"Kau yakin ia ada di sini?"
Kedua remaja yang masing-masing berambut merah dan hijau tersebut telah menyusuri jalanan yang padat, menyeberang beberapa kali di tengah ramainya lalu lintas, dan berkelit di antara ratusan pejalan kaki selama kurang lebih dua puluh menit. Kaki Midorima sudah hampir lelah digunakan untuk menapaki jalanan yang berbukit-bukit dan bergerak refleks menghindari bocah-bocah yang berlarian di depan sebuah taman kanak-kanak. Sepertinya definisi Akashi dari 'jalan-jalan' berbeda jauh dengan definisinya.
"Ya, ia akan ada di sini," jawab Akashi mantap. "Aku selalu benar."
Midorima memutar bola mata. Di belakang Akashi, tentu saja.
Lima menit kemudian, mereka berhenti di depan sebuah kafe tua yang konstruksi bangunannya sudah cukup memprihatinkan. Kafe itu tampaknya bisa rubuh setiap saat, dan hanya ada beberapa orang di sekitarnya. Dua buah meja kayu dipajang di teras, lengkap ditemani beberapa kursi yang mengitari. Sebuah papan nama yang tertutup debu juga tergantung di depan pintu -"Shiki", atau "Four Seasons".
Akashi mengecek ponselnya. "Kita terlambat," ucapnya. "Harusnya kita sudah masuk sekarang."
Midorima menahan diri untuk tidak melempar tas yang ia bawa.
Tetapi Akashi tak mempedulikan –tentu saja. Ia hanya berjalan mendekati pintu, sebuah petunjuk agar Midorima mengikutinya. Bel di atas pintu itu bergemerincing lembut begitu Akashi membuka daun pintu, menarik perhatian dari para pelayan kafe.
Sementara itu, Midorima mengamati sekitar. Hanya dua meja yang telah ditempati –satu oleh sepasang remaja, dan satu lagi oleh seorang pria, yang kini menengadah dan menatap mereka.
"Itukah?" Midorima bergumam seraya mengawasi si pria.
"Ya."
Seorang pelayan mendekati mereka dengan senyum sopan. "Meja untuk berdua?"
"Tidak, terima kasih. Kami bersama dengannya." Akashi menunjuk pada sosok pria yang digumamkan Midorima.
Si pelayan menoleh ke arah yang ditunjuk dan mengangguk. "Tentu saja. Silahkan panggil saya bila Anda hendak memesan sesuatu."
Setelah pelayan itu berjalan pergi, kedua pemain basket tersebut berjalan mendekati meja –Midorima dengan ragu namun Akashi penuh percaya diri. Sebuah seringai muncul pada bibir tipis Akashi saat langkah kaki membawa mereka makin mendekati meja yang hanya dihuni pria yang kini tampak gugup.
Midorima dengan cepat mengamati pria itu. Postur tubuhnya tinggi, terlihat walaupun ia duduk. Surai biru mudanya dipotong pendek, dan matanya sewarna kulit kayu basah. Ia mengenakan kemeja yang serasi dengan warna rambutnya, serta celana panjang hitam kelam. Tangannya terkepal erat di atas pangkuan.
"Selamat siang, Kuroko Haru-san." Akashi menyapa.
"Ah, kau pasti Akashi-kun, kan?" Seketika, Haru bangkit dari kursinya dan membungkuk sopan pada dua remaja yang jelas jauh lebih muda darinya. Akashi dan Midorima saling berpandangan sejenak, namun toh mereka juga membungkuk kecil. Kini jelas dari mana asalnya Kuroko mendapat kebiasaan ekstra sopan dengan membungkuk pada setiap orang.
Setelah mereka bertiga duduk melingkari meja, Akashi memesan kopi untuk Midorima dan teh untuknya sendiri –tak mempedulikan protes tanpa suara si surai hijau yang sudah hendak memesan oolong tea. Kuroko Haru tak memesan apapun, namun tanpa ragu-ragu ia langsung angkat bicara mengenai topik utama alasan mereka berkumpul di kafe ini.
"Di mana Tetsuya? Apakah luka-lukanya sangat parah?" tanyanya, panik.
"Ia baik-baik saja," jawab Akashi menenangkan. "Sekarang ia berada di apartemenku. Tetsuya butuh banyak istirahat agar luka-lukanya lekas sembuh."
