"Lebih cepat, Tetsuya!"

Akashi berseru seraya melayangkan tendangan samping pada pemuda yang lebih pendek darinya itu. Kuroko, dengan napas terengah-engah, menangkap kakinya dan menariknya. Dan walau tenaganya tak seberapa, namun Akashi tetap tertarik ke depan. Pemuda bersurai merah itu jatuh ke matras, lalu seketika berguling dan bangkit kembali di atas kedua kakinya.

"Mana kekuatanmu, Tetsuya? Aku tak peduli kau beralasan tak mau menyakitiku atau apa, tetapi ingatlah, Ibuki lebih besar darimu, dan inilah satu-satunya cara untukmu melindungi diri darinya." Tanpa memberi waktu bagi Kuroko untuk bersuara, Akashi kembali mengirim tinju ke arah perutnya. Bukan tinju yang keras, sehingga bila Kuroko gagal mengelak, efek yang ditimbulkannya takkan terlalu parah.

Namun Kuroko tahu apa yang harus ia lakukan. Pemuda itu berkelit dengan lincah, menangkap pergelangan tangannya, dan memutar tubuh Akashi. Dengan posisi Akashi yang tak berkutik karena tangannya terkunci di belakang punggung, Kuroko mendorongnya sekuat tenaga, dan pemuda itu sekali lagi terjatuh ke matras.

Akashi segera bangkit kembali.

"Bagus."

Satu tangan Akashi secepat kilat menangkap pergelangan tangan Kuroko, dan pemuda berambut biru itu melawan dengan mengangkat tangannya setinggi mungkin, kemudian dengan tiba-tiba membantingnya ke bawah. Akashi sekali lagi terjatuh.

Selama beberapa hari terakhir, Akashi mengajarinya teknik-teknik bela diri yang akan berguna dalam situasi terjepit. Si kapten memilih untuk mengajarkan teknik dasar dari bela diri Aikido, karena gerakannya tak membutuhkan banyak tenaga, konsepnya berupa bertahan tanpa menyerang, dan proses pelatihannya tak menyakitkan. Gerakan Kuroko sendiri memang tidak seefisien Akashi, tetapi cukup untuk menjatuhkan orang dewasa dan memberinya kesempatan untuk kabur.

"Selalu berjaga-jaga di atas kakimu," Akashi mengingatkan. "Bila ibumu menjatuhkanmu, kau harus tetap bangkit lagi, tak peduli separah apapun lukamu. Titik terkuatmu adalah kaki, dan titik terlemahmu adalah punggung."

Kuroko dengan lelah kembali memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi serangan berikutnya. Mereka telah berlatih sejak pagi tadi, dan Kuroko sudah bisa merasakan aliran kejut sepanjang ototnya –kelelahan. Akashi bergerak maju seolah hendak menyerang, namun tiba-tiba ia berhenti dan meraih kepala Kuroko.

Pemuda itu mendongak, bingung. Akashi terkekeh dan mengacak rambutnya. "Kerja bagus," pujinya. "Kita sudah selesai. Kau telah belajar cukup banyak."

Kelegaan seketika memenuhi hatinya. Akashi dengan sigap menangkapnya begitu keseimbangannya mulai goyah. "Kerja bagus," bisiknya dekat telinga Kuroko, membuat wajah pemuda itu merona."Kau boleh mandi. Lukamu harusnya sudah pulih sekarang, tapi tetaplah berhati-hati."

"Baik," jawab Kuroko kelelahan.

Pemuda bersurai biru itu tertatih berjalan menuju kamar mandi di kamar Akashi. Sensasi dingin dari lantai tempat ia berpijak membuatnya sedikit terkejut, begitu pula dengan sejumlah gunting yang tergantung di dinding kamar.

"Mengapa Akashi-kun menggantung banyak gunting di dinding?" pemuda itu bertanya-tanya.

Dengan hati-hati, Kuroko melepas kaus dan perban yang membelit dadanya. Midorima telah membebatnya dengan cukup kuat, dan dalam banyak lapisan pula. Tak berapa lama kemudian, gulungan kain putih itu telah tergeletak di atas lantai, disepak ke pojokan kamar mandi untuk dibuang nanti.

Kuroko bercermin dan mengamati perutnya. Luka memanjang pada punggungnya yang terbentuk saat ia jatuh menghantam tanah dari lantai dua kini sudah mulai menutup, begitu pula dengan goresan panjang pada kaki kanannya. Kini nyaris semuanya telah menjadi basal, bekas luka. Hanya ada beberapa poin yang mulai berubah kekuningan. Ekspresi pemuda itu bertekuk.

