"Kau siap?"

Akashi berjalan menuju ruang tengah, tangannya menenteng tas kecil berisi berwarna putih. Ia mengenakan kemeja merah berlengan panjang yang kerahnya dilipat, dan celana jeans biru tua. Sebuah dasi strip melingkar malas di sekeliling lehernya, yang bisa ia rapikan nanti. Rambut merah pendeknya telah tersisir rapi. Sebuah cincin emas bertengger dingin pada jari manis tangan kanannya.

"Ya." Kuroko mengikat tali sepatu kirinya sebelum menegakkan diri untuk menghadap sang kapten. Ia mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan pada hari ia kabur dari rumahnya, namun telah dicuci dan dijahit kembali oleh Akashi (Kuroko baru tahu kalau mantan kaptennya bisa menjahit –bukannya merendahkan). Perbedaan lainnya adalah keberadaan scarf hitam pemberian Akashi yang melilit lehernya. "Oh, apakah Akashi-kun hendak pergi juga?" Ia menunjuk pada busana formal mantan kaptennya.

"Ya, tetapi setelah ayahmu datang." Akashi memberikan tas putihnya pada Kuroko, dan pemuda bersurai biru itu menatapnya bingung. "Ayahmu memberitahuku bahwa beliau kehabisan persediaan perban dan obat, dan beliau tak bisa membeli itu semua tanpa dicurigai ibumu. Simpan ini baik-baik di kamarmu, dan jangan sampai Ibuki tahu."

"Baik," ucap Kuroko patuh. Ia menyelempangkannya seraya sedikit meringis.

Tiga kali ketukan mantap terdengar dari pintu depan. Keduanya saling menatap. "Pasti ayahmu," gumam Akashi. Ia berjalan menuju ruang tamu untuk membuka pintu.

Benar saja, Kuroko Haru berdiri gugup di teras apartemennya. Alis birunya berkerut cemas. "Tetsuya!" ia memekik, dan menghambur memeluk putranya. Akashi sama sekali terlupakan. "Terima kasih, Tuhan! Kau baik-baik saja? Apa kau sudah makan?" Haru memeluk putranya erat-erat, tangannya mengacak rambut dan menepuk punggung si pemuda dengan bersamaan.

"Ah, Ayah," Kuroko melingkarkan tangannya pada tubuh sang ayah. "Aku baik-baik saja, dan, sudah, aku sudah makan."

"Kau yakin?" Haru menepuk-nepuk wajah, pundak, dada, dan punggung Kuroko dengan cemas. Ketika tangan Haru menyentuh perutnya, Kuroko meringis. "Apa? Kenapa? Tulangmu? Lukamu? Kepalamu tidak apa-apa? Kau bisa jalan, kan? Apa kau mau perbanmu diganti?"

Akashi berjalan mendekati Haru dan menepuk pundaknya. "Dia baik-baik saja, Haru-san. Jangan terlalu khawatir."

Pria itu menoleh padanya, lalu berkedip "Akashi-kun." Ia menegakkan tubuh dan berbalik menghadap si pemuda. "Ah..." Haru menggigit bibirnya selama beberapa saat, sebelum kemudian mengagetkan kedua pemain basket itu dengan tiba-tiba membungkuk dalam. "Terima kasih banyak atas pertolonganmu pada Tetsuya!" Haru berucap, masih menghadap lantai. "Maafkan aku yang telah banyak merepotkanmu!"

Akashi menelengkan kepala. "Haru-san, bila ada salah satu dari kita yang harus memberi penghormatan, maka akulah orangnya. Dan Anda harusnya tak membungkuk pada orang yang lebih muda seperti aku. "

Haru menegakkan badan dan meraih pundak Kuroko. "Tidak, ini adalah perwujudan terima kasihku. Tanpa kau, aku ... aku ..." pria itu menarik napas, sedikit gemetar. "Aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi pada Tetsuya."

Akashi mengamati ayah Kuroko. Setelah mencoba memahami perasaan si ayah sepenuhnya, ia mengangguk kecil. "Sekarang aku tahu darimana Tetsuya mewarisi sikap over sopannya," ia mengangkat sebelah alis pada Kuroko. Pemuda itu menunduk malu begitu dipandang. "Dan Anda sama sekali tak merepotkanku. Tetsuya juga telah berangsur pulih selama ia tinggal di sini." Akashi melayangkan pandang ke arah dada pemuda itu, di mana sekarang hanya tinggal beberapa bekas luka yang tersisa. "Kupercayakan Tetsuya pada Anda untuk beberapa hari ke depan."