Mendengarnya, Haru tampak seperti orang yang baru saja diangkat batu besar dari pundaknya. Sikap gugupnya mencair, dan ia melepas senyum kecil seraya mengusap rambutnya. "I-itu… baguslah," ucapnya, terlalu lega untuk dapat berkata-kata. "Aku sangat khawatir ketika aku tak menemukan Tetsu di rumah. Sungguh beruntung ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya." Ia memalingkan perhatian pada Midorima. "Ah, dan kau adalah…?"
"Midorima Shintaro," jawabnya pelan.
"Midorima," ulang Haru. Ia mengernyit selama beberapa saat sebelum kemudian mengerjap. "Oh! Midorima-kun! Ya, ya, aku ingat sekarang! Tetsuya bercerita banyak tentangmu."
Remaja itu mengangkat sebelah alis. Kuroko bicara tentangnya?
"Haru-san," panggil Akashi, menarik perhatiannya kembali. "Kita harus bicara."
Bayangan suram kembali pada wajah pucat pria itu. "Ya," ujarnya pelan. "Aku tahu kalian ingin membicarakan… ibu Kuroko."
"Kuroko Ibuki," Akashi menyebutkan namanya tanpa ragu. "Haru-san, kami telah mengetahui bahwa ialah penyebab semua ini."
Haru menunduk dan memalingkan muka, surai birunya menutupi sepasang mata hangat yang kini tampak suram. Kedua tangannya kembali terkepal erat di atas paha, gemetar begitu mendengar nama istrinya disebut. Kemudian, pria itu menelan ludah, berusaha mengontrol emosi yang bergejolak dalam dirinya.
Saat itulah, Midorima nyaris tak bisa membedakan Kuroko Haru dengan putranya, melalui cara mereka mengontrol kemarahan.
"Begitu…" Kuroko Haru berbisik.
Si kuda hitam SMA Rakuzan menyesap tehnya dengan santai, namun Midorima masih tetap bisa mengenali berbagai emosi pada sepasang mata berbeda warna. Tetapi remaja berkacamata itu tak mengucapkan sepatah katapun –hanya duduk diam dan meremas lucky item-nya, boneka Hello Kitty.
"Kita akan langsung menuju inti pembicaraan: Kami tak akan membiarkan Tetsuya menderita lebih lama lagi. Dengan memperhitungkan segala kemungkinan yang ada, kami bertekad untuk membebaskan Tetsuya dari Ibuki." Akashi meletakkan cangkir tehnya. Jemari pucatnya lantas bergerak ke samping cangkir dan mengetuk meja dengan lembut. "Karenanya, kami membutuhkan bantuanmu."
Haru mendongak, terkejut. Manik cokelatnya kini terbuka lebar. Mulutnya juga menganga kaget begitu ia mendengar penuturan remaja di depannya.
Midorima tak keheranan melihat ekspresi Haru. Tentu saja, pria itu tak pernah menyangka bantuan darinya akan dibutuhkan dalam rencana melawan Ibuki.
Tetapi sejujurnya, Midorima sendiri tak tahu bagaimana cara pria ini akan membantu rencana mereka.
"Aku?" Kuroko Haru terdiam sejenak. "Aku tak bisa mencegah Ibuki. Bila aku melawannya di meja pengadilan, ia pasti akan merebut hak asuh atas Tetsuya." Pelan, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Semua yang bisa kulakukan justru akan memperburuk keadaan… Kau tak tahu pengaruh Ibuki-"
"Aku telah mewaspadai kekuatan Ibuki," ucap Akashi tenang. "Shintaro, tolong ambilkan tas itu."
Atas perintah si remaja bersurai merah, Midorima membawa tas berat yang tak ia ketahui isinya sepanjang perjalanan menuju kafe ini. Saat Akashi menyerahkan tas itu di apartemennya, Midorima tak berani membantah dan menyuruh Akashi membawa sendiri tasnya. Hei, ia belum mau kehilangan nyawa sebelum Winter Cup dimulai.
Si three-point shooter dengan patuh membungkuk dan meraih tas berwarna hitam itu dari bawah meja. Ia lantas mengopernya pada Akashi.