"Ck," Akashi berdecak dari belakangnya. Kuroko berjengit terkejut dan segera berbalik.

Mantan kaptennya itu meletakkan sebuah celana jeans, kaus longgar, dan, ya, dalaman berwarna merah di atas rak. Kemudian ia menatapnya dan berjalan mendekatinya.

"Sepertinya lukamu belum sepenuhnya sembuh."

"Ya," Kuroko mengangguk pelan.

"Apakah terasa sakit saat tadi kau melawanku?"

"Tidak," dan itu bukan dusta. Ia tak merasakan sedikitpun rasa sakit dari lukanya, hanya kelelahan saja.

Akashi mengamati daerah torsonya. Kuroko mengerjap ketika tangan dingin menyentuh luka gores pada perutnya. Sentuhan itu tak menyakitkan, tidak sama sekali. Itu hanya gerak refleks alami. Begitu alami, impuls langsung dari instingnya. Namun justru karena gerakan itu sangat alami, membuat hati Kuroko mencelos.

Akashi mengatupkan rahangnya, bergerak mundur. "Aku takkan menyakitimu, Tetsuya."

"A-aku tahu," Kuroko berbisik. "Maafkan aku."

Akashi mengelus kepalanya. "Tidak apa-apa. Mandilah dulu, dan hati-hati dengan lukamu."

"Baik."

Akashi menutup pintu kamar mandi, namun tak menguncinya. Sehingga akan mudah baginya untuk menerjang masuk bila –semoga saja tidak- terjadi sesuatu pada Kuroko.

"Nah," kapten tim basket Rakuzan itu mengeluarkan ponselnya. "Sekarang, kembali bekerja."

Ia memanggil sebuah nomor dan mendekatkan ponselnya pada telinga. Tak berapa lama, panggilan dijawab. "Ibuki Corporation, ada yang bisa kami bantu?"

"Aku ingin bicara dengan manajer," ucap Akashi.

"Mohon tunggu sebentar." Jeda sejenak. "Watanabe Ichirou telah tersambung dengan Anda."

Lalu jalur telepon dialihkan. "Saya Watanabe Ichirou. Ada yang bisa saya bantu?"

"Ichirou," sambut Akashi dengan kasar. "Aku ingin kau menyebutkan nama pemilik dari perusahaanmu."

"Nama pemilik?" sang manajer menggerundel kesal. "Mengapa aku harus menjawab pertanyaan dari bocah kasar tak tahu sopan santun sepertimu? Kau bisa mengakses namanya dari internet, kan?"

"Mendengarnya langsung dari manajernya akan lebih terpercaya," Akashi terdiam sejenak. "Nama ayahku adalah Akashi Hayato."

Nada gusar Watanabe seketika berubah. "A-Akashi Ha-Hayato? Kau putranya?"

"Benar."

"O-oh! Baiklah, ah," pria itu tertawa gugup. Akashi memutar bola matanya. "Nama pemilik perusahaan kami adalah Kuroko Ibuki… Kalau kau tak keberatan, bolehkah aku menanyakan tujuanmu menanyakan hal ini?"

"Aku keberatan," Akashi memangkas. "Eja namanya."

Sang manajer menurut. "Dengar, Akashi-san. Bila kau berencana untuk menghancurkan Kuroko-san, kusarankan kau untuk mengurungkan niatmu. Tak peduli seberapa kuat orang tuamu di dunia hukum; tak ada yang bisa menghentikan Kuroko-san."

Akashi menyobek kertas memo yang bertuliskan nama 'Kuroko Ibuki' dan menyimpannya dalam lemari dapur. "Kau tahu, Ichirou? Orang awam sangat mudah untuk dijatuhkan. Cukup dengan menulis beberapa lembar surat tuntutan dan menempelkan label reputasi buruk pada punggung mereka." Akashi tertawa geli, membuat si manajer bergidik."Tetapi orang-orang kuat seperti ayah dan ibuku, dan bosmu, tidak. Akan sulit sekali untuk menjatuhkan mereka, karena mereka memiliki uang, pengaruh, dan koneksi. Namun," ia meraih kaleng soda kosong dari konter. "Mereka dapat dipastikan menyimpan banyak rahasia gelap. Dan begitu kau membongkar satu dari sekian rahasia itu…"

Krak. Watanabe bersumpah ia mendengar suara keras dari logam.

"… mereka akan hancur."

.:xxx:.

