"Mereka terlambat!" seru Hyuuga geram. "Apa sih kesibukan mereka sampai berani terlambat?"
"Entahlah," Teppei bersenandung dan mendribel bola, lalu melakukan lay up. "Tetapi sementara kita menunggu mereka, kita bisa pemanasan dulu, kan?"
Kagami dengan kasar meraih bola itu, melompat dari garis bebas, dan men-dunk keras-keras. Ring-nya berderit protes menerima beban yang terlampau berat.
"Oi, Kagami, santai saja dulu," Hyuuga mengangkat sebelah alis. "Simpan tenagamu untuk nanti."
"Masa senpai tak sadar?" Sang ace melambaikan tangannya, menunjuk seisi gym. "Kuroko menghilang!"
Seluruh tim basket Seirin menghentikan pemanasan mereka dan memperhatikan sekeliling, mencari sesosok pemuda mungil berambut biru muda. Berpencar untuk mencarinya, mereka memastikan untuk mengecek setiap sudut gedung, juga di balik punggung masing-masing, karena biasanya Kuroko suka muncul dari situ.
"Kau benar," ujar Koganei takjub. "Dia ... tidak ada."
Mitobe, si rajanya diam, mengangguk.
"Tapi kenapa?" Tsuchida menggaruk kepala. "Ia tak datang latihan sama sekali, dan sekarang ia juga tak ikut latih tanding?"
"Kalian tak berpikir," sang pelatih berucap ragu, "kalau yang dikatakan Haizaki itu benar, kan?"
Semua kecuali Kagami menelan ludah. "K-kalau benar, itu bisa menjelaskan semua luka Kuroko," Hyuuga berkomentar dengan enggan.
"Dan mengapa ia membolos sekolah," Teppei angkat bicara.
Izuki juga menambahkan, "Dan juga kejadian beberapa hari lalu, saat kita sedang latihan."
Lalu keheningan menerpa. Tak ada yang beran berkomentar lagi mengenai kesaksian Haizaki. Mereka terlalu takut untuk mengetahui kebenarannya, karena bila Kuroko ternyata memang benar-benar adalah seorag korban kekerasan, semua akan merasa sangat bersalah karena tak menyadarinya dari awal. Kuroko, walaupun ia hanyalah seorang pemain bayangan, ia telah mendukung timnya melalui cara-caranya sendiri. Semua takkan sama lagi tanpanya, dan kenyataan bahwa mereka tak mengetahui kondisi si passer handal Seirin selama ini sangatlah...
"Maaf, kami terlambat!" sebuah suara menginterupsi, bersamaan dengan terbukanya pintu gym. Kise Ryota dengan ceria berjalan masuk, tangannya melingkari bola basket di samping pinggang. Senyum lebar juga terpulas pada wajah modelnya. "Kami terjebak macet, sumpah! Dan kau tahu jarak dari Kanagawa kemari tidak dekat." Kise membela diri melihat seluruh tim seirin mendelik kesal padanya.
"Idiot, kita tidak terjebak macet!" Kasamatsu, kapten tim basket SMA Kaijo, memukul belakang kepala Kise. "Kita terjebak menunggumu membagikan tanda tangan pada fans-fansmu yang menyebalkan itu!"
"Senpai, itu kan harusnya jadi rahasia kita!" Kise merengek seraya mengusap kepalanya, lalu ia melihat sekeliling dan merengut. "Apa wasitnya sudah datang?"
Ayah Riko melangkah maju dan menggelengkan kepala. "Ini hanya latih tanding tertutup. Aku yang akan menjadi wasitnya. Seorang pemain cadangan dari tiap tim akan membantu menuliskan nilai di papan." Ia menunjuk papan nilai yang menyala di dinding, berikut mesin pengontrolnya. Tsuchida telah duduk di belakangnya, tahu ia takkan bermain di pertandingan kali ini.
"Baiklah," Kise mengangkat bahu. "Kami sudah pemanasan tadi dengan berlari kemari, jadi ayo kita mulai!" Si pirang mengamati Seirin sekali lagi sebelum menghela napas lega. "Kurokocchi tidak datang..."
