Haii, Ai kembali lagi membawa chapter 5 dari Long Kiss Goodbye. Akhir-akhir ini bakalan update kilat, karena waktu libur yang sebulan lebih dan Ai ora ada gawean dirumah *halah* Maaf soal chapter 4 kemarin yang linenya berantakan, spasinya juga bikin sakit mata. Ai ngupdatenya gagal terus, akhirnya Ai pake option copy paste, dan jadilah seperti itu. Maaf ya *bow* Ai perbaiki chapt 5 nya nih~ Happy reading^^
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Main Chara : Naruto Uzumaki, Hinata Hyuuga
Rating : T
WARNING! : OOC, TYPO BERTEBARAN, ALUR YELLOW FLASH, Rada gaje/?
LONG KISS GOODBYE CHAPTER 5
Rumah Sakit Konoha, 6.20
"Aku tetap mau sekolah," tegas pemuda berambut kuning itu pada ayahnya. Entah sudah berapa ratus kali dalam hari ini, Ayahnya menghela nafas dalam menghadapi putra tunggalnya ini.
"Kalau kuat, tidak apa kok," suara lebih lembut menengahi perdebatan dua lelaki ini. Kushina tersenyum manis pada anaknya. Naruto nyengir pada ayahnya, merasa menang. Minato menghela nafas, lagi.
"Kaasan~ mau bekal. Ya?" Naruto turun dari tempat tidurnya. Namun ia langsung berpegangan meja. Kakinya terasa begitu lemas. Orangtuanya menatapnya khawatir.
"Naruto…" Kushina memegang bahu pemuda itu. Naruto kembali nyengir.
"Tak apa. aku kuat. Ho ho," Naruto berdiri tegak. Membuat Kushina tersenyum sedih. Naruto menangkap hal itu. Dipeluknya perempuan yang telah mengasihinya selama ini.
"Aku baik baik saja, Kaasan," Naruto meyakinkan ibunya. Kushina mengangguk. Minato berdehem.
"Sudah sudah sekolah sana. Hush," Minato mengibas tangannya seperti mengusir ayam. Ibu anak itu terkekeh. Minato pun tersenyum, melihat keluarga kecilnya masih mampu menunjukkan kebahagiaan, ditengah cobaan yang begitu menyakitkan.
Naruto bergegas mandi, Kushina menyiapkan pakaian Naruto yang dibawanya semalam, Minato membeli sarapan. Pagi yang indah.
Konoha High School, 07.00
Gadis bermata lavender itu terus menatap jam tangannya. Bel telah berbunyi, namun pemuda itu belum muncul juga. Padahal, sekitar pukul 2 dini hari lalu, pemuda itu mengiriminya sms, kalau hari ini ia akan masuk sekolah.
Hinata resah. Matanya tak henti-hentinya menatap pintu.
'Jangan-jangan Naruto-kun kambuh lagi?'
'Jangan jangan ia sudah sampai pagar, namun tiba-tiba pingsan?'
'Jangan-jangan-'
BRAKKK!
"Fyuh, selamat," seorang pemuda berambut durian mendobrak pintu dan menghela nafas lega saat mendapati kursi guru masih kosong. Seorang gadis yang sejak tadi menerka nerka pun ikut menghela nafas.
Naruto berjalan menuju tempat duduknya yang telah dihuni Sasuke.
"Ohayou teme, ohayou Hinata," sapa Naruto disertai cengiran khasnya. Sasuke hanya bergumam.
"Ohayou, Naruto-kun," sapa Hinata balik.
Sasuke sedikit mengalihkan perhatian dari buku yang tengah dibacanya. Ia benar-benar orang yang paling sadar, jika gadis pemalu dan gagap ini, terlihat biasa di depan Naruto. Ia juga melihat mereka pulang bersama kemarin. Batin Sasuke bertanya-tanya.
Jangan main main dengan seorang Uchiha yang penasaran.
Sakura tidak masuk sekolah hari ini. Entah apa alasannya. Pelajaran yang diawali guru Asuma yang terkenal suka main-sundut-murid-dengan-rokok pun berlangsung. Dilanjut dengan pelajaran lain, sampai bel yang diidamkan berbunyi.
Istirahat.
Saat Hinata tengah membereskan buku, seorang laki-laki bertato di pipi menghampirinya.
"Hinata~" sapa pemuda yang bernama Kiba tersebut.
"A-ah, Ki-kiba kun. Ada a-apa?" tanya Hinata.
