Kuroko bersandar pada kepala ranjangnya. Sekarang, dengan kondisi punggungnya yang mulai membaik, ia tak memerlukan setumpuk bantal lagi sebagai penyangga. Luka-luka lainnya juga, sehingga ia juga tidak membutuhkan perban-perban yang membungkus kepala, dada, dan kakinya, walau caranya berjalan masih sedikit pincang. (Akashi menyadari hal ini saat ia menangkap basah Kuroko tengah, sekali lagi, mencoba kabur).

Sebuah buku super tebal tergeletak di atas pangkuan Kuroko, memuat sejarah geografi Jepang dalam teks berukuran kecil. Remaja bersurai biru muda itu telah mencoba membacanya, namun berhenti begitu setengah perjalanan menyelesaikan paragraf pertama. Sekali lagi, ia memikirkan alasan mengapa Akashi dengan misteriusnya memiliki satu rak buku setingkat perguruan tinggi.

"Tetsuya."

Mendengar namanya disebut, Kuroko menengadah. Akashi mengangkat sebelah alis melihat lingkaran panda di bawah mata biru terang tersebut. Malam setelah Ibuki meneleponnya, Kuroko nyaris terjaga sepanjang malam –tak berani tidur karena mimpi buruk. Dan sepanjang malam pula, Akashi berbaring di sebelahnya, tahu hal ini akan terjadi. Ia selalu berjaga di sisinya, menenangkan pemuda yang kalut itu acapkali Kuroko mengejang bangun dengan air mata mengalir deras. Sayangnya, ligkaran hitam di bawah mata dwiwarnanya juga menarik perhatian.

"Kemari." Akashi melanjutkan.

Kuroko mengulurkan badan. "A-aku boleh keluar kamar?"

Remaja bersura merah itu menelengkan kepala, tersenyum kecil. "Tentu saja."

Setelah izin lisan tersebut diungkapkan, Kuroko dengan bersemangat melayangkan kakinya ke lantai untuk bangkit. Namun ia melakukannya agak terlalu cepat, sehingga pada langkah pertamanya, ia berkelit dengan kakinya sendiri. Bila bukan karena Akashi, wajahnya mungkin telah menghantam lantai sekarang.

"Hati-hati," ucap Akashi. "Inilah mengapa aku melarangmu keluar kamar." Tangannya yang kuat membantu Kuroko kembali berdiri tegak.

"Terima kasih," balas Kuroko pelan dan menampik tangan Akashi. Ia tak ingin terus-terusan bermanja.

Sang mantan kapten mengamatinya selama beberapa saat. "Hm." ucapnya. "Aku memperbolehkanmu keluar bukan tanpa alasan. Ikuti aku, akan kutunjukkan sesuatu."

Penasaran, Kuroko berjalan terpincang-pincang mengikutinya. Rasanya lucu ketika ia bisa berjalan bebas tanpa perlu merasa takut tertangkap. Begitu ia memasuki ruang tengah, matanya melebar kaget. Meja dan sofa yang dulu menghias ruang ini kini telah tertumpuk rapi di sudut sana, dan sebagai gantinya, adalah matras lebar yang menutupi setengah luas lantai ruangan.

"Ini apa, Akashi-kun?"

"Untuk keselamatanmu." jawab Akashi seraya melepas jaketnya, menampakkan tubuhnya yang hanya dibalut kaus putih longgar. Kuroko juga menyadari keberadaan celana katun yang dikenakan mantan kaptennya dengan sedikit aneh. Tak ada yang pernah melihat Akashi mengenakan pakaian selain seragam sekolah, jersey basket, atau jas resmi. Ia tak pernah terlihat mengenakan pakaian kasual, bahkan saat tidur sekalipun. "Lepaskan jaketmu."

Kuroko menurutinya, walau masih sedikit heran. Untuk keselamatannya? Memangnya apa yang akan mereka lakukan?

