Haii semuanyaaaa *dadah dadah* *ditabokin* Apa kabar semua? Maaf ya Ai baru lanjut lagi fanficnya. Mohon maaf yang sangat banget. Nanti alasannya Ai akan jelasin di bawah. Semoga kalian masih sudi baca fanfic Ai ini. Terimakasih banyak sebelumnya *bow*. Selamat membaca!

Long Kiss Goodbye Chapter 4

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Main Chara : Naruto Uzumaki, Hinata Hyuuga

WARN: Typo bertebaran, alur ngebut bin ajep ajep HAPPY READING^^

Sudah lewat hampir satu bulan sejak pengunduran diri Naruto dari jabatannya sebagai kapten tim basket. Beberapa siswa mungkin masih bertanya tanya, apa alasan laki-laki muda berbakat itu mengundurkan diri. Namun, tak satupun mengetahui alasan sebenarnya. Mereka semua hanya menebak nebak.

Sejak saat itu pula, Hyuuga Hinata menjadi sasaran pertanyaan siswa penasaran tentang apa alasan Naruto. Karena saat pengunduran diri Naruto, Hinata ada disebelahnya. Dan mereka terlihat dekat akhir akhir ini. Namun, Hinata tak sedikitpun memberi tahu kebenaran. Hanya diam. Ya, diam. Karena ia tahu, Naruto ingin mati perlahan dan dalam diam. Tanpa diketahui siapapun.

Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Naruto segera membereskan bukunya. Ada sedikit rasa sakit di dadanya. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis pemuda itu. Tanda bahwa ia tengah menahan sakit. Hinata yang duduk dibelakang Naruto, menangkap gelagat Naruto. Dia tahu betul, apa yang sedang dirasakan pemuda itu. "Naruto-kun, kau baik baik saja?" Hinata berbisik. Naruto menoleh dan memberikan senyumnya.

"Aku tidak apa apa. Hari ini kau pulang bersamaku kan?" Naruto berdiri dari kursinya. Hinata mengangguk kecil, mengiyakan perkataan Naruto. Seperti yang sudah dikabarkan sebelumnya, dua murid berlainan jenis ini sering bersama belakangan ini. Hinata dan Naruto melangkah keluar kelas. Dihujani tatapan puluhan pasang mata. Hinata sedikit risih akan hal ini, berbeda dengan Naruto yang cuek saja. Mereka pun tiba didepan pagar sekolah. Menunggu Kotetsu datang menjemput. Hinata menatap Naruto khawatir. "Na-naruto-kun. Sudah 3 minggu kau tidak kontrol ke dokter kan? Apa kau merasa ada yang sakit?" tanya gadis itu pada akhirnya. Naruto mengangguk dan tersenyum. Senyuman yang membuat Hinata berdebar dan memerah. Mungkinkah Hinata….

"Tidak. Aku tidak merasa ada yang sakit. Aku kuat kan?" Naruto tertawa. Hinata tersenyum kecil.

"Kau tidak perlu berbohong padaku, Naruto-kun" Hinata mengeluarkan saputangan ungunya. Sedikit berjinjit, Hinata menyeka keringat di pelipis Naruto. Naruto sedikit terkejut. Ya, gadis pemalu ini sedikit lain jika didepannya. Hinata menjadi lebih berani dihadapannya daripada kesehariannya dikelas. Ya, masih sering tergagap sih. Namun terlihat jelas perubahan Hinata sejak awal mereka bertemu.

"Aku tidak bohong. Udara panas akhir-akhir ini. Makanya aku berkeringat," sanggah Naruto. Hinata menarik tangannya. "Jangan bercanda. Sebentar lagi musim salju dan Naruto-kun bilang ini panas?" Naruto tergagap. Baru ia akan menyanggah lagi, klakson khas mobil Kotetsu berbunyi.

"Naruto-sama, Hyuuga-san. Silahkan naik, maaf saya sedikit terlambat," Kotetsu berkata dari dalam mobil. Naruto sedikit berlari ke pintu mobil dan membukakan pintu tersebut.

"Silahkan naik, Hinata-sama" ujar Naruto. Hinata memerah, lagi. 'Sial, manis sekali,' Naruto membatin. Hinata pun naik ke dalam mobil, diikuti Naruto yang naik melalui pintu sebelah.

"Kotetsu-san, langsung kesana ya," Naruto menutup pintunya. "Baik, Naruto-sama," jawab Kotetsu. Hinata mengernyitkan dahinya.

"Ke- kemana? Tidak langsung pulang?" tanya Hinata. Naruto tersenyum, tanpa menjawab. Tak direspon, Hinata tanpa sadar memajukan bibirnya.

