal berkedut, gatal ingin meraih guntingnya.

"A-ka-shi-kun." Kuroko tampak kesulitan mengeja namanya. "K-kau datang."

"Tentu saja aku datang." Akashi menjawab tajam seraya berlutut di sebelah pemuda itu. "Bagian mana yang paling sakit?"

"P-punggung…"

Akashi menghela napas dan meraih sebuah gulungan perban dari sakunya. "Untuk sementara, aku akan membebat kaki dan kepalamu dulu. Jangan berani-berani tidur, Tetsuya. Kau dengar aku?"

Entah bagaimana, namun tampaknya nada memerintah Akashi cukup menghibur Kuroko.

"Ya." Ia berbisik.

Dengan tangkas, Akashi membalut luka-luka Kuroko. Gerakannya gesit namun sama sekali tak melukai Kuroko dalam prosesnya. Kuroko sendiri bersyukur karenanya, namun rasa nyeri pada punggungnya tetap membuatnya sengsara.

"Akashi-kun…" desisnya.

Sepasang tangan hangat melingkari tubuhnya, dengan lembut membawa sosok kurus tersebut dalam pelukan. Kuroko tak melawan, ia justru membenamkan wajahnya pada bahu sang penolong.

"Semuanya akan baik-baik saja," bibir di sebelah telinganya itu berbisik. "Aku di sini."

Bercak darah Kuroko juga mengotori jaket Akashi, tetapi ia sama sekali tak mempermasalahkannya. Yang terpenting sekarang adalah merawat luka-luka Tetsuya.

"P-punggungku…" ucap Kuroko lirih.

Akashi melarikan jemarinya pada surai biru muda pemuda yang merintih itu seraya tersenyum lembut. "Tenang, ia takkan menyakitimu lagi. Kau boleh tidur sekarang."

Kuroko menurut. Kelopak matanya terasa makin berat, dan ucapan Akashi barusan menenangkannya. Tak lama, ia tertidur dalam pelukan mantan kaptennya.

.:xxx:.

Remaja bermata heterokrom itu berjalan menyusuri tangga menuju apartemennya dengan seorang remaja lain dalam gendongannya. Dengan mudah ia memutar kunci berwarna emas pada lubang pintu apartemennya, lantas menendangnya pelan hingga terbuka. Kening sang kapten berkerut. Ia sama sekali tak merasa kesusahan saat berjalan karena berat badan Kuroko sangat ringan, bahkan Akashi yakin ia bisa mengangkat remaja itu dengan satu tangan.

Aku harus memaksanya makan setelah ini…

Dengan hati-hati, Akashi menurunkan Kuroko di atas sofa ruang tamu. Kuroko mengerang pelan, tetapi masih tertidur lelap. Akashi segera meraih ponselnya dari saku jaket dan mengetikkan beberapa kata, kali ini lebih cepat dari biasanya.

Segera berkumpul di apartemenku.

Ini perintah. Tetsuya terluka.

Puas, ia mengirimkan pesan itu pada beberapa nama dan melempar ponselnya dengan tenang, tahu benda itu akan mendarat di atas sofa di belakangnya.

Kemudian, Akashi meraih kotak pertolongan pertama, dan mulai merawat luka-luka pada tubuh Kuroko.

.:xxx:.

"Apa Kurokocchi baik-baik saja?" Kise Ryota berteriak heboh seraya membanting pintu apartemen Akashi. "Apa dia baik-baik saja-ssu? Apa dia harus dilarikan ke rumah sakit? Apa aku harus merongrong Midorimacchi agar ia bisa sampai ke sini lebih cepat sehingga ia bisa membantumu menyembuh-"

"Ryouta." suara dingin Akashi sukses menghentikan racauan Kise, sekaligus membuat si model gemetaran di tempat. "Ia bisa sembuh kalau kau diam."

