Haloo~ Ai kambeek~ *dilemparbatu*. Ai kambek dan membawakan Chapter 3 dari Long Kiss Goodbye~. Dan Ai kembali mau BERTERIMAKASIH BANYAK buat para reviewer. Ai sayang kalian~. Review kalian bikin Ai semangat ^^9. Happy Reading^^

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

WARNING : OOC maybe, typo bertebaran bak butiran debu. Alur ngebut.

LONG KISS GOODBYE

CHAPTER 3

KONOHA HIGH SCHOOL, 07.10 AM

"Ohayou, Hinata!" sapa Sakura sembari menepuk bahu Hinata yang melamun. Hinata segera tersadar dari lamunannya.

"Ohayou Sakura," jawab Hinata sambil tersenyum kecil. Sakura menoleh ke belakang, dan yang didapatinya hanya Sasuke yang sedang membaca buku.

"Sasuke, kemana Naruto?" tanya Sakura karena tak melihat Naruto. Sasuke mengangkat bahunya. Tanda dia tak tahu dimana temannya itu. Hinata yang sedari tadi melamunkan hal itu, makin merasa tidak tenang. Perasaan Hinata tidak enak. Ini sudah 10 menit setelah bel berbunyi, tapi Naruto belum datang.

"E-em, Sa-sakura-chan, apa kau punya nomor handphone Na-naruto-kun?" tanya Hinata pada Sakura. Sakura menangguk. Sakura membuka handphonenya dan mengacak kontak.

"Nih," ujar Sakura singkat sembari memberikan handphonenya pada Hinata. Hinata meraihnya dan segera menyalin nomor handphone Naruto.

'Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Naruto-kun' ujar Hinata dalam hati.

._._._.

UGD RUMAH SAKIT KONOHA

Kotetsu, Minato dan Kushina duduk dengan gelisah di kursi tunggu. Kushina tak henti-hentinya meneteskan air matanya. Padahal, baru tadi pagi dia mendengar janji anaknya untuk tetap sehat. Tapi, sekarang anak tunggalnya malah masuk UGD.

"Sudahlah, Kushina. Naruto akan baik-baik saja," ujar Minato berusaha menangkan istrinya. Minato juga khawatir akan keadaan anaknya. Dia risih, dia gelisah.

Setelah dilarikan lagi ke Rumah Sakit, Kotetsu langsung menghubungi Minato dan Kushina yang baru saja akan berangkat ke kantor. Minato dan Kushina segera melupakan pekerjaan mereka, dan beralih menuju ke Rumah Sakit.

Kotetsu hanya menatap pilu kedua majikannya itu. Dia tahu betul bagaimana perasaan orangtua yang melihat anaknya seperti ini. Seingat Kotetsu, waktu Kotetsu kecil, dia demam sedikit saja, orangtuanya sudah repot dan khawatir sekali. Apalagi yang terkena penyakit berat seperti ini?

Saat Minato masih berusaha menenangkan Kushina, akhirnya pintu UGD terbuka. Kabuto keluar dari dalam dengan wajah yang tak bisa ditebak.

Kushina dan Minato langsung berdiri. "Minato-sama, Kushina-sama, bisa tolong ikut ke ruangan saya?" tanya Kabuto pada Minato dan Kushina yang masih berdiri. Minato dan Kushina menangguk, lalu mengikuti Kabuto berjalan.

"Tolong berjaga disini sebentar," ujar Minato pada Kotetsu sambil berlalu meninggalkan tempat tadi. Kotetsu mengangguk pelan.

Kushina masih kalut. Kushina tidak kuat mendengar vonis dokter selanjutnya atas anaknya. Airmata itu menetes lagi. Naruto, lihatlah. Ibumu meneteskannya. Lagi.