"Terima kasih, Shintaro." Akashi berpaling pada Haru. "Tugasmu... mungkin akan sulit secara emosional, tetapi secara praktek, aku yakin kau dapat melakukannya dengan mudah." Ia mengeluarkan sebuah kamera dan beberapa kartu memori dari dalam tas, lalu meletakkan semuanya dengan rapi di atas meja. "Aku tahu kau akan sedikit kesulitan mengatur emosimu dalam tugas ini, tetapi aku yakin kau akan melakukan yang terbaik, karena semua ini demi putramu."
Haru mengamati kamera di depannya, curiga. "Memangnya apa yang harus kulakukan?"
Selama dua puluh menit ke depan, Akashi menjelaskan tugas Kuroko Haru, lengkap dengan detailnya, tanggal-tanggal penting, waktu, dan petunjuk-petunjuk yang kelak akan memudahkannya. Seiring dengan berjalannya waktu, Midorima bisa mendeteksi perubahan ekspresi Haru dari penasaran menjadi campuran antara terkejut, takut, hingga tak percaya. Tetapi Midorima tak menyalahkannya, karena ia yakin ekspresi wajahnya sendiri juga persis sama dengan Haru. Tugas yang diberikan Akashi pada ayah Kuroko sungguh di luar akal sehat, tetapi dalam hati Midorima juga menyetujuinya. Tak seorangpun mampu melaksanakan tugas itu selain Kuroko Haru. Tidak ada, bahkan Akashi sekalipun.
Pada akhirnya, pria itu tak bisa melakukan apapun itu selain menyetujui tugasnya.
Menit berikutnya, tak satupun dari mereka berbicara. Akashi kembali menyesap tehnya, Midorima memainkan lucky item-nya, dan Haru menatap keluar jendela.
Beberapa menit kemudian, keheningan tersebut dipecah oleh dering ponsel Akashi.
Midorima dan Haru terlonjak begitu mendengarnya, sementara si pemilik ponsel dengan kalem mengecek caller ID dan menjawab panggilan dengan nada tak mengenakkan.
"Daiki."
"Tetsu hilang!" Aomine berseru panik. "Ia kabur! Aku tak bisa menemukannya di manapun, dan ponselnya ditinggal!"
Akashi menyipitkan mata. "Apa maksudmu ia kabur, Daiki? Bukankah aku menugaskan padamu untuk menjaganya dan memastikan agar ia tak bangkit dari tempat tidur?"
"D-dia sudah tidur waktu aku keluar dari kamar, aku berani bersumpah! D-dan aku hanya tertidur sejenak, tetapi saat aku bangun, ia sudah tak ada! Dan sepatu basketmu juga hilang-"
"Kau. Tertidur?"
Seruan Akashi menarik perhatian seisi kafe, beberapa pasang mata menatap remaja berambut merah itu penasaran.
Mata Midorima melebar, kaget melihat mantan kaptennya yang sangat sabar itu ternyata mampu berseru marah. Aomine pasti telah mengacaukan sesuatu lagi, dan ganguro satu itu harus menyiapkan jiwa raga untuk hukumannya yang menanti.
"A-aku tidak tahu," ucap Aomine terbata-bata. "Kalau dipikir lagi, Tetsu tak mungkin melakukan hal-hal semacam ini. Ya, kan? Akashi, kau pasti setuju denganku, kan? Maksudku, aku tak menyangka ia benar-benar kabur!"
Akashi terdiam sejenak, kedua tangannya mengepal penuh kemarahan. Matanya berkilat bahaya, membuat Midorima dan Haru menahan napas.
"Aomine Daiki," bisik Akashi mengancam. "Neraka menunggumu. Ingat itu."
Kemudian, tanpa mempedulikan reaksi lawan bicaranya, Akashi memutuskan sambungan telepon.
"Shintaro, bersiaplah." Pemuda berambut merah itu bangkit dari kursinya. Rahangnya mengatup keras, kesal. Mengetahui kondisi emosional Akashi sedang tidak stabil, Midorima segera mengemasi kamera dan perangkat-perangkatnya. "Haru-san, kupikir Anda harus ikut serta. Putramu telah kabur." Mata Kuroko Haru melebar kaget, namun Akashi melanjutkan. "Tapi aku punya perkiraan akurat di mana ia sekarang. Ikuti aku."
