"Tidak." desis Akashi tajam, diiringi aura mematikan. Begitu menakutkan, hingga membuat Aomine sebagai satu-satunya pihak netral dari dua orang yang tengah berdebat di kamar Akashi tersebut gemetar.

Namun Kuroko tak tampak terpengaruh oleh ucapan Akashi. Ia duduk di atas ranjang ukuran king size, bersandar pada tumpukan bantal yang menyangga punggungnya. Selimut tebal menutupi kaki hingga pinggangnya, meninggalkan bagian dada Kuroko telanjang, hanya dibalut perban. Mata biru menatap pada merah dan kuning, menyuarakan protes tanpa suara walau ekspresinya masih sedatar dinding. Satu-satunya tanda fisik bahwa Kuroko masih bersikeras akan permintaannya yang ditolak adalah kerutan kecil di antara kedua alisnya.

Lain lagi ceritanya dengan sang kapten tim basket SMA Rakuzan. Dari tubuhnya yang tak seberapa tinggi itu menguar aura geram, biar masih dalam kontrol emosi. Matanya berkilat berbahaya pada sosok remaja yang terluka, biasanya merupakan isyarat bahwa hukuman di luar akal sehat tengah menanti sang korban. Badannya tegang, dengan tangan terlipat di depan dada dan kaki yang dibuka selebar bahunya, bahasa tubuh bahwa ia takkan mengizinkan Kuroko keluar dari kamar ini sampai waktu yang ia tentukan.

Bagaimana bisa Tetsu tak ketakutan dipandangi seperti itu? pikir Aomine heran. Atau mungkin, ia takut, hanya saja aku tak , pasti begitu.

"Akashi-kun," ucap Kuroko menantang. "Aku harus pergi."

"Aku tak peduli kau harus pergi atau tidak. Kau takkan meninggalkan kamar ini."

"Seirin bergantung padaku."

"Kalau begitu mereka akan belajar bagaimana caranya bermain tanpamu. Tim yang kuat takkan hancur hanya karena ditinggal salah seorang pemain intinya."

Pemuda berambut biru itu akhirnya menampakkan makin banyak ekspresi kesal. Ia meremas selimut dengan kasar dan bahkan berani melempar tatapan tajam pada Akashi. "Aku harus pergi, Akashi-kun! Jika tidak, mereka akan curiga padaku!"

"Kau takkan pergi untuk latihan, dan ini keputusan final." kata Akashi akhirnya, tak memberi ruang untuk diprotes.

Kuroko terdiam, tahu Akashi telah mencapai titik puncak kesabarannya. Namun tetap saja, pemuda itu menundukkan kepala seraya merengut, kesal keinginannya tak terkabul.

Kemudian hening selama beberapa menit, yang bagi Aomine terasa seperti berjam-jam. Menyadari suasana masih juga belum menghangat, kuda hitam SMA Touou itu pelan-pelan bergeser menuju pintu, akses kabur terdekat.

"Tetsuya."

Akashi menghela napas dan berjalan mendekati remaja yang ia panggil namanya, mengabaikan Aomine yang buru-buru kembali ke posisinya semula. "Aku mengerti keinginanmu untuk berlatih dengan timmu, tetapi cobalah mengerti kondisimu saat ini. Kemarin kau terluka parah, dan kini masih dalam tahap pemulihan. Tidak baik bila kau banyak bergerak, apalagi olahraga. Juga, aku ingin agar kau berada sejauh mungkin dari ibumu untuk sementara waktu. Semua ini demi keselamatanmu."

Tangan kanan ia letakkan di atas kepala Kuroko, sementara pemuda bersurai biru muda itu memejamkan mata, tahu ucapan Akashi benar adanya. Si rambut merah membiarkan Kuroko menikmati keberadaan tangannya selama beberapa saat, sebelum akhirnya membantu remaja itu untuk kembali berbaring. Setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh Kuroko, ia mencium lembut dahi pucat si pemain bayangan. "Kau harus banyak istirahat. Daiki, tetap berada di sekitar sini dan jaga pintunya."

Dengan kalimat tersebut, si rambut merah beranjak pergi.

Begitu terdengar suara pintu menutup, Aomine menghela napas. Kenapa harus aku? Kenapa bukan Murasakibara? Dia kan lebih berpengalaman, kerjanya di lapangan basket saja sebagai pemain guard, kan?

"Aomine-kun?"