-dr. Yakushi Kabuto Room-

"Sesuai dugaan saya, flek itu menyebar cepat dan makin tebal," ujar Kabuto memulai pembicaraannya. "Flek yang tadinya hanya mulai merambat menutupi seperempat paru-paru dan sebagian jantung, kini hampir menutupi setengah paru-paru dan setengah jantung, dalam jangka waktu singkat. Dalam waktu singkat juga, flek ini akan menutupi seluruh tubuhnya," lanjut Kabuto dengan suara berat.

Kushina menangis lagi. Minato makin frustasi. Ini kenyataan yang sungguh tidak dapat diterima.

"Kabuto, aku mohon, tolong anakku. Terserah kau mau rujuk dia kemanapun. Ke Rumah Sakit di ujung dunia juga akan aku bawa dia kesana. Asal dia sembuh. Aku mohon," ujar Minato lirih.

Kabuto ikut merasa sedih juga mendengar permohonan Minato. Tapi apa daya, dia hanya dokter. Bukan Tuhan. Dia sudah mengusahakan jalan paling baik.

"Jalan satu-satunya hanya berdoa. Secara medis, saya sudah tidak punya jalan. Kalau saya masih punya jalan, saya pasti akan melakukannya," jawab Kabuto lagi. Kabuto menangkap raut putus asa dari Kushina dan Minato.

"Minato-sama, Kushina-sama, jangan putus asa. Naruto yang paling tau tentang rasa sakit di tubuhnya. Percayalah padanya. Dia pasti bisa menghadapinya. Ini cobaan dari Tuhan. Dan semua rencana Tuhan baik. Pasti ada jalan keluar," ujar Kabuto meyakinkan Minato dan Kushina.

Minato dan Kushina mengerti itu. Mereka harus berjalan mendampingi Naruto sampai menemui jalan keluar dari cobaan ini.

._._.

Pukul 12.30, Ruang Rawat Inap Lavender

"Ugh," Akhirnya, bola mata lautan itu sedikit terbuka. Selang yang masih terpasang di hidungnya, infus yang menancap di tangannya, membuat keadaannya sangat menyedihkan.

"Naruto? Kamu sudah sadar? Syukurlah Kami-sama!" jerit Kushina saat melihat Naruto telah membuka matanya, walau baru sedikit.

"Apa? Dia sudah sadar?" sambung Minato sembari berjalan ke sisi kiri ranjang Naruto.

Mendengar dua suara orang yang dicintainya, Naruto, pemilik bola mata lautan itu, berusaha membuka matanya lebih lebar dan memastikan kalau dia belum mati. Setelah benar-benar membuka matanya, yang didapatinya memang kedua orang yang dicintainya, orangtuanya. Berarti dia memang belum mati karena kejadian tadi pagi.

"Kami-sama, terimakasih. Hai, tampan. Bagaimana perasaanmu? Sudah enakan?" tanya Kushina masih dengan mata agak sembab.

"Hei, jangan ajak dia bicara dulu," ujar Minato sambil mengelus kepala Naruto.

Naruto berusaha tersenyum. Senang sekali masih bisa melihat pemandangan di depannya.

"Baik. Ma-af ya aku mengingkari janjiku," jawab Naruto dengan suara masih agak dipaksakan. Paru-parunya masih belum bisa digunakan normal. Kushina mengangguk.

"Tapi apa kamu mau janji lagi kalau kamu akan terus sehat? " tanya Kushina.

Naruto mengangguk. "Lain kali aku pasti menepatinya" jawab Naruto mulai lancar. Sejujurnya, Naruto agak terganggu dengan selang di hidungnya yang terus menerus meniupkan oksigen. Kushina tersenyum mendengarnya.

Kushina mendekatkan mulutnya pada telinga Naruto, dan membisikkan satu kata. "Kaasan dan Tousan mencintaimu," bisik Kushina lembut. Membuat Naruto makin tersenyum, dan menyadari bahwa dua orang ini sangat sangat mencintai dirinya dan betapa tidak ingin kehilangan dirinya.

"Hei, kau membisikkan apa pada Naruto?" tanya Minato penasaran pada Kushina.

