Haloo~ bertemu lagi sama saya, Author bajakan dari Negeri Putih Biru yang membawakan chapter 2 Long Kiss Goodbye. Dan saya ingin BERTERIMAKASIH BANYAK buat para reviewer yang login ataupun tidak. Makasih ya buat saran yang kalian kasih. Aku senang sekali *pelukcium*. Balasan reviewnya di bawah ya ^^. Oke segitu aja bacotan saya. Happy Reading.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Pairing : NaruHina

Warning : OOC, typo bertebaran bak butiran debu, alur ngebut.

SPECIAL THANKS FOR YOAN AND FIRDA. Bantuan kalian mencerahkanku^^

LONG KISS GOODBYE

CHAPTER 2

Untunglah, setelah ditelfon, Kotetsu datang dan cepat membawa ke rumah sakit Naruto yang sudah kehilangan kesadarannya. Hinata benar-benar panik saat itu. Karena, walaupun sudah pingsan, mulut Naruto masih terus mengeluarkan darah. Sesampainya di rumah sakit, Naruto segera dilarikan ke UGD.

Sekarang Hinata benar-benar khawatir. Hinata duduk di kursi tunggu yang ada di depan UGD. Berharap Kotetsu, yang tadi dipanggil dokter, segera muncul dari dalam UGD.

Perasaannya tak tenang. Dia gelisah.

'Krieeet'

Pintu UGD terbuka. Hinata langsung menoleh. Dan, syukurlah, Kotetsu yang keluar. Orang yang sedari tadi Hinata harapkan kemunculannya.

Kotetsu menutup pintu UGD dan menuju tempat Hinata duduk. Kotetsu segera mendudukkan dirinya disamping Hinata.

"Naruto-sama tidak apa-apa. Sebentar lagi juga siuman. Kalau dia sudah siuman, dia boleh pulang. Syukurlah dia boleh dibawa pulang. Kalau tidak, mati aku," ujar Kotetsu seakan menjawab semua kegelisahan Hinata. Hinata menghela nafasnya lega.

"Maaf, boleh aku tau siapa namamu?" tanya Kotetsu pada Hinata. Hinata mengangguk. "Hyuuga Hi-hinata. Maaf, a-aku yang membuat Naruto-kun ja-jadi seperti ini," ujar Hinata penuh penyesalan.

Kotetsu menggeleng. "Bukan salahmu. Naruto-sama memang selalu begitu," ujar Kotetsu.

Hening dalam beberapa menit tercipta diantara mereka. Hingga akhirnya..

"Naruto-sama itu sangat keras kepala. Dia tidak tahu, bahwa kami semua mengkhawatirkan fisiknya yang semakin hari semakin melemah," ujar Kotetsu sambil menutup matanya. Dahi Hinata mengerut mendengarnya. Semakin lemah? Apa maksudnya?

"A-apa maksud Kotetsu-san?" tanya Hinata ragu-ragu.

"Naruto-sama punya penyakit yang lumayan berat," jawab Kotetsu lagi dengan suara pelan. Ekspresi Hinata yang tadi heran, sekarang berubah menjadi kaget. Naruto yang ceria itu punya penyakit?.

Kotetsu menangkap ekspresi kaget Hinata. "Tidak ketahuan ya Naruto-sama itu punya penyakit?. Fisiknya yang gagah dan sifatnya yang ceria itu menutup segalanya. Beda dengan orang lain yang berpenyakit sama dengannya," ujar Kotetsu menjawab kekagetan Hinata.

"Dan lagi, aku berani taruhan, tidak ada satupun temannya yang tahu soal penyakit Naruto-sama," lanjut Kotetsu.

"Naruto-sama tidak ingin siapapun tau dia sakit. Apalagi teman-temannya. Dia pasti akan menghajarku jika aku menceritakan keadaannya padamu. Tapi sepertinya kau baik, Hyuuga. Dan kau juga sudah melihat Naruto dengan keadaan seperti ini. Aku akan menceritakan keadaan sebenarnya Naruto-sama. Kau mau mendengarnya?" tanya Kotetsu.

Hinata menganggukan kepalanya. "Y-ya, a-aku mau," jawab Hinata sedikit ragu.

Kotetsu menarik nafas.

"Dimulai dari hari itu, sekitar 2 bulan yang lalu, kehidupan Naruto-sama berubah," ujar Kotetsu memulai ceritanya

(FLASHBACK ON)

Rumah Sakit Konoha, Ruang Pemeriksaan Penyakit Dalam.

