"Apa yang akan kita lakukan?"

"Kita takkan melakukan apapun, Daiki. Kita harus menunggu luka-luka Tetsuya sembuh terlebih dahulu sebelum bertindak."

"Tapi-!"

"Daiki."

Suasana kemudian hening.

Walau tampaknya masih tertidur, namun sebenarnya Kuroko sudah sadar. Ia terlalu terhanyut dalam nyamannya kegelapan, karenanya ia menolak untuk membuka mata. Namun biar begitu, ia tetap berusaha untuk merasakan dunia luar. Kuroko bisa merasakan kepalanya ditunjang oleh sesuatu yang hangat, dan sebuah tangan mengelus kepalanya tanpa henti. Rasa sakit kembali muncul ketika ia berhasil mengumpulkan seluruh kesadarannya, namun tak terlalu mengganggu. Tangan yang bergerak menyusuri rambutnya itu terasa hangat, lembut, dan begitu menenangkannya hingga ia tak ingin gerakan itu berhenti.

Sayangnya, bersamaan dengan munculnya keinginan tersebut, tangan itu berhenti. Pelan tangan itu kembali bergerak, namun kini menyusuri wajahnya, sebelum akhirnya berhenti pada pangkal lehernya dan menekan pelan pembuluh darahnya.

"Tetsuya."

Ketahuan.

Mendeteksi adanya nada perintah pada panggilan tersebut, Kuroko dengan patuh membuka matanya seraya mengerjap beberapa kali, mencoba beradaptasi dengan cahaya ruangan. Begitu penglihatannya terfokus, Kuroko baru menyadari bahwa ia berbaring dengan kepala pada pangkuan Akashi, sementara mantan kaptennya itu tengah menunduk ke arahnya. Wajahnya begitu dekat dengannya, membuat rona merah bersemu pada pipi pucat Kuroko.

"Melihat pipimu merona seperti itu, berarti kau sudah agak baikan." ujar Akashi lembut.

Ucapan Akashi sama sekali tak membantu, justru makin memperparah semu merah Kuroko.

"Kurokocchi?" sebuah suara tinggi berseru.

"Tetsu!"

"Kuro-chin masih hidup!"

"Tentu saja dia masih hidup, bodoh!"

"Eh? Mido-chin jahat sekali!"

Kuroko berkedip ketika Akashi menarik kepalanya menjauh, menampakkan tiga orang berambut warna-warni menatapnya bersemangat. Dari sudut matanya, terlihat sosok berambut hijau duduk di lantai, dekat kakinya.

"Semuanya," bisik Kuroko. "Kalian datang…"

Midorima menghembuskan napas kesal. "Yah, kurang lebih kami dipaksa datang, sih, tapi tentu saja kami akan datang." ujarnya dengan aura tsundere menguar, namun kemudian nadanya berubah cemas. "Kau pingsan selama beberapa jam. Apa kau baik-baik saja?"

Semuanya terdiam, menunggu Kuroko menjawab.

"Ya… tidak sesakit sebelumnya." Ucapannya tersebut diiringi dengan desah napas lega dari teman-temannya. Kuroko menelengkan kepala, mencoba menatap seseorang yang telah menyediakan pangkuannya sebagai 'bantal'. "Ano, Akashi-kun?"

"Ya?" jawab Akashi lembut.

"Bagaimana… aku sampai di sini?" Kuroko masih berusaha menggerakkan kepalanya, ingin menatap wajah remaja berambut merah tersebut.

Murasakibaralah yang menjawab pertanyaan itu. "Aka-chin menggendong Kuro-chin ke rumahnya." Ia terdiam sejenak sebelum menambahkan. "Ah, tapi ini bukan rumahnya yang asli, sih. Ini apartemennya di Tokyo. Rumah asli Aka-chin sangat jauh dari sini."

