CHAP 13 (9'-')9

BUTUH WAKTU LAMA UNTUK CHAP INI

KARENA SAYA TERLALU LARUT DENGAN INFO SOAL 17

HANCHUL'S SON AKHIRNYA DEBUT JUGA

YEAAHH!

JUNHUI COME TO TANTE NAK~~

########################################################################


########################################################################

MISTAKE & LOVE

Cast

- Kim Heechul

- HanGeng

- Choi Siwon

Other cast

- Lee Hyukjae

- Lee Donghae

- Leeteuk

- Jungmo

(real story belong to LadyVampAsia)

########################################################################


########################################################################

Cahaya pagi menembus jendela kamar apartemen Hangeng. Heechul berdiri di depan salah satu jendela dengan selimut putih yang membungkus tubuh telanjangnya, rambutnya berantakan dan bibirnya bengkak. Tubuhnya gemetar dan wajahnya sayu.

Heechul tidak bisa berhenti memikirkan Siwon. Dia takut diluar sana Siwon menunggunya, menunggu untuk menyakitinya, membunuhnya. Heechul memejamkan matanya erat saat dia mengingat kembali pukulan Siwon diwajahnya. Tiba-tiba, Heechul merasa dia membutuhkan minum.

Heechul berpaling dari jendela dan langsung menuju lemari minuman. Dia mengambil acak botol apapun yang beralkohol kuat untuk mengusir ketakutannya. Heechul membuka tutup botol dan meneguknya langsung dari botol. Dia mengingat Hangeng yang memperlakukannya dengan baik, Heechul membuang botol minumannya ke dinding dengan keras disertai jeritan frustasi. Dia tidak bisa minum lagi, tidak setelah Hangeng sangat baik kepadanya.

"Heechul-ah!" Hangeng panik, dia bangun dan langsung menghampiri Heechul di dapur. "Ada apa?"

Heechul tidak menjawab, dia kembali menjerit dan menendang lantai dengan marah. Dia frustasi dengan dirinya sendiri karena membiarkan Siwon menemukan dirinya.

"Heechul-ah," suara lembut Hangeng terdengar di telinga Heechul, dia memeluk Heechul. "Katakan apa yang salah."

"Aku bodoh sekali mengatakan kepada Eunhyuk dimana aku berada. Siwon menyakitinya karena aku. Ini salahku dia disini. Aku tak mau hidup seperti ini lagi pria china." Heechul terisak di pelukan Hangeng.

"Apa yang kau ingin lakukan?" Hangeng bertanya. "Apakah kau ingin menghadapinya? Kita bisa melapor ke polisi. Dia menyerangmu kemarin,"

"Aku tidak tahu," jawab Heechul, "Aku hanya ingin dia kembali ke Seoul dan menjauh dari hidupku."

"Aku akan mengurusnya," Hangeng berjanji, "Aku berjanji."

"Tidak." Heechul menggelengkan kepalanya. "Aku akan mengurusnya. Aku tidak mau terjadi apa-apa terhadapmu,"

"Aku tidak bisa diam saja, sementara kau terlihat sangat ketakutan seperti ini,"

"Mengapa kau melakukan apapun untukku, pria china?"

"Karena aku mencintaimu, Heechul-ah."

Kata-kata Hangeng menusuk jantung Heechul. Heechul memeluk Hangeng erat. Hangeng menidurkan dirinya di lantai dapur yang dingin. Hangeng menciumi mata Heechul yang sembab karena air mata. Dan mulai mencium bibir Heechul lembut.

Ciuman Hangeng kini pindah ke leher Heechul dan terus menciumi tubuhnya. Heechul hanya berbaring di lantai dan sesekali menggigit bibirnya sendiri. Hangeng mencium milik Heechul dan membelainya lembut.

"Hannie…" Heechul merintih saat bibir lembut Hangeng mulai terasa hangat di miliknya.

Jari ramping Heechul meremas rambut Hangeng dan melengkungkan punggungnya.

"Hannie….aku…aku…," Heechul terengah-engah ketika dirinya mendekati klimaks.

"Datang untukku, Heechul-ah."

Heechul menutup matanya dan meneriakkan nama Hangeng saat ia mencapai klimaksnya.

"Aku mencintaimu, Heechul-ah." Hangeng mencium bibir Heechul dan tersenyum

"Aku juga mencintaimu, pria china."

########################################################################


########################################################################

Keesokannya Heechul terbangun dan menemukan dirinya sendirian di tempat tidur. Hangeng sudah berangkat kerja hari ini dan Heechul kembali sendirian.

Heechul segera mandi dan berpakaian, dia mengenakan kaos putih sederhana dan celana jeans. Dia lalu beranjak keluar dari apartemen menuju café di seberang jalan.

Dia memesan secangkir coffee dan tak henti-hentinya menghela nafas, dia menenangkan dirinya dan pikirannya. Heechul menghabiskan pagi harinya di café dan mengabaikan telepon Jungmo yang sudah hampir belasan kali menelponnya. Dia mungkin khawatir karena Heechul tidak muncul untuk bekerja. Dia juga mengabaikan setiap panggilan dan sms dari Siwon.

