Tim basket Seirin duduk mengelilingi salah satu meja pada restoran kecil di tepi jalan. Semuanya mengenakan ekspresi yang sama: gugup, gelisah, namun juga di saat yang sama bersemangat. Mereka tengah menunggu kedatangan Haizaki Shogo, yang diharapkan sebagai kunci dari masalah yang disembunyikan Kuroko.
Setelah Riko menyelidiki profil dasar Haizaki, ia berhasil mengontaknya dan membuat janji untuk bertemu di restoran ini untuk membicarakan sesuatu. Alumni SMP Teiko itu kini bersekolah di salah satu SMA yang juga berpartisipasi dalam kejuaraan basket nasional Jepang. Satu-satunya foto Haizaki yang mereka temukan juga cukup mengejutkan. Haizaki Shogo berpostur tubuh tinggi, rambutnya berwarna kelabu, dan raut wajahnya khas seorang pemuda berandalan. Catatan kenakalannya juga jauh dari kata bersih, dan ia telah berkali-kali dikeluarkan dari berbagai sekolah.
Kuroko berteman dengan orang seperti itu? pikir Seirin heran.
Haizaki membalas pesan Riko satu jam setelahnya, menyetujui ajakannya untuk bertemu di restoran terdekat.
"Dia terlambat," erang Teppei.
"Satu jam lebih," Kagami melanjutkan.
Hyuuga menggeram. "Sabar sedikit!"
Tiba-tiba saja, Koganei melompat dan menunjuk pada satu titik di luar. "Hei! Itu dia!"
Semuanya menoleh untuk memastikan.
Benar saja, Haizaki Shogo muncul dari pintu masuk restoran, ekspresinya begitu ketus hingga menakuti beberapa pengunjung. Ia mendelik pada pelayan yang tampak ragu-ragu untuk menyapanya, membuat pelayan malang itu segera pamit dan melarikan diri. Pemuda kasar itu kemudian mengamati seisi restoran, sebelum perhatiannya tertumbuk pada sekelompok remaja yang balas menatapnya kaget.
"Apa kalian dari Seirin?" ia menggeram.
.:xxx:.
Kuroko menatap hidangan di depannya dengan jijik. Walau aroma yang menguar dari makanan di depannya sangatlah lezat, beda lagi dengan wujudnya. Satu set menu makanan khas Amerika: steak berukuran besar dengan minyak masih menetes dari kulit tepungnya, sepiring bayam di sisinya, seporsi kecil kentang tumbuk, juga segelas air dingin. Iya, air dingin! Bukannya teh! Dan yang makin memperburuk nafsu makan Kuroko, adalah keberadaan sepiring brokoli di sebelah menu utama.
Akashi tampak puas menatap ekspresi remaja di depannya. Ia merendahkan diri dan duduk di tepi ranjang, di sebelah Kuroko yang menatap horor nampan makan siang di pangkuannya. "Kudengar makanan khas Amerika dinilai berhasil dalam hal menambah berat badan," ucapnya. "Dan walau aku menyatakan ketidak setujuanku pada beberapa unsur dari menu ini, aku tak menyanggah bahwa porsi ini akan lebih bernutrisi dari hidangan ala Jepang pada umumnya."
Kuroko mendorong nampan itu menjauh. Hanya memandangnya saja, perutnya mulai terasa mual. "Aku tidak mau makan," ia bergumam.
Akashi memicingkan mata dan mendekatkan nampan itu kembali. "Kau akan memakan semuanya." ia memerintahkan. "Aku tak menerima penolakan."
Kuroko nyaris merengut. "Semuanya?" Jari telunjuknya takut-takut menyentuh steak di depannya, curiga makanan asing itu akan bergerak. Dan tentu saja tidak.
"Ya, semuanya. Dan aku tak ingin melihat ada secuilpun sisa makanan di atas piring saat kau selesai nanti." ia memandang sinis pada Kuroko. "Ini juga adalah… salah satu hukuman karena telah membangkang pada perintahku."
Wajah Kuroko memanas, dan ia memalingkan muka. Saat ia terbangun pagi tadi, Akashi telah menunggunya di kaki ranjang. Tanpa menunggu, remaja berambut merah itu lalu mulai menceramahinya mengenai detail hukuman-hukumannya karena telah berani kabur dan tak menuruti perintah. Pertama, Kuroko tidak akan, dalam situasi apapun, meninggalkan kamar Akashi (yang sudah lengkap dengan toilet dan kamar mandi, jadi tak ada alasan lagi bagi Kuroko). Tak peduli walau kaki Kuroko sudah kebas, atau remaja bersurai biru muda itu nyaris mati kebosanan, ia tidak diperbolehkan keluar dari kamarnya. Dan bila ia berusaha menyusup keluar lagi, dapat dipastikan salah satu armada Generation of Miracles akan menyeretnya kembali.