"Ssst, jangan beritahu Tousanmu, Naruto," ujar Kushina sambil meletakkan telunjuknya di bibir Naruto.

"Payah, kalian rahasia-rahasiaan," ujar Minato dengan mulut sedikit dimajukan. Membuat Kushina dan Naruto sedikit tertawa.

"Hei, ini sudah jam setengah 1. Apa kalian tidak lapar?" tanya Kushina pada dua lelaki kesayangannya. Naruto kaget mendengar perkataan Kaasannya. Setengah 1?. Selama itukah dia pingsan?

"Aku lapar. Aku jadi ingin makan ramen. Pasti Naruto juga ingin kan?" tanya Minato sambil melirik anaknya.

Naruto tersenyum sumringah mendengar tawaran ayahnya.

"Iya! Aku mau ramen! Yang pedas ya!" jawab Naruto dengan senyum lebar.

"Oke baiklah. Aku akan suruh Kotetsu membelinya. Sebentar ya," ujar Kushina sambil menuju keluar ruangan untuk menemui Kotetsu.

~LongKissGoodbye~

Siang ini cukup terik. Tapi, panas atau dingin, tidak akan berasa jika pikiran sedang melayang-layang kan? Itu yang dirasakan Hyuuga Hinata. Panas menyengat tubunya, peluh membanjiri seragamnya, tapi itu tak dirasakannya. Karena sekarang, dia sedang memikirkan seseorang.

Namikaze Naruto.

Ya, pemuda itu sedang dipikirkannya. Pemuda yang baru dikenalnya kemarin. Dia masih menebak-nebak, apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto. Kenapa hari ini dia tidak masuk sekolah? Apa penyakitnya sedang kambuh? Oh jangan. Itu adalah kemungkinan yang paling tidak diharapakan Hinata.

Tanpa terasa, kakinya sudah melangkah ke depan Rumah Sakit Konoha. Ingatannya kembali pada malam kemarin. Saat dia melihat Naruto harus masuk ke dalam UGD disana.

Hinata menghentikan langkahnya di depan Rumah Sakit. Menatap pintu depan Rumah Sakit. Masih terdiam disana, angin menerpa rambutnya.

"Hyuuga-san, apa kabar?" tanya seseorang dari belakang yang langsung membuat Hinata menoleh.

"Ko-kotetsu-san?" Hinata sedikit kaget melihat orang itu.

"Apa Hyuuga-san mau membesuk Naruto-sama?" tanya Kotetsu. Hinata terkejut. Membesuk?

"Na-naruto dirawat?" tanya Hinata masih terkejut. Kotetsu mengangguk. "Dia masuk Rumah Sakit lagi tadi pagi. Dan aku disuruh membelikan makan siang," jawab Kotetsu seraya mengangkat bungkusan ramen di tangannya.

Dugaan Hinata bahwa penyakit Naruto kambuh ternyata benar.

"Kau belum tahu rupanya. Mau membesuk? Ada Minato dan Kushina-sama, orangtua Naruto-sama di dalam," tawar Kotetsu. Hinata menggeleng pelan. Hinata tidak mungkin membesuk dengan tangan kosong. Dan lagi, di dalam ada orangtua Naruto. Hinata merasa tidak enak hati.

"Minato dan Kushina-sama orang yang baik. Mereka tidak akan marah kalau kau hanya membesuk Naruto-sama," ujar Kotetsu seakan membaca pikiran Hinata.

"Ta-tapi, aku ti-tidak bawa apa-apa," jawab Hinata. Kotetsu menggeleng. "Tidak perlu. Ayolah, Naruto-sama pasti senang kau datang," bujuk Kotetsu. Akhirnya, bujukan Kotetsu berhasil. Hinata mau membesuk Naruto.

Hinata mengikuti Kotetsu berjalan menuju ruang rawat inap Naruto. Akhirnya, sampailah di depan sebuah kamar bertuliskan "Lavender" di pintunya. Kotetsu membuka pintu itu.