.:xxx:.
Disclaimer to its rightful owner:
Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki
Original Story:
Betrayal In Its Simplest Form © Virelei
OCs © Virelei
(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)
Translation:
Betrayal In Its Simplest Form by Rheyna Rosevelt
I own nothing but this translation
(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)
Thus, I don't make any commercial profit within this story
(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)
Translation is under permission of its original author.
(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)
Warning:
This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.
.
.
[Chapter 6]
.
.:xxx:.
Bola basket melayang melewatinya, tepat di sebelah telinganya, membuat surai biru muda bergerak lembut seolah tertiup angin. Bola itu menabrak dinding gym di belakangnya dengan suara hantaman keras, lantas jatuh ke lantai dan menggelinding kembali ke arah kakinya.
Kuroko Tetsuya berkedip. K-kapan mereka mem-passing bolanya?
"Kuroko!" tegur Izuki. "Ini sudah yang kesembilan kalinya!"
"Ada apa, Kuroko?" Teppei mengernyit. "Tak biasanya kau melamun seperti itu."
"Konsentrasikan kepalamu itu pada permainan!" seru Kagami seraya menepuk punggung rekannya dengan maksud untuk menyemangati.
"Ah!"
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kagami seorang yang bertenaga besar, dorongan dari tangannya berhasil membuka kembali luka lama Kuroko. Pemuda itu tersandung beberapa langkah ke depan, kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan ekspresi kesakitan.
Punggungnya mulai terasa perih lagi.
Dan sebelah matanya mengerjap takut begitu ia mendengar suara tawa pelan seorang wanita di belakangnya.
Kuroko Ibuki menontonnya bermain dari garis tepi lapangan, sepasang mata biru muda tak melepaskan pautannya dari sosok lemah putranya.
Mau apa ibu? pikir Kuroko waspada. Mengapa ibu mengawasiku seperti itu? Mengapa ibu hanya diam saja? Mengapa ibu… belum melakukan apa-apa?
Inilah alasan utama pemuda bersurai biru itu tak dapat berkonsentrasi pada permainan. Otaknya terus menerus mengirimkan impuls takut, cemas, dan waspada –dan ia nyaris tak bisa bergerak bebas tanpa merasakan bulu kuduknya meremang. Kondisi luka-lukanya juga sama sekali tak membantu. Walau kemarin Midorima dan Akashi telah merawatnya, namun rasanya kini nyaris sama seperti hari ia kabur dari rumah. Akashi benar, tubuhnya memang belum siap untuk digerakkan.
Mengingat mantan kaptennya, Kuroko merutuk diri. Ia menyesal. Sungguh keputusan bodoh melanggar perintahnya.
"Tingkatkan penyerangan!" seru Riko. "Kuroko, konsentrasi!"
"Hei, pelatih?" Koganei menghampiri Riko dari bangku cadangan, lantas berbisik pada telinga gadis itu. "Apakah ini hanya perasaanku, atau Kuroko memang terlihat pincang?"
Pelatih tim basket SMA Seirin itu melayangkan pandang kembali ke lapangan, berkonsentrasi sejenak pada sosok si pemain bayangan. Setelah mendengarnya dari Koganei, Riko baru menyadari cara berjalan Kuroko yang aneh. Ya, ia berjalan terpincang-pincang, dan selama pertandingan ia tak lagi mem-passing bola sekuat dulu. Bagaimana bisa ia tak menyadari kondisi pemainnya sendiri? "Kau benar-"
"Permisi."
Suara seorang wanita menginterupsi percakapan keduanya. Koganei dan Riko berbalik, keduanya menatap keheranan pada sosok Kuroko Ibuki yang berjalan mendekat. Terlatih untuk mengamati kondisi fisik manusia, Riko dengan cepat mampu mendeteksi bahwa senyum manis yang terpampang pada wajah wanita itu palsu. Gadis itu menggertakkan gigi. Tak tahu mengapa, tetapi Riko merasa tak nyaman selama ibu dari Kuroko itu berada di sekitarnya.
"Ya?"
"Bisakah kau menghentikan permainannya?"
"Menghentikan permainan?" Riko mengangkat sebelah alis. "Permainan tak bisa dihentikan sebelum time out."