Ucapan Murasakibara benar adanya. Bila Akashi membawanya ke rumahnya yang asli di Kyoto, ia harus naik kereta selama empat jam. Dan dengan waktu selama itu, Kuroko pastilah dalam bahaya. Namun karena Akashi berasal dari keluarga yang sangat berada, si kuda hitam SMA Rakuzan itu memiliki apartemen pribadi nyaris di setiap kota yang sering ia kunjungi.

"Kau menggendongku? Maaf aku telah menjadi beban untukmu, Akashi-kun." Kuroko berucap sopan dan berusaha untuk bangkit. Di saat yang sama, lima pasang tangan terulur untuk membantunya. Tak lama, Kuroko berhasil duduk kembali tanpa merasa kesakitan, dengan dibantu Akashi yang memegangi pundaknya. Pemuda bersurai biru itu menatap rekan-rekannya satu persatu sebelum menunduk lesu. "Maafkan aku telah menjadi beban untuk kalian…" ia bergumam.

"Bodoh." Midorima menggetok pelan bagian belakang kepala Kuroko, berhati-hati agar tak menyentuh daerah yang terluka. "Kau sama sekali bukan beban, tahu…"

"Midorimacchi benar, Kurokocchi!" Kise berseru ceria. "Kami memang ingin menolongmu!"

Kuroko mengangkat kepalanya sedikit, terhibur dengan ucapan Kise. Teman-temannya ini sampai bersedia repot-repot datang dari luar Tokyo hanya untuk menolongnya, untuk menopangnya. Walau tampak enerjik seperti biasa, namun semuanya jelas menampakkan kekhawatiran –bahkan Murasakibara menghentikan kunyahannya. Semuanya begitu peduli padanya…

"Terima kasih." Kuroko berbisik kembali, terharu.

Akashi menghela napas panjang dan bangkit berdiri dari sofa, lalu meregangkan tubuhnya. Lima pasang mata berbeda warna menatap tiap gerakan si rambut merah, mengantisipasi tindakan sang kapten selanjutnya.

"Apa kau lapar, Tetsuya?"

"Tidak, aku-"

"Kau akan makan," Akashi berkata tajam. "Aku akan membuatkan sesuatu untukmu, dan aku ingin kau menyantap apapun itu."

Kuroko tak sempat memprotes ketika Akashi membungkuk dan mengacak-acak rambutnya sebelum beranjak menuju dapur.

Tanpa alasan yang jelas, suhu ruang tamu terasa naik beberapa derajat ketika pemain bernomor punggung 4 tersebut meninggalkan ruangan. Kuroko dan yang lainnya menelan ludah.

"Uwaah!" si pirang membuat keributan lagi, kali ini memekik dan bergelung pada tangan Aomine –kebetulan posisinya yang paling terjangkau. "Akashicchi menakutkan!"

"Lepaskan aku!" Aomine menarik-narik tangannya.

"Diam!" perintah Midorima, sang pengganti kapten mereka. "Ia masih bisa mendengar kita, dan kupikir Kuroko belum sepenuhnya bisa beradaptasi dengan keributan seperti tadi." Ia menoleh ke arah si pemain bayangan. "Kuroko, kalau rasa sakitnya kembali, kau harus memberitahu kami. Ini juga perintah Akashi. Ia pasti marah bila kita meremehkannya." Dengan satu tangan, remaja berambut hijau itu memainkan lem batangan (kemungkinan besar benda keberuntungannya hari ini) sementara tangan yang lain menaikkan posisi kacamatanya dengan jari tengah.

Kuroko mengangguk. "Aku mengerti. Memangnya seberapa parah luka-lukaku?" tanyanya hati-hati.

Midorima menghela napas. "Untungnya, tak ada tulang yang patah. Namun bagian dadamu memar cukup parah. Kakimu dipenuhi luka gores, dan kepalamu juga mengalami pendarahan." Ia terdiam sebentar. "Tetapi punggungmulah yang paling parah."

Itulah mengapa Kuroko tak dapat duduk tegak tanpa bantuan.