Menjelang sore, Heechul menemukan dirinya terbaring di rerumputan taman di belakanga partemennya. Tanpa setetes alkohol di tubuhnya, Heechul berhasil menjaga pikirannya dari hal-hal yang merusak dirinya.

Heechul mengambil ponsel dari sakunya, dia menelpon Siwon dan menunggu jawaban. Heechul menyadari dia mencintai siapa dan harus hidup dengan siapa, dia akan membangun sebuah kehidupan baru disini. Dia menyukai bekerja di toko dengan Jungmo. Dia suka bercengkrama dengan Hangeng saat libur. Dia senang saat dirinya bernyanyi. Dia bahagia disini. Dan untuk menjaga kebahagiaannya, hanya ada satu jalan.

"Siwon-ah, kau dimana?" Heechul berbicara di telepon. "Kita harus bicara."

########################################################################


########################################################################

Heechul mengambil nafas dalam-dalam sambil memeriksa ponselnya untuk kesekian kalinya. Dia sudah menunggu Siwon lebih dari satu jam. Mereka sepakat bertemu di salah satu Museum yang sedang mengadakan pameran seni Korea. Itu adalah tempat yang tenang dimana mereka bisa bicara, tapi cukup umum agar Siwon tidak bisa menyerangnya. Namun, semakin lama dia menunggu dan itu semakin dekat dengan waktu penutupan museum, kerumunan orang semakin tipis dan Heechul merasa tidak aman.

"Jadi, apa yang kau ingin bicarakan?" suara familiar Siwon bertanya di belakangnya, menyebabkan Heechul kaget dan menoleh ke belakang.

Siwon mengenakan sweater biru dan celana jeans. Raut wajahnya terlihat serius. Heechul melihat perban yang menutupi pipi kiri Siwon yang terbakar akibat iron hair waktu lalu.

"Aku tidak akan kembali ke Seoul dan kita tidak akan pernah bisa kembali bersama," Heechul menyatakan dengan nada tegas dan mendapatkan dirinya hanya berdua dengan Siwon di dalam salah satu ruangan di museum. "Aku ingin kau mengerti ini, Siwon-ah."

"Aku mengerti," Siwon menjawab dengan anggukan, "Jadi, kau menelponku kesini untuk memberitahu bahwa kau tidak ikut pulang bersamaku?"

"Iya,"

"Dan kau akan tinggal disini dengan bajingan cina itu?"

"Ya," Heechul konfirmasi. "Dan jangan berbicara tentang Hannie seperti itu. Dia orang yang baik."

"Hannie?" Siwon mengulang dengan alis terangkat. "Kau memberinya nama kesayangan? Aku ingat dulu kau memanggilku dengan sebutan Wonnie."

"Itu sebelum kau mulai temperamen dan memukuliku,"

"Berapa yang dikeluarkan orang china itu untuk membayarmu?"

"Dia tidak pernah membayarku." Heechul mendekati Siwon hati-hati, dia tidak mau siapapun menghina Hangeng.

"Kau hanya pecandu alkohol," jawab Siwon dengan suara tenang. "Kau hanya dibayar untuk dipakai, tapi aku mau menerimamu, Heechul-ah. Tidak akan ada yang mau mencintaimu, kau kotor Heechul-ah,"

"Kau salah. Hannie mencintaiku tanpa membayarku. Dia mencintaiku dan aku juga mencintainya." Heechul meninggikan suaranya. "Hannie tidak pernah berteriak di depan wajahku, dia tidak pernah memukuliku, dia juga tidak memerkosaku, dia tidak sepertimu, Siwon-ah."

Ekspresi kemarahan terbentuk di mata Siwon, dengan cepat dia meraih rambut Heechul dan menghantam kepalanya ke dinding. Heechul tak sempat mengelak, nyeri dan pusing dia rasakan di kepalanya, darah mengalir keluar dari hidungnya. Heechul terjatuh ke lantai dan memegangi kepalanya yang sakit. Heechul mencoba menjauhi Siwon yang membungkuk ke arahnya.

"Kau bodoh, Kim Heechul!" geram Siwon, dia kembali meraih rambut Heechul dan mengangkatnya dari lantai. "Aku akan membawamu kembali."

"Apa yang akan kau lakukan, Siwon-ah?" Heechul bertanya dengan suara serak. "Membunuhku?"

Siwon melemparkan Heechul ke sembarang arah dan mengenai salah satu pajangan dimuseum, menyebabkan alarm berbunyi. Siwon menendang perutnya berkali-kali. Tiba-tiba Siwon tersentak mundur dan didorong jatuh oleh seseorang.

Heechul tersenyum sambil memegangi perutnya. Pria china datang menyelamatkannya. Tanpa sepengetahuan Siwon, Heechul telah memberitahukan rencananya bertemu dengan Siwon di museum kepada Hangeng. Hangeng tidak memberikan Siwon kesempatan untuk membalas pukulannya.