Benar saja yang dikatakan Akashi. Baru dua jam lalu, Kuroko mulai merasa bosan berbaring seharian di ranjangnya dan memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak seraya menghirup udara segar. Sayangnya, belum ia sempat menapakkan kaki keluar, Akashi muncul tiba-tiba dan menggendong paksa remaja itu kembali ke kamarnya.
Lalu, satu jam kemudian, Kuroko mencoba keluar lagi ketika ia yakin Akashi tidak ada di rumah. Tetapi kali ini Murasakibara yang menghentikannya. Dan tak mungkin Kuroko lolos dari tangan sebesar itu.
Kini, tahu bahwa usahanya untuk kabur sia-sia belaka, dalam hati Kuroko berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
Yang kedua adalah, seperti yang sekarang tengah ia laksanakan (dengan sedikit rasa tak ikhlas), Kuroko harus memakan semua masakan Akashi. Semuanya, sampai tak ada satupun remah tersisa. Dan hukuman ini tak ubahnya penyiksaan bagi remaja kurus itu, karena Akashi dengan sengaja selalu menghidangkan makanan dengan porsi kelewat besar untuknya, tak lupa juga dengan menu yang sama sekali bukan favoritnya. Tak hanya itu, Akashi bahkan menolak permintaan Kuroko untuk memberinya vanilla shake kesukaannya.
Dan hukumannya yang terakhir, adalah ia harus meminta maaf pada ayahnya, yang mana tanpa disuruh sekalipun Kuroko pasti akan melakukannya. Ia tahu ayahnya telah bekerja keras untuk melindungi dan menghidupinya, dan Kuroko amat merasa bersalah selama ini telah membebaninya. Apalagi ketika ayahnya sampai rela membolos kerja demi mejenguknya, remaja bersurai biru itu merasa sangat merepotkan.
"Sepertinya aku takkan sanggup menelan semua ini, Akashi-kun."
"Kau akan memakan semuanya," timpal Akashi keras. "Aku telah memastikan agar porsinya sesuai dengan kemampuanmu."
Dengan enggan Kuroko melanjutkan makan. Sementara si rambut merah menahan diri untuk tidak tersenyum melihat ekspresi kekanakan pada passer nomor satunya. Ia mengulurkan tangan dan mengelus lembut helai biru muda. Kuroko mendongak, menatapnya dengan mata lebar berbinar yang menyiratkan maksud tertentu. Tak terpengaruh, Akashi menggeleng dan menunjuk pada nampan lagi.
Empat puluh lima menit penuh penyiksaan kemudian, Kuroko akhirnya berhasil menghabiskan semuanya, termasuk air dingin yang sama sekali tak mengandung unsur vanila (tapi Kuroko meminumnya hanya demi menyingkirkan rasa pahit brokoli).
"Bagus," puji Akashi. Dengan seringai menggoda, ia menyentil dahi Kuroko dan mengambil nampannya, lantas beranjak menuju dapur.
Remaja kecil itu kembali bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya, tangannya menyentuh bagian dahi yang terkena 'serangan' dari Akashi barusan. Perut Kuroko rasanya kekenyangan, dan bayangan akan makanan membuatnya merasa mual lagi.
Tapi, kalau dipikir lagi, kenapa saat itu ia tak menuruti perintah Akashi? Perintah mantan kaptennya itu selalu benar, jadi kenapa hari itu ia memutuskan untuk kabur?
Akashi menyeringai melihat gelagat Kuroko. Tampaknya Tetsuya mulai menyesali kesalahannya, batinnya puas. Bagus.
Dengan langkah mantap, ia berjalan menuju dapur dan meletakkan nampannya di bak cuci. "Daiki," panggilnya.
Yang dipanggil muncul begitu namanya disebut. Wajahnya yang sudah berkulit remang bertambah gelap dengan rona merah yang menyebar karena rasa malu. Tubuh atletis nan maskulinnya kini dibalut seragam ala pelayan plus apron berwarna terang dengan rok seutut. Rambut biru tuanya dihiasi bandana maid, dan tangannya masih memegang kain pel.
Akashi terbatuk-batuk kecil untuk menyembunyikan tawanya.
"Ya, Akashi?" jawabnya, kelelahan.
Remaja berambut merah itu mengamati mantan rekan timnya yang tampak 'kontras' itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebelum kemudian merasa sedikit iba. "Cuci nampan dan piring-piring itu, dan hukumanmu selesai untuk hari ini."