"Kau akan meninggalkan rumahku lusa nanti," Akashi menjelaskan seraya melepas kaus kakinya. "Bukan hanya sekolah yang akan mencurigai absenmu, tetapi ibumu," Kuroko bergidik mendengarnya. "juga akan mengambil tindakan bila kau tinggal terlalu lama." Setelah merapikan pakaiannya, Akashi menapakkan kaki di atas matras berwarna biru tua itu, menghadap Kuroko. "Ayahmu tak bisa selalu berada di sisimu untuk melindungimu, dan kau juga tak bisa kabur untuk kedua kalinya dengan luka parah seperti itu. Kau juga tak bisa menampik ataupun melawan serangan ibumu." Kuroko menunduk. "Namun, kau bisa mengurangi serangannya. Kau bisa mencegahnya." Akashi melangkah mundur. "Serang aku, Tetsuya."

Kuroko berkedip. "A-apa kau bilang, Akashi-kun?"

"Serang aku," Akashi mengulangi. "Serang aku seolah kau membenciku."

"Tapi… aku tidak bisa—"

Mata berbeda warna itu berubah dingin. "Kau bisa. Dan ini perintah: serang aku."

Tak punya pilihan lain, Kuroko dengan sedikit ragu mendekati Akashi. Ia mengepalkan tinjunya dan mengarahkannya pada sosok mantan kaptennya, tahu serangannya takkan menyakitkan sama sekali walau kena.

Di luar dugaannya, Akashi menangkap pergelangan tangannya dengan kuat dan memuntirnya. Tangan Kuroko dipaksa untuk menuruti kehendak si remaja bersurai merah, dipuntir dan ditekuk dalam berbagai posisi yang tak sewajarnya. Dan beberapa saat kemudian, Kuroko mendapati dirinya jatuh berlutut di atas matras dengan tangan terikat di belakang punggung.

Akashi melakukan gerakan-gerakan itu dengan hati-hati, tahu kondisi tubuh Kuroko masih dalam proses pemulihan, tetapi tetap dengan serius. Setelah beberapa detik Kuroko menyerah di bawahnya, Akashi melepaskannya. "Kau bisa menundukkan bahkan orang dewasa sekalipun bila kau memainkan sendi mereka seperti tadi." Akashi menginstruksikan seraya menarik Kuroko agar berdiri.

"Aku mempelajari ilmu bela diri saat aku mengunjungi Amerika beberapa tahun lalu. Ayahku juga turut mengajariku Aikido saat aku masih kecil." Akashi melipat celananya hingga mencapai lutut. "Aku tak yakin berapa banyak yang bisa kuajarkan padamu dalam waktu dua hari, tetapi pasti cukup untukmu melindungi diri."

Pemuda itu menegakkan tubuh, dan kilatan sadis muncul pada matanya.

"Kemari, Tetsuya."

.:xxx:.

Disclaimer to its rightful owner:

Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki

Original Story:

Betrayal In Its Simplest Form © Virelei

OCs © Virelei

(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)

Translation:

Betrayal In Its Simplest FormbyRheyna Rosevelt

I own nothing but this translation

(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)

Thus, I don't make any commercial profit within this story

(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)

Translation is under permission of its original author.

(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)

Warning:

This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.

.

.

[Chapter 9]

.

.:xxx:.

Kuroko Ibuki duduk di belakang meja kerjanya, pada sebuah kursi lebar berwarna hitam. Terpahat pada sebuah tanda pengenal berwarna emas, adalah nama Abe Miku. Foto 'keluarga' terpajang rapi di sudut mejanya, dipertontonkan demi menjaga image pada para tamunya, membuat mereka menganggapnya sebagai wanita karir yang tak lupa dengan keluarganya. Semudah itulah taktiknya memanipulasi pikiran orang.

Wajahnya berkerut oleh pikiran mengenai Kuroko. Oh, betapa ia ingin sekali menghancurkan keluguan putranya yang menjijikkan. Sejak pertama kali ia menatapnya, saat Kuroko masih bayi, Ibuki telah menolak kehadirannya. Mata biru muda yang berbinar itu membuatnya ingin muntah.

Pertama, Ibuki tak suka memiliki anak laki-laki.

