"Rin, aku ingin kau mendengarkanku dengan sungguh-sungguh, oke?" Hayato berucap hati-hati pada istrinya. Akashi Rin, ibu dari Akashi Seijuro dan istri dari Akashi Hayato, kini berdiri di kantor sang suami, satu alisnya yang dirias sempurna terangkat. Tangannya tersilang di depan dada, menunggu. Ia mengenakan setelan formal untuk bekerja, rok pensil berwarna hitam yang tak terlalu panjang, blus putih, dan jaket suit hitam. Sama seperti suami dan putranya, ia juga memiliki rambut merah menyala, tetapi sepanjang pundak dan sedikit berombak.
Rin mengetukkan jemari panjangnya yang terawat pada lengannya. "Cepat katakan, Hayato. Aku sedang sibuk."
"Ah, tapi tidak terlalu sibuk, kan?" Hayato mengisyaratkan pada kursi di depan mejanya. "Jangan berbohong. Aku sudah mengecek jadwal kerjamu."
"Ck." Kesal, wanita berambut merah itu berjalan melintasi ruangan dan memposisikan dirinya di kursi. "Kau mau apa?"
Mengapa, dari sekian lama waktu yang ada, wanita ini harus dalam mood buruk sekarang? Hayato membatin sengsara. "Ah, begini, putra kita yang 'luar biasa' mengunjungiku kemarin," ucapnya sarkastis.
"Seijuro?" ekspresi istrinya melembut. "Mengapa kau tidak memberitahuku?"
"Karena kau sedang bekerja."
Mata kiri Rin berdenyut. Sesering apapun pria di depannya mengklaim kehebatannya, sebanyak apapun penghormatan yang ia terima dari dunia hukum Jepang, Hayato tetap saja bodoh bagi istrinya. "Apa dia baik-baik saja? Apa dia kelihatan sehat? Apa tingkah lakunya masih sopan? Tunggu, jangan jawab yang terakhir. Tentu saja dia sopan. Dia elegan." Sebuah senyum merekah di bibirnya. "Dia putraku."
Hayato membalas senyum percaya diri Rin dengan senyum lain yang gemetaran. "Ah, dia —iya. Dan sehat. Walau masih berandal seperti biasa," tambahnya dengan gerutuan.
"Mana mungkin dia jadi berandal. Aku yang membesarkannya." Rin mengamati kuku-kuku jarinya selama beberapa detik sebelum melirik tajam pada suaminya. "Lalu? Apa yang Seijuro butuhkan?"
"Aha-ha-ha-ha," si surai merah tertawa gugup, tangannya menggaruk belakang kepala. "Di sinilah masalahnya."
Setelahnya, Akashi Hayato menjalani kesengsaraan luar biasa dengan menjelaskan situasi dan masalah yang melibatkannya dan putranya. Rin mendengarkan dengan serius, sedikit tak percaya, keinginannya untuk mencekik sang suami makin jelas tiap menitnya. Nama-nama semacam 'Ibuki' atau 'Atari' dan 'Kuroko' tampaknya menancap tepat pada pengacara wanita itu. Begitu Hayato selesai, Rin harus menenangkan diri untuk mencegah tangannya melayang menampar pipi Hayato hingga terlempar masuk lapisan neraka paling dalam.
Wanita itu menutup matanya, mengambil napas dalam, dan:
"Apa kau gila, Akashi Hayato?" Rin tiba-tiba memekik. Ia bangkit dari kursinya dan menggebrak tangannya pada meja berpelitur itu. Suaranya membuat Hayato yang 'seharusnya ditakuti' meringis. Untunglah pintu kantornya telah ditutup. "Bagaimana bisa—kau?"
"T-tunggu, Rin," Hayato mencoba menenangkannya. "Kau tahu ini—"
"Bagaimana bisa kau … bagaimana bisa…."
"Aku tahu, aku tahu, tapi—"
"Bagaimana bisa kau membiarkan Tetsuya malang itu tersiksa begitu lama?"
Hayato berkedip. "Eh?"
Rin menarik diri dari meja kerja dan mulai berjalan mengelilingi ruangan. Kernyitan begitu dalam terpahat pada dahinya. Ia juga melarikan jemarinya di antara surai rubi tiga kali, gerakan khas seorang Akashi Rin kala frustasi. "Bocah malang! Kuroko Tetsuya; dia sungguh bocah yang santun. Aku sudah pernah bertemu dengannya sekali, dulu, ketika Seijuro pulang dari salah satu pertandingan basketnya. Seijuro juga pernah bicara tentangnya, sekali, satu waktu ketika ia masih duduk di bangku SMP! Dan dia sudah mengalami perlakuan mengerikan dari ibunya sejak itu? Dan putraku sendiri menyembunyikan hal ini dariku?" Mata kiri Rin berkedut lagi, dan ia menghentikan langkahnya. Ia berganti membelalak pada suaminya. "Akan kubunuh anak tak tahu terima kasih itu. Bagaimana bisa dia menyimpan ini dariku?"
"Dia punya alasan sendiri," Hayato berhati-hati melawan. Mengetahui temperamen istrinya, kalau ia tak membela Seijuro, mungkin bocah itu takkan mau pulang untuk beberapa minggu ke depan.
"Dan Kuroko Ibuki ini?" istrinya mendengus. "Mari kita lihat; Kuroko Ibuki, secara misterius memiliki dua identitas dan tiga perusahaan terbesar di Jepang, dengan konyolnya begitu berpengaruh di negara ini, usianya tiga puluh enam tahun, lulusan Universitas Tokyo." Mirip Hayato, Rin tentu tahu mengenai Kuroko Ibuki dan telah menghapal luar kepala informasi-informasi dasarnya.
Aura iblis mulai menguar dari balik wanita berpostur tinggi tersebut. Kemarahan mengalir dalam manik merahnya. "Akan kuhancurkan wanita itu," desis tajam.
"Mari tidak tergesa-gesa dulu," Hayato memperingatkan, suaranya tegas, menyembunyikan ketakutan di balik pita suaranya. "Hampir semua yang kau ucapkan benar, kecuali satu; sebenarnya ia punya tiga nama."
"Tiga? Aku belum pernah tahu itu."
"Mm, tapi putra kita yang oh-sangat-cerdas-sekali telah menghubungi tiga perusahaan itu dan menemukan tiga nama." Ia mengeluarkan catatan yang telah ditulisnya bersama Seijuro tempo hari.
Rin mengambilnya dan memeriksa keseluruhannya dengan cepat, namun teliti. "Begitu. Kerja Seijuro cukup bagus dalam mengumpulkan bukti-bukti dasar," ia mengusap air mata imajiner dengan begitu dramatis. "Anak itu pasti akan menjadi pengacara terhebat di masa depan."