"Oi, awas kalau kau berani meremehkan kami hanya karena Kuroko tak ada," Kagami memperingatkan. "Akan kami tendang pantatmu!"
Kise tak menganggapnya serius. "Nah, Kurokocchi takkan pernah memaafkanku kalau aku sampai meremehkan kalian. Lagipula, aku sudah tahu kalau hari ini ia takkan datang. Akashicchi bilang begitu."
Ucapan Kise menarik perhatian Kagami. Tidak, ucapannya menarik perhatian seluruh tim Serin. Apa maksudnya dia sudah tahu kalau Kuroko takkan datang? Apakah itu berarti ia tahu alasan di balik absennya pemuda bersurai biru itu akhir-akhir ini? Apakah seluruh anggota Generation of Miracle tahu? Kagami merengut, menyadari ia tahu sedikit sekali mengenai hal ini. Ia benci ketinggalan informasi, terutama bila menyangkut Kuroko.
"Apa maksudmu Akashi berkata begitu? Apakah sesuatu terjadi pada Kuroko?" Hyuuga menyuarakan pertanyaan bisu Kagami.
"Kise, kemari! Kita akan segera bermain!" kapten tim Kaijo berseru.
Yang dipanggil hanya menoleh dan menyeringai, "Aku ke sana sebentar lagi!"
"Tidak! Bawa pantatmu kemari sekarang juga!"
"Aw, tunggu sebentar!" Kise cemberut, namun ia tetap berjalan menuju timnya. "Akashicchi bilang dia akan membunuhku bila aku memberitahu kalian, dan aku masih sayang nyawaku." Ia menolehkan kepala sedikit untuk menatap manik liar Kagami. "Lebih baik kau tidak usah ikut campur, Kagamicchi. Kau takkan mendapat hasil apapun. Juga, kalau sikapmu sampai membuat Akashicchi merasa terganggu, dia akan menghentikanmu ... dengan caranya sendiri." Wajah Kise berubah nyaris protektif selama beberapa saat, bara serius menyala pada mata emas kecokelatannya; ekspresinya tampak nyaris protektif. Namun semua itu seketika tersapu oleh sebuah seringai usil, dan Kise mengacungkan ibu jarinya pada Seirin. "Semoga beruntung!"
Semua tak bisa berkata apa-apa melihat si pirang berlalu kembali menuju timnya. Dan Kagami tak yakin ucapan Kise barusan itu menyangkut pertandingan ini atau Akashi.
Kiyoshi dan salah seorang pemain Kaijo menempati posisi di tengah lapangan. Ayah Riko memegangi bola di antara mereka. "Hei, kau, pirang," panggil Teppei.
Kise terisak kecil seraya mengeluarkan air mata buaya. "J-jadi itukah aku di mata kalian? 'Si pirang'?" rajuknya.
"Aku tak tahu apa-apa tentang ocehan 'Akaji' atau 'Akasi'-mu ini, siapapun dia, tetapi Kuroko adalah anggota tim kami, dan kami punya hak untuk mengetahui apa yang terjadi padanya," Teppei tersenyum pada Kise. "Dan hal itu akan kami buktikan dengan meremukkanmu di pertandingan ini!"
Kise tak menjawab. Ia hanya menyeringai dan mengangkat dua jarinya sebagai tanda damai. Sudut mata Teppei berkedut. Ia membuatku kesal, si center Seirin membatin.
"Seirin—hitam! Kaijo—putih! Mari bertanding dengan sportif!" Kagetora melempar bola ke udara, peluit di bibirnya berbunyi nyaring. Kedua pemain berpostur tinggi tersebut melompat bersamaan untuk meraih bola. Lompatan Teppei sedikit lebih rendah dari pemain Kaijo, dan bola segera dilemparkan pada Kasamatsu.
Si kapten lalu mengoper bolanya pada ace mereka. "Heh," Kise dengan dramatis memantulkan bola dengan tangan kanannya, matanya terpancang pada lingkaran besi lawan. "Maaf saja, tapi..."
