CHAP 4 (9'-')9
APA HANCHUL SUDAH TAK ADA PEMINATNYA? HUFT~

########################################################################


########################################################################

MISTAKE & LOVE

Cast

- Kim Heechul

- HanGeng

- Choi Siwon

Othercast

- Lee Hyukjae

- Lee Donghae

- Leeteuk

- Jungmo

(real story belong to LadyVampAsia)

########################################################################

"Keluar dari apartemen ku," ucap Heechul setelah dirinya berada dikamarnya, Siwon berhenti menarik rambut Heechul

"Tidak. Kita perlu bicara," tolak Siwon, dia menutup pintu kamar Heechul dan menguncinya dari dalam. Dia berlutut di depan Heechul dan meraih dagunya. "Bangunlah, Heechul-ah,"

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," jelas Heechul. "Aku tak suka berada di dekatmu Siwon-ah,"

"Aku tahu kau akan bilang seperti itu," Siwon membuang nafas panjang. "Dengar, aku datang kesini untuk berbicara dengan mu tentang pekerjaanmu, kau tak masuk hampir seminggu. Jika kau tetap seperti ini, aku akan memecatmu."

"Apakah itu satu-satunya alasanmu datang kesini?" tanya Heechul tak percaya. "Kau takkan memecatku. Kau mencintaiku Siwon-ah,"

"Itu tidak berarti aku tidak berani memecatmu," tantang Siwon, dia meraih lengan Heechul. "Bangunlah dari lantai,"

"Kau tidak bisa menyuruhku melakukan apapun yang kau mau,"

"Baiklah, maka aku tidak punya pilihan lain,"

Heechul meringis kesakitan saat Siwon mengangkatnya kasar dari lantai. Siwon menggendong Heechul di bahu, dan melemparkannya ke ranjang. Heechul mencoba berontak, dia melengkungkan tubuhnya dan kakinya menendang, tapi Siwon lebih kuat darinya. Siwon menahan kedua tangannya dengan kencang.

"Siapa dia?" Siwon menggeram, akhirnya dia mengakui alasan sebenarnya dia datang. "Apakah pria itu yang menjadi alasan kau tidak masuk kerja?"

"Siapapun dia, itu bukan urusanmu," Heechul meludahi wajah Siwon. "Lepaskan aku!"

"Bitch!," Siwon mulai marah akan tindakan dan jawaban Heechul. "Aku datang kesini bukan untuk bertengkar denganmu, Heechul-ah. Aku khawatir, itu saja,"

"Kau tidak memiliki hak untuk khawatir kepadaku,"

"Aku sudah bilang ratusan kali, aku tak bermaksud menyakitimu Heechul-ah, aku mabuk saat itu,"

"Tapi kau tetap melakukan hal itu, Siwon-ah," desis Heechul. "Ini salahmu aku menjadi seperti ini, bajingan…"

"Kemudian, biarkan aku memperbaiki semuanya," Siwon memohon, bau alkohol sangat terasa saat Siwon memberi ciuman paksa ke bibir Heechul.

"Lepaskan aku, Siwon-ah….please," Heechul memohon, "Aku tak bisa melakukan ini,"

"Karena dia?"

"Siapa?"

"Pria itu…"

"Bukan! Itu karena kau kasar kepadaku, Siwon-ah," teriak Heechul. "Lepaskan aku!"

Heechul menendang selangkangan Siwon, dan membuat Siwon menjerit kesakitan hingga melepaskan cengkramannya di kedua tangan Heechul. Heechul mendorong Siwon dari atas tubuhnya dan langsung menuju pintu. Dia berhasil membuka kunci kamarnya, tapi tiba-tiba tangan yang kuat mencengkram pinggangnya dan melemparkannya kembali ke ranjang.

Siwon memukuli wajah Heechul dengan keras. Setiap pukulan Siwon, Heechul merasa seperti batu yang menghantam tulang rahangnya. Siwon menjambak rambutnya dan melemparkannya ke dinding. Heechul memegangi kepalanya yang membentur keras dinding. Siwon menghampirinya dan kembali menarik rambutnya dan membanting tubuhnya ke lantai. Heechul berjuang menghindari tendangan Siwon diperutnya. Heechul merasa perutnya hampir memuntahkan isi didalamnya, tubuhnya lemas dan meringkuk di lantai.