"Itu tidak akan terjadi. Dia selalu bicara ingin menjadi pemain shogi profesional," Hayato menghela napas. "Dan ngomong-ngomong, aku sudah memberinya daftar orang-orang yang mungkin memiliki informasi yang berguna. Aku sudah mencoba mencari riwayat masa lalu Ibuki, tapi semuanya terkunci."
"Tak ada yang bisa dikunci dari kita," Rin menegaskan. "Kecuali klien kita sendiri yang menginginkannya, semua datariwayat harusnya bisa dibuka."
"Aku tahu," ucapnya datar. "Tapi di sini tidak ada."
Wanita berambut merah itu menyeberangi ruangan dan berdiri di samping suaminya. Ia menunduk di atas pundak Hayato dan mengambil alih akses komputer, dengan cepat mengetikkan password dan menjelajah folder berisi data-data riwayat. Hayato bisa mencium wangi lembut nan manis parfum Rin dari jarak sedekat itu, dan tiba-tiba ia teringat kembali mengapa dulu ia ingin menikah dengan wanita ini.
"Bila aku sampai mendapatimu berpikiran kotor dalam otakmu yang memang sudah kotor itu, akan kubunuh kau," ucap Rin sinis, tahu pasti apa yang barusan melintas dalam pikiran suaminya.
"Tunggu sebentar," Hayato menghela napas. "Kau mengakses riwayat hidup Kuroko Ibuki, bukan?" tanyanya yang disambut dengan "Mm," dari Rin. Pria itu lalu melanjutkan, "Cari yang lain saja. Aku sudah mencoba dan gagal. Tidak bisa dibuka."
"Ada dua kemungkinan; pemerintah yang mengunci atau menyembunyikan ini, atau Ibuki memanfaatkan pengaruhnya pada pemerintah untuk menyembunyikan masa lalunya," gumam wanita itu. "Kupikir yang terakhir."
Hayato bergumam sependapat. "Tapi tetap saja, kecuali situasi memang serius atau pemerintah memang menguncinya, kita, yang memiliki kekuatan lebih di bidang hukum dibanding siapapun di Jepang, harusnya bisa mengakses lebih banyak informasi dari ini."
"Riwayat kriminalnya bisa terbuka dengan mudah bila kita membuat tuntutan resmi ke pengadilan."
"Dengan siapa sebagai penuntut?"
Kedua pengacara itu bersamaan membayangkan anak mereka sebagai jaksa penuntut, dan bersamaan pula menyeringai. "Kupikir ada baiknya bila kita tidak meresmikan kasus ini terlebih dahulu," Hayato memutuskan. "Lebih baik bila kita tidak mempublikasikan ini."
Rin tidak menyahut. Ia justru menarik sebuah kursi dan duduk di samping pria itu. Hayato bergeser, membiarkan Rin sepenuhnya menguasai komputernya, tahu wanita di sampingnya lebih lihai dalam menemukan hal-hal yang sengaja disembunyikan.
"Database riwayat kriminal harusnya ada di sini, kalau dia punya," ucapnya. Namun ketika ia mencoba mengaksesnya, muncul suara nyaring dan jendela baru:
AKSES DITOLAK
PASSWORD?
Rin berdecak dan mengalihkan jemarinya menuju keyboard. "Kau tahu kodenya?" Hayato bertanya, terkejut.
"Ibuki bukan satu-satunya yang punya koneksi," balasnya datar. "Aku juga punya hubungan dengan kantor kepolisian." Ia menarikan jemarinya di atas tombol-tombol. "Mari kita lihat. J-R-Q-V-D-A-3-9-M-1-A." Dengan ingatannya yang luar biasa, ia mengetikkan kesebelas karakter itu dengan cepat. Jendela lain muncul pada layar monitor:
AKSES DITERIMA
Hayato bersiul kecil menyaksikan kemampuan istrinya. Namun hanya satu file yang muncul, dan Rin membukanya. Keduanya mengangkat alis melihat barisan teks di depan mereka.
"Catatan kriminal, dituntut karena kekerasan?" gumam wanita itu. "Menarik."
Ia membukanya sekali lagi, dan membaca isinya. "Dituntut atas kekerasan fisik di tempat umum, dua bulan kurungan rumah. Korban bernama _, diserang di kepala dan dada. Motif tidak diketahui." Rin membaca lagi tiga kasus yang mirip dengan yang pertama. Kernyitan Hayato pula makin dalam mendengarnya.
"Ini bahkan tidak bisa disebut berita acara," ucap Hayato begitu Rin selesai. "Mana keterangan waktu kejadian? Tanggal dia disidang? Tanggal vonis hukuman dijatuhkan? Nama korbannya? Pasal-pasal yang dilanggar? Harusnya deskripsi wanita itu sendiri juga ada di sini, biodata pribadinya maksudku."
"Juga," Rin membuka data lain di komputer. "Ibuki tampaknya telah berpindah tempat tinggal empat kali, pindah ke tempat yang lebih jauh dari yang pertama. Apa kau pikir ada hubungan antara ini dengan catatan kriminalnya?"
Hayato mengerang dan menutup matanya. "Aku jadi merasa seolah kita ini detektif, bukannya pengacara."
"Separuh dari catatan kasus atas namanya masih tersembunyi, atau mungkin telah dihapus. Akan kuminta dua asisten terbaikku untuk menerobos lebih jauh data ini." Rin menulis sesuatu di atas kertas milik Hayato, menyobeknya, lalu melipat dan memasukkannya ke dalam saku. "Aku pergi dulu. Ada kasus resmi yang harus kutangani. Kalau kau bertemu Seijuro lagi, katakan padanya bahwa aku menunggunya." Seringai sadis muncul di bibirnya sebelum ia berdiri dan melenggang pergi.
Pria berambut merah itu menghela napas untuk kesekian kalinya dan bersandar pada kursi, berputar hingga berhadapan dengan jendela kaca besar yang menghadap lalu lintas padat Kyoto. "Nah, Kuroko Ibuki," gumamnya keras. "Ada dua pengacara terbaik Jepang yang siap menghadapimu. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
.:xxx:.
"Maaf aku terlambat!" Kise melambaikan tangannya hingga menarik perhatian dua orang pemain basket. Satu dari mereka menggenggam pensil raksasa berwarna merah muda, dan satunya lagi mendengus dengan kedua tangan tersembunyi di dalam saku jaket. Keduanya sama-sama bermuka masam.
"Oi, Kise," Aomine memprotes. "Kau yang mengajak bertemu, bagaimana bisa kau sendiri yang terlambat?"