"Hentikan permainannya."
Wanita itu berucap lagi, kali ini dengan nada yang berbeda.
Sudut mata Aida berkedut mendengar tuntutan itu. Selama menjadi pelatih tim basket, ia tak pernah sekalipun menghentikan permainan di luar time out. Tetapi wanita ini orang tua salah satu pemainku, Riko berpikir sejenak seraya menempatkan peluit pada bibirnya. Dan kita harus menuruti perintah orang tua. Baiklah.
Suara peluit panjang. Semua pemain menghentikan gerakannya, lantas menoleh pada pelatih mereka dengan tatapan heran.
"Berhenti!" seru Riko kemudian, dengan bibir sedikit mengerucut pertanda tak ikhlas memberi perintah.
"Kenapa permainan dihentikan, Riko-san?" Kuroko bertanya pelan, walau hatinya tak berani mendengar jawabannya.
Namun bukannya Riko yang menjawab, Ibuki justru melangkah memasuki lapangan seraya tersenyum manis. Dari sudut matanya, ia dapat melihat putranya tanpa sadar melangkah mundur ketakutan.
"Maafkan aku, semuanya," Ibuki menambah intensitas senyumnya. "Tetapi aku ingin membawa Tetsu pulang sekarang."
"Hah?" protes Kagami. "Kau tak bisa membawanya pulang sekarang! Latihan hari ini masih jauh dari selesai!"
Ibuki melempar pandangan tajam ke arahnya, dan Kagami menutup mulut. Ada sesuatu dari wanita ini yang membuat Kagami waspada. Kuroko Ibuki nyaris sama seramnya dengan Akashi, tetapi dalam hal yang berbeda.
"I-Ibu?" Kuroko bergumam pelan. "Aku ingin mengikuti latihan sampai selesai."
Tetap di sini. Jangan biarkan wanita itu membawamu pulang. Sebuah suara memerintahnya. Seseorang akan segera datang.
Ekspresi manis ibunya berubah masam. Matanya berkilat liar, dan senyum hangat yang semula ia tebarkan berganti menjadi seringaian.
"Kau mulai berani membantah perintahku, Tetsuya?"
Mendengar ucapannya sendiri, wanita itu lantas tertawa keras. Seisi gym SMA Seirin melangkah mundur, kaget dengan transformasi Ibuki. Bahkan Aida Riko sendiri tak menyangkal bahwa bulu kuduknya meremang mendengar suara tawanya.
"Rupanya tebakanku pada hari kau kabur dariku itu benar. Kau sudah melupakan tata kramamu, hm?" nada suaranya merendah, namun lebih marah, sementara ia menatap mata putranya tajam. "Jangan khawatir, Tetsu-kun. Akan kupastikan kau mendapat pelajaran tata krama begitu kita sampai di rumah."
Ingatan dari 'pelajaran' Ibuki yang telah lalu berkilas di depan matanya. Dalam kesunyian gym, ia bisa mendengar teriakannya sendiri, merasakan denyut perih di sekujur tubuhnya, mencium aroma besi dan kebencian ibunya, melihat memar dan cipratan darah… dan bentakan-bentakan, hinaan, rasa sakit, memar, luka, tulangnya yang patah, benda tajam, kayu, pemukul, hantaman, pigura kaca, vas bunga, dinding, darah…
"Ayo, Tetsu-kun."
Kuroko mematung di tengah lapangan. Kedua manik birunya melebar ketakutan, terfokus pada wajah ibunya. Tubuhnya yang tak seberapa tinggi gemetar hebat ketika Ibuki melangkah mendekatinya.
"Tetsu. Ayo pulang."
Namun kilasan adegan masa lalu itu tak berhenti, seberapapun ia memaksa diri untuk menutup matanya.
"Ayo pulang bersama Ibu."
Sepasang mata biru muda yang menatapnya tajam, sepasang tangan pucat yang bukan miliknya, teriakan penuh kebencian yang ditujukan padanya, air mata yang mengalir dari sudut matanya sendiri, tangisannya, pekikannya, permohonannya… meminta tolong… tolong… tolong… siapapun, siapapun! Tolonglah!
"Tetsu-"
"Kuroko Ibuki."