Haru terhenyak. "Ya. Akan kulakukan semua yang kubisa untuk menjaganya dari kemarahan Ibuki."

"Hm," Akashi menghampiri Kuroko dan menyandarkan tangannya di atas pundak kurus itu. "Kau punya nomor telepon Daiki dan Shintaro," ujarnya. "Kemungkinan besar, aku akan masih berada di Kyoto saat kau meneleponku. Bila kau butuh bantuan, hubungi mereka berdua dahulu." Ia menatap mata Kuroko. "Mengerti?"

"Ya," jawab Kuroko pelan.

Haru menatap keduanya bergantian, bingung mengenai hubungan sebenarnya antara putranya dan Akashi. "Kita sebaiknya pergi sekarang," pria itu berucap, lalu menoleh pada putranya. "Apa kau sudah siap?"

"Sudah," Kuroko menatap ayahnya. "Aku siap."

"Bagus," Haru mengelus kepala Kuroko dan memberinya ciuman lembut dekat pelipis. Ia menuntunnya menuju pintu, lalu berbalik untuk membungkuk sekali lagi pada Akashi.

Namun pemuda itu menghentikannnya. "Haru-san, ketahuilah bahwa aku bersedia melakukan apapun untuk menyelamatkan Tetsuya. Masalah mengenai hak asuh antara Anda dan Ibuki juga tak luput dari pengamatanku, namun sayangnya aku tak mencemaskan hal itu. Tetsuya tak akan tinggal di kediamanmu lebih lama dari ini, dengan kau sebagai orang tuanya, ataupun tidak lagi. Kuharap kau menyadari itu."

Haru tak bisa berkata-kata. Justru Kuroko lah yang, dengan sopan, membungkuk pada si surai merah. "Terima kasih banyak, Akashi-kun."

Akashi meresponnya dengan sebuah, "Hm."

Kuroko berjalan menuju sebuah mobil biru yang familiar baginya dan dengan hati-hati duduk di kursi penumpang. Ia melepas tas ranselnya, lalu meletakkannya di pangkuan. Haru menyelinap di kursi pengemudi dan mengunci pintu mobil. Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan mobil dari tempat parkir dan mengemudi ke jalan raya.

Beberapa menit pertama perjalanan mereka terasa cukup canggung. Kuroko, si pemuda pendiam, memilih untuk tak bicara. Menatap keluar jendela saja sudah cukup baginya. Haru, di sisi lain, ingin mengobrol dengan putranya, tetapi ia tak tahu bagaimana melakukannya. Sang ayah menggenggam roda kemudi dengan erat, gugup. Ia memang tak pernah bagus dalam memulai percakapan.

"Ano ..."

"Kau tahu ..."

Keduanya berucap bersamaan. Kuroko terhenyak, dan Haru terkekeh. "Kau duluan, Ayah."

Haru menghela napas berat. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan, namun bibirnya menolak membentuk formasi kalimat. "Bagaimana... Bagaimana luka-lukamu?" Haru menelan ludah dan menurunkan nada suaranya. "Akashi-kun memberitahuku dia membuatmu jatuh dari lantai dua."

"Aku baik-baik saja," ucap Kuroko, telah bertekad untuk tidak mengingat masa-masa itu lagi. "Midorima-kun berkata tak ada tulang yang patah."

"Begitu," Haru terdiam. "Tetsuya, apa kau tahu bagaimana cara melindungi diri? Aku tahu aku menyuruhmu untuk tetap tinggal di kamarmu dan balas melawan bila ibumu menyerang, tetapi tak pernah terpikirkan olehku kalau kau tak tahu bagaimana caranya." Mobil mereka berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah. Haru memanfaatkannya untuk menyandarkan dahi di atas roda kemudi. "Maafkan aku, Tetsuya," bisiknya. "Harusnya aku tahu Ibuki akan pulang sebelum aku, dan harusnya aku tahu ia akan mendobrak kamarmu. Aku memang bodoh, meninggalkanmu sendirian dalam kondisi terluka di rumah. Ayah telah melakukan kesalahan yang amat fatal, dan ayah minta maaf." Tiga kata terakhir itu keluar bersama dengan tetesan air mata. Buku-buku jarinya memutih seiring dengan eratan genggamannya.

"Kumohon hentikan, Ayah," tegur Kuroko lemah. "Bukan salah ayah." Ketika pria itu tak merespon, ia menambahkan, "Akashi-kun mengajariku Aikido. Aku sudah tahu caranya melindungi diri."