"Merepotkan sekali," Midorima menggerutu seraya mengeratkan genggamannya pada benda keberuntungannya hari ini. "Aku sudah mati-matian meyakinkan ibuku untuk mengizinkanku keluar hari ini."
"Pfft, kau masih minta izin pada ibumu?" Aomine terbahak. Midorima tak mengacuhkannya.
Kise menggaruk kepalanya. "M-maaf! Orang-orang di studio tidak membiarkanku pergi sampai pemotretan selesai." Kenyataannya, Kise kabur dari studionya agar bisa bertemu teman-temannya tepat waktu, walau fans dan para fotografer mengejarnya hingga stasiun. Bahkan wajah atraktifnya kentara sekali merona gelap setelah lari begitu lama, dan napasnya juga masih terengah-engah. Aomine dengan tatapan lapar mengamati tubuh Kise yang masih dibalut outfit modeling. Kise, menyadari arah tatapan Aomine, merona lebih parah lagi dan memekik. "H-hentikan, Aominecchi!"
"Eh? Aku tidak melakukan apa-apa," balas Aomine emosi. Sebuah tangan berkulit gelap mendarat di atas kepala si pirang, dan Aomine mendekatkan wajahnya. Kise berjengit. "Jadi?" Aomine merengut. "Kenapa kau memanggil kami kemari?" Kise sampai bisa mencium wangi pemuda berambut biru gelap itu dari jarak sedekat ini.
"Kau memanggil kami kemari karena Kuroko, apa aku benar?" MIdorima bertanya, jari tengahnya membenarkan posisi kacamatanya. Tatapan tajam dipantulkan oleh lensanya.
Kartu as Kaijo itu berkelit lepas dari cengkeraman Aomine (yang ekspresinya makin muram karena kecewa), dan menjawab pertanyaan Midorima. "Yep! Aku ingin mengunjungi Kurokocchi. Tidak adil, kan, dia harus kembali ke neraka itu, apalagi ketika Akashicchi sudah kembali nun jauh ke Kyoto. Kalian juga tinggal di sekitar Tokyo, kan?"
Aomine mendengus. Midorima melengos. Kise menyeringai. "Bagus! Ayo pergi!"
"Tunggu." Suara kalem Midorima menghentikkan langkah kelewat semangat si pirang. "Memangnya kita tahu alamat rumah Kuroko?"
Semua kecuali Midorima terhenyak. "A-Ah," Kise menyahut. "Kita bisa menelepon ayahnya…."
"Memang kau tahu nomornya?"
Lagi, hasilnya negatif. Midorima menghela napas. "Seperti biasa, rencanamu ceroboh sekali. Baiklah, untuk bisa ke rumahnya kita bisa—"
"Sepertinya aku tak bisa membiarkanmu melakukan itu."
Ketiga remaja itu berbalik hingga mereka berhadapan dengan wanita pemilik suara melengking itu. Rambut panjang, biru muda, pucat, tidak bisa dibilang cantik; semuanya mengenali wanita itu.
"Kenapa orang ini muncul lagi sih," Aomine mengerang, sengsara. "Serius deh, Bu, kau menguntit kami, ya? Pergi sana."
Mata Ibuki berkedut, dan ia menggertakkan gigi. "Beraninya kau bicara padaku seperti itu, dasar bocah! Apa kau tahu kemampuanku?"
"Mampu menjadi gila," gerutunya pelan. Midorima terbatuk-batuk untuk menyembunyikan tawanya. Kise bersembunyi di balik pacarnya, ketakutan.
Wanita dengan rambut sewarna biru langit itu berusaha menahan diri. Ini di depan umum. Aku tidak boleh menyerang mereka, Ibuki memperingatkan dirinya sendiri. "Aku di sini untuk mendapatkan beberapa jawaban, lalu aku akan pergi," balasnya singkat. "Jika kalian semua bisa bekerja sama, tidak akan ada yang terluka. " Ia melirik ke arah selembar foto yang ia pegang, lalu pada remaja-remaja di depannya lagi. "Midorima Shintaro, Aomine Daiki, Kise Ryota."
Aomine menggeram. Midorima mengubah posisi kacamatanya. Kise memekik.
"Jika kalian mau menjawab semua pertanyaanku, akan kupastikan keluarga kalian akan mendapat promosi di status sosial mereka."
Kise merengut mendengarnya. "Tapi ibuku bisa meneriakiku kalau aku melakukan yang macam-macam, apalagi yang melanggar hukum. Aku tidak mau dimarahi," ucapnya pelan.
"Yah, ibuku juga akan marah. Bisa-bisa rumahku jadi neraka." Aomine gemetaran. Satu-satunya orang yang bisa membuat takut remaja berkulit gelap ini memang hanya ibunya sendiri.
"Ayah tentunya akan memarahiku," Midorima menambahkan. "Ibu mungkin juga akan membuang semua benda keberuntunganku. Dan aku tidak mau itu terjadi."
Wanita itu membelalak marah. "Aku hanya mau jawaban dari pertanyaanku! Aku tidak bilang apa-apa soal 'melanggar hukum'!"
"Dan mengenai apa pertanyaanmu itu, Kuroko Ibuki?" Yang tertinggi dari keempatnya bertanya tegas. Pensil merah jambunya ia genggam erat.
"Akashi Seijuro," jawab Ibuki spontan. "Aku ingin tahu apa urusannya denganku, apa rencananya, dan mengapa kalian semua selalu mengganggu putraku."
Aomine mengangkat sebelah alis, cukup tinggi dari satunya. "Hah? Bukannya—"
"Kalau," Kise melangkah keluar dari balik punggung Aomine. Suaranya tegang. "Kalau kita menjawab semua itu, maukah kau berhenti menyakiti Kurokocchi?"
Menyakiti? Ibuki berkedip bingung. Ia benar-benar tidak tahu maksud si pirang. "Tetsuya, maksudmu? Aku tidak pernah menyakitinya; Aku hanya mendisiplinkannya saja. Ia butuh dididik seperti itu."
Tiba-tiba saja, Midorima dan Kise mencengkeram tangan Aomine, yang berteriak kencang penuh amarah dan menerjang wanita di depannya. Daya ledak dari kekuatan Aomine benar-benar brutal, bahkan Midorima dan Kise kesulitan menghentikannya menyerang Ibuki. "Apa melukai tiap senti kulitnya disebut disiplin?" Aomine meneriakinya. "Melemparnya hingga jatuh dari lantai dua? Mematahkan tulang-tulangnya? Nyaris membunuhnya? Hingga ia kehabisan darah? Apa itu yang kau sebut disiplin?"
"Aominecchi!" Kise memohon. "Tenanglah!"