"Seberapa parah?" Kuroko menahan napas, tak berani mendengar jawabannya.

"Seperti… dihantam keras dengan pemukul baseball."

Yang lainnya mengerjap pada pilihan kata Midorima. Walau dalam hati mereka tahu, dengan kondisi mental seperti itu, ibu Kuroko mungkin memang pernah memukul anaknya dengan tongkat baseball.

Kuroko hanya menggigit bibir.

.:xxx:.

Disclaimer to its rightful owner:

Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki

Original Story:

Betrayal In Its Simplest Form © Virelei

OCs © Virelei

(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)

Translation:

Betrayal In Its Simplest Form by Rheyna Rosevelt

I own nothing but this translation

(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)

Thus, I don't make any commercial profit within this story

(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)

Translation is under permission of its original author.

(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)

Warning:

This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.

.

.

[Chapter 4]

.

.:xxx:.

Murasakibara yang kini duduk di samping Kuroko mengeluarkan sebatang cokelat dari saku, menggigit separuhnya tanpa merasa bersalah, lalu terdiam begitu melirik pemuda di sebelahnya. "Kau mau, Kuro-chin?" pemain basket berambut ungu itu mengulurkan cokelatnya.

"Tidaaak!" Kise menerjang si remaja berambut biru muda. "Itu ciuman tidak langsung! Kurokocchi tak boleh menyentuh air liurmu yang menjijikkan itu!"

"Menjijikkan?" Murasakibara mengernyit, tersinggung.

Aomine mendekati mereka dan menarik kerah pakaian Kise, menyeretnya menjauh. "Oi, jangan sentuh Tetsu!"

"Eh-h?" Kenapa tidak boleh? Aominecchi," Kise merajuk. Namun si ganguro tetap tak melepaskan pegangannya, sehingga kemudian Kise melancarkan jurus jitunya: puppy eyes dahsyat dengan mata keemasan yang berkilauan.

Si kuda hitam SMA Touou memalingkan muka, tak kuat menahan godaan iman.

"K-karena tindakanmu yang brutal itu bisa melukai Tetsu!" Aomine setengah jujur, setengah bohong.

"Ooh, Mine-chin cemburu pada Kuro-chin, ya," Murasakibara yang kembali menekuni coklatnya menarik kesimpulan. "Mine-chin suka Kise-chin?"

"Apa? Aominecchi cemburu?" Kise mengernyit bingung dan menoleh pada Aomine yang wajahnya sudah sangat merah. "Aominecchi, hanya karena aku ini pacarm-"

Aomine refleks membekap mulut Kise. "Diam!" desisnya. "Akashi masih bisa mendengarmu, tahu –waaah!"

Sebuah gunting terbang melesat tepat di antara Aomine dan Kise, menancap pada dinding di belakang mereka. Semuanya menelan ludah.

"Apakah ada yang kalian sembunyikan dariku, Ryouta? Daiki?" suara dingin Akashi menyeruak masuk. Suhu ruangan tiba-tiba turun hingga minus.

Kise adalah yang pertama memecah keheningan dengan tertawa hampa. "A-Akashicchi, kami tidak menyembunyikan apa-ap-"

"Kau berani berbohong padaku?"

Si pirang memekik ketakutan dan melompat bersembunyi di balik badan Aomine. "Maafkan aku, Akashicchi!" si model merajuk lagi. "Ini semua salah Aominecchi!"

Yang disebut mendelik kesal pada pemuda di belakangnya. Aomine membuka mulut, siap memprotes, namun segera menutupnya lagi begitu melihat ekspresi wajah Akashi. Bukan ekspresi yang positif, tentu saja. Aomine bahkan nyaris bisa merasakan garis umurnya (dan Kise) terpotong oleh tatapan mantan kaptennya itu.

Si rambut merah berdeham, siap untuk menjatuhkan hukuman paling mematikan pada dua remaja yang kini gemetar ketakutan di depannya, kalau saja Kuroko tak menginterupsi.