Alasannya simpel. Mudah sekali bagi pria, walau tampaknya sangat lemah, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sementara, apa yang diperoleh wanita? Ejekan dan tertawaan? Kain pel dan kaleng? Dengusan dan hinaan?

Tetapi Ibuki telah berhasil mengubahnya. Sekarang ia adalah salah satu wanita paling berpengaruh di Jepang, dengan tiga perusahaan terbesar di negeri itu dalam genggamannya, dengan koneksi yang masuk lebih dalam dari pemerintah sendiri, bahkan hukum harus berpikir beberapa kali sebelum berani menyentuhnya.

Kedua, ditambah dengan keluguan putranya. Yang membuatnya sangat kesal hingga ingin menghancurkannya.

Tetapi putranya itu begitu sulit untuk dihancurkan sepenuhnya. Tak peduli berapa kali Ibuki menghinanya, menghajarnya, meredupkan nyala api semangat dalam diri putranya, seseorang selalu mampu memperbaiki semua itu. Seseorang selalu mampu menyembuhkannya. Namun sungguh, dengan hawa keberadaan putranya yang sangat minimal, bagaimana bisa ia memiliki 'seseorang' itu! Semua orang yang mencintainya, termasuk ayahnya yang tolol itu, dengan mudah dapa mendeteksi keberadaanya. Tetapi mengapa Ibuki tidak? Padahal Ibuki adalah, demi Tuhan, ibunya! Seolah pengaruh Ibuki sama sekali tak mempan pada putranya itu, membuat wanita itu merasa lemah!

Dan ia benci sekali merasa lemah. Ia adalah wanita terkuat di Jepang. Ia takkan kalah hanya dengan seorang remaja lemah yang butuh pelajaran.

Ya, Ibuki akan menghancurkannya. Ibuki akan menghancurkan putranya hingga tak tersisa. Ibuki akan membuat remaja itu membuka mata untuk melihat betapa berkuasanya sang ibunda. Teapi pertama-tama, Ibuki harus menghabisi 'seseorang' itu…

Ibuki mengangkat gagang telepon dan menekan nomor 5. Sekretaris pribadinya segera menjawab. "Ya, Abe-san?"

"Nowaki," ucapnya. "Aku ingin kau mencari tahu siapa saja anggota Generation of Miracles, dari SMP Teiko."

"Generation of Miracles? Oh, putriku tahu mereka."

Ibuki mengulurkan badan, tertarik. "Benarkah?"

"Ya. Sepertinya mereka itu adalah tim basket SMP yang sangat terkenal. Rumor mengatakan bakat-bakat seperti mereka muncul tiap sepuluh tahun sekali."

"Siapa saja anggotanya?"

Sesaat kemudian terdengar suara gaduh keyboard komputer. "Sebentar, harusnya tidak sulit mencari informasi tentang mereka… Ah! Ketemu."

Ibuki cepat-cepat mengeluarkan selembar kertas dan pena. "Sebutkan."

"Kise Ryota," sekretarisnya menyebutkan. "Aomine Daiki, Akashi Seijuro, Murasakibara Atsushi, Midoirma Shintaro, dan… ada yang menyebutkan keberadaan pemain keenam. Namanya… Kuroko Tetsuya."

Wanita bersurai biru muda itu menuliskannya dengan cepat, tak peduli walau ia salah mengejanya. Senyum misterius muncul begitu ia mendengar nama putranya.

"Menarik."

.:xxx:.

"Kuroko Tetsuya, eh?" ucap Haizaki sambil melahap burgernya, lantas mengunyahnya dengan mulut terbuka, membuat remah-remah bertebaran, tetapi tak ada yang berani menegurnya. "Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertemu dengannya." Ia mengulurkan tangan dan meraih segenggam kentang goreng dari kotak milik Hyuuga, walaupun ia sebenarnya punya kentang goreng sendiri. Hyuuga yang kecolongan mendelik pada Haizaki.

"Apa kau kenal baik dengannya?" Riko mencoba bertanya dengan sopan.