Si pemain berkulit kecokelatan mendongak untuk menatap Kuroko. Tangannya meraih sebuah kursi dan menggesernya ke sebelah ranjang, lalu duduk di atasnya, sedikit menjulurkan badan pada remaja itu. "Ya?"

"Apakah kau menyukai Kise-kun?"

Mendengar pertanyaan itu, Aomine bisa merasakan wajahnya seketika menghangat.

"P-pertanyaan macam apa itu?" ucapannya berhamburan keluar oleh kepanikan, namun beberapa saat kemudian ia menggosok tengkuk dengan kikuk dan bergumam. "Sepertinya i-iya..."

Kuroko mengangguk. "Baguslah kalau begitu. Kise-kun juga menyukaimu sejak SMP."

"Hah?" Mata Aomine melebar. "Masa? Aku tak tahu itu. Yah, saat SMP ia selalu nempel padamu, sih."

"Karena hanya aku satu-satunya orang yang bersedia menyimak racauannya mengenaimu." Kuroko mengakui. "Dan… ia juga satu-satunya orang yang bersedia mendengarkanku."

Kalau saja Aomine adalah seekor anjing, mungkin telinganya sudah berdiri tegak sekarang. Sebuah seringai menggoda muncul pada bibirnya. "Oh? Kau juga menyukai seseorang, ya?"

Kuroko memalingkan muka yang semakin datar ekspresinya. "Aku tidak berkata begitu, Aomine-kun." Jemari kedua tangannya saling bertautan, gugup. "Lagipula aku tak punya waktu untuk memikirkan masalah-masalah kecil seperti… cinta."

Kuroko jadi merasa lucu setelah mengatakannya.

Aomie melihat sekeliling, memastikan tak ada celah yang memungkinkan gunting terbang untuk masuk. Hei, ini apartemen seorang Akashi! Ia harus ekstra hati-hati di tempat ini, siapa tahu jebakan-jebakan yang dipasang mantan kaptennya itu, kan? Bukannya berlebihan, tapi Aomine memang punya pengalaman menegangkan dengan apartemen Akashi ini. Pernah suatu ketika, di ruang tamu, ia mencibir Akashi saat si rambut merah itu sedang memasak di dapur. Lalu entah dari mana asalnya, sebuah gunting merah melesat tepat ke arahnya, bahkan sempat menggugurkan beberapa helai rambut biru tuanya. Beberapa detik kemudian, Akashi muncul seraya membawa nampan dengan senyum lebar.

Sejak saat itulah, Aomine belajar untuk menutup mulutnya, tak peduli walau si kapten tak berada di sekitarnya.

Kuda hitam Touou itu takut-takut mengecek sekitarnya sekali lagi, sebelum kemudian berbisik, persis seperti gadis SMA yang sedang menggosip. "Akashi sepertinya menyukaimu, lho."

Kuroko memandang sahabatnya itu dengan tatapan menghina, seolah sedang menatap seorang idiot.

Aomine buru-buru mengangkat tangan. "Itu hanya pendapatku. Habis, ia jelas-jelas memperlakukanmu secara khusus, berbeda dari yang lainnya." Ia terdiam beberapa saat untuk mencerna kalimatnya, kemudian meralat. "Yah, kami semua memperlakukanmu secara khusus juga, sih, tapi dia itu memperlakukanmu dengan kasih sayang lebih. Semua tahu itu." Tangan gelapnya secara otomatis bergerak menyusuri rambut biru muda. Kuroko menepisnya.

"Kenapa semuanya suka sekali mengacak-acak rambutku?" Kuroko merengut seraya mencoba merapkan rambutnya kembali.

"Karena rambutmu halus." jawab Aomine. "Dan kau tak memprotes kalau Akashi yang melakukannya."

Semu merah muncul pada pipi Kuroko. "I-itu berbeda. Aku jelas tak bisa memprotes Akashi-kun." ucapnya walau dengan nada suara yang tak meyakinkan.

"Hei, untuk kali ini aku setuju dengannya, Tetsu," ujar Aomine mengalihkan topik. "Kupikir lebih baik kau jangan pergi latihan dulu hari ini. Baru kemarin kau babak belur dan sekarang kau ingin latihan? Jangan konyol!"