Sebuah suara tajam membuyarkan nostalgia Kuroko, menarik remaja itu kembali pada kenyataan. Juga menarik perhatian semua orang hingga menoleh pada sumber suara: pintu masuk gym yang berdaun ganda.
Jantung Kuroko mencelos melihat Akashi, Midorima, dan ayahnya. Mereka di sini, ia menahan napas. Aku aman. Aku aman. Mereka sudah di sini...
Akashi mengamati seisi gym sejenak, melempar lirikan sinis pada Ibuki, kemudian memfokuskan pandangan pada Kuroko. Tampaknya ia datang tepat pada waktunya, menilik dari wajah Tetsuya yang sudah sangat merah saking paniknya. Mantan kapten tim basket Teikou itu juga menyadari cara berdiri Kuroko yang membebankan pada kaki kirinya -sengaja menghindari kaki kanan. Juga punggung Kuroko yang tampak tegang.
Akashi menggelengkan kepala dan menghela napas.
Ibuki mengernyit, marah mengetahui ada yang berani menyebutkan namanya. Terlebih lagi yang menyebutkan adalah bocah remaja.
"Siapa kau?"
"Profil diriku sama sekali tak penting." balas Akashi. "Tetsuya. Ke Midorima. Sekarang."
Tubuh Kuroko bergerak sendiri atas perintah tersebut. Terpincang-pincang, ia mendekati Midorima yang menunggu di belakang mantan kapten mereka. Remaja berkacamata itu segera menangkapnya begitu ia melihat keseimbangan Kuroko mulai goyah.
"Aku membawa kotak obat. Ayo, kita rawat lagi lukamu," bisiknya pada telinga Kuroko. Begitu menerima konfirmasi berupa anggukan, Midorima merendahkan tubuh untuk meraih kaki rekannya dan menggendongnya menuju bangku cadangan –sejauh mungkin dari ibunya. Tak sulit, karena berat badan Kuroko nyaris bukan apa-apa. Tetapi bulu kuduk pada punggungnya meremang, tahu ia tengah ditatap tajam oleh wanita paling berpengaruh di Jepang.
"Haru, apa maksudnya semua ini?" Ibuki menuntut. "Suruh mereka mengembalikan Tetsuya! Kita akan pulang!"
"Ibuki," timpal Haru pelan. "Aku tahu kau kecewa, tapi-"
"Tetsuya akan menginap di rumahku." Akashi mengumumkan. "Kami memiliki banyak tugas kelompok untuk dikerjakan. Dan akan sangat memudahkan bila ia diizinkan untuk menginap."
Dusta itu meluncur mulus tanpa sedikitpun celah untuk tak mempercayainya. Bahkan tim Seirin saja nyaris terpedaya andaikan mereka tak mengingat bahwa Akashi Seijuuro adalah siswa SMA Rakuzan.
Ibu Kuroko melotot padanya. "Tetsuya tidak memberitahuku mengenai 'tugas kelompok' ini! Ia tak mendapat izin untuk menginap dari orang tuanya!"
"Tidak… tetapi ia memberitahuku." ucap Haru, kali ini lebih lantang. "Dan aku memberinya izin untuk menginap."
"Kalau begitu, aku menarik izinnya!" seru Ibuki histeris. "Akulah yang membuat peraturan di rumah kita! Tetsuya harus pulang!"
Akashi menelengkan kepala. "Dan kenapa ia harus pulang?"
"Ia harus bersama keluarganya!"
Ekspresi remaja berambut merah itu menggelap. Nada suaranya berubah. "Bila kau berani mengucapkan kata 'keluarga' lagi," gumamnya, dan senyum kecil perlahan melebar pada bibir tipisnya. "Aku takkan ragu-ragu lagi untuk menghancurkanmu."
Aura yang menguar dari tubuh Akashi cukup untuk membuat Ibuki melangkah mundur, ketakutan. Namun kemudian ia mengingatkan diri bahwa pemuda ini hanya remaja biasa, tak pantas disandingkan dengan wanita berpengaruh sekalibernya. Dengan rasa percaya diri yang baru, ia memerintah.
"Kembalikan Tetsuya."
Si kuda hitam Rakuzan berakting seolah memikirkan tindakan selanjutnya. "Tidak."