Remaja pirang itu berkedip sekali. Ia baru menyadari kalau Akashi dan Kuroko ada di depannya. Akashi duduk di atas sofa ruang tamu, dan Kuroko berbaring di atas pangkuannya, kelopak mata tertutup menandakan ia sedang tertidur. "M-maaf, Akashicchi."

Sepasang mata berbeda warna memicing ke arahnya selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengangguk singkat ke arah si peniru gerakan. Kise menghela napas lega dan berjalan mendekati Kuroko. Ia berlutut tepat di depan Akashi dan mengamati luka-luka mantan rekan setimnya itu. "Apakah ini… seperti yang kupikirkan?"

"Ya, kuduga juga begitu."

Kise menyumpah pelan.

Tak butuh waktu lama bagi para anggota Generation of Miracles lainnya untuk berkumpul di apartemen Akashi, seperti yang telah diperintahkan. Reaksi mereka juga kurang lebih sama dengan Kise. Aomine meneriakkan sebaris sumpah serapah dengan suara kencang begitu mendobrak pintu, membuat Akashi terpaksa harus memberi si ganguro itu tatapan mematikan. Midorima menggelengkan kepala dan melipat bibirnya dalam satu garis lurus, prihatin. Murasakibara mengunyah keripiknya dengan ekspresi sedih, dan bahkan rela menawarkan snacknya pada Akashi, yang menolak halus.

Seluruh anggota Generation of Miracles sudah mengetahui kehidupan keluarga Kuroko dan neraka yang ia sebut rumah itu. Mereka tahu betul apa-apa saja yang mampu dilakukan oleh ibu Kuroko, dan bagaimana penderitaan pemuda berambut biru muda itu dari kekerasan yang dilakukan ibunya. Sudah cukup beberapa kali mereka melihat Kuroko hancur semasa di SMP Teikou –pemandangan yang paling mereka benci, lebih dari apapun.

Midorima menghela napas dan duduk di samping Akashi, mengusap rambut biru muda itu dengan sedikit ragu. "Dasar penarik masalah." ucapnya lembut.

"Apa Kuro-chin akan baik-baik saja, Aka-chin?" tanya Murasakibara.

"Aku tak tahu, Atsushi. Tapi pertama-tama, duduklah. Kau takkan bisa berjalan dengan leluasa di dalam apartemenku dengan tinggi badanmu."

Remaja berambut keunguan itu menggumamkan permohonan maaf, lantas duduk di lantai dekat Midorima.

"Ia pasti akan baik-baik saja!" protes Aomine. "Tetsu memang kelihatannya lemah, tapi sebenarnya ia sangat kuat! Ia sangat tegar! Lihat saja, Tetsu berhasil bertahan sampai beberapa tahun-"

"Tapi berapa banyak lagi yang bisa ia terima?" si spesialis three pointer memotong. Mendengarnya, sang kuda hitam tim basket SMA Touou hanya terdiam.

"Sial," air mata mengalir membasahi pipi Kise. "Kenapa harus Kurokocchi?Kenapa harus dia yang menderita?"Ia mengusap matanya dengan punggung tangan. "Ini tak adil. Kurokocchi tak bersalah. Ia tak berhak mengalami semua ini."

Akashi mengernyit mendengar percakapan mantan rekan-rekan setimnya. Ia jelas setuju dengan mereka. Tetsuya tidak berhak atas semua kejadian ini. Ia tidak berhak menderita. Ia tak berhak memiliki ibu tak tahu diuntung memiliki anak seperti Tetsuya.

Pemuda berambut merah itu merendahkan tubuhnya dan mencium lembut dahi remaja di pangkuannya itu, sebelum kemudian berucap tegas." Aku mengerti kekecewaan kalian. Dan kau benar, Ryouta. Tetsuya tidak berhak atas semua ini." Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan. "Tidak akan ada yang mengetahui masalah ini selain kita, bahkan Seirin sekalipun. Tidak… terutama Seirin. Pastikan SMA Seirin tak tahu apapun mengenai hal ini."

[To be continued]