"Bantu aku belajar persamaan akar dong~" ujar Kiba setengah merengek. Hinata tersenyum malu.
"Ba-baiklah," sanggup Hinata. Mereka duduk berdua di meja Hinata yang kosong karena Sakura tak hadir. Hinata mulai mengajari Kiba yang mengangguk-angguk.
Dari jauh, ada sepasang mata memandang dengan tatapan tak suka.
Matahari mulai naik sempurna ke tengah, pertanda juga bel pulang sebentar lagi berbunyi. Kelas Naruto kosong. Sensei Kurenai yang harusnya mengisi, tidak hadir. Sudah ritual, jika pelajaran terakhir taka da guru, murid murid bergegas pulang.
Naruto tak mengajak Hinata pulang. Selesai berkemas, ia menarik tangan Hinata yang sedang berkemas juga, keluar kelas.
"E-eh? Naruto-kun? Bu-buku ku belum be-beres, eh jatuh-" Hinata tersentak saat ditarik paksa dan tiba-tiba oleh Naruto. Kelas yang belum sepi pun, langsung memandang pada kedua muda mudi itu.
Ada yang bersiul.
Ada yang 'cie-cie'
Piasss! Merah sudah wajah Hinata. Oh sial, ada apa sih dengan pemuda ini?
"Na-naruto-kun, bu-buku-" Hinata berhenti bicara saat mendapati raut wajah Naruto yang nampak marah. Akhirnya gadis ini memilih diam saja. Naruto menarik Hinata tanpa berkata apapun.
Mereka masuk ke taman sekolah. Taman yang mirip seperti rumah kaca, namun sejuk. Taman ini dibuat siswa ekskul pecinta tanaman.
Naruto menghentikan langkahnya, kemudian menapat Hinata tajam.
"Na-naruto-kun?" Hinata memanggil takut. Ia betul betul tak paham, apa yang terjadi pada pemuda ini.
"Tadi kau sedang apa dengan Kiba?" tanya Naruto dingin. Hinata merinding.
"D-dia memintaku me-mengajarinya matematika," jawab Hinata takut. Sungguh, wajah Naruto benar-benar seperti psikopat sekarang.
"Dia ikut olimpiade matematika, tahu?" Naruto berujar lagi. Hinata kaget. Namun ia tetap tak mengerti alasan Naruto marah.
"Ia sengaja. Ia hanya mau mendekatimu saja. Dan kau mau-mau saja. Kenapa tidak menolak?" Naruto sedikit meninggikan suaranya.
"A-aku-"
"Dia itu playboy. Mesum. Kelebihannya hanya matematika. Kau sadar tidak, pandangannya tadi hanya ke dadamu?"
Wajah Hinata memerah saat Naruto dengan lantang mengatakan 'dadamu'. Ugh, jangan pingsan.
"Ta-tapi-" Hinata berusaha menyanggah.
"Tidak. Jangan mau didekati dia lagi. Paham?" perintah Naruto.
Hinata terkesiap. Namun rasanya, ia mengerti arah perkataan Naruto ini.
"Na-naruto-kun, cemburu ya?" tanya Hinata lancang. Naruto terkejut. Ganti Naruto yang memerah.
"Ti-tidak. Apa itu? Itu bodoh," Naruto membuang muka dan melepaskan pegangannya pada tangan Hinata.
Hinata terkekeh melihat Naruto. Ia jadi yakin kalau Naruto cemburu. Hinata ingin menggodanya. Boleh kan?
"Ka-kalau begitu, a-aku ajak Kiba-kun jalan-jalan ya?" tanya Hinata pura-pura. Naruto langsung menatap Hinata tajam.
"Tidak. Tidak boleh. Mau kuborgol kau, hah?" Naruto mengancam. Jika tidak ingat imagenya selama ini, Hinata sudah tertawa terpingkal pingkal melihat tingkah Naruto sekarang.
"Tuh, kan. Naruto-kun cemburu," Hinata tersenyum lembut. "Aku bercanda kok. Ma-mana berani aku mengajak laki-laki pergi,"
"Jadi…. Kau mengerjaiku, Nona Hyuuga?" tanya Naruto dengan aura gelap. Hinata kembali merinding.
"E-eh?"
Naruto tersenyum licik.
"Kukejar kau. Kalau tertangkap, aku cium kau," ujar Naruto masih dengan aura gelap.
"EEEEEHH?" Hinata terkejut dengan pernyataan tersebut. Pemuda tersebut mengejar gadis itu, refleks, si gadis ikut berlari. Menghindari pemuda itu.