"Kenal baik?" tangan berselimut minyak itu ganti meraih gelas smoothie. "Kupikir iya. Tetapi aku tak pernah bisa dekat-dekat dengannya. Generation of Miracles sialan itu selalu saja menghalangiku."

Informasi itu membuat si pelatih mengulurkan badan. "Apakah kau tahu mengapa mereka selalu menghalangimu dekat-dekat dengan Kuroko-kun? Ada hal yang mencurigakan dari sikap mereka yang overprotektif?"

Haizaki menatapnya seolah Riko adalah anak aneh. "Tentu saja tidak! Mereka takkan mau memberitahuku apapun! Bukan berarti juga aku memedulikan mereka. Si pendek Akashi itu menendangku keluar dari tim sebelum aku bisa mengorek informasi." Ia menyambar burger milik Kagami dan memasukkannya dalam mulutnya. Si remaja berambut merah bias hanya mampu mengepalkan tangan, mengingatkan dirinya bahwa si Haizaki ini adalah narasumber mereka, betapapun menyebalkannya. "Tapi, kala itu memang santer beredar isu." ia menelan makanannya.

"Isu?" Teppei mengulang, tertarik.

"Bahwa si Tetsu ini sering mengalami luka-luka yang tak wajar karena kekerasan."

.:xxx:.

"Haah," Kise mengerang di depan rak bumbu sebuah supermarket. Keranjang yang nyaris penuh terisi belanjaan tergantung pada pergelangan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang robekan kertas yang berisi daftar belanja. "Ibu akan membunuhku kalau sampai aku tak bisa menemukan merica merk ini…" Ia menggaruk kepalanya dan membungkuk untuk membaca label merk dari sebaris botol rempah-rempah yang tersusun rapi. "Tapi labelnya sama semua! Mana, sih, yang merica? Aaah, kuambil sembarang saja…" Ia meraih sebuah botol secara acak dan memasukkannya dalam keranjang.

Si pirang dengan riang mengecek daftar belanjanya. "Selesai!"

"Permisi."

Kise menunduk untuk menghadap si sumber suara. Sosok pendek dengan kepala bersurai biru itu secara otomatis menarik perhatiannya, dan awalnya Kise mengira itu adalah Kuroko yang mengalami masa pubertas hingga suaranya melengking tinggi sebelum ia mengingatkan diri bahwa Kuroko itu laki-laki. Dan sebelum ia bisa menatap wajah sosok tersebut. Memang mirip dengan Kuroko, tetapi lebih feminism, lebih cantik, dan lebih… kejam.

Kenapa rasanya aku kenal, ssu? Kise bertanya-tanya dalam hati. Sepertinya aku pernah melihatnya. Di mana—

Sedetik kemudian ia baru tersadar. Kuroko Ibuki. Ibunya Kurokocchi. Orang yang menyakit Kurokocchinya kini berdiri di hadapannya. Mood-nya yang ceria telah runtuh seketika.

"Permisi? Permisi?" wanita itu mengulanginya tak sabaran.

Butuh pengendalian diri yang besar bagi Kise untuk tidak menerjang wanita di hadapannya dan mencekiknya dan meneriakinya mengapa ia harus menyiksa Kurokocchinya. Dan butuh lebih banyak lagi untuk balas menjawab wanita itu dengan kasual. "Y-ya?"

"Aku telah memintamu lebih dari tiga kali untuk memberikan botol merica itu." balas Ibuki kasar. "Berikan padaku."

Kise mengamati penampilannya. Wanita itu tampak seperti baru pulang dari kantor, entah apapun pekerjaannya. Tetapi yang menarik perhatian Kise adalah tanda pengenalnya yang bertuliskan Abe Miku.

Dia punya dua nama? batin Kise heran.

Si pirang menatap wanita di depannya dan berkata tajam. "Tidak mau."

Ibuki mengangkat sebelah alis. "Maaf?"

"Aku tidak mau." ia mengulanginya. "Dan aku sedang terburu-buru. Ambil sendiri, sana." Kise melangkah melewati wanita yang tampak terkejut itu, mengambil langkah panjang menuju meja kasir.