"KURANG AJAR KAU! BERANINYA BERKATA SEPERTI ITU!" teriak seseorang di dalam sebuah ruang di Rumah Sakit Konoha.

"Aku tidak sembarangan memvonis, Minato-sama. Hasil cek sudah aku ulang berkali-kali. Ini kenyataan," jawab dokter itu pada orang yang tadi berteriak, Namikaze Minato. Minato makin naik darah mendengarnya. Tanpa ragu, Minato menarik kerah baju dokter itu.

"APA MAKSUDMU MEMVONIS ANAKKU SEPERTI ITU HAH?! JANGAN BERBOHONG!" teriak Minato emosi. Emosinya sudah memuncak mendengar perkataan dokter itu. Dokter itu, Yakushi Kabuto, hanya bisa menghela nafas diteriaki oleh Minato.

"Minato, sudah! Dengarkan dulu penjelasan Dokter!" ujar Kushina, istrinya setengah berteriak sembari menarik tangan Minato agar kembali duduk. Mata Kushina juga berkaca-kaca mendengar vonis Kabuto atas anaknya.

Minato menuruti istrinya. Dia melepas cengkramannya dan kembali duduk.

"Saya mohon, dengarkan penjelasan saya dulu. Saya juga harus bicara pada Naruto sendiri, agar dia tahu kondisinya," ujar Kabuto sembari membenarkan kerah bajunya.

Minato membelalak. "Tidak boleh! Cukup aku dan istriku saja yang tahu. Dia tidak perlu!" teriak Minato lagi. Tidak, Minato tidak ingin Naruto tahu.

"Minato-sama, flek itu menyebar dengan cepat. Naruto harus segera tau keadaan tubuhnya sekarang, agar dia tahu cara menjaga dirinya!" ujar Kabuto berusaha meyakinkan Minato. Minato tertunduk. Akhirnya, Minato mengalah."Baiklah. Kushina, tolong panggil Naruto," Minato menepuk bahu istrinya yang terlihat menahan tangis.

Kushina mengangguk. Dia keluar dan memanggil Naruto yang duduk di kursi tunggu luar.

.

.

Akhirnya, Keluarga Namikaze itu sudah duduk di depan Kabuto.

"Naruto, aku akan menjelaskan sesuatu tentang keadaan tubuhmu. Kau siap mendengarnya?" tanya Kabuto pada Naruto. Naruto menelan ludahnya dengan paksa. Tegang. Ya, sekarang dia tegang. Entah kenapa, raut wajah orangtuanya menampakkan kesedihan. Ada apa? Apa yang ada di dalam tubuhnya?. Akhirnya, Naruto mengangguk, bertanda Naruto siap mendengar keadaannya.

"Naruto keluhan sakit di dadamu itu sudah aku deteksi. Dan ini hasilnya," ujar Kabuto sambil menunjukkan hasil rontgen dada Naruto yang disinar.

"Bisa kau lihat bagian ini? Ini adalah gambar jantungmu. Dan bisa lihat gambar putih seperti kain yang menutupi sebagian jantungmu ini? Itu adalah flek yang ditimbulkan oleh virus yang mematikan," ujar Kabuto sembari menunjuk-nunjuk gambar rontgen Naruto.

DEG!

"Me-mematikan?" tanya Naruto gugup. Apa? Mematikan katanya?.

Kabuto mengangguk. "Maaf, aku harus memberitahumu. Ini kondisi tubuhmu sekarang. Akan kulanjutkan," ujar Kabuto.

"Flek ini kurang lebih seperti tumor, tapi flek jauh lebih berbahaya. Flek ini menghambat kerja jantungmu. Jantungmu akan semakin lambat bekerja, karena ditutupi flek ini. Dan sakit di dadamu itu, dikarenakan flek itu mulai merayap ke dalam paru-parumu. Semakin lama, flek ini akan menyebar ke hatimu, dan akan merusak kerja seluruh organ tubuhmu, tanpa bisa dihentikan," lanjut Kabuto.

Mata Naruto membulat mendengarnya. Menyebar ke seluruh tubuh? Tak bisa dihentikan? Merusak kerja organ tubh? Kami-sama,ini terlalu mendadak!