Serangan Kise nyaris tak kasat mata. Ia melewati dua penjaga dengan mudah, dan berjalan zig-zag menuju keranjang. Kemampuan mengontrol bolanya dengan mudah membawanya melewati Kagami yang terhenyak, dan ia melompat dari garis bebas.
Bola basket itu jatuh ke dalam ring sementara Kise bergelantung pada lingkaran besi selama beberapa detik, sebelum mendarat di atas kedua kakinya. "Kamilah yang pertama kali menemukan Kurokocchi. Jadi kami punya hak untuk menyembunyikan semuanya dari kalian." Sebuah kilat mengerikan melintas pada manik emas yang ceria. Lalu menelengkan kepala dengan polos, "jangan lupakan itu."
Seirin diremukkan Kaijo. Dengan kemampuan luar biasa dan konsentrasi penuh dari pemain as mereka, dibantu keempat rekannya yang juga tak bisa diremehkan, Seirin tak punya celah untuk menang dengan absennya Kuroko. Juga, Kagami tengah teralihkan fokusnya mendengar ucapan Kise, sehingga permainannya benar-benar tak maksimal.
Bukan penegasan bahwa Kuroko adalah milik Generation of Miracle yang merisaukannya (Kagami menyimpulkan Generation of Miracle memang pada dasarnya tak waras dan kelewat posesif, jadi ia mencoba membiasakan diri dengan keanehan mereka), melainkan bahwa Kise tahu apa yang tengah terjadi, namun Akashi tak memberinya izin untuk memberitahu Seirin. Mengapa Akashi menyembunyikan fakta bahwa Kuroko—kemungkinan besar—adalah korban kekerasan? Bukankah akan lebih menguntungkan bila mereka—Seirin—tahu mengenai kasus ini, sehingga akan ada lebih banyak saksi dan pembelaan di meja pengadilan?
"Pertandingan selesai! 76-54, Kaijou!"
Kasamatsu mengelengkan kepalanya ke arah tim Seirin. "Kalian terlalu bergantung pada bocah transparan itu."
"Tentu saja efektivitas kita akan berkurang bila salah satu pemain inti kita absen!" Hyuuga memotong berapi-api. "Dan Kagami! Apa-apaan itu tadi? Kau bahkan tak melompat sama sekali! Kagami!"
"Hah?" Kagami tersadar dari lamunannya. Dahinya tak berkeringat sederas biasanya. Sebuah handuk melingkari lehernya, dan dilihat dari air mukanya, ia tampak tak terlalu terganggu dengan kekalahannya. "Ah, maaf," si surai merah menggaruk belakang kepalanya. "Aku tak merasa bersemangat hari ini."
Izuki menatapnya dengan intens. "Ada apa denganmu? Kau tak seperti Kagami yang biasanya. Apa kau tak apa?" Ia berkedip. "Apa kau tak apa-apa? Ha! Kau tak apa-apa? Apa tak apa kau apa-apa?"
Seluruh siswa kelas satu mengerang.
"Selain gurauan tak lucu itu, Izuki benar," Teppei menyahut. "Kuroko tidak hadir bukan masalahnya, dan kau biasanya akan melakukan apapun untuk mengalahkan Kise."
"Aku sudah minta maaf," Kagami menggumam. "Pikiranku sedang teralihkan oleh sesuatu."
"Tentang Kuroko, hah?" Riko menebak.
Kagami tak menjawab. Matanya menatap tim Kaijo yang meninggalkan gym, dengan Kise paling belakang. "Aku pergi dulu. Kalian pulanglah tanpaku." Kagami meraih barang-barangnya, mengenakan jaket tim dan berjalan keluar.
"Eh? Kagami! Rencananya kita akan berkumpul di rumahmu untuk memeriksa dokumen-dokumen Kuroko!" si pelatih berseru. "Lalu bagaimana ini?"
"Kuncinya kusembunyikan di bawah pintu!" Kagami balas berteriak. "Kalian boleh masuk apartemenku, tapi jangan rusak apapun!" Dan dengan itu, ia pergi.