Kuroko tak menjawab, walau dalam hatinya merasa kesal melihat mantan cahayanya itu memihak pada Akashi. Padahal ia ingin sekali bermain dengan timnya. Kuroko tahu ia bisa membuat perbedaan saat pertandingan dengan gaya bermainnya yang unik. Apalagi dengan adanya latih tanding melawan SMA Kaijou beberapa hari lagi (pagi tadi Kise pergi latihan dengan timnya), Seirin akan sangat membutuhkan bantuannya. Iya, punggungnya memang masih sakit, tapi bukan berarti ia harus bergerak banyak untuk mem-passing bola, kan? Lagi pula dari awal ia juga memang bukan tipe pemain yang aktif, tidak seperti Kagami.

"Baiklah." Aomine menghela napas. Kuroko bisa mendengarnya berdiri dan mengembalikan kursi tadi ke tempatnya semula. "Kupikir sudah waktunya kau tidur. Aku ada di luar, di depan pintu."

Daripada kalimat penghibur, bagi Kuroko ucapan Aomine barusan lebih seperti peringatan.

Sebuah ciuman lalu mendarat pada dahi Kuroko. Bukan ciuman lembut bercurah kasih sayang seperti Akashi tadi, melainkan kecupan cepat yang hanya sebentar menyentuh kulitnya, mengharapkannya agar segera sembuh. Tersenyum pada sahabatnya, Kuroko mendesah lega dan melesakkan diri dalam bantal.

Kuroko telah terbiasa meghadapi kepedulian berlebih dari rekan-rekan lamanya ini sejak mereka masih SMP. Setiap ada siswi yang menyatakan cinta pada Kuroko (walau jarang sekali, karena siswi-siswi SMP Teikou cenderung melupakannya), salah seorang anggota Generation of Miracles yang mengetahuinya akan segera merangkul pundaknya dengan protektif dan melempar tatapan membunuh pada siswi-siswi malang tersebut –mereka biasanya langsung kabur seraya berteriak ngeri kalau tidak terpaku ketakutan di tempat.

Karenanya, pernah ada gosip beredar di Teikou bahwa para anggota Generation of Miracles tidak normal –mereka menyukai sesama jenis. Tetapi bukannya menyurutkan semangat para fans di luar sana, gosip itu justru menambah pamor mereka (terutama Kise), sampai-sampai tiada hari tanpa penuhnya loker kelima anggota Generation of Miracles oleh surat cinta.

Namun Kuroko, anehnya, tak menemukan satupun surat dalam lokernya.

Beberapa hari kemudian, ia menemukan dua belas surat penggemar yang ditujukan padanya, terkoyak-koyak dalam keranjang sampah ruang gym SMP Teikou. Tak butuh waktu lama bagi pemuda itu untuk mengetahui dalang-dalang di balik semua ini.

Senyum kecil menemukan tempatnya pada bibir mungil. Walaupun kadang menyebalkan, tetapi Kuroko tahu ia akan aman berada dekat mereka.

.:xxx:.

Disclaimer to its rightful owner:

Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki

Original Story:

Betrayal In Its Simplest Form © Virelei

OCs © Virelei

(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)

Translation:

Betrayal In Its Simplest Form by Rheyna Rosevelt

I own nothing but this translation

(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)

Thus, I don't make any commercial profit within this story

(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)

Translation is under permission of its original author.

(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)

Warning:

This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.

.

.

[Chapter 5]

.

.:xxx:.

"Apakah kita akan mengurung Kuro-chin di dalam kamarmu seharian penuh, Aka-chin?"

"Tidak. Kita hanya perlu menunggu sampai tim Seirin selesai berlatih." Akashi mengernyit pada remaja berambut keunguan yang tengah menggeluti snacknya. "Bukankah hari ini tim basket SMA Yosen juga mengadakan latih tanding, Atsushi? Dan aku masih ingat akan menghubungi kapten timmu untuk menambah menu latihanmu."

Murasakibara merengut. "Aku tak mau latihan." ia bergumam.

"Ulangi?"

"Aku tak mau latihan."

"Kau akan pergi latihan."

Murasakibara mengeluh mendengarnya. Lalu, seperti bocah yang dipaksa memungut kembali sampah yang dibuangnya sembarangan, dengan ogah-ogahan ia meraih tasnya. Pemuda kelewat tinggi itu sempat melempar pandangan memelas ke arah Akashi, sebelum akhirnya menyerah dan berjalan mendekati pintu.

"Aka-chin kejam." rajuknya sebelum membanting pintu menutup.

Akashi tersenyum kecil. Walau postur tubuhnya seperti raksasa (208 cm, bayangkan!) dan kemampuannya di arena basket cukup menakutkan, perilaku Murasakibara Atsushi masih layaknya bocah lima tahun yang kelewat manja.