Lampu berganti hijau, dan Haru tak punya pilihan lain selain mengangkat kepala dan menjalankan mobil. Matanya sedikit berbinar mendengar ucapan putranya. "Akashi-kun? Ia mengajarimu Aikido?" Bayangan akan pemuda berambut merah itu bergerak buas menginstruksikan gerakan-gerakan Aikido pada putranya yang rapuh terbentuk di benaknya, dan ia tertawa. Kuroko tak paham bagian mana yang lucu hingga membuat ayahnya tergelak. "Akashi-kun tampaknya sangat menyayangimu, ya," Haru berkomentar setelah tawanya reda.

"Ya," Kuroko memandang tangan kecilnya. "Tidak hanya Akashi-kun saja. Tetapi semua pemain inti di SMP-ku."

"Teiko, kan?" Haru memastikan.

Kuroko mengangguk. "Midorima-kun, Murasakibara-kun, Aomine-kun, Kise-kun ... Semuanya," sebutnya lembut. "Semuanya telah menolongku sejak dulu."

"Mereka tahu ... tentang Ibuki?"

"Ya," jawabnya. "Mereka tahu tentang ibu, dan mereka selalu menolongku. Mereka selalu melindungiku." Tubuh Kuroko mulai gemetar akibat ucapannya. "Dan itu membuatku merasa lemah. Akashi-kun sampai melakukan hal-hal yang tak diperlukan untukku, padahal ia bisa saja tersakiti karenanya. Aku ingin melakukan sesuatu untuk mencegahnya, tetapi aku tak bisa," pemuda berambut biru itu menutup mukanya dengan kedua tangan, getaran tubuh makin kuat.

Haru memarkir mobilnya di depan rumah mereka, lalu mencabut kunci kontak mobil. Kini, ketika suara derum mesin telah dimatikan, keheningan di antara keduanya mulai terasa benar-benar berat. Kuroko tak mau bergerak, ia ingin tinggal di dalam mobil ayahnya hingga seseorang memberitahu ia tak perlu masuk ke dalam rumahnya lagi.

Sebuah tangan berat mendarat pada puncak kepalanya. Kuroko mendongak pada sang ayah, yang kini juga tengah menatap lembut padanya. "Aku yakin mereka pun tak ingin kau melakukan sesuatu," Haru bergumam. "Dan aku turut senang kau punya teman-teman yang menyayangimu seperti aku." Pria itu menghela napas dan mencium dahi Kuroko sayang. "Kita harus masuk. Ibuki ada di rumah, tetapi segeralah lari ke kamarmu begitu kau masuk, mengerti?"

"Ya," Kuroko menyelempangkan tasnya.

Haru mengangguk, keluar dari mobil, dan memutarinya untuk membuka pintu putranya. Rasa takut sekali lagi mencoba menginvasi otaknya, namun ia tetap kukuh. Ia tak mau dilanda kepanikan lagi. Ibunya makan dari ketakutan orang lain, dan ia menolak untuk memberikan apa yang wanita itu inginkan.

Keduanya berjalan menuju pintu dalam kesenyapan. Haru berhenti tepat saat ia akan memutar kenop, dan ia mengambil napas panjang. "Satu, dua tiga," bisiknya, lalu memutar metal tersebut. Kuroko menahan napas, memastikan wajahnya masih tetap tak berekspresi.

"Masuk," bisik Haru seraya mendorong putranya. Kuroko masuk ke dalam rumah yang terlalu familiar baginya itu, melepas sepatunya secepat yang ia bisa sehingga larinya takkan terdengar. Karena ia punya insting ia harus segera lari sebelum ...

"Hm? Haru, kau sudah pulang?"

Suara itu membuat Kuroko nyaris membeku. Keteguhan hatinya sedikit goyah, namun ia mempertahankan wajah stoik dan mentalnya. Tangan pucatnya terkepal erat untuk menyambunyikan gemetaran. Haru membungkuk sedikit untuk berbisik di telinganya, "Bersiaplah."

"Haru?" Ibuki melangkah keluar dari dapur, menampakkan dirinya di lorong. Matanya beralih fokus dari suaminya ke Kuroko. Bibirnya seketika itu pula menyunggingkan senyum gila. "Tetsu-kun," senandungnya, "selamat datang di rumah." Wanita itu melangkah maju, matanya berbinar gelap. Sebuah pisau dapur ia genggam. "Apakah kau sudah siap untuk meminta maaf padaku?"