Butuh beberapa saat untuk menemukan tim Kaijo. Ia pikir si pirang akan bersama dengan mereka, namun ternyata ia salah. Kise telah berpisah jalan. Setelah menyusuri rute yang ditunjukkan Kasamatsu, barulah Kagami menemukannya. Cukup mudah, karena tak setiap hari ia melihat seorang model tinggi berambut pirang melompat-lompat riang di jalanan Tokyo. "Oi, Kise!"
Pemuda yang diteriakkan namanya itu menoleh kaget. "Oh, kau, Kagamicchi! Ada apa?"
Kagami, dengan kasar dan tanpa basa-basi, menuntut padanya. "Ceritakan padaku apa yang terjadi pada Kuroko. Aku ingin tahu kebenarannya."
Kise merengut dan memalingkan muka. Jemarinya bergerak gelisah. "Maaf, Kagamicchi, tetapi ... aku tidak bisa."
"Jangan banyak alasan!" serunya marah. "Aku tak pernah melihat Kuroko lagi sejak kapten gilamu itu muncul di sesi latihanku. Kuroko tak menjawab teleponku, bahkan dua kali aku telah mengunjungi rumahnya tanpa hasil, tetapi kemudian muncul wanita yang lebih gila dan mengoceh tentang anaknya yang pembangkang. Lalu dia menyemburkan ancaman padaku, sementara yang bisa kulakukan hanya diam sambil mendengarkan racauan tak warasnya. Kemudian muncul nama Kuroko Ibuki—"
"Kau tahu ibunya Kuroko?" Kise memucat. "Dan kau bertemu dengannya?"
"Ya, dan ternyata wanita gila itulah Kuroko Ibuki, yang entah bagaimana caranya mengklaim tiga nama berbe—"
Kise buru-buru menutup mulut Kagami dengan tangannya. "Jangan bicara tentang dia keras-keras! Akashicchi bisa marah."
Kagami menyingkirkan tangan Kise dengan kasar dan melangkah mundur. "Inilah yang sedang kubicarakan! Sepenting apa wanita itu hingga kalian semua merahasiakannya? Kenapa kondisi Kuroko harus disembunyikan dari kami? Kami adalah timnya! Bukan, aku adalah cahayanya, rekannya! Aku punya hak untuk tahu!" Ia meneriakkan kalimat terakhirnya, bersama dengan semua kekesalannya. Beberapa orang menatap mereka dengan tatapan aneh, dan beberapa dengan was-was seraya berjalan melewati dua pemain basket itu. Bahkan seorang polisi di seberang jalan mulai melirik mereka.
"Begini, aku tahu kau kecewa, Kagamicchi, tetapi—"
"Jawab pertanyaanku, Kise!"
"Aku tidak bisa, dan walaupun aku bisa, aku takkan—!"
"Mengapa tidak?"
"Kagamicchi!"
Nada tajam dalam sentakan Kise membuat Kagami berhenti. Pemuda bersurai merah itu menatap wajah Kise kembali, lalu membeku. Ini kedua kalinya raut muka Kise diwarnai kemarahan. Mata emas kecokelatan digenangi kemurkaan, rahangnya terkatup kuat oleh keputusan terakhir. Tangan Kise tersilang tegang, dan bahasa tubuhnya meneriakkan satu kata; serius.
"Kau melupakan posisimu, Kagamicchi," ucap Kise dingin. Pernyataan itu membuat darah Kagami mengalir ke atas. "Aku tahu dia anggota timmu, dan aku tahu dia adalah rekanmu. Akan tetapi, Aominecchi adalah rekan pertama Kurokocchi, aku adalah murid pertama Kurokocchi, Akashicchi adalah yang pertama menemukan talentanya, Midorimacchi adalah yang pertama memberitahu ramalan keberuntungannya, Murasakicchi adalah yang pertama menawarkan snack padanya; kami selalu yang pertama. Kurokocchi, tak peduli dengan tim manapun ia bermain sekarang, akan pertama bergantung pada kami." Tatapan Kise pada Kagami begitu keras. "Kau pikir kenapa Kurokocchi menghubungi Akashicchi ketika ia dalam masalah? Apapun yang terjadi padanya di masa lalu dan sekarang adalah privasi kami, yang pertama kali mengenalnya."