"Sudah cukup, Ibuki!" Haru berseru pada istrinya. "Pendidikan Tetsuya lebih penting daripada apapun! Bila ia mempunyai tugas kelompok untuk dikerjakan, maka ia memiliki hak untuk mengerjakannya!"
Hyuuga, yang sedari awal telah mengira bahwa wanita dewasa di depannya ini punya kelainan mental, memutuskan untuk angkat bicara. "Benar! Tugas kelompok ini sebenarnya memuat separuh dari nilai total siswa selama satu tahun ajaran! Biarlah Kuroko mengerjakannya!"
"Apa salahnya, sih, membiarkan Kuroko menginap di rumah temannya?" tuntut Kagami, kini juga mulai berani menatap tajam Ibuki.
Diserang berbagai penjuru, Ibuki mengedarkan pandangan mematikan pada semua orang di gym. Ia meraih tas kecilnya dan menghentakkan kaki keluar.
"Kalian semua akan menyesal," desisnya tajam sebelum membanting pintu di belakangnya dengan keras.
.
.
Haru menghela napas lega.
Tim basket Seirin tampaknya masih bingung dengan kejadian barusan, tapi juga lega wanita menakutkan itu telah pergi dari gym mereka.
Namun, Akashi tak merasakan sedikitpun kelegaan menyeruak padanya. Setelah pintu itu dihantam tertutup di depan mukanya, ia berbalik dan berjalan mendekati remaja kecil yang luka-lukanya tengah dirawat oleh Midorima. Remaja bersurai hijau itu telah melepaskan kaos longgar (yang dikenali Akashi sebagai miliknya) yang dikenakan Kuroko, menampakkan punggung pucat berhias luka-luka dan memar yang tampaknya bertambah parah setelah aktivitasnya hari ini. Akashi merendahkan diri di depan Kuroko, menatap tajam wajah remaja yang berusaha mempertahankan poker face-nya dan tidak meringis perih saat Midorima mengusap kulit punggungnya dengan cairan pembersih.
"A-Akashi-kun," Kuroko mencoba berbicara.
Yang dipanggil makin merendah, kini berjongkok face-to-face di depan passer nomor satu SMP Teikou.
"Kau tak menuruti perintahku, Tetsuya."
Kuroko menunduk, tak berani menatap mata merah dan emas mantan kaptennya. Merutuk diri telah membuat keputusan yang begitu bodoh dengan membangkang padanya.
"Maafkan aku," bisiknya.
"Kuharap hal ini tak terjadi lagi," Akashi memperingatkan. Tangannya terangkat, menaikkan dagu remaja di depannya hingga mata mereka sejajar, saling menatap. "Sekarang kau tahu mengapa aku melarangmu pergi. Tidak hanya ditemukan ibumu, kondisi luka-lukamu juga makin parah. Kau tak punya siapapun untuk disalahkan kecuali dirimu sendiri."
Air mata yang sedari tadi ia tahan kini mengalir membasahi pipinya. Kuroko berhasil mengusap cairan tersebut, tetapi butir demi butir terus berebut meluncur tanpa mampu ia hentikan. "M-maafkan aku," ucap Kuroko ditengah sesenggukannya. "Aku akan membalas budi semua yang telah kalian lakukan padaku, Akashi-kun dan M-Midorima-kun… d-dan semuanya..."
Akashi menempatkan diri pada bangku, di sebelah Kuroko. Seraya menghela napas, dengan lembut ia merengkuh tubuh mungil tersebut dalam pelukannya, berhati-hati untuk tidak mengganggu proses pengobatan dari Midorima. Kuroko pun tak berani balas memeluk pemuda berambut merah itu, sehingga ia hanya berdiam diri menerima kehangatan tubuh Akashi dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang mantan kaptennya.
Tarikan napas kaget terdengar dari kerumunan tim basket Seirin. Riko Aida, seraya menutup mulutnya, melangkah maju mendekati Kuroko dan Akashi. Manik sewarna madunya mengerjap ngeri –kemampuan analisanya tak hanya terbatas pada kondisi fisik seseorang, tetapi juga luka dan cidera yang kemungkinan besar akan dialami para pemainnya. Dan melihat kondisi punggung passer nomor satunya ini, gadis itu menarik napas panjang. "Tuhan," serunya. "A-apa yang terjadi padanya?"