Kuroko menelan ludah, namun matanya bertahan tanpa emosi. Dengan suara monoton, ia menyapa, "Aku pulang, Ibu."

Ibuki, marah karena tak mampu mendeteksi sedikitpun ekspresi ketakutan pada wajah anaknya, mengerucutkan bibir. "Kau berani menganggap ini rumahmu setelah kau membangkang dan kabur dariku?" Ia mengambil satu langkah berbahaya ke depan. "Kemari, Tetsuya."

Kemari, Tetsuya.

Tubuh Kuroko membeku.

"Tetsuya, lari!" Perintah Haru.

Kemari, Tetsuya.

Ia tak bisa bergerak.

"Tetsu-kun!" seru Ibuki

Kemari, Tetsuya.

Ia tak bisa bergerak.

"Lari, Tetsuya!" ayahnya menajamkan suara.

Kemari, Tetsuya.

Ia tak bisa bergerak.

"Kemari!" Ibuki memekik. Menyadari remaja itu tak kunjung bergerak juga, ia mulai melangkah berderap ke arahnya, cahaya matahari yang menyorot masuk dari jendela lorong dipantulkan oleh sisi tajam pisau yang ia acungkan.

"Lari!" Haru berteriak. Melihat bahaya datang, ia melangkah masuk untuk menahan istrinya. Tangannya yang besar mencengkeram pundak Ibuki dari belakang, berhati-hati dengan pisau yang mengayun penuh ancaman. Pria itu menarik tubuh Ibuki dan menggenggam kedua pergelangan tangannya, sehingga wanita itu tak mampu bergerak banyak. "Buang pisaunya, Ibuki," ia mendesis. "Buang pisaunya!"

"Lepaskan aku!" teriak Ibuki, memberontak berusaha melepaskan diri. Pisau itu mengayun tanpa kendali, dan sisinya yang tajam mendarat pada lengan kanan Haru, menyobek lengan pakaiannya dan melukainya. Haru mengatupkan rahang, menahan rasa sakit. "Lepaskan aku, Haru! Aku harus meluruskan pikiran bocah itu! Suruh dia kemari! Berikan dia padaku! Dia harus dihancurkan; sampai dia kesakitan; sampai dia menangis! Apa kau tak lihat wajahnya? Dia mengejekku, Haru! Lihat, matanya mengejekku! Lepaskan aku!"

Teriakannya makin kencang. Suara nyaring Ibuki menggema di sepanjang lorong, dipantulkan lagi oleh dinding-dindingnya masuk ke telinga Kuro, menggetarkan gendang telinganya dengan menyakitkan. Remaja itu berdiri terpaku, menatap darah yang menetes dari luka lebar pada lengan ayahnya. Ialah yang menyebabkan semua ini. Ia yang menyebabkan ayahnya terluka.

"Tetsuya, lari!" Haru berseru lagi.

"Jangan berani kabur dariku, Tetsu!" teriak Ibuki. "Kemari kau, sekarang juga! Kau harus tahu di mana tempatmu! Kau akan belajar untuk tidak membantahku! Aku bersumpah akan menghancurkanmu! Akan kuhancurkan!"

"Kumohon, pergilah," sang ayah berucap. Kuroko mencoba bergerak, namun gagal. Haru merendahkan suaranya lagi, memastikan masih dalam jangkauan pendengaran putranya. "Apakah kau juga akan membantah perintah ayahmu, Kuroko Tetsuya?"

Kalimat itu berhasil menarik Kuroko keluar dari kolam kebingungan. Bila ada yang hal yang sangat ia benci untuk lakukan, maka jawabannya adalah tak menuruti perintah ayahnya, orang yang telah ada di sisinya sejak semua bermula. Kuroko mulai melangkah masuk, gerakannya makin lama makin cepat. Ibuki meneriakinya, juga mengumpat dengan kata-kata kasar yang tak pantas diucapkan seorang ibu pada anaknya, namun ia tetap berlari, manik biru sengaja menghindari genangan darah saat ia melewati ayahnya. Langkah kakinya tergesa membawanya menaiki tangga menuju kamarnya, dan ia membanting pintu hingga tertutup dengan suara debam keras. Masih juga belum merasa aman, ia mengunci pintu, lalu menyeret dua kursi kayu untuk menghalanginya. Ia membarikade kamarnya.