.:xxx:.
Disclaimer to its rightful owner:
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Original Story:
Betrayal In Its Simplest Form © Virelei
OCs © Virelei
(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)
Translation:
Betrayal In Its Simplest Form by Rheyna Rosevelt
I own nothing but this translation
(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)
Thus, I don't make any commercial profit within this story
(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)
Translation is under permission of its original author.
(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)
Warning:
This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.
.
.
[Chapter 12]
.
.:xxx:.
Murasakibara Atsushi berjalan keluar dari toko manisan, menunduk sedikit ketika melewati pintu hanya untuk disambut hawa dingin Akita. Akashi menyuruhnya kembali ke kotanya, walaupun sebenarnya ia tak mau. Tetapi karena yang memberi perintah adalah Aka-chin, maka ia menurut. Aku penasaran dengan keadaan Kuro-chin saat ini, pemuda berambut keunguan itu membatin seraya mulai menjamah manisan-manisan yang ia beli. Ah, ups, aku lupa latihan hari ini. Ia berhenti berjalan dan berdebat dengan diri sendiri apakah ia harus menelepon kaptennya dan memberi alasan bohong, atau biarkan saja si kapten kebingungan mencarinya. Murasakibara mengangkat bahu dan memutuskan untuk memilih yang terakhir, sampai: Tapi nanti Aka-chin marah...
Pemuda kelewat tinggi itu menghela napas, melihat semua pilihannya bermasalah. Dia benci ketika Akashi marah padanya, karena Murasakibara paling menghormati Akashi, tetapi dia juga benci latihan. "Aku akan menelepon Muro-chin untuk memberitahu kapten," gerutunya. Dengan tangannya yang besar, ia berhasil menekan tombol panggil pada kontak Muro-chinnya walau sedikit dipersulit jarinya yang besar.
"Halo?"
"Muro-chin!"
"Atsushi. Kenapa hari ini kau bolos latihan?"
Murasakibara berpikir cepat. "Ibuku hari ini masuk rumah sakit untuk operasi. Jadi tadi aku menjenguk!" Ucapannya itu separuh bohong dan separuh benar. Ibunya memang menjalani operasi. Dua bulan lalu, sih, tapi bukan masalah. Dan fakta bahwa dompet Murasakibara nyaris kempis juga bukan masalah.
Tatsuya menghela napas dari seberang. "Dasar pembohong."
"Tidak, benar, kok!"
"Ibumu tidak berada di kota yang sama denganmu, dan kau sudah tak punya uang untuk terbang ke kota lain karena kau selalu menghabiskan uang sakumu untuk jajan. Bagaimana bisa kau menjenguknya?"
"Oh. Ups," Murasakibara sudah bisa membayangkan kakak kelasnya itu memutar bola mata. "Kenapa Muro-chin selalu tahu?" protesnya.
Himuro mendengus. "Karena kebohonganmu terlalu mudah diterka. Kau baru keluar dari toko manisan lagi, kan?"
"... Iya."
"Dan kau ingin aku membuat alasan yang lebih bagus untuk kapten sehingga kau bebas dari masalah dengan Akashi-mu itu, kan?"
"... Iya."
Tatsuya menghela napas, melihat begitu mudahnya membaca seorang Murasakibara. Sungguh, tidak bisakah ia berusaha sedikit lebih keras untuk berbohong sehingga ia tak perlu terlibat? "Baiklah. Aku akan melakukannya, tapi hanya jika kau datang di latih tanding minggu depan."
Si kepala ungu melempar keripik lain ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan suara keras. "Terima kasih, Muro-chin," ucapnya dengan mulut penuh.
"Mm," Tatsuya menutup telepon.