"Penyakit seperti ini sudah banyak terjadi. Virus yang menjadi penyebab pertumbuhan flek ini belum diketahui asalnya. Oleh karna itulah, belum diketahui obatnya, ataupun cara menghentikannya. Prosedur operasi juga tidak bisa. Karena, flek ini menempel kuat pada organ yang dihinggapinya. Semua orang yang menderita penyakit ini, perlahan akan merasa lemah, tubuhnya menjadi kurus dan akhirnya… Pergi," ujar Kabuto dengan wajah lemas.

"Oleh karena itu Naruto, mulai sekarang, kau harus menjaga kondisi tubuhmu. Ingat, tubuhmu tidak seperti dulu lagi. Jangan lakukan kegiatan yang menguras tenagamu. Jangan ikut pelajaran olahraga. Karena, kalau kau ikut olahraga, jantungmu yang sudah bekerja keras karena disumbat flek itu, akan dipaksa untuk bekerja lebih keras lagi. Dan itu bisa membuat jantungmu berhenti saat itu juga," lanjut Kabuto seraya mematikan lampu yang menyinari hasil rontgen Naruto.

Tes..

Airmata Kushina terjatuh juga. Kushina menangis. Dia tidak bisa menerima kenyataan anaknya terkena penyakit itu. Ini terlalu mendadak!

Naruto pun sama. Dia kaget sekali. Ingin sekali rasanya dia keluar dari sini dan lari sejauh mungkin. Apa ini mimpi? Kalau ini mimpi, bangunkan Naruto sekarang juga! Tapi ini kenyataan. Ngilu di dada yang Naruto rasakan tadi, mulai terasa lagi. Nafasnya sesak dan tersendat. Kami-sama, tidak boleh ikut olahraga? Lalu, ekskul basket yang menjadi identitasnya di sekolah, akan jadi apa?! Olahraga adalah sebagian masa remaja Naruto. Artinya, sebentar lagi..

Naruto akan mulai kehilangan masa remajanya?

(FLASHBACK OFF)

"Begitulah ceritanya. Aku tahu hal itu dari Minato-sama sendiri saat aku mengantarnya ke kantor. Memang, tidak terlihat Naruto-sama itu sakit. Tapi aku yakin, dia selalu menahan sakit di bagian dadanya. Dan dua minggu lalu, dia terjatuh di kamarnya dengan darah berlumuran dari mulut dan hidungnya. Oleh karena itu, dia harus dirawat intensif di Rumah Sakit selama 3 minggu. Tapi, tadi pagi dia sudah memaksa ingin sekolah. Keras kepala bukan?" ujar Kotetsu setelah selesai dengan ceritanya.

Tertegun. Hinata tertegun mendengar cerita Kotetsu tentang Naruto. Apa sebegitu berbahayanya penyakit Naruto? itu. Naruto kelihatan sangat sangat sehat!

"Kau bisa mendengar penjelasan lebih lanjut pada Naruto-sama sendiri. Tapi aku pasti dihajarnya," lanjut Kotetsu.

Hinata terdiam. Masih mencerna semua cerita Kotetsu yang begitu mengejutkan baginya.

"Maaf. Namikaze Naruto sudah sadar. Silahkan ditemui. Sebentar lagi, dia bisa dibawa pulang," ujar seorang suster dari dalam ruang UGD kepada Kotetsu dan Hinata. Kotetsu tersenyum.

"Baiklah. Temui dia, Hyuuga. Kalau kau ingin menanyakan lebih detail padanya, tolong buat kata-kata agar aku tidak dihajar olehnya," ujar Kotetsu sambil tersenyum. Hinata menangguk. Hinata berdiri, dan masuk ke ruang UGD.

00_00

Bau obat yang tajam langsung menusuk hidung Hinata saat memasuki UGD. Hinata dibimbing suster itu menuju tempat Naruto berbaring. Banyak orang lain yang juga sedang mendapat perolongan di UGD itu.

Akhirnya, Hinata sampai di tempat tidur Naruto yang dibatasi horden di kedua sisinya. Naruto masih berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya. Dan sebuah selang oksigen melingkari bagian hidungnya. Dengan agak ragu, Hinata berjalan ke samping tempat tidur Naruto.

Naruto terkejut melihat Hinata ada di sampingnya.

"Hinata-chan? Kenapa ada disini? Kenapa belum pulang?" tanya Naruto beruntun pada Hinata.