"Naruto-sama, ada tamu~" ujar Kotetsu saat pintu terbuka sepenuhnya. Naruto dan kedua orangtuanya langsung menoleh ke arah pintu.

"Tamu? Siapa?" tanya Naruto yang sedang duduk bersandar di tempat tidurnya. Kotetsu memiringkan badannya, sehingga Hinata yang ada di belakang Kotetsu pun terlihat.

"Ah, Hinata-chan rupanya. Masuk!" seru Naruto saat melihat siapa tamunya. Ada secercah perasaan senang dalam hati Naruto saat melihat gadis itu datang.

Minato dan Kushina sedikit tersenyum melihat anak mereka yang tiba-tiba langsung sumringah.

"Namamu Hinata-chan ya? Ayo masuk sini!" ajak Kushina juga. Akhirnya, Hinata masuk ke dalam ruangan itu.

"Selamat siang. Go-gomen kalau aku me-mengganggu," ujar Hinata sambil membungkukkan badannya.

Kushina mengibas-ngibaskan tangannya. "Tidak, kau tidak mengganggu kok. Perkenalkan. Aku Kushina dan dia Minato. Kami orangtua Naruto," ujar Kushina memperkenalkan diri.

"Hai. Senang bertemu denganmu," sapa Minato ramah

"A-aku Hyuuga Hinata. Senang sekali bi-bisa berkenalan dengan Obaasan dan Ojiisan," Hinata kembali membungkukkan badannya.

"Aku juga senang berkenalan denganmu. Oh iya, kau kesini mau membesuk Naruto kan? Baiklah, Minato, ayo keluar!" ujar Kushina sambil menyeret suaminya pergi keluar.

BLAM!

Pintu tertutup.

"Maaf Hinata-chan, mereka memang agak heboh," ujar Naruto setelah orangtuanya keluar. Hinata sedikit tersenyum dan dengan gugup, Hinata duduk di kursi sebelah tempat tidur Naruto.

"Apa yang terjadi tadi pa-pagi, Na-Naruto-kun?" tanya Hinata.

Naruto menggeleng.

"Tidak. Hanya tadi pagi sedikit kambuh," jawab Naruto enteng. Hinata memandang Naruto yang hidungnya masih dilingkari selang oksigen. Ada sedikit perasaan sedih di hati Hinata melihat Naruto dengan keadaan seperti itu.

"Aku payah ya? Apa keadaanku se-menyedihkan itu?" tanya Naruto saat melihat Hinata yang menatapnya.

"A-apa? Ti-tidak kok," jawab Hinata cepat.

"Lalu? Arti pandanganmu padaku itu apa?" tanya Naruto lagi.

"Ti-tidak. Me-memang salah ka-kalau aku memandang Na-naruto-kun?" tanya Hinata balik. Naruto tersenyum kecil.

"Tidak masalah sih," jawab Naruto lagi. Hening sejenak diantara mereka.

"Hei, Hinata," panggil Naruto. Hinata menoleh.

"Apa ada cara untuk menyembuhkan flek yang ganas?" tanya Naruto tiba-tiba. Mata Hinata membulat mendengarnya.

"A-apa maksud Na-naruto-kun?" ujar Hinata. Kali ini mata mereka bertemu.

"Maksudku, apa ada cara untuk menyembuhkan penyakitku? Adakah cara menyembuhkan penyakitku selain cara medis?" jelas Naruto. Mata Naruto kembali sayu. Menyiratkan bahwa dia sedikit putus asa.

"Na-naruto-kun.." Hinata menyebut nama Naruto lirih. Seakan bisa merasakan apa yang dirasa pemuda itu.

"Kejadian tadi pagi membuatku sadar kalau aku bisa mati kapan saja," ujar Naruto lagi. Raut wajahnya menyedihkan sekali.

"Dan kalau aku mati, aku pas-"

"Cukup Naruto-kun!" ucapan Naruto dipotong oleh perkataan Hinata.