Senang masalahnya sudah menemui penyelesaian, Murasakibara menyimpan kembali ponselnya dan meneruskan perjalanan. Kantong keripik yang ia pegang bukanlah keluaran terbaru dan bukan pula rasa favoritnya. Murasakibara sedikit kecewa, tetapi ia cukup puas. Ia terlalu tenggelam dalam makanan ringannya hingga tak menyadari keberadaan seorang wanita bertubuh jauh lebih pendek darinya hingga ia menabraknya.
"Maaf," gumamnya, walau sebenarnya ia tak merasa bersalah. Hal seperti ini sudah sering terjadi padanya. Ia melangkah ke kanan dan berjalan lagi, tak merasa perlu melihat wajah orang yang ia tabrak.
"Tunggu sebentar."
Suara kecil menyebalkan itu tipis menembus pendengaran Murasakibara. Si raksasa berbalik dengan malas.
"Eh?" Ia tak melihat seorang pun. Murasakibara berkedip, lalu tersadar bahwa ia harus menunduk. Sudah berapa kali ia lupa dengan tinggi tubuh abnormalnya?
Kelopak matanya yang setengah tertutup bertemu dengan sengitnya biru muda. Yang memanggilnya barusan adalah seorang wanita. Wanita sangaaat pendek (menurutnya), pucat, dan berambut biru langit yang menyerupai milik Kuroko. Murasakibara menelengkan kepalanya heran seraya melempar keripik lain dalam mulutnya.
Wanita itu berucap; "Namamu Murasakibara Atsushi, bukan?" Wanita itu melirik sejenak ke arah selembar foto yang ia pegang, kemudian menatap pemuda itu lagi. "Rambut ungu, tinggi, dan keripik."
Murasakibara merengut dan merebut foto itu. "Hei!" protes si wanita, "kembalikan!"
Penasaran, ia mengamati foto itu. Foto bersama Generation of Miracle dan Kuroko. Murasakibara bisa melihat dirinya sewaktu SMP dulu dalam foto itu, dengan sebuah keripik terjepit di antara kedua bibirnya. Kelihatannya keripik itu enak juga, pikir Murasakibara. "Kenapa kau punya fotoku?"
Kertas itu direbut kembali dari tangannya. Si wanita melotot marah pada raksasa malas itu. "Mungkin kau tak mengenaliku, walaupun aku tampak sangat mirip dengannya," ekspresinya berubah jijik, "namun aku adalah ibunya Tetsuya."
"Hmm?" Murasakibara mengunyah keripik terakhir yang ada di dalam kantong dan menelannya pelan, mengamati wanita di depannya dari atas ke bawah. "Bukan. Kau bukan ibunya."
Kuroko Ibuki mengangkat sebelah alis. "Ya. Aku ibunya."
"Bukan. Kuro-chin tidak punya ibu."
"Apakah bocah itu berkata begitu padamu?" Ibuki mendesis. Kemarahan menyelimuti pikirannya.
"Mm, tidak." Murasakibara menggelengkan kepala. "Tapi kau kelihatan terlalu jelek dan terlalu jahat untuk jadi ibunya."
Tiba-tiba saja, sebuah tangan pucat terulur, menarik dasi seragamnya. Kepala bertutup helai ungu itu dipaksa menunduk hingga berhadapan dengan muka Ibuki. Tarikan pada dasi itu membuat Murasakibara tercekik, namun ia menolak memperlihatkannya, menolak memberi wanita itu reaksi yang ia inginkan.
"Maaf?" Ibuki meludahi wajahnya. "Bocah-bocah seperti kalian nampaknya harus belajar untuk menghormati orang yang lebih tua. Kau tahu, aku bisa menghancurkan seluruh anggota keluargamu seperti ini," ia menjentikkan jari, "bila aku mau. Kaptenmu—Akashi Seijuro, bukan? Aku bisa menjatuhkan status sosial keluarganya hingga ia berakhir di jalanan seperti gelandangan."
"Sakit," ucap Murasakibara, tangannya menarik keluar sebungkus biskuit stik dari saku seolah ia tidak tengah dalam kondisi diintimidasi. "Dan bau napasmu tidak enak."