"Kau malah akan memberinya alasan untuk menuntut kita pada polisi," Midorima berbisik sengit. "Tenangkan dirimu."
Ibuki mengamati semua itu, ia mengamati cara keduanya berusaha menenangkan Aomine yang dimabuk kemarahan. Aomine tersadar begitu melihat seringai penuh ejekan merekah di wajah Ibuki. Ia menarik kedua tangannya dari cengkeraman Midorima dan Kise dengan gerutuan, frustasi karena telah memperlihatkan kelemahannya di depan wanita itu. Tetapi ia langsung mengusap puncak kepala Kise, sebagai ganti 'terima kasih'. Kise mengangguk dan bersandar pada pundak si pemain Touou.
"Kami tidak akan menjawabnya," ucap Midorima. "Kalau kau mau aku jujur, Akashi selalu menyembunyikan informasi-informasi penting dari kami karena ini. Tetapi," ia melakukan gestur khasnya, membetulkan posisi kacamata dengan jari tengah, "Urusan kami dengan kau adalah Kuroko Tetsuya."
"Sudah kupikir begitu," Ibuki tampak puas. "Tapi anakku sudah bahagia di rumahnya sendiri. Dan kalian tak perlu mengusik kehidupan kami."
"Itu terserah Akashi," Aomine membantah. "Ayo, Kise, Midorima. Orang ini sudah merusak rencana kita."
"Tidak akan kubiarkan kau dekat-dekat dengannya!" wanita itu berteriak begitu mereka berbalik. "Kalian tidak akan bisa melihatnya lagi!"
Midorima mendesah. "Kita lihat saja."
Ibuki mengerang keras sekali, frustasi. "Kenapa? Kenapa kalian begitu setia pada Akashi Seijuro?" Sekarang ketiganya berbalik lagi, mata melebar melihat wanita gila itu hilang kendali. "Aku ini bisa menghancurkan hidup kalian!" ia tiba-tiba berseru. Orang-orang berhenti berjalan, menatap keempatnya ketakutan. Para orang tua menyembunyikan anak-anak mereka. "Akulah wanita paling berkuasa di Jepang! Negara ini ada dalam genggamanku! Keluarga Akashi saja bisa kuhancurkan dengan mudah, dan kau tidak peduli?"
Ibuki jatuh berlutut, pandangannya terpaku pada kedua telapak tangannya. "Setiap waktu, bocah itu selalu pulih. Aku telah bersusah payah menghukumnya; menghancurkannya, tapi tidak pernah berhasil. Seseorang selalu berhasil memulihkannya. Bocah itu, mengejekku setiap hari dengan muka datarnya. Dialah satu-satunya yang punya hubungan darah denganku dan belum jatuh tunduk padaku," Ibuki mengepalkan tangannya.
"Semua ini salahmu!" ia menjerit histeris, telunjuknya tepat mengarah pada tiga pemain basket yang membeku. "Salah kalian! Berhenti mengganggu keluargaku! Biarkan bocah itu hancur!" Pekikannya membuat lebih banyak orang berhenti, dan beberapa mulai memanggil polisi.
Aomine adalah yang pertama bergerak. Ia meraih pundak Midorima dengan satu tangan, menggandeng Kise dengan satunya lagi, dan menarik keduanya. Midorima dan Kise melepaskan pandangan mereka dari Ibuki, dan mereka berjalan menjauh dari wanita yang masih histeris itu.
"Memiliki ibu seperti itu," Kise berbisik lelah. Ia bersandar pada Aomine. "Kasihan sekali, Kurokocchi."
.:xxx:.
Disclaimer to its rightful owner:
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Original Story:
Betrayal In Its Simplest Form © Virelei
OCs © Virelei
(Link onto the original story can be found on my profile, favorite story section.)
Translation:
Betrayal In Its Simplest Form by Rheyna Rosevelt
I own nothing but this translation
(Saya tak mengakui hak milik atas cerita ini kecuali terjemahannya)
Thus, I don't make any commercial profit within this story
(Juga, saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas cerita ini)
Translation is under permission of its original author.
(Penerjemahan atas fic ini telah mendapatkan ijin dari author aslinya)
Warning:
This story contains: child/underage abuse, violence, (slight) blood, etc.
.
.
[Chapter 13]
.
.:xxx:.
"Mm, Ayah?" Kagami menggumam penuh kantuk pada ponselnya, lalu berguling di ranjang. Tidak ada latihan sepulang sekolah hari ini, jadi sepanjang siang ia bisa bermalas-malasan. Rencananya hari ini ia ingin tidur, makan, lalu tidur lagi, tapi sepertinya takdir tidak mengizinkannya istirahat dengan tenang.
"Taiga," ayahnya menyapa, sama-sama mengantuk.
"Bukannya di sana jam dua malam, orang tua?" Kagami mendesah. Ia menurunkan kakinya dari ranjang dan meregangkan otot dengan erangan keras. Kagami tahu rambutnya sangat berantakan, tapi ia tak peduli.
"Memang siapa yang memintaku mencari informasi tentang Kuroko Ibuki?" balas si ayah, suaranya sedikit lebih bernyawa. "Dan mendengar bagaimana kau menyebutku barusan, sepertinya kau tidak tertarik dengan yang kudapatkan."
Itu cukup untuk menarik perhatian Kagami. "Tidak, tidak, tidak, tidak!" ia berteriak panik. "Sialan, tunggu sebentar dasar orang tu—A-Ayah! … Kumohon!"
Ayah Kagami mendengus. "Tidak ada gunanya menambahkan 'kumohon' kalau kau sudah bicara kasar seperti itu." Pria itu menguap dan membalik beberapa kertas, Kagami bisa mendengarnya. "Oh, dan ngomong-ngomong yang kudapatkan tidak banyak."
"Tapi paling tidak kau mendapatkan sesuatu, kan?"
"Bisa dibilang begitu," ayahnya menggerutu. "Aku tidak bisa menemukan banyak hal tentang Kuroko Ibuki, mungkin karena data-datanya dikunci di cabang Jepang. Tapi walau dikunci, bukan berarti rumor tentang dia ikut terkunci. Aku berhasil mendapatkan sesuatu setelah bicara dengan beberapa orang di cabang." Ia berhenti sejenak untuk menggerutu, "Biaya panggilan jarak jauh.… Bahasa Jepangku juga sudah berkarat, jadi prosesnya butuh waktu lama."
"Apa yang kau temukan?" Kagami tak bisa menahan diri.
"Jangan terlalu semangat. Yang kudapatkan tidak terlalu penting, hanya bahwa Kuroko Ibuki tampaknya punya latar belakang dunia hiburan."
Si pemain as Seirin mengangkat kedua alis eksentriknya. "Hah? Dunia hiburan?"