"Naruto-kun, kita mau kem-" perkataan Hinata berhenti saat Naruto menyenderkan kepalanya di bahu Hinata. Merah di wajah gadis itu, sudah tak terkatakan lagi. Ini pertama kalinya gadis itu ada di posisi seperti ini. Plus, lelaki yang bersandar adalah lelaki yang sering membuatnya berdebar dan memerah akhir akhir ini.

"Diam saja ya. Aku bukan om mesum yang akan membawamu ke tempat tak beres" jawab Naruto pada akhirnya.

"Pinjam bahu ya," pinta Naruto, lebih tepatnya perintah. Hinata hanya mengangguk pelan, sambil mengalihkan pandangan, menyembunyikan wajah merahnya.

Dari kaca di tengah mobil, Kotetsu tersenyum melihat dua muda mudi itu.

Mobil terus melesat, sampai di sebuah taman bermain. Hinata termangu. "Sampaii hore~" Naruto bersorak sembari bangun dari pundak Hinata.

"Kita kemari? Dalam rangka apa, Naruto-kun? Jawab, jangan cueki aku," Hinata bertanya "Kita akan bermain. Tidak dalam rangka khusus. Hanya ingin bersenang senang" jawab Naruto. "Ayoo~" Naruto membuka pintu mobil dan keluar, diikuti Hinata.

Hinata terkesiap. Ini taman bermain yang besar dan dipenuhi anak-anak beserta orangtua mereka. "Uwaa lihat lihat itu. Aku mau main itu. Temaniii," Naruto bersorak girang. Hinata tertawa kecil.

"Naruto-kun, malu pada seragam," ujar Hinata. Naruto hanya nyengir. "Aku terlalu bahagia melihat ini. Ayo~" entah sadar atau tidak, Naruto menarik tangan Hinata menuju wahana permainan. Hinata memerah lagi. Dia sedang merapal doa, agar tidak pingsan disini.

Naruto terlihat begitu bahagia. Menaiki wahana permainan yang sejujurnya sudah terlihat aneh untuk anak SMA naiki. Tetapi, lelaki itu tidak malu. Dia terus menarik gadis disebelahnya, untuk ikut bermain bersamanya. Gadis itupun tidak merasa risih akan lelaki konyol ini. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih.

Serasi, bukan?

"Capeeeeekkkk~" Naruto terduduk di sebuah kursi. Hinata datang, dengan dua botol minuman ditangannya.

"Minum dulu, Naruto-kun," gadis itu menyodorkan air, yang langsung ditelan habis oleh pemuda itu.

"Arigatou, Hinata. Maaf ya, menculikmu kesini," Naruto meminta maaf.

Hinata menggeleng pelan. "Aku senang kok," jawabnya. Naruto tersenyum. Bukan cengiran. Tapi senyum hangat. Hinata terpana.

"Terakhir yuk. Bianglala. Mau tidak?" tawar Naruto. Hinata mengangguk tanda setuju. Naruto menarik tangan Hinata lagi, menuju bianglala.

Setelah membeli tiket, mereka menaiki bianglala berwarna jingga. Kontras dengan warna matahari yang mulai terbenam. Bianglala mulai berputar, dan Naruto duduk melihat keluar. Begitu pula Hinata.

"Dunia ini, luas sekali ya, Hinata," ujar Naruto tiba tiba. Hinata tersentak, kemudian mengangguk.

"Aku masih punya banyak harapan. Aku ingin lulus SMA, aku ingin bekerja, aku ingin menjadi pemain basket yang handal, yang terpenting, aku ingin tumbuh dewasa," Hinata menatap Naruto nanar. Baru kali ini, Naruto mengungkapkan perasaannya. Perih dirasa Hinata saat mendengarnya.

"Aku ingin meneruskan perusahaan ayahku. Aku ingin melihat ibuku menangis karena aku lulus, bukan karena aku sakit," lanjut Naruto.

"Namun aku cukup sadar, kalau itu tak akan terjadi. Aku akan pergi, sebelum semua harapan indah itu sempat aku cicipi. Kadang, aku merasa dunia ini tidak adil. Apa kau pernah berpikir begitu?"

Hinata tak sanggup menjawab. Entah kenapa, airmata mulai menggenangi matanya. 'Cengeng. Cengeng! Katakan sesuatu, bodoh! Hibur Naruto-kun!' umpat Hinata dalam hati. Ia merasa tak berguna. Hinata hanya menundukkan kepalanya. Dengan begitu, airmatanya jatuh sekalipun, takkan terlihat.

Beberapa menit dalam diam, Hinata mengangkat kepalanya, hendak melihat Naruto. Betapa terkejutnya ia, melihat pelipis Naruto dibanjiri keringat. Lebih dari yang ia lihat di sekolah tadi.