Hinata tersenyum. "A-aku menunggu Naruto-kun sadar," jawab Hinata. Naruto mendengus. "Harusnya kau tidak usah menungguku, Hinata-chan. Pulang saja. Nanti orangtuamu mencarimu," ujar Naruto menanggapi jawaban Hinata. Hinata menggeleng. "Aku mau berterimakasih Na-naruto-kun sudah me-menolongku," lanjut Hinata.

Naruto tersenyum lebar. "Ehehe, sama-sama Hinata-chan. Kita kan teman. Lagipula, saat menolongmu, aku langsung tumbang hanya dengan satu tonjokan. Tidak keren sekali ya?" tawa Naruto. Disela tawanya, Naruto memegang dadanya. Hinata langsung tahu, bahwa Naruto tengah menahan sakit.

"Na-naruto-kun, apa sakit?" tanya Hinata. Naruto menggeleng. "Tidak kok. Aku hanya mengelus dada saja. Tidak perlu khawatir Hinata," jawab Naruto sembari tersenyum.

Hinata agak panik. "Pasti sakit kan Naruto-kun? Perlu aku panggilkan dokter?" tanya Hinata masih khawatir. Naruto masih menggeleng. "Tidak apa-apa Hinata-chan. Lagipula, tadi hanya ditonjok kecil. Tidak seberapa," jawab Naruto.

"Naruto-kun ja-jangan berbohong,"ujar Hinata gugup. Hinata masih mengatur kata-kata untuk menanyakannya pada Naruto. Hinata takut disangka orang yang suka ikut campur. Naruto diam sesaat. "Bohong apa, Hinata?" Naruto mulai curiga. Sepertinya Hinata tau sesuatu. Hinata tidak menjawab, membuat Naruto makin curiga. "Memang aku bohong apa?" tanya Naruto lagi.

Beberapa menit mereka terdiam, sampai Naruto sadar, kalau Hinata memang tahu sesuatu. Ya, Hinata tahu tentang penyakitnya.

"Kotetsu-san yang bercerita ya?" tanya Naruto sambil tersenyum miris. Hinata tidak berani menatap Naruto.

"Yahh, baiklah kalau kau sudah tahu. Cepat atau lambat, semua teman-temanku pasti akan tahu. Tapi, aku tidak sangka kau yang tahu duluan. Dasar Kotetsu-san tidak bisa dipercaya," umpat Naruto kecil.

Hinata makin gugup. "Ma-maaf Na-naruto-kun. Aku tidak bermaksud mencampuri u-urusanmu," ujar Hinata sambil menunduk.

"Hei, tidak masalah. Kau juga sudah terlanjur melihat aku yang lemah ini kan? Tanpa Kotetsu-san beritahu, harusnya kau sudah sadar. Hanya dengan tonjokan yang tidak terlalu kencang tadi, aku sampai memuntahkan darah begitu," ujar Naruto makin lemas. Hinata mengangkat wajahnya. Terpancarlah wajah sendu Naruto. "Tapi, berjanjilah, cukup kau saja yang tahu. Jangan ada lagi yang tahu," lanjut Naruto. Hinata mengangguk mengerti

"Aku ini lemah, Hinata," ujar Naruto dengan raut penuh kesedihan. "Aku masih merasa ini semua mimpi. Aku masih 16 tahun. Aku masih ingin menjalani hidupku sebagai seorang remaja. Namun, perlahan tapi pasti, masa remaja itu akan hilang," lanjut Naruto sambil memegang dadanya.

Naruto menarik nafas. "Aku bukan murid pintar. Oleh karena itu, aku ingin menunjukkan prestasiku di bidang lain , yaitu bidang olahraga dengan cara bermain basket. Dan aku berhasil! Aku sering membawa piala kejuaraan basket. Dan guru-guru pun memberi nilai tambah untukku. Tapi, penyakit ini pasti menghentikanku. Aku makin merasa tidak berguna. Kematian mengejarku," Naruto mencoba berbicara dengan suara yang tersekat.

"Aku sadar, aku akan segera mati. Dokter pun memvonis tidak ada jalan untuk menyembuhkanku. Tapi, aku ingin orang lain mengerti, kalau aku ingin menikmati hidupku sebagai remaja normal. Hanya itu saja," lanjut Naruto.

Hinata menggeleng kuat mendengarnya. "Na-naruto-kun, jangan bicara seperti itu lagi!" ujar Hinata dengan nada yang sedikit meninggi.