"Kau mendengarku, tidak? Aku bisa mem—"
Pemuda itu menghela napas keras-keras dan meletakkan tangannya di atas kepala Ibuki. Seperti anggota tubuhnya yang lain, tangan Murasakibara menutupi bagian atas kepala Ibuki saking besarnya. Wanita itu mengeluarkan pekik ketakutan, namun ia menahan rasa paniknya. "Aku dengar kau dari tadi, Nyonya. Dan aku bosan mendengarmu bicara," ia menekankan tangannya, dan Ibuki terpaksa melepaskan dasinya. Pemuda itu menegakkan diri dan meregangkan tubuhnya, sosoknya yang tinggi besar membayangi Ibuki. "Kau harusnya tidak membuat masalah dengan Aka-chin, atau, Kuro-chin." Ia mengerucutkan bibir sebelum menggigit buas pada stiknya. "Ooh, yang ini rasanya enak."
"Oh, dan kenapa aku tak boleh bermasalah dengan Seijuro? Dialah yang terlebih dahulu menantangku."
"Mm, aku hanya bisa bilang kau akan terluka," Murasakibara menggigit stiknya lagi, lalu melanjutkan dengan mulut penuh. "Secara fisik maupun kejiwaan: Aka-chin bisa melakukan keduanya."
"Apakah itu ancaman?" Ibuki menghardik. "Aku bisa melaporkanmu pada kepolisian dan menahanmu atas itu."
"Bu-kan, itu janji." Mendadak, manik ungu itu berbinar. "Hei, yang barusan itu seperti yang ada di film-film! Mirip adegan ketika si tokoh keren berkata, 'Itu bukan ancaman. Itu janji.', kalimat-kalimat sejenis itu! Apa aku juga tampak keren saat berkata begitu?"
Ibuki menipiskan bibir melihat tingkah kekanakan remaja di depannya. Sudah jelas, ia takkan mendapatkan informasi apapun maupun mengirimkan pesan pada Akashi Seijuro melalui bocah ini. Ibuki menghela napas. Terbang ke Akita untuk menemui Murasakibara Atsushi nampaknya hanya membuang waktunya. "Tunggu saja," ia memperingatkan. "Kalian, Generation of Miracle, pasti akan kuhancurkan."
"O-ke~!" Murasakibara melambaikan tangan. "Daah!"
Ibuki pergi, dan Murasakibara bebas berjalan lagi. "Aku harus menelepon Aka-chin," gumamnya. Kali ini gerakan jemarinya lebih mudah karena nomor Akashi ada dalam speed dial.
"Atsushi," terdengar suara kalem Akashi.
"Aka-chin!" sambut Murasakibara. "Barusan aku menabrak Ibusi!"
"... Ibusi? Atsushi, apakah maksudmu 'Ibuki'?"
Murasakibara berhenti sejenak. Ia menghampiri salah satu kursi panjang dan duduk karena berjalan sambil bicara membuatnya kelelahan. "Namanya tidak penting, jadi aku lupa. Tapi dia ibunya Kuro-chin."
Ketertarikan Akashi terdengar jelas melalui suaranya. "Apa yang dia katakan?"
"Sesuatu tentang menghancurkanmu, sepertinya," si surai ungu berusaha mengingat kembali ucapan-ucapan Ibuki. "Oh! Dia juga punya foto kita."
"Foto kita?"
"Iya, foto Aka-chin dan semuanya sewaktu di Teiko."
"Menarik," gumam Akashi. "Terima kasih, Atsushi." Murasakibara mendengung senang begitu dipuji. "Untuk itu, aku takkan menghukummu karena bolos latihan hari ini."
Pemuda itu nyaris menyemburkan snacknya, sayangnya rasanya terlalu enak. "Wa-aa! Tapi kan Muro-chin— harusnya Muro-chin—"
"Tak ada satupun informasi yang kulewatkan, Atsushi." Ia menutup telepon.
.:xxx:.