"Sudah ku-kubilang, jangan katakan itu la-lagi. Na-naruto-kun jangan mau di-dikalahkan penyakit. Na-naruto-kun pasti se-sembuh. A-aku akan co-coba bantu cari alternatif untuk me-menyembuhkan Naruto-kun. Kita sama-sama be-berusaha Naruto-kun," ujar Hinata kembali menampar jiwa Naruto yang mulai putus asa.

"Hinata.."

"Jangan ka-katakan mati terus. Ayo Na-naruto-kun. Semangatlah!" ujar Hinata lagi. Hinata memandang mata Naruto. Berusaha menyalurkan keyakinan.

Naruto tidak menyangka, gadis yang gugup ini mampu menyemangatinya untuk kedua kalinya.

"Terimakasih Hinata. Aku sungguh berterimakasih," ucap Naruto kembali tersenyum.

Hinata merona. Hinata bingung, kenapa dia bisa selancar ini berbicara kalau soal menyemangati Naruto?

"A-aku pa-pasti akan mencari cara lain untuk me-menyembuhkan Naruto-kun," ujar Hinata.

"Sekali lagi, terimakasih banyak.."

~LongKissGoodbye~

Kabuto's Room

"Dia sadar dengan cepat. Aku memang tidak berhak memvonisnya. Tapi, menurut perhitungan medisku, umurnya memang tidak lama lagi. Jadi, aku sarankan, bebaskan dia. Biarkan dia menikmati kehidupannya," ujar Kabuto sambil mematikan lampu rontgennya.

Airmata Kushina berasa kering. Tak sanggup mengeluarkan ekspresi apapun.

"Apa maksudmu membebaskan?" tanya Minato.

"Biarkan dia menjalani hidup normalnya, menghabiskan sisa waktunya, asal jangan terlalu lelah. Kasihan dia kalau harus dikurung terus di rumah sakit, sedang kita tau, kalau jalan medis benar benar tak bisa menyelamatkannya. Maaf, aku hanya bicara jujur. Hari ini, dia sudah bisa kalian bawa pulang," Kabuto kembali menegaskan.

"Tak adakah jalan lain?" tanya Minato lagi. Masih tak ingin menyerah.

Kabuto menjawabnya dengan satu gelengan. Minato kembali menghela nafas.

Oo_oo_

Pukul 19.00, Ruang Rawat Inap Lavender

"Kaasan, kita pulang malam ini?" tanya Naruto yang melihat Kaasannya membereskan baju. Kushina tersenyum.

"Iya tampan, kita pulang hari ini. Badanmu ada yang sakit?" tanya Kushina setelah selesai membereskan baju.

"Tidak ada kok. Yes, berarti besok aku boleh sekolah kan?" tanya Naruto ceria. Kushina mengangguk yang membuat Naruto menjerit girang.

"Kalian berdua ini mesra sekali. Awas, aku cemburu," ujar Minato cemburu dibuat-buat. Menimbulkan tawa di wajah Naruto dan Kushina.

Semoga, tawa itu terus berlanjut.

~LongKissGoodbye

Hinata masih antusias menatap laptopnya. Masih dengan pencarian "Cara Penyembuhan Flek". Hinata menscroll mousenya mencari jawaban. Sampai akhirnya, Hinata mengklik satu judul.

'Flek adalah penyakit semacam tumor yang jauh lebih ganas. Flek menempel kuat pada bagian yang terkena. Flek menyebar cepat tanpa bisa dihentikan. 90% penderita flek akan berubah menjadi kurus sampai akhirnya meninggal dunia. Oleh karena itu, flek menempati urutan ke 3 penyakit terganas di dunia, walau kasusnya belum banyak"

Obat Flek belum ditemukan, sehubungan dengan penyebabnya yang juga belum ditemukan.

Ctas! Jantung Hinata terasa berhenti. Ternyata benar cerita Kotetsu. Memang penyakit Naruto belum ditemukan obatnya.