"Naruto-kun, kematian i-itu pasti datang ke setiap o-orang. Termasuk a-aku. Tak ada satu ma-manusia di dunia ini, yang bisa menentukan kapan dia a-akan meninggal. Wa-walaupun dia dokter sekalipun," ujar Hinata menatap mata Naruto.

"Kalau Naruto-kun i-ingin menikmati masa remaja, nikmatilah! Ja-jangan merasa dihalangi pe-penyakit itu. A-aku yakin, Naruto-kun bisa! Jangan tunggu kematian, karena kematian pa-pasti datang, kapanpun itu. Naruto-kun juga ti-tidak bodoh. Mu-mungkin hanya kurang be-belajar. Berusahalah! Ja-jangan putus semangat," lanjut Hinata.

Naruto diam mendengar perkataan Hinata. Ya, perkataan Hinata memang benar. Hening beberapa saat menyelimuti mereka.

Naruto tersenyum. Senyum yang tulus sekali. "Arigatou, Hinata. Terimakasih telah mengatakan itu. Akan kucoba menikmati masa remajaku tanpa terganggu penyakit ini. Aku mohon bantuanmu ya, Senior," jawab Naruto setengah bercanda. Hinata langsung merengut. "A-aku bukan senior!" ujar Hinata. "Masa sih? Perkataanmu tadi bijak sekali lho~" canda Naruto lagi. Hinata mengerucutkan bibirnya kesal. Tawa Naruto pun pecah melihat wajah Hinata.

"Jadi? Apa kau mau membantuku melewatinya, Hinata-chan? " tanya Naruto menghentikan tawanya. Hinata mengangguk.

"A-aku akan membantumu, Naruto-kun," jawab Hinata yakin. Naruto tersenyum mendengarnya.

"Aku tak salah kan, menceritakannya pada gadis Hyuuga itu? Semoga Naruto-sama tidak menghajarku," ujar Kotetsu sembari terus mengintip mereka.

Awal untuk Naruto dan Hinata, hm?

00_00

Pagi Hari, kediaman Namikaze. 07.00

"Naruto, kau mau sarapan apa?" tanya Kushina pada Naruto. Keluarga Namikaze ini sedang melakukan sarapan bersama. Disebelah Kushina, Minato duduk sambil mengunyah rotinya.

Naruto menatap menu yang ada di meja makan. "Aku roti saja, Kaasan," jawab Naruto yang akhirnya menjatuhkan pilihannya. Kushina meraih roti, dan mengolesinya selai.

"Sudah berapa kali Tousan bilang, jangan kabur dari rumah sakit. Kau itu masih belum sembuh total. Kau mau kejadian itu terulang, Naruto?" tiba-tiba Minato bicara. Minato gemas sekali pada anaknya yang bandel ini. Saat Naruto dirawat, Minato dan Kushina memang bergilir menemani Naruto di Rumah sakit. Tapi, kemarin Minato dan Kushina tidak ada giliran menjaga Naruto di rumah sakit. Mereka ada pekerjaan yang mengharuskan lembur sampai hampir pagi. Akhirnya, Genma lah yang menjaga Naruto. Namun, Genma itu tidak bisa menandingi kekerasan kepala Naruto. Pada saat Minato dan Kushina akan menuju ke rumah sakit untuk menemui Naruto, Dokter bilang Naruto kabur dan pergi ke sekolah. Untung Minato tidak tahu, bahwa kemarin Naruto sempat masuk rumah sakit lagi. Kalau Minato tahu, Kotetsu, Genma, siapkan harapan terakhir kalian.

"Kaasan juga sudah izin pada Senseimu. Kau ini bandel sekali sih Naruto. Lain kali, jangan kabur kalau dirawat di rumah sakit, patuhi kata dokter," lanjut Kushina sembari menyerahkan roti pada Naruto.

Naruto terdiam.

"Kaasan dan Tousan berlebihan. Aku ini sehat. Kalian menganggapku seolah-olah aku ini akan segera mati. Berhenti menganggapku seperti itu!" ujar Naruto sedikit kasar.

"Kalau kalian ingin aku tetap sehat, aku akan sehat tanpa perlu kalian awasi seperti ini. Percayalah padaku!" ujar Naruto lagi berusaha meyakinkan Kaasan dan Tousannya bahwa dia baik-baik saja. Dia tidak ingin dihalangi.