Aomine menghela napas lega. "Syukurlah," gumamnya, lalu berjalan melewati Akashi dan mulai mencuci piring setelah melempar kain pelnya entah kemana.
Kehidupan seorang Aomine Daiki sontak terjungkir balik sejak pagi tadi. Setelah meneror Aomine untuk mengenakan seragam memalukan ini selama menunaikan hukumannya, Akashi menyuruhnya membersihkan setiap ruangan yang ada di apartemen besar itu hingga tiap sudutnya. Lalu, setelah mengelap bersih semua kaca yang ada hingga Aomine bisa melihat bayangannya sendiri, Akashi juga memerintahkannya untuk mengepel seuruh lantai rumah hingga mengilap. Walau begitu, Aomine tahu menu hukumannya hari ini masih belum seberapa. Akashi selalu menyimpan 'kejutan-kejutan'nya di akhir nanti.
Pukul satu tepat, Aomine dipaksa berangkat menuju TK Yoshiro. Mulanya dengan percaya diri ia menganggap remeh anak-anak itu –mana mungkin bocah-bocah lugu ini sekeji yang Akashi katakan, kan?
Sayangnya, ia salah besar. Beberapa jam kemudian, Aomine mengakhiri jam kerjanya dengan trauma hebat. Berandalan, hah? Ini sih bukan berandalan lagi! Mereka ini anak-anak setan yang menyamar dalam seragam dan topi lucu berwarna-warni!
Aomine bahkan tak berani mengingat-ingat kekerasan yang dialaminya di sana. Dan bagaimana ia bisa bertahan hidup untuk seminggu ke depan, ia tak tahu lagi.
Akashi meninggalkan Aomine yang tengah mengeringkan piring-piring dan berjalan menuju ruang tengah. Shintaro, Ryota, dan Atsushi sudah pulang karena besok adalah hari efektif sekolah. Daiki juga akan pulang, nanti, setelah menyelesaikan kewajibannya.
Setelah ini, hanya ada aku dan Tetsuya di sini, pikirnya. Yang berarti, sekarang adalah satu-satunya kesempatan untuk menghubunginya.
Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menelepon sebuah nomor asing. Lawan bicaranya merespon pada dering pertama.
"Seijuro-kun?"
"Kaoru," sapanya pada salah satu kenalan lamanya. "Aku memiliki pertanyaan, dan aku ingin kau menjawabnya."
Yoshida Kaoru mengenal Seijuro lewat koneksi yang ia miliki dengan pasangan Akashi. Ia adalah satu-satunya orang yang berani membelot pada perintah-perintah Akashi, tapi bukan berarti pria muda itu tak takut padanya. Hanya sedikit rasa superior karena usianya enam tahun lebih tualah yang membuatnya berani menolak perintah Akashi. Dan pada umur semuda itu, karirnya di dunia bisnis melejit sukses dengan prestasinya memegang kendali atas saah satu cabang sebuah perusahaan raksasa di Jepang.
"Ya?"
"Siapa nama pimpinanmu?" tanya Akashi tanpa basa-basi.
"Pimpinanku?" Sunyi sebentar. "Seijuro-kun, kau tahu bahwa orang tuaku adalah atasanku sekarang."
"Tidak, aku membicarakan tentang si pemilik. Kau memimpin cabang sebuah perusahaan besar, kan? Siapa nama pemilik perusahaan tersebut?"
Suara lembaran kertas yang dibalik selama beberapa saat. "Namanya… Suzuki Akihiko." jawab rekannya. "Pria itulah pemilik perusahaan ini."
Akashi mencatatnya pada sebuah notes. Pria. Hm, Kaoru pasti belum pernah bertemu dengan bosnya, karena ia harus membuka dokumennya dulu untuk menemukan namanya dan mengasumsikannya sebagai pria. Menarik.
"Akashi, aku pulang dulu!" Daiki berseru dari dapur, sudah mengenakan kausnya lagi.
Si rambut merah hanya mengangguk. "Kaoru, maukah kau mengeja namanya untukku?"
Kaoru mengeja nama itu, dan Akashi menuliskannya dalam karakter Jepang. Cermat, ia mempelajari nama itu.
Akihiko, ia menyeringai. Satu lagi nama laki-laki.
.:xxx:.
Disclaimer to its rightful owner:
Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki
Original Story:
Betrayal In Its Simplest Form © Virelei
OCs © Virelei
(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)
Translation:
Betrayal In Its Simplest FormbyRheyna Rosevelt
I own nothing but this translation
(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)
Thus, I don't make any commercial profit within this story
(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)
Translation is under permission of its original author.