"Ibu dan ayahnya dulunya adalah artis terkenal," jelasnya. "Sangat terkenal, tapi Ibuki tampaknya menghapus nama mereka. Aku tidak bisa memberitahumu nama orang tuanya karena ada banyak versi yang kutahu. Dan ini belum dibuktikan. Juga, aku diberitahu kalau ibu Kuroko Ibuki adalah seorang antara tukang sulap atau penyanyi atau pembawa acara sebuah show merajut sialan," ayah Kagami terdengar sangat frustasi. "Dugaan profesi ayahnya malah lebih buruk lagi. Yang bisa kupastikan adalah keduanya dari dunia hiburan."
Kagami tidak tahu bagaimana meresponnya. Lidah dan bibirnya bergerak-gerak selama semenit, sebelum akhirnya berkata jujur, "Ayah … bagaimana ini bisa membantuku?"
"Mana kutahu?" ayahnya menjawab cuek. Mood Ayah kelihatannya makin buruk saja. Sebaiknya aku berhenti bicara. "Kau menyuruhku untuk mencari informasi sekecil apapun untuk membantu temanmu. Nah, ini hasilnya."
Ia mengatupkan bibir. "Setiap petunjuk akan membantu, sepertinya," ia menghela napas. "Terima kasih, Ayah."
"Kau harus berkunjung ke Amerika sebagai bayarannya."
"Aku akan ke sana liburan mendatang." Keduanya menghentikan panggilan.
Kagami melempar ponselnya ke seberang ruangan. "Orang tuanya pernah masuk dunia hiburan…" Kagami mengerang keras dan mengacak-acak rambutnya. "Apa maksudnya itu?"
.:xxx:.
"Catatan yang diberikan Ayah sedikit sekali."
Akashi merengut pada catatan yang diberikan ayahnya; nama, nomor telepon, alamat. "Ini berarti tidak banyak orang yang tidak berada di bawah pengaruh Ibuki dan bisa dipercaya. Aku akan menghubungi tiga nama pertama."
Ia berada di dalam kompleksnya di Kyoto. Lebih luas dari apartemennya di Tokyo, dan lebih mengintimidasi, tentunya. Perabotan serba merah menghiasi seluruh penjuru apartemen, serasi dengan dinding putih halus dan lantai berpola kayu. Ada lima kamar dibangun di dalam; kamar pribadinya, dua kamar tamu, satu kamar misterius, dan sebah ruang kerja. Begitu masuk, Akashi akan disambut oleh ruang keluarganya, diiringi dapur di sebelah kanan.
Tapi bukan itu yang membuat kompleks apartemen itu mengintimidasi. Melainkan kondisi apartemen yang amat bersih dan terlihat hampir normal yang membuatnya mengerikan. Mengerikan melihat sepasang gunting kebun digantung dekat pintu beranda yang berisi susunan rapi tanaman hidup (yang seluruhnya adalah tanaman berukuran kecil, jadi harusnya Akashi tidak butuh gunting kebun, bukan?) atau keberadaan pisau margarin yang duduk manis di samping keranjang buah, ditemani gunting hitam di sampingnya.
Di depan, trofi pertandingan basket dan shogi berjajar rapi di dalam lemari kaca, membuat ngeri siapapun yang hendak menantang seorang Akashi Seijuro dalam basket ataupun shogi.
Akashi duduk santai di salah satu sofa merah, tangannya terulur untuk meraih gagang, dan memanggil nomor pertama yang dituliskan ayahnya. Suara dering terdengar selama beberapa menit, hingga akhirnya ia mendapati suara otomatis memintanya untuk meninggalkan pesan. Ia meletakkan gagangnya, memanggil lagi, dan menunggu.
Kali ini, orang yang ia tuju menjawab. "Halo? Dengan siapa aku bicara?"
"Akashi Seijuro," pemuda bersurai merah itu tanpa ragu menyebutkan namanya. "Kau Tsubaki Kaname." Sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.
"… Putra Akashi Hayato, benar?"
"Benar."
"Ah," suara Tsubaki Kaname berubah gugup. "Ada yang bisa kubantu, Akashi-san?"
"Hm," Akashi mengetukkan jemarinya pada lengan sofa. "Apa kau tahu seseorang bernama Kuroko Ibuki?"
Nama itu membuat terkejut Kaname. "Ya, aku tahu pria itu. Dulu aku bekerja di perusahaan miliknya cukup lama, namun aku berhenti karena dia selalu mempekerjakan karyawan-karyawan baru yang tidak tahu apa-apa," Tsubaki Kaname menambahkan dengan pahit.
Karyawan yang tidak tahu apa-apa, Akashi mencatatnya. "Aku menyesal telah membuatmu mengingat kembali masa-masa kelam itu," Tidak. Ia tidak menyesal. "Tetapi aku membutuhkan beberapa informasi mengenai … pria itu. Apakah kau tahu sesuatu mengenainya yang tidak biasa? Tidak perlu sesuatu yang sangat mencolok, apapun akan membantu."
"Bila kau tidak keberatan aku bertanya, membantu dalam apa? Mengapa kau tiba-tiba meneleponku dan menanyakan tentang Kuroko Ibuki?"
"Aku keberatan," potong Akashi dingin.
Hening di seberang sana selama beberapa detik, hanya suara napas Kaname yang terdengar, makin cepat. "Aku tidak tahu apapun," akhirnya ia berucap. "Bosku yang sebenarnya tidak pernah muncul di depan umum, dan kami tidak pernah melihat wajahnya. Kami hanya tahu namanya dan popularitasnya…. Tetapi aku pernah melihat sesuatu di headline berita beberapa tahun lalu, ketika aku masih bekerja di sana."
Si rambut merah memposisikan penanya, siap. "Dan apakah itu?"
"Hanya berita kecil di internet. Bahwa ternyata Kuroko Ibuki telah menjalani sejumlah operasi selama beberapa tahun."
"Operasi?"
"Operasi plastik, tepatnya."
Alis Akashi naik, namun ia menuliskan informasi itu dengan cepat. "Kapan?"
"Aku tidak tahu tepatnya, tapi aku melihat berita ini sekitar … antara 15 sampai 16 tahun yang lalu?"
Alisnya naik lagi. Memang berapa usia Tsubaki Kaname ini? "Informasi ini telah dicatat. Kurasa aku tidak perlu memberitahumu untuk tutup mulut mengenai hal ini?"
"Tidak. Hayato-san adalah teman baikku."
"Hm." Akashi memutus panggilan.