"Sialan! Lepaskan aku, Haru! Dia anak hina, berani mengejek ibunya sendiri! Dia sudah membuatku melampaui batas kesabaranku; aku harus menghancurkannya! Aku benci dia! Dasar bocah naif, egois, tak berguna! Lepaskan aku, Haru! Lepaskan!" teriakan itu tak kunjung berhenti jua, dan walau Kuroko telah menutup rapat akses menuju kamarnya, ucapan-ucapan menyakitkan itu tetap berhasil menyelinap masuk menuju telinganya

Kuroko membanting tubuhnya hingga menabrak dinding, tak peduli walau rasa sakit menerpa tubuhnya. Ia merosot ke lantai dengan pelan. Kuroko tak menangis, atau bersuara sama sekali. Ia hanya menatap nanar ke arah jendela, dengan benak dipenuhi ingatan tak menyenangkan –darah, dan teriakan ibunya, yang hingga kini masih terus terngiang.

Tangannya mengepal erat.

Ibu, apa salahku hingga kau begitu membenciku?

.:xxx:.

Disclaimer to its rightful owner:

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Original Story:

Betrayal In Its Simplest Form © Virelei

OCs © Virelei

(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)

Translation:

Betrayal In Its Simplest Form by Rheyna Rosevelt

I own nothing but this translation

(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)

Thus, I don't make any commercial profit within this story

(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)

Translation is under permission of its original author.

(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)

Warning:

This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.

.

.

[Chapter 11]

.

.:xxx:.

"Minyak?" Kagami menggaruk kepala dan menoleh pada buku resepnya lagi. "Tapi katanya itu tidak sehat. Kuganti dengan air saja." Ia mengisi loyang dengan sedikit air keran. "Lalu ... tambahkan sayuran." Ia meraih mangkuk berisi irisan sayuran dan menuang isinya. Suara desis seketika terdengar dari arah loyang. "Sebarkan sayuran itu hingga merata ..." bacanya keras-keras, sementara tangannya mengaduk-aduk masakan dengan sepasang sumpit.

Tiba-tiba saja, ia merasakan getaran pada saku celananya. Setelah memindahkan sumpit ke tangan kiri, ia meraih ponselnya dan menekan tombol jawab. "Halo?"

"Taiga."

"Oh, Ayah," alis unik itu terangkat. "Jangan katakan ayah sudah menemukan informasi yang kuminta."

Ayah Kagami menjawab dengan gusar. "Sebenarnya, ya. Kau meremehkanku, Anak Muda?"

"Sulit untuk tidak meremehkan orang tua," pemuda bertubuh tegap itu menggerutu. Matanya melirik pada langkah selanjutnya di buku resep, dan ia menambahkan beberapa bumbu dalam masakannya.

"Sejak kapan kau jadi angkuh begini?" sang ayah menghela napas. "Ah, sudahlah. Sejak awal kau memang berandalan. Dan tentang Ibuki ini... Saat ini usianya tiga puluh enam tahun, tinggi badan seratus enam puluh delapan sentimeter, dan beratnya enam puluh kilogram. Ia adalah alumni dari Universitas Tokyo, sarjana bisnis dan ekonomi, dan lulus dengan nilai terbaik di antara civitas seangkatannya. Ia pernah tinggal di Amerika sebelum kembali ke Jepang, dan menikah dengan Kuroko Haru. Ia adalah pemilik dari tiga perusahaan terbesar di Jepang: Ibuki Corporation, The Atari, dan Rasa Corps. Ia juga masuk daftar wanita paling berpengaruh di Jepang." Ayah Kagami terdiam sejenak. "Tetapi, ada sesuatu yang membuat ayah bingung."

Kagami, yang telah mematikan kompor dan kini menulis cepat informasi dari ayahnya, turut berhenti. "Ada apa?"

"Pertama-tama, ayah tak bisa menemukan berkas imigrasinya."

"Berkas imigrasi?"

"Karena ia lahir dan pernah tinggal di Amerika selama beberapa waktu, harusnya ada berkas data dari departemen imigrasi sebagai bukti kelegalannya tinggal di Jepang. Biasanya, aku bisa menemukan hal-hal seperti ini dengan mudah di komputer perusahaan, terutama karena ialah pemilik dari cabang kami di Jepang sana. Tetapi hasilnya nihil." Kagami menulisnya. "Juga, aku telah menghubungi semua perusahaannya dan menemukan sesuatu yang ... janggal."

Pemuda itu mengernyit seraya menarik sebuah kursi, lalu duduk di atasnya. "Maksudnya janggal?"