Disclaimer to its rightful owner:

Kuroko no Basuke© Tadatoshi Fujimaki

Original Story:

Betrayal In Its Simplest Form © Virelei

OCs © Virelei

(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)

Translation:

Betrayal In Its Simplest FormbyRheyna Rosevelt

I own nothing but this translation

(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)

Thus, I don't make any commercial profit within this story

(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)

Translation is under permission of its original author.

(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)

Warning:

This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.

.

.

[Chapter 10]

.

.:xxx:.

Kuroko mengerjap saat ia mengenakan kausnya melalui kepala. Air hangat yang mengalir dari kepala shower memang mampu membantu melemaskan ototnya yang pegal, tetapi juga merangsang sensor sakit pada punggung dan kakinya.

"Aduh," Kuroko mengaduh pelan saat perutnya tanpa sengaja bergesekan dengan ujung meja konter. Ia mengelus daerah itu dengan lembut.

Memakai celana jeansnya jauh lebih sulit lagi, tetapi toh ia berhasil. Matanya menyalang pada tumpukan perban berbias darah di lantai, dan ia cepat-cepat membuangnya ke tempat sampah. Lalu melipat pakaiannya yang kotor dengan rapi dan meletakkannya di atas konter.

Wangi sampo Akashi menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Kuroko sampai hapal aromanya, saking seringnya ia mencium bau itu langsung dari helai lembut surai rubi Akashi sendiri. Jadi, ini sampo yang dipakai Akashi-kun, batinnya. Wangi sekali...

Ia cepat-cepat menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan pikiran itu. Rona merah tipis menyebar pada pipinya. Selesai mandi, Kuroko menyembulkan kepala dari balik pintu sebelum akhirnya menapakkan kaki keluar. Hawa dingin seketika menyambutnya. Kuroko berjalan melewati koridor rumah, menuju ruang utama di mana Akashi tengah duduk menunggunya.

"Tetsuya." Kuroko menyadari manik heterokrom itu mengamati tubuhnya, mencari indikasi luka dan darah. "Apakah sakit?" Kuroko menggeleng. "Apakah lukamu terbuka lagi?" Kuroko juga menyangkalnya. "Apakah kau ingin lukamu dibalut perban?" Pemuda bersurai biru itu menggelengkan kepalanya lebih kuat. Ia benci tekanan dari lilitan perban pada tubuhnya. "Apakah lukamu berdarah-"

"Akashi-kun!" protes Kuroko, kesal diberondong pertanyaan.

Akashi mengangkat sebelah alis, bibirnya menekuk membentuk senyum geli. "Baiklah," ia menghela napas. "Apa kau lapar? Aku belum memasak, tapi di dapur masih ada ramen sisa kemarin. Bagaimana?"

"Tidak apa-apa," ucap Kuroko, lalu buru-buru menambahkan, "terima kasih."

Pemuda berambut merah itu lalu bangkit dan berjalan menuju dapur. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan semangkuk besar ramen panas. "Makan semuanya."

"Aku tahu," gumam Kuroko.

Akashi menatapnya tajam, namun ia tetap terdiam seraya mengawasi Kuroko melahap ramen tersebut. Matanya mengamati postur pemuda di depannya. Setelah dipaksa makan selama beberapa hari ia tinggal di bawah lindungan Akashi, Kuroko sudah tidak sekurus biasanya. Luka dan cederanya juga sudah mulai pulih, dan binar semangat pada manik biru langit itu kini telah kembali.

"Ayahmu akan menjemput pagi ini." Akashi memberitahunya

Kuroko tiba-tiba saja kehilangan nafsu makan."O-oh, baiklah," gumamnya, walau dalam hati menolak. Ia tidak mau pulang. Pulang berarti bertemu ibunya, dan bertemu ibunya berarti kembali pada masa lalu nan kelam. Apalagi kini Kuroko telah berani melawannya. Ibunya pasti akan bertindak lebih keras padanya.

Kuroko menelan ludah.

Akashi melihat ketakutan menyelimuti mata pemuda berambut biru itu. Ia turun dari sofa ke lantai, di belakang Kuroko, kemudian merengkuhnya dalam pelukan erat.

Kuroko mencengkeram erat lengan pakaian Akashi di dadanya, membiarkan kepala bersurai merah itu bersandar pada pundaknya. Membiarkan Akashi menahan gemetaran tubuhnya yang dikuasai emosi ketakutan.

"Ssh," Akashi mendesis, menghentikan tangisan Kuroko. Satu tangannya turun dan memeluk pinggang pemuda itu, sementara satunya lagi mengelus surai biru muda dengan sayang.