"Aku bilang kembali ke Seoul!" teriak Hangeng kepada Siwon, disusul pejaga keamanan museum datang dan membantu mereka. "Jangan pernah menyentuhnya lagi!"

"Mengapa kau sangat perduli kepadanya? dia tak lebih dari pelacur." Siwon menggeram. "Dia kotor, kau tahu itu?"

"Kau salah, Siwon." Hangeng berusaha untuk tenang. "Dia segalanya bagiku."

Heechul melihat Siwon tidak melawan pera penjaga museum, Siwon kalah jumlah. Hangeng berbalik dan menghampiri Heechul yang masih memegangi perutnya.

"Maafkan aku," Hangeng meminta maaf, "Aku seharusnya datang lebih awal, tetapi penjaga melarangku masuk karena museum sudah hampir tutup dan….."

"Hannie, tidak apa-apa," Heechul meyakinkan, "Aku baik-baik saja."

"Aku berlari kedalam museum secepat mungkin setelah mendengar alarm," jawab Hangeng lemah, cemberut kecil terlihat di bibirnya menyebabkan Heechul tertawa. "Apa yang lucu?"

"Kau lucu ketika khawatir, pria china." Heechul tertawa. "Aku baik-baik saja, Hannie."

"Aku hanya tidak suka melihat kau terluka," ucap Hangeng dan beberapa penjaga muncul lalu mulai mengajukan beberapa pertanyaan.

"Mereka terlihat panik, Hannie, beritahu mereka bahwa aku baik-baik saja."

"Mereka bilang mereka ingin membawamu ke rumah sakit, dan kemudian polisi akan datang." Hangeng menjelaskan, "Siwon ditangkap karena telah menyerangmu,"

Karena Hangeng dan penjaga museum bersikeras untuk membawa Heechul ke rumah sakit, maka Heechul menurutinya. Dia melakukan serangkaian tes untuk memastikan ia tidak memiliki cedera yang parah. Untungnya, dia tidak gegar otak atau pendarahan. Dia hanya mengalami memar pada perutnya dan shock.

########################################################################


########################################################################

"Aku pikir aku akan mati," ucap Heechul saat dia berbaring di sofa apartemen Hangeng dengan kantong es yang menekan memar di perutnya. "Wajah dan perutku akan membengkak seperti balon karena memar-memar ini."

"Dokter bilang bengkaknya akan hilang dalam satu atau dua minggu," Hangeng menenangkan, dia lalu duduk disamping Heechul dan menyerahkan segelas air dan obat. "Ini,minum obatmu,"

"Aku mau minum soju, Hannie." Heechul menggeleng sambil cemberut.

"Kau sedang dalam pemulihan, dan kata dokter kau tidak diperbolehkan minum untuk sementara waktu," Hangeng membantah. "Bagaimana kalau kita makan malam saja,"

"Aku tidak lapar," Heechul menggembungkan pipinya. "Aku ingin mandi saja,"

"Kau tunggu disini, aku akan menyiapkan air hangat untuk kau mandi," Hangeng berdiri dari duduknya

"Aku hanya memar bukan patah tulang. Aku bisa menyiapkan air hangatku sendiri." Heechul menaruh kantong es dan berdiri perlahan. "Ayo, pria china. Bagaimana kalau kita mandi bersama,"

"Kau yakin…untuk…itu?"

"Aku memintamu untuk mandi bersamaku, bukan sex denganku, pria china." Heechul tertawa, dia menarik tangan Hangeng dan menuju kamar mandi.

########################################################################


########################################################################

Air hangat terasa sangat baik untuk otot-otot Heechul yang tegang, Hangeng berada dibelakangnya sambil menggosok punggung Heechul lembut. Heechul merasa aman bersamanya, berada dalam pelukan pria china-nya.

"Kau melakukannya dengan baik hari ini, Heechul-ah." Hangeng memujinya, "Maaf aku tidak bisa melindungimu,"

"Aku baik-baik saja," Heechul meyakinkan, "Aku senang mereka benar-benar telah menangkap Siwon-ah."

"CCTV di museum akan menjadi bukti kuat, dan Siwon tidak bisa mengelaknya."

"Apakah mereka akan memenjarakannya? Bagaimana jika mereka melepaskan dia pergi?"

"Dia mungkin hanya akan dideportasi," Hangeng mengelus rambut Heechul. "Dengan catatan criminal disini, itu akan sulit baginya kembali lagi kesini."

"Apakah itu berarti aku aman sekarang, Hannie?" Heechul terdengar sedikit ketakutan. "Apakah semua ketakutanku akan berakhir?"

"Iya. Heechul-ah, kau aman sekarang."

Hangeng memeluknya dari belakang, dan menaruh dagunya di bahu Heechul. Heechul memegang tangan Hangeng yang memeluknya, dia memejamkan matanya dan dia merasakan kenyamanan dan rasa aman yang didambakannya selama ini. Dia aman, dan dia yakin bahwa dia akan bahagia berada di sisi pria china-nya.


TO BE CONTINUED...

Heemalbub/Chocoball Sun Hi

########################################################################


########################################################################