"Janggal karena aku menemukan tiga identitas," sang ayah menjelaskan. "Aku menghubungi Ibuki Corporation dan mereka mengonfirmasi nama pemiliknya adalah Kuroko Ibuki. Tapi, saat aku menghubungi The Atari, nama pemilik mereka adalah Suzuki Akihiko ... dan pemilik Rasa Corps bernama Abe Miku."

"Tiga nama berbeda, tapi satu individu?" tanya Kagami, takjub.

"Benar, dan ketiga perusahaan itu nampaknya tak mengetahui kejanggalan ini. Tiap perusahaan masing-masing mengklaim bahwa Kuroko Ibuki, Suzuki Akihiko atau Abe Miku adalah pemilik ketiganya. Ayah juga mencari informasi mengenai dua nama baru ini di internet, dan hasilnya mengejutkan. Profil diri setiap nama berbeda-beda."

"Dan dua nama baru itu juga nama laki-laki ..." Kagami bergumam seraya menuliskannya juga.

Sang ayah menghela napas. "Karena ayah sudah memberitahumu semuanya, sekarang beritahu ayah mengapa kau sangat tertarik pada wanita ini."

Pemain Seirin itu meletakkan penanya dan bersandar pada punggung kursi, lalu meregangkan kakinya. Setelah mengambil napas dalam, ia merilekskan diri. "Kuroko Ibuki adalah ibu dari temanku."

"Teman basket?"

"Benar," Kagami berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Aku mencurigai Ibuki melakukan kekerasan pada putranya."

Ayah Kagami tak menjawab cukup lama. " ... Begitu," ia akhirnya angkat bicara. "Baklah. Akan kulakukan semua yang ayah bsa untuk mencari informasi tentang wanita ini."

"Terima kasih, Ayah."

"Ah, apakah kau sudah memutuskan untuk-"

"Tidak. Aku tidak akan kembali ke Amerika. Dah."

Ia memutus panggilan.

.:xxx:.

"Perhentian Kyoto. Pintu kereta telah dibuka. Kepada para penumpang, dimohon untuk keluar dengan antri."

Beberapa orang di gerbong berdiri dan bersiap untuk turun. Akashi melakukan hal yang sama, mengeratkan dasi dan memperbaiki posisi jam tangan mahal di pergelangan tangannya. Ketika pintu telah sepenuhnya terbuka, ia melangkah keluar dan disambut oleh udara dingin Kyoto.

Akashi berjalan menyusuri jalanan Kyoto yang cukup sibuk, walau tak terlalu padat, karena sekarang masih jam kerja, namun cukup sibuk sehingga ia sempat berkelit beberapa kali menghindari anak-anak kecil yang berlarian tanpa melihat ke depan. Beberapa pemilik toko yang ia kenal menyapanya dengan sopan saat ia melewati tokonya. Pemuda itu membalasnya dengan anggukan kecil.

Akashi lebih memilih berjalan, tak mau memanggil taksi kotor yang akan merusak pakaiannya, berbelok pada salah satu pertigaan. Tempat yang ia tuju jaraknya cukup jauh dari stasiun, namun ia telah terbiasa berjalan jauh hingga mendaki gunung. Bila kaki seseorang tak cukup kuat untuk dibawa berjalan sejauh ini, terutama bagi seorang pemain basket, maka dengan mutlak disimpulkan bahwa mereka lemah.

Kuroko masuk pengecualian, tentu saja.

Akhirnya ia mencapai tempat tujuannya, istana berkedok rumah paling megah di kota itu, yang akan sulit sekali untuk dilewatkan. Sebuah gerbang berdiri selaku pintu masuk, dan intercom kecil terpasang pada salah satu jerujinya. Akashi menekan tombolnya, lalu menunggu jawaban dari pihak dalam.

"Kediaman Akashi," sebuah suara familiar merespon.

"Ini aku," ucap Akashi.

Lalu jeda beberapa detik. "Seijuro ... Tunggu, akan kubuka gerbangnya."

Lampu pada intercom itu mati, dan sedetik kemudian, gerbang terbuka otomatis. Akashi berjalan melewatinya menuju pintu besar rumah utama. Pintu itu telah dibuka sebelum ia sempat menyentuhnya, dan sesosok pria berambut merah melangkah keluar, menyambutnya. Ia mirip dengan Akashi. Rambutnya sewarna rubi, aura berwibawa menguar darinya, dan air mukanya cukup mengintimidasi. Namun, berbalik dari Akashi, pria itu jangkung. Dan tak seperti putranya yang menderita heterokromia, kedua mata pria itu normal dengan pigmen warna merah-kuning berenang –nyaris jingga.