"Akashi."

Yang dipanggil berbalik, berhadapan dengan anggota Generation of Miracles yang tersisa, Midorima. Spesialis three-pointer itu duduk di atas sofa ruang tamu, tangannya bermain-main dengan lucky itemnya hari ini –boneka Hello Kitty pemberian Akashi. Rambut hijau yang biasanya tersisir rapi kini mencuat ke segala arah, hasil dari kurang tidur semalam.

Kemarin, setelah berhasil menenangkan Kuroko dari tangisannya, kelima anggota Generation of Miracles bergantian menyuapi si pemain bayangan. Tangan remaja itu terus menerus menumpahkan isi sendoknya karena gemetar, trauma mengingat kekejaman ibunya. Dua kali Kuroko menolak makan, dan dua kali pula Akashi harus memaksanya. Tak lama, Kuroko berhasil menghabiskan sup dan saladnya, dan meminum setengah cangkir teh yang sudah mendingin.

Akashi telah menyiapkan kamar untuk tamu-tamunya, bukan hal yang sulit dengan apartemen elit sebagai akomodasi. Aomine, Kise, dan Murasakibara langsung terlelap begitu kepala mereka menyentuh bantal. Ketiganya tertidur dengan damai sepanjang malam tanpa gangguan, namun beda ceritanya dengan Midorima, Akashi, dan Kuroko.

Midorima bukan tipe orang yang mudah tertidur, dan hal itu diperparah dengan teriakan minta tolong Kuroko dari kamar Akashi di tengah malam. Kaget, Midorima segera berlari menghampiri kamar Akashi dan mendobrak pintunya, matanya melebar melihat si remaja berambut merah tengah berusaha menenangkan Kuroko yang masih histeris dalam tidurnya. Pemuda berambut biru itu menangis tersedu-sedu pada dada Akashi, tangannya mencengkeram erat pakaian mantan kaptennya, menolak untuk melepaskannya.

Menghela napas, Midorima turut membantu menenangkan pemuda yang menangis sesenggukan tersebut sebelum kembali ke kemarnya.

Namun sayangnya, kejadian itu tak hanya sekali terjadi. Midorima sendiri tak bisa mengingat berapa kali Kuroko berteriak karena mimpi buruknya. Tetapi yang jelas, cukup sering untuk membuatnya dan Akashi bangun dengan kantung mata.

"Ya, Shintarou? Apakah kau ingin tidur lagi? Aku tahu kau punya agenda latihan sore ini."

Midorima mendengus. Bukan hal yang mengherankan mantan kaptennya mengetahui jadwal latihan tiap anggota Generation of Miracles dan Kuroko. Tetapi kali ini ia mengesampingkan kebutuhannya akan tidur untuk mendiskusikan sesuatu. "Kita harus mengeluarkan Kuroko dari rumahnya secepatnya. Ia tak boleh menderita lebih lama lagi."

Tangan pucat Akashi mengepal kuat di atas meja kopi, tetapi raut wajahnya masih kalem. "Aku tahu, Shintarou."

Kemarahan meluap dalam dada Midorima. "Kalau kau sudah tahu, lantas mengapa kau diam saja? Mengapa Kuroko Haru tak melaporkan perbuatan istrinya pada pihak yang berwajib? Kekerasan ini terjadi selama lebih dari lima tahun, dan kita punya cukup bukti dan saksi! Aku cukup mengerti akan ketakutan Kuroko sehingga ia tak berani buka mulut mengenai hal ini, tapi sudah cukup penderitaannya! Jadi kenapa-"

Suara nyaring benda pecah menusuk masuk gendang telinga Midorima, sukses menghentikan kalimatnya. Matanya melebar melihat pecahan tajam beling bersemburat deat kakinya, serta cairan putih susu yang mengalir membasahi lantai bermotif kayu. Telapak tangan Akashi menghantam meja terlalu keras hingga menggulingkan secangkir susu hingga jatuh ke lantai –dan pecah, menimbulkan semua kekacauan ini.

Napas berat terdengar dari sosok remaja berambut merah, yang sejatinya paling bisa mengendalikan emosi dari anggota Generation of Miracles lainnya. Tampaknya ucapan Midorima mempengaruhinya lebih dari yang ia perkirakan, dan Akashi jelas tak menyukainya.

Midorima menelan ludah. Lagi.