Minato dan Kushina terdiam mendengarnya. Mereka juga tidak ingin merubah kehidupan Naruto yang bebas. Tapi, mereka juga tidak ingin Naruto pergi mendahului mereka.

"Baiklah sayang. Asal kamu sehat, istirahat di rumah saja juga tidak apa-apa. Tidak perlu di rumah sakit," ujar Kushina menenangkan Naruto. Naruto tersenyum mendengaarnya.

"Iya Kaasan, aku akan tetap sehat! Percayalah!" jawab Naruto mantap sembari tersenyum lebar. Kushina ikut tersenyum. Senyum yang terpaksa ditunjukan Kushina.

"Baiklah, aku berangkat dulu ya. Nanti aku terlambat. Aku cinta kalian," lanjut Naruto sambil mencium pipi kedua orangtuanya dan membawa rotinya.

"Rotinya dimakan ya. Awas kalau dibuang. Belajar yang benar," ujar Kushina sembari melambaikan tangan kepada Naruto yang berlari menuju pintu.

Naruto lenyap dari pandangan Minato dan Kushina. Akhirnya, tangis pun tak dapat ditahan Kushina lagi.

"Hey, sudahlah. Dia sudah berjanji akan terus sehat kan? Kita harus percaya padanya," Minato mengelus pundak istrinya yang menangis.

Kushina menangguk mengerti. 'Naruto, Kaasan akan selalu mendoakanmu. Selalu,' ujar Kushina dalam hati.

00_00

Mobil yang dinaiki Naruto meluncur menuju sekolahnya. Baru sekitar 20 menit mobil itu jalan dari rumahnya.

Sesak. Tiba-tiba, entah kenapa, sekarang dada Naruto terasa sesak. Sangat sesak. Naruto mencoba menarik nafas dari hidung. Nihil, tak ada udara yang terhirup untuk mengisi paru-parunya. Naruto berusaha mengambil nafas lagi dari mulutnya. Sama saja, paru-parunya tetap tak terisi oksigen sedikitpun.

Wajah Naruto mulai memucat. Peluh membajiri pelipisnya. Sungguh, sekarang paru-paru Naruto seakan tak berfungsi. Kotetsu tak sengaja melirik Naruto yang duduk di belakang, melalui kaca mobilnya. Kotetsu terbelalak melihat Naruto yang memucat dan berkeringat. Segera saja, Kotetsu menghentikan mobilnya.

"Naruto-sama, anda kenapa?" tanya Kotetsu panik sembari memegang tangan Naruto yang juga berkeringat. Keringat dingin. Badan Naruto dingin sekali. Naruto tak bisa menjawab. Tak ada lagi kekuatan untuk berbicara, karena sekarang paru-parunya tak bisa diisi udara.

"Bertahanlah Naruto-sama," ujar Kotetsu sembari memegang setir dan menjalankan mobilnya. Kali ini Kotetsu putar balik arah menuju Rumah Sakit Konoha. Entah sudah ke berapa kali Kotetsu harus ke Rumah Sakit untuk mengantar anak majikannya ini.

Naruto makin memucat. Naruto masih terus mencoba menarik nafasnya, tetap tidak bisa!

Kami-sama, akankah kau menyelamatkan Naruto lagi?

TBC

Nah sekarang balasan review.

Yonerwe : iya makasih udah bersedia review ya^^

Lathifah Amethyst-Chan : Yatta~ kita liat aja endingnya nanti^^makasih sudah sempat review.

Gyuururu-kun : Iya saran Gyuukun bagus sekali :3 sudah aku pakai sarannya. Makasih sudah mau review

: udaah. Ini udah chapter berikutnya.

Hanazonorin444 : Aha, itu dia belum boleh dibocorkan^^

Kire- neko : ahh senangnya Kirei suka^^ iya nggak akan bertele tele kok. Paling sampai 4 chapter aja. Emm~ gajanji ya gaberubah jadi angst

K : Nguahah~ iya kan alurnya niruin Minato yang yellow plesh #braak . iya makasih sarannya.

MR : Makasih^^

Algojo : iya ini udah dilanjutin

Soo : Huwaa Soo, itusih tergantung stok pikiran ajaa *peluk soo* . iya ini udah apdet ^^9

Makasih atas review kalian. Bersediakah mereview chapter ini?^^. Gomen kalau chapter ini agak aneh ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Daah '-'/