(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)
Warning:
This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.
.
.
[Chapter 8]
.
.:xxx:.
Kuroko telah berusaha keras untuk tidur, satu-satunya kegiatan yang bisa ia lakukan selain membaca. Tetapi buku-buku yang dipinjamkan Akashi padanya benar-benar membosankan. Mendengar gumaman-gumaman kecil dari luar sana, Kuroko tahu bahwa Akashi sedang sibuk berbicara dengan seseorang.
Ia kembali berbaring dengan helaan napas. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Lagi, ia bergantung pada Generation of Miracles. Sejak pertama kali ia terluka di tahun pertamanya di SMP Teiko, tiap anggota Generation of Miracles selalu membantunya, melindunginya, menyembuhkannya… Ia juga ingin melakukan sesuatu untuk mereka. Untuk Midorima-kun, Murasakibara-kun, Aomine-kun, Kise-kun, dan yang paling penting, untuk Akashi-kun, yang telah melakukan semua yang ia bisa untuk menolongnya.
Wajah Kuroko merona saat memikirkan Akashi. Akhir-akhir ini, mantan kaptennya itu banyak mencurahkan kasih sayang –lebih dari biasanya—padanya. Akashi jugalah yang pertama kali mengulurkan tangan di tengah penderitaannya, yang pertama kali menemukan bakatnya, dan yang pertama kali membongkar rahasianya.
Suara getaran dari samping membuat Kuroko melompat kaget. Ia meraih ponselnya, sedikit terheran-heran. Siapa yang meneleponnya selarut ini? Dengan ceroboh, ia tak sedikitpun mempedulikan tampilan caller ID dan segera menekan tombol jawab. "Ini Kuroko."
"Tetsu-kun."
Sebuah suara familiar melantun dari lawan bicaranya.
Mata Kuroko melebar. Tubuhnya membeku seketika.
"Bagus, Tetsu-kun. Anak pintar. Kau mengangkat panggilanku. Aku sangat merindukanmu."
Pemuda itu menelan ludah gugup, takut. Buku-buku jemarinya memutih, akibat menggenggam ponsel terlalu erat. Tubuhnya tak kuasa bergerak, bahkan untuk gemetar saja tak sanggup saking takutnya. Mulutnya menolak untuk dibuka, membuatnya tak sanggup berbicara. Kuroko bagaikan patung; membeku, duduk kaku di antara tumpukan bantal, dengan ponsel menyentuh telinganya.
"Bagaimana luka-lukamu?" Tanpa menunggu jawaban putranya, Ibuki melanjutkan. "Aku melihatmu terpincang-pincang beberapa hari lalu saat kau bermain basket. Putraku sayang, apa kau baik-baik saja?"
Ibu tak peduli, ibu tak peduli, ibu tak peduli, ibu tak peduli, Kuroko mengulang-ulangnya dalam hati. Putuskan panggilannya, putuskan panggilannya, putuskan panggilannya, putuskan—
"Ah, iya," nada Ibuki berubah berbahaya. "Hari itu juga, ada seorang remaja yang beran menentangku… Ia bahkan mengancamku, ibumu tercinta ini. Sepertinya aku harus memberinya pelajaran—"
"Jangan sentuh Akashi-kun!" Kuroko itu akhirnya berteriak. Begitu nama mantan kaptennya disebut, seluruh raganya tergerak untuk melindunginya. "Dia tak ada hubungannya dengan semua ini!"
Ibuki terdiam sejenak. "Oh? Kau mulai berani memerintahku?" desis wanta itu. "Tampaknya 'Akashi' ini orang yang sangat penting bagimu, ya."
Kuroko tak sempat menjawab –pintu kamarnya tiba-tiba terbanting membuka, dan muncullah Akashi sendiri.
"Tetsuya, teriakan apa itu tadi? Kau berbicara dengan siapa?"
Remaja itu menatap Akashi sejenak, sebelum tubuhnya kemudian gemetar hebat.
"Aka—shi-kun," Kuroko berbisik. "I-Ibu—m-mau menyakitimu—telepon—mengancam—aku tak bisa…" bibir pucat yang bergemeletuk tak mampu membentuk sebuah kalimat dengan sempurna. Akashi masih terdiam di depan pintu, terkejut, sebelum kemudian berlari melintasi ruangan. Matanya menatap tajam pada ponsel Kuroko.