"Kau belum tahu kekuatan sesungguhnya dari Kuroko Ibuki, Shintarou." desis Akashi pelan. "Tak peduli walau kita memiliki seratus saksi dan seribu bukti atas tindak kekerasannya pada Tetsuya. Ia adalah pemilik dari tiga perusahaan terbesar di Jepang. Ia punya koneksi jauh lebih dalam dari pemerintah. Ia bisa menghapus catatan kriminalnya hanya dengan satu kata. Ia bisa menyewa pengacara terhebat untuk melawan kita di meja pengadilan. Bila kita ceroboh dan membuat satu kesalahan, ia akan menceraikan Kuroko Haru, satu-satunya alasan mengapa Tetsuya masih berada di sini, bersama kita. Dan bila hal itu terjadi, hak asuh atas Tetsuya akan berpindah padanya."

Mengikuti kilatan pada sepasang mata berbeda warna, sebuah senyum menjalar pada bibirnya.

"Sebesar itulah pengaruh Kuroko Ibuki di Jepang."

Midorima bisa merasakan bulu kuduknya meremang. Ia tak pernah bertemu langsung dengan ibu Kuroko, tetapi anehnya, ia merasa mengenalnya. Entah karena wanita itu adalah pelaku kekerasan pada mantan rekan setimnya, atau karena ia cukup sering mendengar namanya disebut di berbagai media, ia merasa tak perlu bertemu dengan Kuroko Ibuki untuk mengenalnya lebih dalam.

Hanya Akashi, Kise, dan Aomine yang pernah bertemu dengan Ibuki pada tahun ketiga mereka di SMP Teikou, dan itupun secara tak disengaja. Dari apa yang Kise ceritakan padanya, hari itu menu latihan Kuroko dilipatgandakan karena gagal lolos tes shooting, sehingga Kuroko terpaksa pulang lebih larut dari biasanya. Tanpa diduga, Ibuki sendiri mendatangi gym SMP Teikou untuk menjemput putranya.

Cukup dengan mengamati reaksi Kuroko saat melihat kehadiran wanita itu, Akashi seketika mampu menguraikan benang merah misteri luka-luka yang dialami remaja berambut biru muda itu. Namun, tahu seberapa besar pengaruh Kuroko Ibuki, Akashi membiarkan wanita itu membawa Tetsuya pulang.

Keesokan harinya, Kuroko muncul dengan tangan kiri patah dan kaki yang dipenuhi luka lebam. Ia berkali-kali meminta maaf pada pelatih karena tak bisa mengikuti latih tanding hari itu –dan beralasan bahwa ia jatuh dari tangga rumahnya.

Walaupun Generation of Miracles tahu betul apa yang sebenarnya terjadi.

"Bagaimana dengan ayahmu?" tuntut Midorima. "Bukankah beliau memiliki pengaruh yang luas di dunia hukum?"

"Ayahku," ucap Akashi dingin. "Tak bisa mengalahkan pengaruh para koneksi Ibuki."

"Lalu apa yang bisa kita lakukan?"

Akashi bangkit dari kursinya. "Sebenarnya, aku punya rencana untuk menyelamatkan Tetsuya. Namun kita akan membutuhkan bantuan dari banyak orang." Matanya melirik ke arah pintu. "Dan dengan pengaruh sebesar itu, tampaknya kita akan kesulitan menemukan orang-orang ini…"

Tetapi ada satu orang, dan Akashi yakin orang ini juga membenci Kuroko Ibuki, sama seperti Generation of Miracles.

Dan orang inilah, anak tangga pertama dari rencana Akashi Seijuuro.

"Shintarou, bersiaplah. Kita akan berjalan-jalan sebentar."

"Ke mana?" ia meremas bonekanya.

Akashi tak menjawab. Ia justru berjalan menyusuri koridor dan memanggi si penjaga pintu kamar. "Daiki."

Aomine mengalihkan perhatian dari ponselnya. Ia duduk di lantai, tepat di depan pintu kamar Akashi, seperti yang diusir. Pemuda berambut biru gelap itu tak berani menatap ruang tengah sejak ia mendengar suara debat dan benda pecah, karenanya ia nyaris terlonjak mendengar suara dingin Akashi menyebut namanya. "Ya?"

"Bagaimana Tetsuya?"

"Tidur. Kurasa."

"Bagus. Tetap jaga dia. Dan buatkan sesuatu bila Tetsuya kelaparan. Kau kuizinkan menggunakan dapurku. Shintarou dan aku akan segera kembali.