"Naruto-kun!" Hinata bangkit, mengambil saputangannya dan menyeka keringat Naruto. Dingin. Hanya dingin yang dirasa Hinata saat menyentuh Naruto.

Naruto memejamkan matanya. Ia tak sanggup membuka matanya. Ia hanya mendengar Hinata memanggil manggil namanya. Darah segar mengalir dari hidung Naruto dalam jumlah banyak. Hinata menangis, sambil terus menyeka hidung Naruto. Diletakkannya kepala Naruto ke dekat jendela. Kemudian ia menuju pintu bilik bianglala itu.

"Tolong turunkan posisi kami! Temanku butuh pertolongan!" jerit Hinata. Petugas bianglala yang sedang berbincang, terkejut dan segera memutar tuas, sampai posisi bilik Hinata dan Naruto berada di bawah.

"Apa yang terjadi, Nona?" tanya seorang petugas. "Tolong bantu bawa dia," Hinata menunjuk Naruto yang berlumuran darah. Para petugas bianglala tersebut menggotong Naruto, menuju mobil yang dikendarai Kotetsu dengan bimbingan Hinata. Kotetsu memacu mobilnya menuju Rumah Sakit. Ah, ini terjadi lagi..

Rumah Sakit Konoha, 19.30 Hinata duduk diruang tunggu dengan baju putih yang hampir terlihat berwarna merah akibat darah Naruto. Kushina dan Minato keluar kamar rawat Naruto. Kushina menghampiri Hinata.

"Maaf ya, Hinata. Bajumu kotor. Aku sudah suruh Kotetsu-membeli baju," ujar Kushina lembut sembari duduk disebelah Hinata. Hinata menggeleng lemah sembari tersenyum.

"Aku ke adminstrasi ya," ujar Minato. Disahut anggukan Kushina.

"Hinata, apa kau punya pacar?" tanya Kushina tiba tiba. Hinata terkejut. Pertanyaan macam apa itu. Namun Hinata menggeleng. Dia memang tidak punya kekasih. Kushina tersenyum.

"Kalau begitu, jika kau semesra tadi dengan Naruto, tidak akan ada yang marah kan?" tanya Kushina jahil.

"A-aku ti-tidak mesra dengan Naruto-kun. Ha-hanya menemani," sanggah Hinata. Kushina terkekeh. Kushina tau, apa yang telah dilakukan gadis pemalu ini dengan anaknya sore hari tadi. Salahkan Kotetsu, yang sempat saja bercerita hal itu.

"Iya iya. Terimakasih ya mau menemani dia. Naruto tampak bahagia sekali walau dalam keadaan pingsan," ujar Kushina. Hinata mengangguk. "Hinata.. mungkin satu minggu yang akan datang, Naruto tidak akan masuk sekolah lagi.." ujar Kushina dengan wajah sedih. "K-kenapa?" tanya Hinata gugup. Kushina tersenyum miris.

"Flek berbahaya itu, sudah mencapai jantung dan tulang belakang. Mungkin, dia tak bisa berjalan lagi seminggu kedepan," Kushina tak kuasa menahan tangis. Hinata terhenyak. Kami-sama, apa lagi yang kau lakukan pada pemuda ceria itu. Dorongan naluri perempuan, Hinata memeluk Kushina. Berharap dapat menenangkannya. Kushina memeluk balik Hinata. Sungguh, seorang ibu lah yang paling terpukul akan kejadian yang mendadak ini.

Saat tengah berpelukan, terdengar bunyi gelas jatuh dari ruangan Naruto dirawat.

"SIAL! AKU TIDAK MAU HIDUP DISINI! BUNUH SAJA AKU, BUNUH!" teriak Naruto. Kushina dan Hinata melepas pelukan, dan langsung masuk ke kamar Naruto.

Di dalam, terlihat Kabuto, dokter yang menangani Naruto, berusaha menenangkan Naruto yang sudah sadar dan tengah mengamuk. Infus di tangan Naruto sudah terlepas paksa. Meninggalkan sedikit bercak darah di tangannya. Sepertinya, Kabuto baru saja memberitahu apa yang diberitahu Kushina pada Hinata.

Kushina mendekat pada anaknya, memegang tangan Naruto dan baru akan berbicara, namun Naruto menepisnya. "Na-naruto.." air bening itu jatuh dari mata Kushina. Ia tak sanggup, melihat hartanya di dunia ini, menjerit frustasi seperti tadi.

"KELUAR KALIAN SEMUA! KELUAR!" jerit Naruto lagi. Hinata memejamkan mata takut. Dia tak menyangka akan melihat Naruto yang seperti ini.