Akashi tanpa sadar mengeratkan pelukannya dengan protektif. Dari gerakan kecil Kuroko setelah mendengar pertanyaan pelatihnya, ia tahu Kuroko tak ingin lebih banyak orang mengetahui permasalahan dalam keluarganya. Tanpa memakan waktu lama untuk memutar otak, Akashi menjawab tegas. "Semua luka ini terjadi karena seorang berandalan pengecut menyerang Tetsuya beberapa hari lalu." Akashi memfokuskan mata beriris emasnya untuk menatap tim Seirin. "Tetapi aku telah mengurus semuanya. Kalian cukup tutup mulut saja."
Bulu kuduk pemain-pemain tim Seirin meremang.
"Semua luka ini adalah perbuatan satu orang?" berbeda dengan anak buahnya, Riko menatap Akashi dengan tatapan tak percaya. "Parah sekali! Memangnya apa salah Kuroko?"
"Tak heran dia bertingkah aneh hari ini," ucap Kagami, menyesal tak menyadari kondisi rekannya yang terluka parah. "Dan ia berlari terpincang-pincang selama permainan. Sialan, harusnya aku menyadarinya dari awal!"
"Tentu saja," timpal Akashi. "Sebagai tim, kau harus mengetahui kondisi rekan-rekan setimmu. Bila ikatan antar anggota tim di Seirin sangat lemah seperti ini, tim kalian takkan bisa menjadi yang terkuat."
Teppei memprotes, "Pikiran kami semua tengah terfokus pada latih tanding melawan Kaijou. Dan Kuroko sendiri yang memilih untuk menyembunyikannya."
Midorima mengikat dua ujung perban pada kaki kanan Kuroko. Balutan kepalanya tak perlu diganti, namun kaki kanannya tampaknya tak sembuh selekas yang ia kira. "Bukan masalah ia memilih untuk menyembunyikannya atau tidak," remaja bersurai hijau itu membalas. "Kau harusnya menyadari betapa kehadiran wanita tadi sangat mempengaruhi Kuroko."
Akashi menggeser sedikit kepala Kuroko pada posisi yang lebih nyaman. Dalam tangisnya, remaja bersurai biru itu rupanya tertidur. Ekspresi kesakitan dan ketakutannya yang lalu telah tergantikan dengan wajah damai.
"Tapi, bukankah yang tadi itu ibunya Kuroko?" Koganei bertanya, bingung. "Kenapa dia begitu ketakutan melihat ibunya?"
"Bukan urusanmu."
"Hei!" Kagami melotot pada mantan kapten tim basket Teikou. "Kuroko sekarang adalah bagian dari tim Seirin, yang berarti ia adalah milik kami! Kami punya hak untuk mengetahui apa yang terjadi!"
"Kau salah," Akashi dan Midorima berucap bersamaan. "Ia bukan milik kalian. Ia milik kami."
.
.
[To be continued]
A/N: Lama banget ya saya nggak pasang A/N? xD /dor/ Hai~ Rheyna di sini! Notice meee! o.o
Pertama-tama, saya ucapin selamat tahun baru 2014! Semoga fandom ini makin maju dan membuahkan banyak karya berkualitas di tahun baru ini! Semoga sepanjang tahun Tadatoshi Fujimaki-sama sehat-sehat saja dan nggak diteror lagi seperti tahun lalu! Semoga Kuroko no Basuke juga meraih sukses lebih dari season satu! Semoga mbak Virelei –author asli fic ini- bisa meningkatkan kemampuan menulisnya di tahun yang baru! Dan semoga Akashi cepet nikah sama Kuroko- /ditabok/
Yosh, sekadar pemberitahuan, durasi update per chapter adalah sepuluh hari sekali, jadi nggak usah takut saya updatenya lelet /eh/ Dan ternyata dalam kurun waktu dua bulan kita sudah mencapai enam chapter o.o Cepet ya? Iyalah, orang satu chapter aja cuman 3k words /dor/ Tapi jangan khawatir, porsi kata per chapternya seiring dengan berjalan waktu akan meningkat, kok :9 Kita tunggu saja ya~
Sampai jumpa lagi di chapter 7! Review akan sangat dinantikan!