Aomine menguap. "Ya, ya."

Sesaat Akashi menatapnya tajam sebelum berjalan kembali ke ruang tengah. Aomine menunggu suara percakapan dan langkah kaki mereda, lalu suara pintu menutup, sebelum menghela napas panjang. "Haaah… setelah mereka pergi, aku bisa tidur dulu sejenak. Tetsu tak mungkin kemana-mana."

Ia tertidur dalam beberapa detik.

.:xxx:.

Di dalam kamar, Kuroko tengah mengenakan kembali sepatu basketnya. Sejak Aomine menutup pintu, ia telah melaksanakan rencana kecilnya: kabur dari kamar. Kondisinya kini yang separuh telanjang dan tak tahu keberadaan celana dan jaketnya, membuatnya terpaksa menggeledah lemari yang ada di pojok ruangan. Ia menemukan beberapa kaus polos dan celana pendek, juga, untungnya, dompet kecil berisi uang yang tak sedikit.

Sesaat kemudian, telah siap dengan pakaian, sepatu, dan beberapa lembar uang yang di'pinjam'nya dari dompet Akashi, Kuroko berjalan mendekati pintu dan menempelkan telinganya. Suara dengkuran terdengar dari luar kamar. Pemuda itu tersenyum, senang karena perkiraannya benar. Mantan rekannya itu seorang yang sangat malas, hobinya tidur setiap ada kesempatan. Pelan, seperti bayangan, Kuroko membuka pintu kamar dan menyelinap keluar. Untunglah tak ada tanda-tanda keberadaan teman-temannya, sehingga Kuroko dapat mendekati pintu utama tanpa takut tertangkap.

Bagi ia membuka pintu, udara segar seketika menyambutnya. Kuroko tak berani menghabiskan waktu untuk beradaptasi dengan kebebasan, ia segera mendekati tangga dan tertatih-tatih menuruninya, seraya berpegangan pada palang pembatas. Kuroko melanjutkan dengan berjalan menuju jalan raya, lantas memanggil taksi karena ia tak tahu di Tokyo bagian mana kini ia berada.

"SMA Seirin."

Si sopir mengangguk dan memutar arah.

Rupanya, jarak antara apartemen Akashi dan sekolahnya tak terlalu jauh. Kurang dari lima menit kemudian, si sopir memberitahunya bahwa mereka telah sampai tujuan. Kuroko segera membayar ongkosnya dengan uang Akashi (ia akan menggantinya nanti, sungguh!), lalu berjalan memasuki area sekolah, menuju ruang gym.

Suara dribble bola basket dan teriakan rekan-rekannya membuat Kuroko menyunggingkan senyum. Riko-san pasti akan memarahiku setelah ini, pikirnya, tetapi sama sekali tak menyurutkan semangatnya. Setelah menarik napas, Kuroko membuka pintu berdaun ganda ruang gym.

Kehadirannya saat itu tak lagi diabaikan, justru menjadi pusat perhatian. Gerakan para pemain seketika terhenti, bola basket menggelinding terlupakan ke segala arah. Semua kepala tertoleh, mulut menganga kaget, membuat Kuroko yang berdiri kikuk di depan pintu merasa makin salah tingkah.

"Ano… aku kembali?"

"Kuroko!" teriakan seorang gadis. Kuroko menoleh, dan tubuhnya seketika diterjang oleh pelatihnya. Aida Riko memeluknya sekuat tenaga hingga Kuroko kehabisan napas, membuat remaja itu meronta-ronta minta dilepaskan. Tekanan pada punggungnya yang masih terasa perih membuat mata Kuroko berkaca-kaca. "Oh, kami benar-benar khawatir! Kagami-kun terus menerus menelepon ponselmu, tetapi kau sama sekali tak mengangkatnya! Kami bahkan sampai bertanya pada wali kelasmu apakah kau sudah masuk atau belum. Maksudku, aku tak percaya kalau kau ternyata bisa sakit! Ah, apakah kau sudah sembuh? Tapi aku lega akhirnya kau datang juga! Kami juga membawa-"

"Tetsu-kun."

Ucap suara semanis madu, menyembunyikan racun di baliknya. Sosok wanita bersurai biru muda bangkit dari kursinya, berjalan mendekat dengan sebuah senyum terpulas.

Darah Kuroko seketika membeku.

"Kemarilah, sambut ibumu."

.

.

[To be continued]