Mata Hinata sedikit memanas. Entah kenapa, sedih. Sedih sekali mengetahui Naruto, pemuda yang baru dikenalnya kemarin itu, menderita penyakit itu.

Apakah Hinata..

Mulai menyukai Naruto? Secepat itukah? Atau perasaan ini hanya sebatas perasaan kasihan?

Hinata segera mengcopy hasil itu dan memprintnya. Hinata ingin meneliti lagi penyakit itu di laboratorium sekolahnya.

._._.

Esoknya, KONOHA HIGH SCHOOL, 06.55

Naruto telah duduk di kursinya. Entah kenapa, hari ini hatinya begitu senang dan tenang. Sasuke, Sakura dan Hinata belum datang.

"Hei kapten! Kenapa kemarin tidak masuk?" tiba-tiba seseorang menepuk bahu Naruto dari belakang. Naruto langsung menoleh dan mendapati pemuda bertato di pipinya.

"Hai Kiba. Kurang enak badan kemarin," jawab Naruto ringan.

"Ck, padahal kemarin kita ada sparing basket. Karena kau tidak ada, sparingnya kita undur jadi hari ini. Kau bisa kan?" tanya Kiba sambil duduk disamping Naruto. Naruto kaget. Dia baru ingat, sekolahnya memang sedang sparing dengan SMA lain.

Naruto hendak menjawab pertanyaan Kiba. Tetapi, tiba-tiba Hinata muncul dari pintu.

"O-ohayou," sapa Hinata sambil berjalan menuju tempat duduknya. Hinata terkejut melihat Naruto.

"Ah, Ohayou Hinata~" Naruto menyapa Hinata yang duduk di depannya. Hinata ingin bertanya kenapa Naruto masuk sekolah. Tapi sayang, sekarang ada Kiba.

"Ohayou mo, Na-naruto-kun," jawab Hinata.

"Hey sudah bersapaannya. Jadi, nanti kita sparing basket di lapangan saat jam pulang ya. Kami mengharapkanmu kapten!" ujar Kiba cepat sembari bangkit dan berlari. Hinata sangat terkejut mendengar ucapan Kiba. Setelah Kiba benar-benar pergi, Hinata langsung menoleh ke belakang.

"Naruto-kun ma-mau bermain ba-basket?" tanya Hinata agak panik. Naruto tersenyum.

"Iya. Aku sudah lama tak bermain basket," jawab Naruto.

"Ta-tapi bagaimana ka-kalau.." Hinata tidak melanjutkan perkataannya.

"Hinata.." panggil Naruto. Hinata mendongakkan kepalanya. Mata mereka bertemu.

"Ini.. Aku janji, ini terakhir kali aku bermain basket. Setelah sparing nanti, aku akan mengundurkan diri. Untuk yang terakhir dalam sisa hidupku. Aku janji, aku akan baik-baik saja setelah sparing nanti," ujar Naruto dengan penuh keyakinan.

Kata-kata Naruto sedikit menusuk perasaan Hinata.

"Na-naruto-kun janji?" tanya Hinata. Dijawab anggukan Naruto yakin Naruto.

'Kami-sama, aku mohon. Ini untuk yang terakhir,' batin Naruto.

~LongKissGoodbye~

12.30, lapangan Konoha High School.

Cuaca siang ini panas sekali. Tapi, itu tak menyurutkan semangat tim basket Konoha dan Suna yang masing-masing dikapteni oleh Naruto dan Gaara.

Kedua tim tangguh itu akan melaksanakan sparing di lapangan Konoha High School. Beberapa siswa yang ingin menonton duduk di pinggiran.

Terlihat, sang kapten tim basket Konoha berdiri di tengah. Badannya tampak gagah memakai baju tim basketnya. Tapi, belum mulai pertandingan, wajahnya sudah terlihat pucat.