Siwon marah, dan dia benar-benar menjadi beringas. Heechul tahu itu, dia mabuk dalam keadaan emosi. Siwon membalik tubuhnya menjadi terlentang. Dia melihat mata Siwon penuh kemarahan. Siwon kembali mencekik Heechul dengan kencang hingga Heechul tak mampu bernafas sedikitpun.

Heechul berusaha melepaskan cengkraman tangan Siwon di lehernya. Tangan kirinya mencoba meraih sebuah pulpen, lalu dengan cepat ia menusukkan pulpen itu di tangan Siwon. Siwon berteriak kesakitan dan darah keluar dari tangannya, menyebabkan Siwon melepaskan cengkramannya di leher Heechul. Heechul mencoba bangkit dan berlari keluar dari kamar. Dia menyambar tas merahnya dari lantai dan juga menggendong Heebum, lalu membuka kunci pintu apartmennya. Dia berlari terus keluar melewati pintu exit hingga terjatuh dari tangga karena Heechul benar-benar panik. Pada saat dia berhasil menuju jalan, yang ada dipikirannya hanya Siwon pasti sedang mengejarnya. Heechul lalu memberhentikan taksi dan langsung masuk kedalamnya. Dia memberikan alamat MnD club kepada supir taksi. Dia menghembuskan nafas lega saat dia menoleh kebelakang dan melihat Siwon sedang kebingungan mencarinya di jalan.

Air mata mengalir di wajahnya, Heechul menyandarkan dirinya di kursi dan memeluk Heebum. Jantungnya berdegup dengan kencang dan seluruh badannya gemetar. Ponselnya berdering di dalam tasnya, Heechul mengambil ponselnya dan menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Heechul langsung menjawabnya tanpa mengetahui siapa yang menghubunginya.

"Halo?"

"Heenim?" suara Hangeng terdengar di telinga nya, "Apa yang terjadi? Kau terdengar sedih,"

"Mengapa kau menelpon ku?" Heechul setengah terisak

"Aku hanya ingin tahu kau sedang apa, aku mengkhawatirkanmu~ aku tak tahu apa yang terjadi denganku dan…." suara Hangeng terhenti saat dia mendengar Heechul menangis. "Hei…apa yang terjadi? Kau dimana? Kau memerlukan bantuan?"

"Ya…" jawab Heechul. "Pria china….bisakah kau datang menjemputku, please~?"

########################################################################


########################################################################

Ketika taksi Heechul berhenti di luar club MnD, Hangeng sudah ada menunggunya. Heechul keluar dari taksi dan berjalan menghampiri Hangeng. Wajah tampan Hangeng penuh dengan kekhawatiran karena Heechul terjatuh dan memegangi perutnya.

"Kau baik-baik saja?" Hangeng cemas melihat keadaan Heechul saat ini, wajahnya penuh memar, darah keluar dari sudut bibirnya, ada bekas tangan di lehernya yang hampir membiru, tangan dan kaki juga tak luput dari memar-memar. Hangeng mengambil tas Heechul yang terjatuh dan membantu Heechul berdiri. Hangeng tak sengaja melihat perut Heechul yang membiru memar. "Apa yang terjadi?"

"Apakah ada tempat dimana kita bisa pergi?" tanya Heechul. "Tidak aman berada disini."

"Tidak aman?" ulang Hangeng. "Heenim, apa kau dalam kesulitan?"

"Seperti itu," Heechul mengakui. "Aku butuh tempat istirahat, perutku sangat sakit. Maaf aku telah mengganggumu. Hal ini tidak akan terulang lagi, aku…"

"Berhenti bicara dan ikuti aku," sela Hangeng. Hangeng membantunya untuk berjalan.

Heechul meringis setiap langkah yang dia ambil. Semua badannya terasa sakit. Dia terus memegangi perutnya.

Hangeng membawanya keujung blok dan masuk ke gedung apartemen yang tinggi. Mereka kini berada di lantai 7. Hangeng menutup pintu apartemennya dan mendudukkan Heechul di sofa.

"Apakah ini tempat tinggalmu?" tanya Heechul sambil membiarkan Heebum pergi

"Ya," jawab Hangeng. Dia duduk di samping Heechul sambil membawa kotak P3K. Dia mengobati luka di wajah Heechul dan membersihkan darah yang ada di bibirnya. "Ceritakan apa yang terjadi? Siapa yang menyakitimu seperti ini?"