"Seijuro. Kau tak memberitahu kalau kau akan berkunjung."

"Maafkan aku, Ayah," Akashi berjalan masuk begitu dipersilahkan. "Cukup lama sejak terakhir kali aku kemari."

"Kau benar," Akashi Hayato menutup pintu dan menguncinya, lalu menjentikkan jari. Segera, seorang pelayan berjalan menghampiri mereka, membungkuk rendah. Wanita dalam seragam maid itu membantu Akashi menyimpan mantelnya, menampakkan kemeja merahnya. Sang ayah mengangguk-angguk, setuju dengan selera busana putranya. "Apa yang membuatmu kemari?"

Akashi melonggarkan dasinya. "Sebenarnya, aku ingin ayah meluangkan waktu satu jam denganku, bila memungkinkan." Ia menatap sekeliling rumah masa kecilnya. "Di mana ibu?"

"Ia di kantornya, sedang mengecek beberapa detail kasus pelanggannya." Hayato melirik arlojinya dan menghela napas. Jadwalnya hari ini cukup padat, namun putranya itu jarang sekali berkunjung untuk bercengkerama. Mengingat apartemen Seijuro letaknya cukup jauh, ia bisa saja menelepon untuk membicarakan masalahnya tanpa perlu repot-repot kemari. Alasan Seijuro menemuinya pasti sangat penting hingga ia memilih untuk bertatap muka. "Aku bisa meluangkan waktu satu atau dua jam. Bagaimana kalau kita pindah ke ruang keluarga?"

Akashi mengangguk. "Baik. terima kasih."

"Aiko," Hayato memanggil pelayan itu lagi. "Bawakan dua cangkir teh dan cemilan ke ruang keluarga."

"Baik, Akashi-san," Aiko membungkuk dan berjalan pergi.

Kedua Akashi berjalan berdampingan menuju ruang keluarga yang lumayan luas, di mana satu set sofa empuk yang mengelilingi sebuah meja bundar menunggu mereka. Akashi duduk di salah satunya, posturnya formal: punggung tegap, kaki tersilang, dan jemari tangan bertautan di atas lututnya. Hayato di seberangnya, gayanya lebih rileks dengan satu tangan terentang di atas sofa. Ia menahan diri untuk tidak memutar bola mata melihat gaya kelewat resmi putranya.

"Teh Anda, Akashi-san," Aiko berjalan masuk, nampan berisi dua cangkir teh dengan uap mengepul di tangannya. Wanita tu meletakkannya dengan rapi di tengah meja, bersama sepiring cracker beras. "Ada lagi yang dapat saya bantu?"

"Tidak, terima kasih."

Aiko membungkuk dan meninggalkan ruangan.

"Jadi, apa yang hendak kau bicarakan, Seijuro?" Hayato meraih cangkir tehnya, lalu menyesapnya pelan.

Akashi meraih sepotong cracker beras. "Ayah, apakah ayah mengenal wanita bernama Kuroko Ibuki?"

Hayato tak tampak kaget mendengar nama itu. Ia justru dengan santai meletakkan cangkirnya. "Ya, Kuroko Ibuki, tiga puluh enam tahun, lulusan terbaik Universitas Tokyo, pemilik tiga perusahaan besar di Jepang, dan memiliki dua nama alias yang misterius," ia menjabarkan. Sebagai pengacara terbaik di Jepang, tentu ia telah menghapal luar kepala informasi-informasi seperti itu. "Ada apa dengannya, Seijuro?"

Akashi mengangkat sebelah alis. "Sebenarnya, ia memiliki tiga alias." Mengeluarkan selembar kertas dari sakunya, ia menyerahkannya pada ayahnya. "Itu adalah daftar ketiga nama alias yang kuperoleh setelah menghubungi ketiga perusahaannya. Nampaknya hanya orang-orang tertentu yang mengetahui hal ini, karena Ibuki memberlakukan kebijakan untuk membatasi publikasi manajemen perusahaannya pada umum."

"Tiga?" Hayato juga mengangkat sebelah alis merahnya. Ia membuka lipatan kertas dan membaca isinya. "Kuroko Ibuki. Suzuki Akihiko. Dan... Abe Miku." Pria itu mengatupkan rahang dan menatap aneh kertas itu. "Ini –tidak biasa. Mengapa kau begitu tertarik padanya? Apakah ia melakukan sesuatu padamu?"

"Sejujurnya, ya," Akashi menggigit crackernya pelan.

Ayahnya memicingkan mata. "Apa dia menyakitimu?" desaknya. "Mengancam? Menghina? Menyentuhmu?"