Hinata yang ikut menonton hanya bisa duduk sambil memegang handuk. Dalam hatinya, Hinata terus berdoa, semoga Naruto baik-baik saja selama pertandingan.

Pluit berbunyi, bola basket dilempar. Pertanda pertandingan persahabatan ini sudah dimulai.

5 menit pertama berlalu, belum ada yang mencetak poin. Kedua tim sama-sama tangguh.

"Kiba, kau ke samping!" teriak Naruto mengomando. Akhirnya, tim basket Konoha mendapat angka.

Pertandingan terus berlangsung. Tak terasa, 20 menit berlalu. Tim basket Konoha dan Suna memiliki poin yang sama. Hinata menatap Naruto yang sudah terlihat seperti mau mati.

"Ayoo! 5 menit lagi! Konoha jangan mau kalah!" teriak seorang siswa yang menonton. Disambung teriakan lain. Ya, ini menit terakhir sparing antar dua tim tangguh itu.

Pucat, bibir Naruto membiru. Tapi dia terus berlari mengejar bola. Hinata tahu, Naruto takkan bisa bertahan lebih dari ini. Dia bisa mati seketika di tempat.

"SATU MENIT LAGII! SEMANGAT NARUTOO!" teriakan kembali membahana di lapangan Konoha.

Tinggal hitungan detik. Bola jatuh di tangan Naruto. Tapi, jarak Naruto dan ring lawan lumayan jauh. Seisi lapangan menjadi hening melihat bola jatuh ke Kapten sekaligus Ace tim Konoha.

Naruto merasakan kakinya tiba-tiba beku dan tak bisa digerakkan. Hinata sadar akan hal itu. Dengan keberanian yang dikumpulkanya setengah mati, Hinata berteriak.

"Naruto-kun, sedikit lagi! Aku percaya kau bisa!"

Seluruh siswa yang menonton menoleh pada Hinata, termasuk Naruto. Naruto tersenyum dan berusaha menggerakkan kakinya untuk berlari. Lawan yang menghadanganya susah payah dia lewati. Teriakan penyemangat kembali membahana.

Sedikit lagi..

Duk! Duk!

TRAKKK!

"MASUUUUK!" teriakan histeris makin menjadi di lapangan. Pluit berbunyi, tanda pertandingan usai. Naruto langsung jatuh dan kepalanya membentur ring setelah berhasil membuat skor di detik terakhir.

"NARUTO-KUN!" jerit Hinata sembari berlari menuju Naruto yang tidur terlentang di bawah ring. Teman-teman setimnya langsung berlari menuju Naruto. Siswa yang menonton juga langsung menolehkan pandangan pada Naruto.

"Naruto-kun, ba-bangun!" teriak Hinata panik saat melihat Naruto menutup matanya. Hinata menepuk-nepuk pelan pipi Naruto.

"Ba-bangun! Bangun, Naruto-kun!" teriak Hinata lagi saat Naruto tak kunjung bangun. Teman teman setim Naruto menatap heran pada Naruto yang langsung terjatuh. Seingat mereka, Naruto lah yang memiliki stamina paling banyak.

Akhirnya, Naruto membuka matanya, dan mendapati Hinata yang matanya berkaca-kaca.

"Hai. Aku berhasil," ujar Naruto sambil tersenyum. Hinata tersenyum lega walau air matanya hampir jatuh. Hinata membantu Naruto duduk.

"Kapten, kau keren! Kita menang! Walau hanya sparing. Hitung-hitung, balas dendam untuk semester kemarin," ujar Kiba sambil menepuk-nepuk pundak Naruto yang duduk bersandar pada ring. Ya, semester kemarin, KHS memang kalah bertanding oleh tim basket SMA Suna.

"Kau kurang sehat? Lain kali tak perlu memaksakan diri, Kapten." sambung Shikamaru.

"Jangan panggil aku kapten lagi. Mulai sekarang, aku bukan kapten kalian lagi," ujar Naruto tiba-tiba. Teman setimnya yang masih mengerumuni Naruto, kaget mendengar pernyataan Naruto.