"Siwon," Heechul meringis saat Hangeng menempelkan plester kewajah Heechul yang memar. "Dia datang ke apartemen ku hari ini. Dia marah karena aku tak masuk kerja beberapa hari,"

"Kau tak masuk kerja? Heenim lepas bajumu, aku harus mengobati memar di perutmu," Hangeng membantu Heechul melepas bajunya. "Tapi, aku tak mengerti. Aku pikir ketika bersama denganku itu sama saja kau bekerja,"

"Siwon bukan boss semacam itu, akhh~" Heechul menggigit bibirnya saat Hangeng mengoleskan salep di perutnya yang memar. "Siwon punya sebuah café dan aku bekerja disana, aku bukan 'pria' semacam itu, aku bukan seperti yang kau pikirkan selama ini,"

"Lukamu sangat parah Heenim, kau harus kerumah sakit,"

"Tidak apa-apa, aku hanya perlu tempat untuk tidur selama beberapa jam dan aku akan meminta Teuki untuk menginap dirumahnya," jelas Heechul. "Aku minta maaf jadi merepotkan…"

"Berhenti bicara," sela Hangeng. "Kau bisa tinggal disini selama yang kau mau. Aku tidak kan membiarkan kau pergi sementara kau sedang terluka seperti ini,"

"Mengapa kau mau membantuku?" Heechul terisak, dia menatap Hangeng dengan air mata yang mengalir di pipinya. "Aku bukan siapa-siapa, aku hanya objek pemuasmu,"

"Jika itu yang kau pikirkan, kau salah." tegas Hangeng. "Aku tidak perduli apa pekerjaanmu, kau adalah orang yang baik dan aku sangat menyukaimu. Kau lebih dari apapun. Apakah aku hanya seorang klien dimatamu?"

"Tidak, kau bukan klien ku, karena aku bukan 'pria' seperti itu, aku…"

Kata-kata Heechul terhenti saat ponselnya kembali berdering. Dia mengambil ponselnya dan melihat bahwa Eunhyuk yang menelponnya.

"Halo?"

"Hyung! Kau dimana? Aku kembali dengan manager apartemen, tapi kau tak ada, pintu apartemenmu terbuka lebar. Apakah kau baik-baik saja?" suara panik Eunhyuk terdengar di telinga Heechul

"Tenang Eunhyuk-ah, aku hanya sedikit memar," Heechul meyakinkan Eunhyuk. "Kunci pintu apartemenku dan pulanglah,"

"Kau dimana hyung? Apakah kau ingin aku menjemputmu? Apakah kau benar-benar aman?"

"Aku aman Eunhyuk-ah," Heechul memberitahu dengan senyum lembut sambil menatap Hangeng. "Aku akan tinggal dengan seorang teman untuk beberapa hari. Lebih baik jika kau tidak tahu dimana aku. Aku akan menelponmu lagi besok."

"Baiklah, asalkan kau aman hyung. Maaf aku meninggalkanmu sendirian dengannya,"

"Kau tidak harus meminta maaf kepadaku," Heechul memperhatikan Hangeng yang bangkit dan berjalan ke dapur. "Dia menyakitiku lagi Eunhyuk-ah, tapi aku akan menghilang darinya. Dia hampir membunuhku tadi, aku hampir mati jika aku tidak melarikan diri,"

"Hyung, kenapa kau tak lapor polisi saja?"

"Tidak," Heechul membantah. "Aku akan aman disini, jangan khawatir." Heechul menutup ponselnya. Hangeng muncul disampingnya membawa semangkuk bubur dan minuman.

Air mata Heechul kembali menetes saat Hangeng dengan hati-hati menyuapinya bubur. Ada rasa perduli dan kelembutan terlihat di mata Hangeng saat ia menatapnya. Hangeng tersenyum sambil membersihkan sudut bibir Heechul.

########################################################################


########################################################################

Heechul berbaring di tempat tidur Hangeng. Badannya masih terasa sakit dan ia merasa wajahnya seperti bengkak. Hangeng di dapur membuatkan makan malam untuk mereka. Heechul bisa mencium harum masakan dan itu membuat perutnya berbunyi. Sudah sejak pagi dia belum makan apa-apa selain bubur yang dibuat Hangeng.

Heechul tenggelam dalam pikirannya, dia berbaring menatap kosong keluar jendela. Siwon telah mendorongnya ke tepi jurang dan dia kini tergantung disana oleh benang tipis. Heechul tahu bahwa dia harus segera berhenti dari pekerjaannya. Dia harus pindah dari apartemennya, dia mungkin harus meninggalkan Seoul. Dia takut Siwon akan membunuhnya.