"Apakah Tetsu-kun menangis?" Ibuki berkata manis. "Oh, kasihan putraku. Padahal aku ingin sekali melihat air matamu—"
Ponsel itu diambil paksa dari genggaman rapuh Kuroko. Satu tangan Akashi melingkari bahu remaja bersurai biru itu, dan mendorongnya masuk dalam pelukannya. Kehangatan yang dipancarkan tubuh Akashi begitu mengundang, dan tanpa sadar Kuroko bergerak makin mendekatinya. Dengan Kuroko aman di dekatnya, Akashi mengangkat ponsel itu dan berucap lantang. "Kuroko Ibuki. Apa yang kau inginkan?"
Ibuki sontak berseru histeris mendenganrya. "Itu kau, kan? ya, kan? Kau bocah kurang ajar yang berani menentangku! Dan bahkan mengancamku! Beraninya kau merebut Tetsu dariku! Kau akan menyesalinya!"
"Aku? Aku, Akashi Seijuro, akan menyesali perbuatanku? Dasar wanita malang," bisiknya licin. "Kaulah yang akan menyesali perbuatanmu, Kuroko Ibuki. Aku tak peduli dengan kekuatan atau pengaruhmu. Aku hanya perlu membongkar sebuah rahasia untuk menghancurkanmu."
Ibuki menahan diri untuk tak memperlihatkan kegugupannya. "Dan apa yang bisa kau lakukan, anak muda? Kau ini hanya bocah. Akashi Seijuro, katamu? Ah, aku tahu nama itu. Orang tuamu adalah kenalanku!"
"Kau takkan mendapat kemudahan apapun dengan melibatkan orang tuaku," Akashi memperingatkan. "Tak peduli berapa banyak koneksimu, orang tuaku adalah yang terkuat di medan hukum. Mereka takkan semudah itu kau jatuhkan." Ketika Ibuki tak menjawab, Akashi melanjutkan. "Kuharap kau siap dengan perang panjang yang telah kupersiapkan, Kuroko Ibuki. Dan aku takkan kalah semudah yang kau pikirkan."
Ia memutuskan panggilannya.
"Tidak, Akashi-kun," Kuroko berbisik khawatir. "Ibuku akan melukaimu…"
Akashi, yang telah selesai dengan 'bisnis'nya, mengalihkan seluruh perhatiannya pada Kuroko. Dengan mudah ia mengangkatnya, lantas mendaratkannya kembali di atas pangkuannya. Kuroko duduk dalam diam, menatap Akashi dengan mata bertanya-tanya. Akashi balas menatapnya,
Spontan, Kuroko meraih tangan Akashi dan membenamkan wajah pada pundaknya. Air mata membasahi kaus merah yang ia kenakan. Akashi mengeratkan pelukannya, dan ia merasakan bagian belakang kausnya digenggam erat. Tidak seperti beberapa hari lalu, tangisan Kuroko tidak lagi keras akibat menahan sakit, tetapi lembut dan sunyi, nyaris seolah ia tengah menyembunyikan sesuatu. Tangan Akashi tanpa sadar mengelus rambut biru muda di depannya.
Apakah kau tahu seberapa besar luka yang kau sebabkan, Kuroko Ibuki? pikir Akashi pahit. Atau mungkin kau tahu, tetapi kau hanya berlalu dan menganggapnya sebagai media hiburanmu?
"Semuanya baik-baik saja," bisik Akashi. "Ibumu tidak ada di sini. Kau aman. Dan akan begitu selama beberapa hari ke depan." tangisan Kuroko tak berhenti. Justru cengkeramannya pada Akashi makin mengerat.
"Tetsuya," Akashi memutuskan untuk mengganti strateginya. Aura otoriter yang ia miliki cukup membantu dalam situasi seperti ini. Lembut, ia melepaskan Kuroko dan menangkap dagu yang basah oleh air mata. "Tatap aku."
Kuroko menurut. Ekspresi remaja itu membuat Akashi menelan ludah, tetapi ia mempertahankan posturnya.
"Berhenti menangis."
Dua ibu jari mengusap pelan pipi kemerahan, menyapu kulit yang basah. Gerakan itu terus menerus ia ulang, hingga tetesan air mata Kuroko berhenti mengalir. Dan yang tersisa adalah rasa lelah remaja itu.
Akashi mengganti ibu jari dengan tangannya, menahan posisi wajah Kuroko agar tetap menatapnya. Pemuda bersurai biru itu tampak begitu nyaman dalam pegangannya.
"Tak ada yang boleh membuatmu menangis, kecuali aku. Hanya aku. Akulah yang boleh menyakitimu, mengalirkan air matamu, dan membuatmu tersiksa. Tak ada, kecuali aku. Kau milikku, Tetsuya."
Kuroko tak memprotes.
.
.
[To be continued]