Kushina menangis sambil keluar kamar, diikuti Kabuto. Hinata tetap berdiri disitu. Ia takut, namun entah mengapa, kakinya tak melangkah keluar.

"Aku bilang kalian semua. Itu termasuk kau, Hinata" ujar Naruto dingin tanpa menatap Hinata. Hinata tak bergeming.

"Tak se-seharusnya Naruto-kun membentak Obaasan," ujar Hinata takut. Naruto melirik Hinata tajam.

"Tak usah urusi aku. Keluar,"

"Aku tak mengurusi Naruto-kun.." keberanian Hinata sedikit muncul. "Pe-penyakit yang Naruto-kun dapat, bu-bukan salah keluarga Naruto-kun. Bukan salah dokter. Bukan salah siapapun. O-obaasan begitu mengkhawatirkan Naruto-kun. Bukan itu balasan yang harus ia terima," tegas Hinata. Naruto melihat Hinata.

"LALU SALAH SIAPA?! APA DOSAKU?! HARAPANKU HANCUR SEMUANYA! APA ITU, SEMINGGU LAGI AKU TAK AKAN SEKOLAH LAGI? APA MAKSUDNYA? KENAPA HARUS AKU? KENAPA BUKAN ORANG LAIN SAJA!?" Naruto menangis. Ia tak kuasa membayangkan harapannya akan benar benar sirna.

"LAGIPULA AKU AKAN MATI JUGA PADA AKHIRNYA. KENAPA TIDAK BUNUH AKU SAJA? KENAPA AKU HARUS MELEWATI PENDERITAAN INI!" jerit Naruto makin frustasi.

Hinata sedikit gentar. Namun ia yakin, Naruto hanya butuh dimengerti, dan didorong. Hinata mendekati Naruto, kemudian dengan keberanian yang sedikit, Hinata memeluk Naruto.

"Wa-walau aku bilang mengerti perasaan Naruto-kun, aku tau, Naruto-kun tidak akan percaya. Namun, satu hal yang harus Naruto-kun percayai, Naruto-kun tidak sendirian," ujar Hinata sambil sedikit terbata. Naruto malah membuang mukanya. Emosi masih menguasai seluruh tubuhnya.

"Dan soal nyawa. Me-mempertahankan hidup, itu ibarat se-seorang gadis yang mempertahankan kesuciannya. Ke-kenapa ia mempertahankan kesuciannya, ka-kalau pada akhirnya kesucian itu akan direnggut oleh seseorang. Ja-jawabannya satu, Naruto-kun. Karena gadis itu ingin, kesuciannya direnggut lelaki pantas yang berhak. Yang kelak ia percaya seumur hidupnya. Begitu pula nyawa, Naruto-kun. Hanya Kami-sama, yang pantas dan berhak untuk merenggutnya. Bukan siapapun, termasuk Naruto-kun sendiri. Sampai Kami-sama berkehendak, sudah tu-tugas Naruto-kun mempertahankan nyawa Naruto-kun," Hinata berbicara panjang lebar, yang tepat menampar Naruto.

Naruto malu. Malu pada dirinya yang begitu mudah putus asa. Jika ia mati, ibu dan ayahnya bisa gila. Begitu pula dengan gadis yang baru saja menamparnya secara tak langsung ini. Naruto menoleh pada Hinata yang gemetar. Sepertinya, ia takut Naruto marah padanya. Namun, Naruto tersenyum. Membuat Hinata berhenti gemetar. "Terimakasih. Maaf membuatmu takut," Naruto menggerakkan jarinya, mengisyaratkan Hinata untuk mendekat. Hinata mendekat, dan Naruto langsung memeluk erat tubuh mungil berbalut Baku setengah merah itu.

"Kalau begitu, aku mau kau yang menemaniku melewati hal ini," perintah Naruto telak. Hinata mengangguk pelan. Oh tidak, kesadarannya menipis. Sebentar lagi gadis itu bisa pingsan.

"Teruslah disampingku, sampai aku harus berhenti berjuang, suatu saat nanti," bisik Naruto pada gadis itu.

Naruto pun terlelap.

TBC

Author Curhat Zone. Kalau males baca, langsung ke kotak review aja *dilempar dari menara kembar*

HALOOO OHTIDAK INI UDAH TAHUN BERAPAA *nangis bombayz* MAAF YA, AUTHORNYA KEMARIN SIBUK UN, TERUS SIBUK NYARI SMA, EH TERUS SIBUK SAMA KURTILAS *dimutilasi*

Makasih yang udah setia nungguin fict ini yaampyun aku sayang kalian pake banget umua *alaylu* Sampai ketemu di chapt 5. Semoga berkenan nunggu lagi *bow*

Mind to review?