Pemuda itu bersandar pada sofanya dan menatap hampa layar televisi di depannya. "Antara lima belas sampai enam belas tahun lalu, tepat ketika Tetsuya dilahirkan. Dan wartawan sudah menulis beritanya, itu berarti ia sudah berada di Jepang, dan baru memulai karirnya untuk menjadi wanita paling berpengaruh." Ia mengetukkan kakinya tidak sabar. "Berdasarkan cara Tsubaki Kaname yang menyebutnya seorang pria, menandakan berita yang Tsubaki baca juga menyebutnya sebagai laki-laki." Akashi melirik catatannya dan mengernyit. "Tetapi bila para dokter yang melakukan operasi plastik itu melihat beritanya, tidakkah mereka merasa keheranan?" Ia tiba-tiba menyipitkan matanya begitu satu di antara jutaan potong puzzle itu bersambung. "Kecuali … operasinya dilakukan di negara lain."
Akashi meraih ponselnya lagi dan memanggil nomor kedua. Percakapannya kemudian berlangsung mirip dengan Tsubaki Kaname.
"Ya, aku bisa memastikan kalau dia melakukan operasi plastik," wanita di seberang sana bicara cepat. "Ada berita yang memuatnya, dulu sekali sebelum kau dilahirkan. Aku juga tahu itu dari temanku yang masih bekerja di perusahaannya, dan dia memberitahuku kalau bosnya, Kuroko Ibuki, melakukan operasi plastik. Walau temanku tidak pernah tahu rupa wanita itu. Ah, ya. Jadi, kau putra Akashi Hayato, kan? Kau tahu, aku bekerja di firma hukum yang tergolong kecil, dan kupikir kau bisa mencoba meyakin—"
Akashi menekan tombol 'end'.
Nama berikutnya yang tertera di daftar punya gambar bintang kecil di sampingnya. Akashi mengamati bintang yang dibuat ayahnya, mencoba memahami maksudnya. Apakah ada sesuatu yang berbeda dengan orang ini? Apakah orang ini paling tidak bisa dipercaya? Akankah dia menuruti perintahku, atau…. Akashi mengangkat kedua alisnya. Ah, aku tahu.
"Halo?" suara monoton menjawab.
"Takumi," Akashi menyapa.
"Tanpa sufiks? Siapa ini?"
Ia menghela napas, bosan dengan perkenalan. "Akashi Seijuro."
"Begitu." Tidak seperti yang lain, Takumi tidak terkejut ataupun gugup. Suaranya tetap sama, tanpa ekspresi. "Apa yang bisa kubantu?"
"Apa kau tahu tentang … Suzuki Akihiko?" Akashi mencoba nama itu.
Dan Akashi benar. Pria itu menjawab lagi tanpa keraguan. "Ya, aku tahu dia. Siapa yang tidak kenal, pria itu punya tiga perusahan terkenal."
Pria. Orang kedua menyebutnya wanita, tetapi yang pertama dan ketiga menyebutnya pria. "Apa kau tahu sesuatu yang tidak biasa mengenai Akihiko?"
"Tidak."
Point guard Rakuzan itu melotot pada nama Takumi di atas kertas. Lalu kenapa Ayah memberi nama orang yang tidak berguna? Sekejap, sebelum sesuatu di dalam benaknya menyala.
"Takumi, aku tahu ini terdengar aneh, tapi apa spesialisasimu?"
"… Dulu aku spesialis di bidang psikologi. Dulu aku seorang pencari data."
Check mate.
.:xxx:.
Akashi meletakkan ponsel keduanya dan menghela napas. Bicara rupanya pekerjaan yang melelahkan. Akhir-akhir ini ia terlu banyak menelepon, tidak seperti biasanya. Berbincang dengan orang-orang yang menganggapnya rendah sampai mereka menyadari bahwa dia adalah 'putranya Akashi Hayato' membuatnya tersinggung tiada akhir.
Sepertinya aku harus—
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, ponsel pribadi. "Aku sudah muak bicara hari ini. Bila ini tidak berguna, akan kupastikan beban latihan mereka dikali tiga," gumam Akashi, mengeluarkan ponselnya dari saku, mengecek caller ID, dan menjawab. "Ryota."
"Akashicchi," suara Kise tidak melengking seperti biasanya. Akashi langsung tahu ada yang salah.
"Ryota, apa yang terjadi?"
"Ahhh, bagaimana ya," si pirang tertawa gugup, kentara sekali ia ragu memberitahu. "Aku tahu kau akan tahu, jadi kupikir—"
"Idiot, kau kelamaan. Berikan padaku." Suara kasar mengganggu Kise. Berikutnya suara protes dan perkelaian kecil yang ia dengar. Akashi 'dengan sabar' menunggu hingga mereka selesai. Tak lama, suara Aomine mengambil alih. "Akashi, kau di situ?"
"Daiki, aku di sini."
Si power forward mengerang dan berseru pada seseorang. "Oi, Midorima! Tahan Kise! … Hmph, oke, aku tidak akan basa-basi lagi. Kami bertemu dengan Kuroko Gila hari ini.
Akashi tidak membiarkan keterkejutan tampak di wajahnya. Apakah dia menargetkan semua anggota Generation of Miracle? "Oh? Apakah terjadi sesuatu yang besar? Apakah dia meminta maaf, atau mengancam kalian?" Ia membiarkan pertanyaan 'Apakah dia melukai kalian?' menggantung di udara.
"Wanita itu tidak merasa bersalah. Ia benar-benar berpikir bahwa yang ia lakukan adalah benar. Dan, yah, tentu saja dia mengancam kami dengan status sosialnya atau apalah itu. Dan kemudian … tiba-tiba saja dia hilang kendali."
"Hilang kendali?"
"Aku tidak tahu. Kumat? Seperti orang gila. Tiba-tiba saja dia jatuh di tengah trotoar, menangis tersedu-sedu dan menjerit bahwa semua itu adalah salah kami Tetsu selalu 'pulih'. Lalu dia mulai meracau bagaimana dia ingin menghancurkan Tetsu, tapi seseorang selalu 'memulihkannya'. Sungguh, itu kata-kata yang dia ucapkan." Aomine menggerutu, dan Akashi bisa mendengar pemain Touou itu memukul sesuatu. "Semua ini membuatku kesal!"
"Ia datang menghampiri kami dengan tujuan mengumpulkan informasi," suara Midorima bergabung dari belakang, "mengenai rencanamu."
"Apa kalian menjawab pertanyaannya?" Akashi bertanya sambil menuliskannya di secarik kertas lain.
"Tidak."
"Bagus," pujinya, puas. "Apakah dia menyerang kalian?"
Butuh beberapa waktu bagi Aomine untuk menjawab. "Tidak— secara fisik. Tapi ucapan-ucapannya membuat Kise lemas."