Akashi menggelengkan kepala, lalu mendengus. Memang siapa yang bisa menyentuh seorang Akashi Seijuro? "Tidak, Ayah ... Tetapi ia adalah ibu dan pelaku kekerasan dalam rumah tangga terhadap Kuroko Tetsuya."

"Kuroko Tets– anak yang kau kenal sejak SMP itu?"

"Benar."

"Ia korban kekerasan ibunya sendiri?"

"Benar."

Hayato, sisi kebapakannya berganti dengan sisi pengacaranya, bertanya, "Dan apa bukti yang kau miliki, Seijuro?"

Akashi, telah memprediksi pertanyaan prosedural itu, dengan cepat menjawab, "Ayah dari Tetsuya telah bersedia menjadi saksi, begitu pula dengan sejumlah saksi lain yang telah kuhimpun, dan Tetsuya sendiri juga bersedia membuat pernyataan."

"... Lalu kau ingin aku melakukan apa, Seijuro?"

Pemuda itu, yang telah menunggu datangnya undangan tersirat ini, mengulurkan badan dan berkata, "Aku ingin ayah menggunakan kekuatannya untuk menyelidiki semua hal mengenai tiga alias Ibuki. Temukan bukti sebanyak yang ayah bisa, sebagai modal untuk mendakwanya di ruang sidang nanti. Aku tahu pengaruhnya luas, namun kita memiliki celah berupa satu rahasia besar yang kini sedang kubongkar perlahan; dan sekali terbongkar, ia akan hancur." Akashi bersandar kembali dan menghela napas. "Sayangnya, jaringan koneksi ku tak cukup luas, karenanya aku butuh bantuanmu, Ayah."

Hayato terdiam. Ia juga mengetahui kekuatan seorang Kuroko Ibuki, dan menyerangnya berarti kejatuhan kerajaan bisnis keluarga Akashi di bidang hukum. Namun, setelah melihat putra semata wayangnya sampai menelan harga diri demi datang kemari meminta bantuan, Tetsuya ini pastilah seorang yang sangat penting bagi putranya.

Di samping itu, istrinya, seorang pengacara keluarga, pasti takkan membiarkan seorang pelaku kekerasan pada anak di bawah umur berkeliaran dengan bebas. Pria itu menghela napas, tahu dirinya tak punya pilihan.

Satu jam berikutnya, ayah dan anak itu bersama-sama mendiskusikan rencana untuk meladeni Ibuki. Akashi, yang telah menghabiskan belasan tahun hidupnya dengan Hayato, mampu memahami istilah-istilah hukum yang dilontarkan sang ayah, bahkan ia juga turut menyumbang ide, membantu membuat peta konsep rencana mereka. Hayato juga menulis daftar nomor telepon para saksi yang tak terpengaruh oleh kekuatan Ibuki.

Hayato, satu-satunya orang yang belum mampu Akashi kalahkan di atas papan shogi, orang yang membesarkan remaja itu menjadi sosok pemimpin absolut yang disegani, kini tersenyum sadis pada rencana tanpa cela yang telah mereka buat. Akashi, remaja yang ucapannya selalu didengar semua orang, remaja yang memiliki cukup kemampuan unyuk menjatuhkan orang dewasa baik secara fisik maupun mental, matanya berkilat begitu ia dapat melihat sosok Ibuki berlutut kalah di depannya.

Satu jam berjalan, dan rencana mereka telah selesai disusun. Akashi bangkit dari sofa. "Terima kasih atas waktunya," ucapnya formal. "Aku akan menghubungi orang-orang ini sesegera mungkin."

"Hm." Hayato juga berdiri. "Ngomong-ngomong, Seijuro, apakah kau sudah menemukan wanita calon menantuku?"

Akashi melirik sinis padanya. "Tidak, Ayah. Aku tidak akan, dan tidak akan pernah."

"Aku ingin melihat cucu-cucuku berlarian saat aku tua nanti, Seijuro. Aku juga tak menginginkan pewaris yang akan meneruskan bisnisku nanti tanpa pendamping hidup."

"Aku tak tertarik untuk mengencani wanita saat ini," balasnya. "Disamping itu ... Aku sudah menemukan orang yang berharga bagiku."

Hayato menatap putranya tertarik. "Oh? Dan siapakah dia?"

Akashi tak menjawab.

Ayahnya menyeringai. "Apakah dia Tetsuya?"

Lagi, Akashi tak menjawab.

.

.

[To be continued]