"Apakah kau lapar? Kau sudah merasa baikan untuk makan?" suara lembut Hangeng berbisik di pintu. "Makan malam sudah siap,"

"Ya, aku kelaparan," jawab Heechul, suaranya datar dan ekspresi kosong saat dia duduk di tepi ranjang.

"Besok pagi aku akan membawamu kerumah sakit untuk memeriksakan luka-lukamu,"

"Aku akan pergi besok pagi," Heechul meyakinkan. "Aku tidak ingin merepotkanmu. Aku akan menghubungi Teuki untuk tinggal ditempatnya dan…"

"Omong kosong." Hangeng memotong. "Kau tidak merepotkanku, Heenim. Aku tidak pernah memiliki tamu. Kau bisa tinggal disini selama yang butuhkan,"

"Kenapa kau begitu baik padaku? Kita bahkan tidak mengenal lebih jauh satu sama lain,"

"Karena kau memerlukan bantuan dan aku menyukaimu," ucap Hangeng sambil mengangkat bahu. "Aku mungkin tidak mengenalmu secara jauh, tapi itu tidak berarti aku akan membiarkanmu di jalan sendirian."

"Kau terlalu manis untuk seorang pria yang tidur dengan pelacur,"

"Aku tak begitu suka dengan kata pelacur, aku akan menggantinya dengan kata yang lebih halus. 'pria' semacam itu juga manusia, Heenim. Pekerjaan seseorang tidak mendefinisikan seperti apa orang itu." jelas Hangeng. "Makan malam semakin dingin, kau mau makan?"

"Ya, aku akan makan,"

Dapur hangeng lebih luas daripada apartemen Heechul. Ada mejamakan bundar di sudut sebelah jendela besar yang menghadap ke luar. Heechul duduk dimeja makan dengan sepiring nasi goreng di depannya, sementara Hangeng duduk didepannya sambil menatapnya penuh keprihatinan.

"Berhenti menatapku seperti itu, pria china," Heechul cemberut. "Aku sudah tidak apa-apa sekarang, aku baik-baik saja,"

"Aku hanya khawatir tentang memar diwajahmu, bekas tangan dilehermu dan perutmu yang memarnya sudah membengkak. Apa kau yakin kau tidak ingin pergi ke rumah sakit?"

"Aku akan baik-baik saja. Ini bukan pertama kalinya Siwon-ah memukuli ku," Heechul tersenyum, ada sedikit nada sedih dalam suaranya. "Dia akan seperti itu jika dia sudah minum,"

"Apakah itu sebabnya dia menyakitimu? Karena ia mabuk?"

"Ya," kata Heechul dengan nafas panjang. "Aku tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Ketika kami berpacaran, dia cemburu karena aku sering berbicara dengan banyak laki-laki. Dia menuduhku selingkuh. Awalnya dia hanya menampar, kemudian beberapa pukulan, dan kemudian…"

"Lalu?"

"Itu tidak penting," Heechul menggeleng. "Aku tidak ingin berbicara tentang Siwon-ah sekarang,"

"Aku pikir kau harus pergi ke kantor polisi dan…"

"Tidak, mereka tidak akan melakukan apapun," sela Heechul. "Percayalah, polisi tidak akan melakukan apapun untuk orang sepertiku."

"Karena kau 'pria' semacam itu?"

"Tidak. Karena aku seorang gay dan ini hanya kasus kekerasan biasa," Heechul menunduk. "Aku telah melalui ini sebelumnya, lebih dari sekali, dan polisi tidak ada yang perduli."

"Apa yang kau maksud kau pernah mengalami hal ini?"

"Ketika aku kecil, ayah tiriku suka memukuli ku, memperkosaku. Dan ibuku seorang pecandu alkohol. Dia tidak perduli berapa kali anaknya dipukuli. Sampai suatu hari guruku menemukanku hampir mati di depan gedung sekolah. Tapi apa? Polisi tidak perduli terhadap masalahku,"

"Heenim…"

"Biarkan aku menyelesaikan ceritaku," Heechul menghela nafas. "Saat aku sekolah, aku mengetahui diriku seorang gay, orang tua angkatku mengurungku dalam kamar selama berhari-hari, mereka pikir itu cara menyembuhkanku dan mengembalikanku menjadi normal,"

"Heenim cukup…"

"Aku belum selesai," Hechul menahan tangis. "Ketika sekolah tahu bahwa aku gay, seluruh murid laki-laki membullyku, aku dipermalukan setiap hari. Mereka mengunciku di toilet dan menenggelamkan kepalaku di kloset. Aku melapor kepada polisi, tapi polisi tetap tak membantuku, dia mengatakan aku jangan memprovokasi mereka. Tidak Hannie, polisi tidak akan membantuku,"

Hangeng bangun dari duduknya, dia menghampiri Heechul dan memeluknya erat.