"Apa maksudmu? Kenapa bicara seperti itu?" tanya Shikamaru kebingungan.

Naruto menerobos kerumunan timnya, dan berjalan maju ke tengah lapangan. Naruto berdiri menghadap teman setimnya dan seluruh siswa yang tadi menonton sparing itu.

"Aku, Namikaze Naruto, mengundurkan diri dari tim basket KHS. Senang pernah bergabung di tim ini. Terimakasih yang tadi menyemangati. Aku harap, kalian tidak bosan menyemangati tim basket ini," ujar Naruto membungkukkan badannya.

Seluruh siswa yang mendengarnya langsung riuh dan pertanyaan kecil pun terlontar dari mereka semua. Tim Suna yang masih ada disitu juga kaget mendengar pernyataan tiba-tiba itu.

"He-hei, kenapa tiba-tiba? Apa kau marah padaku?" tanya Kiba heran.

"Tidak. Ini hanya kemauanku. Selamat ya, hari ini kita menang. Semoga, tim ini tetap menjadi yang terbaik," ujar Naruto kepada timnya.

"Aku pamit dulu ya. Hinata, ayo!" seru Naruto pada Hinata. Timnya dan seluruh siswa yang menonton masih bingung. Mereka makin penasaran karena Naruto tak memberikan alasan yang jelas. Naruto bukanlah orang yang bisa dianggap remeh di tim basket KHS. Dia Kapten dan Ace. Dan seisi KHS tau itu. Tapi, tiba-tiba dia mengundurkan diri setelah berhasil meraih satu kemenangan lagi.

Naruto melangkah pergi. Hinata membungkukkan badannya dan menyusul Naruto. Jujur, Naruto sedih sekali. Dia masih ingin.. ingin ada di tim itu dan bermain basket. Tapi, cukup sampai disini saja.

"Naruto!" teriak Shikamaru. Naruto menoleh ke belakang.

"Terimakasih kau sempat bergabung di tim ini. Kami tidak tau apa alasanmu sebenarnya. Tapi, apapun alasanmu, kami akan mendukungmu. Terimakasih, Kapten!" ujar Shikamaru lantang sambil membungkukkan badannya. Diikuti timnya yang membungkukkan badan. Dan seluruh siswa yang menonton ikut membungkukkan badan.

Naruto sangat terkejut. Tapi akhirnya, Naruto ikut membungkukkan badannya. Memberi hormat kepada semua orang yang mengandalkan dan mempercayainya selama menjadi kapten di tim basket ini.

"Terimakasih banyak. Terimakasih banyak," ujar Naruto sambil mengangkat badannya. Dan Naruto melanjutkan langkahnya keluar lapangan.

"Daah Kapten~ Kami mendukungmu!" teriak seorang siswa sambil melambai. Disambung teriakan lain dan lambaian lain. Naruto membalikkan badannya dan melambai sambil terus berjalan.

Hari ini, Namikaze Naruto telah melepaskan satu kebahagiaan masa remajanya.

Hinata menggenggam baju Naruto. berusaha menyalurkan kekuatan.

Naruto tersenyum pada Hinata, seakan mengatakan 'aku-baik-baik-saja'

Semoga..

Naruto memang benar baik-baik saja.

TBC

Nami Curcol: ANCUR GILA! Parah, Ai memang keturunan Minato, alurnya ngebut banget kayak Minato. Disini NaruHina udah mulai keliatan kan? Maaf ya chapter ini aneh. Sesuai perkiraan, fic ini akan jadi 5 chapter. Sekali lagi maaf kalau chapter ini mengecewakan.

Thanks To : Kirei-Neko, Cicikun Syeren, LavenderSun, Mira Misawaki, Guest, SlenderKun, DianeUngu, Arimida. , Yuki dei Uchiha.

Bersediakah meninggalkan review lagi?

See di chapter 4 '_'/