"Akashi-kun," point guard SMA Rakuzan itu segera menoleh pada remaja yang terluka. "Luka-lukaku mulai terasa perih lagi. Terutama punggungku…"

Akashi mengernyit. "Baiklah. Aku juga hampir selesai memasak. Shintarou, bersihkan luka Tetsuya dan ganti perbannya. Jangan sampai membuatnya kesakitan. Dan untuk kalian," ia berganti fokus ke arah Murasakibara yang tengah menghabiskan cokelat, Kise yang memekik ketakutan lagi, dan Aomine yang mulai mengucurkan keringat dingin. "Kalian semua akan diam demi kesembuhan Tetsuya. Ryouta, Daiki," ia mengucapkan dua nama tersebut dengan penuh penekanan, hingga Akashi bisa mendengar suara mereka menelan ludah gugup.

"Aku akan menghubungi kapten kalian masing-masing dan memberitahunya untuk menggandakan menu latihan kalian sebanyak tiga kali lipat karena berani berbohong padaku. Jangan kira aku tak tahu hubungan kalian saat ini." Ia berhenti sebentar. "Ini juga berlaku untukmu, Atsushi. Akhir-akhir ini kau dan Himuro kelihatannya dekat sekali."

Murasakibara merona, namun ia segera mengalihkan perhatian. "Aka-chin tidak adil. Aku kan tak suka berlatih dengan timku."

Mendengarnya, tatapan Akashi melembut. Walau sikapnya dingin dan tak kenal ampun, Akashi Seijuuro sebenarnya mudah luluh di hadapan 'bayi' dalam 'keluarga' kecilnya ini. "Tapi kau harus tetap berlatih, Atsushi… Dan aku hanya akan menambah menu latihanmu sebanyak sepertiganya saja." Akashi mengabaikan Kise dan Aomine yang masih menganga lebar dan berbalik menuju dapur. "Tetsuya. Terima kasih telah bersedia jujur mengenai luka-lukamu. Kita akan… membicarakan hal ini nanti."

Tanpa merasa perlu mengatakan apa-apa lagi, ia berjalan menjauhi mereka untuk mengangkat ketel yang airnya mulai mendidih. Begitu Akashi sepenuhnya meninggalkan ruangan, suhu udara di sekita ruang tamu kembali normal.

"Woah," Aomine seketika mengeluh. "Dia seperti ibu-ibu kuno saja. Over protektif pada anak-anaknya. Dan sekarang menu latihanku ditambah. Menyebalkan."

"Kau yang patut disalahkan." Midorima membalas seraya mengambil gunting untuk memotong kain perban. "Kalau kau tak berbohong, pasti latihanmu takkan digandakan. Kuroko, aku akan melepas jaketmu. Tahan, ini akan sedikit sakit."

"Ya." Kuroko menurut.

"Bukan aku yang berbohong! Ini salah Kise!" Aomine melotot pada pacarnya.

"Ta-tapi tatapan Akashicchi terlalu menakutkan-ssu!" Kise membantah melindungi diri. "Aku masih belum mau mati, tapi aku juga tak mau Akashicchi memisahkan kita…" Rona merah menjalar pada pipi si model.

Murasakibara tertunduk lesu. "Aka-chin marah padaku sampai tega menambah menu latihanku…" ucapnya sedih.

"Tapi kan hanya sepertiganya saja!" Aomine dan Kise berteriak bebarengan.

"Aduh." Kuroko mengaduh tiba-tiba, tubuhnya berjengit kaget ketika kain kasar jaket bergesekan dengan lukanya.

Setelah melipat jaket Kuroko, Midorima meletakkan sebuah botol hijau di atas meja. "Cairan pembersih ini memang sedikit perih, tapi diperlukan agar lukamu tak terinfeksi." Ia mengambil segumpal kapas, membasahinya dengan cairan tersebut, dan pelan-pelan mengusapkannya pada punggung Kuroko. "Tahan sebentar."