"Begitu."
"Berikan aku ponselnya, Aominecchi!" Aomine pasti menurut, karena suara Kise kembali mendominasi. "Akashicchi! Selain ibunya Kurokocchi, Kagamicchi menemuiku beberapa hari lalu."
Sepotong informasi ini membuatnya lebih tertarik. "Oh? Kagami Taiga dari Seirin?"
"Ya, dia. Akashicchi … dia mulai penasaran. Benar-benar penasaran tentang Kurokocchi."
"Benarkah? Bagaimana?"
"Kupikir—dia mulai mencari informasi tentang Ibuki. Dia mungkin akan mendapat informasi yang sama dengan kita, suatu waktu nanti, bila bukan sekarang."
Si surai merah menyeringai dan menuliskan nama Kagami. Hm, sepertinya tidak mungkin menyembunyikan hal ini darinya, tak peduli betapa bodoh penampilannya. "Baiklah," ucapnya. "Jika kita tidak bisa menyembunyikan kenyataan darinya, maka mungkin ia bisa berguna untukku."
.:xxx:.
Kuroko menerima tas dan sejumlah map dari tangan wali kelasnya. Semua itu adalah tugas dan proyek yang harus ia lakukan untuk mengisi nilai sebagai ganti absennya dari sekolah. Mungkin sebaiknya sepanjang hari ini ia habiskan dengan mengerjakannya, sehingga besok ia sudah bisa mengumpulkan semua tanggungan. Ditambah lagi, ia sudah terlalu lama meninggalkan latihan, dan teman-teman setimnya pasti akan makin curiga bila ia tak kunjung bergabung.
"Semoga cepat sembuh," gurunya berkata.
"Terima kasih." Kuroko membungkuk dan meninggalkan sekolahnya. Ia sengaja menjauhi ruang gym.
Perjalanan pulang begitu singkat, tidak ada kemacetan. Tentu saja, jam itu masih jam aktif bekerja. Kuroko berjalan dengan hati-hati, memastikan ia tidak menabrak seseorang. Begitu sampai di rumah, pemuda itu berusaha menyembunyikan tatihannya dan langsung menuju jalan setapak. Ia meninggalkan pintu rumahnya tidak terkunci sebelum berangkat tadi, sehingga sekarang ia bisa dengan mudah berjingkat masuk. Kuroko sudah bersiap-siap lari ke kamarnya seperti yang ayahnya sarankan ketika sebuah pekikan "Kau bocah sialan!" dan tinju keras melayang ke hidungnya.
Kuroko terlempar menabrak pintu, kepalanya menghantam kayu itu terlebih dahulu. Pandangannya berkunang-kunang begitu ia merosot ke lantai. Rasa sakit dari hidungnya membuatnya mengerang kecil dari bibir yang tak biasanya mengeluarkan suara. Tetesan merah mengotori lantai dan seragamnya. Kuroko merasa tulang hidungnya patah, pasti, karena tadi ia mendengar suara derak.
Kau harus tetap bangkit lagi, tak peduli separah apapun lukamu. Titik terlemahmu adalah punggung.
Suara Akashi bergema dalam benaknya. Sebuah semangat baru, membuatnya mampu bangkit kembali dengan satu tangan menungkup hidungnya. Kemeja putih yang ia kenakan dikotori noda darah. Kuroko bersandar pada pintu dan menatap ibunya dalam diam, satu-satunya suara hanya berasal dari napas berat lewat mulutnya.
Ibunya berdiri beberapa langkah di depannya, diliputi kemarahan. Tangannya terkepal, yang kanan diwarnai sedikit bercak darah. Bibir yang telah dipulas riasan itu menyeringai. "Anak sialan, tahukah kau kalau kau sudah mempermalukanku di depan orang banyak hari ini?" Ibuki menghampirinya dengan dua langkah cepat. Kerah baju Tetsuya dicengkeram sebelum ia bisa berbuat apa-apa. "Tiga bocah melawanku di depan semua orang, hari ini. Tiga dan semua itu karena kau!" Ia memukulnya lagi, kali ini mengenai mata kanannya. Kuroko tidak mengeluarkan suara sedikitpun walau ia terjatuh lagi.
Sengatan pada hidung dan matanya tidak tertahankan. Ia sudah mulai merasa pusing.
Kau harus bangkit.
Tanpa keraguan, Kuroko menumpukan tangan pada kenop dan bangkit lagi, mata kanan tertutup dan jari menekan pangkal hidung. Ia tak bisa berbuat banyak lagi, kaki Ibuki terlanjur menendang perutnya.
Napas Kuroko tertahan dan ia jatuh berlutut, terbatuk-batuk dan mengerang kesakitan. Rasanya seperti dicekik. Mungkin ia memang dicekik, namun Kuroko sudah tak tahu apa-apa lagi. "Kenapa kau tidak diam saja?" ibunya menjerit dan menendang perutnya lagi. Kali ini, Kuroko bereaksi. Latihan dengan Akashi bukan tanpa hasil. Ia menangkap kaki wanita itu dengan satu tangan. Ibuki melotot, ia mengayunkan kakinya dengan keras hingga pegangan Tetsuya terlepas, lalu melayangkan tendangan lagi dengan kaki satunya. "Oh, sekarang kau sudah berani melawan? Hancur saja kau! Tidak berguna! Tidak berharga! Kau bukan anakku! Anakku tidak lemah, tidak pernah mengejekku, dan dia patuh! Dia tidak akan mempermalukanku di depan umum!" Satu pukulan lagi ia terima di dadanya.
Kuroko meludahkan darah dan mencoba menarik napas. Tubuhnya serasa terbakar lagi. Dari hidung ke mata hingga dada, rasa sakit itu sudah tidak asing, tapi ia masih belum terbiasa. Bagaimana bisa, setelah semua yang ia lalui, tubuhnya masih belum juga mati rasa?
Seseorang selalu menyembuhkanmu!
Remaja itu menangkap kaki yang melayang ke arahnya, dengan seluruh sisa tenaganya, lalu menariknya. Ibuki, terkejut dengan perlawanan itu, memekik begitu jatuh di atas punggungnya. Kuroko sendiri sedikit terkejut melihat trik kecil seperti itu bisa berhasil, dan spontan mengupayakan untuk kabur sebelum ibunya bisa bangkit. Namun sayang, gerakannya terlalu lambat, dan ia baru saja berdiri di atas dua kakinya ketika kaki Ibuki menghantam kepalanya, membuatnya menabrak dinding lagi.