"Mereka mungkin tidak membantumu, tapi aku yang akan melakukannya."Hangeng berjanji, "Kau tidak sendirian saat ini, Heenim. Apapun yang kaubutuhkan, bilang saja."

"Aku tidak mengerti sama sekali," gerutu Heechul. "Kenapa kau begitu baik padaku? Kenapa kau harus perduli?"

"Aku katakan sebelumnya bahwa aku menyukaimu, bukankah itu cukup?"

"Tidak,"

"Aku sabuk hitam, jadi aku akan menghajar siapapun yang menyakitimu,"

"Baik, kalau begitu kau bisa menendang Siwon untukku?" canda Heechul

"Mungkin,"

"Jadi, kapan kau mulai tidur dengan 'pria'?"

"Setelah aku pertama kali mulai bekerja disebuah perusahaan ternama di Beijing. Lalu aku dipecat karena boss tahu aku gay. Kemudian aku ada di daftar hitam semua perusahaan terbaik di Beijing. Jadi aku meninggalkan negaraku dan mencari pekerjaan disini."

"Apakah teman-temanmu disini tahu kau gay?"

"Sebagian iya, sebagian tidak. Beberapa dari mereka juga gay. Mereka suka ke club dan tidur dengan beberapa pria juga," jelas Hangeng

"Kau ternyata punya masalah sama sepertiku,"

"Dan kau jauh lebih polos dari yang kulihat, Heenim." balas Hangeng

"Kita tidak benar-benar berkencan, kau harus tahu itu,"

"Aku tahu," Hangeng mengangguk. "Kau bisa menghabiskan waktu denganku. Jika kau membutuhkan uang aku akan membantumu."

Heechul mengambil nafas dalam sambil menatap pria dihadapannya. Ada ketulusan dari tatapan Hangeng yang membuatnya merasa hangat. Jika dia memang jatuh kepada Hangeng, maka ia ingin melakukannya dengan cara yang benar.

"Kau tidak perlu memberiku uang," Heechul perlahan bangkit dari duduknya. "Aku tidak ingin uangmu,"

"Kau mau kemana?" Hangeng panik karena Heechul mulai pergi dari meja makan.

"Aku mau mengambil sesuatu yang akan kuberikan kepadamu," jawab Heechul, dia berjalan ke ruang tamu dan mengambil tasnya. Hangeng mengikutinya dan menyaksikan uang tunai yang dia ambil dari tasnya dan menyerahkannya kepada Hangeng.

"Apa ini?"

"Ini uang yang kau bayar kepadaku selama kita tidur bersama,"jawab Heechul. "Aku ingin kau mengambilnya kembali,"

"Kenapa? Apakah kau tidak membutuhkannya?" Hangeng bertanya kebingungan

"Karena aku tidur denganmu atas kehendakku sendiri, kau tidak perlu membayarku untuk itu,"

"Aku mengerti," Hangeng mengambil uang dari Heechul

"Aku akan pergi, aku akan keluar dari kehidupanmu," Heechul menggendong Heebum dan memakai tasnya. "Maaf aku berbohong soal diriku kepadamu, pria china. Aku tak bermaksud,"

"Kau mau kemana?" Hangeng meraih tangan Heechul sebelum dia pergi terlalu jauh

"Kau tak marah padaku karena aku membohongimu? Apa kau tak ingin aku pergi?"

"Aku tidak marah," Hangeng meyakinkan. "Aku hanya malu memperlakukanmu seperti itu. Aku tahu bagaimana rasanya ingin menjadi orang lain sementara waktu. Kau pikir kenapa aku di bar mencari 'pria' semacam itu? Karena aku juga berpura-pura menjadi orang lain, sama sepertimu,"

"Jadi, kau tidak marah?"

"Tidak," jawab Hangeng, dia memeluk Heechul dari belakang. Mendekapnya erat dengan kelembutan. "Please~ jangan pergi dariku."


TO BE CONTINUED...

Heemalbub/Chocoball Sun Hi

########################################################################


########################################################################