Ibuki tidak mengejarnya, untunglah. Kise membayar belanjaannya, mengatakan pada si kasir untuk menyimpan kembaliannya, dan berlari keluar dengan empat kantung plastik di tangan. Setelah mengalihkan kantung-kantung plastik itu pada tangan kiri, tangan satunya meraih ponsel dari saku jaket dan menekan tombol speed dial.

Orang yang ia panggil menjawab pada dering pertama. "Ryota."

"Akaschicchi!" seru Kise nyaris menangis. "Dia datang—dan kasar—dan aku berlaku sinis padanya—dan aneh, mengherankan, aku tidak suka dia—dan—!"

"Tenangkan dirimu dan bicara yang jelas." Akashi memotong. Kise menutup mulutnya. Dalam keheningan, ia baru menyadari suara desah napas terengah dari mantan kaptennya.

"Akashicchi… Kau sedang apa?"

"Bukan urusanmu. Ada perlu apa meneleponku, Ryota?"

Kise berkedip. "Hah? Oh, iya! Aku bertemu dengan ibunya Kurokochi beberapa menit lalu!"

"Apa?" Akashi tiba-tiba mendesis. "Di mana?"

"Supermarket." Kise menjawab cepat.

"Apakah ia mengatakan sesuatu padamu" suara desahan itu terdengar mereda. Sepertinya Akashi berjalan menjauh.

"Tidak. Dia tidak mengenaliku. Tapi tanda pengenalnya aneh."

"Aneh bagaimana, Ryota?"

Kise menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum berlari menyeberangi jalan. Ponselnya nyaris tergelincir jatuh dalam ketergesaannya. "Na-nama yang tertulis pada tanda pengenalnya berbeda. Yang tertulis bukan 'Kuroko Ibuki'."

Sekarang ia mendengar suara kertas dan bolpoin. Ucapan Akashi mengalir pelan dan tajam. "Sebutkan namanya."

Pemuda berambut pirang itu mencoba mengingatnya. "A-anu, A-Abe Miku, sepertinya…"

"Sepertinya?"

"M-maksudnya, Abe Miku! Aku yakin!" Kise buru-buru meralat. "Namanya Abe Miku. Dan cara penulisannya juga berbeda." Kise menyebutkan satu persatu karakter Jepangnya. Suara gesekan mata pena terdengar.

"Terima kasih, Ryota. Kau akan mendapat keringanan atas hukumanmu." Akashi memutuskan panggilan.

Kise menatap ponselnya tak percaya. Ia tahu Akashi biasa memutuskan panggilan begitu saja, tetapi paling tidak, kan, ia bisa mengucapkan "Sampai nanti," atau apa di situasi begini!

Si pirang cemberut. Semua orang jahat sekali padanya!

Tak lama, ia memutuskan untuk menelepon Aomine dan memberitahukan pertemuannya dengan ibu Kuroko. Kise berhenti di depan rumahnya persis dan menekan tombol panggil.

"Ugh, ada apa, Kise?" suara berat itu menggeram lelah. "Aku masih harus mengobati tujuh luka gara-gara berandalan TK itu. Awas saja kalau kali ini kau meneleponku hanya untuk mengobrol tak penting."

"Tapi ini penting!" sahut Kise bersemangat. "Dengar, aku baru saja menelepon Akashicchi tentang ibunya Kurokocchi, dan Akashicchi menanyakan pertanyaan-pertanyaan aneh, dan ia bahkan menulis nama pada tanda pengenal yang dikenakan wanita itu –maksudku, apa kau tahu kalau ibunya Kurokocchi itu punya dua nama? Apa maksudnya itu? Ah, iya, dan Akashicchi—"

Suara putus-putus memenuhi rongga telinga Kise. Pemuda itu berkedip. "Eh?" Ia mengecek layar ponselnya dan membaca teks berwarna putih yang muncul: Aominecchi memutuskan panggilan.

"Ehhh?" Kise berseru. "Uwaaah! Aominecchi kejaaam! Kenapa semuanya jahat sekali padaku?"

.

.

[To be continued]