Kuroko memekik begitu kapas itu menyentuh lukanya dan berjengit menjauh dari Midorima. Ia nyaris saja jatuh dari sofa bila bukan karena Murasakibara menangkapnya. Midorima menghela napas sebelum membungkuk dan menbantunya duduk di atas sofa lagi.

"M-maaf, Midorima-kun…"

"Tidak apa. Aku juga pernah merasakannya."

"Suara apa itu tadi?"

Akashi muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi sup ayam, salad sayuran, roti, dan secangkir teh hangat. Aroma yang menguar dari hidangan-hidangan tersebut nyaris saja membuat para anggota Generation of Miracles meneteskan air liur.

"Maaf, Akashi-kun. Aku yang menyebebakan keributan tadi."

"Hm." Akashi melirik pada Midorima yang tiba-tiba saja menyibukkan diri dengan gulungan perban. "Setelah Shintarou selesai membebat dadamu, kau akan makan. Dan aku ingin kau menghabiskan semuanya." Ia menyipitkan mata, memandang Kuroko tajam. "Mengerti?"

Kuroko melirik nampan. "S-semuanya, Akashi-kun?"

"Semua."

"Akashicchi benar!" Kise berkomentar. "Kau terlalu kurus untuk ukuran seorang pemain basket, Kurokocchi!"

Semuanya setuju dengan ucapan Kise.

Setelah Midorima selesai membalut dada dan kakinya, Kuroko mulai makan secara perlahan. Para anggota Generation of Miracles mengawasinya melahap sendok demi sendok makanan lezat buatan Akashi dalam keheningan, sebelum akhirnya sang kapten angkat bicara.

"Jadi, Tetsuya, apakah kau bersedia memberitahu kami apa yang terjadi padamu?"

Itu bukan pertanyaan. Semua tahu bahwa itu adalah perintah.

Pemuda yang kini menjadi pusat perhatian tersebut terdiam, tampak berpikir sejenak. Beberapa saat kemudian, dengan enggan ia meletakkan sendoknya dan menunduk. Jemarinya dengan gugup bermain pada ujung jaketnya.

"A-aku… tak sengaja berpapasan dengan segerombolan pemuda mabuk di sebuah gang… lalu tiba-tiba mereka menyerangku." dustanya lembut, tak berani menatap lima pasang mata yang mengawasinya.

Ia tak mau membuat mereka khawatir. Kuroko tak ingin lagi menggantungkan diri pada mereka.

Mendadak, sebuah tangan dengan cepat menarik dagu Kuroko, membawanya mendekat pada wajah sang pemilik tangan, Akashi. Kuroko hanya mampu berkedip ketika mata birunya bertemu dengan dwiwarna Akashi.

"Kau takkan berbohong padaku, Tetsuya." perintah Akashi pelan dan tajam. Matanya berkilat mengintimidasi. "Demi kami dan dirimu sendiri, kau akan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Dan kau akan menuruti perintahku tanpa ada pertanyaan. Apakah kau mengerti, Tetsuya?"

Sang kapten berhenti begitu ia melihat selapis air bening mulai menutupi mata beriris biru di depannya. Kalimat berikutnya ia ucapkan dengan nada yang berbeda –halus, pengertian, penuh kasih sayang.

"Ini semua perbuatan ibumu, kan?"

Anggukan kecil dari Kuroko sebelum kemudian ia menabrakkan diri pada sosok Akashi. Didorong insting, Akashi balas melingkarkan tangannya, satu di antara surai biru, satu lagi memeluk pinggang. Sementara Kuroko sendiri menempatkan wajahnya pada pundak sang mantan kapten, meredam sesenggukan yang diiringi dengan aliran air mata.