"Beraninya kau?" desis wanita itu. "Beraninya kau?" Alas sepatu itu kasar, menekan pipi Tetsuya pada dinding di belakangnya. "Hanya karena kau baru belajar gerakan baru bukan berarti kau sudah bisa mengalahkanku, dasar benda tak berguna!" Ia menambah tekanan pada kakinya, dan Kuroko meringis merasakan tengkoraknya tergencet.
Tiba-tiba, tekanan itu menghilang, dan darah dengan menyakitkan kembali mengalir ke kepalanya. Kuroko tahu tanpa perlu melihat mimisannya masih belum berhenti, dan ia harus sesegera mungkin menahannya. Ia juga tahu ia harus keluar dari tempat ini secepat mungkin, sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.
Pintu paling dekat ada di depanku, pintu keluar.
Walaupun itu tidak mungkin. Ibuki dalam kondisi waspada, dan tidak mungkin ada kesempatan untuk berdiri, lari ke pintu, dan kabur sebelum wanita itu menangkapnya.
Kuroko perlahan membuka satu matanya, heran karena ibunya tidak melakukan apa-apa lagi. Ia kemudian tahu penyebabnya, sosok ayahnya berdiri di salah satu anak tangga yang menghubungkan antar lantai rumah mereka. Pucat, takut, tetapi teguh. Ibuki melotot pada suaminya dan menantang, "Di sini kau rupanya. Apa kau akan menghentikanku? Apa kau akan menyuruhku berhenti, Haru?"
Ayahnya menelan ludah, dan Kuroko memohon padanya dengan sebuah tatapan tanpa suara. Haru bertemu tatapan putranya, namun secepat mungkin memutus hubungan mata mereka. Dan kemudian, pria itu berkata,
"Te—tentu saja tidak, Ibuki," ucapnya, sedikit kesulitan. "L-lampiaskan saja kemarahanmu pada … nya."
"Oh?" Raut wajah Ibuki berubah bentuk menjadi senyum tulus. "Akhirnya kau sadar juga, Haru. Aku senang sekali."
Tidak … Tapi Ayah … Ayah….
"Kau dengar ayahmu, Tetsu-kun?" ibunya berujar, kali ini dengan nada yang lebih riang. "Bahkan dia setuju dengan metodeku."
"T-tidak," bisik Kuroko.
Tamparan lain mengenai pipinya yang membengkak. "Jangan bicara dengan nada monoton seperti itu!" desis Ibuki. "Aku tahu kau mengejekku!"
Siksaannya tidak bertahan lama. Pertemuannya dengan Haru telah mencerahkan mood Ibuki. Kuroko hanya mendapat beberapa tendangan, sejumlah hinaan, sedikit kesakitan, lalu semuanya berhenti. Ibuki kemudian meludah ketika ia mulai bosan, dan beranjak dari rumah dengan decakan.
Bukan perlakuan ibunya yang membuat Kuroko membeku, mati rasa. Melainkan kenyataan bahwa di antara semua itu, ia menyaksikan ayahnya mengeluarkan kamera dan memotret mereka.
Begitu Ibuki pergi, Haru seketika menjatuhkan kameranya dan berlari menyongsong sang putra. Kuroko terbaring di atas lantai, genangan kecil berwarna merah dekat pelipisnya, dan kulit di sekujur wajahnya membiru oleh serangan bertubi-tubi. "Tetsuya, jangan bergerak. Aya—"
Kuroko dengan lembut menampik tangan pria itu. "Kumohon jangan sentuh aku," ujarnya pelan.
Kalimat itu membuat Haru membeku. Matanya melebar, bibirnya terbuka dan terkatup sebelum sebaris katapun bisa keluar. "Tidak, Tetsuya, kau tidak mengerti! Akashi belum menjelaskan—"
Kuroko tak merasa perlu mendengarkan. Ia berusaha begitu keras untuk bangkit berdiri tanpa bantuan. Tangannya mendorong beban badan dari lantai, dan ia tak menghiraukan sinyal sakit dari otaknya. Bagai keajaiban, Kuroko berhasil. Tetapi semua di sekitarnya berputar, buram, dan sesuatu seolah menariknya untuk berbaring kembali, tapi semua itu bukan masalah. Tujuannya sekarang adalah kamar mandi.
Ia mengambil satu langkah, lalu terhuyung oleh rasa sakit. Haru menangkap tangan putranya untuk menyeimbangkannya. "Kumohon, Tetsuya, dengarkan penjelasan Ayah dulu."
"Kumohon jangan sentuh aku," Kuroko berbisik lagi. Manik azuranya kosong, tanpa nyawa. Ia melepaskan diri dari tangan sang ayah, dan mencoba berjalan lagi. Satu langkah, dua langkah, tiga—ia menjatuhkan diri ke arah dinding untuk mencegah tubuhnya mendarat di atas tanah lagi. Gerakan itu sendiri sudah menghabiskan sebagian besar napasnya.
Haru mendatanginya dari belakang, tidak menyentuhnya, tapi berucap lembut, "Aku mengertiku kau membenciku sekarang, tetapi paling tidak, biarkan aku membantumu berjalan ke kotak obat."
"Kumohon jangan sentuh aku." Kalimat yang sama keluar dari balik bibir pemuda yang terluka itu. Ia bagaikan robot, terluka tapi mati rasa; dan tak ada yang bisa dilihat dari wajahnya.
"Tetsuya!"
Kuroko berhenti untuk bersandar pada dinding lagi. Ia menatap kakinya, di mana tetesan darah masih berjatuhan. Haru dengan hati-hati mengeratkan pegangannya pada tangan Kuroko. "Tak peduli berapa kali menolakku, aku akan membantumu naik."
Putranya tak merespon, sehingga Haru menganggapnya sebagai 'ya'. Ia membantu putranya yang hampa meniti tangga, perlahan, selangkah demi selangkah. Ketika mereka sampai di ujung, Kuroko telah kehabisan napas. "Apa kau mau aku—"
"Tidak," Kuroko dengan lembut menarik lepas tangannya dari genggaman sang ayah. "Kumohon jangan pernah menyentuhku lagi … Ayah."
Ucapannya membuat linangan air mata Haru menetes. Haru jatuh di atas lututnya, tangannya gemetaran. Ia menatap putranya menyeret tubuhnya yang separuh mati melintasi koridor, meninggalkan jejak darah di belakangnya. Sang ayah membenamkan wajahnya pada telapak tangannya.
"Tugasmu... mungkin akan sulit secara emosional, tetapi secara praktek, aku yakin kau dapat melakukannya dengan mudah."
"Kau tidak mengerti," tangisnya.
"Aku tahu kau akan sedikit kesulitan mengatur emosimu dalam tugas ini, tetapi aku yakin kau akan melakukan yang terbaik, karena semua ini demi putramu."
.
.
[Tbc]