"Na-naruto-kun, maaf- kyaa!" Hinata berlari sambil berusaha menghindari Naruto. Namun Hinata pada dasarnya memang tak bisa berlari. Lebih tepatnya aktivitas fisik apapun. Gadis itu jatuh.
"Aduh-" Hinata meringis, namun tak lama karena Naruto berjongkok dihadapannya.
"Gotcha. Sini, kucium dulu," ujar Naruto jahat sambil mendekatkan bibirnya pada bibir Hinata. Hinata reflex menutup matanya. Oh tidak, bibir itu tidak akan perawan lagi.
Namun, Naruto mengalihkan bibirnya pada dahi Hinata. Pemuda itu mengecup lembut dahi gadis didepannya. gadis yang telah berjanji menemaninya melewati kesakitannya. Dan gadis, yang diam-diam ingin ia miliki, ingin ia monopoli. Dan juga..
Gadis yang telah merebut hatinya.
Hinata membuka matanya. Ia terkejut. Benar-benar terkejut.
Naruto menarik bibirnya dari dahi Hinata. Kemudian tersenyum.
"Apa yang aku peringatkan padamu, turuti saja ya. Aku tak akan larang jika itu baik untukmu," ujar Naruto lembut. Untuk kesekian kalinya, Hinata terkesima akan lelaki ini. Gadis itu rasa..
Ia telah jatuh hati.
Naruto berdiri, menepuk nepuk lututnya. Kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Hinata berdiri. Hinata menyambut uluran tangan itu.
"Ayo, pulang," Naruto menggandeng tangan Hinata. Hinata menunduk malu, namun ia menerimanya.
Naruto baru akan melangkah, saat merasakan kakinya kesemutan. Kesemutan hebat. Pemuda itu terjatuh.
"Na-naruto-kun?!" Hinata terkejut dan ikut terduduk.
"A-ada apa? Apa Naruto-kun kambuh?" tanya gadis itu khawatir. Jelas sekali wajahnya menunjukkan bahwa ia khawatir.
"Ha-hanya kesemutan. Tidak apa- arghh-" Naruto meringis sakit saat kesemutan di kakinya, berubah menjadi nyeri. Rasanya seperti kulit kakinya dirobek-robek.
"A-aku akan panggilkan Kotetsu-san kesini. Na-naruto-kun, tunggulah," Hinata bangkit berdiri, dan berlari. Saat sampai di depan pintu keluar, mata Hinata terbelalak. Seperti melihat hantu di depannya. Gadis itu pun mundur selangkah. Naruto yang melihat hal itu, keheranan.
"Ada apa, Hinata? Ugghh-" Naruto bertanya susah payah. Hinata tak sanggup menjawab. Kemudian, seseorang melangkah masuk ke dalam taman kecil itu.
"Jadi, katakan. Apa yang telah kalian sembunyikan selama ini? Apa yang kambuh?" suara berat dari seseorang itu mengejutkan indra pendengaran Naruto.
Oh, habislah.
TBC
Haiiiii. Terimakasih sudah sudi menunggu~ gak lama kan? /plak/ saya tau kok nunggu itu gaenak /dibejek/. Seperti yang saya bilang, chapter mungkin akan lebih banyak dari 5. Tapi saya bisa jamin gak lebih dari 10, nanti saya gabisa lunasinnya. Mau bales review kalian nih~ thehe.
Kurama no yokay : Sudah neks, enjoy ya~
Ranshinjuku : Siapelo/?
Mifta cinya : Sudah lanjut~ enjoy yaa
Dsakura2 : Sudah lanjut~ enjoy yaa
Orregion : Sudah lanjut~ enoy yaa
Anna fitry : sudah ada bumbu romancenya nih~ thankyou
Dinayashii7 :sad atau happy yaa~? Huehe /ditimpuk/ sudah lanjut, dan ini sudah sekilat kilatnya~
Indigorasengan23 : sudah lanjut~
Virgo24 : duh garela ya? Huhehe, yang penting canonnya Naruto hidup toh~ yey enjoy yaa
Rachelyw : Cie ngereview cie aw aw/?
Shuu Akina : Iya sama, wahhh samaan *hug* *ditepis*, sudah kilat nih~
Yudi : Hehe, sudah lanjut~
Durarawr : Kamu juga bisa kok, ayo nyoba bikin, nanti aku review/?. Ini udah kilat ya~~
Haduy capek. Sekali lagi makasih ya kalian semua~~~~~~ *cium dari jauh*
See you di ch 6^_^/