Bisikan menenangkan disuarakan Akashi di samping telinga Kuroko, tangan kanannya tak berhenti mengelus lembut rambut biru. Para anggota Generation of Miracles yang mengelilingi mereka turut berusaha menenangkan Kuroko semampunya. Tak ada waktu untuk memikirkan masalah pribadi, kini mereka terfokus hanya pada satu orang.

Karena, bagi mereka, Kuroko bukanlah sang bayangan. Justru ialah cahaya mereka, terlihat sejak pertama mereka bertemu dengannya. Dan kini, adalah tugas mereka untuk membuat sang cahaya yang tengah meredup untuk bersinar kembali, dan memulihkan seorang Kuroko Tetsuya yang hancur lagi.

.:xxx:.

"Kau yakin kita harus melakukan ini?" tanya Kagami gugup.

"Tentu saja! jawab Riko bersemangat. "Kita harus mencari tahu apa yang terjadi pada Kuroko. Dan bila ia benar-benar sakit, sudah tugas kita sebagai teman untuk membuatnya merasa baikan!"

"Iya, sih, tapi apa perlu sampai membobol kantor administrasi penduduk sipil segala untuk menemukan alamat rumah Kuroko?"

Riko menyeringai seraya memainkan sebuah kunci dengan jari telunjuknya. "Bukan membobol namanya kalau kau punya kuncinya."

"Kunci yang dicuri."

"Pinjam."

"Tanpa izin."

Si pelatih tim basket Seirin tak menjawab.

"Oi, kita sudah sampai!" Hyuuga berseru.

Seluruh anggota tim basket Seirin berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Setelah mengecek kembali alamat rumah ini dan berpandangan sebentar, mereka bersama-sama berjalan menyusuri jalan setapak yang berujung pada pintu rumah yang berwarna biru tua, kemudian berhenti ragu.

"Nah? Tunggu apa lagi? Ketuk pintunya, Kagami." kata si kapten, walau ia yang berdiri paling dekat dengan pintunya.

"Hah?" Kagami terkesiap kaget. "Kenapa harus aku?"

"Karena," Hyuuga tersenyum setan. "Aku adalah kakak kelasmu, dan sudah seharusnya anak kelas satu menghormati senior mereka."

Sudut mata Kagami berkedut. Yang benar saja! Dia kan hanya setahun lebih tua dariku! pikirnya kesal, namun toh akhirnya ia mengetuk pintu itu dengan keras. Tak lama, kenopnya yang sewarna emas berputar dari dalam dan pintu terbuka.

Seorang wanita tinggi berambut biru muda model bob menampakkan diri. Wajahnya memang cantik, namun daerah sekitar matanya mengernyit terlalu dalam untuk dapat dikatakan ramah. Matanya sendiri beriris biru muda, mirip dengan Kuroko.

Pasti ibunya, remaja-remaja itu berpikir serempak.

"Ada perlu apa?" desis ibu Kuroko, jauh dari lembut.

"H-halo." Riko membungkuk sopan. "Kami adalah teman-teman Kuroko-kun dari tim basket SMA Seirin. Kami kemari untuk menjenguknya."

Mendengarnya, ekspresi masam Kuroko Ibuki berubah lembut, tak lupa dengan senyum manis terpulas. "Oh? Kalian teman-temannya Tetsu, ya?"

Cara wanita itu berbicara membuat bulu kuduk Kagami meremang, tetapi ia sendiri tak tahu mengapa.

"Sayangnya," Ibuki memasang topeng sedih. "Tetsu kabur dari rumah beberapa saat yang lalu, dan walau sudah kucari, aku tak bisa menemukannya di manapun. Aku dan suamiku sangat khawatir. Tapi," senyumnya seketika berubah menjadi seringaian. "mungkin kalian bisa menemukannya. Kalian teman-teman dekat Tetsu, kan? Bisakah kalian mencari Tetsu dan mengantarnya pulang? Aku rindu sekali padanya."

Para anggota tim basket Seirin mengangguk, melewatkan kilatan keji pada iris biru tersebut.

.

.

[To be continued]