"Ia takkan menyakitimu seperti dulu lagi," Akashi berbisik di samping telinganya. Kuroko merasakan air matanya mulai menggenang, namun ia berusaha tak meneteskannya. Ia sudah menangis terlalu banyak. "Kau tahu bagaimana caranya melindungi dirimu sendiri. Dan kau tahu aku akan selalu datang, kapanpun kau memerlukanku." Dengan lembut ia meraih dagu Kuroko dan memutarnya "Akan kupastikan Ibuki membayar perbuatannya, Tetsuya," geram Akashi. "Akan kukeluarkan kau dari rumah itu dan membantu ayahmu merebut hak asuhmu, sehingga kau tak perlu bertemu dengan ibumu lagi."

"Tidak, Akashi-kun," Kuroko bergumam. "Ibuku akan menyakitimu. D-dia mengenal orang tuamu..."

"Oh?" tangan pucatnya mengelus rambut biru muda. "Kau meragukanku?" Tak ada jawaban. "Jangan khawatir, Tetsuya. Aku akan menepati ucapanku."

Tangan Kuroko melingkari punggung mantan kaptennya. Akashi balas menambah erat pelukannya. "Jangan lakukan hal-hal ceroboh hanya demi aku, Akashi-kun."

"Hm," Akashi dengan lembut mencium pundak Kuroko. Mereka terdiam dengan posisi seperti itu, melupakan semangkuk ramen yang masih mengepulkan uap.

Heterokrom menatap dua butir manik biru muda yang masih berkaca-kaca. "Jangan berani-berani menutup diri. Jangan pernah berpikir untuk menyembunyikan sesuatu dari kami. Kediaman Shintaro dan Daiki adalah yang paling dekat denganmu, tetapi kita semua selalu siap untuk menolongmu bila terjadi sesuatu."

Kuroko duduk di atas pangkuan Akashi, menghadapnya, dengan tangan memeluk dadanya. Akashi membiarkannya, tangannya sendiri juga merengkuh tubuh rapuh Tetsuya. Samar, ia mampu mendengar bisikan doa terucap dari bibir mungil itu, tetapi doa itu tak tertuju untuk Kuroko sendiri.

Doa itu untuk Akashi.

.:xxx:.

Kagami menghela napas panjang, kemudian menjatuhkan diri di atas ranjangnya. Pegas dalam dua lapis spons tebal itu balas memantulkan tubuhnya selama beberapa saat, sebelum berhenti dengan perlahan. Namun Kagami tetap terdiam, sepasang mata merah menyalanya menatap lekat langit-langit kamar.

Bahwa si Tetsu ini sering mengalami luka-luka yang tak wajar karena kekerasan.

Kekerasan. Frasa itu berdiri lebih menonjol dari yang lainya. Kuroko korban kekerasan? Secara fisik, atau mental? Atau keduanya?

Dulu anak itu memang sering dating latihan dengan tubuh penuh luka. Tapi selalu ada saja alasannya. Jatuh dari tangga, berkelahi, tertabrak mobil, dan tetek bengek lainya. Aku tak peduli, sih, jadi untuk apa aku tahu lebih banyak?

Cara Haizaki mengucapkannya membuat Kagami kesal. Bagaimana bisa ia bersikap tak peduli pada teman setimnya yang kemungkinan besar adalah korban kekerasan? Tapi, lebih lanjut lagi, bagaimana bisa ia sendiri tak menyadarinya? Kuroko memang pernah beberapa kali membolos latihan, namun ia selalu berhasil menutupinya dengan alasan-alasan yang masuk akal. Bahkan, kalau dipikir lagi sekarang, terlalu masuk akal hingga tak ada yang mempertanyakannya.

"Brengsek," si kuda hitam Seirin mengumpat dan berguling. Wajahnya terbenam di antara hamparan selimut. "Kuroko, apapun itu yang kau sembunyikan, aku bersumpah akan membongkarnya." Ia menelengkan kepala. "Tapi pertama, aku harus mencari tahu tentang Kuroko Ibuki…"

Tangannya meraba-raba saku celana, lalu meraih ponselnya. Ia menekan speed dial "2".

"Hello?"

"Ayah," Kagami menjawab. Orang tuanya kini masih berada di Amerika, dan biaya panggilan internasional juga tak murah, tetapi orang tuanya pasti sanggup menanggungnya.

"Taiga?" Kagami mendengar nada suara ayahnya keheranan. "Kau jarang sekali menelepon ayah. Ada apa?"

"Bisnis ayah punya koneksi dengan cabangnya di Jepang, kan?"

Jeda. "Ya. Kenapa?"

"Bisakah ayah mencarikanku informasi mengenai wanita bernama Kuroko Ibuki?"

.

.

[To be continued]