Kuroko duduk bersandar pada dinding, lemas membeku. Ia telah berada pada posisi yang sama sejak kemarin, terlalu takut untuk bergerak atau bicara, jemari erat merengkuh ponselnya. Ketakutan ibunya akan mendobrak masuk kamar malam itu, walau pintu telah dikunci dur dibarikade, ia tak tidur sama sekali. Terutama dengan posisinya yang membuat sendi-sendi tubuh berteriak tak nyaman. Bahkan setelah Ibuki meninggalkan rumah, dan Haru mengetuk pintu kamarnya berkali-kali, ia tak menjawab.
Kemarin Haru telah mencoba bicara dengannya, mencoba untuk memberitahunya bahwa luka pada tangannya bukanlah kesalahan Kuroko, dan bahwa Kuroko bisa keluar sekarang. Tetapi ia tahu semua itu bohong. Darah yang mengalir dari kulit tangan sang ayah melintas kembali dalam benaknya. Ialah penyebabnya.
Ketika petang tiba dan ibunya kembali, barulah Haru berhenti mengetuk pintunya.
Namun hari ini, ayahnya tak lagi menghampiri kamarnya.
Gadget di tangannya bergetar. Mulanya, ia pikir itu Kagami lagi, dan ia sudah bersiap-siap memutus panggilan. Namun kata 'Akashi' menarik penglihatannya. Walau sebenarnya Kuroko ta"Aku tidak berbohong, Akashi-kun," bisiknyak ingin menjawab, ia tahu ia tak punya pilihan.
"K-Kuroko di sini," jawabnya lembut.
"Tetsuya," suara tegas Akashi menenangkannya. "Apakah kau terluka?"
"Tidak. Aku baik-baik saja." Kuroko berhasil mengucapkannya. Tidak secara fisik.
"Benarkah?" mantan kaptennya bertanya lagi, tak percaya. "Jangan berbohong padaku, Tetsuya."
"Aku tidak berbohong, Akashi-kun," bisiknya. "Aku baik-baik saja." Setelah mengucapkannuya, air matanya mulai menggenang lagi. "Aku ... baik-baik saja." Kuroko menatap kosong kamarnya, sebuah senyum pahit ia sunggingkan. Genangan bening itu hampir jatuh. "Tidak ... apa-apa."
"Tetsuya! Beritahu aku apa yang telah terjadi," perintah Akashi. Ia bisa mendengar suara Kuroko mulai pecah, juga emosi tersembunyi di balik untaian repetisinya. Semua itu membuat Akashi memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang telah terjadi.
Kuroko menggelengkan kepala dan menjatuhkannya di atas lutut. "T-tidak. Aku tidak apa-apa," ucapnya gemetaran. Air mata itu akhirnya mengalir, melintasi pipi. Walau tak ada seorangpun di sana, namun senyumnya tetap mekar. "Aku baik-baik saja. T-tidak perlu khawatir." Makin banyak bulir yang berjatuhan, makin sulit baginya mempertahankan sunggingnya. "Aku baik-baik saja... Sungguh... Tidak ada apa-apa..."
Lalu ia tak bisa menahannya lagi, sebuah isakan mendesak keluar dari dadanya. Makin lama makin kentara bahwa pemuda itu tengah menangis dari seberang sana. "Ha," Kuroko tertawa lemah di sela-sela tangisnya, "Ha ... ha, ha, aku tak apa-apa. Aku tak butuh kau. Semuanya baik-baik saja. Aku tidak terluka—Aku baik-baik saja... I-ini bukan tugasmu, A-Akashi-kun."
Tak ada lagi kalimat yang keluar ketika getaran hebat mengambil alih kendali tubuhnya. Akashi tetap mendengarkan, terkejut, pada tangisan menyakitkan itu, pada ulangan kata 'baik-baik saja' dan 'tak apa-apa'. Ia mendengarkan dengan seksama, jemarinya tergenggam erat dalam kemarahan. "Sial, Tetsuya," bisik Akashi di atas deru suara tangis. "Mengapa kau berbohong pada dirimu sendiri?"
.:Tbc:.
